Anda di halaman 1dari 12

PEMBERANTASAN TERORISME GLOBAL OLEH AMERIKA SERIKAT

MEMICU TERJADINYA PERANG DUNIA KETIGA

Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan


membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan
perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu
pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali
merupakan warga sipil. Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru, namun
menjadi aktual terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Center (WTC) di New
York, Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai “September
Kelabu”, yang memakan 3000 korban. Serangan dilakukan melalui udara, tidak
menggunakan pesawat tempur, melainkan menggunakan pesawat komersil milik
perusahaan Amerika sendiri, sehingga tidak tertangkap oleh radar Amerika Serikat.
Tiga pesawat komersil milik Amerika Serikat dibajak, dua di antaranya ditabrakkan ke
menara kembar Twin Towers World Trade Centre dan gedung Pentagon. Kejadian ini
merupakan isu global yang memengaruhi kebijakan politik seluruh negara-negara di
dunia, sehingga menjadi titik tolak persepsi untuk memerangi Terorisme sebagai
musuh internasional. Pembunuhan massal tersebut telah mempersatukan dunia
melawan Terorisme Internasional. Perang terhadap Terorisme yang dipimpin oleh
Amerika Serikat, mula-mula mendapat sambutan dari sekutunya di Eropa.
Pemerintahan Tony Blair termasuk yang pertama mengeluarkan Antiterrorism, Crime
and Security Act, December 2001, diikuti tindakan-tindakan dari negara-negara lain
yang pada intinya adalah melakukan perang atas tindak Terorisme di dunia, seperti
Filipina dengan mengeluarkan Antiterrorism Bill. Bulan September 2001,
pemerintahan Presiden Amerika Serikat George W Bush meluncurkan “Perang Global
Melawan Teror.” Meskipun kata “global” telah lama dihapus dari namanya, ternyata
istilah tersebut sama sekali bukan main-main. Hampir dua dekade berjalan, baru-baru
ini, pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah berbicara tentang penarikan
pasukan dari Suriah dan negosiasi damai dengan Taliban di Afghanistan. Namun
tanpa diketahui banyak orang Amerika, perang melawan teror mencapai jauh
melampaui negeri-negeri seperti itu dan di bawah Trump sebenarnya meningkat di
sejumlah tempat. Perang melawan teror yang dilakukan Amerika Serikat sepertinya
telah beralih pengertian. Sepak terjang AS dalam memerangi kelompok yang disebut-
sebut sebagai teroris internasional dinilai telah menyimpang dari tujuan aslinya.
Dewasa ini, negara-negara yang mengklaim sebagai pengusung HAM dan pengibar
2

bendera perang melawan terorisme global, pada faktanya justru menjadi penyebab
berkembangbiaknya terorisme di berbagai negara dunia. Atas nama perang
melawan terorisme yang dikibarkan negara-negara Barat dan diamini negara lainnya,
warga sipil yang tidak bersalah menjadi korban. Fenomena ini dengan jelas bisa
disaksikan di Afghanistan, Irak dan Suriah. Terbunuhnya Jenderal Iran, Qassam
Soulemani dalam serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat beberapa pekan
lalu-dengan dalih memerangi terorisme global- telah menimbulkan kemarahan besar
negeri para Mullah tersebut dan langsung bereaksi membombardir pangkalan militer
AS di Irak dengan rudal-rudal nya pada Rabu pagi, 7 Januari 2020 kemarin. Di
permukaan nampaknya hanya merupakan konflik antar dua negara dengan semua
jenis perlengkapan perangnya dan mungkin dianggap tidak terlalu membahayakan
dunia (global) kecuali dampaknya terhadap geo ekonomi terutama kenaikan harga
minyak yang mungkin akan menimbulkan inflasi dunia dan resesi. Namun
sesungguhnya tidak hanya itu karena dengan adanya sumpah yang dilontarkan
pemimpin Iran Ali Khameini yang akan menggunakan semua kemampuan Iran untuk
membuat AS menyesal telah membunuh jenderal Soulemani, maka selayaknya
dunia harus merasa was was karena ancaman ini bisa jadi akan membuat medan
perang kedua negara tidak hanya di dua negara tersebut namun bisa terjadi dimana
mana di seluruh dunia.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diidentifikasi permasalahan


