Anda di halaman 1dari 21

Penggunaan Carbon Nanotubes (CNT)

Nanopartikel Emas dan dalam


Perawatan Kanker
Andre Citrawijaya - 13016046
Johanes Kurniawan Leo - 13016013
Terence Iswara - 13016109

Abstrak
Perkembangan teknologi perawatan kanker sangat diharapkan bisa mengakhiri rentetan kematian
yang disebabkan oleh kanker yang merupakan penyebab utama ketiga kematian di dunia. Perawatan
kanker saat ini memiliki efek samping yang sangat besar sehingga menutupi manfaatnya sendiri.
Carbon nanotube (CNT) dan nanopartikel emas sebagai terobosan terbaru dalam perawatan kanker
memiliki potensi yang sangat besar dalam perawatan kanker. Kedua teknologi tersebut memiliki
kelebihan utama karena memiliki berbagai fungsi dalam perawatan kanker, sebagai pembawa obat,
agen kontras, dan agen terapi kanker. Keunggulan lainnya adalah efek samping yang ditimbulkan
sangat minim dibandingkan dengan metode konvensional lainnya. Dari kedua kelebihan yang telah
disebutkan, tentunya perkembangan nanoteknologi memegang kunci utama untuk perawatan
kanker di masa depan.

Keywords: CNT, nanopartikel, emas, karbon, kanker, tumor, imaging, terapi

I. Pembukaan

Saat ini, perawatan kanker seringkali melibatkan operasi, chemotherapy dan/atau radiotherapy.
Tujuan dari metode-metode tersebut adalah untuk membunuh sel-sel tumor yang berada dalam
tubuh. Tetapi, efek samping yang ditimbulkan dari metode tersebut sangat meminimalkan manfaat
mereka yang sebenarnya. Nanoteknologi memberikan solusi dengan inovasi dan alternatif yang
menjanjikan untuk mengatasi masalah-masalah ini. Pada dokumen ini, kami akan membahas tentang
penggunaan carbon nanotube (CNT) dan gold nanoparticle dalam perawatan kanker.
II. Model Matematika

Berikut adalah model matematis dari pertumbuhan intrinsik tumor

dL
=ƛ L ; ƛ> 0
dt

Dimana L adalah jumlah sel tumor dan ƛ adalah laju pertumbuhan intrinsik tumor

L(t) = L(t0) e ƛ(t-t0)

Dimana L(t0) adalah ukuran tumor pada saat t = t0

Karena pertumbuhan tumor yang tidak terbatas maka harus diasumsikan bahwa untuk
pertumbuhan tumor yang stabil, tingkat kejenuhan harus tercapai. Untuk mencapai model
tersebut diperlukan faktor pengali yang mewakili fraksi ukuran tumor saat ini dari tingkat
kejenuhan K. Persamaan pertumbuhan ini dapat diperoleh dengan memperluas f(L) dengan
metode deret Taylor.

' L2 ' ' L2 ' ' '


f ( L ) =f ( 0 ) + L f ( 0 ) + f ( 0 ) + f ( 0 ) +…
2! 3!
Dengan mengabaikan orde –orde tinggi kita mendapatkan persamaan:
2
' L ''
f ( L ) =f ( 0 ) + L f ( 0 ) + f ( 0 )
2!
Karena pada saat jumlah sel tumor = 0 pertumbuhan tumor juga = 0 , kita memiliki asumsi
bahwa f(0) = 0 , sehingga persamaan yang didapat adalah

L ''
[
f ( L ) =L f ' ( 0 )+
2
f ( 0) ]
−2 ƛ
Dengan menganggap f’(0) = ƛ dan f’’(0)= , didapat persamaan pertumbuhan tumor logistik
k

dL L
dt
= ƛL 1− [ ]
K

Dimana nilai ƛ dan K konstan (tidak berubah).

Persamaan diferensial logistik ini memberikan waktu pemulihan untuk sel non kanker setelah
mereka didistribusikan oleh kekuatan internal dan eksternal yang sama . Jika pada t = t0 , kita
memiliki L(t0) = L0, maka L0 > K atau L0 < K , dimana K merupakan tingkah kejenuhan yang perlu
dicapai (daya dukung).

Persamaan logistik tingkat pertumbuhan tumor untuk t > t0 adalah


1
L ( t )=
1 1 1 − ƛ(t−t )
+( −
K L0 K
e ) 0

Dalam prosedur perawatan radiasi , regenerasi sel normal tidak sempurna dan hal ini mempengaruhi
daya dukung K. Pola pertumbuhan semua tumor kurang lebih sama dan pada hakikatnya semua
tumor akan bertumbuh dengan cepat di awal sehingga tumor tersebut mencapai ukuran maksimum.

III. Carbon Nanotubes


III.1. Sintesis

Secara struktur, carbon nanotubes (CNT) dapat didefinisikan sebagai gulungan dari lembaran atom
grafit tebal yang disebut graphene. Struktur lembaran graphene tampak seperti sarang madu.
Struktur ini disebabkan oleh lembaran graphene yang tersusun dari kumpulan atom C kiral. CNT
mempunyai dua bentuk dasar, yaitu single walled carbon nanotubes (SWNT) dan multi walled
carbon nanotubes (MWNT). SWNT terdiri dari 1 buah gulungan graphene sedangkan MWNT terdiri
dari beberapa gulungan graphene yang konsentrik. Diameter CNT bervariasi dari beberapa
nanometer (SWNT) sampai beberapa puluh nanometer (MWNT). Sementara, panjang dari CNT

biasanya berukuran mikro.

Gambar 1. Struktur Lembaran Graphene dan Single Walled Carbon Nanotubes


Sumber : Methods for Carbon Nanotubes Synthesis, 2011
Gambar 2. Struktur Multi Walled Carbon Nanotubes
Sumber : Methods for Carbon Nanotubes Synthesis, 2011

Fokus dari sintesis CNT adalah membuat carbon nanotubes dengan kontaminasi seminimal mungkin.
Pada awalnya, pemrosesan dilakukan pada temperatur tinggi dengan metode arc discharge atau
laser ablation. Namun, metode ini telah digantikan dengan metode deposisi uap kimia pada
temperatur rendah (<800oC) karena orientasi, panjang nanotube, diameter, kemurnian, dan densitas
dari carbon nanotubes dapat dikontrol secara akurat dengan metode deposisi uap kimia pada
temperatur rendah. Seluruh metode sintesis CNT pasti menghasilkan CNT yang tidak 100% murni.
Ketidakmurnian ini jenis dan jumlahnya bergantung pada metode yang digunakan.

