Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN CAROSEL HIPERPARATIROIDISME

MATA KULIAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II

KELOMPOK 4

Sidiq Wijayanto I1B018072

Haidar Amr Abdillah I1B018077

Novi Vebianti I1b018081

Quintha Huwaida I1B018079

Dewi Hajar Khansa A I1B018083

Ji’is I1B018085

Isnan Okta Nur Zaki I1B018088

Irnawa Pakasari I1B018090

Syifa Azka Maulida I1B018092

Justine Agrippina I1B018095

Nur Hidayah I1B018099

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

KEPERAWATAN

2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Tujuan
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Hiperparatiroidisme adalah penyakit yang disebabkan oleh aktivitas berlebih satu
atau lebih kelenjar paratiroid. Hiperparatiroidisme dibagi atas primer, sekunder, atau
tersier. Hiperparatiroidisme umumnya terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. Angka
kejadian hiperparatiroidisme pada perempuan dua kali lebih banyak daripada laki-laki,
serta penderita dengan gagal ginjal. Insiden hiperparatiroidisme adalag 27 kasus per
100.000.

B. Etiologi dan Faktor Risiko


Menurut (Black, J dan Hawks, J. 2014), etiologi hiperparatiroidisme antara lain :
1. Hiperparatiroidisme primer, terjadi ketika hubungan normal antara kadar kalsium
dan sekresi paratiroid hormon (PTH) terganggu. Interupsi terjadi pada adenoma
atau hiperplasi kelenjar tanpa adanya cedera.
2. Hiperparatiroidisme sekunder, terjadi pada kelenjar yang hiperplasi akubat
malfungsi sistem organ lainnya. Keadaan ini biasanya akibat dari gagal ginjal, tetapi
dapat jug terjadi akibat kanker seperti mieloma multipel, atau metastasis kanker
tulang.
3. Hiperparatiroidisme tersier, terjadi jika produksi PTH adalah ireversibel (autonom)
pada penderita dengan kadar kalsium yang normal atau rendah.

C. Patofisiologi
Fungsi normal PTH adalah untuk meningkatkan resorpsi tulang, sehingga dapat
memelihara keseimbangan ion kalsium dan fosfor dalam darah. Sirkulasi berlebih dari
PTH dapat menyebabkan kerusakan tulang, hiperkalsemia, dan kerusakan ginjal.
1. Hiperparatiroidisme Primer
Tingkat keparahan hiperkalsemia merefleksikan hiperfungsi jaringan
paratiroid. Sekresi berlebih PTH menstimulasi perpindahan kalsium ke dalam
darah dari intestinum, ginjal, dan tulang. Nefrilitiasis adalah hasil sekunder dari
batu ginjal kalsium fosfatdan deposisi kalsium dalam jaringan lunak ginjal.
Pielonefritis dapat memperberat nefrolitiasis. Resorpsi tulang terkait hiperkalsemia
dapat terjadi.
2. Hiperparatiroidisme Sekunder
Gagal ginjal kronis dan hiperfosfatemia menyebabkan hiperpatratiroidisme
sekundr. Oleh karena laju filtrasi glomerulus (GFR) menurun pada kasus gagal
ginjal kronis, fosfat serum naik yang berakibat kadar kalsium serum menurun dan
sekresi PTH terstimulasi. Peningkatan ini menyebabkian absorbsi fosfat di tubulus
renalis, menyebabkan kadar fosfat serum kembali normal. Karena GFR terus
menurun, PTH diekskresikan dalam jumlah besar untuk menurunkan reabsorbsi
fosfat tubular dan memelihara fosfat serum normal atau mendekati normal.

D. Manifestasi Klinis
Beberapa klien dengan hiperparatiroidisme tidak menunjukkan gejala
asimptomatik, namun pada umumnya memiliki gejala penyakit tulamh, penyakit ginjal,
gangguan saluran gastrointestinal dan abnormalitas neurologi.
1. Penyakit tulang :
a. Nyeri punggung
b. Nyeri sendi
c. Nyeri tulang sampai keluhan fraktur patologis tulang belakang, rusuk, dan
tulang panjang
2. Penyakit ginjal :
Klien dengan hiperparatiroidisme akan mengalami hiperkalsemia.
Hiperkalsemia ini akan menyebabkan tanda gejala seperti :
a. Haus
b. Mual
c. Anoreksia
d. Konstipasi
e. Ileeus
f. Nyeri abdominal
Klien dengan manifestasi klinis penyakit ginjal akan mengalami poliurine;
polidipsi; tampak adanya pasir, kerikil, dan batu (kalkulus) dalam urine, azotemia,
dan hipertensi akibat kerusakan ginjal.

