Anda di halaman 1dari 8

ARTIKEL TENTANG LINGKUNGAN MANAJEMEN

DISUSUN OLEH:
NAMA : RANTI RIANI
NIM : 1930711012
PRODI : ADMINISTRASI PUBLIK 2A

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI DAN HUMANIORA


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI
2020
Abstrak
Lingkungan organisasi dapat diartikan sebagai kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi baik
secara langsung maupun tidak langsung . setiap organisasi, baik yang berukuran besar,
sedang ataupun kecil selalu akan berinteraksi dengan lingkungannya. Bagi organisasi yang
tidak memperhatikan akan perubhanan ataupun perkembangan lingkungannya akan
mengalami masa kehancuran.
Kata Kunci : Organisasi, Manajemen

LINGKUNGAN MANAJEMEN
Dalam pembahasan manajemen tidak lepas pada masalah lingkungan yang dihadapi
oleh seorang manajer. Lingkungan disini diartikan sebagai segala sesuatu yang ada didalam
maupun diluar perusahaan, Sedangkan menejemen adalah proses membuat perencanaan,
pengorganisasian, memimpin dan mengendalikan berbagai usaha dari anggota organisasi dan
enggunakan semu sumber daya organisasi untuk mencapai sasaran[1].
Perbedaan dan kondisi lingkungan akan berpengaruh terhadap konsep dan teknik serta
keputusan yang akan diambil. Sebagai seorang manajer tidak harus hanya memperhatikan
lingkungan usahanya atau intern saja, tapi juga harus bisa mengantisipasi lingkungan di luar
perusahaan atau ekstern. Menurut Robert W. Duncan, menganalisa lingkungan internal dan
eksternal merupakan hal penting dalam proses perencanaan strategi. Faktor-faktor lingkungan
eksternal didalam perusahaan biasanya dapat digolongkan sebagai Strength
(S)  atau Weakness (W), dan lingkungan eksternal perusahaan dapat diklasifikasikan
sebagai Opportunities (O) atau Threat (T). Analisis lingkungan strategi ini disebut sebagai
analisis SWOT.
Menurut Fred David, analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang berfungsi
untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman suatu perusahaan. Proses
ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis dan mengidentifikasi
faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut
A.  Lingkungan Eksternal Manajemen
Lingkungan ekstern atau eksternal terdiri atas unsur-unsur yang berada di luar organisasi,
dimana unsur-unsur ini tidak dapat dikendalikan dan diketahui terlebih dahulu oleh manajer,
disamping itu juga akan mempengaruhi manajer di dalam pengambilan keputusan yang akan
dibuat. Unsur-unsur lingkungan eksternal organisasi contohnya yaitu perubahan
perekonomian, peraturan pemerintah, perilaku konsumen atau masyarakat, perkembangan
teknologi, politik dan lain sebagainya.
Lingkungan eksternal dibagi menjadi dua yaitu lingkungan mikro dan lingkungan makro.
1.   Lingkungan eksternal mikro yaitu lingkungan yang mempunyai pengaruh langsung
terhadap kegiatan manajemen. Lengkunagan eksternal mikro diartikan sebagai factor-faktor
di luar rumah tangga produksi atau dunia usaha yang berpengaruh langsung terhadap kegiatan
dunia usaha.
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan eksternal mikro adalah :
a. Penyedia/pemasok (supplier) dengan adanya pemasok factor-faktor produksi, muncul
kegiatan produksi, di samping itu pemasok juga menunjang kelangsungan hidup dunia usaha
b. Perantara adalah pihak-pihak yang berperan dalam penyebaran hasil-hasil produksi dari
produsen ke tangan konsumen hingga siap dikonsumsi, misalnya distributor, pengecer dan
sebagainya
