Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

SISTEM PENCERNAAN

Disusun Oleh:
KELOMPOK 4
1. Afrilisa Santika Dani (1910070170073)
2. Elok Insani (1910070170070)
3. Fathur Rahman (1910070170072)
4. Harrys Defianto (1910070170077)
5. Puja Lovela Sari (1910070170071)
6. Utami Dini Suryani (1910070170068)
7. Viky Arjuna (1910070170076)
8. Wahdini (1910070170074)
9. Willy Adriansyah (1910070170075)
10. Yuli Artika (1910070170069)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI


FAKULTAS VOKASI
UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
TAHUN AJARAN 2019/2020
BAB I

1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan
dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses
pencernaan (mengunyah, menelan dan pencapuran) dengan enzim dan zat cair
yang terbentang mulai dari mulut sampai anus.
Makanan yang dikonsumsi hanya akan diserap dan digunakan oleh tubuh
bila telah melalui proses pencernaan. Proses pencernaan itu sendiri ada yang
bekerja secara mekanik dan adapula yang bekerja secara kimiawi. Saluran
pencernaan ada yang bekerja secara kehendak (volunteer) dan ada pula yang
bekerja di luar kehendak (involunter).
Sistem pencernaan terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar-kelenjar
pencernaan. Fungsi sistem pencernaan adalah memperoleh zat-zat makanan yang
dibutuhkan bagi tubuh. Saluran pencernaan umumnya mempunyai sifat struktural
tertentu yang terdiri atas 4 lapisan utama yaitu lapisan mukosa, submukosa,
lapisan otot, dan lapisan serosa (Junqeira dan Jose, 1980).
Saluran pencernaan makanan terdiri dari mulut, kerongkongan
(esophagus), lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Serta organ
tambahan yang terdiri dari gigi, lidah, kelenjar ludah, kandung empedu, hati, dan
pankreas (Adyana, 2002).

1.2 Tujuan
1. Mahasiswa dapat memahami system pencernaan
2. Mahasiswa dapat mengetahui anatomi system pencernaan

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sistem Pencernaan


Sistem pencernaan terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar-kelenjar
yang berhubungan. Fungsi sistem pencernaan adalah memperoleh metabolit-
metabolit yang diperlukan untuk pertumbuhan dan energi yang diperlukan bagi
tubuh dari makanan yang dimakan. Sebelum disimpan atau digunakan sebagai
energi, makanan dicernakan dan diubah menjadi molekul-molekul kecil yang
dapat dengan mudah diabsorpsi melalui dinding saluran pencernaan.
Saluran pencernaan dimulai dari bibir sampai dengan anus. Pada beberapa
tempat mengalami dilatasi serta menempuh arah yang berliku-liku. Makanan
dapat bergerak ke belakang karena adanya gerakan peristaltik, dan gerakan anti
peristaltik (muntah, memamah biak). Gerakan ini dimungkinkan karena adanya
lapisan otot (tunica muscularis) pada dinding saluran pencernaan.

Sistem pencernaan manusia adalah proses perubahan atau pemecahan zat


makanan dari molekul kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana dengan
menggunakan enzim dan organ organ pencernaan. Sistem pencernaan ini
dibedakan menjadi tiga, yaitu :
1. Pencernaan mekanis
Yaitu pencernaan makanan secara fisik, mengubah bentuk kasar menjadi
halus, seperti mengunyah, menggiling, mengaduk, menekan maupun
melumatkan.
2. Pencernaan kimiawi atau enzimatis
Yaitu pengubahan zat makanan dengan bantuan enzim pencernaan.
3. Pencernaan biologis
Yaitu pencernaan yang memanfaatkan kerjasama yang menguntungkan
dengan mikroba.

3
Sedangkan menurut tempat terjadinya, pencernaan dibagi menjadi dua, yaitu.
a. Pencernaan intrasel, yaitu pencernaan yang terjadi di dalam sel
b. Pencernaan ekstrasel, yaitu pencernaan yang terjadi di luar sel atau
melalui saluran pencernaan 

Berikut beberapa organ yang berperan dalam sistem pencernaan:

4
A. RONGGA MULUT (Cavita Oris)
Mulut atau oris adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas 2
bagian yaitu bagian luar yang sempit atau vestibulum yaitu ruang diantara gusi,
gigi, bibir dan pipi. Dan bagian rongga mulut bagian dalam, yaitu rongga mulut
yang dibatasi sisinya oleh tulang maksilaris, palatum dan mandibularis, di sebelah
belakang bersambung dengan faring.
Palatum terdiri atas 2 yaitu: Palatum durum (palatum keras) yang
merupakan perantara antara rongga hidung dan rongga mulut dan palatum mole
(palatum lunak), terletak dibelakang yang merupakan lipatan menggantung yang
dapat bergerak.