yang berkembang saat ini, yaitu: Pertama, bagaimana perkembangan terorisme
global, sejarah, fakta-fakta dan pengaruhnya dalam geostrategi dan geopolitik
internasional, Kedua, bagaimana pengaruh dari segala kemungkinan yang terjadi
sebagai dampak dari krisis perang antara Amerika Serikat dan Iran terhadap
kepentingan nasional Indonesia, Ketiga, Apa strategi serta langkah antisipatif yang
harus dilakukan oleh negara Indonesia dan TNI khususnya guna mencegah dan
membatasi dampak-dampak krisis antara dua negara tersebut yang berpengaruh
langsung terhadap Indonesia. Untuk itu dirumuskan permasalahan yang timbul, yakni
“Mengapa muncul sebutan ‘terorisme global’ sebagai alat proxy untuk
kepentingan negara besar tertentu guna merubah suatu situasi dan kondisi
yang diinginkan demi kepentingan negara besar tersebut?” Guna menjawab
pertanyaan tersebut, penulis berupaya menganalisis permasalahan dari berbagai
sudut pandang.
3

Dalam pembahasan menghadapi ancaman perang dunia ketiga sebagai


dampak dari upaya pemberantasan terorisme global oleh AS yang menyebabkan
ketegangan antara AS dan Iran, Penulis ingin menguraikan tentang pentingnya
memecahkan maslah tersebut yaitu agar para pembaca dapat mengambil intisari dari
penulisan esai ini sehingga dapat menambah wawasan, pengetahuan dan
pemahaman tentang ancaman perang dunia ketiga beserta langkah antisipatifnya
bagi Indonesia dan TNI. Penyusunan penulisan ini menggunakan metode studi
kepustakaan dengan menghimpun informasi yang relevan dengan pembahasan
sesuai topik melalui media cetak dan elektronik.

Adapun penulisan esai ini diharapkan memiliki nilai guna bagi pemerintah
Indonesia dan TNI khususnya TNI AD dalam rangka merumuskan kebijakan
antisipatif terhadap pertahanan Negara terkait adanya ancaman perang dunia ketiga
akibat memanasnya hubungan AS-Iran. Maksud dari penulisan ini adalah sebagai
bahan diskusi Pasis Dikreg LVIII Seskoad tentang perkembangan isu global terkini
serta memiliki tujuan untuk memberikan saran masukan kepada Pengambil Kebijakan
dalam mengambil langkah selanjutnya. Pembatasan pada tulisan ini hanya berkisar
mengenai pemberantasan Terorisme global oleh AS yang memicu terjadinya perang
dunia ketiga dan disusun dengan ruang lingkup pendahuluan, pembahasan dan
penutup.

Pembahasan

Kejadian 9/11 telah membuat cara pandang Amerika Serikat terhadap negara-
negara lain berubah, yang akhirnya mempengaruhi pola pembuatan kebijakan dalam
negeri dan luar negeri. Pada tahun 2002, di masa pemerintahan George W. Bush,
telah dibuat National Security Strategy, yang hingga saat ini disebut dengan nama
Bush Doctrine, yang sebagian besar berisi kebijakan dan strategi kemanana Amerika
Serikat dalam upaya menjaga kepentingan nasionalnya (Ikenberry, 2007). Bush
doctrine berisi kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dengan menjadikan
strategi pre-emptive military strikes sebagai strategi utamanya dalam memerangi
kelompok-kelompok teroris di dunia. Bush doctrine juga menyatakan zero-tolerance
terhadap negara-negara yang menyatakan bahwa dirinya netral/non-aligment dari
negara-negara lain dalam konteks kampanye melawan terorisme (DeYoung, 2001).
Salah satu kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang termaktub dalam Bush Doctrine
4

