Anda di halaman 1dari 2

Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari didakwa merugikan negara sebesar Rp6,1 miliar dalam

kasus pengadaan alat kesehatan tahun 2005. Ia juga didakwa menerima sejumlah gratifikasi total
sebesar Rp1,87 miliar.

Jaksa Penuntut Umum KPK Ali Fikri menyebutkan dalam rentang waktu 2007-2008, Siti menerima
sejumlah Mandiri Travel Cheque (MTC) dari dua petinggi PT Graha Ismaya. Hal ini dipaparkan oleh JPU
dalam sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

"Diberikan kepada terdakwa karena telah menyetujui revisi anggaran untuk kegiatan pengadaan alat
kesehatan (alkes) I serta memperbolehkan PT Graha Ismaya sebagai suplier pengadaan alkes I," terang
Ali Fikri dalam sidang, Senin 6 Februari 2017.

Sejumlah MTC ini diperoleh dari Sri Wahyuningsih selaku Direktur Keuangan PT Graha Ismaya dan
Masrizal Achmad Syarif, bertindak sebagai Direktur Utama. MTC diperoleh dari perusahaan PT. Graha
Ismaya yang diduga diberikan melalui Rustam Syarifuddin Pakaya selaku Kepala Pusat Penanggulangan
Krisis Depkes RI.

Uang yang diterima Siti ini kemudian digunakan berinvestasi di perusahaan sawit di Provinsi Riau dan
beberapa pengeluaran lain. Dari hasil investasinya ini, Siti Fadilah dapat melakukan pembayaran rumah
hingga santunan pengajian dan pembayaran produksi buku.

Akibat perbuatannya, Siti Fadilah diancam Pasal 12 huruf b juncto Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 31
Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU
Nomor 20/2001 juncto Pasal 65 ayat 1 KUHP.

Pengertian Gratifikasi Pengertian gratifikasi dapat ditemukan dalam Penjelasan Pasal 12B Ayat (1)
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 yaitu pemberian
dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga,
tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya.
Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan
menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik. Kategori Gratifikasi Mengutip dari
“Gratifikasi Akar Korupsi” sebagaimana diterbitkan oleh KPK, terdapat 2 (dua) kategori gratifikasi yaitu
gratifikasi yang dianggap suap dan gratifikasi yang tidak dianggap suap. Pertama, gratifikasi yang
dianggap suap. Gratifikasi yang dianggap suap merupakan gratifikasi yag diterima oleh pegawai negeri
atau penyelengara negara yang berhubungan dengan jabatannya serta berlawanan dengan kewajiban
atau tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 B UU Pemberatasan Tindak Pidana Korupsi.
Biasanya, motif pemberian gratifikasi yang dianggap suap berupa untuk mempengaruhi keputusan.
Biasanya penerima merupakan seseorang yang mempunyai kontrol terhadap hal tertentu (wewenang
yang melekat pada jabatan, sumber daya lainnkan karena apa yang dikendalikan/dikuasai oleh
penerima). Hubungan antara pemberi dan penerima bersifat timpang serta penentuan nilai atau harga
pemberian gratifikasi ditentukan oleh pihak-pihak yang terlibat (terdapat kesepakatan). Contoh
gratifikasi yang dilarang: Di suatu kementerian, terdapat proyek pengadaan terhadap alat canggih untuk
membantu penanganan absensi karyawan. Bapak Andre mempunyai jabatan tertentu yang dapat
menentukan perusahaan mana yang akan dipilih oleh Kementerian untuk memberikan layanan
pengadaan barang tersebut. Mengetahui jataban yang dimiliki Bapak Andre, kemudian PT ABC
mengirimkan laptop canggih merek terbaru kepada Bapak Andre. Pemberian laptop canggih ini dapat
dilihat sebagai upaya untuk mengurangi independensi Bapak Andre pada saat menentukan siapa
pemenang tender. Karena dengan pemberian tersebut Bapak Andre akan merasa berhutang budi pada
kontraktor yang telah memberikan laptop canggih. Kedua, gratifikasi yang tidak dianggap suap.
Gratifikasi yang tidak dianggap suap merupakan gratifikasi yang diterima oleh pegawai negeri atau
penyelenggara negara yang tidak berubungan dengan jabatan dan tidak berlawanan dengan keajiban
atau tugas si penerima gratifikasi. Dalam hal gratifikasi yang tidak dianggap suap, hubungan antara
pemberi dengan penerimanya biasanya setara dan nilai/harga pemberiannya pun berdasarkan
kewajaran/ kepantasan secara sosial (masyarakat). Contoh gratifikasi yang tidak dilarang: pemberian
intensif oleh BUMN/BUMD kepada pihak swasta karena target penjualannya berhasil tercapai. Hal
tersebut bukan merupakan gratifikasi yang tidak dilarang karena tidak termasuk pada pengertian
gratifikasi itu sendiri. Selain itu, penerimanya pun bukan penyelenggara negara atau pegawai negeri.
Sanksi Terhadap Penerima Gratifikasi Pasal 12 B UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mengatur
sanksi terhadap penerima gratifikasi, yaitu: Pasal 12 B ayat (1) : Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri
atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan
yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan sebagai berikut: yang nilainya Rp
10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih, pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan
merupakan suap dilakukan oleh penerima gratifikasi; yang nilainya kurang dari Rp 10.000.000,00
(sepuluh juta rupiah), pembuktian bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan oleh penuntut umum. Pasal
12 B ayat (2) : Pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) adalah pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan
paling lama 20 (dua puluh) tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta
rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Jadi, perlu diketahui tidak semua
gratifikasi itu bertentangan dengan hukum, hanya gratifikasi yang memenuhi kriteria dalam unsur Pasal
12B UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi saja yang bertentangan dengan hukum. Author : Linda
Julaeha

Sumber: Kenali Gratifikasi dan Sanksinya