Anda di halaman 1dari 5

DISKUSI MATERI IMLTD

1. Jelaskanapasaja yang diujikanpadapemeriksaan IMLTD


1. Hepatitis B
 Metode serologis:
− Antigen permukaan Hepatitis B (HBsAg) : 3 minggu setelah infeksi.
− Hepatitis B inti (Hbc) antibodi ( anti-HBs dengan titer ≥ 100 mIU/mL, maka dianggap aman)hati
akut atau kronis yang dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati.
 Asam nukleat virus: HBV DNA.
Untuk meminimalkan risiko infeksi penularan virus hepatitis B melalui transfusi, maka
direkomendasikan oleh WHO sebagai berikut :
1) Skrining harus dilakukan dengan menggunakan sangat sensitif dan spesifik yaitu HBsAg
immunoassay (EIA / CLIA).
2) Skrining menggunakan HBsAg rapid test yang sangat sensitif dan spesifik atau pemeriksaan
partikel aglutinasi dapat dilakukan di laboratorium yang kecil, di daerah terpencil atau dalam
situasi darurat.
3) Skrining untuk anti-HBc tidak dianjurkan sebagai rutinitas. Negara harus menentukan
kebutuhan untuk skrining anti-HBc berdasarkan prevalensi dan kejadian infeksi HBV.
4) Skrining untuk ALT tidak dianjurkan.
 Pemeriksaaan HBsAg metode rapid Test
Prinsip pemeriksaan :
HBsAg dalam sampel akan berikatan dengan anti-HBs colloidal gold konjugat membentuk
komplek yang akan bergerak melalui membran area tes yang telah dilapisi oleh anti-HBsAg.
Kemudian terjadi reaksi membentuk garis berwarna merah muda keunguan yang menunjukkan
hasil positif pada area tes. Apabila dalam sampel tidak terdapat HBsAg maka tidak akan
menimbulkan garis merah pada area tes. Kelebihan anti-HBs colloidal gold konjugat akan terus
bergerak menuju area kontrol (C) yang telah dilapisi anti IgG tikus dari serum kambing (anti-
mouse IgG antibody), sehingga berikatan dan membentuk garis merah pada area kontrol yang
menunjukkan hasil pemeriksaan valid.
 Pemeriksaaan HBsAg metode ELISA / CHLIA
Prinsip pemeriksaan :
Antibodi ganda “sandwich” imunosai yang menggunakan antibodi anti-HBsAg spesifik: antibodi
monklonal HBsAg yang berada di dasar sumur mikrotiter dan antibodi poliklonal HBsAg
ditambahkan dengan Horseradish Peroxidase (HRP) sebagai larutan konjugat. Selama
pemeriksaan, adanya HBsAg dalam spesimen akan bereaksi dengan antibodi-antibodi tersebut
untuk membentuk kompleks imun “antibodi-HBsAg-antibodi- HRP”. Setelah materi yang tidak
terikat tercuci selama pemeriksaan, substrat ditambahkan untuk menunjukkan hasil tes.
Munculnya waRNA biru di sumur mikrotiter mengindikasikan HBsAg reaktif. Tidak adanya
waRNA menunjukkan hasil non reaktif di spesimen.

