Anda di halaman 1dari 19

REVIEW PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NO 23 TAHUN 2004 TENTANG

PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

(Disusun untuk Memenuhi Tugas Dosen Pengampu: Prof. Dr. Hartiwiningsih, S.H.,
M.Hum.)

DI SUSUN OLEH:

NAMA : TANIA WIJAYANTI

NIM : S351808023

MATA KULIAH : POLITIK HUKUM

MAGISTER KENOTARIATAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Rumah tangga merupakan kelompok terkecil dalam suatu masyarakat. Rumah tangga
terbentuk melalui ikatan perkawinan yang sah. Didalam rumah tangga diharapkan suami,
istri dan anak mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Prinsip ini dianut dalam
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, yang menyatakan bahwa
perkawinan merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita
sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan
kekal berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.1

Keluarga yang damai, tentram dan bahagia merupakan tujuan setiap insan dalam
menjalani kehidupan perkawinannya, namun tidak setiap keluarga dapat menjalani
kehidupan rumah tangganya sesuai yang diharapkan. Tak jarang kehidupan rumah
tangga justru diwarnai oleh adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), baik
kekerasan fisik kekerasan psikis, kekerasan seksual, maupun kekerasan ekonomi. Untuk
mewujudkan keutuhan dalam rumah tangga, sangat tergantung pada setiap orang
dalam lingkup rumah tangga, terutama kadar kualitas pelaku dan pengendalian diri
setiap orang dalam lingkup rumah tangga. Keutuhan dan kerukunan dalam rumah
tangga dapat terganggu jika kualitas dan pengendalian diri tidak dapat terkontrol, yang
pada akhirnya dapat terjadi kekerasan dalam rumah tangga sehingga timbul
ketidakamanan atau ketidakadilan terhadap orang yang ada dalam lingkup rumah
tangga tersebut.

Kekerasan terhadap perempuan telah menjadi permasalahan penting dan


menimbulkan kecemasan di setiap negara di dunia, termasuk negara-negara maju yang
dikatakan sangat menghargai hak-hak asasi manusia (HAM). Fakta menunjukkan bahwa
tindak pidana kekerasan terhadap perempuan sebagai pasangan telah memberikan
dampak negatif yang cukup besar bagi perempuan sebagai korban. Kekerasan Dalam

1
Prof.Dr. Koerniatmanto Soetoprawiro, SH, MH, Ratna Riyanti SH,MH. Upaya
Perlindungan Hukum Terhadap Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Lembaga
Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Universitas Katolik Parahyangan, Bandung,
2012.
Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan suami terhadap istri merupakan teror terhadap
perempuan yang paling banyak terjadi diberbagai Negara. Sekitar 20-67% perempuan,
baik negera berkembang maupun Negara maju mengalaminya.2 Fakta yang terjadi di
Indonesia, tingkat kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga semakin
meningkat setiap tahunnya, ternyata produk hukum yang melarang tindak kekerasan
terhadap perempuan dalam rumah tangga kalah kuat dengan budaya hukum yang selama
ini dianut oleh masyarakat. Budaya patriarkhi merupakan salah satu faktor yang
menyuburkan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Menurut Alfian Rokhmansyah di
bukunya yang berjudul Pengantar Gender dan Feminisme, patriarki berasal dari kata
patriarkat, berarti struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal,
sentral, dan segala-galanya. Sistem patriarki yang mendominasi kebudayaan masyarakat
menyebabkan adanya kesenjangan dan ketidakadilan gender yang mempengaruhi hingga
ke berbagai aspek kegiatan manusia. Laki-laki memiliki peran sebagai kontrol utama di
dalam masyarakat, sedangkan perempuan hanya memiliki sedikit pengaruh atau bisa
dikatakan tidak memiliki hak pada wilayah-wilayah umum dalam masyarakat, baik
secara ekonomi, sosial, politik, dan psikologi, bahkan termasuk di dalamnya institusi
pernikahan. Hal ini menyebabkan perempuan diletakkan pada posisi subordinat atau
inferior. Pembatasan-pembatasan peran perempuan oleh budaya patriarki membuat
perempuan menjadi terbelenggu dan mendapatkan perlakuan diskriminasi.
Ketidaksetaraan antara peran laki-laki dan perempuan ini menjadi salah satu hambatan
struktural yang menyebabkan individu dalam masyarakat tidak memiliki akses yang
sama.3

Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dalam bentuk Undang Undang Republik


Indonesia No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
(PKDRT) ini muncul sebagai salah satu bentuk perhatian pemerintah dalam upaya
penghapusan diskriminasi, kekerasan yang dialami dalam kehidupan rumah tangga.
Walaupun dalam pelaksanaannya masih ada beberapa kendala.

