Anda di halaman 1dari 12

PENGUATAN OTONOMI DAN PROFESIONALISME GURU

DALAM PEMBELAJARAN DI ERA MUTU KURIKULUM 2013

Tulus Santoso
Kepala SMAN 1 Binjai Hulu
Dusun Binjai Hilir Kecamatan Binjai Hulu Kabupaten Sintang
email : tulussantoso1751@gmail.com

ABSTRAK

Pemahaman guru tentang implementasi desentralisasi pendidikan di lapangan masih


menunjukkan hal yang cukup bervariasi, dan belum semua guru benar-benar mengetahui
pemberlakuan dan makna desentralisasi pendidikan di sekolah. Hal ini paling tidak dapat
dibedakan menjadi dua kelompok yang cukup dominan, yaitu: (1) Sebagian guru, baik pada
pendidikan dasar maupun menengah rajin mengikuti perkembangan kebijakan pendidikan
dan kelompok ini diwakili oleh mereka yang berada di perkotaan, mereka cukup mempunyai
kreativitas dan keingintahuan (curiousity) yang cukup tinggi untuk meng ‘up date’ ilmu
pengetahuan yang mereka kuasai. (2) Kelompok yang lain adalah guru yang tidak mau tahu
akan setiap perubahan. Dimana meraka cenderung merasa aman dan pada yang mereka
rasakan. Juga mereka cenderung susah untuk mengikuti setiap perubahan dan bahkan
cenderung menelok setiap perubahan yang terjadi jika mengganggu akan kenyamanan yang
dirasakan. Desentralisasi memberikan perbedaan dan menjadikan kebebasan guru dan
sekolah untuk berinivasi. Agar menjadikan proses pembelajaran berkualitas untuk masa-
masa yang akan datang dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia maka di sajikan
pemikiran-pemikiran kontekstual seperti berikut ini : (1) pembelajaran dengan cara dan iklim
yang demokratis, (2) pembelajaran yang kooperatif, dan (3) adaptasi paradigma ‘triplization’.
Peran guru dalam implemntasi dari K13 diberikan otoritas yang bergitu kuat dalam hal
perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran hingga
tindak lanjutnya. Sehingga potensi setiap peserta didik dapat berkembang optimal secara
melalui interfensi pembelajaran yang wajar menyenangkan dan bermakna
Kata Kunci : Otonomi Guru, Profesionaliseme Guru, Mutu Pembelajaran, Kurikulum 2013,
Metode Pembelajaran.

A. PENDAHULUAN
Diantara hasil perjuangan reformasi di bidang pendidikan adalah alokasi angggaran
pendidikan yang memadai (20%) dan otonomi pendidikan yang pada akhirnya memunculkan
beberapa kebijakan di bidang pendidikan seperti Manajemen Berbasis Sekolah (school-based
management), dan penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan dalam bentuk K13,
sebagai proses penyempurnaan kurikulum sebelumnya dalam upaya jaminan mutu
pendidikan yang diharapkan. Yang pada akhirnya terwaujudnya mutu pendidikan yang
terkendali secara simultan dengan adanya standarisasi semua komponen mutu dalam
pendidikan.

Walaupun reformasi di bidang pendidikan, dikatakan oleh Surakhmad (2002) secara


psikologis dan politis dirasakan amat terlambat dan secara teknis dikatakan terlalu cepat,
pada dasarnya merupakan salah satu “bentuk perjuangan” bangsa Indonesia yang harus tetap
dijaga untuk melakukan perbaikan kualitas Sumber Daya Manusia(SDM) Indonesia atau
mutu pendidikan. Perjuangan tersebut sebagai upaya peningkatan kualitas atau mutu
pendidikan di Indonesia yang sampai sekarang masih sangat memprihatinkan dan berada
pada urutan paling belakang dibandingkan dengan mutu pendidikan bangsa-bangsa lain di
tingkat regional maupun internasional.