ialah dengan dilakukannya agresi militer Amerika Serikat ke Afghanistan yang


akhirnya meruntuhkan rezim Taliban sebagai suatu bentuk pelaksanaan atas tindakan
pre-emptive war terhadap terorisme. Agresi Amerika Serikat ke Afghanistan
merupakan salah satu bentuk dari usaha dalam memerangi terorisme, namun dengan
cara yang salah. Amerika berusaha untuk bisa menangkap Osama Bin Laden dengan
melakukan agresi militer secara sepihak yang akhirnya malah menggulingkan rezim
Taliban di Afghanistan. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa Global War on
Terrorism yang digembor-gemborkan oleh presiden Amerika Serikat sangat
menekankan ada tingkat kekuatan militer, kepemiminan, yang berfokus kepada rogue
state dan kebutuhan untuk bertindak pre-emptive (Swarson, 2003). Pada saat itu,
perjuangan yang Amerika lakukan dengan cepat, yang dijuluki Global War on Terror
masih merupakan urusan satu negara. Namun, mereka sudah dalam persiapan untuk
memperluasnya dengan cara yang lebih radikal dan menghancurkan dari yang bisa
mereka bayangkan dengan invasi dan pendudukan Irak, menyingkirkan Saddam
Hussein dan mendominasi jantung minyak di seluruh dunia. Lebih dari satu setengah
dekade setelah seorang presiden AS berbicara tentang 60 atau lebih negara sebagai
target potensial, berkat kerja tak ternilai dari satu kelompok khusus, proyek Costs of
War yang dijalankan oleh Universitas Brown di Providence, Rhode Island, akhirnya
kita memiliki representasi visual dari berbagai biaya dan efek “perang melawan teror”
ini1. Proyek Costs of War telah menghasilkan tidak hanya pemetaan dari perang
melawan teror selama tahun 2015-2017, tapi pemetaan pertama dari jenisnya yang
pernah ada. Pemetaan menawarkan penglihatan yang luar biasa dari perang kontra-
teror Washington di seluruh dunia: penyebaran mereka, pengiriman pasukan AS, misi
yang meluas untuk melatih pasukan kontra-teror asing, basis AS yang membuat
pelatihan tersebut mungkin dilakukan, pesawat tak berawak dan pesawat perang
lainnya yang penting bagi mereka, dan pasukan tempur AS membantu memerangi
mereka. Pandangan sekilas pada peta tersebut mengindikasikan bahwa “perang
melawan teror” adalah serangkaian konflik saling terjalin yang semakin kompleks dan
sekarang merupakan fenomena yang sangat global. Perang ini membentang dari
Filipina menyebar hingga ke Asia Selatan, Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika Utara,
dan jauh ke dalam Afrika Barat. Berdasarkan uraian latar belakang dan permasalahan
diatas, selanjutnya akan dibahas tentang persoalan-persoalan yang sudah diuraikan
diatas meliputi: a. Perkembangan terorisme global, sejarah, fakta-fakta dan

1
https://www.matamatapolitik.com/memetakan-neraka-dunia-76-negara-terlibat-perang-melawan-
teror-dengan-amerika/
5

pengaruhnya dalam geostrategi dan geopolitik internasional; b. Pengaruh dari segala


kemungkinan yang terjadi sebagai dampak dari krisis perang antara Amerika Serikat
dan Iran terhadap kepentingan nasional Indonesia; c. Strategi serta langkah
antisipatif yang harus dilakukan oleh negara Indonesia dan TNI khususnya guna
mencegah dan membatasi dampak-dampak krisis antara dua negara tersebut yang
berpengaruh langsung terhadap Indonesia.

Perkembangan terorisme global, sejarah, fakta-fakta dan pengaruhnya dalam


geostrategi dan geopolitik internasional

Sejarah tentang Terorisme berkembang sejak berabad lampau, ditandai


dengan bentuk kejahatan murni berupa pembunuhan dan ancaman yang bertujuan
untuk mencapai tujuan tertentu. Perkembangannya bermula dalam bentuk fanatisme
aliran kepercayaan yang kemudian berubah menjadi pembunuhan, baik yang
dilakukan secara perorangan maupun oleh suatu kelompok terhadap penguasa yang
dianggap sebagai tiran. Pembunuhan terhadap individu ini sudah dapat dikatakan
sebagai bentuk murni dari Terorisme dengan mengacu pada sejarah Terorisme
modern. Meski istilah Teror dan Terorisme baru mulai populer abad ke-18, namun
fenomena yang ditunjukkannya bukanlah baru2.