2
Ester Lianawati, 2009, Tiada Keadilan Tanpa Kepedulian ( KDRT Perspektif Psychologi
Feminis ).Paradigma Indonesia, hal 1

3
Ade Irma Sakina dan Dessy Hasanah Siti A., Menyoroti Budaya Patriarki di Indonesia.
Universitas Padjajaran, hlm 72
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana implementasi Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun
2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dilihat dari norma-
norma yang ada di masyarakat?
2. Apakah norma-norma di dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomr 23 Tahun
2004 tentang Pengahapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dibutuhkan oleh
masyarakat?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Implementasi Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 Tentang


Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Implementasi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan Dalam Rumah Tangga mendorong dan mengharuskan adanya
rekonstruksi fundamental dalam tatanan birokrasi. Peran elemen hukum justru
berposisi dalam konteks wajib, sebagaimana disebutkan dalam Bab 6 Pasal 11 yaitu:
Pemerintah bertanggung jawab dalam upaya pencegahan kekerasan dalam rumah
tangga.
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bagaikan siklus yang sulit untuk
dihentikan. pelaku bisa menyesal karena perbuatannya, namun tak jarang kekerasan
yang berbasis gender ini selalu dari waktu ke waktu terus meningkat, salah satu
penyebab terjadinya kekerasan di dalam rumah tangga ini bisa terjadi karena faktor
budaya patriaki serta juga di lihat dari nilai masyarakatnya yang selalu ingin hidup
harmonis sehingga cenderung yang selalu di salahkan adalah perempuan. Perlu di
ketahui bahwa batasan pengertian Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
(PKDRT) yang terdapat di dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 23 tahun
2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah tangga adalah “Setiap
perbuatan terhadap seseorang terutama Perempuan yang berakibat timbulnya
kesengsaraan, atau penderitaan secara fisik, seksual, psikilogis, atau penelantaran
rumah tangga, Yang menpunyai ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan,
atau perampasan kemerdekaan secara melawan Hukum dalam lingkungan rumah
tangga”.
Mengingat UU PKDRT merupakan hukum publik,privat maupun administratif
yang di dalamnya ada ancaman pidana penjara atau denda bagi yang melanggarnya,
kebanyakan dari korban Kekerasan dalam Rumah Tangga ini biasanya memilih
penyelesaiannya secara Privat (Perdata) dengan cara perceraian, yang siap
menghadapi suatu dilema sebagai predikat janda dan selalu mendapat sorotan
Negatif dari penilaian masyarakat. maka masyarakat luas khususnya kaum lelaki
dalam kedudukan sebagai kepala keluarga sebaiknya mengetahui apa itu kekerasan
dalam rumah tangga.4
Dalam Pasal 5 UU No 23 Tahun 2004 menyatakan bahwa setiap orang
dilarang melakukan kekerasan dalam Rumah Tangga terhadap orang dalam lingkup
suatu Rumah Tangga melakukan kekerasan seperti:5
1. Kekerasan Fisik, yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau
luka berat.
2. Kekerasan Psikis yang mengakibatkan rasa ketakutan, hilangnya
rasa percaya diri, hilangnya kemammpuan untuk bertindak,rasa
tidak berdaya dan lain-lain.
3. Kekerasan Seksual yang berupa pemaksaan seksual dengan cara
yang tidak wajar baik untuk suami maupun untuk orang lain untuk
tujuan komersil atau tujuan tertentu.
4. Penelantaran rumah tangga yang terjadi dalam lingkup rumah
tangganya, yang mana menurut Hukum di wajibkan atasnya untuk
memberikan kehidupan yang layak atas rumah tangga nya sendiri.

