Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Usaha

RAMADANI (16510017)
KEWIRAUSAHAAN (BUDIDAYA IKAN DISKUS)
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


A. Analisa Jenis Usaha
Ikan diskus merupakan salah satu ikan hias yang banyak diminati oleh para
penggemar ikan hias karena bentuk dan warnanya yang indah. Ikan diskus dikenal
dengan sebutan the king of aquarium cukup digemari oleh hobiis ikan hias baik
didalam negeri ataupun di luar negeri. dengan banyaknya peminat ikan hias yang
menggemari ikan ini, membuat harga ikan ini terbilang cukup mahal. Semakin banyak
penggemar ikan diskus, kontes ikan diskus kerap digelar dan diikuti oleh banyak
peserta (Lesmana dan Daelami 2009).

Pasar untuk memenuhi kebutuhan lokal masih sangat terbuka luas, bahkan saat ini
dapat menembus pasar ekspor. Ada beberapa pengusaha yang mau mengekspornya
misalnya ke Perancis, Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat sekalipun jumlahnya
tergolong sangat sedikit (Indarta, 2002). Produksi ikan diskus di Kabupaten Bogor
cukup tinggi dan selalu mengalami peningkatan produksi dari tahun 2008 sampai
tahun 2010 yaitu sebesar 2.120 ribu ekor pada tahun 2008, lalu meningkat menjadi
8.875 ribu ekor pada tahun 2009 dan 9.709,5 ribu ekor pada tahun 2010. Dari data
produksi tersebut dapat kita simpulkan bahwa setiap tahun permintaan akan ikan
diskus terus meningkat khususnya di Kabupaten Bogor.

B. Jenis Usaha
Aspek pasar menunjukkan potensi terhadap ikan diskus memiliki potensi untuk
dijalankan, oleh sebab itu dilihat dari permintaan. Tingginya permintaan eksportir dan
suplier terhadap ikan diskus pada Vizan Farm yaitu sebesar 36000 ekor per tahun,
tetapi Vizan Farm hanya bisa memproduksi sebesar 7760 ekor per tahun. Aspek
teknis menunjukkan bahwa perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam tersediaan
bahan baku dalam pengadaan atau ketersediaan induk ikan diskus. Hal ini
dikarenakan perusahaan memelihara ikan dari benih hasil pemijahan dalam kegiatan
produksi. Calon induk yang dipilih adalah ikan sehat, sirip dan ekor lengkap dan siap
mijah (matang gonad). Dari aspek manajemen menunjukan perusahaan menggunakan
struktur organisasi berbentuk garis dan cukup sederhana dan mampu menjalankan
tugas masing-masing sesuai dengan kewajibannya. Aspek Hukum menunjukkan
Vizan Farm dapat digolongkan dalam usaha perorangan karena modal usaha yang
digunakan berasal dari satu orang dan berperan sebagai pemilik perusahaan. Usaha
budidaya ikan diskus yang dilakukan oleh Vizan Farm tidak berpengaruh buruk pada
lingkungan sekitar. Ini dikarenakan hasil buangan (limbah) yang dikeluarkan oleh
Vizan Farm terlebih dahulu dilakukan treatment baik secara fisik, biologi, ataupun
secara kimia. Berdasarkan aspek finansial usaha budidaya ikan diskus di Vizan Farm
layak dijalankan dengan nilai NPV yang diperoleh sebesar Rp. 404.343.371,00 ;Net
B/C yang diperoleh sebesar 8.75 ; dengan IRR sebesar 118.35% serta Payback Period
sebesar 2,58 tahun. Berdasarkan hasil analisis nilai pengganti (switching value) usaha
budidaya ikan diskus di Vizan Farm tetap layak dijalankan apabila terjadi penurunan
jumlah produksi ikan diskus sebesar 39,72% dan kenaikan harga pakan sebesar
581,526%. Hasil analisis dengan menggunakan dua variabel yaitu penurunan jumlah
produksi dan kenaikan harga pakan menunjukkan perusahaan lebih peka atau sensitif
terhadap penurunan jumlah produksi ikan diskus dibandingkan dengan kenaikan
harga pakan.
C. Penelitian
Konsumen
Konsumen dalam kasus ini adalah konsumen pencari ikan-ikan hias/ para
pecinta akuarium dan aquascape, maka strategi yang di gunakan adalah
memberikan keuntungan kepada konsumen tanpa harus mengorbankan
keuntungan berlebih . namun pada awal nya burning money (membakar
modal) juga perlu untuk menarik konsumen agar menjadi pelanggan tetap kita,
namun dalam hal yang wajar. Karena penting untuk memiliki palanggan tetap,
selain itu meningkat kan nilai kepercayaan konsumen terhadap kita.