1. Arc Discharge
Metode ini menggunakan temperatur yang sangat tinggi (>1700 oC) untuk sintesis CNT.
Biasanya metode ini menghasilkan CNT dengan kesalahan struktur yang lebih sedikit
dibandingkan dengan metode lainnya.
a. MWNT synthesis
Metode yang paling sering dilakukan untuk sintesis MWNT dengan arc discharge adalah
DC arc discharge dengan 2 elektroda grafit yang biasanya menggunakan air sebagai
pendingin dalam suatu wadah yang berisi helium dengan tekanan dibawah tekanan
atmosferik. Namun, terkadang hidrogen atau metana digunakan untuk menggantikan
helium. Kemurnian dan hasil CNT dengan metode ini bergantung pada tekanan gas
dalam wadah reaksi. Dengan menggunakan tekanan gas CH 4 dan arus arc yang tinggi,
diperoleh nanotubes yang tebal. Sementara MWNT yang tipis dan panjang diperoleh
dengan menggunakan tekanan gas CH4 50 torr dan arus arc 20 A. SIntesis MWNT dengan
gas hidrogen menghasilkan MWNT yang halus dan panjang. Selain itu asap karbon yang
terbentuk lebih sedikit dibandingkan dengan gas helium atau metana. Selain
menghasilkan MWNT yang halus dan panjang, evaporasi elektroda grafit dalam gas
hidrogen oleh DC arc discharge juga menghasilkan lembaran graphene yang terdeposit
di katoda. Selain menggunakan helium, hidrogen, atau metana, arc discharge juga dapat
menggunakan atmosfer berupa zat organik seperti etanol, aseton, dan heksana. Bahkan,
penggunaan ketiga zat organik tersebut menghasilkan MWNT dua kali lebih banyak
daripada penggunaan helium sebagai atmosfer. Hal ini disebabkan karena aseton,
etanol, dan heksana dapat diionisasi dan molekul-molekulnya dapat didekomposisi
menjadi atom hidrogen dan karbon. Spesi ion ini dapat berkontribusi pada pembentukan
MWNT sehingga CNT yang diperoleh lebih banyak. Dalam kasus penggunaan zat organik
sebagai atmosfer, hasil MWNT yang diperoleh semakin meningkat dengan penambahan
tekanan sampai 400 torr.

b. SWNT synthesis
Sintesis CNT dapat dilakukan tanpa prekursor katalis atau dengan prekursor katalis.
Biasanya MWNT akan terbentuk saat tidak menggunakan katalis. Sementara itu, SWNT
akan terbentuk saat menggunakan katalis logam transisi. Proses pembuatan SWNT
dengan arc discharge menggunakan anoda komposit dan biasanya di atmosfer hidrogen
atau argon. Anoda yang digunakan merupakan komposisi grafit dan logam, seperti Ni,
Fe, Co, Pd, Ag, Pt atau campuran Co, Fe, Ni dengan unsur lain, seperti Co-Ni, Fe-Ni, Fe-
No, Co-Cu, Ni-Cu, Ni-Ti. Untuk memastikan efisiensi proses ini tetap tinggi, proses ini
membutuhkan perbedaan yang konstan antara kedua elektroda sehingga densitas arus
dan laju konsumsi anoda menjadi stabil. Pada proses ini, produk yang tidak diinginkan
seperti MWNT atau fullerene biasanya juga terbentuk. Katalis yang paling sering
digunakan untuk sintesis SWNT adalah Ni.

2. Laser Ablation
Karakteristik CNT yang terbentuk dari proses deposisi pulsed-laser sangat tergantung pada
parameter-parameter, seperti karakteristik laser (panjang gelombang osilasi, laju repetisi);
komposisi struktural dan kimiawi dari target material; tekanan wadah; temperatur
lingkungan dan substrat; jarak antara target dan substrat; komposisi kimia, aliran, dan
tekanan gas buffer. Laser ablation adalah metode yang sangat baik untuk membuat SWNT
dengan kualitas dan kemurnian yang tinggi. Prinsip dan mekanismenya serupa dengan arc
discharge. Perbedaannya, energi yang diperlukan pada metode laser ablation diperoleh dari
laser yang menembus pelet grafit yang mengandung katalis. Sampai saat ini, hubungan
antara panjang gelombang eksitasi dengan mekanisme sintesis SWNT masih belum dapat
dijelaskan. Akan tetapi, diduga bahwa penggunaan UV laser akan menghasilkan nanopartikel
jenis baru. SWNT telah berhasil disintesis menggunakan UV laser ablation terhadap grafit
yang mengandung katalis logam Co/Ni pada berbagai temperature. Diketahui bahwa laser
ablation terhadap grafit yang mengandung katalis logam Co/Ni pada panjang gelombang 308
nm menghasilkan produk tertinggi pada suhu 1623 K dengan diameter CNT antara 1,2
sampai dengan 1,7 nm dan panjang 2 µm atau lebih.

3. Chemical Vapour Deposition


Catalytic chemical vapour deposition (CCVD) adalah metode standar untuk memproduksi
CNT. CCVD diklaim lebih ekonomis untuk produksi skala besar secara terus menerus dan
menghasilkan CNT yang cukup murni. Kelebihan utama dari CVD adalah kemudahan
mengontrol reaksi dan kemurnian yang tinggi dari material yang diperoleh. Untuk
memproduksi SWNT, ukuran katalis harus lebih kecil dari 3 nm. Fungsi katalis pada proses
CVD adalah dekomposisi sumber karbon dan nukleasi baru untuk membentuk CNT. Katalis
yang paling sering digunakan adalah katalis logam transisi, seperti Fe, Co, Ni. Terkadang
katalis juga diolah atau dicampur dengan logam lain, seperti emas. Sumber karbon yang baik
untuk CVD adalah hidrokarbon, seperti metana, etana, etena, asetilen, xilen, serta isobutan
atau etanol. Produksi CNT sangat bergantung pada reaktivitas dan konsentrasi fasa gas
antara yang terbentuk bersama-sama dengan spesi reaktif dan radikal bebas yang terbentuk
sebagai hasil dari dekomposisi hidrokarbon.