Menurut Grant Wardlaw dalam buku Political Terrorism (1982), manifestasi


Terorisme sistematis muncul sebelum Revolusi Perancis, tetapi baru mencolok sejak
paruh kedua abad ke-19. Dalam suplemen kamus yang dikeluarkan Akademi Perancis
tahun 1798, terorisme lebih diartikan sebagai sistem rezim teror. Terorisme muncul
pada akhir abad 19 dan menjelang terjadinya Perang Dunia-I, terjadi hampir di seluruh
belahan dunia. Pada pertengahan abad ke-19, Terorisme mulai banyak dilakukan di
Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa Terorisme adalah cara yang
paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh
orang-orang yang berpengaruh. Sejarah mencatat pada tahun 1890-an aksi terorisme
Armenia melawan pemerintah Turki, yang berakhir dengan bencana pembunuhan
masal terhadap warga Armenia pada Perang Dunia I. Pada dekade tersebut, aksi
Terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan
ideologi. Bentuk pertama Terorisme terjadi sebelum Perang Dunia II, Terorisme

2
Hanjar Seskoad; Perkembangan Isu Global, hal. 48
6

dilakukan dengan cara pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintah. Bentuk


kedua Terorisme dimulai di Aljazair di tahun 50an, dilakukan oleh FLN yang
mempopulerkan “serangan yang bersifat acak” terhadap masyarakat sipil yang tidak
berdosa. Hal ini dilakukan untuk melawan apa yang disebut sebagai Terorisme negara
oleh Algerian Nationalist. Pembunuhan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan
keadilan. Bentuk ketiga Terorisme muncul pada tahun 60an dan terkenal dengan
istilah “Terorisme Media”, berupa serangan acak terhadap siapa saja untuk tujuan
publisitas.

Di era globalisasi saat ini, upaya memerangi terorisme yang dilakukan Amerika
(War on terror) bukan saja berakibat terhadap renggang atau bahkan retaknya relasi
Islam (yang distigmatisasi menjadi ideologi katalis teror) dan Barat (berkat
penggiringan opini publik, seolah menjadi korban). Akan tetapi, lebih jauh telah
menciptakan efek pada perkembangan politik, sosial dan ekonomi global.
Pertama, yaitu terbangunnya aliansi politik baru yang dikomandoi AS. Agenda war on
terror berhasil merekatkan AS dengan sekutu-sekutunya dari lintas bangsa dan
benua. Khususnya bagi sesama negara Barat dan negara-negara Arab (yang kaya
akan minyak) yang masuk dalam shaf perang tersebut. Hal ini memungkinkan AS
memberi pengaruh lebih jauh pada kebijakan-kebijakan politik dalam dan luar negeri
negara sekutunya, termasuk memobilisasi sumberdaya modal dan militer dalam
memuluskan agenda war on terror. Kedua, beberapa negara yang selama ini menjadi
ancaman bagi pengaruh AS dapat direduksi atau bahkan dimatikan. Salah satu contoh
adalah Irak Pra Invasi 2003 yang menjadi salah satu rival AS dan sekutunya di
kawasan Timur Tengah. Di Timur Tengah pasca Irak dihancurkan, Arab Saudi tampil
sebagai anak emas AS. Rezim Saud bahkan menyiapkan pangkalan militer bagi AS
yang menjadi pusat kontrol untuk kawasan Timur Tengah. Berbagai kemitraan
dibangun oleh kedua negara baik ekonomi, maupun militer. Di Asia Tengah,
Afganistan yang sedari awal diidentifikasi sebagai tempat pelarian Osama bin Laden
dan menjadi pusat komando jaringan Al Qaeda, AS dan sekutunya berhasil
menempatkan militer dan menggelar mesin perangnya di kawasan. Di bawah
komando Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), bersama Pakistan, negara kayak
minyak tersebut porak poranda akibat perang. Akan tetapi, nahas karena AS dan
sekutunya sebagaimana di Irak justru terjebak hingga mengerahkan sumberdaya
militer dan modal yang tidak sedikit. Sebagaimana dilansir oleh Reuters (10/9/2011)
hasil perhitungan dari Brown University di AS memperkirakan di tiga negara tersebut
7

