Anda di halaman 1dari 24

ANALISIS PERHITUNGAN

PENDAPATAN NASIONAL UNTUK

Jens Martensson
2 SEKTOR
PAIDI HIDAYAT

1
PENDAHULUAN
 Perekonomian suatu negara digerakkan oleh pelaku-pelaku
kegiatan ekonomi.
 Pelaku kegiatan ekonomi secara umum dikelompokkan
kepada empat pelaku, yaitu rumah tangga (C), perusahaan

Jens Martensson
swasta (I), pemerintah (G) dan ekspor-impor (X – M).
 Untuk mempermudah dalam menganalisis pendapatan
nasional, maka pada tahap awal dilakukan analisis
pendapatan nasional dua sektor. Dalam pendekatan ini,
perekonomian diasumsikan hanya digerakkan oleh 2 (dua)
orang pelaku kegiatan ekonomi, yaitu rumah tangga (C) dan
swasta (I). 2
ANALISIS PENDAPATAN 2 SEKTOR
 Dalam perekonomian, sektor swasta (I) merupakan satu-
satunya produsen barang dan jasa. Proses produksi
dilaksanakan dengan menggunakan faktor-faktor
produksi yang dimiliki oleh rumah tangga konsumen (C).

Jens Martensson
 Faktor produksi tersebut antara lain tanah, tenaga kerja,
modal dan entrepreneurship (kewirausahaan).
 Penghasilan yang diperoleh rumah tangga dari menjual
faktor-faktor produksi yang terdiri dari sewa (tanah),
bunga (kapital), upah (tenaga kerja) dan profit
(entrepreneurship). 3
ARUS MELINGKAR 2 SEKTOR
Dalam menganalisis pendapatan
Sewa, bunga, upah dan profit nasional 2 sektor, terdapat
beberapa asumsi penting yang
perlu diperhatikan, antara lain :
tanah, kapital, tenaga kerja dan entrepreneurship 1. Upah uang dan harga dianggap

Jens Martensson
sebagai variabel eksogen.
Rumah Tangga Swasta 2. Tingkat suku bunga dianggap
tetap.
Barang dan jasa 3. Tidak terdapat sektor
pemerintah sehingga
pendapatan nasional dan
Pengeluaran untuk membeli barang dan jasa pendapatan disposibel adalah
sama (Yd = Y).
4. Sektor luar negeri (x – m)
4
diabaikan.
ARUS MELINGKAR 2 SEKTOR
 Dalam berkonsumsi, rumah
Sewa, bunga, upah dan profit
tangga konsumen tidak
sepenuhnya mengeluarkan
tanah, kapital, tenaga kerja dan entrepreneurship penghasilannya untuk
membeli barang dan jasa

Jens Martensson
Rumah Tangga Swasta
karena sebagian dari
pendapatannya ditabungkan.
Barang dan jasa
 Apabila keadaan ini
digambarkan dalam arus
Pengeluaran untuk membeli barang dan jasa melingkar dalam
perekonomian 2 sektor, maka
Tabungan Investasi ada tambahan, yakni
tabungan (S) dan investasi (I). 5
ANALISIS PENDAPATAN 2 SEKTOR
 Dalam menganalisis pendapatan nasional 2 sektor, kita
memiliki beberapa asumsi, antara lain :
1. Investasi adalah investasi yang autonomous, yaitu tidak
dipengaruhi oleh variabel lainnya.