4. Pirolisis
Sintesis CNT telah banyak dilakukan para peneliti dengan metode electric arc discharge, laser
ablation dan chemical vapour deposition. Metode-metode ini kurang efektif untuk
memproduksi CNT pada skala industri, hal ini dikarenakan temperatur yang digunakan
mencapai lebih dari 1000oC. Saat ini, metode lain yang dapat digunakan untuk mensintesis
karbon nanostruktur, yaitu dengan metode pirolisis. Metode ini dapat menghasilkan
berbagai bentuk karbon. Suhu yang digunakan kurang dari 1000 oC, sehingga metode pirolisis
ini merupakan metode yang sederhana untuk diterapkan.

III.2. Karakteristik

Sifat elektrik, molekul, dan struktur karbon nanotube ditentukan struktur satu dimensinya. Beberapa
sifat penting karbon nanotube adalah sebagai berikut:

1. Reaktifitas kimia

Reaktifitas kimia CNT akan meningkat sebanding dengan kenaikan arah kurvatur permukaan
karbon nanotube. Oleh karena itu, reaktifitas kimia pada bagian dinding karbon nanotube
akan sangat berbeda dengan bagian ujungnya. Diameter karbon nanotube yang lebih kecil
akan meningkatkan reaktivitas.

2. Sifat listrik dan Konduktivitas elektrik


Karbon nanotube dengan diameter yang lebih kecil dapat menjadi semi konduktor atau
menjadi metalik tergantung pada vektor khiral. Perbedaan konduktifitas ini disebabkan
oleh struktur molekul.

Berdasarkan teori zat padat, para fisikawan berhasil memperoleh fakta bahwa CNT memiliki
kelakuan listrik yang “ganda”, yaitu sebagai logam atau semikonduktor. Jika (n–m)/3
merupakan bilangan bulat, maka CNT bersifat logam, sedangkan jika (n–m)/3 bukan bilangan
bulat, maka CNT bersifat semikonduktor. Menarik sekali karena ternyata kemampuan
hantaran listrik CNT, apakah sebagai logam atau semikonduktor, hanya bergantung pada
geometrinya.

Keunikan sifat listrik CNT pada dasarnya merupakan ‘turunan’ sifat dari struktur elektronik
yang tidak biasa dari graphene dengan ikatan karbon sp2. Graphene memiliki keadaan yang
mampu menghantarkan listrik dengan tingkat energi yang ada di perbatasan struktur
elektronik. Keadaan ini biasa disebut zero bandgap semiconductor atau semimetal karena
bersifat logam (konduktor) pada arah tertentu dan semikonduktor pada arah lainnya.

3. Kekuatan mekanik
Karbon nanotube mempunyai modulus young yang sangat besar pada arah aksialnya.
Nanotube menjadi sangat fleksibel karena ukurannya yang panjang. Karbon nanotube
sangat potensial untuk aplikasi material komposit sesuai dengan kebutuhan.

III.3. Aplikasi

Salah satu ciri khas nanopartikel pada perawatan kanker disebabkan oleh kemampuan mereka untuk
menembus ke dalam jaringan tumor dikarenakan ukurannya yang sangat kecil, tanpa keluar dari sel
kanker karena sistem limfatik yang inefektif. Selain itu, jika direkayasa dengan baik, nanomaterial
dapat berperan sebagai pembawa obat untuk chemotherapy dan menyerang sel kanker secara
selektif.

CNT sangat cocok untuk aplikasi ini dikarenakan adanya rongga pada CNT dan sifat fisiknya. Secara
spesifik, obat-obatan hidrofobik dapat dimuat ke dalam CNT berkat noncovalent π-π stacking.
Pengiriman obat dapat dijamin oleh penggunaan reseptor kanker yang spesifik pada permukaan
luarnya. Tindakan CNT ditargetkan agar menghindari kerusakan jaringan yang sehat, sehingga dapat
mengurangi efek samping yang ditimbulkan oleh sistem imun pasien.

CNT selain digunakan dalam pengiriman obat dapat digunakan juga sebagai agen kontras yang
sangat baik untuk berbagai teknik imaging dan meningkatkan sitotoksisitas obat. Selain itu, CNT juga
dapat digunakan untuk melakukan ablasi termal, mendeteksi Reactive Oxygen Species (ROS) atau
antigen spesifik, dan juga penanda adanya tumor. Semua sifat ini dapat dikombinasikan untuk
menciptakan suatu alat multifungsi yang memiliki fungsi-fungsi seperti yang sudah disebutkan
sebelumnya. Pada dasarnya, terdapat dua jenis fungsionalisasi yang dapat dilakukan pada CNT, yaitu
kovalen dan non-kovalen. Fungsionalisasi CNT kovalen memiliki ikatan yang kuat tetapi memiliki sifat
listrik yang berubah, sedangkan fungsionalisasi CNT non-kovalen memiliki ikatan yang lemah tetapi
sifat listriknya tetap dipertahankan. Maka itu, strategi fungsionalisasi yang tepat harus dipilih
tergantung pada aplikasi spesifiknya masing-masing. Berikut adalah beberapa aplikasi CNT:

1. Contrast Agent in Medical Imaging


Seperti yang telah dibahas sebelumnya, salah satu potensi terbesar penggunaan CNT ada
pada bidang diagnostic imaging. Diagnostic Imaging merupakan penggunaan radiasi
elektromagnetik untuk menghasilkan gambar struktur internal dari tubuh manusia untuk
mendapatkan hasil diagnosis yang akurat. CNT disini berfungsi sebagai agen kontras yang
meningkatkan perbedaan dari struktur atau fluida dalam tubuh manusia sehingga
perbedaan sel dapat terlihat dengan jelas. Sebagai contoh, pada salah satu teknik imaging
yang terkenal yaitu Ultrasonography digunakan Multi-walled carbon nanotubes (MWCNTs)
karena dapat difungsikan untuk menghasilkan suatu nanoprobes yang memiliki banyak
fungsi, terutama sebagai agen kontras dan penanda tumor. Selain Ultrasonography Imaging,
CNT juga dapat digunakan pada teknik imaging lainnya, seperti Photoacoustic Imaging,
Near-Infrared Imaging, Magnetic Resonance Imaging (MRI), PET/SPECT Imaging, dan
Multimodality Imaging.