Rongga mulut (pipi) dibatasi oleh epitel gepeng berlapis tanpa


tanduk. Atap mulut tersusun atas palatum keras (durum) dan lunak (molle),
keduanya diliputi oleh epitel gepeng berlapis. Uvula palatina merupakan tonjolan
konis yang menuju ke bawah dari batas tengah palatum lunak. Hard Palate,
dilapisi oleh masticatory mucosa dan Jaringan ikat melekat langsung pada

5
jaringan tulang, sedangkan Soft Palate, dilapisi oleh lining mucosa,

Palatum Keras Palatum Lunak

Jaringan ikat kaya dengan kelenjar ludah minor, bagian dalam berupa otot

skelet, Soft palate berlanjut keposterior menjadi Uvula. Dilapisi epitel squamosa
kompleks non keratin sebagai pelindung yang juga melapisi permukaan dalam
bibir.
a) Gigi (Dens)
Merupakan alat pencernaan yang bertugas secara mekanik. Terdapat 4
jenis gigi yaitu gigi taring (dens caninus) berfungsi untuk merobek/mencabik

6
makanan. Gigi seri (dens inscisivus)  berfungsi untuk memotong makanan. 
Gigi geraham depan (dens premolare) dan geraham belakang (dens molare) ya
ng keduanya berfungsi untuk menghaluskan makanan.
Geligi ada dua macam:
a. Gigi sulung, mulai tumbuh pada anak 6-7 bulan dan jumlahnya 20 buah.
Terdiri dari: 8 buah gigi seri, (dens insisivus), 4 buah gigi taring (dens
kanisus), dan 8 buah gigi geraham (morale)
b. Gigi tetap (gigi permanen) tumbuh pada umur 6-18 tahun), jumlahnya 32
buah.

Berikut ini adalah bagian bagian dari gigi,

1) Corona dentis (mahkota) 

2) Radix dentis (akar gigi) 

7
3) Cervix dentis (leher gigi)

Leher

b) Lidah (Lingua)
Lidah terdiri dari otot serat lintang dan dilapisi oleh selaput lendir, kerja
otot ini dapat digerakan disegala arah.
Lidah terbagi atas 3 bagian yaitu:
1) Apex lingua (ujung lidah),
2) Dorsum lingua (punggung lidah),
3) Dan radix lingua (akar lidah)

Akar
lidah

8
Lidah merupakan suatu massa otot lurik yang diliputi oleh membrane
mukosa. Epitel permukaan dorsal lidah sangat tidak teratur (epitel squamosa
kompleks) dan ditutupi tonjolan (papilla) yang berindentasi pada jaringan ikat
lamina propia (mengandung jaringan limfoid difus). Terdiri papilla filiformis,
fungiformis, sirkumvalata, dan foliata. Papilla lidah ditutupi epitel squamosa
kompleks yang sebagian bertanduk. bagian pusat lidah terdiri atas berkas-
berkas otot rangka, pembuluh darah dan saraf. Serabut-serabut otot satu sama
lain saling bersilangan dalam 3 bidang, berkelompok dalam berkas-berkas,
biasanya dipisahkan oleh jaringan penyambung. 
Pada permukaan bawah lidah, membran mukosanya halus, sedangkan
permukaan dorsalnya ireguler, diliputi oleh banyak tonjolan-tonjolan kecil
yang dinamakan papilae. Papilae lidah merupakan tonjolan-tonjolan epitel
mulut dan lamina propria yang diduga bentuk dan fungsinya berbeda.
Terdapat 4 jenis papilae lingualis yaitu :

1) Papilae filiformis: mepunyai bentuk penonjolan langsing dan konis,


sangat banyak, dan terdapat di seluruh permukaan lidah. Epitelnya tidak
mengandung puting kecap (reseptor).