Wujud reformasi di bidang pendidikan itu, seperti adanya berbagai perubahan dan
penyempurnaan peraturan perundangan yang berlaku dengan penyesuaian terhadap tuntutan
reformasi tersebut. Penyempurnaan berbagai aturan perundangan tersebut sebagai upaya
pemenuhan tuntutan mutu pendidikan dalam rangka menjadikan pendidikan yang siap
berkompetisi baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional.

Bentuk realisasi dari keinginan reformasi dan demokrasi dalam penyelenggaraan


pendidikan seperti di wujudkannya aturan atau perundangan pendidikan yang mengatur pada
perwujudan mutu dengan demokratisasinya. Perundangan tersebut seperti UU No.20 Tahun
2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional (SPN), UU No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen, PP. No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan
perubahannya yang meliputi 8 (delapan) SNP dengan Permendiknasnya serta Permendikbud
dari perubahan dari KTSP menjadi K13 hingga K13 revisi tahun 2015, Permendiknas No.63
Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan, dan dll. Perundangan mengatur
dalam mewujudkan terjaminnya mutu pendidikan dengan demokratisasi artinya
mendayagunakan segala sumberdaya yang ada di tiap satuan pendidikan dan dengan
kepastian dan kejelasan tanggung jawab pemerintah baik pusat maupun daerah serta
memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam
penyelenggaraan pendidikan.
Beberapa perubahan dan penambahan aturan perundangan itu diharapkan mampu
mendongkrak kualitas pendidikan di Indonesia sesuai dengan keinginan dan demokratisasi
pendidikan. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management)
dengan kurikulum sebenarnya merupakan bentuk riil keinginan bangsa Indonesia untuk
menuju sistem penyelenggaraan pendidikan yang lebih baik, demokratis dan manusiawi serta
akuntabel.

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan kurikulum ini dalam implementasinya


diperlukan keseriusan dan konsentrasi yang dalam oleh semua pihak dan waktu yang cukup
panjang (time consuming). Noble (1996), mengharapkan MBS dapat: (1) meningkatkan
prestasi akademik peserta didik (academic achievement), (2) meningkatkan pertanggung
jawaban (accountability) diantara para pengambil kebijakan, (3) meningkatkan
pemberdayaan (empowerment) ke arah perbaikan budaya sekolah (school culture), dan untuk
kegunaan politis (political utility) karena para pengambil kebijakan di masyarakat (local
players) benar-benar mengetahui apa yang diperlukan untuk meningkatkan sekolah.
Begitupun pelaksanaan kurikulum ini sebagai kurikulum yang sesuai tuntutan reformasi
pendidikan pada tuntutan mutu yang dapat menjawab tantangan global

Otonomi pendidikan sebagai kebijakan yang diharapkan mampu menumbuh-suburkan


proses demokratisasi pendidikan dan dapat menciptakan pendidikan yang lebih demokratis.
Muara dari otonomi pendidikan tersebut adalah pada Manajemen Berbasis Sekolah (School-
Based Management) dengan pelaksanaan kurikulum yang kongkrit. Dalam pelaksanaan
kurikulum menuntut pemberdayaan setiap guru secara penuh. Dengan demikian para ketika
melaksanakan kurikulum dalam pembelajaran di kelas di berikan otonomi seluas-luasnya
dalam bingkai MBS di satuan pendidikannya. Namun demikian karena selama ini para guru
sudah terbiasa bekerja terformat dengan tatanan kurikulum yang kaku maka ketika di beri
otonomi dari kurikulum, maka pola ketergantungan juga masih kuat pengaruhnya.
Konsekuensi logis yang mesti di bangun dalam MBS dengan kurikulumnya adalah
pemberian dan pemberdayaan otonomi guru yang kongkrit. Dalam era otonomi guru maka
guru harus banyak berkiprah mewujudkan profesionalismenya. Guru dalam menjalankan
tugas profesionalisme di tuntut banyak inovasi dan kreativitas demi terwujudnya
pembelajaran yang berkualitas. Dengan demikian muara pendidikan memproyeksikan
kualitas yang sesungguhnya secara bertahap dan simultan.
B. OTONOMI GURU DALAM PEMBELAJARAN

Kelas merupakan unit terkecil tetapi terdepan tempat berlangsungnya proses


pembelajaran. Meskipun sebagai unit terkecil, tempat proses pembelajaran itu memegang
peranan paling penting dalam pembentukan kualitas peserta didik. Mengingat pentingnya
peranan kelas ini, maka kemerdekaan guru dalam membina berlangsungnya proses
pembelajaran harus memperoleh perhatian yang proporsional dalam perbaikan kualitas
pendidikan melalui desentralisasi pendidikan atau manajemen berbasis sekolah.

Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berkaitan langsung dengan proses


pembelajaran di kelas. Sebagai contoh Noble (1996), mengatakan bahwa MBS berkorelasi
positif terhadap kehadiran guru (attendance), kepercayaan (trust) dan kepuasan guru (job
satisfaction) dalam mengajar. Keempat hal itu merupakan aspek yang sangat penting dalam
pembelajaran di kelas. Hal ini merupakan isu yang amat penting karena guru sebenarnya
merupakan orang nomor satu dan mempunyai otoritas penuh dalam menentukan proses
pembelajaran di kelas. Agar tercipta pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan keinginan
perbaikan kualitas pendidikan, maka perlu dilihat terlebih dahulu bagaimana pemahaman
guru tentang otonomi pendidikan, skenario pembelajaran ke depan, serta tantangan guru
dalam implementasi kurikulum berbasis kompetensi (curriculum based competency).
Kesempurnaan ketiga hal di atas merupakan kunci suksesnya perbaikan kualitas melalui
desentralisasi pendidikan.

Pemahaman Guru tentang Otonomi Pendidikan


Hasil pengamatan penulis terhadap pemahaman guru tentang implementasi
desentralisasi pendidikan di lapangan masih menunjukkan hal yang cukup bervariasi, dan
belum semua guru benar-benar mengetahui pemberlakuan dan makna desentralisasi
pendidikan di sekolah. Hal ini paling tidak dapat dibedakan menjadi dua kelompok yang
cukup dominan, yaitu: (1) Sebagian guru, baik pada pendidikan dasar maupun menengah
rajin mengikuti perkembangan kebijakan pendidikan. Kelompok ini diwakili oleh mereka
yang berada di perkotaan, mereka cukup mempunyai kreativitas dan keingintahuan
(curiousity) yang cukup tinggi untuk meng ‘up date’ ilmu pengetahuan yang mereka kuasai.
(2) Kelompok yang lain adalah guru yang tidak mau tahu akan setiap perubahan. Dimana
meraka cenderung merasa aman dan pada yang mereka rasakan. Juga mereka cenderung
susah untuk mengikuti setiap perubahan dan bahkan cenderung menelok setiap perubahan
yang terjadi jika mengganggu akan kenyamanan yang dirasakan.
Mereka merasakan bahwa desentralisasi pendidikan memberikan perbedaan
kebebasan guru dalam penjabaran kurikulum, penentuan buku pelajaran (termasuk penentuan
penerbit) serta pelaksanaan evaluasi, misalnya Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA) atau
Ujian Akhir Sekolah (UAS). Dalam hal ini para guru merasa lebih bebas, lebih leluasa, tidak
kaku dan tidak terpaku oleh aturan-aturan baku yang sentralistik, sehingga mereka lebih bisa
berkreasi dan berinovasi. Untuk itu, ada sekolah-sekolah yang mampu menerapkan
kebijakan ‘full day school’.

Dari hasil wawancara terhadap guru peserta Diklat & ToT KKG/MGMP, CLCC &
Lesson Study di LPMP Kalimantan Barat (2009), dan dengan para guru TK (2009), dapat di
pahami bahwa sebagian guru baik SD/MI, SMP/Mts, SMA/MA/SMK dan Taman Kanak-
kanak bahwa perbedaan sistem sentralisasi dan desentralisasi hampir tidak ada. Para guru
tetap mengacu pada kurikulum sebelum KTSP dan mereka mengembangkan sendiri apa yang
akan diajarkan di kelas. Di samping itu, mereka terutama guru TK merasa lebih leluasa
karena mereka memang tidak mempunyai buku pegangan seperti guru-guru pada jenjang-
jenjang pendidikan di atasnya. Dengan sistem desentralisasi atau otonomi, guru menjadi
fasilitator yang membelajarkan peserta didik. Sebagai subjek, peserta didik harus lebih aktif
belajar, mengkonstruksi sendiri pikirannya tentang sesuatu yang sedang dipelajari.

