Anda di halaman 1dari 11

BAB II

ISI

1. Pengertian Pertumbuhan

2. Diferensiasi Sel

Diferensiasi merupakan sebuah proses umum dalam sel induk dewasa yang membelah dan
berdiferensiasi menjadi sel anak yang lebih khusus. Ada berbagai jenis sel dalam tubuh manusia. Dalam
sebuah sel yang dapat berdiferensiasi menjadi semua jenis sel yang membentuk tubuh dikenal sebagai
sel pluripotent. Sel-sel ini dikenal sebagai sel embrionik pada hewan dan mamalia, sebuah sel yang
dapat berdiferensiasi menjadi hampir semua jenis tipe sel, termasuk sel-sel plasenta dikenal sebagai sel
totipoten.

Proses yang menyebabkan sekumpulan sel menjadi berbeda-beda dalam dalam struktur, fungsi dan
prilaku. Diferensiasi berlangsung waktu embrio, berkat diferensiasi suatu indifidu bentuk definitif jadi
terdiri atas berbagi macam jaringan. Jaringan adalah sekumpulan sel yang memiliki bentuk, struktur,
fungsi dan prilaku sama. Jaringan berasosiasi membantuk sistem.Seluruh sistem berhimpun membina
tubuh suatu organisme.

Diferensiasi terjadi pada seluruh mahluk hidup. Dengan diferensiasi terjadilah pembagian aktifitas
tubuh, sehingga menjadi efektif. Pada makalah ini, kita akan membahas tentang sifat dasar diferensiasi
sel, tempat diferensiasi, faktor diferensiasi, dan apa saja yang mempengaruhi proses diferensiasi sel.

Diferensiasi merupakan proses tumbuh dan berkembangnya sel ke arah fungsi khusus yang tidak dimiliki
oleh sel asal. Diferensiasi berlangsung sewaktu embrio, berkat diferensiasi suatu individu bentuk
definitive jadi terdiri atas berbagai macam jaringan. Jaringan adalah kumpulan sel yang memiliki bentuk,
struktur, fungsi, dan prilaku sama.Jaringan berasosiasi membentuk alat, dan alat berasosiasi pula
membentuk sistem.Seluruh sistem berhimpun membina tubuh suatu organisme.Proses diferensiasi
adalah proses terbentuknya sifat-sifat yang baru atau menghilangnya sifat yang tidak ada sehingga sel
mendapat sifat dan struktur yang baru. Jadi diferensiasi menekankan pada perubahan kualitatif.Dengan
adanya diferensiasi perbedaan struktur dan sifat-sifat pada sel, jaringan dan organ.
Diferensisasi dikatakan dapat terjadi jika ada perubahan nyata pada morfologi sel (misalnya
pembentukan sel epitel kulit dari sel ektodermal) atau perubahan fungsi yang khusus dari sel. Sel-sel
yang mempunyai berbagai variasi diferensiasi dapat mempunyai karakteristik pertumbuhan yang
berbeda.Variasi diferensiasi juga mempengaruhi kemampuan beberapa sel untuk berpindah dengan
memperhatikan yang lainnya. Jadi, perkembangan embriologis yang normal memerlukan kordinasi yang
tinggi dari proses diferensiasi, tumbuhan, dan perpindahan sel yang secarakeseluruhan membentuk
morfogenesis (proses pembentukan/perkembangan struktur, ukuran, dan bentuk organ.

Diferensiasi mutlak perlu bagi mahluk multiseluler komplek dengan diferensiasi itu akan terjadi
pembagian pekerjaan atau aktivitas tubuh, sehingga menjadi efektif. Sebenarnya diferensiasi ada pada
seluruh mahluk, bahkan pada mahluk uniseluler seperti pada amoeba, dalam selnya sudah ada
pembagian tugas dan sudah memiliki organel.Contoh organel pada amoeba ialah seperti vakuola
makanan untuk tugas mencerna makanan, vakuola berdenyut untuk tugas membuang ampas
metabolisme atau osmoregulator, pseudopodia untuk pergerakan pindah, dan inti untuk control
aktifitas sel. Selama diferensiasi, sel mendapat sifat-sifat dari, misalnya terbentuk aktin dan miosin pada
sel otot atau terjadinya perubahan pada susunan kimianya.Misalnya, dengan adanya enzim.Pada
diferensiasi juga ada struktur atau sifat yang menghilang, misalnya pada diferensiasi sel darah
mamalia.Mula-mula bakal sel darah merah mengandung nukleus tetapi setelah mengalami diferensiasi
terbentuk sel darah merah yang tidak mengandungnukleus.

