Anda di halaman 1dari 18

ARTIKEL

“ PANCASILA SEBAGAI LANDASAN ETIS DAN MORAL BAGI


PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, DAN SENI.“

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas kelompok mata kuliah Pendidikan
Pancasila
Dosen pengampu : Natal Kristiono, S. Pd., M. H.

Disusun Oleh :
Kelompok 8
1. Dina Efiana (1601419058)
2. Putriana Dewi Nugrahaini (1601419062)
3. Ares Yudi Prasetyo (5201419002)
4. Chyntia Olyvia Rizki Herwianti (6411419184)

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas artikel ini yang
berjudul “Pancasila Sebagai Landasan Etis dan Moral Bagi Pengembangan Ilmu
Pengetahuan, Teknologi, dan Seni” ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk memenuhi


tugas kelompok pada mata kuliah Pendidikan pancasila. Selain itu, makalah ini
juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi para pembaca dan juga bagi
penulis.

Kami menyadari, bahwa artikel yang kami buat ini masih jauh dari kata
sempurna baik segi penyusunan, bahasa, maupun penulisannya. Oleh karena itu,
kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua
pembaca guna menjadi acuan agar penulis bisa menjadi lebih baik lagi di masa
mendatang.

Semarang, 18 Maret 2020

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................ii

BAB 1 PENDAHULUAN.............................................................................1
1.1 Latar Belakang..............................................................................1
1.2 Tujuan...........................................................................................2

BAB 2 PEMBAHASAN................................................................................3
2.1 Landasan Metafisis/Ontologis Pancasila..................................................2
2.2 Landasan Epistemologis Pancasila...........................................................5
2.3 Landasan Aksiologis Pancasila.................................................................8
2.4 Pengertian Etika Pancasila........................................................................9
2.5 Pancasila sebagai Landasan Etis Pengembangan Ilmu...........................13

BAB 3 PENUTUP.......................................................................................14
3.1 Kesimpulan.............................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................15

ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Konsep Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu pernah


dikemukakan oleh Prof Notonagoro, yang menyatakan bahwa Pancasila
merupakan pegangan dan pedoman dalam usaha ilmu pengetahuan untuk
dipergunakan sebagai asas dan pendirian hidup, sebagai suatu pangkal sudut
pandangan dari subjek ilmu pengetahuan dan juga menjadi objek ilmu
pengetahuan atau hal yang diselidiki (Koesnadi, 1987: xii). Penggunaan istilah
“asas dan pendirian hidup” mengacu pada sikap dan pedoman yang menjadi
rambu normatif dalam tindakan dan pengambilan keputusan ilmiah. Pancasila
adalah gagasan vital yang berasal dari kebudayaan Indonesia, artinya nilai-nilai
yang benar-benar diramu dari sistem nilai bangsa Indonesia sendiri.Konsep
Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu menurut cara pandang Daoed
Joesoef adalah sebagai tuntunan dan pertimbangan nilai dalam pengembangan
iptek. Oleh karena itu, Pancasila memiliki metode tertentu dalam memandang,
memegang kriteria tertentu dalam menilai sehingga menuntunnya untuk membuat
pertimbangan tertentu tentang gejala, ramalan, dan anjuran tertentu mengenai
langkah-langkah praktikal.

Pengembangan IPTEK tidak dapat terlepas dari situasi yang melingkupinya,


artinya IPTEK selalu berkembang dalam suatu ruang budaya. Perkembangan
IPTEK pada gilirannya bersentuhan dengan nilai-nilai budaya dan agama
sehingga di satu pihak dibutuhkan semangat objektivitas, di pihak lain IPTEK
perlu mempertimbangkan nilai-nilai budaya dan agama dalam pengembangannya
agar tidak merugikan umat manusia. Kuntowijoyo dalam konteks pengembangan
ilmu menengarai bahwa kebanyakan orang sering mencampuradukkan antara
kebenaran dan kemajuan sehingga pandangan seseorang tentang kebenaran
terpengaruh oleh kemajuan yang dilihatnya. Kuntowijoyo menegaskan bahwa
kebenaran itu bersifat non-cumulative (tidak bertambah) karena kebenaran itu
tidak makin berkembang dari waktu ke waktu. Adapun kemajuan itu bersifat
cumulative (bertambah), artinya kemajuan itu selalu berkembang dari waktu ke

1
waktu. Agama, filsafat, dan kesenian termasuk dalam kategori non-cumulative,
sedangkan fisika, teknologi, kedokteran termasuk dalam kategori cumulative.

Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu, artinya kelima sila


Pancasila merupakan pegangan dan pedoman dalam pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Beberapa terminologi yang dikemukakan para pakar
untuk menggambarkan peran Pancasila sebagai rujukan bagi pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.

Pancasila sebagai paradigma ilmu Pentingnya Pancasila sebagai dasar nilai


pengembangan ilmu bagi mahasiswa adalah untuk memperlihatkan peran
Pancasila sebagai rambu-rambu normatif bagi pengembangan ilmu pengetahuan
di Indonesia. Selain itu, pengembangan ilmu dan teknologi di Indonesia harus
berakar pada budaya bangsa Indonesia itu sendiri dan melibatkan partisipasi
masyarakat luas. Oleh karena itu. kemajuan dan perkembangan IPTEK sangat
diperlukan dalam upaya mempertahankan segala kekayaan yang dimiliki oleh
Indonesia serta menjawab segala tantangan zaman.

Dengan penguasaan IPTEK kita dapat tetap menjaga persatuan dan kesatuan
bangsa Indonesia sesuai dengan sila ketiga yang berbunyi Persatuan Indonesia.
Maka dari itu, IPTEK dan Pancasila antara satu dengan yang lain memiliki
hubungan yang kohesif. IPTEK diperlukan dalam pengamalan Pancasila, sila
ketiga dalam menjaga persatuan Indonesia. Di lain sisi, kita juga harus tetap
menggunakan dasar-dasar nilai Pancasila sebagai pedoman dalam
mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi agar kita dapat tidak terjebak
dan tepat sasaran mencapai tujuan bangsa.

1.2 Tujuan

1. Memahami landasan Metafisis/ontologis


2. PancasilaMemahami landasan epistemologis
3. PancasilaMemahami landasan aksiologis
4. PancasilaMemahami Etika dalam Pancasila
5. Memahami Pancasila sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni.

2
BAB 2
PEMBAHASAN
Rancangan Bahasan 1:
Landasan Pengembangan Ilmu

2.1 Landasan Metafisis/Ontologis Pancasila

Pengertian “ontologi” berasal dari kata Yunani onta yang berarti “sesuatu
yang sungguh-sungguh ada”, “kenyataan yang sesungguhnya”, dan logos yang
berarti “studi tentang”, “teori yang membicarakan”. Ontologi mempelajari ciri
hakiki (pokok) dari keberadaan (Being) yang berbeda dari studi tentang hal-hal
yang ada secara khusus. Ontologi mempelajari keberadaan dalam bentuknya yang
paling abstrak, dan pertanyaan yang diajkuan adalah “apakah keberadaan (ada)
itu? Apakah hakikat keberadaan sebagai keberadaan (being-as-being).

Ontologi merupakan cabang filsafat yang membicarakan tatanan (keteraturan)


dan luas struktur kenyataan dalam arti yang luas. Kategori-kategori yang dipakai
adalah : mengada atau menjadi, aktualitas atau potensionallitas, nyata atau
Nampak, perubahan, eksistensi atau non-eksistensi, hakikat, kemutlakan, yang
terdalam. Ontologi dipakai searti dengan metafisika kalua tinjauannya dikaitkan
dengan cabang filsafat yang lain misalnya epis-temologi, etika, estetika.

