Anda di halaman 1dari 4

Kelas H – Vicky Ardiansyah - 27 - C11170042

Dampak Hoax Dalam Bermasyarakat

Kemajuan teknologi informasi komunikasi saat ini sangatlah cepat,


perkembangan ini bisa membawa dampak positif maupun negatif. Salah satu
tanda kemajuan teknologi adalah dengan berkembangnya media sosial yang
menyebabkan penyampaian informasi begitu cepat dan setiap orang akan mudah
untuk membuat informasi dan menyebarkannya melalui media sosial tanpa adanya
filter yang baik. Dengan kenyataan seperti ini akan sangat disayangkan apabila
berita yang disampaikan tidak benar adanya atau berita bohong (hoax), hoax
merupakan sebuah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-
olah benar adanya (“Berita Bohong”, n.d)

Mulai hilangnya etika dalam menyampaikan sebuah pendapat ataupun


informasi dari seorang individu dapat menjadi penyebab dari munculnya berita
hoax. Etika merupakan sebuah sikap sopan santun yang sangat penting dan
dibutuhkan ketika kita meyampaikan atau menyikapi sebuah informasi. Ketika
sebuah informasi disampaikan diiringi dengan etika dalam berpendapat maka
seharusnya dalam informasi tersebut berisi sesuatu yang sesuai dengan kebenaran
dan tidak mengandung ujaran / ungkapan kekerasan dan kebencian.

Peran pemerintah dalam mengatasi kemunculan dan penyebaran berita


hoax juga sangat penting, mengingat sekarang ini masih banyak sekali berita hoax
yang masih bermuculan yang mengindikasikan bahwa filter atau penyaringan
informasi dan situs yang sering membuat berita hoax masih kurang. Hal itu
diperkuat dengan berita yang menyatakan bahwa Menkominfo telah mencatat
adanya 771 Berita Hoax beredar hingga bulan Februari 2019. Dalam berita
tersebut juga dijelaskan bahwa pada lima bulan terkahir penyebaran berita hoax
mengalami peningkatan yaitu pada bulan Oktober terdapat 53 berita hoax,
November naik menjadi 63, Desember 75, Januari 175, dan terakhir pada bulan
Februari ada sebanyak 353 berita hoax (Hutabarat, March 11, 2019).
Kelas H – Vicky Ardiansyah - 27 - C11170042

Budaya masyarakat Indonesia yang minim akan minat baca juga menjadi
salah satu penyebab mengapa masyarakat Indonesia mudah mempercayai
informasi yang belum terbukti kebenarannya. Sebagai seorang pengguna dunia
maya yang cerdas, kita sebagai pembaca seharusnya membaca secara menyeluruh
informasi yang kita baca selain itu kita juga harus melakukan verifikasi mengenai
kebenaran dari informasi yang kita baca. Memverifikasi sebuah informasi atau
berita dapat kita lakukan dengan mengecek situs berita dan informasi lain yang
lebih akurat. Terkadang seseorang juga mudah memepercayai sebuah informasi
tanpa tahu kebenarannya dikarenakan informasi tersebut dibagikan oleh orang
terdekatnya, maka dari itu penting bagi kita untuk mencari tahu kebenaran
informasi yang kita terima sebelkum kita juga ikut menyebarkannya pada orang
lain.

Hoax juga bisa juga disebabkan oleh sebuah individu yang memiliki motif
untuk menjatuhkan orang lain ataupun sekedar ingin membuat keisengan. Seperti
yang kita tahu bahwa pemilu raya sudah semakin dekat dan banyak sekali berita –
berita yang tidak terjamin kepastiannya beredar di media sosial dan media maya
lainnya yang tidak lain bertujuan untuk menjatuhkan salah satu pihak dan
menguntungkan pihak lainnya. Hal ini juga diperkuat dengan adanya pernyataan
dari ketua Badan Pengawas Pemilu yang menyatakan telah menerima data sekitar
610 konten hoax di medsos terkait pilpres (Andayani, February 11, 2019).

Seperti yang kita tahu bahwa terkadang didalam berita hoax terkandung
ujaran kebencian dan provokasi. Maka dari itu hoax dapat menimbulkan dampak
yang cukup berbahaya karena dapat membuat pembaca terprovokasi dan menjadi
benci terhadap sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Pada tahun 2017 terdapat
sebuah sindikat bernama Saracen yang menggunakan sebuah media sosial dengan
800.000 akun pengikut yang kemudian pelaku mengunggah konten yang bersifat
provokatif bernuansa SARA, konten tersebut biasanya berupa kata-kata, narasi
dan meme yang mengarahkan opini pembaca untuk berpandangan negatif
terhadap suatu kelompok masyarakat tertentu (“Kasus Saracen: Pesan kebencian”,
August 24, 2017). Setiap individu pasti memiliki identitas yang melekat pada
Kelas H – Vicky Ardiansyah - 27 - C11170042

masing – masing diri mereka, mengingat Indonesia merupakan negara yang


menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika dengan berbagai macam suku, ras,
agama dan kebudayaan yang menjadi identitas bangsa Indonesia. Apabila
identitas dari suatu individu ataupun kelompok tersebut diganggu dengan
informasi yang belum terbukti kebenarannya maka akan timbul perpecahan di
negara ini.

Selain menyebabkan pembaca terprovokasi dan menjadi benci terhadap


sesuatu yang belum pasti kebenarannya, informasi hoax juga bisa menimbulkan
kerugian terhadap pihak lain. Kerugian yang ditimbulkan tidak hanya bersifat
mental tapi juga materil. Tidak hanya terjadi di Indonesia, di beberapa negara
informasi hoax juga sangat diwaspadai. Salah satu rumah sakit di Inggris
dikabarkan telah mengalami kerugian sekitar Rp 45 juta rupiah karena telah
mengirimkan sebuah ambulans setelah menerima berita hoax via telepon pada
tahun. Selain itu, bandara Manchester juga mengalami kerugian mencapai ratusan
juta rupiah karena mengevakuasi massal penumpang setelah mucul kabar hoax
adanya bom di maskapai Qatar Airways pada tahun 2014 (Kurnia, January 8,
2019).

Menyikapi semakin meningkatnya informasi atau berita hoax dikalangan


masyarakat melalui berbagai media salah satunya media sosial sudah sepatutnya
pemerintah mulai menaruh perhatian yang lebih untuk ini. Peran serta pemerintah
dalam mengatasi semakin meningkatnya hoax ini sangat penting seperti dengan
meningkatkan pengawasan dan penyaringan segala informasi yang tersebar di
dunia maya, membuat dan menjalankan kebijakan pemerintah mengenai
komunikasi dan informasi dan yang pasti melakukan pemblokiran dan sanksi yang
tegas terhadap sebuah situs ataupun individu yang terbukti mengunggah dan ikut
serta menyebarkan berita dan informasi yang tidak benar.

Hanya dengan mengatasi pengunggah dan penyebar berita dan informasi


hoax tidaklah cukup, perlu diberikan juga literasi digital maupun non digital
kepada masyarakat. Menurut Paul Gilster, literasi digital diartikan sebagai
kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai
Kelas H – Vicky Ardiansyah - 27 - C11170042

bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas (“Kementrian Pendidikan”, n.d).
Literasi digital akan menuntut masyarakat untuk lebih cerdas dalam memilih dan
memilah informasi yang baik dan buruk. Literasi digital ini juga merupakan
sebuah solusi untuk mengimbangi perkembangan teknologi yang semakin hari
semakin berkembang pesat.