Gambar 3. Ultrasound detection of functionalized MWCNTs in vivo.


Sumber: Delogu, L.G.; Vidili, G.; Venturelli, E.; Ménard-Moyon, C.; Zoroddu, M.A.; Pilo, G.; Nicolussi,
P.; Ligios, C.; Bedognetti, D.; Sgarrella, F.; et al. Functionalized multi-walled carbon nanotubes as
ultrasound contrast agents. Proc. Natl. Acad. Sci. USA 2012, 109, 16612–16617.

2. Photothermal Therapy (PTT)


Hipertermia adalah prosedur pengobatan yang dilakukan dengan cara meningkatkan suhu
diatas ambang batas sel sehingga menyebabkan kematian sel di suatu bagian tubuh yang
terkena kanker. Peningkatan temperatur yang disebabkan oleh radiasi optik sering disebut
PTT. Keuntungan dari metode ini dibandingkan pembuangan jaringan adalah metode ini
meminimalisasi invasi dari luar tubuh, serta dapat mengobati tumor pada struktur vital
tubuh manusia. Kemampuan CNT untuk mengubah cahaya near-infrared (NIR) menjadi
panas dapat digunakan untuk mematikan sel-sel tumor pada prosedur hipertermia.

3. Photodynamic Therapy (PDT)


Ketika jumlah Reactive Oxygen Species (ROS) terlalu tinggi, terdapat kondisi yang dinamakan
oxidative stress. Jika kondisi ini berlangsung terlalu lama dalam sebuah sel, kondisi ini dapat
menyebabkan kematian sel yang disebut apoptosis. Dalam pengobatan kanker, ROS secara
sengaja diinduksi ke dalam sel-sel kanker untuk membunuhnya. PDT adalah teknik yang
memanfaatkan PhotoSensitizers khusus yang setelah diiluminasi menghasilkan ROS. Dalam
konteks ini, CNT yang telah difungsikan dengan asam hyaluronat dan mengadsorpsi
Hematoporphyrin MonoMethyl Ether (HMME) dapat digunakan untuk mereduksi tumor.

Gambar 4. Photodynamic Therapy on Tumor-bearing Mice (A) an 808-nm near-infrared laser and (B)
532-nm laser; (C) photo of tumors taken out of the saline group (1), the HA-CNT (808 nm) laser group
(2), the HMME (532 nm) laser group (3), the HMME-HA-CNT (532 nm) laser group (4) and the
HMME-HA-CNT (532/808 nm) laser group after treatment for eight days (5).
Sumber: Shi, J.; Ma, R.; Wang, L.; Zhang, J.; Liu, R.; Li, L.; Liu, Y.; Hou, L.; Yu, X.; Gao, J.; et al. The
application of hyaluronic acid-derivatized carbon nanotubes in hematoporphyrin monomethyl ether-
based photodynamic therapy for in vivo and in vitro cancer treatment. Int. J. Nanomed. 2013, 8,
2361.

4. Drug Delivery Systems


Chemotheraphy memiliki tujuan untuk menghancurkan sel-sel kanker sambil meminimalkan
efek samping pada jaringan yang sehat. Namun, saat ini banyak agen kemoterapi yang jauh
dari ideal, banyak dari mereka yang memiliki toksisitas yang cukup tinggi dan memiliki
banyak kekurangan lainnya. Untuk mengatasi masalah itu, CNT mulai digunakan sebagai
pengirim obat. CNT memiliki sifat yang dapat dimanfaatkan untuk merancang nano-vector
obat yang baik. CNT dapat difungsionalisasikan dengan chitosan, asam folat, dan
Doxorubicin untuk menghasilkan suatu vektor obat yang memiliki kinerja yang jauh lebih
baik. Beberapa keuntungan penggunaan teknologi ini adalah CNT yang dihasilkan memiliki
penargetan tumor yang lebih tepat karena fungsionalisasi dengan asam folat; kemampuan
CNT untuk masuk ke dalam sel yang lebih baik; dan pelepasan Doxorubicin, suatu agen anti-
kanker, yang lebih efektif dan efisien karena dilakukan pada pH rendah.

5. Intentional Cytotoxicity
Kemampuan CNT yang dapat melintasi membran sel terlepas dari jenis selnya menunjukkan
kemungkinan untuk menggunakan sitotoksisitas untuk membunuh sel kanker. Saat ini,
banyak dilakukan penelitian untuk menggunakan sitotoksisitas CNT yang digunakan pada
terapi lain, seperti vektor obat, agen kontras, dan sebagainya untuk membunuh sel kanker.

IV. Gold Nanoparticles


IV.1. Sintesis

Pembuatan nanopartikel emas dapat dilakukan dengan:

1. Metode Kimiawi
Secara garis besar, pembuatan nanopartikel emas dengan metode kimiawi terdiri dari dua
bagian yaitu proses reduksi dan proses stabilisasi agar partikel yang terbentuk tidak
membentuk gumpalan. Beberapa agen kimia yang dapat digunakan untuk mereduksi antara
lain boro hidrida, formaldehida, hidrazin, hidroksilamin, poliol, asam sitrat dan asam oksalat,
gula, hidrogen peroksida, karbon monosida, sulfit, hidrogen, dan asetilen. Sedangkan agen
untuk menstabilkan partikel antara lain trinatrium sitrat anhidrat, ligan belerang (tiolat),
ligan fosfor, ligan berbasis oksigen, ligan berbasis nitrogen, dendrimer, polimer, dan
surfaktan.
a. Metode Turkevich
Salah satu metode yang sangat terkenal untuk membuat nanopartikel emas adalah
metode turkevich. Metode ini mereduksi HAuCl 4 di dalam air menggunakan sitrat. Pada
metode ini larutan HAuCl4 dididihkan, kemudian trinatirum sitrat anhidrat ditambahkan
ke dalam larutan sambil diaduk dengan kuat. Setelah beberapa menit, warna larutan
akan berubah dari kuning muda menjadi merah anggur. Metode ini menghasilkan
nanopartikel emas dengan diameter 20 nm. Pada metode turkevich, sitrat mempunyai
dua fungsi, yaitu sebagai agen pereduksi sekaligus agen stabilisasi partikel.