Beberapa pandangan tentang Keberadaan (pandangan Ontologis) :


1. Beberapa pandangan yang menyangkut keberadaan dipandang dari segi
jumlah atau kuantitas.
a. Monisme : berpandangan bahwa hanya ada satu keberadaan
yang fundamental. Keberadaan tersebut dapat berupa jiwa, roh,
materi, Tuhan atau substansi lainnya.
b. Dualisme : berpandangan bahwa ada dua keberadaan
(substansi) yang masing-masing berdiri sendiri.
c. Pluralisme : berpandangan bahwa ada keberadaan yang
banyak (lebih dari dua). Pandangan filsafat kontemporer diwakili oleh
postmodernis

3
2. Beberapa pandangan yang menyangkut keberadaan dipandang dari segi
sifat atau kualitas.
a. Spiritualisme : berpandangan bahwa keberadaan atau kenyataan
yang terdalam adalah roh, idea, cita, yaitu sesuatu yang bukan maten.
b. Materialisme : berpandangan bahwa yang merupakan
keberadaan adalah materi, yaitu sesuatu yang menempati ruang.

3. Beberapa pandangan yang menyangkut keberadaan dipandang dari segi


proses, kejadian atau perubahan.
a. Mekanisme : berpandangan bahwa semua gejala dari
keberadaan dapat dijelaskan berdasar asas-asas mekanik. Semua
gejala adalah hasil dari materi yang bergerak dan berproses menurut
kaidah sebab-akibat.
b. Teleologi : berpandangan bahwa yang berlaku dalam gejala.
alam bukanlah semata-mata kaidah sebab akibat, akan tetapi sejak
semula memang ada sesuatu kemauan atau kekuatan yang
mengarahkan alam ke suatu tujuan.

Pandangan Ontologi Pancasila:


1. Tuhan adalah sebab pertama (causa prima) dari segala sesuatu, Yang Esa
dan segala sesuatu tergantung kepadanya. Tuhan adalah sempurna dan
maha kuasa, me-rupakan dzat yang mutlak, ada secara mutlak. Zat yang
mulia dan. sempurna. Causa tinalis.
2. Manusia memiliki susunan hakikat. pribadi yang monopluralis.
(majemuk tunggal), bertubuh-berjiwa, berakal berasa berkehendak,
bersifat individu makhluk sosial, berkedudukan sebagai pribadi berdiri
sendiri makhluk Tuhan yang menimbulkan kebutuhan kejiwaan dan
religius, yang seharusnya secara bersama-sama dipelihara dengan baik
dalam kesatuan yang seimbang, harmonis dan dinamis.
3. Mengakui adanya kualitas metafisis "satu" (trancendentalone). Iisatu"
ialah. secara mutlak tidak dapat terbagi. Merupakan diri pribadi yaitu
mempunyai bentuk, susunan, sifat-sifat dan keadaan tersendiri sehingga

4
kesemuanya itu menjadikan yang ber-sangkutan suatu keutuhan
(keseluruhan) yang mempunyai tempat tersendiri (utuh, terpisah dari
yang lain, mempunyai bentuk dan wujud).
4. Mengakui adanya "rakyat" Rakyat ialah keseluruhan jumlah semua
orang, warga dalam lingkungan daerah atau negara tertentu, yang dalam
segala sesuatunya meliputi semua warga, dan untuk keperluan seIuruh
warga, termasuk hak dan kwajiban asasi kemanusiaan setiap warga,
sebagai perseorangan dan sebagai penjelmaan hakikat manusia Hakikat
rakyat adalah pilar negara dan yang berdaulat.
5. Mengakui adanya kualitas metafisis “baik" (trancendental good) yang
berupa adil. Adil ialah dipenuhinya sebagai wajib segala sesuatu yang
merupakan hak dalam hubungan hidup kemanusiaan. Sebagai
penjelmaan hakikat manusia .(wajib lebih diutarakan daripada hak),
pemenuhan hak sebagai kewajiban tersebut mencakup hubungan antara
negara (pendukung wajib) dengan warga negaranya (disebut keadilan
distributif), hubungan antara warga negara (pendukung wajib) dengan
negara (disebut keadilan legal) dan hubungan di antar sesama warga
negara (disebut keadilan lrumutatif). Keadilan mengandung inti adil yang
pads hakikatnya adalah kerelaan (aspek jiwa) dan kesebandingan (aspek
raga).