c. Teknologi berkaitan secara langsung dengan perkembangan proses pengoilahan yang
berupoa penemuan baru baik peralatan maupun metode kerjanya. Lembaga yang
berkecimpung dalam bidang ini misalnya lembaga RIstek, Litbang dan sebagainya
d.  Pasar dalam arti luas. Meskipun letaknya berada di luar kegiatan produksi, tetapi karena
seluruh hasil produksi adalah untuk melayani (dijual ke) pasar, maka semua pihak yang
terlibat dan berada di dalam pasar termasuk unsure lingkungan eksternal mikro
2. Lingkungan eksternal makro yaitu lingkungan yang mempunyai pengaruh tidak langsung.
Masing-masing anggota dunia usaha memiliki perbedaan dalam memberikan factor-faktor
yang secara kongkret dapat dimasukkan ke dalam lingkungan eksternal makro atau mikro.
Hal ini disebabkan oleh sifat majemuk kegiatan dunia usaha. Oleh karena itu pertimbangan
pemilihan factor eksternal makro dan mikro dilakukan secara umum.
Secara umum unsur-unsur lingkungan eksternal makro dunia usaha adalah sebagai berikut :
a. Keadaan alam
b. Politik dan hankam, keadaan politik dan pertahanan keamanan secara umum menciptakan
iklim ketenangan usaha
c. Hukum peraturan perundangan-undanagan yang berlaku misalnya undang-undang
perpajakan, perburuhan dan sebagainya
d. Perekonomian, tingkat pendapatan, pola-pola pemenuhan kebutuhan masyarakat, tingkat
investasi dan sebagainya
e. Pendidikan dan teknologi tingkat kecerdasan kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan
penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi pada umumnya
f. Social dan kebudayaan : pandangan dan nilai-nilai yang dianut masyarakat seperti terwujud
dalam norma-norma etika dan social, kepercayaan, agama, kesenian, pola hubungan antar
individu dan sitem kerja samanya, sertta strata social
g. Kependudukan jumlah tingkat kelahiramn-kematian, penyebaran penduduk (misalnya
urbanisasi dan transmigrasi), umur dan jenis kelamin
h. Hubungan internasional : mencakup banyak hal seperti proteksi bahan barang dan jasa,
nialai tukar mata uang teknologi, kebudayaan, polkam dan sebagainya
B. Lingkungan Internal Manajemen
Lingkungan internal dunia usaha adalah faktor-faktor yang berada di dalam kegiatan produksi
dan langsung mempengaruhi hasil produksi. Faktor-faktor tersebut masih berada dalam
jangkauan keputusan yang diambil oleh pihak pelaksana dunia usaha, sehingga dapat dikuasai
langsung (controllable).
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan internal  dunia usaha adalah :
1. Tenaga kerja dalam arti pekerja atau karyawan : meliputi lingkungan kerja fisik dan
nonfisik, upah dan gaji jaminan hari tua, pengembangannya dan sebagainya
2. Peralatan dan mesin-mesin : tata letak, pemeliharaan / perawatan, pembebanan, penerapan
teknologi baru dan sebagainya
3. Modal : para pemilik/penyetor modal, pengelolaan dana
4. Bahan mentah, penolong, barang setengah jadi dan barang jadi : pergudangan, arus aliran
fisiknya dan sebagainya
5. System informasi dan administrasi untuk kepentingan pengambilan keputusan bagi
manajemen, misalnya buku-buku anggaran pembelian bahan, rencana penjualan, laporan
penggunaan/ realisasi dana dan sebagainya
Unsur-unsur lingkungan baik eksternal maupun internal secara simulate berpengaruh timbale
balik terhadap dunia usaha. Hal ini berarti kehidupan dunia usaha juga mempengaruhi
lingkungan. Dengan demikian, dunia usaha dituntut pula tanggung jawabnya terhadap
kehidupan masyarakat luas.
 Contoh pengaruh timbal balik antara lingkungan dan dunia usaha :
-   Lingkungan eksternal makro : dunia usaha turut serta meningkatkan perekonomian
