Anda di halaman 1dari 1

KONSEP UMMAH DALAM

KEHIDUPAN SOSIAL
MASYARAKAT DI
INDONESIA

May 12, 2018

KONSEP UMMAH DALAM KEHIDUPAN


SOSIAL MASYARAKAT DI INDONESIA

Nama : Fitaqi Almada


Asal : Bandar Indonesia
Komisariat : Universitas Indonesia
Asal Daerah : Lampung Timur

Sertifikasi Makalah AB 2

PENGURUS KOMISARIAT
KESATUAN AKSI MAHASISWA MUSLIM
INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA
BANDAR INDONESIA 2018M/ 1439 H

ABSTRAK
Saat ini kehidupan masyarakat dunia semakin dinamis dan
komplek. Dinamis dan kompleknya kehidupan dalam
masyarakat antara lain disebabkan oleh kemajuan
pengetahuan dan teknologi. Didalam kehidupan setiap
manusia menginginkan kehidupan yang indah, damai dan
sejahtera baik di lingukan keluarga maupun dalam
lingkungan sosial. didalam lingkungan sosial tentu setiap
orang memiliki pandangan yang berbeda-beda yang ingin
dicapai dalam lingkungan sosialnya. Salah satu pandangan
itu adalah konsep ummah dalam kehidupan sosial
masyarakat.
Konsep Ummah adalah konsep yang dibutuhkan oleh
masyarakat pada saat ini, karena dengan kondisi bangsa
dan negara yang seperti ini salah satu hal yang bisa
merubahnya yaitu dengan menggunaka konsep ummah.
Untuk itu masyarakat sudah harus mulai dari sekarang
dikenalkan dengan konsep ini agar masyarakat indonesia
bisa menjadi masyarakat yang maju dan memiliki
pengetahuan yang luas.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat, taufik,


dan hidayahnya yang telah dilimpahkan kepada kita,
sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang
berjudul “Konsep Ummah dalam Kehidupan Sosial
Masyarakat Indonesia”. Juga ucapan terima kasih kami
sampaikan kepada Kawan-kawan yang telah memberikan
pengarahan dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini
kepada kami.
Saya menyadari bahwa masih banyak kesalahan baik
dalam tulisan maupun penyajian. Karena itu saya
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangaun
untuk kesempurnaan penulisan makalah yang lainnya. Saya
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam
upaya meningkatkan pemahaman kami.

Bandar
Indonesia,14 April 2018

penyusun

DAFTAR ISI

ABSTRAK…………………………………………………………………..ii
KATA
PENGANTAR..........................................................................
...... ii
DAFTAR
ISI............................................................................................
.... iv

BAB I : PENDAHULUAN
2.1. Latar
Belakang.........................................................................
........ 1
2.2. Rumusan
Masalah...........................................................................
.2
2.3. Tujuan
Masalah...........................................................................
..... 2

BAB II : PEMBAHASAN
2.1. Konsep
Ummah............................................................................
.... 3
2.2 Permasalahan-Permasalahan Yang Dihadapi Dalam
Membentuk Konsep Ummah Di
Indonesia...................................5
2.3. Konsep Ummah Di Zaman Rosulullah Dalam
Membangun

Masyarakat…………………………………………
………………. 8
2.4. Peran Mahasiswa Dalam Membentuk Tatanan
Konsep
Ummah di
Indonesia...................................................................11
BAB III : PENUTUP
3.1.Simpulan...................................................................
......................... 15

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Kita sadar bahwa membangun masyarakat akan
selalu berhubungan dengan personalnya. Manusia sejak
diciptakan oleh Allah dimuka bumi ini selalu
membutuhkan adanya sekelompok masyarakat agar dapat
memudahkan segala kebutuhannya dan melanggengkan
hidupnya. Manusia tidak bisa lari dari kehidupan
berjamaah dan merupakan keharusan bahwa setiap insan
harus menyatu dengan mereka, saling membantu dan
menolong dalam segala aspek kehidupan mereka.
Ummah bersal dari kata ‘amma’ yang artinya
bermaksud(qasada) dan berniat keras(‘azima), pengertian
ini memuat tiga makna dasar, yaitu: gerakan, tujuan, dan
ketetapan hati yang sadar[ii]. Kata "Ummah" (umat)
memiliki makna yang cukup beragam, Ummah Antara lain
berarti jama’ah atau kelompok manusia yang kepada
mereka diturunkan seorangg Rasul.

