Anda di halaman 1dari 11

REFERAT

PSIKIATRI

GANGGUAN PANIK DENGAN AGORAFOBIA

OLEH:

SALMA RASYIDAH

201510330311117

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

FAKULTAS KEDOKTERAN

2019
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Agorafobia berasal dari bahasa Yunani: Agora dan Phobos yang berarti takut
terhadap situasi/suasana pasar. Prevalensi Agorafobia kira-kira 2-6%.
Gangguan Panik bisa terjadi kapan saja sepanjang hidup,onset tertinggi usia
20-an, ditandai dengan perasaan serangan cemas tiba-tiba dan terus menerus,sesak
nafas, disertai perasaan akan datangnya bahaya, serta ketakutan akan kehilangan
kontrol atau menjadi gila. Prevalensi hidup gangguan panik kira-kira 1-4%
populasi, sedangkan serangan panik sekitar 3-6%. Wanita 2-3 kali lebih banyak
menderita gangguan ini dibanding laki-laki. Bila tidak diobati beresiko terjadinya
ide bunuh diri dan percobaan bunuh diri..
Saat ini, penatalaksaan yang tersedia untuk serangan panik adalah
penatalaksanaan secara farmakoterapi dan psikoterapi. Tujuan utama
penatalaksanaan gangguan panik adalah untuk mengurangi atau mengeliminasi
gejala serangan panik, mencegah dan mengantisipasi ansietas serta mengatasi
keadaan komorbid yang menyertainya.
1.2. Tujuan
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui tentang gangguan panik
dengan agorafobia meliputi definisi, etiopathogenesis, manifestasi klinis,
diagnosis, tatalaksana, komplikasi, dan prognosis penyakit tersebut.
1.3. Manfaat
Penulisan referat ini diharapkan dapat menambah pemahaman dan
memperluas wawasan penulis ataupun pembaca mengenai gangguan panik dengan
agorafobia.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Gangguan Panik (Panic Disorder) adalah satu perasaan serangan cemas
mendadak dan terus menerus disertai perasaan perasaan akan datangnya
bahaya/bencana, ditandai dengan ketakutan yang hebat secara tiba-tiba. Gangguan
Panik disebut juga Anxietas Paroksismal Episodik.
Agorafobia berasal dari kata Yunani. Agorafobia adalah rasa takut sendirian
di tempat umum (seperti supermarket), terutama tempat yang sulit untuk keluar
dengan cepat saat terjadi serangan panik.
Agorafobia dapat timbul pada penderita yang tidak mengalami serangan
panik akan tetapi sebagian besar penderita yang datang untuk pengobatan
mempunyai riwayat serangan panik ataupun gangguan fobia sosial yang sangat
berat yang menimbulkan simptom yang mirip dengan serangan panik.
2.2 Epidemiologi
Studi epidemiologis melaporkan angka prevalensi seumur hidup 1,5 – 5 %
untuk gangguan panik dan 3 – 5,6 % untuk serangan panik. Perempuan lebih
mudah terkena dua hingga tiga kali daripada laki-laki walaupun pengabaian
diagnosis gangguan panik pada laki-laki dapat berperan dalam distribusi yang
tidak sebenarnya.
Gangguan panik paling lazim timbul pada dewasa muda (usia rerata timbulnya
gangguan sekitar 25 tahun) tetapi gangguan panik dan agorafobia dapat timbul
pada usia berapapun. Gangguan panik dilaporkan terjadi pada anak dan remaja,
serta diagnosis gangguan ini mungkin kurang terdiagnosis pada kelompok usia
tertentu.
2.3 Etiopathogenesis
a. Faktor Biologis
Faktor biologis yang terlibat mungkin adalah sebuah predisposisi yang
diwariskan dalam keluarga dan terjadi lebih banyak pada kembar identik
dibanding kembar fraternal. Penelitian tentang dasar biologis untuk gangguan
panik telah menghasilkan bahwa gejala gangguan panik dapat disebabkan
oleh berbagai kelainan biolgis di struktur otak dan fungsi otak. Pada
gangguan panik ditemukan adanya disregulasi sistem saraf perifer dan pusat
dimana sistem saraf otonomik pada beberapa pasien gangguan panik telah
dilaporkan menunjukkan peningkatan tonus simpatetis, beradaptasi lambat
terhadap stimuli yang berulang dan berespon.
Sistem neurotransmiter utama yang terlibat adalah norepinefrinn
serotonin dan asam γ-aminobutirat (GABA). Disfungsi serotonergik cukup
terlihat pada gangguan panik dan berbagai studi dengan obat campuran
agonis-antagonis serotonin menujukkan peningkatan angka ansietas. Respon
tersebut dapat disebabkan oleh hipersensitivitas serotonin pascasinaps pada
gangguan panik. Terdapat bukti praklinis bahwa melemahnya transmisi
inhibisi lokal GABAnergik di amigdala basolateral, otak tengah, dan
hipotalamus dapat mencetuskan respons fisiologis mirip ansietas.
