Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Bismillahirohmanirrohiim
Assalamu’alaikum warohmatullohi wa barokaatuh
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT semesta alam karena atas
hidayah dan rahmatnya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik,
insya Alloh. Sholawat serta salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW
serta segenap keluarga dan sahabatnya serta para pengikutnya yang setia hingga
akhir zaman.
Makalah yang membahas tentang Kemu’jizatan Al-Qur’an ini, mudah-
mudahan bisa bermanfaat bagi mahasiswa semua, meskipun dalam
penyusunannya jauh dari kesempurnaan, akan tetapi tanpa mengurangi rasa
hormat kami, penyusun juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun baik dari dosen mata kuliah maupun dari mahasiswa sekalian.
Kesempurnaan dan kebenaran itu hanya dari Allah SWT sedangkan
kesalahan dan kekurangan adalah dari manusia kami pribadi.
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh

Blora,september 2019

penyusun

1
DAFTAR ISI
Kata pengantar................................................................................................ i
Daftar ii
isi..........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
Latar belakang......................................................................................... 1
Rumusan masalah.................................................................................... 1
Tujuan masalah........................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................ 3
A. Pengertian mukjizat Al-Qur’an............................................................... 3
B. Tujuan dan peranan Al-Qur’an................................................................ 8
C. Pendapat ulama’ tentang kemukjizatan Al-Qur’an................................. 9
D. Macam-macam kemukjizatan Al-Qur’an................................................ 11
BAB III. PENUTUP....................................................................................... 13
A. Kesimpulan............................................................................................... 13
B. Saran......................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur’an al-Karim memiliki kedudukan yang fundamental dalam
agama Islam. Al-Qur’an merupakan sumber hukum pertama dan yang paling
utama bagi umat Islam.semua hukum yang berlaku dalam Islam tidak boleh
bertentangan dengan Al-Qur’an untuk menurunkan hukum lainnya.
Di samping Al-Qur’an sumber hukum Islam, Al-Qur’an juga
merupakan mukjizat nabi muhammad saw yang terbesar dibandingkan
dengan kemukjizatan nabi lainnya. kemukjizatan Al-Qur’an berlaku
sepanjang zaman tanpa dibatasi ruang dan waktu. Ini tentu berbeda dengan
mukjizat-mukjizat lainnya.
Ada banyak aspek yang menjadikan Al-Qur’an sebagai suatu mukjizat,
aspek tersebut antara lain dari segi bahasa, isyarat-isyarat ilmu pengetahuan
dan teknologi pemberitaan yang ghoib, disamping aspek tersebut, banyak
aspek lain yang menunjukan kemukjizatan Al-Qur’an antara lain tentang Al-
Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia dan juga pengaruh terhadap
psikologis dan jiwa manusia baik yang mendengar membaca atau
memahaminya.
Al-Qur’an adalah mukjizat abadi Nabi Muhammad Saw yang
dengannya seluruh umat manusia dan jin ditantang untuk membuat yang
serupa Al-Qur’an sebuah atau sepuluh surah yang sama dengan surah yang
didalamnya1. Banyak orang-orang yang ragu terhadap kebenaran dan
kemukjizatan Al-Qur’an dari zaman dahulu hingga sekarang. Banyak diantara
mereka yang mengira bahwa Al-Qur’an hanyalah bikinan nabi muhammad
saw bukan sebagai wahyu Allah swt. Oleh karenya itulah Allah swt
memberikan tantangan terhadap orang yang meragukan Al-Qur’an.
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimanakah tinjauan umum tentang mukjizat Al-Qur’an?
b. Apa tujuan dan peranan mukjizat Al-Qur’an?