Pada tahun 1973, metode turkevich dimodifikasi oleh Frens sehingga mampu
menghasilkan nanopartikel emas dengan diameter bervariasi dari 15 sampai dengan 150
nm dengan mengatur rasio agen pereduksi terhadap agen stabilisasi. Oleh karena itu,
konsentrasi natrium sitrat sangat mempengaruhi ukuran nanopartikel emas yang
terbentuk. Sebuah penelitian melaporkan bahwa penambahan reagen secara
berlawanan (menambahkan HAuCl4 pada larutan natrium sitrat mendidih) menghasilkan
nanopartikel emas dengan ukuran yang kecil, juga distribusi ukuran yang kecil.

b. Metode Brust-Schiffrin
Pada metode ini, AuCl4 dalam larutan akues akan berpindah menuju fasa toluene dengan
bantuan agen tetraoktilamonium bromide (TOAB) sebagai agen perpindahan fasa.
Selanjutnya, akan mengalami reduksi dengan agen pereduksi NaBH 4 dengan bantuan
alkanetiol sebagai ligan penstabil. Penambahan agen pereduksi akan menyebabkan
perubahan warna fasa organik, dari jingga menjadi coklat tua. Hal ini jelas menunjukkan
pembentukan nanopartikel emas. Sintesis ini berlangsung dalam dua fasa
Gambar 5. Metode Sintesis GNP Burst-Schiffrin (a) dan Turkevich (b)
Sumber : Gold Nanoparticles: Preparation, Properties, and Applications in Bionanotechnology, 2012

2. Metode Elektrokimia
Partikel metal transisi dengan ukuran tertentu yang spesifik berskala nano dapat diproduksi
secara elektrokimia dengan menggunakan garam alkil ammonium sebagai agen stabilisasi.

Nanopartikel emas dapat disintesis secara elektrokimia dengan menggunakan sel yang
terdiri dari dua buah elektroda, yaitu anoda (tempat berlangsungnya proses oksidasi) dan
katoda (tempat berlangsungnya proses reduksi).

Metode elektrokimia telah diklaim sebagai metode yang paling baik dibandingkan dengan
metode produksi nanopartikel lain karena peralatan yang dibutuhkan paling sederhana,
biaya yang dibutuhkan kecil, temperatur proses yang dibutuhkan rendah, kualitas hasilnya
tinggi, dan kemudahan dalam mengontrol hasilnya.

3. Metode Biologis
Meskipun metode kimiawi merupakan pendekatan yang paling umum untuk sintesis
nanopartikel logam, karakteristik reagen kimia yang mahal dan toksik sebagai agen
pereduksi dan stabilisasi menyebabkan penggunaan metode kimiawi dibatasi. Selain itu,
nanopartikel ini dapat mempunyai efek berbahaya dalam aplikasi biomedis. Karenanya, ada
kebutuhan untuk mengembangkan prosedur yang ramah lingkungan, rendah biaya, dan
tidak menggunakan bahan kimia toksik untuk sintesis nanopartikel, yaitu sintesis dengan
metode biologis. Metode biologis untuk sintesis nanopartikel memanfaatkan
mikroorganisme, enzim, dan tanaman atau ekstrak tanaman.

Belakangan ini, penggunaan tanaman untuk sintesis nanopartikel sedang berkembang


karena ketersediaannya yang melimpah, ramah lingkungan, dan sifatnya yang non-toksik.
Beberapa tahun ini, telah dilakukan biosintesis nanopartikel emas menggunakan tanaman
seperti zadirachta indica, edicago sativa, aloe vera, innamomum camphora, elargonium
graveolens, coriandrum sativum, erminalia catappa, dan lemongrass. Selain menggunakan
tanaman, sintesis nanopartikel emas telah dilakukan menggunakan ekstrak tanaman seperti
emecylon umbellatum, acrotyloma uniflorum, revibacterium casei, citrus limon, citrus
reticulate dan citrus sinensis, iper pedicellatum, erminalia chebul, emecylon edule,
nyctanthes arbor-tristis, urraya koenigii, angifera indica, banana peel, innamomum
zeylanicum, serta ochlospermum gossypium. Beberapa sintesis nanopartikel emas lain yang
telah dilakukan antara lain sintesis nanopartikel emas berukuran 5-15 nm menggunakan
ekstrak zingiber officinale yang berperan sebagai agen pereduksi dan stabilisasi serta sintesis
nanopartikel emas menggunakan ekstrak bawang (allium cepa) sebagai agen pereduksi. Zat
yang berfungsi sebagai pereduksi pada ekstrak bawang adalah vitamin C.

Beberapa tahun ini, ionic liquids (ILs) sering digunakan sebagai media sintesis dan stabilisasi
nanopartikel logam. ILs adalah garam dengan titik leleh yang rendah dan mempunyai
beberapa karakteristik yang mendukung sebagai pelarut yaitu non-volatil dan stabil secara
termal. ILs digunakan pada berbagai reaksi kimia, pemisahan, dan aplikasi elektrokimia.