Lokasi
Lokasi yang dipilih adalah lokasi di dekat konsumen untuk menekan jumlah
pengeluaran untuk tranportasi dan usaha peternakan ikan diskus ini akan
cocok bila mempunyai lahan usaha yang sedikit besar. Pemetaan wilayah
untuk persaingan dagang juga perlu di pikirkan. Maka tempat yang tepat
adalah dalam lingkup Jakarta Timur karena terget pasar awal kita adalah area
Jakarta Timur, Depok dan Bogor. Namun tidak menutup kemungkinan dalam
hal ekspansi bisnis
Jenis
(a) Produk
Produk yang dihasilkan adalah ikan diskus yang terdiri dari empat
spesies yang berbeda yaitu Red Melon, Blue Terquise, Red Terquise, Sun
Merah. Dalam penjualan ikan hias air tawar ini, yang paling diutamakan
oleh eksportir dan pedagang pengumpul adalah ikan tidak terserang
penyakit, corak, bentuk dan warna tubuh ikan. Melalui Usaha ternak ikan
diskus ini bila menuai hasil yang menguntungkan ,mungkin akan bisa saya
kembangkan untuk berternak ikan-ikan hias lainnya, seperti ikan cupang,
ikan Oscar, ikan Tetra dan ikan koi.
(b) Harga
Perusahaan akan mengetahui pendapatan yang diterima dengan
melakukan penetapan harga jual. Akanm menetapkan harga jual ikan
diskus ukuran 2,5 inch untuk Red Melon Rp.20.000,00 : Blue Terquise,
Red Terquise, dan Sun Merah Rp. 17.000,00 . Penetapan harga yang
dilakukan oleh Vizan Farm merupakan harga yang relatif murah
dibandingkan dengan petani pembudidaya ikan diskus yaitu berkisar antara
Rp. 20.000,00 – Rp. 30.000,00 .
(c) Promosi
Promosi yang dilakukan adalah dengan cara Perusahaan melakukan
promosi dengan mengikuti pameran ikan hias yang diselenggarakan oleh
Dinas Perikanan Kabupaten Bogor, Word of Mouth (dari pembicaraan para
konsumen) dan juga dengan menggunakan web yang ada di internet.
Promosi dari media internet ada kekurangannya yaitu kurangnya update
dari pemilik perusahaan tentang perkembangan ikan hias yang ada di
perusahaan.
BAB 2. STUDI KELAYAKAN BISNIS