1
Abu Zahra an-najdi, al quran dan rahasia angka-angka, bandung, pustaka hidayah,1996. Hlm 17

3
c. Bagaimana pendapat ulama’ tentang kemukjizatan Al-Qur’an?
d. Apa sajakah macam-macam kemukjizatan Al-Qur’an?
C. Tujuan Masalah
a. Untuk mengetahui penegrtian umum mukjizat Al-Qur’an
b. Untuk mengetahui tujuan dan peranan mukjizat Al-Qur’an
c. Untuk mengetahui pendapat ulama’ tentang mukjizat Al-Qur’an
d. Untuk mengetahui macam-macam Al-Qur’an

4
BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian mukjizat Al-Qur’an
Sebagaimana yang telah kita ketahui istilah i'jaz atau yang biasa
dikenal juga dengan istilah Mukjizat secara etimologi berasal dari kata
a’jaza-yu’jizu-i’jaz yang berarti melemahkan atau menjadikan lemah
sedangkan istilah Mukjizat sendiri merupakan isim fail dari wazan tersebut
yang berarti yang melemahkan. Dan karena ini merupakan kalimah yang
muta’addi dalam bentuk ruba’inya, maka tentu memerlukan suatu objek yang
tidak lain adalah umat-umat para nabi atau rasul yang dihadapinya. Dan
dalam kalimah Mukjizat itu juga mendapat tambahan ta- di akhir yang
memiliki makna mubalaghah (superlatif) yang berarti lebih atau sangat.
Sedangkan menurut terminologi, di dalam buku "Mukjizat Al-Qur-an"
karya Prof.Dr.Quraish Shihab, Mukjizat didefinisikan sebagai "suatu hal atau
peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku nabi, sebagai
bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan
atau mendatangkan hal yang serupa, namun mereka tidak mampu melayani
tantangan itu”.2
Pada umumnya mukjizat para nabi yaitu disesuaikan dengan kondisi
pada yang ngetrend dan bernilai tinggi pada masyarakat yang dihadapinya.
Karena apabila suatu masyarakat mengetahui atau ahli dalam bidang tertentu,
mereka akan mengetahui apa yang menjadi batas kemampuan mereka atau
kemampuan manusia, dan mereka akhirnya mengakuinya siap atau tidak
bahwa hal luar biasa itu bukan buatan atau kreasi manusia melainkan berasal
dari kekuasaan Tuhan.
Sebagaimana kisah-kisah mukjizat pada umat nabi Musa yang pada
saat itu lagi gencar-gencarnya orang-orang melakukan sihir, maka nabi Musa
menyapa mereka dengan mukjizat yang memiliki ciri khas seperti sihir juga.
Dan mukjizat yang terjadi pada kisah nabi Isa yang pada saat itu umatnya

2
M. Quraish shihab,Mukjizat Al-quran:ditinjau dari Aspek kebahasaan,isyarat ilmiah, dan
pemberitaan gaib,(jakarta: Mizan,2004, hlm.23

5
terkenal ahli dalam bidang pengobatan, maka nabi Isa mendatangi mereka
dengan mukjizat yang hal-hal yang berbau kedokteran juga yang pada waktu
itu masih mustahil ditemukan ilmu kedokteran sebagaimana yang
ditunjukkan nabi isa.
Dan begitu pula yang terjadi pada masa turunnya Al-Qur’an, pada
masa itu orang-orang Arab dikenal hobi dan mahir dalam membuat sastra-
sastra yang indah, maka Al-Qur’an datang menghampiri mereka dan
membuat mereka takjub akan sastra tingkat tinggi yang termuat pada Al-Qur-
an. Mereka takjub dan terkagum-kagum tidak lain karena mereka ahli dalam
bidang itu, dan mengetahui mana sastra yang berkualitas tinggi dan mana
yang tidak. Dan oleh karena itu banyak dari orang Arab pada saat itu yang
masuk Islam hanya karena pernah mendengar atau membaca potongan-
potongan ayat Al-Qur-an yang dibacakan atau yang diperlihatkan pada
mereka. Dan mukjizat sendiri juga memiliki syarat-syarat tertentu agar bisa
dinamakan dengan mukjizat. Para ulama- membagi syarat-syarat tersebut
menjadi lima, dan apabila tidak terpenuhi salah satu dari kelima syarat
tersebut, maka tidaklah disebut dengan mukjizat. Kelima syarat tersebut
adalah :
1. Mukjizat harus berupa sesuatu yang tidak disanggupi oleh selain Allah
Tuhan sekalian alam.
2. Tidak sesuai dengan kebiasaan dan berlawanan dengan hukum alam.
3. Mukjizat harus berupa hal yang dijadikan saksi oleh seorang yang
mengaku membawa risalah ilahi sebagai bukti atas kebenaran
pengakuannya
4. Terjadi bertepatan dengan pengakuan nabi yang mengajak bertanding
menggunakan mukjizat tersebut
5. Tidak ada seorangpun yang dapat membuktikan dan membandingkan
dalam pertandingan tersebut3.