Hasil proses diferensiasi secara internal, yaitu pertumbuhan anda terbentuknya macam-macam jaringan
dan organ yang dipengaruhi faktor lingkungan. Membentuk suatu struktur tubuh yang baru disebut
morfogenesis. Perkembangan dan diferensiasi dikontrol oleh DNA (gen) pada nucleolus.

Sel induk bersifat totipotent atau pluripotent.Artinya memiliki sel-sel anak potensi yang lengkap dan
banyak bermitosis terus dan berdiferensiasi ke segala arah untuk aktfitas kehidupan.Dengan diferensiasi
potensi sel anak menciut dan khas untuk suatu aktifitas khusus, disebut unipoten. Artinya potensi sel itu
hanya tunggal: untuk bernafas, atau untuk mencerna, sekresi zat A, pergerakan dan sebagainya.

Dengan diferensiasi terjadilah spesialisasi bagi berbagai populasi sel anak.Spesialisasi itu terjadi baik
intra maupun ekstraseseluler. Spesialisasi intra ialah:

1. Sel otot mengandung mikrofilamen aktin dan myosin yang banyak dan tersusun berjajar rapat,
disertai dengan banyaknya mitokondria yang perlu untuk sumber energi bagi proses berkerut-kerut.

2. Sel kelenjar penghasil enzim mengandung retikulum endoplasma kasar yang banyak dan alat golgi
yang besar.

3. Sel epitel kulit mengandung retikulum endoplasma banyak dan giat memeroduksi serat keratin.

4. Sel saraf memiliki bentuk khas, yaitu panjang halus seperti serat dan mampu mengalirkan rangsangan
listrik maupun kimia, pada ujung serabut dihasilkan cairan kimia. Pada ujung serabut dihasilkan cairan
kimia yang disebut neurotransmitter.
Sepesialisasi ekstra ialah seperti pembentukan serat ekstraseluler oleh sel-sel fibroblast pada jaringan
pengikat dan menunjang, lalu pembentukan bahan matriks (kandung), yang bagi sejenis jaringan dan
populasi sel adalah khas.

4. Tahap Diferensiasi

Dalam diferensiasi terjadi kedalam beberapa


tahapan yaitu pada tingkat pertumbuhan
embrio.Seperti zigot, blastula, grastula,
tubulasi, organogenesis.

 Zigot

Zigot adalah ovum yang fertilisasi dibuahi spermatozon. Bagian atas ovum Amphioxus, disebut kutub
animal terdapat daerah ooplas (sitoplasma ovum) yang nantinya akan menjadi bakal ektoderm. Bagian
bawah kutub ovum disebut kutub vegetal ooplas yang akan menjadi bakal mesoderm. Sedangkan bagian
samping antara kedua kutub akan menjadi bakal endoderm. Eksoderm bakal tumbuh menjadi epidermis
dan saraf.Endoderm bakal menjadi lapisan lendir saluran pencernaan bersama kelnjar dan paru,
mesoderm bakal menjadi jaringan pengikat, penunjang, otot, alat dalam.

 Blastula

Terjadi pada tingkat pertumbuhan embrio, terbentuk daerah kelompok sel yang akan menjadi jaringan
utama tubuh. Setelah berdiferensiasi, pupolasi sel menjadi epidermis, saraf, notokord (sumbu
penyokong primer), mesoderm.Diferensiasi mulai terjadi pada kelompok sel. Blastomer (sel blastula)
sebelah bakal jadi endoderm, sebelah atas bakal jadi ektoderm, dan bagian tengah bakal menjadi
mesoderm.