9
2) Papilae fungiformis: menyerupai bentuk jamur karena mereka
mempunyai tangkai sempit dan permukaan atasnya melebar. Papilae ini,
mengandung puting pengecap yang tersebar pada permukaan atas, secara tidak
teratur terdapat di sela-sela antara papilae filoformis yang banyak jumlahnya.
3) Papilae foliatae, tersusun sebagai tonjolan-tonjolan yang sangat
padat sepanjang pinggir lateral belakang lidah, papila ini mengandung banyak
puting kecap.
4) Papilae circumfalatae merupakan papilae yang sangat besar
yang permukaannya pipih meluas di atas papilae lain. Papilae circumvalate
tersebar pada daerah “V” pada bagian posterior lidah. Banyak kelenjar mukosa
dan serosa (von Ebner) mengalirkan isinya ke dalam alur dalam yang
mengelilingi pinggir masing-masing papila. Susunan yang menyerupai parit
inimemungkinkan aliran cairan yang kontinyu di atas banyak puting kecap
yang terdapat sepanjang sisi papila ini. Aliran sekresi ini penting
untuk menyingkirkan partikel-partikel dari sekitar puting kecap sehingga
mereka dapat menerima dan memproses rangsangan pengencapan yang baru.
Selain kelenjar-kelenjar serosa yang berkaitan dengan jenis papila ini,
terdapat kelenjar mukosa dan serosa kecil yang tersebar di seluruh dinding
rongga mulut lain-epiglotis, pharynx, palatum, dan sebagainya-untuk memberi
respon terhadap rangsangan kecap.

10
c) Kelejar Ludah (Saliva)
Kelenjar Ludah adalah kelenjar majemuk bertandan, yang berarti terdiri
atas gabungan kelompok alveoli bentuk kantong dan yang membentuk lubang-
lubang kecil. Saluran- saluran dari setiap alveolus bersatu untuk membentuk
saluran yang lebih besar dan mengantar sekretnya ke saluran utama dan
melalui ini secret di tuangkan ke dalam mulut.
Fungsi kelenjar ludah ini ialah mengeluarkan saliva, yang merupakan
cairan pertama yang mencernakan makanan. Deras aliran saliva dirangsang
oleh adanya makanan dalam mulut, melihat, membaui dan memikirkan
makanan.

11
Ada 3 kelenjar ludah (saliva) utama yaitu :

1) Kelenjar parotis,
Kelenjar terbesar, satu di sebelah kiri dan satu sebelah kanan dan terletak
dekat di depan agak ke bawah telinga. Sekretnya di tuangkan ke dalam
mulut melalui saluran parotis atau saluran Stensen, yang bermuara di pipi
sebelah dalam, berhadapan dengan geraham (molar) kedua arus. Ada dua
struktur penting yang melintasi kelenjar parotis, yaitu arteri karotis externa
dan saraf kranial ketujuh (saraf fasialis)
2) Kelenjar sub mandibularis).
Kelenjar terbesar nomor dua besarnya sesudah kelenjar parotis. Terletak di
bawah kedua sisi tulang rahang, dan berukuran kira-kira sebesar buah
kenari. Sekretnya di tuangkan ke dalam mulut melalui saluran
submandibularis atau saluran Wharton, yang bermuara di dasar mulut,
dekat frenulum lingue
3) Kelenjar (sub lingualis) dan
Kelenjar yang terkecil. Letaknya di bawah lidah di kanan dan kiri
frenulum linguae dan menuangkan sekretnya ke dalam dasar mulut
melalui beberapa muara kecil.

12
B. FARING (Pharynx)
Pharynx merupakan peralihan ruang antara rongga mulut dan system
pernapasan dan pencernaan. Terletak di belakang hidung, mulut dan larynx
(tenggorokan). Pharynx berupa saluran berbentuk krucut dari bahan membrane
berotot (muskula membranosa) dengan bagian terlebar di sebelah atas dan
berjalan dari dasar tengkorak samapi di ketinggian vertebrata servikal keenam
yaitu ketinggian tulang rawan krikoid, tempat farinx bersambung dengan
usofagus. Pada ketinggian ini pharynx bersambung dengan trachea (batang
tenggorok). Panjang pharynx berkisar tujuh sentimeter.
Pharynx membentuk hubungan antara daerah hidung dan larynx. Pharynx
dibatasi oleh epitel berlapis gepeng jenis mukosa, kecuali pada daerah-daerah
bagian pernapasan yang tidak mengalami abrasi. Pada daerah-daerah yang
terakhir ini, epitelnya toraks bertingkat bersilia dan bersel goblet. Pharynx
mempunyai tonsila yang merupakan sistem pertahanan tubuh. Mukosa pharynx
juga mempunyai banyak kelenjar-kelenjar mukosa kecil dalam lapisan jaringan
penyambung padatnya.
Secara anatomik dibedakan atas nasofaring dan orofaring.
1) Nasofaring
Terletak di belakang hidung. Selaput lendirnya adalah selaput lendir
berkelenjar, dengan epitel silindris banyak baris bersilia, dan diantaranya
terdapat sel mangkok. Pada propria mukosa terebar kelenjar seromukous dan
jaringan limfoid. Ujung kelenjar seromukous lebih banyak memiliki sel yang
bersifat sereus.
2) Orofaring/ Faring oralis

