Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

“KONSEP MOL STOIKIOMETRI REAKSI KIMIA

DAN REAKSI KIMIA DALAM LARUTAN”

Makalah ini disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah


Kimia Dasar
Dosen Pengampu: Nasrul Hakim, M.Pd

Disusun Oleh Kelompok 3

Kelas A

Anita :1801060006

Nurlita Kumala Ningrum :1801061026

RizaErviana :1801062011

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN


TADRIS PENDIDIKAN BIOLOGI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI METRO
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik meskipun jauh dari kesempurnaan. Shalawat serta salam semoga selalu
tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW yang telah memberikan
petunjuk kepada umat manusia dimuka bumi, sehingga kita menjadi muslim yang
beriman secara kaffah. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini yang berjudul “Konsep Mol
Stoikiometri Reaksi Kimia Dan Reaksi Kimia Dalam Larutan”.

Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu
tugas kelompok pada mata kuliah Kimia Dasar di Institut Agama Islam Negeri
Metro. Serta membantu mahasiswa ataupun pembaca untuk menambah wawasan
tentang Konsep Mol Stoikiometri Reaksi Kimia Dan Reaksi Kimia Dalam
Larutan. Akhir kata, kami menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah
ini. Namun, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun
khususnya dari dosen pengampu bapak Nasrul Hakim, M. Pd. Serta para
pembaca guna perbaikan dalam pembuatan makalah selanjutnya. Dan semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Metro, 07 Maret 2019

Penulis

DAFTAR ISI

ii
HALAMAN JUDUL.....................................................................................i

KATA PENGANTAR..................................................................................ii

DAFTAR ISI ................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.............................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................1
C. Tujuan...........................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep Mol..................................................................................2
B. Stiokiometri..................................................................................4
C. Reaksi Kimia Dalam Larutan.......................................................8

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan.................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seperti yang kita ketahui bahwa air adalah salah satu senyawa paling
sederhana dan paling dijumpai serta paling penting. Bangsa Yunani kuno
menganggap air adalah salath satu dari empat unsur penysun segala sesuatu
(disamping, tanah, udara, dan api). Bagian terkecil daria air adalah molekul
air. Molekul adalah partikel yang sangat kecil, sehingga jumlah molekul
dalam segelas air melebihi jumlah halaman buku yang ada di bumi ini.
Stoikiometri behubungan dengan hubungan kuantitatif antar unsure
dalam satu senyawa dan antar zat dalam suatu reaksi. Istilah itu berasal dari
Yanani, yaitu dari kata stoicheion, yang berarti unsure dan mentron yang
artinya mengukur. Dasar dari semua hitungan stoikiometri adalah
pengetahuan tentang massa atom dan massa molekul. Oleh karena itu,
stoikiometri akan dimulai dengan membahasa upaya para ahli dalam
penentuan massa atom dan massa molekul.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Saja Konsep Mol ?
2. Bagaimana konsep Massa Atom Relative ( Ar) ?
3. Bagaiman konsep Molekul Relative ( Mr) ?
4. Bagaimana reaksi kimia dalam larutan ?
5. Bagaimana perbandingan stoikiometri ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep mol
2. Mengetahui lebih mendalam tentang stoikiometri yang kita temukan
dalam kehidupan.
3. Untuk mengetahui konsep massa atom relatif
4. Untuk mengetahui konsep molekul relatif

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Mol
Mol adalah suatu satuan jumlah zat yang digunakan dalam perhitungan
kimia. Mol dapat digunakan untuk mennyatakan jumlah partikel massa dan
volume suatu zat. Dalam periodik, dapat diketahui nomor massa yang
menyatakan massa atom relative suatu atom (Ar). Karena ukurannya sangat
kecil, untuk menentukan massa suatu atom digunakan atom unsure lain
sebagai pembanding, yaitu atom C yang nomor atomnya 12.
1. Massa Atom Relatif (AR)
Dalam perhitungan kimia tidak digunakan massa absolut tetapi
digunakan massa atom relatif (Ar). Massa atom relatif (Ar) adalah
perbandingan massa rata-rata satu atom suatu unsur terhadap 1/12 massa
atom 12C atau 1 sma (satuan massa atom) = 1,66 x 10-24 gram.