3
said Agil Husin Al Munawwar dan Masykur Hakim,i’jaz Al-qur’an dan Metodologi Tafsir,
(Semarang: Dina Putra semarang, 1994, hlm.1-2

6
Setelah kita mengetahui pengertian di atas, jika kita berkata "Mukjizat
Al-Qur’an" maka ini berarti bahwa mukjizat (bukti kebenaran) tersebut
adalah mukjizat yang dimiliki atau yang terdapat dalam Al-Qur’an, bukannya
bukti kebenaran yang datangnya dari luar Al-Qur’an atau faktor luar.4
Ada beberapa segi kemukjizatan Al-Qur’an,di antaranya:
1. Susunan yang indah, berbeda dengan setiap susunan yang ada dalam
bahasa orang-orang Arab.
2. Adanya uslub yang aneh yang berbeda dengan semua uslub-uslub bahasa
Arab.
3. sifat agung yang tidak mungkin lagi seorang makhluk untuk
mendatangkan hal yang seperti itu.
4. bentuk undang-undang yang detail lagi sempurna yang melebihi setiap
undang-undang buatan manusia.
5. Mengabarkan hal-hal gaib yang tidak bisa diketahui kecuali dengan
wahyu.
6. Tidak bertentangan dengan pengetahuan-pengetahuan umum yang
dipastikan kebenarannya.
7. Menepati janji dan ancaman yang dikabarkan Al-Qur’an
ilmu pengetahuan yang terkandung didalamnya (ilmu pengetahuan agam
a dan ilmu pengetahuan umum)
8. Memenuhi segala kebutuhan manusia.
9. berpengaruh kepada hati pengikut dan musuh.5
Dan keistimewaan Al-Qur’an sendiri dibandingkan dengan mukjizat
yang lain adalah bukan seperti mukjizat nabi-nabi terdahulu yang bersifat
lokalistik dan temporal, maka Al-Qur’an tidak terikat dengan suatu tempat
dan waktu. Al-Qur’an adalah mukjizat yang universal dan mencangkup pada
seluruh dunia dan melengkapi serta menyempurnakan mukjizat terdahulu.Al-
Qur’an dijaga oleh Allah dengan perantara penulisan mushaf-mushaf Al-
Qur’an dan hafalan yang terjaga oleh para huffadz dipenjuru dunia. Allah

4
M. Quraish shihab,Mukjizat Al-quran: ditinjau, hlm. 43.
5
said Agil Husin Al Munawar dan Masykur Hakim,i’jaz Al-qur’an dan Metodologi, hlm. 2.