Umat islam adalah umat terbesar yang berada di


Indonesia dan di Provinsi Indonesia akan tetapi umat islam
mengalami suatu kondisi yang terpuruk dikarenakan sudah
kurangnya kepercayaan dan keimanan dari diri umat islam
itu sendiri. berkembangnya era Globalisasi juga memiliki
peran yang cukup besar terhadap keterpurukan umat islam
saat ini, masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan
ajaran islam dan kaidah kaidah islam yang tersebar di
seluruh dunia dengan cepat karena adanya era yang disebut
era Globalisasi

Pada masa sekarang ini kebanyakan umat islam hanya


menggap bahwa agama itu adalah persoalan belakangan,
kebanyakan hanya mementingkan dunia dari pada
akhiratnya. Seakan akan agama itu hanya sebagai
pemenuhan syarat untuk menjadi seorang warga negara.
Kebanyakan umat islam saat ini hanya mencantumkan
agama islam dalam KTP mereka tetapi tidak
mencantumkan dalam hati, mengamalkan hal hal yang
diperintahkan dan menjauhi larangan larangan yg dilarang
dalam agama.
untuk itu sebagai umat islam yang baik hendaknya
kita mengetahua problem-problem apa saja yang sedang
dihadapi oleh umat islam saat ini dan bagaimana cara kita
untuk mengatasi problem-problem tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu Konsep Ummah ?
2. Permasalahan yang ada didalam masyrakat?
3. Konsep Ummah di zaman Rosulullah dalam
membangun masyarakat?
4. Peran kita dalam membentuk masyarakat islami?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui Konsep Ummah.
2. Mengetahui Permasalahan yang ada didalam
masyrakat.
3. Mengetahui Konsep Ummah di zaman Rosulullah
dalam membangun
masyarakat.
4. Mengetetahui Peran kita dalam membentuk
masyarakat islami.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Ummah


Ummah berasal dari kata bahasa Arab amma yang
artinya bermaksud, menghendaki (qasada) dan berniat
keras (‘azima). Ia juga menyatakan
bahwaUmmah mempunyai tiga pemahaman, yaitu:
“gerakan”, “tujuan” dan “ketetapan hati yang sadar”.
Karena kata amma pada mulanya mencakup arti
“kemajuan” maka tentunya ia memperlihatkan diri sebagai
kata yang terdiri atas empat pemahaman, yaitu: usaha,
gerakan, kemajuan dan tujuan.
Definisi tentang Ummah secara luas dan kompleks
dikemukakan oleh Ziauddin Sardar. Ia menyatakan
bahwa Ummah adalah persaudaraan Islam, seluruh
masyarakat Muslim, yang dipersatukan oleh persamaan
pandangan-dunia (din), yang didasarkan pada sebuah
gagasan universal (tauhid) dan sejumlah tujuan bersama
untuk mencapai keadilan (‘adl) dan ilmu pengetahuan
(‘ilm) dalam upaya memenuhi kewajiban sebagai
pengemban amanah (khalifah) Tuhan di muka bumi. [1]
Dalam al-Qur’an, istilah ummah disebut 64 kali
dalam 24 surat. Dalam frekuensi sebanyak
itu, ummah mengandung sejumlah arti, umpamanya
bangsa(nation), agama (religion) atau kelompok
keagamaan (religious community), waktu(time) atau
jangka waktu (term), juga pemimpin sinonim dengan
imam. Sementara itu, di dalam al-Qur’an sendiri terdapat
istilah istilah lain yang menunjuk pada konsep-konsep
yang hampir serupa. Istilah.
konsep ummah sebagai sebuah konsep politik Islam
yang strategis bagi pengembangan visi baru fikih siyasah.
Fikih siyasah yang lebih mengakui entitas masyarakat
sebagai aktor yang sepadan dengan negara.
Dan menyadari bahwa situasi masyarakat akan sangat
menentukan kondisi Negara

Dalam membangun konsep ummah diluar dari


konsep humanisme yaitu harmonisasi antar manusia, tetapi
ummah yang dalam bahasan ini adalah kelompok atau
komunitas religius yang memiliki ikatan spiritual,
terbangun dari kebutuhan baik sosial, politik, maupun
kepentingan teologis.

