Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH AGAMA

TENTANG AGAMA BESERTA FUNGSINYA

DISUSUN OLEH KELOMPOK 1:


1.DIDIN ALBERTO PURBA [03051181924016]

2.ABETNEGO SITUMEANG [03051281924126]

3.FINDY XAVARIUS HAREFA [06061281924030]

4.SINGNI KRAKLA [1001081924091]

5.NANI HERTA JUNIATI [06111181924010]

Dosen Pembimbing:

Sahat Pajar L.Gaol M.A.M.Pd

PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN PROTESTAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Kata  Pengantar
Puji  dan  syukur  kami panjatkan  kepada  Tuhan  Yang  Maha  Esa, karena  atas
keberkahanNya, lah  akhirnya  kami  mampu  menyelesaikan   tugas  makalah  ini 
sesuai  dengan  waktu  yang  telah  ditentukan.                                 

Saya  sepenuhnya  menyadari, karena  apa  yang  kami  sajikan  pada  makalah  ini 
keberadaannya  masih  sederhana  dan  jauh  dari  kesempurnaan  karena   sumber 
bacaan, pengetahuan  yang  saya  miliki  sangatlah  terbatas. Disamping  itu  juga,
kami  sangat  berharap  agar  Bapak  selaku  dosen  mata  kuliah  pendidikan  agama 
Kristen  sudi  kiranya  memberikan  kritik, serta  saran  yang  membangun  demi 
perbaikan  mutu  dan  bobot   karya  tulis  ini  yang  lebih  baik.                                    
Demikian  sepatah  kata  pengantar  yang  bisa kami  sampaikan  dan  bila  ada  hal-
hal  yang  kurang  berkenan,kami  minta  maaf  yang  sebesar-besarnya, atas 
perhatian  Bapak  saya  ucapkan  banyak  terima  kasih.

Indralaya, 7 November 2019

Ketua kelompok 1

Didin Alberto Purba


i

Daftar Isi

Kata pengantar……………………………………………………………………………………i
Daftar isi………………………………………………………………………………………….ii
Bab 1 pendahuluan………………………………………………………………………………..1
Bab 2 pembahasan……………………………………………………………………………...…2
Bab 3 Kesimpulan……..…………………………………………………………………………..6

ii
BAB  I
PENDAHULUAN
A. Latar  Belakang Masalah
Agama merupakan suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal, dalam arti bahwa
semua masyarakat mempunyai cara-cara berpikir dan polapola perilaku yang memenuhi syarat
untuk disebut „agama‟ (religious).1 Ellis, tokoh terapi kognitif behavioral menulis dalam Journal
of Counseling and Clinical Psychology terbitan 1980. Agama yang dogmatis, ortodoks dan taat
(yang mungkin kita sebut sebagai kesalehan) bertoleransi sangat signifikan dengan gangguan
emosional orang umumnya menyusahkan dirinya dengan sangat mempercayai kemestian,
keharusan dan kewajiban yang absolut. Orang sehat secara emosional bersifat lunak, terbuka,
toleran dan bersedia berubah, sedang orang yang sangat relegius cenderung kaku, tertutup, tidak
toleran dan tidak mau berubah, karena itu kesalehan dalam berbagai hal sama dengan pemikiran
tidak rasional dan gangguan emosional.

Banyak dari apa yang berjudul agama termasuk dalam superstruktur, agama terdiri atas
tipe-tipe simbol, citra, kepercayaan dan nilai-nilai spesifik dengan mana makhluk manusia
menginterpretasikan eksistensi mereka, akan tetapi karena agama juga mengandung komponen
ritual maka sebagian agama tergolong juga dalam struktur sosial.Pembuatan  makalah  ini 
bertujuan  untuk  mengetahui dan mempelajari lebih dalam lagi tentang  Agama dan fungsinya .
Hal  yang  paling  utama  dalam  pembuatan  makalah ini  adalah  untuk  memenuhi  tugas  mata 
kuliah  pendidikan  Agama  Kristen.Mamfaat  dibuat  makalah  ini  adalah  untuk  memberikan  
tambahan  pengetahuan  dan  prinsip keteladanan  dalam  menjalani   hidup  ini.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Agama

Definisi agama secara positif ialah sistem kepercayaan dan praktek yang telah
dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus kepercayaan-kepercayaan dan praktek-
praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal.

Apa yang dimaksud dengan agama (religion)? Menurut KBBI, pengertian agama adalah


suatu ajaran dan sistem yang mengatur tata keimanan/ kepercayaan dan peribadatan kepada
Tuhan yang Maha Kuasa, serta tata kaidah terkait pergaulan manusia dengan manusia serta
lingkungannya.