IV.2. Karakteristik

Beberapa karakterisasi oleh nanopartikel emas adalah sebagai berikut:

1. Karakterisasi Warna
Karakterisasi warna dilakukan untuk mengetahui pembentukan nanopartikel emas.
Sampel A (tanpa TMT) dan sampel B (modifikasi TMT) dikarakterisasi dengan mengamati
perubahan warna mulai dari waktu pembuatan sampai 7 hari. Sampel A berubah warna
dari semula berwarna kuning muda menjadi merah setelah 30 menit, perubahan ini
menunjukkan proses reduksi ion emas, sehingga terbentuk nanopartikel emas. Setelah 2
hari warna berubah menjadi merah keunguan, proses perubahan warna yang terjadi
pada sampel A dari waktu ke waktu sangatlah cepat. Sampel B memiliki warna yang
semula sama dengan sampel A, yakni berwarna kuning muda, pada waktu 30 menit juga
telah mengalami perubahan warna menjadi merah (lebih muda), namun dari hari ke hari
sampai pada waktu 7 hari perubahan warna dari larutan tidak terlalu jauh berbeda. Hal
ini disebabkan karena atom sulfida dari 2,4,6-Trithiol-1,3,5- Tiazin (TMT) yang menempel
pada permukaan emas sehingga teradsorpsi di permukaan emas membentuk suatu
lapisan tipis, kehadiran lapisan tersebut disamping menghentikan pertumbuhan ukuran
partikel lebih lanjut, juga menghindari penggumpalan partikel membentuk agregat yang
lebih besar sehingga larutan koloid emas tetap stabil dalam jangka waktu yang lama.

2. Karakterisasi dengan UV-Vis Pembentukan Nanopartikel Emas


Spektrofotometer UV-Vis digunakan untuk mengonfirmasi terbentuknya nanopartikel.
Pengukuran dimulai dengan mengukur panjang gelombang maksimum larutan ekstrak
daun belimbing, larutan HAuCl4 0,25 mM dan larutan TMT 0,1 mM. berdasarkan
spektrum UV-Vis, ekstrak daun belimbing menyerap energi pada panjang gelombang
maximum 215,50-326 nm, TMT 0,1 mM pada panjang gelombang maximum 209,50-
454,50 nm dan HAuCl4 0,25 mM pada panjang gelombang maximum 313 nm.

3. Kestabilan Nanopartikel Emas


Pengamatan kestabilan nanopartikel emas dilakukan dengan menggunakan
spektrofotometer UV-Vis berdasarkan fungsi waktu. Spektrum UV-Vis pada sampel A
memperlihatkan bahwa, seiring bertambahnya waktu terjadi kecenderungan pergeseran
ke panjang gelombang yang lebih besar. Kemudian terjadi peningkatan absorbansi yang
signifikan dari 30 menit sampai 24 jam, namun setelah 24 jam terjadi penurunan
absorbansi, hal ini menunjukkan mulai terbentuknya kluster yang lebih besar akibat
mulainya beragragegasi. Hasil pengukuran menggunakan UV-Vis pada sampel B
memperlihatkan bahwa dari menit ke 30 sampai 1 hari terjadi pergeseran maks λ
sebesar 5 nm. Pada waktu 1 hari hingga 2 hari nanopartikel emas cenderung stabil,
dengan tidak ada pergeseran maks λ dan berada pada maks λ 533,50 nm.

4. Karakterisasi dengan FT-IR


Analisis menggunakan FTIR dilakukan untuk menentukan gugus fungsi dari ekstrak daun
belimbing dan nanopartikel emas dimana sebelum dan sesudah terjadi proses reduksi
ion Au3+ menjadi Au. Serapan pada bilangan gelombang 3410 cm-1 terlihat pada
spektrum IR ekstrak daun belimbing. Serapan tersebut menunjukkan serapan khas dari
gugus –OH dengan pita yang melebar dan kuat. 6 Gugus C-H alifatik pada bilangan
gelombang 2924 cm-1 , gugus C=O dengan puncak tajam pada bilangan gelombang 1714
cm-1 dan gugus C-O pada bilangan gelombang 1055 cm-1 . Sedangkan pada spektrum IR
dari nanopartikel emas hasil reduksi menggunakan ekstrak daun belimbing wuluh
memperlihatkan serapan pada bilangan gelombang 3379 cm-1 , 2916 cm-1 1766 cm-1 ,
1047 cm-1 yang menunjukkan gugus –OH, C-H alifatik, gugus C=O dan C-O. Pergeseran
bilangan gelombang terlihat jelas antara ekstrak daun belimbing dan nanopartikel emas.
Pergeseran bilangan gelombang menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara gugus
fungsi dengan nanopartikel emas. Gugus yang terkandung pada ekstrak daun belimbing
wuluh seperti pada gugus yang dimiliki oleh senyawa tanin. Analisis ekstrak daun
menunjukkan serapan pada bilangan gelombang 3410 cm -1 yang menunjukkan serapan
gugus –OH, sedangkan pada bilangan gelombang 1600-2000 cm-1 menunjukkan serapan
yang spesifik gugus fungsi tetrasubtitusi, C=O, aromatik dan C-O pada bilangan
gelombang 1714 cm-1 , 1411 cm-1 dan 1055 cm-1.

5. Karakterisasi dengan PSA


Penentuan distribusi ukuran nanopartikel dilakukan dengan menggunakan Particle Size
Analyzer yang dianalisis pada saat nanopartikel berumur 4 hari karena proses
pengiriman sampel, sehingga mengakibatkan hasil ukuran nanopartikel besar
dikarenakan proses agregasi yang terjadi. Hasil pengukuran menggunakan PSA, hal ini
mengindikasikan keheterogenan ukuran partikel, adapun ukuran rata-rata yang
diperoleh yaitu 1899,1 nm dengan PI sebesar 0,734. Semakin kecil nilai PI maka distribusi
ukuran partikel semakin baik karena nilai PI memperlihatkan distribusi ukuran
nanopartikel yang terdispersi pada nanopartikel emas, hal ini memperlihatkan
ketidakhomogenan ukuran partikel, berdasarkan pengamatan PSA mengindikasikan
nanopartikel emas mendekat satu sama lain dan beragregasi.