Di balik pemahaman yang cukup bagus tentang desentralisasi pendidikan, sebagian


guru yang lain, terutama di daerah pedesaan dan jauh dari sentuhan media masa, tidak tahu
menahu bahkan tidak merasakan makna perubahan dari sistem sentralisasi ke desentralisasi,
mereka masih melaksanakan kebiasaan-kebiasaan lama. Hampir senada dengan hal itu, guru
senior pada umumnya bertahan dengan melakukan kegiatan yang sentralistis. Padahal,
perbedaan pemberlakuan sistem penyelenggaraan pendidikan itu sangat berkait dengan
‘kemerdekaan’ proses pembelajaran yang telah mereka alami sebelumnya dan kemampuan
guru yang bersangkutan.

Dijumpai juga kepala sekolah yang mengkaitkan desentralisasi pendidikan itu dengan
kesiapan serta profesionalisme guru. Desentralisasi pendidikan menyebabkan guru
kebingungan karena mereka harus betul-betul mengoptimalkan perannya secara menyeluruh,
peran yang selama ini belum pernah mereka lakukan. Sebagai contoh, di era sentralisasi
mereka cenderung mengutamakan lima mata pelajaran yang di-EBTANAS-kan, sementara
saat sekarang mereka harus mempersiapkan semua mata pelajaran dengan menyeluruh dan
profesional.
Skenario Pembelajaran ke Depan
Dari hasil wawancara dengan para guru peserta Diklat & ToT KKG/MGMP dan
CLCC & Lesson Study di LPMP Kalimantan Barat (2009) dan dengan para guru TK (2009),
dapat dipahami bagaimana mereka harus melakukan proses pembelajaran di masa yang akan
datang, diantaranya adalah:

a. Karena selama ini para guru telah terbiasa melakukan apa yang telah digariskan atau
terformat oleh pemerintah pusat, mereka cenderung pasif mengikuti ketentuan yang telah
ada. Dengan desentralisasi pendidikan, para guru menginginkan pendidikan yang lebih
profesional, artinya mereka mempunyai kemerdekaan untuk menentukan proses
pembelajaran di kelas, tidak diintimidasi atau ditakut-takuti, seperti dalam supervisi,
mereka senantiasa takut dan disalahkan. Akibat dari hal ini maka para guru menjadi apatis
dan akhirnya kemampuannya tidak bekembang secara profesional.

b. Para guru menginginkan agar pengembangan kurikulum bersifat lebih fleksibel, lebih-
lebih lagi dalam kaitannya dengan pengelolaan kurikulum muatan lokal. Terutama dalam
pemiliahan metode, setrategi, pendekatan, teknik, ataupun model, media, dan
penilaiannya juga sesuai dengan perkembangan anak didik.

c. Para guru merasakan lebih berhasil mengajar manakala mereka berperan sebagai
fasilitator dan dapat sepenuhnya membimbing peserta didik aktif dalam proses
pembelajaran.

d. Para guru menyadari bahwa proses pembelajaran lebih berhasil mengembangkan potensi
peserta didik manakala pembelajaran dilaksanakan secara demokratis, peserta didik tidak
dalam suasana tegang dan takut.

e. Khusus untuk guru Taman Kanak Kanak, karena tuntutan membaca dan menulis sudah
semakin tinggi, mereka menginginkan agar memperoleh kebebasan dalam mengajarkan
membaca dan menulis itu untuk anak kelas TK B. Oleh karena itu, mereka juga
mengharapkan agar pemerintah daerah dapat lebih memperhatikan peningkatan kualitas
pendidikan maupun kesejahteraan guru TK, terutama dukungan fasilitas pembelajaran.