Contoh:

Ar H = 1,0080 sma dibulatkan 1

Ar C = 12,01 sma dibulatkan 12

Ar N = 14,0067 sma dibulatkan 14

Ar O = 15,9950 sma dibulatkan 16

Daftar massa atom relatif (Ar) dapat dilihat dalam tabel periodic.

2. Massa Molekul Relatif (Mr)

Massa molekul relatif (Mr) merupakan bilangan yang menyatakan


perbandingan massa satu molekul suatu senyawa terhadap 1/12 massa
atom 12C. Massa molekul realtif (Mr) sama dengan jumlah massa atom
relatif (Ar) dari semua atom penyusunnya.

2
Contoh:

Mr H2O = (2 x Ar H) + (1 X Ar O)

= (2 x 1) + (1 x 16)

= 18

Mr CO(NH2)2 = (1 x Ar C) + (1 x Ar O) + (2 x Ar N) + (4 x Ar H)

= (1 x 12) + (1 X 16) + (2 X 14) + (4 x 1)

= 60 3.

3. Mol (n)

Atom merupakan bagian terkecil yang menyusun suatu unsur,


sedangkan molekul merupakan bagian terkecil yang menyusun suatu
senyawa. Atom dan molekul selanjutnya disebut partikel elementer.
Satuan internasional untuk atom dan molekul adalah mol. Satu mol zat
adalah jumlah zat yang mengandung partikel elementer sebanyak
bilangan Avogadro (L), yaitu 6,02 x 1023. Jumlah mol dinyatakan
dengan lambang n.

1 mol unsure = 6,02 x 1023 atom unsur tersebut

1 mol senyawa = 6,02 x 1023 molekul senyawa tersebut

Jadi, jumlah partikel(N) = n x 6,02 x 1023 partikel/mol

sehingga 𝑛 = jumlah partikel : 6,02 x 1023partikel/mol

4. Massa Molar
Massa satu mol unsur atau massa satu mol senyawa disebut massa
molar. Massa satu mol unsur sama dengan massa atom relatif (Ar) atom
tersebut dalam gram, sedangkan massa satu mol senyawa sama dengan
massa molekul relatif (Mr) senyawa tersebut dalam gram.

Jadi, massa (gram) = n (mol) x Ar atau Mr (gram/mol)

3
sehingga 𝑛 mol = massa gram : Ar atau Mr (gram/mol)

5. Volum Molar
Volum molar adalah volum satu mol gas. Satu mol gas mengandung
6,02 x 1023 molekul. Berarti, setiap gas yang jumlah molekulnya sama,
jumlah molnya juga sama. Sesuai dengan hukum Avogadro, pada
temperatur (T) dan tekanan (P) yang sama, semua gas dengan volum (V)
yang sama mengandung jumlah mol (n) yang sama.

Persamaan gas ideal

PV = nRT R = tetapan gas = 0,082 L atm/mol. K

B. Stoikiometri
Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata stoicheion yang
berarti unsur dan metron yang berarti mengukur. Stoikiometri membahas
tentang hubungan massa antarunsur dalam suatu senyawa (stoikiometri
senyawa) dan antarzat dalam suatu reaksi (stoikiometri reaksi).
1. Komposisi Zat Perbandingan massa unsur-unsur penyusun suatu senyawa
selalu tetap, sehingga dapat dihitung persentase unsur-unsur dalam suatu
senyawa. Persentase unsur-unsur dalam suatu senyawa didasarkan pada
perbandingan jumlah massa atom relatif (Ar) unsur tertentu dengan
massa molekul relatif (Mr) senyawa tersebut.
2. Penentuan Rumus Empiris dan Rumus Molekul
Rumus empiris merupakan rumus perbandingan paling sederhana dari
atom-atom berbagai unsur dalam senyawa. Langkah-langkah menentukan
rumus empiris suatu senyawa:
a. Menentukan massa setiap unsur dalam senyawa
b. Membagi massa setiap unsur dengan massa atom relatifnya sehingga
diperoleh perbandingan perbandingan mol setiap unsure
c. Mengubah perbandingan mol menjadi bilangan sederhana

Rumus molekul menggambarkan jumlah atom tiap unsur yang


membentuk molekul senyawa. Rumus molekul merupakan kelipatan dari

4
rumus empirisnya. Apabila rumus empiris dan massa molekul relatif
diketahui, maka rumus molekul dapat ditentukan.

