Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

PEMEKARAN WILAYAH LEPAS PANTAI DAN KEPULAUAN

OLEH :

ACING LATUPONO

SITI RAGUANI LOJI

PROGRAM STUDI GEOGRAFI SEJARAH

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-
Nya, sehingga makalah yang berjudul “Pemekaran Wilayah Pesisir Pantai Dan
Kepulauan” ini dapat terselesaikan dengan baik.

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
yang di berikan kepada penulis dan memberikan wawasan kepada pembaca mengenai
Pemekaran Wilayah Pesisir Pantai Dan Kepulauan.

Makalah ini tentu dapat terselesaikan dengan baik berkat bantuan dari pihak
lain juga. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada yang sangat membantu dalam penyusunan ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semua pihak. Selain itu, penulis
berharap agar pembaca tidak sungkan memberi masukan berupa kritik dan saran yang
membangun, karena penulis sadari bahwa makalah ini masih belum sempurna.

Ambon, 20 Maret 2020

Penyusun
DAFTAR ISI

Lembaran Judul

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang……………………………………………………
B. Rumusan Masalah………………………………………………….
C. Tujuan………………………………………………………………
D. Manfaat…………………………………………………………..…

BAB II PEMBAHASAN

A. Pemekaran Wilayah Lepas Pantai Dan Kepulauan………................

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan…...………………………………………………………
B. Saran…………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar BelakanG

Penerapan desentralisasi ditujukan dalam rangka meningkatkan efisiensi dan


efektivitas penyelenggaraan pemerintahan, karena desentralisasi mampu mengurangi
bertumpuknya kekuasaan pada pemerintahan pusat. (Cheema & Rondinelli, 1983)
juga mendefinisikan desentralisasi sebagai “the transfer of planning, decisionmaking,
or administrative authority from the central government to its field organizations,
local administrative units, semi-autonomous and parastatal organizations, local
governmental, or nongovernmental organizations”. Dari definisi tersebut dapat
disimpulkan bahwa dalam desentralisasi, tidak semua urusan diberikan kepada
daerah, tetapi terdapat beberapa urusan yang kewenangannya diberikan kepada
daerah.

Selanjutnya (Sulistiowati, 2014) menyatakan bahwa: Pada perkembangan lebih


lanjut dibedakan menjadi dua yaitu desentralisasi administratif dan desentralisasi
politik. Desentralisasi administratif adalah suatu delegasi wewenang pelaksanaan
yang diberikan kepada pejabat pusat di daerah. Sedangkan Desentralisasi politik
menyangkut delegasi wewenang pembuatan keputusan tertentu mengenai sumber-
sumber daya yang diberikan kepada badan-badan pemerintah regional dan lokal
dalam rangka mengurus kepentingannya. Pengertian desentralisasi tersebut berkaitan
dengan proses pembentukan daerah otonomi. Sebagai konsekuensi dari penerapan
desentralisasi di Indonesia adalah munculnya konsep otonomi daerah. Otonomi
daerah di Indonesia menyebabkan wewenang dan rentang kendali pemerintah pusat
berkurang, sehingga diharapkan terciptanya percepatan pertumbuhan dan
pembangunan di daerah, menciptakan keseimbangan pembangunan antar daerah di
Indonesia dan mendorong terciptanya kemandirian daerah dalam upaya optimalisasi
pengembangan potensi daerah.1

B. Rumusan Masalah
Mengetahui bagaimana dan apa itu Pemekaran Di Wilayah Pesisir Pantai
Dan Kepulauan
C. Tujuan
untuk mengetahui Pemekaran Di Wilayah Pesisir Pantai Dan Kepulauan.

D. Manfaat

Dapat mengetahui Pemekaran Di Wilayah Pesisir Pantai Dan Kepulauan

BAB II
1
Astika Ummy Athahirah dan Rossy Lambelanova, KESIAPAN PEMEKARAN “KABUPATEN
RENAH INDOJATI” DI PROVINSI SUMATERA BARAT, Vol. 21, No. 1, Maret 2019: 58 – 64, hlm 58
PEMBAHASAN

A. Pemekaran Wilayah Lepas Pantai Dan Kepulauan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 78 Tahun 2007 pemekaran wilayah adalah


pemecahan provinsi atau kabupaten/kota menjadi dua daerah atau lebih. Pada
dasarnya pemekaran wilayah bertujuan untuk memperpendek rentang pemerintahan
agar tercipta pelayanan publik yang lebih baik dan lebih dekat dengan masyarakat
demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera.2