Dari fenomena di atas dan dengan merujuk pada sumber-sumber yang berkembang
selama ini untuk mengongkritkan pelaksanaan MBS dan kurikulumnya, maka agar
menjadikan proses pembelajaran berkualitas untuk masa-masa yang akan datang dalam
peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia maka di sajikan pemikiran-pemikiran
kontekstual seperti berikut ini :
1) Pembelajaran dengan Cara dan Iklim yang Demokratis
Desentralisasi atau otonomi setiap satuan pendidikan mengandung arti demokratisasi
setiap satuan pendidikan, yaitu penyelenggaraan pendidikan merupakan tanggung jawab dan
milik bersama antara orang tua, masyarakat dan pemerintah yang berhubungan langsung
dengan proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Dalam rangka memperkuat
establishnya nilai-nilai demokrasi di kalangan warga negara dan peserta didik, maka di
samping penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan dengan cara dan iklim yang demokratis,
proses pembelajaran di kelas pun harus mampu menanamkan nilai-nilai demokrasi bagi
peserta didik. Kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dilaksanakan ini dengan
mengembangkan 5 (lima) pilar pendidikan seperti yang tertuang dalam kerangka dasar
pelaksanaan kurikulum, yaitu : (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu
melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi
orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (Fasli Djalal, 2006)

Pendidikan yang demokratis diharapkan mampu memberikan proses yang lebih


menyenangkan dan membesarkan hati (mbombong) peserta didik, bukan menekan atau
merendahkan kemampuan peserta didik. Penelitian DePorter dan Hernacki (2000)
menunjukkan bahwa dalam setiap harinya rata-rata peserta didik memperoleh komentar
negatif sebanyak 86%, dan hanya 14% komentar positif. Pendidikan yang lebih demokratis
diharapkan dapat merubah suasana tersebut dengan lebih banyak memberi komentar positif
kepada peserta didik dibandingkan dengan komentar negatif.

Iklim demokratis juga diharapkan dapat menciptakan proses pembelajaran yang


menyenangkan (fun). Dryden dan Vos (2002) dengan mengutip Kline (1988) menyebutkan
bahwa bagi kebanyakan peserta didik, belajar akan sangat efektif jika dilakukan dalam
suasana menyenangkan. Pendapat di atas sangat tepat karena ternyata ide itu telah
memberikan inspirasi bagi berbagai kalangan untuk menciptakan media pembelajaran,
permainan, game, atau software komputer yang sudah menjamur digunakan dalam proses
pembelajaran di sekolah atau di lingkungan rumah tangga.

Kondisi pembelajaran di Indonesia, kalau tidak boleh dibilang dikelola dengan cara
yang otoriter, yang jelas masih memerlukan bantuan agar pembelajaran menjadi lebih
demokratis. Sesuai dengan idealisme di atas, penelitian Muhammad, Hadiyanto dan Nurli
(1998) menunjukkan bahwa iklim kelas yang lebih demokratis mampu membuat prestasi
belajar peserta didik menjadi lebih baik.

2) Pembelajaran yang Kooperatif


Erat kaitannya dengan pembelajaran yang demokratis adalah pembelajaran yang
kooperatif atau ‘cooperative learning’, yaitu merupakan salah satu strategi guru dalam
membelajarkan peserta didik dengan melibatkan peserta didik dalam kelompok kecil untuk
melakukan aktivitas belajar guna meningkatkan interaksi yang positif. Menurut Martin
(tanpa tahun), cooperative learning dapat meningkatkan prestasi yang dicapai peserta didik,
meningkatkan ingatan (retention), penggunaan level alasan yang lebih baik, kepercayaan diri,
dan meningkatkan kemampuan dalam bersosialisasi antar peserta didik. Di samping itu,
Lyman, Lawrence; Foyle, Harvey C. (1988) menambahkan bahwa cooperative learning dapat
meningkatkan motivasi belajar dan membuat peserta didik lebih mendalami materi pelajaran
yang dipelajarinya.