Ummah memiliki simbol masyarakat yang terbina,


harmonisasi yang nyata juga keberlangsungan pemenuhan
hak dan kewajiban ini memiliki bentuk bentuk
pembangunan dengan muatan-muatan yang sama, dalam
praktisnya muatan-muatan ini akan memberikan efek
domino, dari muatan-muatan ini akan melahirkan tingkat
kesejahteraan yang universal.

2.2 Konsep Ummah Di Zaman Rosulullah Dalam


Membangun Masyarakat
Gerakan Rasulullah dalam membangun masyarakat
madinah saat itu tersusun rapi dalam sebuah sistem yang
terkonsep, yang dapat disebut sebagai
konsep Madanî, yakni sebuah model yang merujuk
bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
membangun kerangka masyarakat Madinah, masyarakat
yang dibangun di atas tiga landasan utama yaitu:
masyarakat yang berlandaskan pada integritas moral, yang
berbasis masjid; berdasarkan kapasitas ilmu yang
dilambangkan oleh gerakan keilmuan dan aturan atau
hukum (Piagam Madinah) dan mengembangan kualitas
jaringan yang dilambangkan dengan persaudaran sahabat
dan surat-surat kepada raja-raja semenanjung Arab.
1. Integritas moral
Moral atau akhlak merupakan dasar utama gerakan Rasul
membangun peradaban, bahkan perbaikan moral
merupakan tujuan utama beliau diutus, sebagaimana
sabdanya: “Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia (makarimal akhlak)”. Masyarakat yang
dibentuk di atas landasan moral yang kuat seperti ini akan
menjadi masyarakat yang tangguh, berkarakter,
bertanggung jawab dan memiliki responsibility yang kuat
terhadap lingkungannya. Integritas moral ini dapat menjadi
kekuatan yang dahsyat ketika berlandaskan pada tauhid,
jauh dari syirik dan memberikan seluruh ketundukan dan
ibadah hanya kepada Allah SWT. semata. Inilah yang
dilakukan oleh Rasul pada permulaan Islam pada fase
Mekah.
Penguatan moral ini terus berlanjut dan menjadi modal
dasar gerakan Rasul hingga di Madinah dengan
berbasiskan masjid. Sebut saja pertanyaan, mengapa
langkah pertama yang dilakukan Rasulullah SAW saat
membangun masyarakat Islam di Madinah adalah
membangun masjid? Jawabannya bisa dilihat bagaimana
Rasulullah menfungsikan masjid itu sendiri.
2. Kapasitas Ilmu
Islam adalah agama ilmu. Pernyataan ini tidak berlebihan
dan memang apa adanya. Hal ini bisa dibuktikan dengan
penekanan kata “iqra”, pada awal kelahiran Islam. Wahyu
pertama mengisyaratkan kepada umat Islam mengenai
urgensi “membaca”, dan itu merupakan sumber ilmu. Pada
ayat-ayat yang diturunkan selanjutnya, Allah mengajarkan
berbagai pokok dan macam ilmu yang tersebar dalam al-
Qur’an.
Begitulah Islam meletakkan ilmu pada posisi yang sangat
tinggi. Kemudian untuk menjadikan manusia dapat belajar,
Allah memberikan tiga modal utama (adâwât al-Ilm): al-
Sam’ (pendengaran), al-Abshâr (penglihatan) dan al-
Afidah (akal dan nurani).
َ‫الس ْمع‬
% ‫ش ْيئًا َو َج َع َل َل ُك ُم‬ َ ‫ تَ ْع َل ُمو َن‬9َ ‫ات ُك ْم‬ ِ ُ‫خ َر َج ُك ْم ِم ْن ُبط‬
ِ ‫م َه‬% ُ ‫ون أ‬ ْ َ ‫ُ أ‬%C‫َوا‬
ْ َ‫ل ُك ْم ت‬% ‫َفْ ِئ َدةَ َل َع‬H‫ا‬
‫ش ُك ُرو َن‬ ْ ‫ار َو‬
َ ‫ص‬َ ‫ َ ْب‬H‫ا‬
ْ ‫َو‬
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi
kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu
bersyukur.” (QS. 16/78)