Dari UU tersebut terlihat semata-mata tidak hanya melindungi


kepentingan perempuan dewasa saja tetapi juga untuk mereka yang
tersubordinasi, seperti juga laki- laki yang dewasa maupun masih anak-anak
juga dapat perlundungan dari UU kekerasan dalam rumah tangga ini. Selain
itu penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan
ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi atau melarang untuk bekerja
yang layak di dalam atau di luar rumah tangga, sehingga korban berada
dibawah kendali orang tersebut. Bagi korban KDRT undang-undang telah
mengatur akan hak-hak yang dapat di tuntut ke pada pelakunya antara lain:

1. Perlindungan dari pihak keluarga, Kepolisian, Kejaksaan,


Pengadilan, Advokad, lembaga sosial atau pihak lainnya maupun,
atas penetapan perintah perlindungan dari Pengadilan.
2. Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis.
4
Fakih, Mansour, Diskriminasi dan Beban Kerja Perempuan: Perspektif
Gender, (Yogyakarta: CIDESINDO, 2008), hlm. 18.
5
Mohtar Mas’oed, et.al (eds.), Kekerasan Kolektif: Kondisi dan Pemicu, (Yogyakarta:
P3PK UGM, 2000), hlm.94
3. Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasian Korban.
4. Pendampingan oleh pekerja sosial atau lembaga bantuan
hukum.
5. Pelayanan bimbingan Rohani.

Selain itu korban KDRT juga berhak untuk mendapatkan pelayanan demi
pemulihan korban dari tenaga kesehatan, pekerja sosial, relawan sosial dan
lainnya. Dalam UU PKDRT, Pemerintah mempunyai kewajiban untuk
merumuskan kebijakan penghapusan KDRT menyelenggarakan komunikasi,
informasi dan edukasi tentang KDRT, menyelenggarakan sosialisasi dan
advokasi tentang KDRT, menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan sensitif
dan isu KDRT serta menetapkan standar dan akreditasi pelayanan yang
sensitif, memberikan hak rasa aman, tentram, dan perlindungan dalam rumah
tangga sebagai mana dambaan dalam setiap orang.6

Tapi bila ada beberapa korban yang merasa kesulitan dalam penerapan
Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam
Rumah Tangga tersebut, maka dapat meberikan kuasa kepada keluarga atau
Advokat/Pengacara untuk melaporkan KDRT ke Kepolisian7. Jika yang
menjadi korban adalah seorang anak-anak laporan dapat di lakukan oleh
orang Tua, Wali, Pengasuh, atau anak yang bersangkutan.8 Adapun sanksi
Pidana dalam Pelanggaran Undang-Undang No 23 tahun 2004 tentang
PKDRT diatur dalam BAB VIII mulai dari Pasal 44 s/d Pasal 53 khususnya
untuk kekerasan KDRT di bidang seksual berlaku pidana minimal 5 tahun
Penjara dan maksimal 15 tahun penjara atau 20 tahun penjara atau denda
antara 12 juta s/d 300 juta rupiah atau antara 25 juta s/d 500 juta rupiah dan
pada umumnya Undang-Undang No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan Dalam Rumah Tangga bukan hanya di tujukan kepada seorang
suami tapi juga bisa ditujukan ke pada seorang istri yang melakukan kekerasan
6
Mohammad Kemal Dermawan, Teori Kriminologi, edisi kedua, (Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional. Penerbit Universitas Terbuka, 2007), hlm.40
7
Pasal 26 Ayat 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 Tentang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
8
Pasal 27 Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan
Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
terhadap suaminya, anak-anaknya, keluarganya, atau pembantunya yang
menetap tinggal dalam satu rumah tangga tersebut.

Tindak KDRT di Indonesia dalam rentang waktu yang panjang cenderung


bersifat laten hingga jarang terungkap ke permukaan. Akibatnya,ia lebih
merupakan kejadian sederhana yang kurang menarik ketimbang sebagai fakta
sosial yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus dan penanangan yang
sungguh-sungguh dari masyarakat dan pemerintah. Kekerasan dalam rumah
tangga Indonesia di mana pun juga masih terus berlangsung dengan jumlah
kasus dan intensitasnya yang kian hari cenderung kian meningkat. Media
massa cetak dan elektronik Indonesia malah tak pernah lengang dari berita-
berita dan informasi-informasi terbaru tentang tindak KDRT.