 Gastrula
Pada tingkat gastrula, embrio sudah mengandung 3 lapis benih yang terdiri dari sel-sel yang tersusun di
daerah tertuntu tubuh, yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm.Pada tingkat grastula, baru berupa
daerah sel sedangkan pada tingkat gastrula sudah membentuk lapisan yang sangat jelas.Diferensiasi
berlanjut dengan terbentuknya 3 lapis benih yaitu ektoderm sebelah luar, endoderm sebelah dalam dan
mesoderm di tengah.

 Tubulasi

Pada tingkat tubulasi, ketiga lapis benih, sudah berupa bumbung sehingga merupakan bumbung
epidermis yang melingkup seluruh permukaan tubuh. Bumbung saraf bagian depan, bakal jadi otak dan
yang belakang bakal bakal jadi batang saraf punggung. Bumbung endoderm menjadi lapisan lendir
saluran pencernaan, dan bumbung mesoderm akan membentuk otot, alat dalam dan rongga tubuh.
Diferensiasi makin rinci pada tingkat tabulasi.Lapisan ektoderm membentuk bumbung epidermis/kulit
dan bumbung saraf, lapisan endoderm membentuk bumbung saluran pencernaan, dan lapisan
mesoderm membentuk berbagi bumbung dan saluran pada berbagi alat dalam.

 Organogenesis

Pada tingkat organogenesis, diferensiasi lebih rinci lagi, di sini sudah terbentuk seluruh macam jaringan
dan alat tubuh secara lengkap, sehingga pada saat kelahiran anak sudah dalam bentuk yang tetap.Pada
beberapa Vertebrata rendah, seperti ikan dan amfibi masih ada tingkat berudu, sebagai bentuk tetap.

Bumbung mengalalami diferensiasi lagi berbentuk berbagai alat.Bumbung saraf membentuk bagian-
bagian otak dengan kuncup indera.Bumbung endoterm berdiferensiasi membentuk saluran pencernaan
dan saluran pernapasaan termasuk kelenjar hati dan pankreas. Bumbung mesoderm berdiferensiasi
membentuk otot , tulang, ginjal, gonad, jaringan pengikat, serta darah bersama pembuluh dan jantung.

5. Tempat terjadinya diferensiasi

Diferensiasi terjadi pada tiga tempat, yaitu intra dan ekstrasel, populasi sel serta jaringan dan alat.

 Diferensiasi intrasel dan ekstrasel

Diferensiasi intrasel terjadi pada organel.Untuk menjadi sel otot terjadi spesialisasi pada mikrotubul dan
mikrofilamen, juga makin banyak terbentuknya mitokondria dibandingkan dengan sel alin. Pada sel
kelenjar penggetah enzim dan lendir terjadi spesialisasi pada retikulum endoplasma, ribosom dan badan
golgi, akan sangat aktif dan banyak mengisi sel.

 Diferensiasi populasi sel, diferensiasi jaringan dan alat.

Diferensiasi populasi sel terjadi pada bahan interseluler dan pertautan sel atau komunikasi sesama sel
sepopulasi.Semua sel sepopulasi mengandung junction yang khas dan lewatnya dapat dilakukan
komunikasi dan distribusi bahan secara merata.Antara sel tetangga dibentuk semen(cement) untuk
merekatkan sel di sebelahnya.Sel sepopulasi atau sejaringan, biasanya memiliki
pertautan/sambungan/junction.Agar kerukunan dan keharmonisan dapat dipelihara.Pada keadaan
biasa, populasi sel dicegah agar tidak terjadi pergerakan pindah meninggalkan populasinya, yaitu dengan
adanya sifat contact inhibition antara selnya.Sementara itu sel sepopulasi dicegah untuk membelah
terus yaitu dengan adanya zat khalon.

Khalon adalah substansi yang sukar diekstrak (glikoprotein dengan berat molekul lebih kecil dari protein
pada umumnya dan dapat merembes masuk sel sacara difusi terikat, bertindak sebagai koresepsor
dalam pengaturan sintesa protein), terdapat dalam jaringan mamalia dan mempunyai pengaruh anti
mitosis dari suatu pengaturan diri yang bergantung pada ketebalan jaringan yang memproduksinya. Hal
ini perlu, agar suatu jaringan tidak terjadi over populasi atau mengalami hyperplasia (pembelahan
berlebihan pada sel dewasa).