13
Terletak di belakang mulut. Selaput lendirnya adalah selaput lendir kutan
dengan banyak papil mikroskopik. Pada tunika propria terdapat kelenjar
mukous dan jaringan limfoid yang membentuk tonsil (amandel). Fascia bagian
dalam merupakan batas dengan selaput lendir yang terdiri dari serabut elastis.
Dibawahnya terdapat lapis otot kerangka yang tersusun secara memanjang dan
melintang. Fascia bagian luar terdiri dari serabut kolagen dengan sedikit
serabut elastis, dan langsung berbatasan dengan adventisia yang banyak
mengandung pembuluh darah, limfe, saraf, dan folikel getah bening.

3) Laryngopharynx/ Faring laringeal


Bagian terendah yang terletak di belakang larynx, dua bagian posterior lubang
hidung (naresa) yang berada di belakang rngga hidung, mulut, larynx, dan
oesefagus.

C. ESOFHAGUS (Oesophagus)
Esophagus merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan
lambung, panjangnya + 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak di

14
bawah lambung. Esophagus terletak di belakang trakea (tenggorokan) dan di
depan tulang punggung. Setelah melalui torakx menembus diagrafma, uantk
masuk ke dalam abdomen dan menyambung dengan lambung.
Oesofagus diselaputi oleh epitel berlapis gepeng tanpa tanduk. Pada
lapisan submukosa terdapat kelompokan kelenjar-kelenjar oesofagea yang
mensekresikan mukus. Pada bagian ujung distal oesofagus, lapisan otot hanya
terdiri sel-sel otot polos, pada bagian tengah, campuran sel-sel otot lurik dan
polos, dan pada ujung proksimal, hanya sel-sel otot lurik.
Esophagus merupakan saluran yang berotot yang berfungsi meneruskan
makanan dari mulut ke lambung. Esophagus dilapisi epitel berlapis tanpa lapisan
tanduk. Di dalam submukosa terdapat kelompok-kelompok kecil kelenjar
pensekresi mucus, yaitu kelenjar esophagus dengan secret yang memudahkan
transport makanan dan melindungi mukosa esophagus. Didalam lamina propria
daerah dekat lambung, terdapat kelompok kelenjar, yaitu kelenjar kardiak
esophagus yang juga mensekresi mucus. Dibagian distal esophagus, lapisan
muscular hanya terdiri atas sel-sel otot polos, dibagian muscular tengah terdapat
campuran sel-sel otot polos dan otot rangka. Dan di ujung proksimal hanya
terdapat sel-sel otot rangka. Hanya bagian esophagus yang terdapat dalam rongga
peritoneum yang ditutupi serosa. Sisanya ditutupi selapis jaringan ikat longgar,
adventisia, yang menyatu dengan jaringan sekitar.

15
D. LAMBUNG (Ventriculus)
Lambung merupakan segmen
saluran pencernaan yang melebar, yang
fungsi utamanya adalah menampung
makanan yang telah dimakan,
mengubahnya menjadi bubur yang liat
yang dinamakan kimus (chyme).
Permukaan lambung ditandai oleh adanya
peninggian atau lipatan yang dinamakan
rugae. Invaginasi epitel pembatas lipatan-lipatan tersebut menembus lamina
propria, membentuk alur mikroskopik yang dinamakan gastric pits  atau foveolae
gastricae. Sejumlah kelenjar-kelenjar kecil, yang terletak di dalam lamina propria,
bermuara ke dalam dasar gastric pits ini. Epitel pembatas ketiga bagian ini terdiri
dari sel-sel toraks yang mensekresi mukus.