IV.3. Aplikasi

Sama halnya dengan CNT, nanopartikel emas memiliki peran penting dalam perkembangan
nanoteknologi kanker. Nanopartikel emas telah diteliti di berbagai bidang untuk pengaplikasiannya
pada in vitro and in vivo imaging, cancer therapy, dan drug and gene delivery.
1. Cell Imaging
Sifat optik dari nanopartikel emas telah memungkinkan dilakukanya cell imaging dengan
berbagai mekanisme yang kontras. Keuntungan dari penggunaan nanopartikel emas dalam
imaging adalah tidak ada photobleaching, yang biasanya ditemukan pada fluorophore
lainnya dan memiliki toksisitas yang lebih rendah daripada quantum dots. Namun,
kekurangannya adalah sinyal optik nanopartikel emas tidak sekuat beberapa fluorescent
dyes atau quantum dots tertentu dan karakteristik quantum dots jauh lebih unggul dalam
kasus berbasis sel.
2. In Vivo Imaging
Spektroskopi Raman adalah teknik imaging berbasis agen kontras nanopartikel emas yang
paling menjanjikan. Spektrum Raman dan gambar Raman dari molekul metilen biru
teradsorpsi sebagai satu lapisan pada gold nanospheres yang berguna untuk mempelajari
sifat dari suatu plasmon. Teknik ini memiliki potensi yang signifikan untuk imaging biomedis
dari suatu subjek hidup. Namun, harus diingat bahwa optical imaging pada tikus tidak dapat
langsung ditingkatkan ke pencitraan in vivo pada tubuh manusia karena terbatasnya
kemampuan penetrasi jaringan dari sinyal optis. Ke depannya, Surface-enhanced Raman
Spectroscopy (SERS) nanoparticles dengan daya serap gelombang yang berbeda di wilayah
Near-Infrared, diharapkan dapat memungkinkan multiplexed imaging dari banyak penanda
tumor secara bersamaan. Sebelum teknologi tersebut dapat menjadi kenyataan, dibutuhkan
perkembangan pada sistem imaging dan modifikasi nanopartikel SERS terlebih dahulu.
Gambar 6. Multiplexed in vivo Raman imaging using SERS nanoparticles.
Sumber: Keren S, Zavaleta C, Cheng Z, et al. 2008.
Noninvasive molecular imaging of small living subjects using Raman spectroscopy. Proc Natl Acad Sci
USA, 105:5844–9.

3. Cancer Therapy
Terapi kanker menggunakan nanopartikel emas seringkali memanfaatkan sifatnya yang unik,
sehingga kebanyakan dari terapi kanker berbasis nanopartikel emas yang dipelajari
menggunakan photothermal therapy untuk menghancurkan sel kanker atau jaringan tumor.
Ketika disinari dengan laser yang memiliki panjang gelombang yang sesuai, nanopartikel
emas yang ditargetkan dapat membunuh bakteri dan sel kanker. Nanopartikel emas dapat
menghasilkan panas hingga 70-80°C dengan penyerapan sinar dan dapat membawa hingga
150 antibodi ketika difungsionalisasikan dengan polietilen glikol.
Penelitian telah membuktikan bahwa nanoshell emas yang disinari oleh near infrared dapat
memberikan peningkatan temperatur yang signifikan sehingga dapat menghancurkan sel
kanker. Pada suatu penelitian dilakukan uji dengan menggunakan dosis nanoshell yang
berbeda, yaitu 8,5 μL/g dan 7 μL/g. Perbedaan yang sedikit ini memberikan pengaruh yang
sangat signifikan dalam pembunuhan sel tumor, pada dosis yang lebih kecil (7 μL/g) tidak
dapat menghancurkan tumor dan hanya menghentikan pertumbuhan tumor selama 21 hari.
Maka itu, perbedaan dosis pada hal ini membutuhkan studi lebih lanjut.

Selain digunakan pada photothermal therapy, nanopartikel emas juga dapat digunakan pada
metode terapi lainnya seperti photodynamic therapy karena dapat meningkatkan
antiproliferasi dan apoptosis dari sel manusia ketika difungsionalisasikan dengan
Phthalocyanine. Studi terbaru menunjukkan bahwa peningkatan radiosensitivitas dapat
dicapai dengan peningkatan absorbsi dari radiasi pengion oleh nanopartikel emas sehingga
dapat menyebabkan kerusakan pada DNA untai tunggal maupun rangkap. Hal ini membuka
potensi untuk menggunakan nanopartikel emas untuk menyerang DNA sel kanker dan
perawatan radioterapi dengan pancaran eksternal.
Gambar 7. Gold nanoshells can destroy cancer cells both in vitro and in vivo. a. Cells incubated with
gold nanoshells can be killed by NIR light (dark area). b. Temporal plots of maximum temperature
change of NIR-irradiated tumors with and without nanoshells at depths of 2.5 mm and 7.3 mm
beneath the tissue surface. c. Gross pathology after in vivo treatment with nanoshells and NIR laser
revealed hemorrhaging and loss of tissue birefringence beneath the apical tissue surface.
Hematoxylin/eosin (H&E) staining within the same plane confi rms tissue damage within the area
that contains nanoshells.
Sumber: Hirsch LR, Stafford RJ, Bankson JA, et al. 2003b. Nanoshell-mediated near-infrared thermal
therapy of tumors under magnetic resonance guidance. Proc Natl Acad Sci USA, 100:13549–54.

4. Drug Delivery
Nanopartikel emas yang difungsionalisasikan dengan PEG dan tumor necrosis factor-alpha
(TNF-α) dapat memaksimalkan kerusakan pada jaringan tumor dan meminimalkan toksisitas
sistemik yang disebabkan oleh TNF-α. Selain itu, pengiriman obat yang diatur oleh
photothermal juga dapat dilakukan dengan fungsionalisasi nanopartikel emas dengan
hydrogel. Penyinaran pada gelombang tertentu dapat menyebabkan runtuhnya hydrogel,
sehingga menyebabkan peningkatan pelepasan obat, sementara itu laju pelepasan obat
bergantung pada berat molekul dari molekul terapeutik.