Contoh soal :

a. Sebanyak 1,5 gram suatu senyawa mengandung 0,3 gram hidrogen


dan 1,2 gram karbon. Jika massa. molekul relatif senyawa tersebut
adalah 30, tentukan rumus empiris dan rumus molekulnya.

Penyelesaian.

Unsur C H

Massa 1,2 gram 0,3 gram

Jumlah mol 1,2/12 = 0,1 mol 0,3/1 = 0,3 mol

Perbandingan jumlah mol 1 3

Perbandingan jumlah mol C : jumlah mol H = 0,1 : 0,3 = 1: 3


sehingga rumus empiris senyawa tersebut adalah C1H3 atau CH3

Massa molekul relatif (Mr) senyawa = 30

(CH3)n = 30

(Ar C + 3 Ar H) n = 30

(12 + 3) n = 30

15 n = 30 sehingga n = 2

Jadi, rumus molekul senyawa tersebut adalah (CH3)n atau C2H6

3. Perhitungan Kimia
Sesuai Hukum Perbandingan Volum (Gay Lussac), perbandingan
volume gas-gas sesuai dengan koefisien masing-masing gas. Karena
perbandingan volum sesuai dengan perbandingan mol, maka dapat
dikatakan bahwa perbandingan jumlah mol zat sesuai dengan

5
perbandingan koefisien masing-masing zat. Koefisien reaksi merupakan
perbandingan jumlah partikel dari zat yang terlibat dalam reaksi. Oleh
karena 1 mol setiap zat mengandung jumlah partikel yang sama, maka
perbandingan jumlah partikel sama dengan perbandingan jumlah mol.
Jadi, koefisien reaksi merupakan perbandingan jumlah mol zat yang
terlibat dalam reaksi.

Perhatikan reaksi berikut:

N2(g) + 3 H2(g) → 2 NH3(g)

Koefisien reaksinya menyatakan bahwa 1 molekul N2 bereaksi


dengan 3 molekul H2 membentuk 2 molekul NH3 atau 1 mol N2
bereaksi dengan 3 mol H2 menghasilkan 2 mol NH3.

Dengan pengertian tersebut, maka banyaknya zat yang diperlukan


atau dihasilkan dalam reaksi kimia dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan reaksi setara. Apabila jumlah mol salah satu zat yang bereaksi
diketahui, maka jumlah mol zat yang lain dalam reaksi itu dapat
ditentukan dengan menggunakan perbandingan koefisien reaksinya.
Untuk menyelesaikan perhitungan kimia, langkah-langkahnya sebagai
berikut:

a. Menuliskan persamaan reaksi dan menyetarakan koefisiennya.


b. Mengubah satuan zat yang diketahui menjadi mol.
c. Mencari mol zat yang ditanyakan dengan cara membandingkan
koefisien.
d. Mengubah satuan mol menjadi satuan lain yang diinginkan.

Contoh soal;

1. Aluminium larut dalam larutan asam sulfat menghasilkan larutan


aluminium sulfat dan gas hidrogen. Persamaan reaksinya:
2 Al(s) + 3 H2SO4(aq) → Al2(SO4)3(aq) + 3 H2(g).
Tentukan jumlah mol gas hidrogen dan mol larutan aluminiu m
sulfat yang dihasilkan jika digunakan 0,5 mol aluminium.

6
mol Al 2
Maka =
mol H 2 3

0,5 mol 2 3
= sehingga mol H2 = 2 x 0,5 mol
mol H 2 3 ¿
¿

Jadi, mol gas hidrogen yang dihasilkan adalah 0,75 mol

4. Pereaksi Pembatas
Di dalam suatu reaksi kimia, perbandingan mol zat-zat pereaksi yang
ditambahkan tidak selalu sama dengan perbandingan koefisien reaksinya.
Hal ini menyebabkan ada zat pereaksi yang akan habis bereaksi lebih
dahulu. Pereaksi demikian disebut pereaksi pembatas.