Lambung merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling

16
banyak terutama di daerah epigaster. Bagiaian lambung terdiri dari :
1) Fundus ventrikuli, bagian yang menonjol ke atas terletak sebelah kiri osteum
kardium dan biasanya penuh berisi gas.
2) Korpus ventrikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada bagian bawah
kurvatura minor.
3) Antrum pylorus, bagian lambung berbentuk tabung mempunyai otot yang tebal
membentuk sfingter pilorus.
4) Kurvatura minor, terdapat di sebelah kanan lambung, terbentang dari osteum
kardiak sampai ke pilorus.
5) Kurvatura mayor, terbentang dari sisi kiri osteum kardiak melalui fundus
ventrikuli menuju ke kanan sampai ke pilorus inferior.
6) Osteum kardiak, merupakan tempat esophagus bagian abdomen masuk ke
lambung. Pada bagian ini terdapat orifisium pilorik.
Susunan lapisan lambung dari dalam ke luar, terdiri dari:
1) Lapisan selaput lendir (rugae)
2) Lapisan otot melingkar (muskulus aurikularis)
3) Lapisan otot miring (muskulus obliqus)
4) Lapisan otot panjang (muskulus longitudinal)
5) Lapisan jaringan ikat/serosa (peritoneum)
Lambung secara memiliki tiga kelanjar, dapat dibedakan menjadi: kardia,
korpus, fundus, dan pylorus
a) Cardia
Kardia merupakan peralihan antara
oesofagus dan lambung. Lamina
proprianya mengandung kelenjar-kelenjar
kardia turbular simpleks bercabang,
bergelung dan sering mempunyai lumen
yang besar yang berfungsi mensekresikan
mukus. Kelenjar-kelenjar ini strukturnya
sama seperti kelenjar kardia bagian
terminal oesofagus dan mengandung (dan mungkin sekresi) enzim lisosom.

17
1) Foveolae lebar dan dalam
2) Kelenjar berbentuk tubular simpleks bercabang
3) Mensekresi mukus
4) Kelenjar pendek-pendek dan agak bergelung.
b) Korpus dan Fundus
1) Secara histologis tidak berbeda
2) Foveolae sempit, gastric pit pendek,
3) Kelenjar fundus berupa kelenjar tubulosa panjang lurus dan bercanggah
dua (bifurcatio)
4) Mensekresi HCl dan intrinsik faktor

Lamina mukosa tersusun atas 6 jenis sel yaitu:


1) Sel-sel mukus istmus terdapat dalam bagian atas kelenjar pada daerah
peralihan antara leher dan gastric pit. Sel-sel ini mengsekresi mukus netral
yang membatasi dan melindungi permukaan lambung dari asam.
2) Sel-sel parietal (oksintik) terutama terdapat pada bagian setengah atas
kelenjar dan tersisip antara sel-sel mukus leher. Sel parietal merupakan sel
bulat atau piramidal dengan inti sferis di tengah dan sitoplasma yang jelas
eosinofilik. Sel-sel parietal menghasilkan asam klorida (hcl) yang terdapat
dalam getah lambung. Pada kasus gastritis atrofikans, sel parietal dan chief

18
cells keduanya jumlahnya berkurang, dan getah lambung mempunyai
sedikit atau tidak mempunyai aktivitas pepsin. Asam yang disekresi
berasal dari klorida-klorida yang terdapat dalam darah di tambah kation
(h+) yang berasal dari kerja suatu enzim-anhidrase karbonat. Anhidrase
karbonat bekerja pada co2 untuk menghasilkan asam karbonat, yang
berdisosiasi menjadi bikarbonat dan satu h+. Kedua kation dan ion klorida
secara aktif ditanspor melalui membran sel sedangkan air akan berdifusi
secara pasif mengikuti perbedaan tekanan osmotik.