Khalon akan terlepas dari jaringan jika terjadi luka sehingga sel di sekitar luka dapat terdediferansiasi
lalu bermitosis sehingga terjadi penyembuhan sel. Sel kanaker tidak mengandung sifat contact inhibition
maupun zat khalon. Oleh sebab itu sel kanker berkeliaran, tidak diam dan rukun dengan sel tetangga,
namun terus bermitosis.Khalon terus bekerja mengontrol pertumbuhan dan diferensiasi sel pada
organogenesis, sehingga terbentuk berbagai jenis jaringan dan organ. Adanya zat khalon, suatu
alat/organ akan tumbuh seimbang dengan alat/organ lain.

Sel embrio dan sel induk mampu berdifernsiasi.Sel embrio artinya masih pluripoten, sel dewasa
unipoten.Sel induk selalu bersifat muda dan umurnya yang terbatas diperbaharui pada sel anak.Sel
embrio yang terdapat pada seluruh bagian tubuh embrio, sel induk terkandung dalam berbagai jaringan
atau alat/organ sejak embrio sampai dewasa.Pada tumbuhan, sel induk terdapat pada jaringan
meristem, yaitu pada pucuk akar, pucuk batang, cambium.Pada hewan terdapat dalam gonad, disebut
epitel germinal, lapisna benih epidermis/kulit luar, sumsum tulang kelenjar, lapisan lender saluran
pencernaan, saluran pernapasan, kelamin dan saluran kemih; juga tersebar pada jaringan pengikat di
berbagai daerah tubuh.

Sel yang sudah berdiferensiasi tidak mampu lagi bermitosis, namun akan menua. Hal ini disebabkan
Karena sifat kehidupan memiliki umur terbatas, fana, tidak kekal. Pada suatu ketika sel menua pun akan
mati.

6. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya diferensiasi


Faktor yang menyebabkan terjadinya diferensiasi sel ada dua yaitu ekstrinsik dan intrinsik.

 Faktor Ekstrinsik

Faktor ekstrinsik adalah faktor yang berasal dari luar sel. Faktor ekstrinsik terdiri dari supali bahan
metabolis dan elektrolit, gas pernapasan, gravitasi, suhu, sinar matahari, pH, letak sel dan kadar zat
induktor dan mesoderm. Protoplasma, merupakan bahan sel anak, sebagian besar terdiri dari protein
dan lemak.Lemak membina membran bersama protein, sedangkan protein sendiri membina sebagian
besar organel dan bahan produksi.Oleh sebab itu dalam pertumbuhan dan diferensiasi, sintesa protein
memegang peran utama.Arah diferensiasi ditentukan pada arah atau bentuk sintesa protein.Factor
intrinsic dan ekstrinsik diferensiasi di atas berpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap
sintesa protein.

Contoh diferensiasi sel embrio jadi sel pigmen melanosit.Sel pigmen mengandung pigmen
melamin.Melanin dibentuk dari bahan mentah asam amino fenilalanin, maka diperlukan enzim tironase.
Enzim ini disintesa dalam reticulum endoplasma, lalu disekresi berupa granula berisi pigmen melanin
oleh badan golgi. Enzim tersebut disintesa melalui proses transkripsi (pencetakan ARN) dan tranlasi
(menerjemahkan informasi genetis yang dibawa ARN-m menjadi untaian asam amino dalam ribosom).
Transkripsi dan translasi ditentukan oleh kromatin dalam inti.Kadar fenilalanin dalam sitoplasma juga
ikut menentukan diferensiasi sel induk menjadi melanosit.

Diferensiasi sel embrio menjadi sel otot dipengaruhi oleh banyak factor dan melalui proses yang panjang
serta menempuh sintesa protein. Mikrofilamen aktin dan myosin adalah protein.Untuk terbentuknya
mikrofilamen diperlukan enzim dan enzim terbentuk melaluisintesa protein.Pada sel otot banyak
mengandung mitokondria yang terdiri dari lemak dan protein.Diferensiasi sel embrio menjadi sel
epidermis melalui tahapan sintesa protein karena serat keratin yang membina sel tersebut adalah
protein.