Di dalam pengembangan wilayah, termasuk juga pengembangan wilayah pesisir.


wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, dengan batas ke arah
darat sampai dengan batas wilayah kecamatan pesisir(UU No, 27/2007) meliputi
bagian daratan, baik kering maupun terendam air yang masih mendapat pengaruh
sifat-sifat laut seperti angin laut,pasang surut, perembesan air laut yang dicirikan oleh
vegetasinya yang khas; sedangkan batas wilayah pesisir ke arah laut mencakup
bagian atau batas terluar daripada daerah paparan benua(continental shelf), dimana
ciri-ciri perairan ini masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti
pengundulan hutan dan pencemaran.3

Salah satu masalah yang perlu mendapat perhatian sebagai akibat dari pemekaran
wilayah adalah masalah pengelolaan area lepas pantai dan konsep tentang “ruang
samudera” (ocean space).

Hermanto (2007) dalam penulisannya yang berjudul pemekaran daerah dan


konflik keruangan menyatakan semakin banyak daerah pemekaran, semakin banyak

2
Abdul Hakim, Analisis Dampak Pemekaran Daerah Ditinjau Dari Aspek Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Dan
Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik (Studi Pemekaran Kabupaten Kepulauan Meranti dari Kabupaten
Bengkalis) JOM Fekon, Vol. 4 No. 1 (Februari) 2017, hlm 846

3
Prof. Dr. Ir. Ali Kabul Mahi, MS. Pengembangan Wilayah Teori Dan Aplikasi, ( Jakarta, Kencana
2016), hlm 8-9
potensi konflik keruangan karena jumlah garis antar wilayah sebagai sumber konflik
jumlah semakin banyak, dimana hampir mendekati 500 kabupaten/kota serta,
karakterstik wilayah indonesia memiliki jenis garis batas yaitu batas darat dan batas
laut dan garis darat lebih potensional untuk terjadinya konflik keruangan.4

Konsep tentang “ruang samudera” dapat diartikan secara sederhana sebagai


wilayah laut(an) yang kerapkali dilayari oleh kapal-kapal dari satuan administratif
tertentu, sehingga wilayah laut(an) tesebut diakui secara bersama menjadi bagian atau
milik wilayah satuan administratif itu. Termasuk pulau-pulau yang berada
disepanjang jalur pelayaran kapal-kapal satuan administratif tersebut sampai wilayah
yang terjauh yang dapat dikunjungi. Wilayah pulau-pulau berpenghuni dapat tetap
menjadi wilayah provinsi induknya atau wilayah provinsi baru hasil pemekaran. Jika
pulau-pulau itu tanpa penghuni, mungkin pembagiannya relatif mudah dengan
melalui perundingan dan persetujuan antar-pemerintah provinsi. Lain halnya apabila
pulau-pulau tersebut sudah ada penghuninya, maka yang terjadi adalah persetujuan
tiga pihak, antara pemerintah provinsi induk, provinsi pemekaran, dan penduduk
penghuni pulau-pulau. Suara yang wajib didengar sudah barang tentu yang berasal
dari penduduk pulau-pulau tersebut.

Dalarn hal ini juga harus diperhatikan kategori pelayaran yang selalu dilakukan
oleh penduduk pulau-pulau yang bersangkutan. Terdapat tiga kategori, yaitu

1) initiation journey, pelayaran inisiasi untuk meneguhkan semangat bahari


penduduk suatu pulau,
2) exchange journey, pelayaran untuk melakukan tukar-menukar barang
dengan penduduk kampung atau sekutu yang terikat dalarn suatu sistem
pertukaran barang bail< di pulau yang sama ataupun di pulau-pulau
lainnya. Jadi, lebih bersifat pelayaran niaga yang bernilai ekonomis, dan

4
ITB (Institut Pertanian Bogor), Analisa Dampak Pemekaran Wilayah Terhadap Perkembangan
Perekonomian Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku, hlm 34
3) refuge journey, pelayaran untuk menyelamatkan diri dari bermacam
bahaya.