3) Sel-sel mukus leher terdapat dalam kelompokkan atau sel-sel tunggal


antara sel-sel parietal dalam leher kelenjar gastrik. Sekret sel mukus leher

19
adalah mukus asam yang kaya akan glikosaminoglikans.
4) Chief cells (sel zimogenik) mensintesis dan mengeluarkan protein yang
mengandung enzim inaktif pepsinogen. Bila granula pepsinogen
dikeluarkan ke dalam lingkungan lambung yang asam, enzim diubah
menjadi enzim proteolitik yang sangat aktif yang disebut pepsin.
5) Sel-sel argentafin juga dinamakan sel-sel enterokromafin karena
afinitasnya terhadap garam kromium serta perak. Sel-sel ini jumlahnya
lebih sedikit dan terletak pada dasar kelenjar, terselip antara sel-sel
zimogenik.
6) Sel-sel yang menghasilkan zat seperti glukagon.. Sel-sel endokrin lain
yang dapat digolongkan sebagai sel-sel apud (amine precursor uptake and
decarboxyllation) menghasilkan hormon gastrin.
c) Pilorus
Pada pilorus terdapat kelenjar
bergelung pendek yang mensekresikan
enzim lisosim. Diantara sel-sel mukus ke
lenjar pilorus terdapat sel-sel gastrin (G)
yang berfungsi mengeluarkan hormone
gastrin.
Gastrin berfungsi merangsang
pengeluaran asam lambung oleh kelenjar-
kelenjar lambung. Muskularis mukosae lambung terdiri atas 2 atau 3 lapisan
otot yang tegak lurus menembus ke dalam laminan propria. Apabila otot
berkontraksi akan mengakibatkan lipatan pada permukaan dalam organ yang
selanjutnya akan menekan kelenjar lambung dan mengeluarkan sekretnya.
Gastic pit lebih dalam, bercabang dan bergelung, juga merangsang sekresi
pepsin dan asam lambung dari fundus dan corpus dan meningkatkan motilitas
lambung.
Adapun Fungsi lambung adalah sebagai berikut;
1) Lambung menerima makanan dan bekerja sebagai penampung untuk
jangka pendek

20
2) Semua makanan dicairkan dan di campurkan dengan asam hidrokhlorida.
Dengan cara ini disiapkan untuk dicernakan oleh usus
3) Protein diubah menjadi pepton
4) Susu dibekukan dan kasein dikeluarkan
5) Pencernaan lemak dimulai di dalam lambung
6) Faktor antianemi di bentuk
7) Khime, yaitu isi lambung yang cair, di salurkan masuk duodenum.

E. USUS HALUS (Intestinum Tenue)


Usus halus adlah tabung yang kira-kira panjangnya sekitar 2,5 meter
dalam keadaan hidup. Angka yang biasa diberikan, Usus halus relatif
panjang  kira-kira 6 m adalah penemuan setelah mati bila otot telah kehilangan
tonusnya. Dan ini memungkinkan kontak yang lama antara makanan dan enzim-
enzim pencernaan serta antara hasil-hasil pencernaan dan sel-sel absorptif epitel
pembatas.

Usus halus terletak di daerah umbilkius dan dikelilingi oleh usus besar dan
di bagi menjadi beberpa segmen. Usus halus terdiri atas 3 segmen yaitu

21
duodenum, jejunum, dan ileum.
Membran mukosa usus halus menunjukkan sederetan lipatan permanen
yang disebut plika sirkularis atau valvula Kerkringi. Pada membran mukosa
terdapat lubang kecil yang merupakan muara kelenjar tubulosa simpleks yang
dinamakan kelenjar intestinal (kriptus atau kelenjar Lieberkuhn). Kelenjar kelenjar
intestinal mempunyai epitel pembatas usus halus dan sel-sel goblet (bagian atas).
Mukosa usus halus dibatasi oleh beberapa jenis sel, yang paling banyak
adalah sel epitel toraks (absorptif), sel paneth, dan sel-sel yang mengsekresi
polipeptida endokrin.
1) Sel toraks adalah sel-sel absorptif yang ditandai oleh
adanya permukaan apikal yang mengalami spesialisasi
yang dinamakan ”striated border” yang tersusun atas
mikrovili. Mikrovili mempunyai fungsi fisiologis yang
penting karena sangat menambah permukaan kontak
usus halus dengan makanan. Striated border
merupakan tempat aktivitas enzim disakaridase usus
halus. Enzim ini terikat pada mikrovili, menghidrolisis
disakarida menjadi monosakarida, sehingga mudah
diabsorbsi. Di tempat yang sama diduga terdapat enzim
dipeptidase yang menghidrolisis dipeptida menjadi unsur-unsur asam
aminonya. Fungsi sel toraks usus halus lebih penting adalah mengabsorbsi zat-
zat sari-sari yang dihasilkan dari proses pencernaan.
2) Sel-sel goblet terletak terselip diantara sel-sel absorpsi, jumlahnya lebih
sedikit dalam duodenum dan bertambah bila mencapai ileum. Sel goblet
menghasilkan glikoprotein asam yang fungsi utamanya melindungi dan
melumasi mukosa pembatas usus halus.
3) Sel-sel Paneth (makrofag) pada bagian basal kelenjar intestinal merupakan sel
eksokrin serosa yang mensintesis lisosim yang memiliki aktivitas antibakteri
dan memegang peranan dalam mengawasi flora usus halus.