Contoh soal:

a. Satu mol larutan natrium hidroksida (NaOH) direaksikan dengan


satu mol larutan asam sulfat (H2SO4) sesuai reaksi:
2 NaOH(aq) + H2SO4(aq)  Na2SO4(aq) + 2 H2O (l)
Tentukan:
1. pereaksi pembatas
2. pereaksi yang sisa
3. mol Na2SO4 dan mol H2O yang dihasilkan

Maka

NaOH : H2SO4 = 2 : 1, jadi tiap dua bagian NaOH akan bereaksi


dengan satu bagian H2SO4 Karena jumlah NaOH dan H 2SO4 tidak
memenuhi perbandingan, maka ada pereaksi yang habis bereaksi dan
ada pereaksi yang tersisa.

NaOH : H2SO4 = 2 : 1, jadi tiap dua mol NaOH membutuhkan satu


mol H2SO4 atau tiap satu mol NaOH membutuhkan 0,5 mol H2SO4.

2 Na2SO4(aq) + 2 H2O(l)  2NaOH(aq) + H2SO4(aq)


Mula-mula 1 mol 1 mol - -
Reaksi 1 mol 0,5 mol 0,5 mol 1 mol

7
Sisa - 0,5 mol 0,5 mol 1 mol
Jadi, sebagai pereaksi pembatas adalah NaOH, pereaksi yang sisa
adalah H2SO4 yaitu tersisa 0,5 mol.

C. Reaksi Kimia Dalam Larutan

Hampir sebagian besar reaksi-reaksi kimia berlangsung dalam larutan.


Ada tiga ciri reaksi yang berlangsung dalam larutan, yaitu terbentuk endapan,
gas, dan penetralan muatan listrik. Ketiga reaksi tersebut umumnya tergolong
reaksi metatesis yang melibatkan ion-ion dalam larutan. Oleh karena itu,
Anda perlu mengetahui lebih jauh tentang ion-ion dalam larutan.

1. Persamaan Ion dan Molekul

Selama ini, kita menuliskan reaksi-reaksi kimia di dalam larutan


dalam bentuk molekuler. Contoh, reaksi antara natrium karbonat dan
kalsium hidroksida. Persamaan reaksinya:

Na2CO3(aq) + Ca(OH)2(aq) → 2NaOH(aq) + CaCO3(s)=

Persamaan reaksi ini disebut persamaan molekuler sebab zat-zat


yang bereaksi ditulis dalam bentuk molekul. Persamaan molekul tidak
memberikan petunjuk bahwa reaksi itu melibatkan ion-ion dalam larutan,
padahal Ca(OH)2 dan Na2CO3 di dalam air berupa ion-ion. Ion-ion yang
terlibat dalam reaksi tersebut adalah ion Ca2+ dan ion OH– yang berasal
dari Ca(OH)2, serta ion Na+ dan ion CO32– yang berasal dari Na2CO3.
Persamaan reaksi dalam bentuk ion ditulis sebagai berikut.

2Na+(aq) + CO32–(aq) + Ca2+(aq) + 2OH–(aq) →2Na+(aq )+ 2OH–


(aq) + CaCO3(s)

Persamaan ini dinamakan persamaan ion, yaitu suatu persamaan


reaksi yang melibatkan ion-ion dalam larutan. Petunjuk pengubahan
persamaan molekuler menjadi persamaan ion adalah sebagai berikut.

a. Zat-zat ionik, seperti NaCl umumnya ditulis sebagai ion-ion. Ciri zat
ionik dalam persamaan reaksi menggunakan fasa (aq) .

8
b. Zat-zat yang tidak larut (endapan) ditulis sebagai rumus senyawa.
Ciri dalam persamaan reaksi dinyatakan dengan fasa (s).

Dalam persamaan ionik, ion-ion yang muncul di kedua ruas disebut


ion spektator (ion penonton), yaitu ion-ion yang tidak turut terlibat dalam
reaksi kimia. Ion-ion spektator dapat dihilangkan dari persamaan ion.

Contohnya, sebagai berikut.