2. HIV
 Pemeriksaan HIV 1/2 Metode Rapid Test
Prinsip :
Pemeriksaan rapid tes ini merupakan uji kualitatif untuk mendeteksi antibodi spesifik untuk HIV
1 (IgG, IgM, IgA) termasuk subtipe O dan atibodi HIV-2 dalam serum, plasma atau darah lengkap.
Pada bagian tes (T) membaran strip dilekatkan antigen recombinant HIV-1 capture antigen
(gp41, p24) pada daerah garis tes 1 dan antigen recombinant HIV-2 capture antigen (gp36) pada
daerah garis tes 2. Antigen recombinan HIV-1/2 (gp41, p24 and gp36) dan colloid gold conjugate
di bagian well sampel akan berikatan dengan antibodi HIV1/2 pada sampel dan bergerak pada
membran kromatografi menuju daerah tes (T), sehingga apa bila terdapat antibodi HIV 1/2 akan
membentuk garis nyata berwarna ungu pada daerah tes (T) yang merupakan ikatan komplek
antigen – antibodi – antigen gold partikel dengan spesisfisistas dan sensitivitas yang tinggi .
Kelebihan Antigen recombinan HIV-1/2 (gp41, p24 and gp36) dan colloid gold conjugate akan
terus bergerak menuju area kontrol (C) yang telah dilapisi antibodi HIV1/2 rekombinan, sehingga
berikatan dan membentuk garis merah pada area kontrol yang menunjukkan hasil pemeriksaan
valid. Hasil reaktif harus dikonfirmasi menggunakan pemeriksaan HIV metode ELISA atau
Western Blot.
 Pemeriksaan HIV 1/2 Metode ELISA
Prinsip:
Test Microlisa HIV merupakan test berbasis Indirect ELISA. Protein HIV envelope gp41, gp 120
untuk HIV-1, dan gp 36 untuk HIV-2 yanga merupakan epitop imunodominan dilekatkan pada
sumur mikrotiter. Sampel dan kontrol ditambahkan ke dalam sumur dan di inkubasi. Apabila
pada sampel terdapat antibodi HIV-1 dan HIV 2 maka akan berikatan dengan antigen spesifik
yang telah dilekatkan pada permukaan sumur. Plate kemudian dicuciuntuk menghilangkan
komponen yang tidak berikatan. Horseradish peroxidase (HRP) konjugat dan antihuman IgG
ditambahkan ke dalam setiap well. Konjugat akan berikatan dengan komplek HIV antigen-
antibody yang terbentuk. Selanjutnya larutan substrat yang mengandung kromogen dan
hidrogen peroksida ditambahkan pada setiap sumur dan diinkubasi. Warna biru yang terbentuk
sebanding dengan jumlah antibodi HIV-1 dan atau antibodi HIV-2 yang terdapat pada sampel.
Kemudian perubahan warna yang terbentuk dihentikan oleh stop solution. Warna yang
terbentuk dibaca pada ELISA reader dengan panjang gelombang 450 nm. Apabila sampel tidak
mengandung antibodi HIV-1 dan atau antibodi HIV-2, maka tidak akan terbentuk warna biru
pada sumur.
3. Hepatitis C
1) Uji serologi
Uji serologi yang berdasarkan pada deteksi antibodi telah membantu mengurangi risiko infeksi
terkait transfusi. Sekali pasien pernah mengalami serokonversi, biasanya hasil pemeriksaan
serologi akan tetap positif, namun kadar antibodi anti-HCV akan menurun secara gradual sejalan
dengan waktu pada sebagian pasien yang infeksinya mengalami reaksi spontan.
2) Uji HCV RNA
HCV RNA dapat terdeteksi dan diukur dengan teknik amplifikasi termasuk reverse transcription
polymerase chain reation (RT-PCR). Genotip HCV dapat dinilai dengan analisis phylogenetic dari
rantai nukleotida atau deteksi mutasi point spesifik subtipe pada RT-PCR amplifikasi RNA. HCV
RNA dideteksi dalam waktu 2 minggu infeksi dan juga digunakan untuk konfirmasi terjadinya
infeksi akut. Bagaimanapun uji HCV RNA yang rutin tidak dianjurkan secara langsung karena
standarisasi uji tersebut yang masih rendah.
3) Biopsi Hati
Biopsi hati secara umum direkomendasikan untuk penilaian awal seorang pasien dengan infeksi
HCV kronis. Biopsi berguna untuk menentukan derajat beratnya penyakit (tingkat fibrosis) dan
menentukan derajat nekrosis dan inflamasi.1 Pemeriksaan ini juga bermanfaat untuk
menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab hati yang lain, seperti fitur alkoholik, non-
alcoholic steatohepatits (NASH), hepatitis autoimun, penyakit hati drug-induced atau overload
besi.