Diferensiasi untuk menjadi sel kelenjar akan menghasilkan lender, enzim, hormone dan antibody harus
melewati sintesa protein. Bahan-bahan sel yang telah berdifernsiasi mengandung gabungan protein,
lemak atau karbohidrat, diproses dalam mitokondria dan badan golgi.

Jika berbeda jumlah, komposisi dan keisomeran asam amino, maka proteinnya pun akan berbeda pula.
Untuk terbentuknya sejenis protein yang dibina atas beratus-ratus asam amino, walaupun jenis asam
amino hanya sekitar 20 macam, diperlukan banyak enzim.Setiap tingkat reaksi sssskimia dalam sel,
memerlukan enzim khusus. Jenis protein atau bahan protoplasma yang terbentuk dalam diferensiasi
dapat beribu-ribu jenis, maka jenis enzim yang diperlukan untuk pembentukannya pun berlipat ganda
banyaknya, mungkin sampai ratusan ribu jenis.

Setiap enzim dikode oleh sejenis gen. jika suatu protein atau bahan protoplasma disintesa dengan
memerlukan lima tahap reaksi, berarti lima jenis enzim maka untuk satu jenis protein itu perlu ada lima
jenis gen.
Pada faktor ekstrinsik kadar dan komposisi bahan yang masuk sel melalui membrane dapat menjadi
faktor difernsiasi. Sampai saat ini belum dapat ditelusuri bentuk kadar dan komposisi bahan yang tepat
untuk mengarahkan pertumbuhan suatu sel. Misalnya pada sel otot dapat menerima dan mengalirkan
rangsang berupa arus listrik serta zat cairan, terutama karena membrane selnya peka akan perubahan
konsentrasinya ion Na+ dan K+ semua itu hanya faktor genetislah yang memprogram.

Dalam diferensiasi, O2 menentukan arah dan jalan diferensiasi. Sel yang berada di sebelah luar akan
mendapat lebih banyak gas pernafasan daripada sel yang berada di sebelah dalam tubuh embrio. Oleh
sebab itu terjadi perbedaan dalam kadar ATP juga segala aktivitas sel.

Gravitasi berpengaruh pada distribusi bahan dalam sitosol, terutama berpengaruh pada ovum yang
mengandung banyak makanan cadangan yagn disebut deutoplasma atau yolk.Deutoplasma menumpuk
di daerah kutub vegetal, sedangkan di daerah kutub animal sedikit sekali.Hal ini berakibat pada daerah
kutub animal lebih mudah dan lebih sering membelah diri; sedangkan di daerah kutub vegetal lebih
besar-besar selnya dan lebih banyak mengandung deutoplasma. Dengan adanya dua perbedaan
tersebut, maka terjadilah diferensiasi sel. Sel-sel daerah kutub animal, ovum biasanya akan menjadi
jaringan epidermis dan saraf, sedangkan daerah kutub vegetal akan menjadi lapisan lender, saluran
pencernaan yang banyak mengandung kelenjar sedngkan daerah antara kutub animal dan vegetal akan
menjadi sel-sel membina lapisan mesoderm yang akan menjadi jaringan penunjang, jaringan pengikat
dan jaringan otot.

Suhu dapat mempengaruhi arah dan jalan diferensiasi. Diferensiasi bias terjadi melalui difernsiasi dalam
sintesa protein. Proses sintesa protein memerlukan banyak enzim dan enzim memerlukan suhu media
yang optimum, maka mudah dimengerti bahwa variasi pada suhu lingkugan dapat mempengaruhi arah
dan jalan difernsiasi. Faktor pH juga mempengaruhi diferensiasi. Enzim bekerja optimal pada pH media
yang cocok, jika pH naik-turun akan menyebabkan difernsiasi.