Kebanyakan tindak pidana KDRT yang masuk di Kepolisian, penyidik


selalu menggunakan ketentuan pidana Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004
dalam proses penyidikannya. Dalam hal ini berlaku asas lex specialis derogat
lege generali (peraturan yang bersifat khusus mengkesampingkan peraturan
yang bersifat umum), dimana posisi UU No.23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah lex specialis sedangkan
KUHP dan KUHAP adalah lege generali. Jadi proses penyidikannya sama
seperti hukum acara pidana biasa kecuali hal-hal yang ditentukan lain oleh UU
No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga di Kepolisian, tercatat


keseluruhan kasus hanya didominasi kekerasan fisik yang penyelesaiannya
dilakukan dengan jalan kekeluargaan. Korban yang melapor/mengadukan
seluruhnya dari istri. Dasar penerapan ketentuan pidana kekerasan dalam
rumah tangga sudah sesuai dengan UU No.23 Tahun 2004 tentang
penghapusan KDRT. Hal ini terlihat dari kasus yang masuk, untuk jenis
kekerasan fisik, penyidik Kepolisian biasanya selalu menerapkan Pasal 44
ketentuan pidana UU No.23 Tahun 2004. Penerapan ketentuan pidana untuk
jenis kekerasan psikis (Pasal 45), kekerasan seksual (Pasal 46), dan
penelantaran rumah tangga (Pasal 49).

Ada berbagai jenis kekerasan dalam rumah tangga tetapi hanya kekerasan
fisik saja yang banyak dilaporkan, tetapi selain itu ada juga kekerasan
psikologis yang diadukan namun korban tidak menghendaki untuk dilanjutkan
karena dari pihak penyidik menyarankan untuk menyelesaikan kasusnya
secara kekeluargaan dengan alasan untuk mempertahankan keutuhan
keluarganya sehingga korban mengurungkan niatnya untuk melanjutkan
kasusnya. Dalam menangani kasus KDRT dalam bentuk kekerasan fisik yang
lukanya ringan, Penyidik lebih sering menyarankan untuk menyelesaikan
secara kekeluargaan sedangkan untuk kekerasan fisik yang korbannya
menderita cukup parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari maka penyidik
akan melanjutkan kasusnya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penyidik hanya akan


melanjutkan kasus/perkara KDRT jika kekerasan fisik yang diperoleh oleh
korban mendapat luka serius. Sedangkan untuk kekerasan yang lain seperti
kekerasan fisik yang lukanya ringan, psikologis, seksual dan penelantaran
dalam rumah tangga tidak ada keinginan untuk melanjutkan kasus tersebut
karena korban tidak mendapat luka yang serius.

Parahnya kondisi atau luka korban yang menentukan apakah dilanjutkan/


dihentikannya perkara sesungguhnya tidak efektif, karena setiap perkara
KDRT dalam bentuk kekerasan ringan yang masuk penyidik selalu
menyarankan untuk berdamai namun apabila kekerasan tersebut berulang
kembali yang mengakibatkan luka korban menjadi parah maka baru kekerasan
dalam rumah tangga tersebut dilanjutkan atau diproses. Dalam kasus seperti ini
menjadi kelemahan penyidik dalam menangani kasus kekerasan dalam rumah
tangga karena di satu sisi penyidik ingin mempertahankan keutuhan rumah
tangga korban dengan pelaku tetapi di sisi lain ada tindak pidana yang harus
diselesaikan.

Para korban lebih memilih damai karena menurut mereka penyelesaian


menurut jalur hukum hanya akan menambah penderitaan mereka saja karena
kebanyakan korban masih tergantung secara ekonomi kepada pelaku belum
lagi menghadapi reaksi dari keluarga suami yang cenderung akan
menyalahkan korban karena sudah tega mengadukan suami.

Banyak alasan dan hambatan mengapa kasus-kasus KDRT tidak diteruskan


atau diselesaikan dengan jalur hukum. Berdasarkan analisa yang dilakukan,
hambatan yang ada antara lain karena korban tidak mau kasusnya diketahui
banyak orang, korban tidak mau terlalu lama berurusan dengan kasusnya,
korban ingin keluar dari KDRT secepatnya, korban enggan berhadapan dengan
polisi, dan sebagainya.

Kekerasan psikis yang menjadi terobosan UU PKDRT dalam proses


hukumnya antara lain memungkinkan untuk dilakukan Visum et Psikiatrikum
sebagai pembuktiannya. Namun, terobosan ini belum banyak digunakan baik
oleh aparat penegak hukum maupun pendamping. Hal ini dikarenakan masih
sedikitnya ahli psikologi/psikiater yang mempunyai pemahaman tentang
konteks KDRT terjadi.