 Pemeriksaan HIV 1/2 Metode Rapid Test


Prinsip :
Pemeriksaan rapid tes ini merupakan uji kualitatif untuk mendeteksi antibodi spesifik untuk HCV
dalam serum atau plasma. Pada bagian sampel (S) membran strip dilekatkan antigen
recombinant HCV dan colloid gold conjugate yang berikatan dengan antibodi HCV pada sampel,
kemudian bergerak pada membran kromatografi menuju daerah tes (T) yang telah dilekatkan
antigen rekombinan HCV(antigen HCV Core, NS3, NS4, NS5), sehingga apabila terdapat antibodi
HCV pada sampel akan membentuk garis nyata berwarna ungu pada daerah tes (T) yang
merupakan ikatan komplek antigen – antibodi –antigen gold partikel dengan spesisfisistas dan
sensitivitas yang tinggi . Kelebihan Antigen recombinan HCV dan colloid gold conjugate akan
terus bergerak menuju area kontrol (C) yang telah dilapisi antibodi HCV rekombinan, sehingga
berikatan dan membentuk garis merah pada area kontrol yang menunjukkan hasil pemeriksaan
valid.

 Pemeriksaan HCV Metode ELISA


Prinsip :
Test Microlisa HIV merupakan test berbasis Indirect ELISA. Protein recombinant HCV Core,
protein NS3 dan sintetis peptida yang memiliki segmen antigenik, NS4 and NS5 regions dari virus
hepatitis C dilekatkan pada sumur mikrotiter. Sampel dan kontrol ditambahkan ke dalam sumur
dan di inkubasi. Apabila pada sampel terdapat antibodi HCV maka akan berikatan dengan
antigen spesifik yang telah dilekatkan pada permukaan sumur. Plate kemudian dicuciu ntuk
menghilangkan komponen yang tidak berikatan. Horseradish peroxidase (HRP) konjugat dan
antihuman IgG ditambahkan ke dalam setiap well. Konjugat akan berikatan dengan komplek
HCV antigen-antibodi yang terbentuk. Selanjutnya larutan substrat yang mengandung kromogen
danhidrogen peroksida ditambahkan pada setiap sumur dan diinkubasi. Warna biru yang
terbentuk sebanding dengan jumlah antibodi HCV yang terdapat pada sampel. Kemudian
perubahan warna yang terbentuk dihentikan oleh stop solution. Warna yang terbentuk dibaca
pada ELISA reader dengan panjang gelombang 450nm / 630 nm. Apabila sampel tidak
mengandung antibodi HCV, maka tidak akan terbentuk warna biru pada sumur.

4. Sifilis
Terdapat dua jenis uji serologi untuk diagnosis Treponema pallidum, yaitu :
1) Uji non-treponemal, merupakan uji yang paling sering dilakukan adalah sebagai berikut
- Uji Venereal Disease Research Laboratory (VDRL)
- Uji Rapid Plasma Reagin.
Kedua pemeriksaan ini digunakan untuk mendeteksi antobodi terhadap antigen yang terdiri dari
kardioplin, kolesterol dan lesitin yang sudah terstandarisasi.
2) Uji treponemal, terdiri dari :
- Treponema pallidum Haem Aglutination (TPHA)
- Treponema pallidum Particle Agglutination (TP-PA)
- Flouresencent Treponemal Antibody Absorption (FTA-ABS)
- Micro Hemagglutination Assay for antibodies to Treponema pallidum (MHA-TP)
- Treponemal Enzyme Immuno Assay (EIA) untuk deteksi imunoglobulin G (IgG), imunoglobulin G
dan M (IgG dan IgM) atau imunoglobulin M (IgM)
Pemeriksaan ini mendeteksi antibodi terhadap antigen treponemal dan memilki sensitivitas
yang lebih tinggi dibandingkan dengan uji nontreponemal terutama sifilis lanjut.
 Pemeriksan VDRL / RPR
Prinsip Pemeriksaan :
Adanya antibody pada serum pasien akan bereaksi dengan antigen yang terdiri dari kardioplin,
kolesterol dan lesitin yang sudah terstandarisasi membentuk flokulasi ( gumpalan) atau
aglutinasi.
Pemeriksaan TPHA
Prinsip Pemeriksaan :
Adanya antibodi Treponema palidum akan bereaksi dengan antigen treponemal yang menempel
pada eritrosit ayam kalkun/ domba sehingga terbentuk aglutinasi dari eritrosit-eritrosit tersebut.
2. Bagaimanamekanismereplikasi HIV di dalamtubuh host
3. Bagaimanamekanismereplikasivirus hepatitis di dalamtubuh host
4. Jelaskanprinsippemeriksaan RPR, VDRL, kromatograpi, ELISA Direct, ELISA indirect dan NAT