2.2 Landasan Epistemologis Pancasila

Epistemologi berasal dari kata Yunani, "episteme" dan "logos". Episteme


biasa diartikan sebagai “pengetahuan" atau “Kebenaran" dan “1ogos" diartikan
“pikiran" atau teori. Epistemologi dapat diartikan sebagai “teori pengetahuan yang
benar" dan lazimnya hanya disebut "teori pengetahuan”. yang dalam bahasa
Inggrisnya "Theory ofknowledge".

Istilah-istilah lain yang setara maknanya dengan "epistemologi" dalam


berbagai perpustakaan filsafat kadang-kadang disebut juga "material logic"
“logika material", teorilogi , dan dalam bahasa Indonesia lazim diistilahkan
"filsafat pengetahuan". Atau kadang-kadang disebut juga 'Teori Pengetahuan"

5
dengan maksud untuk membedakannya dan epistemologi. Yang khusus
membahas masalah keilmuan" yang dalam bahasa Inggrisnya "Philosophy of
Science atau Theory of Science".

Mengenai batasan pengertian epistemologi dapat dikemukakan sebagai


berikut: epistemologi. adalah cabang filsafat yang menyelidiki. secara kritis
hakekat, landasan, batas-batas dan patokan keshahihan pengetahuan, mena
memeriksa bagaimana kita mengetahui, dapat pula ia dipandang sebagai teori
kognisi. Ia lebih mendasar dan metodelogi.. Karena itu asumsi-asumsi
epistemologi. suatu bentuk pengetahuan tercermin (pada metodelogi yang
diterapkan dalam pengembangan pengetahuan tersebut. Landasan epistemologi.
menentukan cara-cara yang dia pakai untuk memperoleh dan memvalidasi
pengetahuan.

Sumber pengetahuan Pancasila adalah nilai-nilai yang ada pada bangsa


Indonesia sendiri. Sedangkan susunan Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan
yaitu Pancasila memiliki susunan yang bersifat formal logis, baik dalam arti
susunan sila-sila Pancasila maupun isi arti dari sila-sila Pancasila itu. Sebagai
suatu paham epistemologi, maka Pancasila mendasarkan pada pandangannya
bahwa ilmu pengetahuan tidak bebas nilai dalam upaya untuk mendapatkan suatu
tingkatan pengetahuan yang mutlak dalam hidup manusia.

Menurut Titus, terdapat tiga persoalan yang mendasar dalam epistemologi,


yaitu :

1. Tentang sumber pengetahuan manusia

Maha sumber ialah Tuhan, yang menciptakan kepribadian manusia dengan


martabat dan potensi unik yang tinggi, menghayati kesemestaan, nilai agama dan
ketuhanan. Kepribadian manusia sebagai subyek diberkati dengan martabat luhur:
panca indra, akal, rasa, karsa, cipta, karya dan budi nurani. Kemampuan martabat
manusia sesungguhnya adalah anugerah dan amanat ketuhanan/ keagamaan.

6
Berikut ini beberapa macam sumber pengetahuan dibedakan secara kualitatif,
antara:

a. Sumber primer, yang tertinggi dan terluas, orisinal: lingkungan alam,


semesta, sosio-budaya, sistem kenegaraan dan dengan dinamikanya;
b. Sumber sekunder: bidang-bidang ilmu yang sudah ada/ berkembang,
kepustakaan, dokumentasi;
c. Sumber tersier: cendekiawan, ilmuwan, ahli, narasumber, guru.

