Anda di halaman 1dari 4

Dunia untuk Akhirat

SEJATINYA setiap manusia menyadari bahwa hidupnya di dunia akan bertemu titik akhir berupa
kematian. Saat kematian itu tiba, sirnalah segala kenikmatan hidup. Tinggallah manusia
sebatang kara, terbujur kaku di dalam kubur.

Namun, rasio manusia tidak kehilangan cahaya kala berbicara kematian. Sebab, ternyata
kematian adalah satu jalan untuk manusia dapat terangkat semua hijab pandangan mata
hatinya terhadap hakikat dari kebenaran dan kehidupan itu sendiri.

Oleh karena itu, Islam memberikan penjelasan bahwa kehidupan di dunia ini laksana pertanian
menuju akhirat. Siapa yang menanam kebaikan ia akan memperoleh kebaikan dan sebaliknya.
Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin berkata, “Tidaklah mungkin untuk menghasilkan bibit
(tanaman) ini kecuali di dunia, tidak ditanam, kecuali pada kalbu dan tidak dipanen kecuali di
akhirat.”

Kemudian Al-Ghazali mengutip hadits Nabi, “Kebahagiaan yang paling utama adalah panjang
umur di dalam taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Dalam kata yang lain, jika ditanya, siapa manusia yang beruntung dan bahagia, adalah yang
menjadikan dunia sebagai ladang beramal, “bercocok tanam” untuk kebaikan akhiratnya.
Dalam hal ini, ayat Al-Qur’an sangat eskplisit menjelaskan.

ُ‫ازينُه‬ِ ‫ت َم َو‬ ْ َ‫فَأ َ َّما َمن ثَقُل‬


ِ ‫فَه َُو فِي ِعي َش ٍة ر‬
‫َّاضيَ ٍة‬
ُ‫ازينُه‬ِ ‫ت َم َو‬ ْ َّ‫َوأَ َّما َم ْن خَ ف‬
ٌ‫َاويَة‬ ُ
ِ ‫فَأ ُّمهُ ه‬
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam
kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah.” (QS. Al Qari’ah [101]: 6-9).

Dengan demikian sebenarnya cukup sederhana memahami tentang bagaimana semestinya


kaum Muslimin memandang kehidupan dunia, yakni bagaimana amal kebaikannya lebih unggul
daripada amal keburukannya.

Terlebih secara gamblang Allah juga telah menyebutkan bahwa diciptakannya kehidupan dan
kematian ini hanyalah untuk menguji kehidupan umat manusia, dan mengetahui siapa yang
terbaik amalnya.

‫ق ْال َموْ تَ َو ْال َحيَاةَ لِيَ ْبلُ َو ُك ْم أَيُّ ُك ْم أَحْ َسنُ َع َمالً َوهُ َو ْال َع ِزي ُز ْال َغفُو ُر‬
َ َ‫الَّ ِذي خَ ل‬

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih
baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).

Memahami hal tersebut, hati kita akan semakin terang kala melihat sosok para sahabat
menjadikan dunia sebagai bekal untuk akhirat.

Sebut saja pebisnis ulung masa Nabi, Abdurrahman bin Auf, seluruh hasil dari perniagaannya ia
salurkan untuk menyantuni para veteran perang Badar, para janda Rasulullah, dan memberi
makan anak yatim dan fakir miskin di Madinah.

Tidak saja mereka yang diberi Allah rezeki berupa harta, yang memiliki potensi pada sisi lainnya
dan dengan kekuatan apapun yang mereka miliki, mereka tidak pernah lemah, loyo, apalagi
letoy dalam mengisi kehidupan dunia dengan kebaikan demi kebaikan.