masyarakat (tingkat pendapatan mereka bertambah) sebab factor-faktor produksi yang
mereka serahkan dibayar oleh dunia usaha. Adanya peningkatan taraf kehidupan
menyebabkan permintaan akan hasil-hasil produksi dari dunia usaha juga meningkat. Hal ini
berarti pula bahwa kegiatan dunia usaha tetap berlangsung bahkan semakin berkembang
-   Lingkungan eksternal mikro : kelangsungan hidup dari penyedia bahan mentah sangat
tergantung pada kegiatan dunia usaha, sebab dunia usaha membutuhkan bahan mentah untuk
menghasilkan alat pemuas. Dengan kelancaran kegiatan dunia usaha berarti pula dibutuhkan
bahan mentah yang lebih banyak.
-   Lingkungan internal : apalagi lingkungan kerja menyenangkan dan kesejahteraan serta
pengembangan karyawan / pekerja diperhatikan, maka semangat kerja akan semakin tinggi.
Prestasi kerja yang tinggi akan menguntungkan dunia usaha.
C.  Tanggung Jawab Sosial Menejemen
Tanggung jawab Sosial Manajer / Perusahaan atau Corporate Social Responsibility
(selanjutnya dalam artikel akan disingkat CSR) adalah suatu konsep bahwa organisasi,
khususnya (namun bukan hanya) perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap
konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek
operasional perusahaan.
Seorang manajer mempunyai tanggung jawab social atas keputusan-keputusan yang diambil,
mengapa dikatakan demikian karena mempengaruhi dalam pencapaian tujuan organisasi baik
dalam jangka pendek  maupun dalam jangka panjang, disamping itu juga menyangkut hajat
hidup orang banyak yang kesemuanya menggantungkan dirinya kepada organisasi tersebut
(ini kalau dilihat dari segi dimana seseorang bekerja). Atas dasar ini maka seorang manajer
dituntut untuk dapat mengimplementasikan etika berusaha (the ethics of manager). Ada lima
faktor yang mempengaruhi keputusan manajer dalam etika berusaha ini, yaitu hukum;
peraturan-peraturan pemerintah termasuk di dalamnya undang-undang yang dikeluarkan oleh
pemerintah; kode etik industri dan perusahaan tekanan-tekanan sosial; tegangan antar standar
perorangan dan kebutuhan organisasi
1.      Macam-macam Tanggung jawab Sosial Manajer
a.    Societal Ethics Adalah standar-standar yang mengatur tentang bagaimana anggota
masyarakat harus berhubungan dengan yang lainnya, termasuk mengatur masalah-masalah
tentang keadilan, kejujuran, kemiskinan, dan hak-hak individu. Societal Ethics berasal dari
Society’s Law, kebiasaan-kebiasaan, dan nilai atau norma yang tidak tertulis.
b.    Occupational Ethics atau Etika Profesi Adalah standar-standar yang mengatur tentang
bagaimana anggota suatu profesi, perdagangan, atau keahlian harus bertindak atau bertingkah
laku ketika melaksanakan pekerjaannya. Contohnya medical ethics, mengatur bagaimana
dokter dan perawat harus menangani pasiennya. Contoh lainnya adalah etika untuk
pengacara, peneliti, dan akuntan. Organisasi profesi yang besar dapat menjatuhkan hukuman
untuk pelanggaran kode etik.
c.    Individual Ethics Adalah standar-standar yang mengatur tentang bagaimana orang
melihat tanggung jawabnya terhadap orang lain dan bagaimana mereka harus bertindak
dalam situasi dimana kepentingan pribadinya dipertaruhkan. Individual ethic dipengaruhi
oleh keluarga, teman sebaya, dan didikan secara umum. Pengalaman-pengalaman yang
diperoleh selama hidup sebagai anggota masyarakat juga memberi kontribusi dalam
pembentukan standar nilai yang digunakan untuk mengevaluasi dan memutuskan apa yang
benar dan salah.