2. Tentang teori kebenaran pengetahuan manusia

Sila ketuhanan yang maha Esa memberi landasan kebenaran pengetahuan


manusia yang bersumber pada intuisi. Manusia pada hakikatnya berkedudukan
dan kodratnya adalah sebagai makhluk Tuhan yang maha Esa. Maka, sesuai
dengan sila pertama pancasila, epistemologi pancasila juga mengakui kebenaran
wahyu yang bersifat mutlak hal ini sebagai tingkat kebenaran yang tinggi yang
harus diakui oleh setiap manusia. Dengan demikian kebenaran dan pengetahuan
manusia merupakan suatu sintesa yang harmonis antara potensi-potensi kejiwaan
manusia yaitu akal, rasa, dan kehendak manusia untuk mendapatkan kebenaran
yang tinggi sebagai makhluk Tuhan. Selanjutnya, dalam sila ketiga, keempat dan
kelima, maka epistemologi pancasila mengakui kebenaran konsensus terutama
dalam kaitannya dengan hakikat sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu
dan makhluk sosial.

3. Tentang watak pengetahuan manusia

Watak pengetahuan manusia bersumber pada ketuhanan yang


ditransformasikan kepada diri sendiri dengan epistemologi pancasila yang
mengakui kebenaran Tuhan itu ada dan kebanaran terhadap wahyu serta potensi
diri yang menjadi dasar rasional logis yang menyangkut kualitas maupun
kuantitas arti dari pancasila tersebut.

Secara epistemologi kajian pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai


upaya untuk mencari hakikat pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. Dengan

7
demikian walau Pancasila sebagai sistem filsafat pada hakikatnya juga merupakan
sistem pengetahuan. Ini berarti pancasila telah menjadi suatu sistem kepercayaan
(belief system), sistem cita cita dan telah menjadi suatu ideologi bangsa dan
negara. Oleh karena itu pancasila harus memiliki unsur rasionalisme terutama
kedudukannya sebagai sistem pengetahuan.

Dasar epistemologis pancasila pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan


dasar ontologisnya. Maka, dasar epistemologis pancasila sangat berkaitan erat
dengan konsep dasar tentang hakikat manusia. Pancasila sebagai suatu obyek
pengetahuan pada hakikatnya meliputi masalah sumber pengetahuan dan susunan
pengetahuan pancasila tentang sumber pengetahuan pancasila sebagaimana telah
dipahami bersama adalah nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia sendiri.

Nilai-nilai tersebut merupakan kausa materialis pancasila tentang susunan


pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan, maka pancasila memiliki susunan
yang bersifat formal logis baik dalam arti susunan sila-sila pancasila maupun isi
arti dari sila-sila pancasila itu. Susunan kesatuan sila-sila pancasila adalah bersifat
hirarkis dan berbentuk piramida. Sifat hirarkis dan bentuk piramidal itu nampak
dalam susunan pancasila, dimana sila pertama pancasila mendasari dan menjiwai
ke empat silasila lainnya, sila kedua didasari sila pertama dan mendasari serta
menjiwai sila ketiga, keempat dan kelima, sila ketiga didasari dan dijiwai sila
pertama dan kedua, serta mendasari dan menjiwai sila keempat dan kelima, sila
keempat didasari dan dijiwai sila pertama, kedua dan ketiga, serta mendasari dan
menjiwai sila kelima, sila kelima didasari dan dijiwai sila pertama, kedua, ketiga
dan keempat.

2.3 Landasan Aksiologis Pancasila

Istilah Aksiologi berasal dari bahasa Yunani axios yang artinya nilai, manfaat,


dan logos yang artinya pikiran atau ilmu. Aksiologi adalah teori nilai, yaitu
sesuatu yang diinginkan, disukai atau yang baik. bidang yang diselidiki adalah
hakikat nilai, kriteria nilai, dan kedudukan metafisiska suatu nilai. Nilai
(value  dalam bahasa inggris) berasal dari bahasa Latin  valere yang artinya kuat,

8
baik, dan berharga. Dalam kajian filsafat nerujuk pada sesuatu yang sifatnya
abstrak yang dapat diartikan sebagai “keberhargaan” (worth) atau “kebaikan”
(goodness). Nilai itu sesuatu yang  berguna, nilai juga mengandung harapan akan
sesuatu yang diinginkan, nilai adalah suatu kemampuan yang dipercayai yang ada
pada suatu benda untuk memuaskan manusia.