Kekerasan Seksual yang salah satunya kekerasan seksual terhadap istri


(marital rape) juga menjadi terobosan UU PKDRT, meskipun masih
merupakan delik aduan. Tindak pidana khusus ini diatur dalam Pasal 8 huruf
(a) yang berbunyi sebagai berikut pemaksaan hubungan seksual yang
dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut.
Hal ini berarti bahwa UU PKDRT sudah tidak lagi memisahkan ranah privat
dan publik ketika terjadi kekerasan, dengan kata lain sekat antara hukum
perdata yang lebih dikenal untuk menyelesaikan masalah di ranah privat dan
hukum pidana yang dipergunakan untuk menyelesaikan masalah terkait
dengan ranah publik menjadi tidak ada. Dari bentuk-bentuk KDRT ini, dimana
banyak terjadi terobosan hukum, dalam pelaksanaan proses pidananya banyak
sekali kendala atau kesulitan yang dihadapi, baik oleh korban, pendamping
maupun aparat penegak hukum sendiri. Misalnya terkait dengan delik aduan,
gradasi kekerasan (terutama fisik) yang dialami korban, unsur-unsur pidana
dalam penelantaran rumah tangga dan kekerasan psikis. Dari lingkup rumah
tangga, UU PKDRT ini juga melakukan terobosan hukum dengan
diakomodirnya anggota keluarga secara luas yakni yang mempunyai hubungan
darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, serta yang bekerja
dalam rumah tangga tersebut yang selama jangka waktu tertentu menetap atau
berada dalam rumah tangga tersebut9. Jadi, UU PKDRT ini selain
menggunakan konsep keluarga ‘inti’ yakni ibu, ayah dan anak, juga

9
Pasal 2 ayat (1) dan (2) UU No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU
PKDRT)
menggunakan konsep keluarga ‘batih’ dimana hal ini awam ditemukan dalam
keluarga di Indonesia. Termasuk di dalamnya mertua, menantu, besan, ipar,
anak tiri, anak angkat, paman, bibi, dll. Namun dalam pelaksanaannya, karena
penjelasan pasal yang kurang terutama untuk Pasal 2 ayat (2) terkait dengan
kata ‘menetap’ dan ‘berada’ seringkali menimbulkan penafsiran yang berbeda
diantara aparat penegak hukum dan pendamping. Yang dimaksud menetap dan
berada itu apakah dalam jangka waktu tertentu atau memang tinggal dalam
rumah tangga tersebut. Hal ini menjadi kritik bagi pasal tersebut, terutama
dalam konteks pekerja rumah tangga yang tidak menetap atau tinggal, tetapi
bekerja untuk waktu tertentu di rumah tersebut. Padahal dalam rumusan pasal
terkait dengan ruang lingkup, tidak menyebutkan bahwa locus delicti harus
berada di dalam rumah. Tetapi lebih menekankan pada relasi
kerumahtanggaan akibat dari perkawinan, hubungan darah, ataupun relasi
kerja dalam rumah tangga. Maka dapat ditafsirkan bahwa peristiwa pidana
KDRT dapat pula terjadi di luar rumah.

Ada sebagian orang yang melakukan penolakan terhadap UU PKDRT.