2Na+(aq) + CO32–(aq) + Ca2+(aq) + 2OH–(aq) →2Na+(aq) + 2OH–


(aq) + CaCO3(s)

Sehingga persamaan dapat ditulis menjadi:

Ca2+(aq) + CO32–(aq) →CaCO3(s)

Persamaan ini dinamakan persamaan ion bersih. Dalam hal ini, ion OH–
dan ion Na+ tergolong ion-ion spektator

a. Reaksi Pengendapan

Reaksi dalam larutan tergolong reaksi pengendapan jika salah


satu produk reaksi tidak larut di dalam air. Contoh zat yang tidak
larut di dalam air, yaitu CaCO3 dan BaCO3. Untuk mengetahui
kelarutan suatu zat diperlukan pengetahuan empirik sebagai hasil
pengukuran terhadap berbagai zat. Perhatikanlah reaksi antara
kalsium klorida dan natrium fosfat berikut.

3CaCl2 + 2Na3PO4 →Ca3(PO4)2 + 6NaCl

NaCl akan larut di dalam air, sedangkan Ca3(PO4)2 tidak larut.


Senyawa-senyawa fosfat sebagian besar larut dalam air, kecuali
senyawa fosfat dari natrium, kalium, dan amonium. Oleh karena itu,
persamaan reaksi dapat ditulis sebagai berikut.

3CaCl2(aq) + 2Na3PO4(aq) →Ca3(PO4)2(s) + 6NaCl(aq)

9
Dengan menghilangkan ion-ion spektator dalam persamaan
reaksi itu, perasamaan ion bersih dari reaksi dapat diperoleh.

3Ca2+(aq) + 2PO43–(aq) →Ca3(PO4)2(s)

b. Reaksi Pembentukan Gas

Reaksi kimia dalam larutan, selain dapat membentuk endapan


juga ada yang menghasilkan gas. Misalnya, reaksi antara natrium
dan asam klorida membentuk gas hidrogen. Persamaan reaksinya:

Na(s) + 2HCl(aq) →2NaCl(aq) + H2(g)

Beberapa reaksi yang menghasilkan gas yaitu sebagai berikut.

Jenis Gas Contoh Reaksi

CO2 Na2CO3(aq) + 2HCl(aq)→ 2NaCl(aq) + H2O(l) +


CO2(g)

H2S Na2S(aq) + 2HCl(aq)→ 2NaCl(aq) + H2S(g)

SO2 Na2SO3(aq) + 2HCl(aq)→ 2NaCl(aq) + H2O(l) +


SO2(g)

2. Reaksi Penetralan Asam Basa

Asam dapat direaksikan dengan basa, dan dapat menghasilkan


kenetralan. Misalkan kita mencampurkan larutan HCl 0,1 M dengan
larutan NaOH 0,1 M. Di dalam air, asam kuat terurai membentuk ion H+
dan ion sisa asam. Keberadaan ion H+ dalam larutan asam ditunjukkan
oleh nilai pH yang rendah (pH = –log [H+] < 7). Dalam larutan basa akan
terbentuk ion OH– dan ion sisa basa. Keberadaan ion OH– dalam larutan
basa ditunjukkan oleh nilai pH yang tinggi (pH = 14 – pOH > 7). Jika
larutan asam dan basa dicampurkan akan terjadi reaksi penetralan ion H+
dan OH–. Bukti terjadinya reaksi penetralan ini ditunjukkan oleh nilai H
mendekati 7 (pH ≈ 7). Nilai pH ≈ 7 menunjukkan tidak ada lagi ion H+
dari asam dan ion OH– dari basa selain ion H+ dan OH– hasil ionisasi

10
air. Dengan demikian, pada dasarnya reaksi asam basa adalah reaksi
penetralan ion H+ dan OH–. Persamaan reaksi molekulernya:

HCl(aq) + NaOH(aq ) →NaCl(aq) + H2O(l)

Persamaan reaksi ionnya:

H+(aq)+ Cl–(aq)+ Na+(aq)+OH–(aq) →Na+(aq)+ Cl(aq)+ H2O(l)

Persamaan ion bersihnya:

H+(aq) + OH–(aq) →H2O(l)