Jens Martensson
2. Konsumsi adalah fungsi linear dan positip dari tingkat
pendapatan disposable (Yd).
3. Tabungan juga memiliki fungsi linear dan positip dari
tingkat pendapatan disposable (Yd).
4. Tidak ada pajak tidak langsung, maka pendapatan
nasional (Y) sama dengan agregat pendapatan
disposibel (Y = Yd). 6
ANALISIS PENDAPATAN 2 SEKTOR
 Keseimbangan pendapatan nasional terjadi pada saat
output barang dan jasa (aggregate supply, AS) sama dengan
permintaan agregat (aggregate demand, AD) untuk barang
dan jasa, sehingga :

Jens Martensson
Y=C+I
 Sisi sebelah kiri sama dengan adalah pendapatan nasional
atau output riil barang dan jasa, yang menunjukkan sisi
penawaran agregat (AS) dalam perekonomian.
 Sedangkan sisi sebelah kanan menunjukkan sisi
permintaan agregat (AD) dari perekonomian. 7
ANALISIS PENDAPATAN : FUNGSI KONSUMSI
 Keynes menekankan bahwa tingkat pengeluaran konsumsi oleh
rumah tangga bervariasi secara langsung dengan tingkat
pendapatan disposible dari rumah tangga tersebut.
 Hubungan antara konsumsi dan pendapatan inilah yang dikenal

Jens Martensson
sebagai fungsi konsumsi dan model secara umum yakni :
C = a + b Yd ; a > 0 dan 0 < b < 1
dimana :
C adalah konsumsi
a adalah konsumsi otonom (autonomous consumption)
b adalah kecenderungan mengkonsumsi marginal (MPC)
Yd adalah pendapatan disposible 8
ANALISIS PENDAPATAN : FUNGSI KONSUMSI
 a adalah pengeluaran konsumsi otonom (autonomous consumption)
yaitu pengeluaran konsumsi yang tidak bergantung pada tingkat
pendapatan, tetapi lebih ditentukan oleh ekspektasi ekonomi dari
konsumen, standar hidup yang diharapkan, distribusi umur, lokasi

Jens Martensson
geografis dan lainnya.
 Pengeluaran konsumsi otonom (a) memiliki nilai positif walaupun
tingkat pendapatan nol (Yd = 0).
 b adalah kecenderungan mengkonsumsi marginal (marginal
propensity to consume, MPC) merupakan perbandingan antara
perubahan dalam konsumsi dengan perubahan dalam pendapatan
dan memiliki nilai antara 0 dan 1. C
b  MPC 
Yd 9
ANALISIS PENDAPATAN : FUNGSI KONSUMSI
Fungsi konsumsi yang berbentuk linier memiliki beberapa
implikasi, yakni :
1. Kecenderungan mengkonsumsi marginal (MPC) adalah

Jens Martensson
konstan selama rentang tingkat pendapatan yang relevan.
2. Kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (APC) adalah lebih
besar daripada kecenderungan mengkonsumsi marginal
(MPC) atau APC > MPC.
3. Kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (APC) akan
semakin kecil atau turun kalau tingkat pendapatan
disposible (Yd) mengalami kenaikan. 10
ANALISIS PENDAPATAN : FUNGSI KONSUMSI

Keseimbangan
terjadi pada
saat fungsi C

Jens Martensson
memotong garis
45 derajat yaitu
dititik E0,
artinya pada
titik E0 tersebut
besarnya C = Y
(C0 = Y0).
11
ANALISIS PENDAPATAN : FUNGSI SAVING
 Fungsi tabungan adalah fungsi yang menghubungkan tingkat
tabungan (S) dengan tingkat pendapatan disposible (Yd) atau
pendapatan disposible yang tidak digunakan atau dibelanjakan untuk
konsumsi sehingga akan ditabung (S).