E. Manajemen Terapeutik
Hasil yang diharapkan dari manajemen terapeutik hiperparatiroidisme adalah
menurunkan kadar kalsium darah yang meninggi dan pengelolaan jangka panjang
hiperkalsemia dengan obat-obatan guna meningkatkan resorpsi kalsium tulang.
Manajemen terapeutik yang dapat ditegakkan meliputi 2 hal, farmakologis dan non
farmakologis.
1. Farmakologis
a. Plicamysin (Mithracin), obat kemoterapi yang efektif menurunkan kadar
kalsium
b. Galium nitrat (Ganite)
c. Glukotiroid, obat untuk menurunkan absorbsi gastrointestinal dari kalsium
d. Fosfat
e. Kalsitonin, menurunkan pelepasan kalsium oleh tulang.
2. Non Farmakologis
a. Hidrasi dan Kalsiuria
Hidrasi dilakukan dengan pemberian infus larutan normal salin untuk
mencegah ginjal meresorpsi kalsium
b. Furosemid (lasix)
Loop diuretik yang dapat menimbulkan kalsiuria setelah rehidrasi dapat
diberikan.
c. Diet rendah kalsium atau vitamin D
F. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
1) Data demografi : Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama,
umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status
perkawinan, dan penanggung biaya.
2) Riwayat Sakit dan Kesehatan
a. Keluhan Utama : Sakit kepala, kelemahan, lethargi dan kelelahan otot.
Gangguan pencernaan seperti mual, muntah, anoreksia, obstipasi, dan
nyeri lambung yang akan disertai penurunan berat badan. Nyeri tulang dan
sendi.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
c. Riwayat Penyakit Dahulu : Diantaranya riwayat trauma/ fraktur.
d. Riwayat penyakit keluarga: Adakah penyakit yang diderita oleh anggota
keluarga yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang,
yaitu riwayat keluarga dengan hiperparatiroid
3) Pengkajian psiko-sosial spiritual : Perubahan kepribadian dan perilaku-klien,
perubahan mental, kesulitan mengambil keputusan, kecemasan dan ketakutan
hospitalisasi, diagnostic test dan prosedur pembedahan, adanya perubahan
peran.
4) Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )
a. Breath (B1): Gejala: nafas pendek, dispnea nocturnal paroksimal, batuk
dengan / tanpa sputum kental dan banyak. Tanda: takipnea, dispnea,
peningkatan frekensi/kedalaman (pernafasan Kussmaul)
b. Blood (B2): Gejala: Riwayat hipertensi lama atau berat, palpitasi, Tanda:
hipertensi (nadi kuat, edema jaringan, pitting pada kaki, telapak tangan),
disritmia jantung, pucat, kecenderungan perdarahan.
c. Brain (B3): Gejala: penurunan daya ingat, depresi, gangguan tidur, koma.
Tanda: gangguan status mental, penurunan tingkat kesadaran, ketidak
mampuan konsentrasi, emosional tidak stabil
d. Bladder (B4): Gejala: penurunan frekuensi urine, obstruksi traktus
urinarius, gagal fungsi ginjal (gagal tahap lanjut), abdomen
kembung,diare, atau konstipasi. Tanda: perubahan warna urine, oliguria,
hiperkalsemia, Batu ginjal biasanya terdiri dari kalsium oksalat atau
kalsium fosfat
e. Bowel (B5): Gejala: anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan.
Tanda: distensi abdomen, perubahan turgor kulit, kelainan lambung dan
pankreas(tahap akhir), Ulkus peptikum.
f. Bone (B6): Gejala: kelelahan ekstremitaas, kelemahan, malaise. Tanda:
penurunan rentang gerak, kehilangan tonus otot, kelemahan otot, atrofi
otot
2. Diagnosis
Diagnosis yang dapat diangkat adalah Gangguan Eliminasi Urine b.d
hiperkalsemia dan hiperfosfaturia yang mengakibatkan urolitiasis, nyeri saat
berkemih, hematuria, dan spasme.

3. Hasil yang Diharapkan


Klien akan mengeluarkan urine normal yang ditunjukkan oleh produksi urine
0,5 ml/kg/jam tanpa pembentukan batu.

4. Intervensi
1.) Pemberian Cairan
Penderita harus minum paling sedikit 3000 ml cairan setiap hari. keadaan
dehidrasi adalah keadaan berbahaya untuk klien hiperparatiroidisme sebab
dapat meningkatkan kadar kalsium sehingga bisa menimbulkan formasi batu
ginjal.
2.) Mencegah Urolitiasis
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian jus kranberi atau jus prune
dapat membantu urine menjadi lebih asam. Keadaan asam akan membantu
mencegah formasi batu ginjal karena kalsium lebih larut dalam urine asam
daripada urine alkalin atau basa.
3.) Saring Urine dari Batu
Jika batu ginjal terbentuk, saringlah urine untuk mendeteksi adanya kerikil
atau batu. Simpan urine abnormal dan serahkan ke dokter untuk pemeriksaan
dan analisis laboratorium.

5. Evaluasi
Bergantung pada penyebab hiperkalsemia, pengelolaan medis dapat
mengontrol hiperkalsemia primer. Jika tidak dapat, tindakan bedah mungkin
diperlukan. Jika kondisinya adalah sekunder akibat gagal ginjal, maka
penatalaksanaannya akan bersifat kronis.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hiperparatiroidisme adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh aktivitas berlebih
satu atau lebih kelenjar paratiroid. Kemudian Hiperparatiroidisme dibagi atas primer,
sekunder, atau tersier. Beberapa klien dengan hiperparatiroidisme tidak menunjukkan
gejala asimptomatik, namun pada umumnya memiliki gejala penyakit tulang, penyakit
ginjal, gangguan saluran gastrointestinal dan abnormalitas neurologi. Manajemen
terapeutik yang dapat ditegakkan meliputi dua hal yaitu, farmakologis dan non
farmakologis. Dengan diagnosis yang dapat diangkat adalah Gangguan Eliminasi Urine
b.d hiperkalsemia dan hiperfosfaturia yang mengakibatkan urolitiasis, nyeri saat
berkemih, hematuria, dan spasme.

B. Saran
Setelah mengetahui tentang Hiperparatiroidisme dengan adanya pembuatan laporan
ini diharapkan dapat memahami dan dapat menghindari penyakit yang disebabkan oleh
aktivitas berlebih dari satu atau lebih kelenjar paratiroid tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Black, J dan Hawks, J. 2014. Keperawatan Medikal Bedah: Manajemen Klinis untuk Hasil
yang Diharapkan. Dialihbahasakan oleh Nampira R. Jakarta: Salemba Emban Patria