Pendapat lain mengatakan arti agama adalah suatu kepercayaan dan penyembahan
terhadap kuasa dan kekuatan sesuatu yang luar biasa di luar diri manusia. Sesuatu yang luar biasa
itu disebutkan dengan beragam istilah sesuai dengan bahasa manusia, misalnya; Aten, Tuhan,
Yahweh, Elohim, Allah, Dewa, God, Syang-ti, dan lain sebagainya.

Kata “Agama” berasal dari bahasa Sansekerta yang secara umum berarti suatu tradisi,
dimana “A” artinya tidak dan “Gama” artinya kacau. Sehingga bila dilihat dari asal katanya,
definisi agama adalah suatu peraturan yang dapat menghindarkan manusia dari kekacauan, serta
mengarahkan manusia menjadi lebih teratur dan tertib.

B. Pengertian Agama Kristen Menurut Para Ahli

            E.G.  Homrighausen mengatakan: “Pendidikan Agama Kristen berpangkal pada


persekutuan umat Tuhan. Dalam perjanjian lama pada hakekatnya dasar-dasar terdapat pada
sejarah suci purbakala, bahwa Pendidikan Agama Kristen itu mulai sejak terpanggilnya Abraham
menjadi nenek moyang umat pilihan Tuhan, bahkan bertumpu pada Allah sendiri karena Allah
menjadi peserta didik bagi umat-Nya”.

Menurut Warner C. Graedorf pendidikan agama kristen adalah “Proses pengajaran dan

2
pembelajaran yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan bergantung kepada Roh
Kudus, yang membimbing setiap pribadi pada semua tingkat pertumbuhan melalui pengajaran
masa kini kearah pengenalan dan pengalaman rencana dan kehendak Allah melalui Kristus
dalam setiap aspek kehidupan, dan melengkapi mereka bagi pelayanan yang efektif, yang
berpusat pada Kristus sang Guru Agung dan perintah yang mendewasakan pada murid”.

Pengertian pendidikan agama Kristen adalah kegiatan politis bersama pada peziarah
dalam waktu yang secara sengaja bersama mereka memberi perhatian pada kegiatan Allah di
masa kini kita, pada cerita komunitas iman Kristen, dan visi kerajaan Allah, benih-benih yang
telah hadir diantara kita.

Pengertian pendidikan agama kristen menurut para ahli yang dirangkum oleh Paulus Lilik
Kristianto dalam bukunya yang berjudul “Prinsip & Praktek Pendidikan Agama Kristen:

1. Hieronimus (345-420)

Pendidikan agama kristen adalah pendidikan yang tujuannya mendidik jiwa sehingga menjadi
bait Tuhan. (Mat.5:48).

2. Agustinus (345-430)

Pendidikan agama kristen adalah pendidikan yang bertujuan mengajar orang supaya “melihat
Allah” dan “hidup bahagia.”

3. Martin Luther (1483-1548)

Pendidikan agama kristen adalah pendidikan yang melibatkan warga jemaat untuk belajar teratur
dan tertib agar semakin menyadari dosa mereka serta bersukacita dalam Firman Yesus Kristus
yang memerdekakan. Di samping itu PAK memperlengkapi mereka dengan sumber iman,
khususnya yang berkaitan dengan pengalaman berdoa, Firman tertulis (Alkitab) dan rupa-rupa
kebudayaan sehingga mereka mampu melayani sesamanya termasuk masyarakat dan Negara
serta mengambil bagian dengan bertanggung jawab dalam persekutuan Kristen.

4.  John Calvin (1509-1664)

Pendidikan agama kristen adalah pendidikan yang bertujuan mendidik semua putra-putri gereja
agar mereka:

3
a. Terlibat dalam penelaahan Alkitab secara cerdas sebagaimana dengan bimbingan Roh kudus.

b. Mengambil bagian dalam kebaktian dan memahami keesaan gereja.

c. Diperlengkapi untuk memilih cara-cara mengejawantahkan pengabdian diri kepada Allah


Bapa dan Yesus Kristus dalam pekerjaan sehari-hari serta hidup bertanggung jawab di bawah
kedaulatan Allah dan kemuliaanNya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang dipilih dalam
Yesus Kristus.