7
akan menjaga kemurnian Al-Qur’an hingga datangnya hari kiamat yang pada
hari itu dihapuskannya semua tulisan-tulisan Al-Qur’an dan diangkatnya
hafalan-hafalan yang berada di hati dan pikiran manusia.
B. Tujuan dan peranan mukjizat Al-Qur’an
Mukjizat berfungsi sebagai bukti kebenaran para nabi.keluarbiasaan
yang tampak atau terjadi melalui mereka itu di ibaratkan sebagai ucapan
tuhan. Mukjizat walaupun dari segi bahasa berarti melemahkan, sebagaimna
disebutkan tadi,ia sama sekali tidak dimaksudkan untuk melemahkan atau
membuktikan ketidakmampuan yang ditantang. Mukjizat ditampilkan oleh
tuhan melalui hamba-hamba pilihannya untuk membuktikan kebenaran ajaran
ilahi yang dibawa oleh masing-masing nabi. Jika demikian halnya pasti
mengandung dua konsekuensi;
1. pertama, bagi yang telah percaya kepada nabi, maka ia tidak lagi
membutuhkan mukjizat. Mukjizat yang di alaminya hanya berfungsi
segai penguat keimanan serta keyakinan akan kekuasaan Allah swt.
2. kedua, para nabi sejak Adam a.s hingga isa a.s diutus untuk suatu kurun
tertentu serta masyarakat tertentu. Tantangan yang mereka kemukakan
sebagai mukjizat pasti tidak dapat dilakukan oleh umatnya. Keberadaan
mukjizat ini sebagai bentuk tantangan bagi mereka yang meragukan
kebenaran kenabiannya tersebut.
Setiap rosul mempunyai mukjizat yang sesuai dengan keadaan kaum
dan masa risalahnya.rosul-rosul sebelum nabi Muhammad saw diutus hanya
untuk suatu kaum tertentu dan masa tertentu. 6 Ketika manusia
menyelewengkan (mengubah) agama Allah, dia mengutus seorang rosul lain
dengan agama yang diridhoi-nya beserta mukjizat-nya yang baru. ketika
Allah mengakhiri kenabian dengan nabi Muhammad saw,dia menjamin untuk
menjaga agamanya dan menguatkannya dengan bukti terbesar yang selalu ada
di antara manusia hingga akhir zaman yaitu dengan menurunkannya Al-
Qur’an. Al-Qur’an merupakan wahyu Allah saw dan merupakan salah satu

Abdul Majid.Mukjizat Ilmiah dalam Al-Qur’an dan As-sunnah dalam Mukjizat Ilmiah dalam Al-
6

Qur’an dan As-sunnah dalam IPTEK , jakarta,gema Insani press, 1997, hlm 19

8
mukjizat yang diberikan kepada nabi Muhammad saw.Sebagaimana firman
Allah swt dalam Surah Al-Ankabut: 50-51.
‫) أَ َولَ ْم يَ ْكفِ ِه ْم أَنَّا‬50 ( ‫ين‬
ٌ ِ‫ ِذي ٌر ُمب‬Oَ‫ا ن‬OOَ‫ا أَن‬OO‫ َد هَّللا ِ َوإِنَّ َم‬O‫ات ِع ْن‬O ٌ َ‫َوقَالُوا لَوْ ال أُنز َل َعلَ ْي ِه آي‬
ُ Oَ‫ا اآلي‬OO‫لْ إِنَّ َم‬OOُ‫ات ِم ْن َربِّ ِه ق‬
)51( َ‫ك لَ َرحْ َمةً َو ِذ ْك َرى لِقَوْ ٍم ي ُْؤ ِمنُون‬ َ ‫ك ْال ِكت‬
َ ِ‫َاب يُ ْتلَى َعلَ ْي ِه ْم إِ َّن فِي َذل‬ ْ َ‫أ‬
َ ‫نزلنَا َعلَ ْي‬
Artinya; Dan orang-orang kafir Mekah berkata, "Mengapa tidak diturunkan
kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah, "Sesungguhnya
mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah.Dan sesungguhnya aku hanya
seorang pemberi peringatan yang nyata.”Dan apakah tidak cukup bagi
mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an),
sedangkan dia dibacakan kepada mereka?Sesungguhnya dalam (Al-Qur'an)
itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.
C. Pendapat ulama’ tentang kemukjizatan Al-Qur’an
Dalam ilmu kalam, terjadi perbedaan pandangan para ulama tentang
apakah al-Qur’an itu merupakan makhluk atau bukan.Hal itu juga mendasari
perbedaan pendapat mengenai mukjizat al-Qur’an. Pendapat mereka terbagi
menjadi beberapa ragam, antara lain:
1. Abu Ishaq Ibrahim al-Nizam dan pengikutnya dari kaum Syiah
berpendapat bahwa kemukjizatan al-Qur’an adalah dengan cara shirfah.
Maksudnya ialah bahwa Allah memalingkan orang-orang arab yang
menentang Al-Qur’an,padahal sebenarnya mereka mampu untuk
menghadapinya. Pendapat ini merupakan pendapat yang salah.
2. Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya al-Jami’i Ahkamil Quran menyebutkan
sepuluh segi kemukjizatan Al-Qur’an, sementara al-Zarkani dalam
kitabnya Manahilul Irfan mencatat empat belas segi kemukjizatan Al-
Qur’an.7
3. Satu golongan ulama berpendapat bahwa Al-Qurr’an itu bermukjizat
dengan balaghahnya yang mencapai tingkat tinggi dan tidak ada
bandingannya dan ini adalah pendapat ahli bahasa.