Landasan Aksiologis Pancasila artinya nilai atau kualitas yang terkandung


dalam sila-sila Pancasila. Pancasila mengandung spiritualitas, kemanusiaan,
solidaritas, musyawarah, dan keadilan. Pancasila merupakan sumber nilai untuk
memahami hidup berbangsa dan bernegara secara utuh. Nilai-nilai dari Pancasila
berdasarkan filosofinya yaitu sila ke:
1. Kualitas monoteis, spiritual, kekudusan, dan sakral.
2. Martabat, harga diri, kebebasan, dan tanggung jawab.
3. Solidaritas dan kesetiakawanan.
4. Demokrasi, musyawarah, mufakat, dan berjiwa besar.
5. Kepedulian dan gotong royong.

Rancangan Bahasan 2:
Pancasila Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Teknologi dan Seni

2.4 Pengertian Etika Pancasila


Etika merupakan cabang ilmu filsafat yang membahas masalah baik dan
buruk. Ranah  pembahasannya   meliputi   kajian  praktis dan refleksi filsafat atas
moralitas secara normatif. Kajian praktis menyentuh moralitas sebagai perbuatan
sadar yang dilakukan dan didasarkan pada norma-norma masyarakat yang
mengatur perbuatan baik (susila) dan buruk (asusila). Adapun refleksi filsafat
mengajarkan bagaimana tentang moral filsafat mengajarkan bagaimana tentang
moral tersebut dapat dijawab secara rasional dan bertanggung jawab.

Etika Pancasila adalah etika yang mendasarkan penilaian baik dan buruk
pada nilai-nilai Pancasila, yaitu nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai
persatuan, nilai kerakyatan dan nilai keadilan. Suatu perbuatan dikatakan baik
bukan hanya apabila tidak bertentanan dengan nilai-nilai Pancasila tersebut. Nilai-
nilai Pancasila, meskipun merupakan kristalisasi nilai yang hidup dalam realitas

9
sosial, keagamaan, maupun adat kebudayaan bangsa Indonesia, namun sebenarnya
juga nilai-nilai yang bersifat universal dapat diterima oleh siapa pun dan kapan
pun. Etika Pancasila berbicara tentang nilai-nilai yang sangat mendasar dalam
kehidupan manusia.

Etika Pancasila tidak memposisikan secara berbeda atau bertentangan


dengan aliran-aliran besar etika yang mendasarkan pada kewajiban, tujuan
tindakan dan pengembangan karakter moral, namun justru merangkum dari aliran-
aliran besar tersebut. Etika Pancasila adalah etika yang mendasarkan penilaian
baik dan buruk pada nilai-nilai Pancasila, yaitu nilai Ketuhanan, Kemanusiaan,
Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan.Suatu perbuatan dikatakan baik bukan hanya
apabila tidak bertentangan dengan nilai-nilai tersebut, namun juga sesuai dan
mempertinggi nilai-nilai Pancasila tersebut.

1. Etika Deontologi

Istilah deontologi berasal dari kata Yunani ‘deon’ yang berarti kewajiban.
Yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban. Etika deontologi
merupakan etika yang memandang baik buruknya sebuah tindakan
berdasarkanapakah tindakan tersebut sesuai atau tidak dengan sebuah kewajiban
manusia. Etika deontologi tidak pernah mempertimbangkan dan mempersoalkan
akibat atau hasil dari tindakan tersebut. Menurut immanuel kant (1734-1804)
kebaikan adalah saat seseorang melaksanakan apa yang menjadi tanggung
jawabnya. Manusia dalam dirinya secara kategoris sudah dibekali pemahaman
tentang tindakan itu baik/buruk yang harus dilakukan sebagai perintah tanpa
syarat.