Reaksi asam basa disebut juga reaksi penggaraman sebab dalam


reaksi asam basa selalu dihasilkan garam. Pada reaksi HCl dan NaOH
dihasilkan garam dapur (NaCl). Beberapa contoh reaksi penetralan asam
basa atau reaksi pembentukan garam sebagai berikut.

a. H2SO4(aq) + Mg(OH)2(aq) →MgSO4(aq) + 2H2O(l)


b. HNO3(aq) + Ca(OH)2(aq) →Ca(NO3)2(aq) + H2O(l)
c. HCl(aq) + NH4OH(aq) →NH4Cl(aq) + H2O(l)

Reaksi asam basa (reaksi penetralan).

Reaksi asam basa atau reaksi penetralan adalah reaksi yang terjadi antara
asam (H+) dan basa (OH–) menghasilkan H2O yang bersifat netral.
Adapaun contoh reaksi penetralan adalah sebagai berikut:

a. Reaksi: Asam + Basa –> Garam + Air

HNO3(aq) + KOH (aq) –> KNO3(aq) + H2O (l)

H2SO4(aq) + Ca(OH)2(aq) –> CaSO4(aq) + H2O (l)

b. Reaksi: Asam + Oksida Basa –> Garam + Air

2HCl (aq) + CaO (s) –> CaCl2(aq) + H2O (l)

2HNO3(aq) + Na2O (s) –> Na(NO3)2(aq) + H2O (l)

11
c. Reaksi: Asam + Amonia –> Garam

HCl (aq) + NH3(g) –> NH4Cl (aq)

H2SO4(aq) +2 NH3(g) –> (NH4)2SO4(aq)

d. Reaksi: Oksida asam + Basa –> Garam + Air

SO3(g) + 2NaOH (aq) –> Na2SO4(aq) + H2O (l)

CO2(g) + Mg(OH)2(aq) –> MgCO3(aq) + H2O (l)

3. Perhitungan Kuantitatif Reaksi dalam Larutan

Perhitungan kuantitatif reaksi-reaksi kimia dalam larutan umumnya


melibatkan konsentrasi molar dan pH. Hal-hal yang perlu diketahui
dalam mempelajari stoikiometri larutan adalah apa yang diketahui dan
yang ditanyakan, kemudian diselesaikan dengan empat langkah berikut.

a. Tuliskan persamaan reaksi setara.


b. Ubah besaran yang diketahui ke satuan mol.
c. Gunakan perbandingan koefisien dari persamaan kimia setara untuk
menentukan besaran yang tidak diketahui dalam mol.
d. Ubah satuan mol ke dalam besaran yang ditanyakan.

4. Perhitungan pH Campuran

Jika larutan asam atau basa dicampurkan dengan larutan asam atau
basa yang sejenis atau berbeda jenis maka konsentrasi asam atau basa
dalam larutan itu akan berubah. Perubahan konsentrasi ini tentu akan
mengubah pH larutan hasil pencampuran.

Pencampuran larutan asam dan basa akan membentuk reaksi


penetralan. Jika jumlah mol asam dan basa dalam campuran itu
sama,terjadilah penetralan sempurna sehingga pH larutan sama dengan 7.
Tetapi, jika terdapat salah satu pereaksi berlebih, kelebihannya akan
menentukan pH larutan hasil pencampuran

12
Reaksi Ionisasi Larutan Elektrolit

Jenis dan konsentrasi (kepekatan) suatu larutan dapat berpengaruh


terhadap daya hantar listriknya. Untuk menunjukkan kekuatan elektrolit
digunakan derajat ionisasi yaitu jumlah ion bebas yang dihasilkan oleh
suatu larutan. Makin besar harga , makin kuat elektrolit tersebut. larutan
elektrolit dapat menghantarkan arus listrik karena dapat mengalami
reaksi ionisasi menjadi ion-ion bermuatan listrik, sedangkan larutan
nonelektrolit tidak mengalami reaksi ionisasi menjadi ion-ion bermuatan
listrik

a. Reaksi Ionisasi Elektrolit Kuat

Larutan yang dapat memberikan lampu terang, gelembung


gasnya banyak, maka laurtan ini merupakan elektrolit kuat.
Umumnya elektrolit kuat adalah larutan garam. Dalam proses
ionisasinya, elektrolit kuat menghasilkan banyak ion maka a = 1
(terurai senyawa), pada persamaan reaksi ionisasi elektrolit kuat
ditandai dengan anak panah satu arah ke kanan.