Muhammad Abdul ‘Azim al-Zarkani, Manahilul Irfan fi Ulum al-Quran, Juz II, (Beirut:Dar al-
7

Kutub al-‘Ilmiyah, 1988), h. 355

9
4. Sebagian yang lain berpendapat bahwa segi kemukjizatan Al-Qur’an itu
terkandung dalam lafal-lafalnya yang jelas, redaksinya yang bernilai
sastra dan susunannya yang indah, karena nilai sastra yang terkandung
dalam Al-Qur’an itu sangat tinggi dan tidak ada bandingannya.
5. Sebagian yang lain berpendapat bahwa segi kemukjizatan al-Qur’an
adalah sesuatu yang terkandung dalam Al-Qur’an itu sendiri, yaitu
susunan yang tersendiri dan berbeda dengan bentuk puisi orang Arab
maupun bentuk prosanya, baik dalam permulaannya, maupun suku
kalimatnya. Karena mengandung badi’ yang sangat unik dan berbeda
dengan apa yang dikenal dalam perkataan orang arab pada umumnya.
6. Golongan yang lain berpendapat bahwa al-Qur’an itu kemukjizatannya
terletak pada pemberitaannya tentang hal-hal yang ghaib, yang telah lalu
dan yang akan datang yang tidak ada seorang pun yang tahu.
7. Ulama lain berpendapat bahwa kemukjizatan itu karena Al-Qur’an
terhindar dari adanya pertentangan, dan mengandung arti yang lembut
dan memuat hal-hal ghaib diluar kemampuan manusia dan diluar
kekuasaan mereka untuk mengetahuinya
8. Satu golongan berpendapat bahwa mukjizat al-Qur’an itu terjadi karena
ia mengandung berbagai macam ilmu hikmah yang dalam.
9. Ada lagi ulama yang berpendapat bahwa segi kemukjizatan Al-Qur’an
adalah keistimewaan-keistimewaan yang nampak dan keindahan-
keindahan yang terkandung dalam Al-Qur’an, baik dalam permulaan,
tujuan maupun dalam menutup setiap surat.8
Perbedaan pendapat ulama diatas diketahui sesuai dengan kemampuan
mereka masing-masing.Jadi bukan berbeda dalam menentukan batasan-
batasan kemukjizatan Al-Qur’an, karena aspek-aspek kemukjizatan Al-
Qur’an tidak hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu yang mereka
sebutkan.9

8
Muhammad Ali al-Shabuniy,Studi Ilmu al-Quran, terj. Aminuddin, (Bandung: PustakaSetia,
1999), h. 137-138
9
M. Hasbi Al-Shiddiqiey, Mu’djizat al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), h. 33