AS merugi hingga 4,4 trilun dollar atau sepertiga dari nilai beban utang AS saat ini
sebesar 14,7 triliun dollar. Tak sampai di situ, mitra politik AS juga rekat meluas hingga
ke Asia Timur yaitu Jepang, Asia tenggara yaitu Singapura dan juga Australia di benua
Australia. Akhirnya secara geopolitik, AS sukses menghegemoni dunia tapi dengan
harga yang mahal karena setiap negara sekutu tersebut harus dikucuri dana untuk
melancarkan agenda war on terror nya3.

Pengaruh dari krisis perang antara Amerika Serikat dan Iran terhadap
kepentingan nasional Indonesia.

Harus diingat kembali tentang bagaimana hubungan antara Iran dan AS yang
unik dan tidak menentu. Tentang bagaimana AS menyerang Irak dan menjadi lancar
karena bantuan Iran dalam penetrasi ke Irak tersebut, termasuk bagaimana peran
vital Pasukan Al Quds (pasukan elit Iran) dalam membantu AS dan sekutunya
menghancurkan ISIS dan memerangi Suriah serta eratnya hubungan pasukan AL
Quds ini dengan semua kelompok radikal di beberapa negara timur tengah sampai
Afrika. Bila benar ancaman Perang yang dilontarkan Pimpinan Iran direalisasikan
maka akan muncul gerakan terror dan radikal di berbagai negara yang bersimpati
terhadap Iran dan sasarannya adalah AS dan mungkin para sekutunya di palagan
global. Kemajuan teknologi informasi semakin membuat perang kedua negara ini
menjadi semakin menghawatirkan. Ketegangan Amerika dan Iran diprediksi akan
mengganggu produksi energi di wilayah tersebut. Keadaan ini akan berdampak pada
tingginya harga minyak dunia yang akan berdampak bagi ekonomi global. Bukan
hanya harga minyak yang akan naik, harga emas dunia, sektor pariwisata dan
anjloknya bursa saham merupakan dampak yang terjadi pasca insiden terbunuhnya
Jenderal Qassam Soulemani4. Selain dampak di bidang ekonomi, ketegangan AS-
Iran juga berpengaruh terhadap situasi keamanan khususnya di kawasan Timur
Tengah.

Pemerintah Indonesia telah mengantisipasi dampak konflik Iran dengan


Amerika Serikat (AS) yang makin memanas pekan ini. Dalam bidang keamanan, salah
satu hal yang harus dilakukan adalah melindungi WNI yang berada di kawasan konflik
tersebut. Pemerintah RI sudah mempersiapkan rencana perlindungan dan evakuasi

3
https://news.detik.com/opini/d-1719857/geopolitik-global-dan-as-satu-dekade-pasca-911
4
https://www.liputan6.com/news/read/4152264/dampak-global-konflik-as-vs-iran
8

Warga Negara Indoensia (WNI) di Timur Tengah, jika diperlukan karena ada
gangguan keamanan di kawasan ini. Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi
menyatakan pemerintah Indonesia telah menyusun rencana cadangan atau
contingency plan terkait dengan upaya perlindungan bagi WNI di Timur Tengah.
Pemerintah pusat dan beberapa perwakilan RI di Timur Tengah juga sudah
memetakan jumlah dan sebaran WNI di kawasan tersebut. Selain masalah keamanan,
pengaruh yang akan terasa adalah peredaran harga minyak dunia. Untuk
mengantisipasi hal tersebut, Indonesia menekan ketergantungan Impor minyak
dengan mengembangkan Biodiesel B30. Pemerintah juga sudah mulai melakukan
tender atau lelang bukan melalui trader atau perantara, melainkan langsung kepada
perusahaan yang menghasilkan minyak, agar dapat memangkas margin-margin biaya
yang tidak perlu. Salah satu cara yang sedang diupayakan adalah dengan
membangun kilang pengolahan atau refinery dan juga bagaimana lifting sekarang
sumur-sumur minyak Pertamina harus segera dikerjasamakan dengan banyak pihak,
tidak bisa dikontrol sendiri oleh Pertamina, supaya ada kembali sumber baru minyak.