Sinar terutama berpengaruh pada pertumbuhan sel berpigmen, baik pada hewan maupun tumbuhan.
Jika sinar matahari kurang atau tidak ada, pertumbuhan sel pigmen akan tertahan. Letak sel dalam
tubuh embrio dapat menjadi factor difernsiasi. Sel yang letaknya sebelah luar akan lebih banyak
mendapat O2 , namun akan lebih banyak menerima tekanan fisik dan perubahan suasana lingkungan.
Embrio yang sudah menempuh tahap gastrula dan tubulasi mengandung zat inductor, yang dihasilkan
oleh sel-sel lapisan mesoderm.Zat ini menginduksi pertumbuhan dan difernsiasi jaringan sekitarnya,
termasuk jaringan mesoderm sendiri.Jika lapisan ectoderm yang bakal jadi jaringan saraf dilepaskan dari
lapisan mesoderm yang berada di bawahnya, ternyata ectoderm itu tidak berdiferensiasi jadi jaringan
saraf.

 Faktor Intrinsik

Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam sel. Faktor intrinsik berada dalam inti dan
sitoplasma.Faktor dalam inti adalah kromatin. Faktor dalam sitoplasma sangat kompleks, terutama
berupa enzim, kadar metabolit dan elektrolit, serta komposisi suatu organel.
Hormon menjadi faktor diferensiasi ketika embrio sudah menempuh tahap organogenesis.Hormon
mungkin dihasilkan oleh tubuh embrio sendiri, atau dihasilkan oleh tubuh induk, yang mengalirkannya
ke tubuh embrio melalui plasenta (pada mamalia). Hormon steroid dapat merembes masuk sel, terus ke
dalam inti dan merangsang ADN untuk melakukan transkripsi atau replikasi untuk persiapan bermitosis.
Hormon non-steroid merangsang zat reseptor pada plasmalemma, dan secara estafet menyampaikan
rangsangan kepada ADN inti untuk aktif bertranskripsi atau replikasi.

Disini pengaruh hormon jelas sekali tampak pada perubahan yang terjadi di daerah gembungan pada
kromatin. Gembungan merupakan daerah gen yang aktif melakukan transkripsi, mengandung banyak
ARN-m dan protein non-histon. Jika gen di daerah gembungan sedang aktif, berarti ADN-nya dalam
keadaan longgar dan pilihannya terbuka (despiralisasi). Ternyata jika ke dalam sel dimasukkan hormon
tertentu maka gembungan itu muncul dan besar.Terbentuknya gembungan pada daerah tertentu
kromatin bergantung pada jenis hormone yang merembes masuk sel.

Pada keluarga lalat buah (Drosophila) terkenal adanya kromosom raksasa, yang panjangnya beberapa
mm, di bawah mikroskop cahaya tampak jelas mengandung pita-pia vertical pada kromatin. Pita-pita
tersebut merupakan daerah gen. Apabila gen sedang aktif bertranskripsi maka pada suatu daerah pita-
pita tersebut akan menjadi gembungan. Apabila ulat serangga diberi suntikan hormon pertumbuhan
tingkat larva (juvenile hormone), makaakan tampak gembungan pada daerah tertentu kromatin.
Timbulnya gembungan pada beberapa tempat kromatin sel ulat lalat buah, disebabkan adanya rangsang
dari hormon pertumbuhan ulat.

Faktor intrinsik beroperasi dalam tingkat transkripsi dan translasi.Dalam tingkat transkripsi diferensiasi
terjadi oleh pembedaan pada jenis daerah kromatin yang sedang melakukan transkripsi.Saat interfase
kromatin inti berada dalam 2 fase heterokromatin dan eukromatin.Jika dalam fase hetero, pilinan ADN
rapat dan padat , dan non-aktif. Jika dalam fase eu-pilinan ADN longgar lepas, maka aktif melakukan
transkripsi. Menurut pengamatan hanya sekitar 5% And kromatin dalam suatu sel yang eu pada suatu
pertumbuhan. 95% lagi dalam status hetero. Walau semua sel dalam tubuh embrio mengandung bahan
genetis dan susunan gen yang sama, namun dapat terjadi diferensiasi pada daerah kromatin atau ADN
mana yang yang sedang bertranskripsi.