Penolakan terhadap UU ini tidak hanya karena isi dari pasal-pasalnya yang
dianggap kurang sesuai, tapi juga berkaitan dengan tidak dilengkapinya UU ini
dengan PP (peraturan pemerintah). Hal ini yang menjadi alasan sebagian
penegak hukum untuk tidak menggunakan Undang-undang ini. Anggapan
tersebut muncul dimungkinkan karena adanya pemahaman bahwa keberadaan
undang-undang sebagai hukum materiil belum lengkap tanpa prosedural formil
yang mengatur tentang tata cara pelaksanaan, padahal menurut mereka
Juklak (petunjuk pelaksanaan) sangatlah dibutuhkan dalam upaya
pelaksanaan UU No.23 Tahun 2004 ini. Bisa jadi itu benar, namun tidak ada
satu pasal pun yang menyatakan bahwa ketentuan dalam pasal-pasal UU ini
tidak dapat dilakukan jika belum ada PP-nya. Bisa jadi juga syarat harus
diadakannya PP terlebih dahulu merupakan kebiasaan Institusi Penegak
Hukum yang senantiasa melakukan tugas-tugasnya berdasarkan pada Juknis
(Petunjuk teknis) dan Juklak (Petunjuk Pelaksanaan) yang saklek (kaku)..
Satu-satunya pasal yang memerlukan PP adalah berkaitan dengan koordinasi
antar lembaga penyedia layanan untuk pemulihan korban. Meskipun isu
penegakan HAM pada umumya dan isu penegakan HAM dan keadilan bagi
perempuan khususnya telah gencar dilakukan oleh berbagai kalangan, namun
sampai saat ini para aparat penegak hukum masih saja memiliki pemikiran
yang bias. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi proses penegakan keadilan,
khususnya pada kasus PKDRT. Ditemukan fakta, dibeberapa kantor kepolisian
baik di tingkat Polsek maupun Polres masih banyak ditemukan aparat penegak
hukum yang menstigmatisasi perempuan. Victim blaming, yakni menyalahkan
perempuan sebagai korban atau menuntut korban untuk membuktikan bahwa
ia benar-benar korban dari kekerasan, masih saja terjadi dalam setiap proses
pemeriksaan. Bahwa PKDRT itu terjadi disebabkan ulah perempuan sendiri,
tidak melakukan kewajiban sebagai istri yang baik, tidak mau mengerti
kesusahan suami, melawan suami hingga suami melakukan tindakan
kekerasan, baru dipukul sekali sudah melapor, adalah stigma-stigma yang
sering disampaikan aparat ketika perempuan korban PKDRT melaporkan
kekerasan yang dialaminya. Akibatnya, banyak korban PKDRT merasa
enggan dan takut untuk melaporkan kekerasan yang dialaminya.

Hambatan-hambatan yang biasanya terjadi dalam pelaksanaan UU


PKDRT, adalah :

1. Korban
Korban merupakan faktor utama adanya dark number dalam kasus

kekerasan dalam rumah tangga. Faktor pendukung dan penghambat

yang utama untuk menyelesaikan kasus kekerasan dalam rumah

tangga melalui jalur hukum adalah dari korban sendiri. Korban yang

sudah menyadari bahwa kekerasan dalam rumah tangga yang

menimpa dirinya merupakan suatu hal yang tidak benar akan

memudahkan korban melaporkan kekerasan yang terjadi kepada

pihak yang berwajib. Sikap diamnya korban juga merupakan

penghambat dalam melakukan penegakan hukum kasus kekerasan

dalam rumah tangga karena korban cenderung tidak mau

melaporkan/mengadukan kasusnya karena berbagai alasan seperti


tidak tega melihat suaminya ditahan, tidak ada lagi pencari nafkah,

menjaga nama baik suami/ keluarga, ataupun menjaga perasaan anak-

anak. Selain itu juga dari masyarakat yang sering menyalahkan korban

sebagai penyebab tejadinya kekerasan dan menuduh korban yang telah

tega melaporkan suaminya sendiri ke polisi. Kondisi-kondisi yang

tidak mendukung ini sering kali menyebabkan korban kemudian

mencabut kembali laporannya.

2. Proses pembuktian

Lamanya jarak antara waktu pengaduan dengan kejadiannya

mempersulit dalam pencarian bukti-bukti karena korban sering kali

tidak segera meminta visum dari rumah sakit setelah kejadian

sehingga penyidik kesulitan dalam melakukan pemeriksaan misalnya

luka-luka sudah kering dan luka-luka dalam korban sudah membaik,

kemungkinan jika dilakukan visum tidak ditemukan adanya luka-luka.

Hal tersebut diakui sebagai hambatan bagi Penyidik dan menyulitkan

pelaksanaan penyidikan yang mengharuskan alat-alat bukti ada untuk

mendukung unsur-unsur tindak pidana yang disangkakan. Selain

dalam visum et repertum hambatan lain dalam hal pembuktian tindak

pidana kekerasan dalam rumah tangga adalah mengenai saksi.

Mencari saksi dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga

tidaklah mudah, karena umumnya kekerasan dalam rumah tangga

dilakukan pelaku di dalam rumah, sehingga jarang sekali saksi

melihat secara langsung tindakan pelaku. Kebanyakan saksi yang

digunakan dalam penyidikan adalah dari keluarga sendiri yang

kebetulan sedang berada di tempat korban dan mengerti kondisi


korban. Seringkali pula keterangan saksi dari keluarga juga

sering memihak, apabila saksi dari keluarga korban maka cenderung

memihak korban dan apabila saksi dari pelaku maka cenderung

mamihak kepada pelaku pula.