C. Fungsi Agama Secara Umum

Kehadiran agama memiliki peran dan fungsi yang cukup banyak dalam kehidupan manusia.
Adapun beberapa fungsi agama adalah sebagai berikut:

1. Sebagai pedoman hidup manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik secara individu
maupun kelompok.
2. Sebagai sumber aturan tata cara hubungan manusia dengan Tuhannya, dan juga sesama
manusia.
3. Sebagai pedoman bagi manusia dalam mengungkapkan rasa kebersamaan dengan sesama
manusia.
4. Sebagai pedoman perasaan keyakinan manusia terhadap sesuatu yang luar biasa
(supranatural) di luar dirinya.
5. Sebagai cara manusia mengungkapkan estetika/ keindahan alam semesta dan segala
isinya.
6. Sebagai cara untuk memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.
D. Fungsi Agama di Perguruan Tinggi
1. Membentuk sarjan beragama, bertaqwa, berbudi pekerti luhur, berfikir filosofis, rasional,
dinamis, pandangannya luas, kerjasama antar umat dalam pengembangan IPTEKS untuk
kepentingan nasional.
2. Tujuan umum mempunyai tugas hakiki menghayati dan mengerti sebagai umat Allah
mempunyai tugas hakiki untuk menjadi berkat bagi dunia.
4
3. Mengenal kasih Allah dan menghayati kasih Allah dalam Yesus Kristus pribadi
seutuhnya sebagai manusia ciptaan baru yang dewasa dan bertanggung jawab kepada
Allah dan manusia, bersedia mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemulyaannya.
4. Kesimpulan: membentuk pribadi Kristus menjadi pelaku firman untuk mengabdi bagi
sesama.
5. Semangat belajar memperbaharui diri untuk membawa ke arah kemajuan bagi hakekat
kemanusiaan. Interaksi dalam pembelajaran upaya mencari diri agar lebih dewasa dan
manusiawi.
E. Tujuan Agama

Suatu agama tercipta karena manusia ingin mencapai tujuan tertentu di dalam hidupnya, dan
agama dianggap dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Adapun beberapa tujuan agama
adalah sebagai berikut:

1. Untuk membimbing manusia dalam menjalani kehidupannya dengan cara lebih baik
melalui pengajaran dan aturan, dimana ajaran dan aturan tersebut dipercaya berasal dari
Tuhan.
2. Untuk menyampaikan firman Tuhan kepada umat beragama, berupa ajaran-ajaran
kebaikan dan aturan berperilaku bagi manusia.
3. Untuk membimbing manusia menjadi individu yang berakal baik dan dapat menemukan
kebahagiaan di dunia dan akhirat.
4. Untuk membuka jalan bagi manusia yang ingin bertemu dengan penciptanya, yaitu Tuhan
Yang Maha Esa, ketika mati kelak.

5
F. Unsur-Unsur Agama

Menjelaskan definisi agama merupakan sesuatu yang sangat kompleks. Penjelasan yang
dikemukakan oleh para ahli tidak dapat menjawab secara tuntas mengenai realitas agama dalam
kehidupan manusia.

Untuk memudahkan kita memahami arti agama, maka kita perlu mengetahui unsur-unsur
pokok yang terkandung dalam agama itu sendiri. Berikut ini adalah tiga unsur pokok agama:

1. Manusia

Manusia merupakan mahluk yang memiliki akal budi, dapat berpikir dan berusaha dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini, manusia adalah umat atau penganut suatu agama
yang berpikir dan percaya bahwa ada sesuatu di luar dirinya yang memiliki kuasa dan kekuatan
yang tidak bisa dijelaskan dengan hukum alam.

2. Penghambaan

Dalam konteks agama, penghambaan bukan berarti perbudakan. Tapi lebih kepada
adanya kebutuhan manusia akan kedudukannya dihadapan sang penciptanya. Dalam hal ini,
penghambaan manusia kepada Tuhan akan melibatkan banyak hal, seperti; simbol-simbol
agama, praktik agama, serta pengalaman keagamaan manusia itu sendiri.

3. Tuhan

Pada dasarnya tidak ada kesepakatan bersama mengenai konsep ketuhanan, sehingga ada
banyak konsep ketuhanan, seperti teisme, deisme, panteisme, dan lain-lain. Namun, secara
umum Tuhan dipahami sebagai Roh Mahakuasa dan asas dari suatu kepercayaan. Dalam ajaran
teisme, Tuhan adalah pencipta sekaligus pengatur segala kejadian di alam semesta

6
BAB III

PENUTUP

A.Kesimpulan

Kita sebagai makluk yang diciptakan oleh sang pencipta hendaklah mempunyai agama
yang akan menymbah sang pencipta agar kita tidak kacau balau seperti arti dari agama. Dan
hendaklah kita mempercayai dengan adanya ke-Tritunggalan Tuhan sebab ia telah menunjukkan
dirinya melalui datang ke dunia ini, sehingga dengan kita mempunyai agama dan mempercayai-
Nya genaplah yang pengertian agama dan fungsinya.

B.Saran