Dalam proses transkripsi diperlukan enzim ARN-polimerase, nukleosida, fosfat, ATP dan beberapa
elektrolit seperti Na+, Ca+2 dan Mg+2. Difernsiasi dalam tingkat transkripsi mungkin terjadi karena
pembedaan dalam salah satu atau beberapa bahan.

Diferensiasi terjadi pula pada transkripsi karena pembedaan dalam enzim proteinsae yang melepaskan
protein histon dan non-histon dari belitan ADN. Supaya pilinan ADN longgar dan kedua molekul yang
sepasang merenggang, maka perlu kiranya terlebih dahulu histon dan non-histon yang dililit serta
tempatnya membenam terurai. Wilayah mana kromatin dan pada kromatin mana yang menjadi onggar
dapat nerdiferensiasi menurut perbedaan pada penguraian histon non-histon tadi. Perbedaan supali
bahan yang masuk ke dalam inti terutama enzim-enzim, maka akan berbeda pula kodon pada ARN-m
dan pada translasi akan berbeda pula asam amino yang diuntaikan untuk jadi peptide. Pada suatu
protain, beda satu asam amino saja akan beda pula perilaku dan sifatnya.
Contoh dalam sintesa hemoglobin yang mengandung protein globulin.Hb normal yang umum pada
orang disebut Hb A. dalam Hb terjadi variasi orang yang memiliki Hb C, Hb S, Hb 0.Masing-masing Hb
hanya mempunyai perbedaan satu asam amino dari Hb A., lihat tabel 5.1 Hb abnormal. Artinya hanya
berbeda pada satu kodogen pada ADN eukromatin, dari ratusan kodogen lain yang melakukan
transkripsi pada bagian eukromatin tersebut. Perbedaan pada kodogen umumnya terjadi karena mutasi.
Mutasi adalah perubahan pada susunan nukleotida AND terjadi karena gangguan pada suasana
lingkungan sel, intra maupun interseluler.

Gen dan ADN banyak yang rangkap dalam sel suatu organism. Artinya ganda dalam komponen
nukleotida maupun
dalam
transkripsi dan translasi.
Jadi gen A yang akan
mensintesa protein
A, banyak terdapat
dalam suatu inti sel.
Hal ini perlu jika
suatu ketika sel harus
memproduksi protein
yang banyak dalam
waktu singkat. Seperti pada sel plasma, harus menghasilkan anti bodi (imunoglobulin) yang banyak,
diperlukan untuk menyerang benda asing yang masuk tubuh. Gen ganda ini berfungsi sebagai tindakan
pengamanan, jika suatu ketika gen A rusak atau bermutasi dan mutant (hasil mutasi) itu berakibat
sangat buruk sehingga dapat mematikan sel. Jika masih ada cadangan duplikatnya maka transkripsi akan
berlangsung normal.

Pembagian kerja antara gen rangkap, sampai saat ini belum diketahui, namun dapat dibayangkan bahwa
perubahan dalam komposisi bahan yang masuk ke dalam inti dapat membuat diferensiasi dalam
transkripsi. Hal ini mungkin jumlah ARN-m dari berbagai gen yang berbeda, mungkin pula dalam jumlah
ARN-m dari atu gen. eksperimen menemukan bahwa jika sel diberi ARN-polimerase yang diambil dari
kromatin sel dewasa yang sudah berdifernsiasi, maka sel itu hanya mampu mensintesa enzim tertentu,
sesuai dengan jenis enzim yang diproduksi oleh sel dari mana enzim itu diambil.