Penggunaan nanopartikel emas sebagai pengirim obat yang dikombinasikan dengan


kemampuan intrinsiknya pada terapi kanker dan imaging harus dieksplorasi lebih lanjut di
masa depan. Pemilihan tipe nanopartikel emas yang digunakan pada pengiriman obat juga
masih diperdebatkan karena perbedaan ukuran dan dimensi dapat menyebabkan perbedaan
efek dan sifat. Maka itu, untuk melakukan pengobatan dengan nanopartikel emas pada
tubuh manusia masih dibutuhkan banyak penelitian.
Untuk memaksimalkan fungsi nanopartikel emas pada pengiriman obat, imaging, maupun
terapi, nanopartikel ini harus dibuat efektif, spesifik, dan dapat diarahkan ke suatu organ
spesifik atau tempat penyakit tanpa terjadi perubahan. Meskipun sekarang penargetan
spesifik in vivo belum dapat dilakukan untuk pengiriman obat melalui nanopartikel berbasis
emas, tetapi pengaplikasiannya dalam hal ini memiliki potensi yang sangat besar.

V. Dampak Negatif Penggunaan Nanoteknologi

Partikel nano sangat kecil sehingga dapat masuk melalui sebuah membran sel tanpa diketahui
namun dapat membawa cukup besar materi asing di antar untaian DNA. Tidak ada studi kesehatan
jangka panjang terhadap masalah ini, namun para peneliti telah mengamati kanker otak pada ikan
yang mencernakan sejumlah kecil partikel karbon nano. Tikus yang menghirup karbon nanotube
memiliki masalah pada paru-parunya.

Kemampuan self replicant pada teknologi nano, contohnya dibuat produk untuk membasmi virus
pada tubuh manusia contohnya kanker namun bila antivirus ini tidak terkontrol untuk sifat self
replicant maka dapat membahayakan tubuh manusia yang memakainya.

Selain itu ada juga bahaya dari debu atau kumpulan serat partikel yang berukuran nanometer yang
dapat membahayakan kesehatan manusia. Teknologi nano terapan yang kini sudah dipasarkan,
kebanyakan berbentuk debu. Dalam hal ini perhatian khusus diarahkan pada partikel nano
berbentuk pipa dari unsur karbon (CNT). Partikel ini dapat diolah menjadi serat yang di bawah
mikroskop terlihat amat mirip dengan serat asbes. Debu yang sangat halus terutama membahayakan
kesehatan manusia, karena dapat masuk ke saluran pernafasan terbawah bahkan sampai ke
gelembung paru-paru. Debu ini juga dapat memicu kanker bahkan dapat membentuk tumor.

VI. Kesimpulan

Penggunaan carbon nanotubes dan nanopartikel emas dalam perawatan kanker memiliki banyak
sekali kelebihan karena dapat digunakan dalam berbagai bidang pada perawatan kanker. Keduanya
dapat menjadi agen kontras, agen terapi kanker, dan agen pembawa obat. Penggunaan
nanomaterial ini juga menghasilkan efek samping yang minimal bila dibandingkan dengan teknologi
konvensional saat ini. Ukuran yang kecil justru memberikan kedua bahan ini karakteristik yang unik
dengan berbagai kelebihannya.

Meski telah dilakukan banyak penelitian dan hasil-hasil yang memuaskan dalam melawan tumor,
namun masih dibutuhkan banyak studi lebih lanjut sebelum teknologi ini dapat digunakan untuk
pengobatan manusia. Salah satu tantangan utama dan keterbatasan yang perlu ditangani adalah
potensi toksisitas pada jangka panjang. Banyak usaha yang telah dilakukan untuk menyelesaikan
permasalahan ini, namun belum ditemukan metode yang paling tepat untuk menciptakan hasil yang
stabil dan non-toksik.

Dengan alasan yang telah dijelaskan diatas, kedua bahan ini berpotensi menjadi alat nano-
theranostic untuk perawatan kanker yang merupakan gabungan kemampuan diagnostik dan terapi
dalam satu agen nanometris, dan masih dapat dikembangkan lagi di masa depan.
DAFTAR PUSTAKA

Amirudin, M. Anas dan Titik Taufikurrohmah (2013). Synthesis and Characterization of Gold
Nanoparticle Using a Matrix of Bentonite in Scavenging Free Radicals in Cosmetics.
Surabaya : FMIPA Universitas Negeri Surabaya

Cai, W., Gao, T., Hong, H., & Sun, J. (2008). Applications of gold nanoparticles in cancer
nanotechnology. Nanotechnology, Science and Applications.

Diagnostic Imaging. (2018, Mei 12). Retrieved from Enclyclopaedia Britannica:


https://www.britannica.com/science/diagnostic-imaging

Fauzi, Y. (2014). Dampak Penggunaan Teknologi Nano Bagi Kehidupan Manusia. Yogyakarta.

Herizchi, Roya (2014). Current Methods for Synthesis of Gold Nanoparticles. Informa Health Care
USA, Inc

Jain, S., HIRST, D. G., & O'Sullivan, J. M. (2012). Gold nanoparticles as novel agents for cancer
therapy. The British Journal of Radiology.

Kishore, S. P., Narasimham, N. S., & Prasad, A. R. (2014). Scope of Nanotechnology in Radiation
Treatment Planning. Elsevier.

Mater, J. (2011). Methods for Carbon Nanotubes Synthesis. The Royal Society of Chemistry

Misra, R., Acharya, S., & Sahoo, S. K. (2017). Cancer nanotechnology: application of nanotechnology
in cancer therapy. Elsevier.

Octaviana, Yenni. Sintesis Nanopartikel Emas dengan Bioreduktor Ekstrak Daun Belimbing Wuluh
(Averrhoa Bilimbi L) Yang Dimodifikasi 2,4,6-Tritiol-1,3,5-Triazin Untuk Sensor Melamin.
Makassar : Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin

Sanginario, A., Miccoli, B., & Demarchi, D. (2017). Carbon Nanotubes as an Effective Opportunity for
Cancer Diagnosis and Treatment. biosensors.

Suhadi, Andry Nurta (2009). Karbon Nanotube. Padang : Universitas Andalas

Yeh, Yi-Cheun, et. al. (2012). Gold Nanoparticles : Preparation, Properties and Applications in
Bionanotechnology. The Royal Society of Chemistry