10
Demikian berbagai pandangan ulama mengenai kemukjizatan al-Qur’an.
Sebenarnya peninjauan hal itu hanya berdasarkan keilmuan yang mereka
miliki. Perbedaan itu disebabkan oleh keilmuan yang mereka miliki berbeda-
beda antara satu ulama dengan ulama yang lain.
D. Macam-macam kemukjizatan Al-Qur’an
Mukjizat Al-qur’an terdiri dari beberapa macam. Diantara mukjizat al-
Qur’an adalah I'jaz balaghi, I’jaz mengenai berita gaib, I’jaz tasyri’i
(perundang-undangan) dan I’jaz ilmi dengan berbagai macamnya seperti I’jaz
al-thibbi (kedokteran), I’jaz al-falaki(astronomi), I’jaz al-jughrafi (geografi),
I’jaz at-thabi’I (fisika),I’jaz adadi (jumlah), I’jaz I’lami (informasi) dan I’jaz
lain-lainnya.10
1. Ditinjau dari segi balaghi (kebahasan)
kalimat-kalimat dalam al-Qur’an adalah kalimat-kalimat yang
menakjubkan, yang berbeda sekali dengan kalimat yang di luar al-
Qur’an.Ia mampu mengeluarkan sesuatu yang abstrak kepada fenomena
yang dapat dirasakan sehingga di dalamnya dapat dirasakan ruh
dinamika.11
Al- jahidh memandang bahwa rahasia I’jaz al-Qur’an pada susunan
bahwsanya yang indah dan pada komposisinya yang menakjubkan.
Mengenai hal ini mengatakan bahwa al-Qur’an adalah kalam yang
berbeda dengan seluruh kalam yang lain, baik puisi maupun prosa. Al-
Qur’an merupakan kalam yang tidak bersajak yang berbeda dengan syair
dan sajak.
Menurut Quraish Shibab dalam bukunya Mukjizat Al-Qur’an, ada
banyak aspek kebahasaan yang menjadikan al-qur’an sebagai mukjizat.
Aspek keindahan bahasa alqur’an bisa dilhat dari beberapa hal antara
lain nada dan langgamnya, isinya singkat dan padat, memuaskan para

10
Abu Zahra An- najdi, Al quran dan Rahasia Angka-Angka, hlm23
11
Abu Zahra An- najdi, Al -quran dan Rahasia Angka-Angka, hlm 29

11
pemikir dan orang kebanyakan, memuaskan akal dan jiwa dan yang
terakhir keindahan dan ketepatan maknanya.12
2. Segi Isyarat-isyarat ilmiah Al-Qur’an (I’jaz ilmi)
sebelum berbicara tentang isyarat ilmiah dalam Al-Qur’an, perlu
diketahui dulu bahwasanya Al-Qur’an bukanlah kitab ilmiah seperti
kitab-kitab yang beredar pada saat ini, melainkan kitab yang berisi
petunjuk bagi kebahagiaan di dunia dan diakhirat. isyarat ilmiah tersebut
hanya sebagai mukjizat pemuas pikiran orang-orang pada masa tersebut.
Dan karena itulah penjelasan tentang ilmiah dijelaskan secara singkat
dan syarat makna. Bagi orang awam cukup jelas, dan bagi orang-orang
pemikir merupakan suatu hal yang sangat menarik untuk direnungkan
dan dianalisa untuk memperoleh kandungan maknanya. Berikut adalah
beberapa contohnya;
a. Ihwal pemisah dua laut13
‫ات َو ٰ َه َذا م ِْل ٌح أُ َجا ٌج َو َج َع َل َب ْي َن ُه َما َبرْ َز ًخا َوحِجْ رً ا َمحْ جُورً ا‬
ٌ ‫ْن ٰ َه َذا َع ْذبٌ فُ َر‬
ِ ‫َوه َُو الَّذِي َم َر َج ْال َبحْ َري‬
Penggalan dalam surah al-furqon ayat 53 diatas menjelaskan tentang
pertemuan antara air asin dan air tawar yang ada di laut dan ada
pemisah secara horizontal diantara keduanya yang menyebabkan
tidak tercampurnya antara dua jenis air tersebut.Pada mulanya
orang-orang berpikir bahwa itu seperti hilir sungai yang berakhir
pada tepi lautan, tetapi pada masa ini akhirnya ditemukan bahwa di
antara Teluk oman dan Teluk Persia ada fenomena luar biasa
tersebut di alam dan berjalan stabil sampai saat ini.
b. Ihwal gunung
Dari hasil rekaman satelit diperoleh bukti bahwa jazirah Arab
beserta gunung-gunungnya bergerak mendekati iran beberapa
sentimeter setiap tahunnya.sebelumnya sekitar lima juta tahun yang
lalu, jazirah Arab bergerak memisahkan diri dari Afrika dan
membentuk laut merah. Sekitar daerah somalia sepanjang pantai