Prinsip rpr

Reagen plasma rapid atau test kartu RPR metoda non treponemal untuk mendeteksi serologis sifilis ..
antigen suspensi karbon partikulat yang dilapisi dengan kompleks lipid akan menggumpal dengan
adanya reagin serum. reagin adalah antibodi yang ada dalam serum pasien sifilis. Aglutinasi yang terlihat
dalam bentuk rumpun hitam yang dapat dilihat secara makroskopik, menunjukkan adanya antibodi
tersebut dalam sampel yang diuji.

Prinsip kromatografi

Suatu zat yang terdapat dalam campuran akan terpisah disebabkan adanya proses migrasi yang dinamis
dalam suatu sistem yang terdiri dari 2 fase, dimana suatu fase bergerak terus-menerus dengan arah
yang tertentu dan masing-masing substansi menjalankan kecepatan yang disebabkan oleh perbedaan
partisi, kelenturan tekanan, uap, dan ukuran molekul. Fase polar akan mengikat kuat senyawa polar dan
fase nonpolar akan mengikat kuat senyawa nonpolar.

Prinsip vdrl

Antigen vdrl (kardiolipin, lesitin dan kolesterol) akan bereaksi dengan antibodi yang diduga mengandung
Treponemapallidum membentuk flokulasi

Prinsip ELISA direct

Teknik ini seringkali digunakan untuk mendeteksi dan mengukur konsentrasi antigen pada sampel.
ELISA direct menggunakan suatu antibodi spesifik (monoklonal) untuk mendeteksi keberadaan antigen
yang diinginkan pada sampel yang diuji.
Prinsip ELISA indirect

ELISA indirect yang dideteksi dan diukur konsentrasinya merupakan antibodi. ELISA indirect
menggunakan suatu antigen spesifik (monoklonal) serta antibodi sekunder spesifik tertaut enzim signal
untuk mendeteksi keberadaan antibodi yang diinginkan pada sampel yang diuji.

Prinsip NAT

NAT adalah teknologi uji saring yang mampu mendeteksi keberadaan DNA/RNA virus dengan
windowperiod atau masa jendela yang lebih pendek, sehingga mampu meningkatkan keamanan darah
secara signifikan. Dengan alat tersebut, maka screening darah dari pendonor dapat menghasilkan darah
yang sudah terbebas dari HIV, Hepatitis B (HBV) dan Hepatitis C (HCV).

5. Apaperbedaanpemeriksaan RPR dan VDRL


6. Apakahkelebihandarimetode NAT
Jawab :
-Mendeteksi mutasi virus HBV yang keamanan darah terjamin
-Sensitif dan spesifik dalam mendetejsi virus walaupun kadarnya sedikit
-NAT bermanfaat untuk menyelesaikan donor darah secara reaksi negatif pada metode serologi
-NAT mendeteksi lebih dini asam nukleat virus sehingga mengurangi window period
-Dilakukan secara fullomatis dan sistem tertutup sehingga mengurangi kontaminasi