22
4) Sel-sel endokrin saluran pencernaan. Hormon-hormon saluran pencernaan
antara lain: sekretin, dan kolesistokinin (CCK). Sekretin berperan sekresi
cairan pankreas dan bikarbonat. Kolesistokinin berperan merangsang
kontraksi kandung empedu dan sekresi enzim pankreas. Dengan demikian,
aktivitas sistem pencernaan diregulasi oleh sistem saraf dan hormon-hormon
peptida.

a) Duodenum
Disebut juga usus 12 jari, panjangnya + 25 cm, berbentuk sepatu kuda
melengkung ke kiri. Pada lengkungan ini terdapat pangkreas. Pada bagian
kanan duodenum ini terdapat selaput lendir yang disebut vateri. Pada papila
vateri ini bermuara duktus emperdu (duktus koleduokus) dan salurann
pangkreas (duktus wirsungi/dukus pankreatikus).
Dinding duodenum mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung
kelenjar yang disebut kelenjar brunner, yang berfungsi memproduksi getah
intestinum.
1) Tunika Mukosa
Epitel kolumner simpleks dengan mikrovili, terdapat vili intestinalis dan
sel goblet. Pada lamina propia terdapat kelenjar intestinal lieberkuhn.
2) Tunika Submukosa
Jaringan ikat longgar. Terdapat kelenjar duodenal Brunner (ciri utama
pada duodenum yang menghasilkan mucus dan ion bikarbonat). Trdapat

23
plak payeri (nodulus lymphaticus agregatia/ gundukan sel limfosit)
3) Tunika Muskularis
Terdiri atas otot sirkular (bagian dalam) dan otot longitudinal (bagian
luar). Diantaranya dipisah oleh pleksus mienterikus auerbach.
4) Tunika Serosa
Merupakan peritoneum visceral dengan epitel squamosa simpleks, yang
diisi pembuluh darah dan sel-sel lemak.
b) Jejunum
Vili paling besar, Lakteal berkembang sempurna, absorbsi maksimal. Dan
tidak ada kelenjar Brunner dan plaque Peyeri. Mempunyai panjang sekitar 6
meter. Dua perlima bagia atas adalah jejunum + 2,5 m dan sisanya adalah
ileum.

24
c) Ileum
Ileum dengan panjang sekitar 4-5 m. Ujung bawah ileum berhubungan dengan
sekum dengan perantaran lubang yang bernama orifisium ileosekalis dan
diperkuat oleh katup sfingter ileosekalis.
1) Banyak limfonoduli agregatii didalam lamina propria (Peyer’s patches,
plaques Peyeri )
2) Folikel limf berbentuk buah pir bulat, kubah menonjol kearah lumen
3) Terdapat sel khusus yang berfungsi untuk transport antigen dari lumen
usus ke folikel limfoid, disebut sel M .

F. U S U S B E S A R

25
(Intestinum Crasum)
Usus besar panjangnya + 1½ m, lebarnya 5-6 cm. lapisan-lapisan usus
besar dari dalam ke luar: selaput lendir, lapisan otot melingkar, lapisan otot
memanjang, dan jaringan ikat.

Usus besar terdiri atas membran mukosa tanpa lipatan kecuali pada bagian
distalnya (rektum) dan tidak terdapat vili usus. Epitel yang membatasi adalah
toraks dan mempunyai daerah kutikula tipis. Fungsi utama usus besar adalah:
1) Untuk absorpsi air dan pembentukan massa feses,
2) Pemberian mukus dan pelumasan permukaan mukosa, dengan demikian
banyak sel goblet.
a) Appendix

26
1) Lamina propria dan mukosa bagian atas di infiltrasi secara luas oleh
limfosit
2) Terdapat massa jaringan limfoid pada mukosa dan sub mukosa .
3) Lumen biasanya terlihat hampir segitiga .

b) Kolon
Ada beberapa bagian yang membentuk usus besar :
1) Sekum
Di bawah sekum terdapat apendiks vermiformis yang berbentuk seperti
cacing sehingga disebut juga umbai cacing. Panjangnya sekitar 6 cm,
seluruhnya ditutupi oleh peritoneum.