d.   Organizational Ethics Adalah petunjuk praktis untuk perusahaan dan manajernya tentang
bagaimana mereka harus bertanggung jawab terhadap stakeholdernya. Etika individu dari
pendiri perusahaan dan top manajernya sangat penting dalam pembentukan kode etik
organisasi. Top manajer memainkan peranan penting dalam menetapkan etika perusahaan.
Kadang-kadang bawahannya melakukan tindakan yang tidak etis karena mereka
mendapatkan tekanan dari atasannya, atau mereka melakukan itu karena melihat atasannya
juga melakukan hal yang tidak etis dan tidak mendapat sanksi.
2.      Mengapa harus memiliki Tanggung Jawab Sosial
a.    Dengan menunjukkan tanggung jawab social, membantu perusahaan untuk memiliki
reputasi yang baik. Dengan reputasi yang baik dapat meningkatkan bisnis dan meningkatkan
kemapuan untuk memperoleh sumber daya dari stakeholder, meningkatkan keuntungan dan
kemakmuran pemegang saham.
b.    Jika semua perusahaan melakukan tanggung jawab sosial seperti menyediakan
pengobatan, dana pension, dan sebagainya, maka kualitas kehidupan akan meningkat,
mengurangi kejahatan, kemiskinan, dan tingkat penganguran akan relatif rendah.
3.      Manfaat Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
a.    Manfaat bagi Perusahaan
·      Citra Positif Perusahaan di mata masyarakat & pemerintah
b.    Manfaat bagi Masyarakat
·      Selain kepentingan masyarakat terakomodasi, hubungan masyarakat dengan perusahaan
akan lebih erat dalam situasi win-win solution.
c.    Manfaat bagi Pemerintah
·     Memiliki partner dlm menjalankan misi sosial & pemerintah dlm hal tanggung jawab
sosial.
D. Hubungan Organisasi dan Lingkungan
Lingkungan menimbulkan ketidakpastian bagi para manajer organisasi, sehingga mereka
harus memberikan respons dengan sebuah rancangan agar mampu beradaptasi dengan
lingkungan.
1. Ketidakpastian lingkungan
Ketidakpastian berarti manajer tidak memiliki informasi yang memadai tentang
faktor-faktor lingkungan agar dapat memahami dan memprediksi kebutuhan dan perubahan.
Organisasi harus mengelola ketidakpastian lingkungan agar menjadi efektif.
2. Beradaptasi dengan lingkungan
Jika sebuah organisasi menghadapi ketidakpastian yang semakin meningkat terkait
dengan kompetisi, pelanggan, pemasok, atau aturan pemerintah, maka para manajernya dapat
menggunakan beberapa strategi untuk beradaptasi dengan perubahan ini, termasuk ‘peranan
lintas batas’ (boundary-spanning roles), kemitraan antarorganisasi, dan merger atau usaha
patungan.
Peranan lintas batas, merupakan peranan yang dijalankan oleh orang atau departemen
yang menghubungkan dan mengoordinasikan organisasi dengan sejumlah elemen kunci yang
berada dalam lingkungan eksternal. Mendeteksi, mengolah informasi mengenai perubahan,
dan mewakili kepentingan organisasi di dalam lingkungan.
Kemitraan antarorganisasi, strategi untuk beradaptasi dengan lingkungan yang
semakin populer digunakan adalah pengurangan batasan-batasan yang ada dan meningkatkan
kerja sama dengan organisasi lain. Merger dan usaha patungan. Merger terjadi jika dua atau
lebih organisasi bergabung menjadi satu. Usaha patungan melibatkan aliansi atau program
strategis oleh dua organisasi atau lebih.
E. Lingkungan dan Budaya
Pengaruh terhadap budaya perusahaan internal yang besar datang dari lingkungan
eksternal. Budaya dapat sangat beraneka ragam di dalam organisasi; namun demikian,
organisasi yang berada di dalam industri yang sama mungkin menunjukkan karakteristik
budaya yang serupa karena beroperasi di dalam lingkungan yang sama.