Jens Martensson
Dimana :
Yd  C  S
S = tabungan
S  Yd  C C = konsumsi
a = tabungan otonom
S  Yd  (a  b Yd ) Yd = pendapatan disposible
1 – b = kecenderungan menabung
S  Yd  a - b Yd marginal (MPS) dimana
S  - a  (1 - b)Yd nilai MPS antara 0 dan 1
atau 0 < MPS < 1
12
ANALISIS PENDAPATAN : FUNGSI SAVING
 MPS (1 – b) adalah perbandingan antara perubahan dalam
tabungan dengan perubahan dalam pendapatan dan memiliki
nilai positif. S
MPS 
Yd

Jens Martensson
 Kecenderungan menabung rata-rata (average propensity to save
= APS) merupakan perbandingan antara total tabungan dengan
pendapatan. S
APS 
Yd
 Tabungan otonom (-a) merupakan konsumsi otonom yang
negatif, dimana jika pendapatan disposible turun sampai nol
maka konsumsi otonom (a) akan dibelanjakan dengan pinjaman. 13
ANALISIS PENDAPATAN : FUNGSI SAVING
Konstanta (-a)
digambarkan pada
sumbu vertikal di
bawah titik asal (nol)
karena nilainya yang

Jens Martensson
negatif. Artinya bila
pendapatan sama
dengan konsumsi
berarti jumlah
tabungan sama
dengan nol.
Y=C+S
S=Y-C 14
ANALISIS PENDAPATAN : FUNGSI INVESTASI
 Dalam suatu perekonomian tidak hanya ada sektor rumah
tangga (C) tetapi juga terdapat sektor perusahaan yang juga
meminta barang dan jasa yang disebut dengan permintaan
investasi (I).

Jens Martensson
 Investasi dibedakan menjadi investasi tetap (autonomous
investment) dan investasi dipacu (induced investment).
 Investasi tetap adalah investasi yang tidak tergantung pada
tinggi rendahnya tingkat pendapatan nasional, I = I0.
 Investasi dipacu berarti tingkat investasi merupakan fungsi
linear dari tingkat pendapatan nasional sehingga investasi
bergantung pada tingkat pendapatan nasional. 15
ANALISIS PENDAPATAN : FUNGSI INVESTASI
 Dalam analisis ekonomi makro 2 sektor maka investasi
diasumsikan sebagai variabel eksogen artinya nilainya dianggap
konstan dan hanya dipengaruhi oleh variabel-variabel yang
berada diluar model yang digunakan.

Jens Martensson
 Sebagai variabel eksogen, fungsi investasi dapat ditulis sebagai
berikut :
I = I0 ; I0 > 0
 Dimana I menunjukkan pengeluaran investasi total dan I0
menunjukkan pengeluaran investasi otonom yaitu investasi
yang besar kecilnya tidak tergantung pada pendapatan
nasional. 16
ANALISIS PENDAPATAN : FUNGSI INVESTASI
Untuk investasi (I)
menunjukkan pengeluaran
investasi total dan I0
menunjukkan pengeluaran

Jens Martensson
investasi otonom yaitu
investasi yang besar
kecilnya tidak tergantung
pada pendapatan
nasional.
Menurut Joseph A. Schumpeter, Investasi otonom (I) dipengaruhi oleh
perkembangan-perkembangan yang terjadi di dalam jangka panjang,
seperti kemajuan teknologi dan penemuan sumber-sumber daya. 17
PENENTUAN PENDAPATAN KESEIMBANGAN

 Secara umum, ada 2 pendekatan dalam


menentukan tingkat pendapatan keseimbangan,
yaitu :

Jens Martensson
1. Pendekatan Penawaran Aggregat (AS) –
Permintaan Aggregat (AD) atau Pendekatan
Pengeluaran (Y = C + I).
2. Pendekatan Tabungan – Investasi (I = S) atau
Pendekatan Injeksi – Kebocoran.
18
PENENTUAN PENDAPATAN KESEIMBANGAN
Pendekatan Pengeluaran (AS = AD)
 Untuk pendekatan AS = AD, dimana penawaran aggregat (AS)
menggambarkan output barang dan jasa dari suatu negara, sedangkan
permintaan aggregat (AD) menggambarkan permintaan masyarakat
terhadap barang dan jasa tersebut agar pendapatan berada pada tingkat

