Anda di halaman 1dari 4

REVIEW INSENTIF PAJAK : PPH 006-PPH 010

Paper ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Perpajakan

Kelompok I

Nama anggota :

Lucia Jesica Kartika Sari 1710112010

Febri Karina Sari 1710112013

Rizka Dwi Dayanti 1710112028

Bella Yohana 1710112040

Program Studi Akuntansi S-1

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

2020
PPH 06 - Pengurangan 50 persen tarif PPh bagi Wajib Pajak Badan
PPh 006 membahas tentang Pengurangan 50 persen tarif PPh bagi Wajib
Pajak. Jenis insentif yang diberikan adalah Pengurangan 50 persen tarif PPh bagi
Wajib Pajak Badan, dengan dasar hukum Pasal 31E UU No. 36 Tahun 2008
tentang PPh. Subjek yang menerima manfaat adalah sektor UMKM dengan tujuan
mengembangkan UMKM.
Dengan sektor perekonomian Multi sektor (Industri manufaktur; jasa
kesehatan; jasa keuangan; jasa pendidikan; jasa sosial; jasa konstruksi; listrik, air
dan gas; perdagangan; pertambangan dan penggalian; pertanian dan perikanan;
jasa transportasi; multi sektor). Alasan PPh 06 ini menjadi belanja perpajakan
adalah Pengenaan pengurangan pungutan PPh ini merupakan deviasi terhadap
definisi umum basis pajak PPh serta berpotensi mengurangi pendapatan
pemerintah. Sumber data berasal dari SPT Tahunan PPh badan, dan metode
perhitungan Estimasi PPh terutang menurut tarif umum dihitung dengan cara
mengalikan nilai penghasilan kena pajak dengan tarif PPh acuan (benchmark).
Nilai belanja perpajakan merupakan selisih antara estimasi PPh terutang menurut
tarif umum dengan PPh yang dibayar Wajib Pajak. Kebijakan ini Efektif sejak
tahun 2009. Sektor yang berada dalam subjek PPh 06 ini juga merupakan sektor
yang paling banyak mendapatkan fasilitas perpajakan adalah sektor manufaktur,
diikuti dengan sektor jasa keuangan, sektor perdagangan dan jasa transportasi.
Contoh insentif pajak bagi PPh 06 adalah Selain itu, wajib pajak badan
dalam negeri yang memiliki peredaran bruto sampai dengan Rp50 miliar
mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan atas
penghasilan kena pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp4,8 miliar.
Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-66/PJ/2010,
ketentuan penerapan tarif Pasal 31E UU PPh adalah sebagai berikut:

1. fasilitas pengurangan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31E ayat


(1) UU PPh dilaksanakan dengan cara self assessment pada saat
penyampaian SPT tahunan PPh wajib pajak badan, sehingga wajib pajak
badan dalam negeri tidak perlu menyampaikan permohonan untuk dapat
memperoleh fasilitas tersebut.
2. BUT merupakan subjek pajak luar negeri, sehingga tidak mendapat
fasilitas berupa pengurangan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31E
ayat (1) UU PPh.

3. batasan peredaran bruto sampai dengan Rp50 miliar adalah sebagai


batasan maksimal peredaran bruto yang diterima atau diperoleh wajib
pajak badan dalam negeri untuk dapat memperoleh fasilitas pengurangan
tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) UU PPh.

4. peredaran bruto sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) UU
PPh merupakan semua penghasilan yang diterima dan/atau diperoleh dari
kegiatan usaha dan dari luar kegiatan usaha, setelah dikurangi dengan retur
dan pengurangan penjualan serta potongan tunai dalam tahun pajak yang
bersangkutan, sebelum dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan, baik yang berasal dari indonesia maupun dari
luar indonesia, meliputi:

a. penghasilan yang dikenai pajak penghasilan bersifat final;


b. penghasilan yang dikenai pajak penghasilan tidak bersifat final; dan
c. penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak.

5. fasilitas pengurangan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31E ayat


(1) UU PPh tersebut bukan merupakan pilihan, sehingga bagi wajib pajak
badan dalam negeri yang memiliki akumulasi peredaran bruto
sebagaimana dimaksud pada huruf d di atas sampai dengan Rp50 miliar,
tarif pajak penghasilan yang diterapkan atas penghasilan kena pajak bagi
wajib pajak badan dalam negeri tersebut wajib mengikuti ketentuan
pengurangan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) UU
PPh.
6. fasilitas pengurangan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31E ayat
(1) UU PPh ini berlaku untuk penghitungan pajak penghasilan terutang
atas penghasilan kena pajak yang berasal dari penghasilan yang dikenai
pajak penghasilan tidak bersifat final.
7. untuk menghitung besarnya angsuran PPh Pasal 25 tahun berjalan, wajib
pajak badan dalam negeri yang telah memenuhi persyaratan fasilitas
pengurangan tarif pajak penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
31E ayat (1) UU PPh wajib menggunakan tarif PPh sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 31E ayat (1) UU PPh.

Jika perusahaan sudah memenuhi ketentuan yang berlaku untuk dikenakan


tarif PPh Badan, maka perusahaan akan dikenakan tarif pajak yang sesuai
sebesar 25%.