2.1 Ikan Diskus


Sebutan diskus bagi ikan ini mengacu pada bentuk tubuhnya yang menyerupai
lempengan piring (disk) yang berdiri tegak. Diskus termasuk dalam family Cichlidae, dan
tergolong dalam genus Symphysodon yang berarti memiliki gigi pada bagian tengah
rahang. Diskus yang pertama kali dikenal adalah Symphysodom discus heckle.
Deskripsinya ditulis oleh heckle pada tahun 1840. Diskus ini dikenal sebagai discus sejati.
Diskus jenis ini memiliki tiga garis vertikal yang lebih jelas, yaitu baris pertama yang
melewati kepala, garis kedua yang melewati bagian tengah tubuh, dan garis ketiga pada
bagian ekor.
Discus Heckel berasal dari Rio Negro (Tengah Brasil). Itu tidak sampai tahun 1904
yang lain genus Diskus digambarkan, Pellegrin menulis tentang Green Discus
(Symphysodon aequifasciata aequifasciata), spesies ini ditemukan di Danau Tefe dan
saluran air Amazon di Peru. Ada dua jenis lain dari discus tercatat, Brown Discus
(Symphysodon aequifasciata axelrodi), dan Discus Blue (Symphysodon aequifasciata
haraldi). Hal ini tidak disetujui belum, apakah ini sebenarnya adalah spesies yang
berbeda atau hanya hasil penangkaran antara spesies yang dicatat asli6. Semua ikan
diskus ditemukan di sungai Sungai Amazon. Sekarang telah disepakati bahwa diskus
dapat ditemukan dalam tiga jenis saluran air Amazon, air putih Amazon Upper, air hitam
Rio Negro, dan air jelas dari Amazon Bawah. Sebagian besar mengkajinya ditemukan di
daerah air hitam, mereka juga akan mendiami danau banjir di bank dimana air sangat
lembut dan asam. Suhu perubahan sangat sedikit air dalam siklus hari 24 jam, biasanya
tetap sekitar tanda F 80 derajat, ini adalah membuat pH tetap konstan juga. diskus ini
mendapatkan nama umum dari bentuk tubuhnya, mereka telah mengembangkan tubuh,
bulat pipih untuk membantu mereka bersembunyi di vegetasi air dan akar pohon
terendam. Diskus dikenal dengan sebutan the king of aquarium cukup digemari oleh
hobiis ikan hias baik didalam negeri ataupun di luar negeri. dengan banyaknya peminat
ikan hias yang menggemari ikan ini, membuat harga ikan ini terbilang cukup mahal.
Semakin banyak penggemar ikan diskus kontes ikan diskus kerap digelar dan diikuti oleh
banyak peserta (Lesmana dan Daelami, 2009). Ikan diskus memiliki fekunditas antara
100-300 butir telur. Ikan ini banyak diminati oleh konsumen ikan hias karena warna serta
bentuk tubuh yang indah. Karena itu pula permintaan akan ikan diskus terus berjalan baik
untuk pasar lokal maupun ekspor.
Ikan Diskus seringkali dianggap susah untuk dibudidayakan, tetapi sesungguhnya ikan ini
tidak menimbulkan terlalu banyak masalah seandainya dapat menciptakan kondisi
lingkungan yang baik dan memberikan pakan yang cocok. Ikan diskus adalah ikan yang
berkelompok pada saat belum dewasa tetapi apabila ikan sudah mencapai dewasa ikan
akan berpasangan antara jantan dan betinanya (Lambert, 2009).
Diskus termasuk ikan hias air tawar yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan,
terutama perubahan sifat airnya. Jika lingkungan tidak cocok, diskus menjadi kurang
nafsu makan dan bila mengalami gangguan pencernaan terkadang akan mengeluarkan
kotoran berlendir putih. Untuk pemijahan, air sebaiknya bersifat asam dengan kesadahan
rendah. Kandungan oksigen dapat ditingkatkan dengan aerasi menggunakan aerator
ataupun blower. Kondisi air yang disukai diskus adalah yang mengandung asam humus
atau tannin. Untuk itu, kedalam wadah pemeliharaan dilarutkan tanah humus yang
mengandung asam humus yang bersifat lunak atau dengan merendam sabut kelapa yang
banyak mengandungtannin sehingga air menjadi asam. Air dari kedua rendaman tersebut
harus diukur derajat keasamannyadengan menggunakan pH meter, jika tingkat keasaman
sudah tercapai maka tanah humus atau sabur kelapa dikeluarkan (Lesmana dan Daelami
2009).

Ciri-ciri ikan diskus secara umum antara lain sebagai berikut :

 Bentuk badan pipih dan seperti lingkaran jika dilihat dari samping.

 Pola warna disepanjang tubuhnya berupa gari-garis pendek dengan warna garis
berbeda-beda sesuai dengan jenisnya.

Ada empat spesies diskus yang dibudidayakan antara lain Heckel Discus, Brown
Discus, Green Discus dan Blue Discus. Suhu yang baik untuk memeliharaan diskus
berkisar 25-30O C. Sementara kisaran kualitas air seperti keasaman (pH) cukup lebar
sekitar 5-6, 5 dan kekerasan air lunak antara 3-5O dH.