Kedua hal di atas, pembelajaran yang demokratis dan cooperative learning, sangat
tepat dikaitkan dengan kondisi pendidikan nasional yang harus mampu memberikan
sumbangan terhadap pembentukan manusia Indonesia yang lebih demokratis setelah terjerat
dalam kondisi otoriter birokratis beberapa dekade yang lalu. Kedua hal itu, menurut hemat
penulis dapat mewujudkan praktek pendidikan di Indonesia seperti yang diidamkan Zamroni
(2000), yaitu pendidikan yang manusiawi, demokratis dan egaliter.

3) Adaptasi Paradigma ‘Triplization’

Untuk menggapai proses pembelajaran yang lebih cocok sesuai dengan tuntutan masa
yang akan datang, di samping memperhatikan dua hal yang telah disebutkan di atas, tepat
pula untuk mengadaptasi pendapat Cheng (2001) tentang paradigma baru dalam belajar dan
mengajar, yaitu paradigma ‘triplization’ dengan beberapa catatan.

Triplization pada intinya menyebutkan bahwa dalam proses belajar dan mengajar
diperlukan tiga wawasan utama, yaitu individualisasi (individualization), lokalisasi
(localization) dan globalisasi (globalization). Individualisasi pada intinya merupakan
transfer, adaptasi dan pengembangan nilai-nilai ekternal, pengetahuan teknologi dan norma-
norma tingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik individu. Ide ini lebih
banyak berkait dengan motivasi dan kebutuhan manusia. Lokalisasi merujuk pada transfer,
adaptasi dan pengembangan nilai-nilai, pengetahuan, teknologi dan norma-norma tingkah
laku dari konteks lokal, seperti masyarakat sekitar. Contoh dari hal ini adalah adaptasi
teknologi, ekonomi, sosial, politik dan budaya ekternal kepada masyarakat lokal. Sedangkan
globalisasi merupakan transfer, adaptasi dan pengembangan nilai-nilai, pengetahuan,
teknologi dan norma-norma tingkah laku lintas negara dan masyarakat dalam skala
internasional.

Dengan mempelajari ide Cheng (2001) di atas dan dengan memperhatikan kebutuhan
pembentukan nilai-nilai kebangsaan yang sedang terancam ‘disintegrasi’, melalui pendidikan
untuk masa-masa yang akan datang, maka ‘individualisasi’ yang dimaksud oleh Cheng lebih
tepat digantikan dengan semangat kebersamaan (cooperation) seperti yang telah disebutkan
pada sub bagian di atas. Dengan demikian, adaptasi paradigma triplization itu menjadi
seperti yang tertuang pada tabel berikut.

Meskipun masih sangat sulit bagi para guru di Indonesia untuk menerapkan adaptasi
paradigma ‘triplization’ seperti tersebut di atas, lebih-lebih lagi yang berkaitan dengan
wawasan global atau internasional, karena bangsa Indonesia harus realistis terbentur pada
keterbatasan sumber yang dimiliki oleh sebagian besar sekolah di Indonesia, kebebasan guru
untuk mengambil langkah-langkah proaktif sedekat mungkin menuju ke paradigma itu
setapak demi setapak perlu diwujudkan. Sekolah-sekolah yang telah mempunyai sumber
daya manusia, dalam hal ini guru dan petugas lainnya serta fasilitas yang sudah memadai
harus diberikan kebebasan untuk dapat mengimplementasikan ide-ide di atas dengan lebih
awal. Oleh karena itu lebih jelasnya paradigma ‘triplization’ belajar mengajar dapat di lihat
dengan jelas seperti table 1, berikut :

Tabel 1 Paradigma ‘Triplization’ dalam Belajar dan Mengajar

Triplization Paradigm of Learning Triplization Paradigm of Teaching

Belajar Kooperatif *): Mengajar Kooperatif *):


