Anda di halaman 1dari 4

TUGAS 2

KEPERAWATAN MATERNITAS
TREND DAN ISSUE TENTANG DEPRESI POSTPARTUM

Dosen Pembimbing :
Asmawati,S.Kp,M.Kep
Disusun Oleh :
Annida Filjannati
NIM : P0 5120318004

POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2019/2020

SARJANA TERAPAN TINGKAT 2


Issue :
Depresi postpartum adalah keadaan ketika seorang ibu merasakan rasa sedih, bersalah, dan
bentuk umum depresi lainnya dalam jangka waktu yang lama setelah melahirkan. Hal ini sering
dikarenakan karena kelahiran bayi itu sendiri. Kelahiran bayi dapat memberikan dorongan
perasaan dan emosi yang kuat, mulai dari kesenangan dan kebahagiaan hingga ketakutan.
Lonjakan emosi dari kebahagiaan hingga rasa sedih dan ketakutan ini yang berperan dalam
terjadinya depresi postpartum. 

Faktor Risiko Depresi Postpartum 

Depresi postpartum sering terjadi pada ibu yang baru pertama kali memiliki anak. Namun, tidak
menutup kemungkinan terjadi pada anak selanjutnya. Berikut faktor risiko yang dapat
meningkatkan risiko depresi postpartum, yaitu:

o Riwayat gangguan depresi sebelumnya.


o Riwayat gangguan bipolar.
o Riwayat depresi postpartum pada kehamilan sebelumnya.
o Mengalami kejadian yang berat dalam satu tahun terakhir yang mengganggu
emosi dan psikis.
o Bayi memiliki kebutuhan khusus atau keadaan khusus.
o Bayi kembar, atau kehamilan triplet yang membutuhkan perhatian lebih.
o Kesulitan dalam memberikan ASI.
o Memiliki permasalahan dengan pasangan.
o Masalah finansial saat menjelang persalinan.
o Kehamilan yang tidak diinginkan atau tidak direncanakan.

Penyebab Depresi PostPartum

 Tidak ada penyebab tunggal yang menyebabkan depresi postpartum. Namun,


permasalahan psikis maupun perubahan kondisi fisik memiliki peran dalam depresi
postpartum. Setelah persalinan, terdapat perubahan hormon yang sangat besar dalam
tubuh perempuan (terutama hormon wanita estrogen dan progesteron). Hormon tubuh
lain, seperti yang diproduksi oleh tiroid juga mengalami perubahan sebagai akibat
penyesuaian dari perubahan tersebut. Hormon tiroid ini yang salah satunya berperan
dalam memberikan perubahan mood setelah melahirkan.
 Permasalahan psikis. Memiliki bayi (terutama untuk yang pertama kali) sering kali
menyebabkan ibu menjadi cemas dan tidak percaya diri dengan kemampuannya merawat
bayi baru lahir. Perasaan seperti ini yang berkepanjangan dapat menyebabkan ibu jatuh
dalam keadaan depresi.

 
Gejala Depresi Postpartum

Sebelum mencapai depresi postpartum, ada keadaan yang dinamakan baby blues syndrome, yaitu
gangguan perubahan mood setelah melahirkan. Depresi post partum memiliki gejala yang mirip
dengan baby blues syndrome, dengan durasi yang lebih lama dan intensitas yang lebih berat,
seperti:

 Gangguan perubahan mood.
 Cemas.
 Sedih.
 Sensitif secara emosional terhadap sesuatu.
 Merasa bersalah.
 Menangis berlebihan.
 Penurunan konsentrasi.
 Gangguan makan.
 Gangguan tidur, sulit tidur (insomnia) atau terlalu banyak tidur.
 Menjauh dari keluarga.
 Kesulitan dalam merawat bayi.

Diagnosis Depresi Postpartum 

Diagnosis ditegakkan setelah dokter mengobservasi gejala yang dirasakan oleh ibu melalui sesi
wawancara mendalam yang dilakukan oleh dokter. Selama proses observasi dokter mungkin
akan melakukan:

o Memberikan kuesioner untuk diisi, terkait dengan gejala depresi yang dirasakan
o Pemeriksaan darah untuk mengetahui adakah gangguan hormon yang dapat
mendasari keluhan yang timbul.

Komplikasi  Depresi Postpartum 

Jika tidak ditangani dengan tepat, depresi post partum dapat mengganggu hubungan antara anak
dengan ibu dan menyebabkan permasalahan dalam keluarga.

o Bagi ibu. Depresi postpartum yang dibiarkan dan tidak diberikan penanganan


dapat bertahan hingga bulanan. Hal ini meningkatkan risiko ibu terkena gangguan
depresi kronik dan episode depresi mayor lainnya.
o Bagi ayah. Depresi postpartum dapat menimbulkan efek yang berkepanjangan
dalam keluarga. Ibu dengan depresi postpartum dapat meningkatkan risiko depresi
pada ayah.
o Bagi anak. Anak dengan ibu yang mengalami depresi postpartum kemungkinan
memiliki gangguan emosi dan perilaku, seperti gangguan makan dan tidur, mudah
menangis, dan keterlambatan dalam bicara.

Pengobatan Depresi Postpartum

Pengobatan depresi postpartum sering melibatkan psikoterapi atau menggunakan obat-obatan,


atau bahkan keduanya.

 Psikoterapi. Sebuah sesi yang digunakan untuk ibu dan mungkin ayah untuk dapat
bertemu dengan psikiater atau psikolog, kemudian membicarakan seluruh masalah yang
mendasari terjadinya depresi tersebut. Psikoterapi bertujuan untuk mencari jalan
bagaimana menyikapi suatu masalah, sehingga tidak menyebabkan beban bagi ibu.
 Obat antidepresan. Obat-obatan antidepresan dapat diberikan oleh dokter jika dibutuhkan.
Meskipun dapat masuk dalam ASI, obat antidepresan kebanyakan tidak menimbulkan
efek samping bagi bayi.

Pencegahan Depresi Postpartum

Jika memiliki riwayat gangguan kejiwaan seperti kecemasan atau depresi sebelumnya, segera
beritahukan kepada dokter saat melakukan pengecekan rutin kehamilan.

 Selama kehamilan, Dokter akan mengobservasi gejala dan tanda dari depresi. Selama
kehamilan beberapa ibu memiliki kecenderungan untuk memiliki depresi ringan.
 Setelah bayi lahir , setelah bayi lahir dokter akan merekomendasikan pemeriksaan rutin
untuk mengetahui apakah ada tanda-tanda depresi atau baby blues syndrome.