3. Kualitas Jaringan
Jaringan, relasi atau net working, saat ini menjadi salah
satu penentu kesuksesan seseorang. Karena itulah sejak
awal Rasulullah memerintahkan umatnya agar senang
bersilaturrahim, bahkan silaturrahim akan mendatangkan
rizki dan memanjangkan umur. Karena Fungsi dan manfaat
silaturrahim inilah kemudian dikonsepsi silaturrahim
sebagai bagian dari sifat umat Islam.
Sejak fase Makah, Rasulullah telah mengembangkan
kualitas jaringan yang dimulai dengan kesadaran bersama
untuk berjuang yang dilakukan di rumah Arqam, yang
kemudian dikenal dalam Muhammadiyah dengan istilah
“Darul Arqam”. Selanjutnya Rasul mengirimkan berbagai
surat ke beberapa pemimpin di dunia Arab sebagai media
dakwah. Pengiriman surat itu kemudian dilanjutkan ketika
beliau di Madinah. Pada puncaknya, Rasul
mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshor. Gerakan
dan kebijakan terakhir ini tidak pernah dilakukan oleh
pemimpin dunia manapun, dan itulah yang memberikan
nilai fundamental sekaligus menjadi kekuatan Islam.
Selain itu juga Rasul dan umatnya membangun relasi
dengan lingkungan kota Madinah, yaitu orang Yahudi
Madinah. Untuk kepentingan hidup bersama dan berelasi
dengan orang lain. Karena kepentingan itul pula akhirnya
timbul piagam madinah.

2.3 Permasalahan-Permasalahan Yang Dihadapi


Dalam Membentuk Konsep Ummah Di Indonesia

Pada perwujudanya, masalah yang dihadapi untuk


membentuk Konsep Ummah di Indonesia cukup banyak, di
antaranhya adalah:
1. Sumber daya manusia yang kualitasnya masih belum
cukup memadai sebab tingkat pendidikanya belum merata.
2. Pemahaman politik yang masih rendah, terutama pada
masyarakat dengan pendidikan rendah atau yang berada di
plosok.
3. Kondisi ekonomi yang masih sering bergejolak, tidak
stabil dan belu merata di kota serta di desa.
4. Tingkat pengangguran yang masih tinggi, lapangan
pekerjaan yang belu mampu menyerap semua tenaga
produkti Di Indonesia.
Selain itu bisa dilihat dari bukti yang sangat nyata
terjadi dikalangan masyarakat, contohnya kriminalitas
yang semakin tinggi Indonesia. Bahkan anak-anak dan
remaja sudah banyak terkontaminasi moral buruk.
Contoh lain yang bisa kita lihat yaitu maraknya
perselisihan antar pelajar, antar suku bahkan antar
kampung. Betapa besar petaka akibat perbuatan buruk
macam ini. Jadi hal ini menunjukkan bahwa kurangnya
pemahaman terhadap konsep Ummah di Indonesia. Tentu
dengan mudah bisa kita simpulkan bahwa di Indonesia
sulitnya Menerapkan Konsep Ummah.

2.4 Peran Kita Dalam Membentuk Tatanan Konsep


Ummah di Indonesia
Sebagai agent of change mahasiswa sangat berperan
penting dalam berbagai penting dalam setiap aspek
kehidupan masyarakat di setiap Negara khususnya di
Indonesia. Salah satunya di provinsi Indonesia dalam
pembentukan menuju masyarakat madani. Sebagai
mana kita tahu bahwa di Indonesia belum bisa dikatakan
sebagai Provinsi yang ber-masyarakat madani jika kita
memlihat di berbagai aspek kehidupan seperti social dan
kebudayaan. Oleh sebab itulah, mahasiswa disini sangat
berperan penting dalam membantu usaha pemerintah
untuk membuat masyarakat di Indonesia ini menjadi
masyarakat madani secara penuh.