 Berpusat pada peserta didik  Sebagai fasilitator
 Program yang memupuk kebersamaan*)  Mempunyai intelegensi ganda
 Belajar mandiri  Gaya mengajar kooperatif*)
 Proses Aktualisasi diri  Meningkatkan rasa ingin tahu peserta didik
 Belajar bagaimana belajar  Menfasilitasi proses
 Menghargai diri sendiri  Tukar menukar suatu yang menyenangkan
 Sebagai belajar sepanjang hayat

Belajar secara Lokal dan Global Mengajar secara Lokal dan Global:
 Sumber belajar ganda  Mengajar dengan berbagai sumber
 Belajar dengan jaringan  Mengajar dengan menggunakan jaringan
 Belajar sepanjang hidup dan di mana saja  Mengajar dalam skope dunia
 Kesempatan yang tidak terbatas  Kesempatan yang tidak terbatas
 Belajar dalam skope dunia  Berpandangan lokal dan internasional
 Berpandangan lokal dan internasional  Mempunyai jaringan mengajar dalam tataran
internasional
*) Penulis menukar konsep belajar dan mengajar individualistik (individualized learning)
dengan ‘cooperative learning’ dan ‘cooperative teaching’.

Otonomi Guru dalam Sistem Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dari K13
Kurikulum tingkat satuan pendidikan ini pada dasarnya merupakan perangkat rencana
pembelajaran, pengaturan kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai peserta didik,
penilaian, kegiatan pembelajaran dan pengembangan sumber daya sekolah. Kurikulum ini
berorientasi pada hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada peserta didik, serta pada
pada keberagaman sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Kurikulum ini diharapkan dapat
benar-benar membuat peserta didik mempunyai kompetensi pada mata pelajaran yang
diajarkan, yaitu tidak hanya sampai pada ranah kognitif tingkat rendah, tetapi harus sampai
pada ranah kognitif, afektif dan psikomotor tingkat tinggi. Oleh karena itu guru dalam
implemntasi dari K13 diberikan otoritas yang bergitu kuat dalam hal perencanaan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran hingga tindak
lanjutnya. Sehingga potensi setiap peserta didik dapat berkembang optimal secara melalui
interfensi pembelajaran yang wajar menyenangkan dan bermakna

Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas (2008) menyebutkan bahwa peran dan


tanggung jawab guru dalam mengembangkan dan imlemtasi dari kurikulum adalah: 1)
mempelajari dan memahami kurikulum, 2) menyusun silabus yang sesuai dengan kebutuhan,
3) melaksanakan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan perencanaan, 4) mengumpulkan
dan berbagi gagasan dengan sesama guru tentang perencanaan dan pelaksanaan kegiatan
pembelajaran, 5) menghadiri pertemuan-pertemuan di sekolah, KKG/MGMP, tingkat
kecamatan, kabupaten atau kota dan propinsi, 6) menyelesaikan tugas-tugas administrasi
pembelajaran.

Dalam melaksanakan penilaian, guru harus: 1) memandang penilaian sebagai bagian


integral dari kegiatan belajar mengajar, 2) mengembangkan strategi yang mendorong dan
memperkuat dalam mengevaluasi dan bercermin diri, 3) melakukan berbagai strategi
penilaian untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik, 4)
mengakomodasi kebutuhan khusus peserta didik, 5) mengembangkan sistem pencatatan
dengan variasi cara dalam pengamatan belajar peserta didik, 6) menggunakan penilaian
dalam rangka mengumpulkan informasi untuk membuat keputusan tentang tingkat
pencapaian peserta didik. Untuk menjaring hasil kerja yang dilakukan peserta didik, maka
dalam melaksanakan penilaian guru dapat melakukan berbagai bentuk tes, seperti tes tertulis,
tes penampilan (performance), penugasan atau proyek dan kumpulan hasil kerja dan tugas
peserta didik dengan disertai komentar guru (portofolio).