12
M. Qurais Shihab.Mukjizat Al-Qur’an di tinjau dari Aspek kebahasaan,Isyarat Ilmiah dan
Pemberitaan Gaib,hlm.123-126
13
M. Quraish shihab,Mukjizat Al-quran: ditinjau,hlm.175-180

12
Timur keselatan saat ini berada dalam proses pemisahan yang
lamban dan telah membentuk "lembah belah" yang membujur ke
selatan melalui deretan danau Afrika.14
Itulah sepertinya yang dimaksud oleh Al-Qur’an mengenai gunung-
gunung yang berjalan sebagaimana jalannya awan-awan yang pada
masa itu dirasa aneh dan tidak ditemukan informasi ilmiah
mengenai itu. Dan Al-Qur’an telah memberikan informasi yang
akurat tentang fenomena tersebut yang akhirnya dapat dibuktikan
pada masa sekarang ini.
3. Segi Sejarah dan pemberitaan yang ghaib (I’jaz tarikhiy)
Surat-surat dalam al-Qur-an mencakup banyak berita tentang hal ghaib.
Kapabilitas al-Qur-an dalam memberikan informasi-informasi tentang hal-hal
yang ghaib seakan menjadi pra syarat utama penopang eksistensinya sebagai kitab
mukjizat. Diantara contohnya adalah:
a. Sejarah / Ke ghaiban masa lampau.
Al-Qur-an sangat jelas dan fasih sekali dalam menjelaskan cerita
masa lalu seakan-akan menjadi saksi mata yang langsung mengikuti
jalannya cerita. Dan tidak ada satu pun dari kisah-kisah tersebut
yang tidak terbukti kebenarannya. Diantaranya adalah: Kisah nabi
Musa dan Firaun, Ibrahim, Nabi Yusuf, bahkan percakapan antara
anak-anak Adam as.
b. Kegaiban Masa Kini
Diantaranya terbukanya niat busuk orang munafik di masa
rasulullah. Allah SWT berfirman : Dan di antara manusia ada orang
yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan
dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal
ia adalah penantang yang paling keras.(QS. Al-Baqoroh: 204)
c. Ramalan kejadian masa mendatang
Diantaranya ramalan kemenangan Romawi atas Persia di awal
surat ar-Ruum.