Terlepas dari upaya antisipatif tersebut, Pemerintah Indonesia juga mendorong


tercapainya perdamaian diantara kedua negara. Melalui menteri Luar Negeri,
Indonesia menghimbau kepada kedua negara untuk menahan diri agar situasi
keamanan di kawasan Timur Tengah tidak kian memburuk. Pesan pemerintah
Indonesia agar Iran dan AS tidak memakai cara kekerasan dalam menyelesaikan
konflik.

Strategi serta langkah antisipatif yang harus dilakukan oleh negara Indonesia
dan TNI khususnya guna mencegah dan membatasi dampak-dampak krisis
antara dua negara tersebut yang berpengaruh langsung terhadap Indonesia.

Keputusan Presiden AS Donald Trump membunuh Jenderal Qasem Soleimani,


kepala pasukan elit Quds Iran, telah memicu serangkaian konsekuensi. Salah satu
konsekuensi utamanya adalah berdampak kepada perang yang belum selesai
melawan kelompok jihadis. Tidak lama setelah pasukan koalisi pimpinan AS melawan
kelompok yang menyebut dirinya sebagai Negara Islam atau ISIS menghentikan
operasinya di Irak, mereka mengumumkan pekerjaan utama saat ini adalah membela
diri. Dari sudut pandang militer, mereka kemungkinan tidak memiliki pilihan. Di sisi
lain, Iran dan kelompok milisinya di Irak telah bersumpah membalas dendam atas
9

pembunuhan Soleimani oleh serangan pesawat tak berawak AS beberapa pekan lalu.
Kematian Soleimani menempatkan pasukan AS di Irak, dan pasukan lainnya dari
negara-negara Barat yang bersekutu dengan AS, berada dalam posisi riskan menjadi
sasaran serangan. Situasi ini, bagaimanapun, merupakan berita baik bagi ISIS, dan
akan mempercepat upaya pemulihannya dari setelah mengalami kekalahannya telak
yang menghancurkan "kekhilafahan" yang mereka agungkan. Ini juga kabar baik bagi
kelompok ekstremis bahwa parlemen Irak akan meloloskan mosi yang menuntut
penarikan pasukan AS dalam waktu dekat dari seluruh wilayah negara itu. Kelompok
ISIS telah bertahan dalam kondisi serba suram selama bertahun-tahun. Mereka
terbukti mampu melakukan regenerasi dari sisa-sisa anggota kelompok yang lebih
awal, al-Qaeda di Irak. Operasi militer berskala besar yang digelar pada 2016 dan
2017 diperlukan untuk mengakhiri kendali ISIS atas wilayah yang mengangkangi Irak
dan Suriah. Banyak anggota dan pimpinan kelompok jihadis yang tewas atau
dipenjara. Tetapi hal ini tidak membunuh keberadaan organisasinya. ISIS diyakini
masih aktif di wilayah bekas basis mereka di Irak dan Suriah, dengan meningkatkan
penyergapan, melakukan pemerasan untuk pengumpulan dana, dan melakukan aksi
pembunuhan. Negara Irak memiliki satuan pasukan elit dan polisi yang efektif,
terutama yang sudah dilatih oleh pasukan AS dan pasukan aliansinya dari Eropa yang
bergabung dalam memerangi ISIS. Sejak pembunuhan Soleimani, AS telah
menangguhkan pelatihan serta operasi militer di Irak. Langkah serupa juga dilakukan
Denmark dan Jerman. Jerman telah menarik para pelatih militernya ke Yordania dan
Kuwait. Dalam kondisi seperti ini, Pasukan Irak mengambil sebagian besar risiko di
lapangan dalam operasi melawan ISIS. Dan selain mendapatkan pelatihan militer,
mereka mengandalkan bantuan logistik dari pasukan AS, yang saat ini memilih
bertahan di pangkalan militernya.