b. Faktor genetik
Berbagai penelitian telah menemukan adanya peningkatan risiko
gangguan panik sebesar 4-8 lebih banyak pada saudara kembar monozigotik
dan cenderung menderita gangguan panik dibanding kembar dizigotik.
Gangguan ini memiliki komponen genetika yang jelas. Angka prevalensi
tinggi pada anak dengan orang tua yang menderita gangguan panik. Berbagai
penelitian telah menemukan adanya peningkatan resiko gangguan panik
sebesar 4-8 kali lipat pada sanak saudara derajat pertama pasien dengan
gangguan panik dibandingkan dengan sanak saudara derajat pertama dari
pasien dengan gangguan psikiatrik lainnya. Demikian juga pada kembar
monozigot.
c. Faktor Psikososial
Terdapat 2 teori yang dapat menjelaskan ini, panik dan agorafobia. Kedua
teori tersebut adalah teori kognitif-perilaku, teori psikoanalitik dan teori
kelekatan. Hipotesis bahwa peristiwa psikologis yang menyebabkan stres
menghasilkan perubahan neurofisiologis pada gangguan panic mendapatkan
dukungan dari beberapa penelitian bahwa gangguan panik berhubungan kuat
dengan perpisahan parental dan kematian parental sebelum usia 17 tahun.
Selain itu didapatkan pula bahwa pola kecemasan akan sosialisasi saat
masa kanak-kanak, hubungan dengan orang tua yang tidak mendukung serta
perasaan terperangkap atau terjebak dapat menyebabkan terjadinya gangguan
panik.
2.4 Manifestasi Klinis
Gambaran klinis biasanya meliputi klaustrofobia (takut berada dalam ruang
tertutup), juga berada di tempat ramai, jalan utama dan transportasi umum.
Penderita dapat menyalahgunakan alkohol atau obat-obatan untuk mengatasi fobia
mereka. Penderita lain menjadi depresi akibat pembatasan gaya hidup mereka,
yang akhirnya akan semakin mencetuskan agorafobianya.
Serangan Panik menunjukkan beberapa gejala anxietas yang berat dengan
onset cepat. Gejala mencapai puncaknya dalam 10 menit, tapi juga bisa dalam
beberapa detik. Pasien mengeluh nafas pendek, sesak nafas, tremor, pusing,
merasa panas atau dingin, ada depersonalisasi dan derealisasi.
Pasien dengan Serangan Panik akan berulangkali mencari pertolongan, sering
dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit. Bila tidak diobati seranga
panik akan berulang dan pasien akan berulangkali mengunjungi dokter atau
seringkali dibawa ke IGD. Lama-lama pasien akan menghindari tempat-tempat
atau situasi serangan paniknya pernah terjadi terutama tempat kegiatan sosial atau
tempat dimana susah untuk menyelamatkan diri. Lama-lama bisa jatuh pada
Agorafobia. Serangan panik akan berkurang dirumah, berada bersama pasangan
atau orang yang dikenal sehingga bisa membantu bila terjadi serangannya.
Gangguan Panik merupakan serangan panik yang berulang-ulang dengan
onset cepat dan durasi sangat singkat. Karena adanya gejala-gejala fisik pada
waktu serangan, pasien menjadi ketakutan mereka akan mendapat serangan
jantung, stroke dan lain-lain Kadang pasien berfikir mereka akan kehilangan
kontrol atau menjadi gila.
2.5 Diagnosis
Diagnosis Serangan Panik Menurut Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorder IV (DSM IV) adalah adanya satu periode ketakutan sangat hebat
atau kegelisahan dimana 4 (empat) atau lebih gejala-gejala dibawah ini dapat
ditemukan dan mencapai puncaknya dalam waktu 10 menit:
a. Palpitasi, jantung terasa berat dan peningkatan denyut jantung.
b. Keringat banyak.
c. Menggigil atau gemetaran.
d. Perasaan nafasnya pendek atau tertahan-tahan.
e. Merasa tercekik.
f. Nyeri dada.
g. Mual atau rasa tidak nyaman diperut.
h. Merasa pusing, goyang / hoyong, kepala terasa ringan atau nyeri.
i. Derealisasi (merasa tidak didunia realita), atau depersonalisasi (merasa
terpisah dari diri sendiri).
j. Takut kehilangan kendali diri atau menjadi gila.
k. Takut mati
l. Parestesia (menurunnya sensasi).
m. Merasa kedinginan atau merah kepanasan.
Diagnosis agorafobia berdasarkan gejala ansietas dan fobia yang
tampak jelas. Menurut Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan
Jiwa Edisi ke III (PPDGJ-III), diagnosis pasti agorafobia harus memenuhi
semua kriteria dengan adanya gejala ansietas yang terbatas pada kondisi spesifik
yang harus dihindari oleh penderita.
Tabel 2.1 Kriteria Diagnostik untuk Agorafobia
Semua kriteria di bawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti:

a. Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan


manifestasi primer dari ansietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain
seperti misalnya waham atau pikiran obsesif.
b. Ansietas yang timbul harus terbatas pada setidaknya dua dari situasi berikut:
banyak orang/keramaian, tempat umum, bepergian keluar rumah dan bepergian
sendiri.
c. Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol.

Sedangkan menurut DSM-V, agorafobia dapat digolongkan atas gangguan


panik dengan agorafobia dan agorafobia tanpa gangguan panik. Dengan kriteria
diagnostik sebagai berikut:
Tabel 2.2 Kriteria Diagnostik untuk Agorafobia tanpa Riwayat Gangguan Panik
a. Adanya agorafobia berhubungan dengan rasa takut mengalami gejala mirip panik
(misalnya pusing atau diare).
b. Tidak pernah memenuhi kriteria untuk panik.
c. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya obat
yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis umum.
d. Jika di temukan suatu kondisi medis umum yang berhubungan, rasa takut yang
dijelaskan dalam kriteria a jelas melebihi dari apa yang biasanya berhubungan
dengan kondisi.

Selain itu, DSM-V juga menetapkan kriteria diagnostik untuk agorafobia,


yaitu:
Tabel 2.3 Kriteria untuk Agorafobia
Catatan: Agorafobia bukan merupakan gangguan yang dapt dituliskan. Tuliskan
diagnosis spesifik di mana agorafobia panik terjadi (misalnya gangguan panik
dengan agorafobia atau agorafobia tanpa riwayat gangguan panik).

a. Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi dari mana kemungkinan
sulit meloloskan diri (atau merasa malu) atau di mana mungkin tidak terdapat
pertolongan jika mendapatkan serangan panik atau gejala mirip panik yang
diharapkan atau disebabkan oleh situasi. Rasa takut agorafobik biasanya
mengenai kumpulan situasi karakteristik seperti di luar rumah sendirian, berada
di tempat ramai atau berdiri di sebuah barisan, berada di atas jembatan, atau
bepergian dengan bus, kreta atau mobil.
Catatan: Pertimbangkan diagnosis fobia spesifik jika penghindaran adalah terbatas
pada satu atau hanya beberapa situasi spesifik, atau fobia sosial jika penghindaran
terbatas pada situasi sosial.
b. Situasi dihindari (misalnya jarang bepergian) atau jika dilakukan dengan
penderitaan yang jelas atau dengan kecemasan akan mendapatkan serangan panik
atau gejala mirip panik, atau perlu didampingi teman.
c. Kecemasan atau penghindaran fobik tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan
mental lain, seperti fobia sosial (misalnya penghindaran terbatas pada situasi
sosial karena rasa takut malu), gangguan obsesif kompulsif (misalnya
menghindari kotoran pada seseorang dengan obsesi tentang kontaminasi),
gangguan stres pasca traumatik (misalya menghindari stimuli yang berhubungan
dengan stresor yang berat), atau gangguan cemas perpisahan (misalnya
menghindari meninggalkan rumah atau sanak saudara).