3. Persepsi Penegak Hukum

Persepsi penegak hukum seperti polisi dinilai kurang serius

memperhatikan kasus kekerasan dalam rumah tangga karena setiap

kasus kekerasan dalam rumah tangga yang masuk ke kepolisian

kebanyakan disarankan penyidik untuk berdamai selama kondisi

korban tidak parah, akibatnya korban mengalami kekerasan berulang

dari pelaku. Keadaan tersebut timbul karena aparat penegak hukum

masih memandang bahwa penganiayaan yang dilakukan oleh suami

terhadap istri berbeda dengan penganiayaan yang dilakukan oleh

orang terhadap orang lain yang tidak mempunyai hubungan suami

istri karena diantara suami istri tersebut masih ada rasa sayang

sehingga menimbulkan anggapan bahwa kekerasan yang dilakukan

suami terhadap istrinya tidak dilakukan sungguh-sungguh karena

anggapan itulah penegak hukum cenderung lambat dalam proses

penegakan hukumnya.

4. Sarana dan prasarana

Sarana untuk perlindungan sementara bagi korban, selain itu

sarana lain yang kurang mendukung adalah minimnya tempat untuk

melakukan visum gratis bagi korban kekerasan. Penegakan hukum

akan sulit dicapai tujuannya apabila kebutuhan akan sarana/fasilitas

yang tidak terpenuhi. Visum merupakan alat bukti yang harus ada
dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga, namun karena

terbatasnya sarana yang mendukung hal tersebut maka korban

cenderung tidak memeriksakan lukanya.

5. Minimnya Partisipasi Masyarakat

Inisiatif dan partisipasi warga masyarakat untuk melaporkan

kasus tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi masih

rendah. Masyarakat cenderung enggan untuk melapor kepada pihak

yang berwajib karena masih menganggap kekerasan dalam rumah

tangga adalah urusan internal masing-masing pihak. Ada sebagian

masyarakat masih menganggap bahwa suami berhak melakukan

apapun kepada istrinya karena itu merupakan urusan internal mereka.

Selain merupakan urusan internal, oleh sebagian anggota masyarakat

masih dianggap sebagai upaya pembelajaran karena tindakan istri/

anak dianggap kurang tepat.

B. Norma di dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomr 23 Tahun 2004 tentang

Pengahapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Dengan dibentuknya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang

Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga mengarahkan kepada produk hukum

yang dibutuhkan pemerintah untuk mendukung tugas-tugas pemerintah dan

pembangunan nasional, karena dengan perlindungan dari pihak kepolisian,

kejaksaan, pengadilan, advokat atau pihak lainnya yang didapat para korban serta

terhindarnya korban dari tindakan kekerasan atau ancaman kekerasan, penyiksaan,

atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat kemanusiaan. Dalam hal ini

dapat mendukung pembangunan nasional yang di harapkan oleh negara yaitu


meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata tanpa

adanya diskriminasi.

Apabila dilihat dari tujuan dibuatnya UU PKDRT tersebut, maka masyarakat

sangat membutuhkan norma norma yang berlaku didalam PKDRT. Namun, ada

kritik di dalam UU PKDRT terutama pada pasal 8 huruf (a) pemaksaan hubungan

seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga

tersebut. Dengan adanya pasal tersebut maka seorang suami bisa “dimejahijaukan”

jika melakukan hubungan seksual tanpa persetujuan istrinya. Yang mana di dalam

UU PKDRT, pelaku kekerasan seksual dihukum selama 12 tahun, sedangkan

hukuman berzina hanya 9 bulan. Jadi, lebih ringan berzina ketimbang kekerasan

dalam rumah tangga. UU PKDRT ini berpotensi timpang dan menggugat norma

agama.