Pendekatan deontologi sudah diterima dalam konteks agama, dan


merupakan juga salah satu teori etika yang terpenting. Contoh kasus dari etika
deontology adalah kewajiban seseorang yang memiliki dan mempecayai
agamanya, maka orang tersebut harus beribadah, menjalankan perintah dan
menjauhi laranganNya. Bila orang tersebut misalnya tidak menjalankan
kewajibannya maka orang tersebut akan merasa berdosa. Contohnya saya sebagai

10
orang islam mempunyai kewajibab untuk menjalankan sholat lima waktu, apabila
saya tidak menjalankan sholat lima waktu saya akan merasa bersalah dan merasa
berdosa. 

2. Etika Teleologis

Teleologi berasal dari akar kata Yunani telos, yang berarti akhir, tujuan,


maksud, dan logos, yang berarti perkataan.  Model etika ini berkebalikan dengan
etika deontologi. Dimana dalam etika ini baik/buruknya suatu tindakan dilihat
berdasarkan tujuan/akibat dari perbuatan itu. Etika ini melihat sebuah hasil yang
diperoleh. Meskipun prosesnya merupakan sebuah kesalahan besar namun tujuan
dan hasil/akibatnya itu baik maka masih diperbolehkan. Dalam teori ini dijelaskan
pula bila dalam dua kondisi kewajiban atau lebih, maka etika teologi bersifat
situasional yaitu memilih mana yang membawa akibat baik meskipun harus
melanggar kewajiban nilai atau norma lain.

 Istilah teleologi dikemukakan oleh Christian Wolff, seorang filsuf Jerman


abad le-18 . Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang
memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan,
sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses
perkembangan. Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis
mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah.
Dalam bidang lain, teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi
tujuan dan “kebijaksanaan” objektif di luar manusia.

Dalam dunia etika, teleologi bisa diartikan sebagai pertimbangan moral


akan baik buruknya suatu tindakan dilakukan , Teleologi mengerti  mana yang
benar, dan mana yang salah, tetapi itu bukan ukuran yang terakhir.Yang lebih
penting adalah tujuan dan akibat.Betapapun salahnya sebuah tindakan menurut
hukum, tetapi jika itu bertujuan dan berakibat baik, maka tindakan itu dinilai
baik.Ajaran teleologis dapat menimbulkan bahaya menghalalkan segala cara.
Dengan demikian tujuan yang baik harus diikuti dengan tindakan yang benar

11
menurut hukum.Perbincangan “baik” dan “jahat” harus diimbangi dengan “benar”
dan “salah”.

Contoh dari etika teleologi adalah saya teringat kasus tentang  Seorang
anak mencuri untuk dua buah kelapa untuk  membeli obat ibunya yang sedang
sakit. Tindakan ini baik untuk moral dan kemanusiaan tetapi dari aspek hukum
tindakan ini melanggar hukum karena itu berupa pencurian  sehingga etika
teleologi lebih bersifat situasional, karena tujuan dan akibatnya suatu tindakan
bisa sangat bergantung pada situasi khusus tertentu. Dalam kasus ini anak tersebut
tetaplah salah karena dia mencuri, tapi dalam teori teori teleology hal tersebut
dibenarkan atau dianggap benar  tapi karena anak tersebut mencuri untuk
membelikan obat ibunya yang sakit.

3. Etika Keutamaan

Etika Keutamaan bisa didefinisikan sebagai berikut : disposisi watak yang


telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik
secara moral. memandang sikap atau akhlak seseorang. Tidak ditanyakan apakah
suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan sebagainya.

Contoh dari etika keutamaan ini adalah sebagai berikut :

1. Kebijaksanaan, misalnya, merupakan suatu keutamaan yang membuat


seseorang mengambil keputusan tepat dalam setiap situasi.
2. Keadilan adalah keutamaan lain yang membuat seseorang selalu
memberikan kepada sesama apa yang menjadi haknya. Keadilan juga
bermakna tidak berat sebelah.
3. Suka bekerja keras adalah keutamaan yang membuat seseorang mengatasi
kecenderungan spontan untuk bermalas – malasan. Ada banyak keutamaan
semacam ini. Seseorang adalah orang yang baik jika memiliki keutamaan.