2.6 Tatalaksana
a. Non Farmakologis
- Terapi Kognitif Perilaku.
- Terapi Keluarga.
- Psikoterapi Berorientasi Insight (Tilikan).
- Psikoterapi Kombinasi.
b. Farmakologis
Pemberian Psikofarmaka perlu dipertimbangkan bila telah terjadi
Agorafobia, Depresi, ide atau percobaan bunuh diri, dan gejala sudah
cukup berat.
- Trisiklik Antidepresan (Imipramine, Clomipramine, Maprotiline,
Amitriptiline). Pemakaian harus hati-hati karena efek samping yang
kurang menyenangkan seperti: mulut kering, konstipasi, somnolent,
disfungsi seksual, anxietas, hipotensi orthostatistik).
- Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI). Pemakaian
Paroxetine, Sertraline dan Fluoxetine cukup efektif untuk Gangguan
Panik.
- Benzodiazepine (Alprazolam, Clonazepam, Lorazepam) mempunyai
kemampuan spesifik sebagai anti panik, tapi pemakaian jangka lama
harus sangat hati-hati karena akan mudah menimbulkan toleransi
serta penurunan atau penghentian pengobatan bisa menimbulkan
efek “ classical withdrawal” seperti terjadinya rebound fenomen dari
gejala panik.
Meskipun farmakoterapi cukup efektif mengatasi gejala-gejala awal
Gangguan panik, kombinasi Psikoterapi dan Farmakoterapi memberikan hasil
yang lebih baik pada beberapa kasus.

2.7 Prognosis
Kira-kira 30% – 40% pasien sembuh sempurna, 50% masih mempunyai
gejala yang ringan tapi tidak mengganggu aktifitas kehidupan seharihari. Sekitar
10% – 20% masih terus mengalami gejala yang signifikan.
BAB 3

SIMPULAN

Gangguan Panik (Panic Disorder) adalah satu perasaan serangan cemas


mendadak dan terus menerus disertai perasaan perasaan akan datangnya
bahaya/bencana, ditandai dengan ketakutan yang hebat secara tiba-tiba.
Agorafobia adalah rasa takut sendirian di tempat umum (seperti supermarket),
terutama tempat yang sulit untuk keluar dengan cepat saat terjadi serangan panik.
Gangguan panik paling lazim timbul pada dewasa muda (usia rerata timbulnya
gangguan sekitar 25 tahun) tetapi gangguan panik dan agorafobia dapat timbul
pada usia berapapun.
Gambaran klinis biasanya meliputi klaustrofobia (takut berada dalam ruang
tertutup), juga berada di tempat ramai, jalan utama dan transportasi umum. obat
golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI) efektif untuk gangguan
panik. Obat lain yang biasa digunakan adalah dari golongan Benzodiazepin karena
memiliki awitan kerja untuk panik yang paling cepat, sering dalam minggu
pertama, dan dapat digunakan untuk periode waktu yang lama tanpa timbul
toleransi terhadap anti panik. Kombinasi psikoterapi dan farmakologis
memberikan hasil yang lebih baik pada beberapa kasus.
DAFTAR PUSTAKA

1. Elvira SD, Hadisukanto G, 2010, Buku Ajar Psikiatri, Jakarta: Badan Penerbit
FKUI.
2. Sadock BJ, Sadock VA, 2000, Anxiety Disorder, Dalam: Comprehensive
Textbook of Psychiatry, Edisi 7, hal.1465-95.
3. Shelton,RC, 2008, ANXIETY DISORDERS in CURRENT Diagnosis &
Treatment Psychiatry, Edisi 2, (Ed) Michael HE, Barry Nurombe, Peter TI,
James F.Leckman, Singapore: The McGraw- Hill Companies Inc.
4. Puri, B.K, Laking, P.J, Treasaden, I.H, 2011, Buku Ajar Psikiatri. Edisi 2.
Jakarta: EGC, pp: 202-207.
5. Maslim R, 2013, Pedoman Diagnostik Gangguan Panik dalam Diagnosis
Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III dan DSM-5, Jakarta, Hal.
206-7
6. Maramis, Willy F, 2009, Ilmu Kedokteran Jiwa, Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
Universitas Airlangga, Surabaya.
7. McLean PD & Woody SR, 2001, Panic Disorder And Agoraphobia. Dalam:
Anxiety Disorders in Adults, Vancouver: Oxford University Press.
8. Yaunin, Yaslinda., 2012, Gangguan Panik dengan Agoraphobia, Majalah
Kedokteran Andalas, 2:36, pp. 235-239