Abdullah bin Amr misalnya, sejak awal menjadi Muslim, ia telah memusatkan perhatiannya
terhadap Al-Qur’an. Setiap turun ayat, ia langsung menghafalkan dan berusaha keras untuk
memahaminya, hingga setelah semuanya selesai dan sempurna, ia pun telah hafal seluruhnya.
Kemudian dari sisi kecerdasan intelektual, lihatlah Muadz bin Jabal. Kecerdasan otak dan
keberaniannya mengemukakan pendapat dikenal oleh seluruh penduduk Madinah. Sampai-
sampai dikatakan Mu’adz hampir sama dengan Umar bin Khathab.

Namun kecerdasannya bukan untuk merengkuh keuntungan pribadi dan menghimpun


kekayaan dunia. Tetapi membela agama Allah. Hal ini terbukti kala Rasulullah Shallallahu alayhi
wasallam hendak mengirimnya ke Yaman. Beliau bertanya, “Apa yang menjadi pedomanmu
dalam mengadili sesuatu, hai Mu’adz?”

“Kitabullah,” jawab Mu’adz.

“Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?”, tanya Rasulullah pula.
“Saya putuskan dengan Sunnah Rasul.”

“Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?”

“Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia,” jawab Muadz.
Maka berseri-serilah wajah Rasulullah. “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq
kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah,” sabda beliau.

Kemudian, perhatikanlah sosok Nabi yang membuat Abdullah bin Amr terkagum-kagum dengan
amalannya yang nampaknya sederhana, sepele, ternyata Nabi menyebutnya malah membuat
lelaki itu tercatat sebagai ahli Surga.

Abdullah bin Amr adalah sosok yang penasaran dengan amalan lelaki itu. Setelah bermalam di
rumah lelaki itu dan meneliti amalan yang dikerjakan, nihil, Abdullah tak menemukan amalan
khusus apapun.

Maka pada saat hari terakhir, dimana ia akan berpamitan, kepada pria itu Abdullah berkata,
“Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan ayahku.
Tujuanku menginap di rumahmu adalah karena aku ingin tahu amalan yang membuatmu
menjadi penghuni surga, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. Aku bermaksud dengan
melihat amalanmu itu aku akan menirunya supaya bisa menjadi sepertimu. Tapi, ternyata kau
tidak terlalu banyak beramal kebaikan. Apakah sebenarnya hingga kau mampu mencapai
sesuatu yang dikatakan Rasulullah sebagai penghuni surga?” ucapnya penuh penasaran.

Laki-laki itu pun tersenyum dan menjawab ringan, “Aku tidak memiliki amalan, kecuali semua
yang telah engkau lihat selama tiga hari ini.” Jawabannya itu tak memuaskan hati Abdullah ibn
Amr.

Namun, ketika Abdullah melangkah keluar dari rumah, laki-laki tersebut memanggilnya. Ia
berkata kepada Abdullah, “Benar, amalanku hanya yang engkau lihat. Hanya saja, aku tidak
pernah berbuat curang kepada seorang pun, baik kepada Muslimin ataupun selainnya. Aku juga
tidak pernah iri ataupun hasad kepada seseorang atas karunia yang telah diberikan Allah
kepadanya.”

Mendengarnya perkataan tersebut, takjublah Abdullah bin Amr bin Ash. Ia yakin sifat tak
pernah iri, dengki, dan hasad membuat pria itu masuk Surga.

Subhanalloh, demikianlah orang-orang terdahulu mengisi kehidupannya di dunia. Mereka


fokus, bersungguh-sungguh beramal dengan apa yang mereka mampu lakukan dengan niat
hanya ingin mendapat ridha Allah, sehingga perangai, perilaku dan orientasi hidup mereka di
dunia adalah Allah.

Semoga Allah bimbing kita semua menjadi hamba-Nya yang mampu menjadikan dunia sebagai
tempat berladang untuk kebaikan dan kebahagiaan kita di akhirat kelak. Sungguh, hanya Islam
yang bisa menjelaskan apa yang terjadi setelah kematian menimpa umat manusia. Maka
janganlah ada keraguan untuk menyiapkan diri pada kebaikan akhirat yang pasti akan datang.
Wallahu a’lam.*