Walaupun pada dasarnya masyarakat sangat membutuhkan UU PKDRT

tersebut, karena sebagai perlindungan hukum dari negara untuk masyarakat. Namun,

memang harus digarisbawahi tentang pelaksanaannya, agar masyarakat secara

merata paham dan menyadari pentingnya hal ini. Dimana, tujuan dari dibuatnya UU

PKDRT ini haruslah sesuai dengan apa yang sudah tertulis didalamnya dengan yang

ada di kenyataan, yaitu dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004

Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang menyatakan bahwa

penghapusan kekerasan dalam rumah tangga disebabkan:

a. Untuk menghormati hak asasi setiap manusia

b. Untuk keadilan dan kesetaraan gender

c. Nondiskriminasi

d. Perlindungan korban.
Poin-poin diataslah yang diharapkan dapat benar-benar berjalan sesuai

koridor yang telah di tentukan. Walaupun dari hal tersebut dikatakan bahwa undang-

undang ini belum menjamin adanya perlindungan hukum bagi korban kekerasan

dalam rumah tangga. Terkait pembentukan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004

Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga disini peran dari politik

hukum itu sendiri adalah berusaha untuk melakukan perubahan-perubahan yang

yang harus diadakan dalam hukum yang sekarang berlaku supaya menjadi dengan

kenyataan sosial. Karena dalam kenyataannya korban kekerasan dalam rumah

tangga membutuhkan perlindungan hukum dan hal tersebut belum begitu terlihat

dalam sistem hukum di indonesia. Sehingga lembaga legislatif dalam hal ini

mengkaji bagaimana penetapan hukum yang seharusnya agar menjadi hukum yang

diharapkan bagi masyarakat khususnya terhadap korban.

Tidaklah terlalu berlebihan jika dikatakan keberadaan UU ini justru telah

memberikan jaminan bagi masyarakat agar tidak ragu-ragu lagi untuk menghentikan

kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga orang sekitarnya. Tidak perlu takut lagi

dianggap mencampuri urusan rumah tangga orang lain.

BAB III
A. KESIMPULAN

1. Implementasi ketentuan pidana Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang

Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga belum sepenuhnya terlaksana

dengan baik, karena berdasarkan data kekerasan dalam rumah tangga yang ada

dapat disimpulkan bahwa kasus yang masuk hanya didominasi jenis kekerasan

fisik saja yang ditangani oleh penyidik, sedangkan untuk kasus jenis kekerasan

psikologis, seksual dan penelantaran dalam rumah tangga penyidik seringkali

menyarankan korban untuk berdamai. Disamping itu dalam menangani perkara,

penyidik selalu melihat dari parahnya kondisi korban dan apakah luka korban

mengganggu aktifitas sehari-hari. Hal ini dapat disimpulkan bahwa penyidik

beranggapan hanya kekerasan fisik yang korbannya mendapat luka serius saja

yang dilanjutkan perkaranya. Juga penegak hukum yang masih memiliki stigma

bahwa korban yang kebanyakan wanita, hanyalah melebih-lebihkan kejadian

saja. Sedangkan untuk kekerasan yang lain seperti kekerasan fisik yang lukanya

ringan, psikologis, seksual dan penelantaran dalam rumah tangga tidak ada

keinginan untuk melanjutkan kasus tersebut karena korban tidak mendapat

luka yang serius. Maka diperlukannya kepastian hukum yang lebih nyata yang

dapat terapkan di masyarakat.

2. Adanya ketimpangan dalam UU PKDRT ini secara tidak langsung menggugat

norma agama, karena masih terjadinya ketidakjelasan dari spesifikasi dan

pelaksanaan UU PKDRT ini sendiri. Walaupun pada dasarnya masyarakat

membutuhkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan

Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dikarenakan sebagai perlindungan hukum dari

negara. Dalam pelaksanaannya masih dibutuhkan banyak perbaikan dan


kerjasama dari segala pihak yang terkait. Agar tidak terjadinya ketimpangan dan

menabrak norma norma yang ada di masyarakat.

B. SARAN

1. Diperlukan adanya kajian ulang terhadap isi Undang-Undang Nomor 23 Tahun

2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, agar baik dari

penegak hukum, masyarakat ataupun instansi-instani yang terkait dapat

menjalankan tujuan dari dibuatnya undang-undang tersebut.

2. Diperlukan sosialisasi dan monitoring tentang kekerasan dalam rumah tangga,

agar masyarakat lebih waspada dan peduli terhadap keselamatan dan kenyamanan

keluarga maupun apabila menyaksikan dan mengetahui adanya kekerasan dalam

rumah tangga yang terjadi disekitarnya.