12
2.5 Pancasila sebagai Landasan Etis Pengembangan Ilmu

1. Etika dalam Pengertian Moralitas

Etika sering diidentikkan dengan moral (atau moralitas). Namun, meskipun


sama-sama terkait dengan baik-buruk tindakan manusia, etika dan moral memiliki
perbedaan pengertian. Moralitas lebih condong pada pengertian nilai baik dan
buruk dari setiap perbuatan manusia itu sendiri, sedangkan etika berarti ilmu yang
mempelajari tentang baik dan buruk. Jadi bisa dikatakan, etika berfungsi sebagai
teori tentang perbuatan baik dan buruk

2. Etika dalam Pengertian Filsafat Moral

Dalam filsafat terkadang etika disamakan dengan filsafat moral. Etika


membatasi dirinya dari disiplin ilmu lain dengan pertanyaan apa itu moral. Ini
merupakan bagian terpenting dari pertanyaan-pertanyaan seputar etika. Tetapi di
samping itu tugas utamanya ialah menyelidiki apa yang harus dilakukan manusia.
Semua cabang filsafat berbicara tentang yang ada, sedangkan filsafat etika
membahas yang harus dilakukan.

13
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Rancangan Bahasan 1:
Landasan Pengembangan Ilmu

Landasan pengembangan ilmu dalam Pancasila dibagi menjadi 3, yaitu :


Landasan Metafisis/Ontologis Pancasila, Landasan Epistemologis Pancasila, dan
Landasan Aksiologis Pancasila. Landasan ontologis adalah analisi tentang objek
materi dari ilmu pengetahuan. Objek materi ilmu pengetahuan adalah hal-hal atau
benda-benda empiris. Landasan epistemologis adalah analisis tentang proses
tersusunnya ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan disusun melalui proses yang
disebut metode Ilmiah (keilmuan). Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan
sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara
kritis.Landasan aksiologis adalah analisis tentang penerapan hasil-hasil temuan
ilmu pengetahuan. Penerapan ilmu pengetahuan di maksudkan untuk
memudahkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dan keluhuruan hidup manusia

Rancangan Bahasan 2:
Pancasila Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Teknologi dan Seni

Pancasila Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Teknologi dan seni pada


dasarnya memiliki etika didalamnya, yaitu etika Pancasila. Etika Pancasila adalah
etika yang mendasarkan penilaian baik dan buruk pada nilai-nilai Pancasila, yaitu
nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan dan nilai
keadilan. Suatu perbuatan dikatakan baik bukan hanya apabila tidak bertentanan
dengan nilai-nilai Pancasila tersebut. Nilai-nilai Pancasila, meskipun merupakan
kristalisasi nilai yang hidup dalam realitas sosial, keagamaan, maupun adat
kebudayaan bangsa Indonesia, namun sebenarnya juga nilai-nilai yang bersifat
universal dapat diterima oleh siapa pun dan kapan pun. Etika Pancasila berbicara
tentang nilai-nilai yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia.

14
DAFTAR PUSTAKA

Sri Soeprapto, 1996 : Landasan Aksiologik Pancasila. Makalah Internship Dosen-


Dosen filsafat Pancasila, Yogyakarta.
Kaelan, 2000, Pendidikan Pancasila, Edisi Reformasi, Yogyakarta: Penerbit
paradigma.
Bertens, K. 1983 : Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta, Kanisius.
Syarbaini, Syahrial, (2003), Pendidikan Pancasila Di Perguruan Tinggi, Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan DIKTI. (2016), Pendidikan
Pancasila. Jakarta: DIKTI.
Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan DIKTI. (2013), Materi Ajar Mata
Kuliah Pendidikan Pancasila, Jakarta: DIKTI.
Poespoprodjo, Filsafat Moral Kesusilaan Teori dan Praktek, (Bandung: Pustaka
Grafika, 1999)

15