Dengan memperhatikan rencana pemberlakuan dan muatan K13 seperti tersebut di


atas, di satu sisi guru memang mempunyai kebebasan dalam melakukan pembelajaran, mulai
dari menyusun silabus, melaksanakan pembelajaran di kelas sampai dengan melakukan
evaluasi. Namun di sisi lain, kebebasan itu harus disertai dengan tanggung jawab dan volume
tugas yang lebih berat. Oleh karena itu, pemberlakuan kurikulum baru itu harus diikuti oleh
pembaharuan yang lain, seperti desiminasi kepada guru, pengurangan jumlah peserta didik
maksimal dalam satu rombongan belajar. (Jumlah 40 peserta didik dalam satu rombongan
belajar seperti yang diharapkan Puskur Balitbang Depdiknas, adalah jumlah yang masih
terlalu besar). Tanpa sentuhan lain dari komponen pendidikan, pemberlakuan kurikulum
baru itu hanya sekedar menjadi inefisiensi kebijakan.

C. SIMPULAN
Pintu otonomi pendidikan nasional telah dibuka lebar oleh pemerintah Indonesia.
Berbagai perangkat peraturan dan kebijakan di bidang pendidikan telah dibuat, baik berkait
dengan sistem manajemen pendidikan, maupun rencana pembaharuan kurikulumnya.
Pembaharuan-pembaharuan itu berimplikasi terhadap kemerdekaan guru dalam mengkreasi
proses pembelajaran di kelas.

Proses mengajar dan belajar yang sesuai dengan tuntutan otonomi pendidikan di atas
adalah proses yang demokratis dan kooperatif. Untuk membuat guru mampu mengajar
secara lebih demokratis, koperatif dan berkompeten seperti idealisme ‘tripilization’,
pemerintah dan bangsa Indonesia masih harus bekerja keras memperbaiki komponen
pendidikan yang lain, seperti kualitas dan mentalitas guru, sarana dan prasarana
pembelajaran. Tanpa sentuhan komponen yang lain sebagai bagian dari suatu sistem
pendidikan nasional, perubahan pembaharuan itu hanya akan menjadi kebijakan yang tidak
efektif dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Cheng, Y.C., 2001. ‘New Vision of School-based Management: Globalization,


Localization, dan Individualization’. Paper presented on the First National
Conference on School-based Management organized by the Ministry of Education
of the Israel Government, Kfar Maccabiah, 1 – 6 April 2001.
DePorter, D. dan Hernacki, M., 2000. Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman
dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.
Depdiknas. 2003. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Buku 1 Konsep dan
Pelaksanaan. Jakarta: Ditjen Dikdasmen, Depdiknas.
Fasli Djalal. 2006. Standar Isi. Jakarta: PMPTK.
Dryden, G dan Vos, J., 2002. Revolusi Cara Belajar. Bandung: Kaifa.
Hadiyanto. 2002, Makna Kebasan Guru dalam Pembelajaran di Era Otonomi Pendidikan.
Padang: UNP
Lyman, Lawrence; Foyle, Harvey C. 1988 Cooperative Learning Strategies and Children.
ERIC Digest. http://ericae.net/edo/ED306003.htm : 15 Desember 2009.
Martin, B.J. (tanpa tahun), Curriculum and Instruction. http://www.ccs.k12.nc.us/bmes/
curr.htm : 12 Desember 2009.
Muhammad, Hadiyanto dan Nurli, 1999, Perbaikan Iklim Kelas yang Kurang Demokratis
pada Sekolah Dasar No. 19 Padang Utara, Forum Pendidikan No. 01/ThXXIV
Maret 1999.
Noble, A.J., Deemer, S., and Davis B., 1996. School-based Management. http://www.
rdc.udel.edu/pb9601.html.
Bappenas, 2000. Program Pembangunan Nasional, http://www.bappenas.go.id/bap_
ind.html: 13 Desember 2009.
Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas, 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta:
Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas.
Surakhmad, W., 2002. ‘Implikasi Manajemen Pendidikan Nasional dalam Konteks
Otonomi Daerah’ Makalah disampaikan pada Konferensi Nasional Manajemen
Pendidikan, tanggal 8 s/d 10 Agustus 2002 di Hotel Indonesia, Jakarta.
Zamroni, 2001. Pendidikan untuk Demokrasi, tantang menuju civil society. Yogyakarta:
Biograf Publishing.