Dengan memperhatikan kategori pelayaran mana yang acapkali dilakukan


penduduk serta tujuan pelayarannya, dapat ditafsirkan bahwa penduduk pulau-pulau
tersebut lebih dekat dengan provinsi induk atau provinsi bentukan baru. Sudah tentu
argumen-argumen internal yang telah diperbincangkan sebelumnya, terutama tradisi,
bahasa, dan tradisi lisan mereka, juga wajib diperhatikan. Apakah mereka merasa
lebih dekat dengan penduduk provinsi induk ataukah provinsi baru, hal itu akan
memudahkan juga untuk memasukkan pulau-pulau tersebut kepada salah satu
wilayah provinsi. Demikian beberapa aspek yang selayaknya patut diperhatikan
dalam mengkaji masalah pemekaran wilayah yang menyangkut wilayah perairan
pantai dan pulau-pulau. Mungkin saja terdapat pertimbangan lain yang juga harus
dicerrnati untuk menghasilkan suatu simpulan yang lebih akurat, seperti keintensifan
penduduk pulau-pulau berhubungan dengan masyarakat luar pulau, pengaruh
pemerintah pusat (untuk pulau-pulau terluar), serta alasan politik dan pertahanan
keamanan negara.5

Sebagai contoh pemekaran wilayah di Indonesia ialah Provinsi Sulawesi Utara,


Sebelum Provinsi Sulawesi Utara dimekarkan menjadi Sulawesi Utara dan Gorontalo,
pengelolaan Laut Sulawesi sampai batas 200 mil laut dari wilayah pantai utara
wilayah Sulawesi Utara dilakukan oleh pemerintah provinsi tersebut. Setelah provinsi
itu dimekarkan menjadi Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Utara, pengelolaan Laut
Sulawesi pun dibagi menjadi dua. Hal yang sama terjadi pada Selat Makassar di
antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi. Semula, pemanfaatan Selat Makassar yang
dekat dengan pantai Sulawesi hanya dilakukan oleh Provinsi Sulawesi Tengah dan
Selatan. Setelah provinsi baru, yaitu Sulawesi Barat, pengelolaan Selat Makassar

5
Agus Aris Munandar, dkk. Pedoman Kajian Geografi Sejarah Indonesia, (Jakarta: CV. Multi Prima,
2006), hlm 49-50.
tersebut dilakukan oleh tiga pemerintahan, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi
Barat, dan Sulawesi Tengah.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 78 Tahun 2007 pemekaran wilayah


adalah pemecahan provinsi atau kabupaten/kota menjadi dua daerah atau lebih.
Pada dasarnya pemekaran wilayah bertujuan untuk memperpendek rentang
pemerintahan agar tercipta pelayanan publik yang lebih baik dan lebih dekat
dengan masyarakat demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera

Salah satu masalah yang perlu mendapat perhatian sebagai akibat dari
pemekaran wilayah adalah masalah pengelolaan area lepas pantai dan konsep
tentang “ruang samudera” (ocean space).

B. Saran
Kami selaku penyusun menyadari bahwa makalah kami jauh dari kata
sempurna maka dari itu kami manyarankan agar pembaca dapat mencari
informasi yang lebih luas lagi.
DAFTAR PUTAKA

Agus Aris Munandar, dkk. Pedoman Kajian Geografi Sejarah Indonesia, (Jakarta:
CV. Multi Prima, 2006), hlm 49-50.

ITB (Institut Pertanian Bogor), Analisa Dampak Pemekaran Wilayah Terhadap


Perkembangan Perekonomian Wilayah Kabupaten Kepulauan
Aru Provinsi Maluku, hlm 34

Prof. Dr. Ir. Ali Kabul Mahi, MS. Pengembangan Wilayah Teori Dan Aplikasi,
( Jakarta, Kencana 2016), hlm 8-9

Abdul Hakim, Analisis Dampak Pemekaran Daerah Ditinjau Dari Aspek Percepatan
Pertumbuhan Ekonomi Dan Peningkatan Kualitas Pelayanan
Publik (Studi Pemekaran Kabupaten Kepulauan Meranti dari
Kabupaten Bengkalis) JOM Fekon, Vol. 4 No. 1 (Februari)
2017, hlm 846

Dr. Usman T, M.Hum & Johan P ,S.Pd.,Ma, 2020, Geografi Sejarah, Ambon, hlm
34-35.

Astika Ummy Athahirah dan Rossy Lambelanova, KESIAPAN PEMEKARAN


“KABUPATEN RENAH INDOJATI” DI PROVINSI
SUMATERA BARAT, Vol. 21, No. 1, Maret 2019: 58 – 64,
hlm 58