Jens Martensson
keseimbangan.
 Secara matematis, tingkat pendapatan keseimbangan diperoleh dengan
mensubstitusikan fungsi konsumsi dan fungsi investasi ke dalam syarat
keseimbangan : AS = AD
 Dimana penawaran aggregat (AS) menggambarkan output (Y) dan
permintaan aggregat (AD) menggambarkan permintaan masyarakat
terhadap barang dan jasa (C + I), sehingga syarat keseimbangan
dinyatakan : Y = C + I dan disubstitusikan menjadi : Y  1 (a  I ) 19
0
1- b
PENENTUAN PENDAPATAN KESEIMBANGAN
Pendekatan Injeksi – Kebocoran (I = S)
 Keseimbangan pendapatan nasional dapat ditentukan dengan
menggunakan pendekatan tabungan dan investasi (S = I), yaitu
melalui pengertian bahwa keseimbangan pendapatan nasional

Jens Martensson
tercapai bila tingkat tabungan (S) sama besarnya dengan tingkat
investasi (I).
 Tabungan (S) merupakan kebocoran dalam aliran pendapatan
nasional sedangkan investasi merupakan injeksi (I) dalam aliran
pendapatan nasional, sehingga apabila kebocoran (S) sama dengan
injeksi (I) maka pendapatan nasional akan seimbang. Hal ini dapat
dinyatakan sebagai berikut :
Y=C+I ; Y = C + S sehingga S = I 20
PENENTUAN PENDAPATAN KESEIMBANGAN
Dengan adanya
investasi atau
pertambahan
konsumsi, ternyata
pendapatan nasional

Jens Martensson
meningkat lebih besar
daripada peningkatan
dalam permintaan
aggregat sebesar angka
pengganda (multiplier
effect) dikalikan dengan
perubahan dalam
permintaan aggregat
tersebut. 21
CONTOH ANALISIS PENDAPATAN 2 SEKTOR
 Fungsi konsumsi adalah C = 100 + 0,8 Y. Sementara itu fungsi investasi
adalah I = 50, berapakah keseimbangan pendapatan nasional?
Jawab :
a. Pendekatan Pengeluaran b. Pendekatan Injeksi-Kebocoran

Jens Martensson
Y CI C  100  0,8Y
Y  100  0,8Y  50 S  100  0,2Y
Y  0,8Y  150 S I
0,2Y  150  100  0,2Y  50
Yeq  750 0,2Y  150
Yeq  750
CONTOH ANALISIS PENDAPATAN 2 SEKTOR
Y= E  Fungsi konsumsi adalah C = 100 +
E
Y= C + I 0,8 Y. Sedangkan fungsi investasi
C = 100 + 0,8 Y
sebesar I = 50. Berapakah
keseimbangan pendapatan nasional?
Jawab :

Jens Martensson
c. Besarnya konsumsi (C) :
C  100  0,8Ye
C  100  0,8 (750)
C  100  600  700
0 500 750 Y

S = - 100 + 0,2 Y D. Besarnya tabungan (S) :

50 I S  - 100  0,2Ye
0
500 750 Y
S  - 100  0,2 (750)
S  - 100  150
23

S  50  I
CONTOH ANALISIS PENDAPATAN 2 SEKTOR
1. Diketahui fungsi konsumsi adalah C = 100 + 0,75 Y.
Sementara itu fungsi investasi adalah I0 = 50. Berapakah
keseimbangan pendapatan nasional dengan pendekatan
pengeluaran dan pendekatan injeksi-kebocoran serta

Jens Martensson
besarnya konsumsi (C) dan tabungan (S) dalam
keseimbangan.
2. Diketahui fungsi konsumsi adalah C = 300 + 0,9 Y.
Sementara itu fungsi investasi adalah I0 = 100. Berapakah
keseimbangan pendapatan nasional dengan pendekatan
pengeluaran dan pendekatan injeksi-kebocoran serta
besarnya konsumsi (C) dan tabungan (S) dalam
keseimbangan.