Perlu diketahui pula elektrolit kuat ada beberapa dari asam dan basa.

1. Asam kuat

HxZ (aq)-> x H+(aq) + Zx–(aq)

Contoh:

a. HCl(aq)-> H+(aq) + Cl–(aq)


b. H2SO4(aq)-> 2 H+(aq) + SO42–(aq)
c. HNO3(aq)-> H+(aq) + NO3–(aq)
2. Basa kuat

M(OH)x(aq)-> Mx+(aq) + x OH–(aq)

Contoh:

a. NaOH(aq)-> Na+(aq) + OH–(aq)

13
b. Ba(OH)2(aq)-> Ba2+(aq) + 2 OH–(aq)
c. Ca(OH)2(aq)-> Ca2+(aq) + 2 OH–(aq)
3. Garam

MxZy(aq)-> x My+(aq) + y Zx–(aq)

Contoh:

a. NaCl(aq)-> Na+(aq) + Cl–(aq)


b. Na2SO4(aq)-> 2 Na+(aq) + SO42–(aq)
c. Al2(SO4)3(aq)-> 2 Al3+(aq) + 3SO42–(aq)

Contoh Asam basa lainnya :

KI (aq)Ca(NO3)2(g)

K+(aq) + I–(aq)

Ca2+(aq) + NO3-(aq)

Di bawah ini diberikan kation dan anion yang dapat membentuk


elektrolit kuat.

Kation : Na+, L+, K+, Mg2+, Ca2+, Sr2+, Ba2+, NH4+

Anion : Cl–, Br–, I–, SO42-, NO3-, ClO4-, HSO4-, CO32-, HCO32-

b. Reaksi Ionisasi Elektrolit Lemah

Larutan yang dapat memberikan nyala redup ataupun tidak


menyala, tetapi masih terdapat gelembung gas pada elektrodanya
maka larutan ini merupakan elekrtolit lemah. Daya hantarnya buruh
dan memiliki á (derajat ionisasi) kecil, karena sedikit larutan yang
terurai (terionisasi). Makin sedikit yang terionisasi, makin lemah
elektrolit tersebut. Dalam persamaan reaksi ionisasi elektrolit lemah
ditandai dengan panah dua arah (bolak-balik) artinya tidak semua
molekul terurai (ionisasi tidak sempurna).

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Konsep Mol, Mol adalah suatu satuan jumlah zat yang digunakan dalam
perhitungan kimia. Mol dapat digunakan untuk mennyatakan jumlah partikel
massa dan volume suatu zat. Dalam periodik, dapat diketahui nomor massa
yang menyatakan massa atom relative suatu atom (Ar). Terdiri dari Massa
Atom Relatif (AR), Massa Molekul Relatif (Mr), mol (n), massa molar dan
Volum molar.
Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata stoicheion yang
berarti unsur dan metron yang berarti mengukur. Stoikiometri membahas
tentang hubungan massa antarunsur dalam suatu senyawa (stoikiometri
senyawa) dan antarzat dalam suatu reaksi (stoikiometri reaksi).
Reaksi Kimia Dalam Larutan, Hampir sebagian besar reaksi-reaksi kimia
berlangsung dalam larutan. Ada tiga ciri reaksi yang berlangsung dalam
larutan, yaitu terbentuk endapan, gas, dan penetralan muatan listrik. Ketiga
reaksi tersebut umumnya tergolong reaksi metatesis yang melibatkan ion-ion
dalam larutan. Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui lebih jauh tentang ion-
ion dalam larutan.

15
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Hiska. 2001. Kimia Larutan. Jakarta: PT Citra Aditya Bakti

Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar. Jakarta: Penerbit Erlangga

Kanyuik, sure. 2013. Reaksi Galam Larutan. Http://surekanyuik.bogspot.com 009


Maret 2019.

16