14
M. Quraish shihab,Mukjizat Al-quran: ditinjau,hlm.187-188

13
4. Segi petunjuk penetapan hukum ( I’jaz Tasyri’i)
Diantara hal-hal yang mencengangkan akal dan tak mungkin dicari
penyebabnya selain bahwa al-Qur-an adalah wahyu Allah, adalah terkandungnya
syari’at paling ideal bagi umat manusia, undang-undang yang paling lurus bagi
kehidupan, yang dibawa al-Qur-an untuk mengatur kehidupan manusia yang
mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Meskipun memang banyak aturan
hukum dari Al-Qur-an yang secara ‘kasat mata’ terlihat tidak adil, kejam dan
sebagainya, tetapi sesungguhnya di balik itu ada kesempurnaan hukum yang tidak
terhingga.
Diantara produk hukum Al-Qur-an yang menakjubkan dan penuh hikmah tersebut
antara lain :
a) Hukuman Hudud bagi pelaku Zina, Pencurian, dan sebagainya (QS An-
Nuur 2-3)
b) Hukuman Qishos bagi Pembunuhan ( QS Al-Baqoroh 178-180)
c) Hukum Waris yang detail (QS An- Nisa 11-12)
d) Hukum Transaksi Keuangan dan Perdagangan.(QS Al-Baqoroh 282)
e) Hukum Perang dan Perdamaian. (QS Al-Anfal 61)

14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, ada beberapa poin yang dapat disimpulkan;
1. Mukjizat al-Qur'an sebagaimana halnya mukjizat lainnya pada hakikatnya
bertujuan untuk membuktikan kebenaran kenabian dan ke rasulan
Muhammad. Hal ini berimplikasi pada pembuktian kebenaran al-Qur'an
sebagai wahyu dari Allah. Informasi gaib al-Qur'an yang dimaksud berupa
pemberitaan tentang masa lampau yang dibuktikan kebenarannya oleh
sejarah, dan pemberitaan tentang masa datang, baik jangka pendek
maupun jangka panjang, yang dibuktikan seiring perjalanan masa.
Peristiwa-peristiwa tersebut diyakini mustahil diketahui oleh Muhammad
melainkan di informasikan oleh Allah melalui al-Qur'an. Inilah sisi
kemukjizatan yang menjadi bukti kekuatan al-Qur'an menghadapi
penantangnya dari dahulu hingga akhir zaman.
2. Mukjizat Al-Qur’an sungguh tiada tandingannya. Kitab suci umat Islam
ini adalah kitab yang diturunkan dari langit dan menyempurnakan kitab-
kitab sebelumnya. Mukjizat ini menjadi tuntunan hidup umat Islam dalam
menjalankan kehidupan di dunia. Segala permasalahan dan solusi hidup
manusia tercantum dalam Al-Qur’an.

B. Saran
Demikian tugas pembuatan makalah ini meskipun jauh dari kesempurnaan,
harapan kami dengan adanya makalah ini kita dapat mengetahui tentang
kemukjizatan Al-Qur’an yang sangat luar biasa tersebut. Dan semoga dengan
adanya pembuatan makalah ini kita dapat mengambil manfaatnya khususnya
bagi para pembaca sekalian.

15
DAFTAR PUSTAKA
Abu Zahra an-najdi, al quran dan rahasia angka-angka, bandung, pustaka
hidayah,1996. Hlm 17
M. Quraish shihab,Mukjizat Al-Qur’an:ditinjau dari Aspek kebahasaan,isyarat
ilmiah, dan pemberitaan gaib,(jakarta: Mizan,2004, hlm.23
said Agil Husin Al Munawwar dan Masykur Hakim,i’jaz Al-qur’an dan
Metodologi Tafsir
(semarang: Dina Putra semarang, 1994, hlm.1-2
Abdul Majid.Mukjizat Ilmiah dalam Al-Qur’an dan As-sunnah dalam Mukjizat
Ilmiah dalam Al-Qur’an dan As-sunnah dalam IPTEK , jakarta,gema Insani press,
1997, hlm 19
Muhammad Ali al-Shabuniy,Studi Ilmu Al-Qur’an, terj. Aminuddin, (Bandung:
PustakaSetia, 1999), h. 137-138
M. Hasbi Al-Shiddiqiey, Mu’djizat al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996),
h. 33
M. Quraish shihab,Mukjizat Al-Qur’an: ditinjau,hlm.175-180

16