Menurut Yusuf AL Qordowi Beberapa hal yang biasa


dilakukan oleh mahasiswa dalam menciptakan
masyarakat madani adalah dengan membina Aqidah dan
Keimanan Masyarakat. Sesungguhnya pertama kali yang
tegak diatasya masyarakat islam adalah aqidah dan
Keimanan. Aqidah islam itu membangun bukan merusak,
mempersatukan bukan membela, karena aqidah tegak ini
tegak atas warisan ilahiyah seluruhnya dan diatas
keimanan kepada Allah seluruhnya,

Selain itu, mahasiswa juga bisa mengadakan


pembinaan-pembinaan di lingkungan sosial masyarakat.
Salah satu metodenya yaitu dengan aktif dalam
membangun komuitas pemudanya, seperti Risma,
Karang Taruna, dll. Selain itu kita harus mengembangkan
budaya setempat untuk menunjang kearifan budaya local
masyarakat setempat agar bisa menjadi masyarakat
madani

Mengadakan sosialisasi ke desa-desa dan seminar-


seminar umum juga bisa mendorong masyarakat agar
bisa berpikir menuju arah masyarakat madani meskipun
hal tersebut tidak bisa dinikmati hasil secara langusung.
Tapi, paling tidak mahasiswa masih mempunya
kepedulian terhadap masyarakat sekitarnya atau bahkan
rakyat di Negaranya agar tidak tertinggal oleh Negara
lain, agar tidak tertindas oleh globalisasi, dan agar
mampu untuk bersaing di dunia global untuk
kedepannya. Oleh karena itu, menciptakan masyarakat
madani merupakan tugas bagi kita semua yang mampu
melakukannya. Bukan tugas pemerintah ataupun
mahasiswa, tapi tugas kita semua. Untuk mendorong
masyarakat kita agar bisa menjadi masyarakat madani
yang diinginkan oleh pendiri-pendiri Negara ini. Allah tidak
akan merubah nasib suatu kaum, apabila kaum itu sendiri
tidak mau merubah diri sendiri.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa masyarakat yang Islami adalah
masyarakat yang memiliki sifat-sifat positif dan
menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan yang diajarkan oleh
Islam. Setiap anggota masyarakat bahumambahu untuk
memainkan peranan turut membangun masyarakat
bersama-sama dengan harmonis yang mencerminkan
kerukunan umat beragama. Di samping dengan
menjunjung tinggi prinsip-prinsip Islam, baik hubungannya
dengan Allah maupun dengan sesama.
Dalam kaitan dengan hubungan sosial, al-Qur’an
memberikan petunjuk agar umatnya kasih sayang kepada
seluruh makhluk dan menjadikan rahmat dan kasih sayang
ini sebagai ciri khas umat Islam dalam peran sosialnya
dalam lingkup kehidupan masyarakat. Islam menganjurkan
kepada umatnya toleransi, karena keyakinan merupakan
persoalan yang tidak bisa dipaksakan kepada orang lain.
Toleransi dan penghargaan kepada pihak lain di luar Islam,
justru menjadikan hiasan yang dapat menarik pihak lain
untuk mengenal dan mendalami ajaran Islam secara
objektif dan sungguh-sungguh yang secara tidak langsung
merupakan jalan ke arah pengenalan Islam kepada pihak
luar.

DAFTAR PUSTAKA

Kaelany HD,M.A. 2000. Islam dan Aspek-aspek


Kemasyarakatan, Jakarta: PT Bumi Aksara.

Qardhawi, Yusuf. 2003. Masyarakat Berbasis Syariat


Islam Akidah, Ibadah, Akhlak, Solo : Era Intermedia.

Qardhawi, Yusuf. 1997. Membangun Masyarakat Baru,


Jakarta : Gema Insani Press.

Qardhawi, Yusuf. 1997. Sistem Masyarakat Islam dalam


Alquran dan Sunnah Jakarta : Gema Insani Press.

Al-buthy, Ramadhan. 1999. Siroh Nabawiyah. Jakarta:


Robbani Press

http://kuliahdiawangawang.blogspot.co.id/2013/05/peran-
masyarakat-madani.html

Enter your comment...

Powered by Blogger

Theme images by Michael Elkan