Transkripsi harus bekerja sama dan berinteraksi antara sitoplasma dan inti/kromatin. Makin dewasa
umur sel makin terspesialisasi bentuk transkripsi untuk sintesa sejenis protein. Namun potnsi kromatin
tetap pluripoten. Oleh sebab itu potensi kromatin untuk diferensiasi dipengaruhi oleh umur sitoplasma
sel bersangkutan. Jika dilakukan pencangkokan inti blastomer atau inti sel epitel lapisan lender usus ke
ovum yang intinya sudah diangkat atau dibunuh dengan sinar ultraviolet, maka akan tumbuh embrio
normal. Hal ini menunjukkan bahwa kromatin aktif, berarti pluripoten. Namun jika yang dicangkokkan ke
dalam ovum adalah inti gastromer (sel gastrula), maka terjadi berbagai macam embrio yang abnormal
dan tidak dapat melanjutkan pertumbuhan (mati).
Antara gen terjadi interaksi dalam transkripsi suatu jenis protein atau suatu jenis karakter anatomi-
fisiologi. Ada karakter yang ditumbuhkan oleh 1 gen, namun banyak pula karakter yang ditumbuhkan
oleh banyak gen, namun banyak pula karakter yang ditumbuhkan oleh banyak gen yang bekerja sama
dan berinteraksi. Tinggi tubuh, warna kulit/bulu adalah contoh karakter yang ditumbuhkan oleh banyak
gen. jika salah satu gen tidak bekerja atau bermutasi maka karakter yang mereka tumbuhkan akan beda
dari asal, sehingga menyebabkan difernsiasi.

Hetero- atau eu-kromatinnnya bahan genetis dalam sel berdiferensiasi menurut umur embrio. Embrio
orang mengandung Hb F (f= fetus, janin) dan setelah alhir digantikan oleh Hb A. berarti gen Hb berubah
keaktifannya setelah embrio lahir. Alat tubuh masa embrio banyak perbedaannya dengan masa anak
dan dewasa. Katak, waktu berudu bernafas dengan insang, berekor dan tidak berkaki, ampas
metabolisme protein berupa NH4OH2 pemakan tumbuhan vegetarian, sedangkan saat dewasa bernafa
dengan paru dan kulit, tak berekor, berkaki, ampas metabolisme (eksresi) berupa urea dan karnivora.
Maka dengan melihat kenyataan, anatomi tubuhnya berbeda saat berudu dan dewasa. Artinya gen yang
aktif saat embrio berbeda dengan yang aktif saat dewasa. Jadi, diferensiasi transkripsi terjadi sesuai
dengan umur sel.

7. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya diferensiasi

Diferensiasi embrionik sel dipengaruhi beberapa faktor, antara lain kontrol gen, hormon sistemik,
letaknya, pertumbuhan pertumbuhan lokal, dan matriks protein. Pengaturan tahap diferensiasi
tergantung pada faktor-faktor tersebut. Selain itu, growth factors juga mempengaruhi proses
diferensiasi sel.

 Kontrol gen

Seperti pada kebanyakan sel yang berdiferensiasi, perbedaan yang terdapat diantara sel-sel lain bukan
disebabkan oleh peningkatan atau pembuangan gen. Perbedaan sel tersebut disebabkan sel
mengekspresikan gen yang berbeda. Gen diaktifkan dan dimatikan untuk mengatur sintesis produk gen.
Fakta mengatakan bahwa banyak tahap “keputusan” penting diferensiasi dalam embriogenesis di bawah
kontrol transkripsional (pengontrolan pembentukan mRNA).

 Asam retinoat
Salah satu yang berperan dalam diferensiasi sel antara lain adalah asam retinoat yang berasal dari
vitamin A. Asam retinoat berfungsi untuk mendorong pertumbuhan dan diferensiasi normal jaringan
epitel.

a. Growth factor

Growth factor yang mempengaruhi proses diferensiasi sel adalah BMP-4 (Bone Morphogenic Protein).
BMP-4 memiliki peran penting dalam pembentukan tulang.Pada amfibi, BMP-4 aktif pada sel yang
berada pada ventral gastrula. Pada saat pertumbuhan embrio, terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan tersebut, antara lain:

1. Faktor genetic

2. Faktor nutrisi

3. Faktor lingkungan

Pada saat proses diferensiasi sel telah tercapai, kondisi sel harus dijaga. Hal tersebut dilakukan melalui
kombinasi berbagai faktor, yaitu:

1. Cell memory yang terdapat dalam genome.

2. Interaksi dengan sel-sel terdekat, melalui faktor parakrin.

3. Sekresi berbagai faktor (faktor autokrin), termasuk faktor tumbuh.