Kebangkitan ISIS di timur tengah pasca terbunuhnya Jenderal Soleimani


memberikan kekuatan moral bagi jaringannya di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Sel-sel tidur mereka seakan mendapat angin segar untuk kembali
mengkonsolidasikan kekuatannya dan melanjutkan aksi-aksi yang menjadi tujuan
agenda mereka. Pengamat Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta mengatakan
Soleimani merupakan sosok yang dikenal karena memberantas terorisme termasuk
Al-Qaeda dan ISIS. Menurutnya, kematian Soleimani menjadi angin segar bagi
kelompok teroris seperti ISIS dan Al-Qaeda. Peristiwa itu dapat membangitkan sel
tidur afiliasi dua kelompok itu, termasuk di Indonesia. Kelompok di Indonesia yang
10

diduga terafiliasi dengan ISIS adalah Jamaah Ansharut Daulah atau JAD. Kelompok
ini diyakini melakukan aksi lebih ekstrem dibandingkan dengan Jamaah Islamiyah
atau JI yang terafiliasi dengan Al-Qaeda. JAD dalam aksinya acap menyasar aparat
atau pun pejabat tinggi di pemerintahan.

Upaya-upaya yang perlu dilakukan Pemerintah Indonesia khususnya TNI


dalam mengantisipasi situasi tersebut antara lain: Pertama, meningkatkan deteksi dini
terhadap kemungkinan bangkitnya sel tidur ISIS di Indonesia dengan memaksimalkan
peran Intelijen dan teritorial. Kedua, menyiagakan pasukan dan peralatan dalam
rangka bantuan evakuasi WNI dari Timur Tengah apabila diperlukan. Ketiga,
mengantisipasi serangan terhadap aset AS di Indonesia sebagai bagian dari aksi
balasan yang menyebabkan instabilitas keamanan nasional.

Penutup

Dari uraian tentang perkembangan situasi terakhir yang memanas di timur


tengah akibat ketegangan AS-Iran dapat ditarik kesimpulan berupa dampak yang
terjadi dan pengaruhnya kepada Indonesia, yaitu: Pertama, Dalam bidang keamanan
akan mempengaruhi situasi di Timur Tengah pada umumnya dan di Indonesia dengan
kemungkinan bangkitnya sel tidur ISIS dan melancarkan aksi-aksinya kembali, Kedua,
dalam bidang ekonomi, berupa melonjaknya harga minyak dunia yang telah
diantisipasi Pemerintah Indonesia dengan membangun kilang minyak sendiri dan
mengambangkan Biodiesel B30.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis memberikan catatan sebagai


bentuk saran kepada pemerintah dalam menghadapi situasi ini antara lain; satu,
dengan meningkatkan kerja sama multilateral untuk membantu meredam ketegangan
yang terjadi di timur tengah, mengingat Indonesia adalah negara mayoritas muslim
terbesar di dunia; dua, mendorong negara negara yang terlibat konflik di timur tengah
beserta sekutunya untuk mengutamakan jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik.

Demikian tulisan tentang ancaman perang dunia ketiga sebagai implikasi


ketegangan AS-Iran dalam konstelasi geopolitik internasional, semoga dapat
memberikan manfaat serta menjadi sumbang pemikiran dalam rangka penentuan
kebijakan di masa yang akan datang.
11

Daftar Pustaka :
1. Hanjar Seskoad; Perkembangan Isu Global
2. Memetakan 76 Negara yang terlibat Konflik dengan Amerika
https://www.matamatapolitik.com/memetakan-neraka-dunia-76-negara-terlibat-
perang-melawan-teror-dengan-amerika/
3. Geopolitik Global dan AS satu Dekade pasca 9/11
https://news.detik.com/opini/d-1719857/geopolitik-global-dan-as-satu-dekade-pasca-
911
4. Dampak Global konflik AS-Iran
https://www.liputan6.com/news/read/4152264/dampak-global-konflik-as-vs-iran
12

ALUR PIKIR

KRISIS
AS-IRAN

TERCIPTA
PERMASALAHAN STABILITAS
ANCAMAN UPAYA EKONOMI,
PD III - Bidang Keamanan ANTISIPATIF POLITIK DAN
- Bidang Ekonomi KEAMANAN
NASIONAL