1. Budaya yang adaptif


Dalam budaya adaptif, manajer sangat memerhatikan pelanggan dan orang-orang
dalam serta proses internal yang membawa perubahan yang bermanfaat. Sedangkan
dalam budaya perusahaan yang tidak adaptif, manajer lebih memerhatikan diri sendiri,
dan nilai-nilai yang mereka anut tidak mendorong pengambilan risiko dan perubahan.
2. Jenis-jenis budaya
sebuah kesesuaian yang tepat antara budaya, strategi, dan lingkungan berkaitan
dengan empat kategori yang disebut jenis budaya. Kategori ini didasarkan pada dua
dimensi, yaitu:
a. Sejauh mana lingkungan eksternal menuntut fleksibilitas atau stabilitas
b. Sejauh mana fokus strategis suatu perusahaan terhadap internal atau eksternal

Empat kategori yang berkaitan dengan perbedaan ini adalah:


a. Budaya kemampuan beradaptasi, muncul dalam sebuah lingkungan yang
menuntut respon cepat dan pengambilan keputusan berisiko tinggi.
b. Budaya pencapaian, cocok untuk organisasi yang sangat memerhatikan pelayanan
kepada pelanggan tertentu dalam lingkungan eksternal, tetapi tidak membutuhkan
fleksibilitas dan perubahan yang cepat.
c. Budaya klan, memiliki fokus internal pada keterlibatan dan partisipasi karyawan
untuk memenuhi perubahan kebutuhan dari lingkungan.
d. Budaya birokratis, memiliki fokus internal dan orientasi konsisten terhadap
lingkungan yang stabil.

A. Membentuk Budaya Kerja Bagi Lingkungan Kerja Baru


Suatu riset menunjukkan bahwa satu faktor yang paling besar meningkatkan nilai
perusahaan adalah orang dan cara mereka diperlakukan.

1. Permintaan baru bagi pengelolaan budaya perusahaan


Budaya dapat menjadi perekat yang memberikan rasa ikut memiliki dalam diri orang,
menjadi kompas untuk perilaku karyawan, dan memungkinkan karyawan yang
tersebar di berbagai tempat untuk bekerja mencapai tujuan bersama, sehingga mampu
memenuhi kebutuhan linngkungan yang berubah.

2. Kepemimpinan budaya
Satu cara dimana para manajer mengubah norma dan nilai agar dapat menjadi lebih
adaptif terhadap lingkungan eksternal atau untuk proses interasi internal yang mulus
adalah melalui kepemimpinan budaya.
Sedangkan pemimpin budaya adalah seoranng manaje yang menggunakan sinyal dan
simbol untuk memengaruhi budaya perusahaan. Pemimmpin budaya memengaruhi
budaya dalam dua bidang penting, yaitu:
a. Pemimpin budaya mengartikulasikan suatu visi tentang budaya organisasi yang
diyakini oleh para karyawan dan yang menghasilkan semangat sangat besar. Hal
ini berarti para pemimpin mengartikan dan mengomunikasikan nilai-nilai inti
yang diyakini dan yang didukung terus oleh karyawan.
b. Pemimpin budaya harus menuntut kegiatan harian yang menekankan visi budaya.
Para pemimpin harus memastikan bahwa prosedur kerja dan sistem penghargaan
sesuai dan menekankan kembali nilai-nilai. Tindakan sering kali lebih bermakna
daripada kata-kata, sehingga para pemimpin budaya “menjalankan perkataan
mereka”.
Daftar Pustala

http://binderengki.blogspot.com/2013/10/lingkungan-manajemen-pengantar.html
https://www.academia.edu/7167465/MAKALA_LINGKUNGAN_MANAJEMEN