2.2. Fasilitas Budidaya


Fasilitas utama merupakan fasilitas pokok yang menunjang seluruh kegiatan budidaya
khususnya kegiatan pembenihan di Vizan Farm. Fasilitas pembenihan utama yang terdapat di
Vizan Farm diantaranya adalah wadah, energi, sistem tata air dan sistem aerasi.
2.2.1. Wadah
Wadah merupakan faktor utama yang mendukung kegiatan pembenihan sehingga
perlu diperhatikan bentuk dan posisinya. Vizan Farm memiliki fasilitas wadah yang meliputi
wadah tandon air tawar, wadah pemeliharaan, pemijahan induk, wadah penetasan telur,
pemeliharaan larva, dan wadah kultur pakan alami. Akuarium yang digunakan untuk
pemeliharaan induk berukuran 200 cm x 50 cm x 50 cm. Pemijahan, inkubasi telur dan
pemeliharaan benih menggunakan Akuarium berukuran berukuran 80 cm x 40 cm x 30 cm.
Bak tandon yang digunakan sebagai tempat penampungan air tawar untuk proses
pengendapan yang sebelum digunakan langsung ke wadah pemeliharaan, setelah itu air
penampungan yang sudah diendapkan lalu dialirkan kedalam akuarium. Bak tandon yang
digunakan berkapasitas 16.000 liter, yang dilengkapi dengan filter fisik, aerasi, pipa dan
selang yang berukuran 5/8 inchi, lalu dialirkan ke wadah pemeliharaan maupun wadah
pemijahan.

2.2.2. Energi
Listrik merupakan salah satu fasilitas yang terpenting karena sebagai sumber energi
yang digunakan untuk menyuplai oksigen selama 24 jam. Sumber tenaga listrik Vizan Farm
Sawangan, Depok berasal dari PLN Cabang Depok dengan kapasitas daya 2200 watt,
generator set untuk sumber energi cadangan dengan merk Krisbow yang berkapasitas 5000
watt sebanyak satu buah. Generator set ditempatkan di dalam ruangan tertutup dengan luas 2,
1 m x 1,4 m x 2 m .

2.2.3. Sistem Aerasi


Oksigen terlarut sangat dibutuhkan dalam kegiatan pembenihan. Untuk mendapatkan
suplai oksigen maka digunakan hi-blow sebagai sumber oksigen. Suplai oksigen dialirkan ke
akuarium pemeliharaan induk, unit pembenihan menggunakan pipa PVC 1 inci. Jenis hi-blow
yang digunakan yaitu jenis Resun Hi-Blow LP100 (Gambar 7). Harga Resun Hi-Blow LP100
sebesar Rp. 800.000,00 per unit. Umur ekonomis dari Resun Hi-Blow ini adalah 10 tahun.

2.2.4. Tabung Oksigen


Tabung oksigen digunakan untuk menyimpan oksigen yang akan digunakan untuk
proses pengepakan pada saat ikan dikirim ke pembeli, harga tabung oksigen dengan harga Rp
1.500.000,00 per unit. Dengan umur ekonomis 10 tahun.
2.2.5. Freezer
Freezer digunakan untuk menyimpan pakan alami berupa cacing darah yang sudah
dibekukan, harga freezer sebesar Rp. 3.000.000,00 per unit dengan umur ekonomis 10 tahun.

2.2.6. Pompa Air


Pompa air digunakan untuk mengalirkan air dari dalam sumur ke tempat
penampungan air atau tendon serta mengalirkan air dari bak penampungan ke dalam
akuarium. Pompa air yang digunakan sebanya 3 unit, dengan harga Rp.400.000,00 per unit.
Dengan umur ekonomis 10 tahun.

2.2.7. Centong
Centong digunakan untuk proses penyortiran ikan hias pada waktu pengepakan
(packing) sebanyak 4 buah, dengan harga per buah sebesar Rp 5.000,00, dan umur ekonomis
2 tahun.

2.2.8. Baskom
Baskom memiliki beberapa fungsi antara lain digunakan untuk wadah pakan,
pemanenan, dan penyortiran dengan harga 10.000,00 per buah. Vizan farm memiliki baskom
sebanyak 5 buah. Umur ekonomis 2 tahun.