2) Kolon asenden
Panjangnya sekitar 13 cm, terletak di bawah abdomen, membujur ke atas
dari ileum ke bawah hati. Di bawah hati melengkung ke kiri yang disebut
fleksure hepatica, dan dilanjutkan sebagai kolon tranvesum.
3) Kolon tranvesum
Panjangnya sekitar 38 cm, membujur dari kolon asenden sampai ke kolon
desendens, sebelah kanan terdapat fleksure hepatica dan sebelah kiri
terdapat fleksure renalis.

27
4) Kolon desenden
Panjangnya sekitar 25 cm, terletak di bawah abdomen sebelah kiri
membujur dari atas ke bawah dari fleksure renalis sampai ke kolon
sigmoid.
5) Kolon sigmoid
Kolon sigmoid merupakan kelanjutan dari kolon desenden, terletak miring
dalam rongga pelvis sebelah kiri, bentuknya menyerupai huruf S, ujung
bawahnya berhubungan dengan rectum.

Pada umumnya, hal hal yang terdapat pada kolon adalah sebagai berikut
1) Tidak terdapat lipatan mukosa, Tidak terdapat vili .
2) Kriptus panjang, didominasi oleh sel goblet dan sel absorbtif dengan
mikovili yang pendek .
3) Fungsi utama kolon: penyerapan air, pembentukan massa feses dan
produksi mukus .
4) Lamina propria mempunyai banyak jaringan limfoid yang termasuk
kedalam gut-asociated limphoid tissue (GALTs).

28
c) Rectum – Anus
Rektum  terletak di bawah  kolon sigmoid yang menghubungkan
intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis depan os sacrum
dan os koksigis. Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang
menghubungkan rectum dengan dunia luar.

Terletak di dasar pelvis, dindingnya diperkuat oleh 3 sfingter :


1.  Sfingter ani internus (sebelah atas), involunter.
2.  Sfingter levator ani, bersifat involunter.

29
3.  Sfingter ani eksternus (sebelah bawah), bersifat volunter.

30
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa sistem pencernaan 
pada manusia adalah merupakan proses perubahan atau pemecahan zat makanan d
ari molekul kompleks menjadi molekul yang lebih sederhana dengan menggunaka
n enzim dan organ-ogran pencernaan.Organ organ pada sistem pencernaan
yaitu terdiri dari :
a. Mulut (oris)
b. Tekak (faring)
c. Kerongkongan (esophagus)
d. Lambung (ventrikulus)
e. Usus halus (intestinum minor)
a.    Usus dua belas jari (duodenum)
b.    Usus kosong (jejunum)
c.    Usus penyerapan (ileum)
f. Usus besar (intestinum mayor)
a.    Seikum
b.    Kolon asendens
c.    Kolon transversum
d.    Kolon desendens
e.    Kolon sigmoid
i.    Rectum
j.    Anus  
Fungsi sistem pencernaan adalah memperoleh zat-zat makanan yang
dibutuhkan bagi tubuh. Saluran pencernaan umumnya mempunyai sifat struktural
tertentu yang terdiri atas 4 lapisan utama yaitu lapisan mukosa, submukosa,
lapisan otot, dan lapisan serosa.

31
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, dkk., 2003. Biologi. Erlangga, Jakarta.

Dorland. 1994. Kamus Kedokteran. Edisi 26. EGC: Jakarta.

Medicastore. Biologi Sistem Pencernaan. Diunduh dari http://www.medicastore.c
om. 20 februari 2015.

P. Evelyn , C. 2006. Anatomi dan fisiologi untuk paramedik. Jakarta: PT.


Gramedia

Pustaka Umum. 2013. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan. (Online).


http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Gray1045.png. (diakses tanggal 20
Februari 2015).

S. Ethel. W. palupi (ed). 2013. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Penerbit
Buku Kedokteran.

Sutarmo Setiaji. 1990. Buku kuliah anatomi fisiologi. Fakultas Kedokteran UI:
Jakarta.

Syaifuddin. 2002. Struktur & Komponen Tubuh Manusia. Penerbit Buku


Kedokteran EGC: Jakarta.

Syaifudin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Edisi 3.


EGC: Jakarta.

32