2.2.9. Serokan
Serokan digunakan untuk menangkap ikan, mengambil kotoran, mengambil pakan
alami, serta menampung sementara ikan hias, harga serokan ini sebesar Rp 7500,00 per unit
dengan ukuran besar, sedangkan ukuran kecil dengan harga Rp 5000,00 per unit. Umur
ekonomis 2 tahun.

2.2.10. Selang Aerasi


Selang aerasi berfungsi untuk menyalurkan udara dari paralon ke akuarium atau bak.
Selang aerasi dan selang air yang digunakan pada usaha ini adalah sebanyak 1 rol , dengan
harga Rp 125.000 per rol. Umur ekonomis 5 tahun.

2.2.11. Selang Air


Selang air digunakan untuk mengisi air apabila akuarium baru dibersihkan dan airnya
diganti, selain itu juga selang ini berfungsi untuk menyifon akuarium dan bak. Selang yang
digunakan pada usaha Vizan Farm ini sebanyak 1 rol, dengan harga Rp 52.000 per rol. Umur
ekonomis 5 tahun.

2.2.12. Paralon
Paralon digunakan untuk mengaliskan udara dari Hi-blow dan menarik air dari dalam
sumur. Paralon yang digunakan sebanyak 20 m dengan ukuran ½ inci. Harga paralon ini
Rp.12.000,00 per meter, usaha ini memliki 20 meter. Umur ekonomis 5 tahun.

2.3. Arus Penerimaan (Inflow)


Arus penerimaan (Inflow) pada usaha budidaya ikan diskus di Vizan Farm terdiri dari
dua yaitu penerimaan dari penjualan dan nilai sisa.

2.3.1. Penerimaan Penjualan


Penerimaan penjualan yang diperoleh Vizan Farm berasal dari penjualan dari keempat
jenis ikan Diskus, penerimaan di asumsikan sama tiap tahunnya. Dimulai pada tahun 2013.
1. Red Melon
Ikan diskus jenis Red melon yang dijual yaitu ikan yang telah berukuran 2,5 inch ,
dengan siklus produksi selama 3 bulan. Tingkat Fertilisasi Rate (FR)\ sebesar 90%, Tingkat
Hatching rate (HR) sebesar 90% dan tingkat Survival Rate (SR) sebesar 80%. Dimana
Fekuenditas (telur yang di keluarkan oleh induk betina) sebanyak 150 ekor, sehingga tiap
sepasang induk dalam satu siklus dapat menghasilkan 97 ekor ikan diskus siap jual dengan
ukuran 2,5 inch. Harga jual untuk ukuran 2,5 inch yaitu Rp 20.000,00 per ekor. Dalam satu
tahun diperoleh panen dapat dilakukan sebanyak 4 kali dengan jumlah pasangan indukan
untuk
diskus jenis ini sebanyak 5 pasang. Sehinggga diperoleh penerimaan pertahunnya yaitu
sebesar 97 x 5 x Rp 20.000,00 x 4 maka diperoleh penerimaan per tahunnya sebesar Rp
38.800.000 ,00. Jumlah pasangan indukan yang yang dipijahkan per siklus yaitu lima pasang,
dimana per pasangannya terdiri atas satu indukan janta dan satu indukan betina. Ikan diskus
tergolong ikan yang setia dia hanya akan membuahi pasangannya.

2. Blue Terquise
Ikan diskus jenis Blue Terquise yang dijual yaitu ikan yang telah berukuran 2,5 inch ,
dengan siklus produksi selama 3 bulan. Tingkat Fertilisasi Rate (FR) sebesar 90%, Tingkat
Hatching rate (HR) sebesar 90% dan tingkat Survival Rate (SR) sebesar 80%. Dimana
Fekuenditas (telur yang di keluarkan oleh induk betina) sebanyak 150 ekor, sehingga tiap
sepasang induk dalam satu siklus dapat menghasilkan 97 ekor ikan diskus siap jual dengan
ukuran 2,5 inch. Harga jual untuk ukuran 2,5 inch yaitu Rp 17.000,00 per ekor. Dalam satu
tahun diperoleh panen dapat dilakukan sebanyak 4 kali dengan jumlah pasangan indukan
untuk diskus jenis ini sebanyak 5 pasang. Sehinggga diperoleh penerimaan pertahunnya yaitu
sebesar 97 x 5 x Rp 17.000,00 x 4 maka diperoleh penerimaan per tahunnya sebesar
Rp32.980.000 ,00.

3. Red Terquise
Ikan diskus jenis Red Terquise yang dijual yaitu ikan yang telah berukuran 2,5 inch ,
dengan siklus produksi selama 3 bulan. Tingkat Fertilisasi Rate (FR) sebesar 90%, Tingkat
Hatching rate (HR) sebesar 90% dan tingkat Survival Rate (SR) sebesar 80%. Dimana
Fekuenditas (telur yang di keluarkan oleh induk betina) sebanyak 150 ekor, sehingga tiap
sepasang induk dalam satu siklus dapat menghasilkan 97 ekor ikan diskus siap jual dengan
ukuran 2,5 inch. Harga jual untuk ukuran 2,5 inch yaitu Rp 17.000,00 per ekor. Dalam satu
tahun diperoleh panen dapat dilakukan sebanyak 4 kali dengan jumlah pasangan indukan
untuk diskus jenis ini sebanyak 5 pasang. Sehinggga diperoleh penerimaan pertahunnya yaitu
sebesar 97 x 5 x Rp 17.000,00 x 4 maka diperoleh penerimaan per tahunnya sebesar
Rp32.980.000 ,00 .

4. Sun Merah
Ikan diskus jenis Sun Merah yang dijual yaitu ikan yang telah berukuran2,5 inch ,
dengan siklus produksi selama 3 bulan. Tingkat Fertilisasi Rate (FR) sebesar 90%,
Tingkat Hatching rate (HR) sebesar 90% dan tingkat Survival Rate (SR) sebesar 80%.
Dimana Fekuenditas (telur yang di keluarkan oleh induk betina) sebanyak 150 ekor, sehingga
tiap sepasang induk dalam satu siklus dapat menghasilkan 97 ekor ikan diskus siap jual
dengan ukuran 2,5 inch. Harga jual untuk ukuran 2,5 inch yaitu Rp 17.000,00 per ekor.
Dalam satu tahun diperoleh panen dapat dilakukan sebanyak 4 kali dengan jumlah pasangan
indukan untuk diskus jenis ini sebanyak 5 pasang. Sehinggga diperoleh penerimaan
pertahunnya yaitu sebesar 97 x 5 x Rp 17.000,00 x 4 maka diperoleh penerimaan per
tahunnya sebesar Rp 32.980.000 ,00 .
Dari hasil analisis tersebut diperoleh penerimaan dalam setahun untuk usaha budidaya
ikan diskus yaitu sebesar Rp 137.740.000,00 sedangkan untuk tahun pertama usaha hanya
dilakukan 3 kali periode siklus produksi, ini dikarenakan pada tahun pertama dilakukan
proses persiapan produksi dimana indukan baru dalam tahap awal baru calon induk dan
belum siap untuk bereproduksi (matang gonad), tiga bulan kemudian baru induk siap di
pijahkan. Jadi pada tahun awal hanya terjadi sebanyak 3 kali siklus produksi. jumlah ikan
diskus yang dipanen di tahun pertama lebih sedikit dibandingkan dengan tahun berikutnya ini
disebabkan usaha budidaya ikan diskus masih dalam tahap persiapan sarana dan prasarana
produksi. Jumlah penerimaan di tahun pertama yaitu untuk ikan diskus jenis Red Melon
sebesar Rp. 29.100.000,00 dan untuk jenis Blue Terquise, Red Terquise, dan Sun Merah
sebesarRp. 24.735.000,00 . Sehingga total penerimaan pada tahun pertama yaitu sebesar
Rp103.305.000,00.

Dari tabel diatas didapatkan bahwa pada akhir umur usaha budidaya ikan Diskus di
Vizan Farm diperoleh nilai sisa sbesar Rp. 53.733.333,00. Khusus untuk tanah, di akhir tahun
usaha diproyeksikan mengalami kenaikan nilai sebesar 20 persen dari nilai beli saat investasi.
Ini dikarenakan tanah semakin lama semakin langka dan semakin dicari, akibatnya terjadi
kenaikan harga akibat permintaan yang tinggi.