Anda di halaman 1dari 8

Tugas Disaster Management & Public Health Emergency

Debra Alliya

030.16.168

Kelas B

MODUL IKM
Ø Apa itu Sustainable Development Goals (SDGs)?

Pada tanggal 25 September 2015, negara-negara anggota PBB mengangkat rangkaian


Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 yang menyertakan 17 Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan, atau Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs disusun berdasarkan
Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), yang telah diupayakan dari tahun 2000 sampai
2015, dan akan memandu pencapaian tujuan global yakni pembangunan berkelanjutan
hingga tahun 2030 nanti. Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu
rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna
mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan.

Ø Terdapat 17 tujuan dari SDG

Tujuan 1 : Mengentaskan segala bentuk kemiskinan dimana pun


Tujuan 2 : Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi dan
mendukung pertanian berkelanjutan
Tujuan 3 : Menjamin kehidupan sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua disegala
usia
Tujuan 4 : Menjamin pendidikan yang inklusif dan setara secara berkualitas dan
mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua
Tujuan 5 : Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak
perempuan
Tujuan 6 : Menjamin ketersediaan dan manajemen air dan sanitasi yang berkelanjutan
untuk semua
Tujuan 7 : Menjamin akses terhadap energi yang terjangkau, dapat diandalkan,
berkelanjutan dan modern bagi semua
Tujuan 8 : Mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,
penyerapan tenaga kerja penuh dan produktif serta pekerjaan yang layak bagi semua
Tujuan 9 : Membangun infrastruktur berketahanan mendukung industrialisasi yang
inklusif dan berkelanjutan serta mendorong inovasi
Tujuan 10 : Mengurangi kesenjangan didalam dan diantara negara-negara
Tujuan 11 : Mewujudkan kota-kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh dan
berkelanjutan
Tujuan 12 : Menjamin pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan
Tujuan 13 : Mengambil tindakan tegas untuk melawan perubahan iklim dan dampaknya
Tujuan 14 : Mengkonservasi dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya
maritim, laut, dan samudera untuk pembangunan yang berkelanjutan
Tujuan 15 : Melindungi, memulihkan, dan mendukung penggunaan yang berkelanjutan
terhadap ekosistem daratan, mengelola hutan secara berkelanjutan, melawan
penggurunan, serta menghentikan dan membalikkan degradasi tanah dan menghentikan
kehilangan keanekaragaman hayati
Tujuan 16 : Memperjuangkan masyarakat yang damai dan inklusi, menyediakan akses
terhadap keadilan bagi semua dan memmbangun instistusi-intitusi yang efektif,
bertanggung jawab, dan inklusif pada semua tingkat
Tujuan17 : Menguatkan perangkat implementasi dan merevitalisasi kemitraan global
untuk pembangunan yang berkelanjutan
“Pemerintah harus bisa mengidentifikasi siapa dan di mana mereka yang tertinggal
tersebut, untuk kemudian dilibatkan dalam keseluruhan proses pembangunan. Paradigma
inklsivitas dalam partisipasi warga selayaknya menjadi dasar partisipasi warga yang
dimaksudkan dalam Perpres No. 59 Tahun 2017 tentang pelaksanaan SDGs ini. Prinsip
SDGs leave no one behind (tidak meninggalkan seorangpun, red) perlu membawa
perspektif hak asasi manusia, sehingga partisipatif yang terbentuk tidak sekedar
mengundang kelompok tertinggal tetapi juga melibatkan mereka dalam dialog
pembangunan,” tuturnya.

1. Apa saja upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi pemanasan global?

Salah satu target SDG selain untuk kesejahteraan, perdamaian, kolaborasi antar negara
adalah untuk lingkungan ataupun planet bumi tujuannya adalah untuk berdeterminasi
menjaga planet bumi dari degradasi, termasuk dengan cara konsumsi dan produksi yang
berkelanjutan, mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan dan mengambil
tindakan yang mendesak, krusial dan tegas untuk perubahan iklim, sehingga planet bumi
dapat mendukung kebutuhan untuk generasi pada masa ini dan masa mendatang.
United Nations Framework Convention on Climate Change adalah forum internasional
utama antar pemerintah untuk negosiasi dalam respons global terhadap perubahan iklim.
Sifat global alami dari perubahan iklim membutuhkan kerja sama internasional seluas
mungkin yang bertujuan untuk mempercepat pengurangan emisi gas rumah kaca global
dan menangani adaptasi terhadap dampak negatif dari perubahan iklim.

Dalam hal ini bisa dilihat pada Tujuan ke-13 yaitu mengambil tindakan mendesak untuk
melawan perubahan iklim dan dampaknya. Dengan cara :

1. Memperkuat ketahanan dan kapasitas adaptasi terhadap bahaya terkait iklim dan
bencana alam di semua negara
2. Mengintegrasikan langkah-langkah perubahan iklim ke dalam kebijakan, strategi,
dan perencanaan nasional
3. Meningkatkan eduksasi, peningkatan kesadaran dan kapasitas manusia dan
kelembagaan dalam mitigasi, adaptasi, pengurangan dampak perubahan iklim dan
peringatan dini
a. Menerapkan komitmen yang dilakukan oleh pihak negara maju ke United Nations
Framework Convention on Climate Change tentang Perubahan Iklim untuk tujuan
memobilisasi $ 100 miliar per tahun pada tahun 2020 dari semua sumber untuk
mengatasi kebutuhan negara-negara berkembang dalam konteks aksi mitigasi
yang bermakna dan transparansi implementasi dan sepenuhnya mengoperasikan
Green Climate Fund melalui kapitalisasi sesegera mungkin
b. Mempromosikan mekanisme untuk meningkatkan kapasitas untuk perencanaan
dan pengelolaan terkait perubahan iklim yang efektif di negara-negara yang
kurang berkembang dan negara-negara berkembang pulau kecil, termasuk
berfokus pada perempuan, pemuda dan masyarakat lokal dan masyarakat marjinal

Selain itu bisa juga dilihat pada Tujuan ke-15 yaitu melindungi, memulihkan, dan
mendukung penggunaan yang berkelanjutan terhadap ekosistem daratan, mengelola hutan
secara berkelanjutan, melawan penggurunan, serta menghentikan dan membalikkan
degradasi tanah dan menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati

1. Pada tahun 2020, memastikan bahwa konservasi, restorasi dan penggunaan yang
berkelanjutan dari ekosistem terrestrial dan air daratan dan pelayanannya, khususnya
hutan, rawa, pegunungan dan daratan, sejalan dengan kewajiban dibawah perjanjian
internasional
2. Pada tahun 2020, mendukung pengimplementasian manajemen yang berkelanjutan
untuk semua tipe hutan, menghambat deforestasi, merestorasi hutan terdegradasi dan
secara substansial meningkatkan aforestasi dan reforestasi secara global
3. Pada tahun 2030, memerangi desertifikasi, merestorasi lahan dan tanah terdegradasi,
termasuk lahan yang kena dampak desertifikasi, kekeringan, kebanjiran, dan berupaya
unutk mencapai dunia yang terdegradasi secara netral
4. Pada tahun 2030, memastikan konservasi ekosistem pegunungan, termasuk keaneka
ragaman hayati, agar dapat meningkatkan kapasitasnya untuk memberikan manfaat
yang esensial bagi pembangunan berkelanjutan
5. Melakukan aksi segera dan signifikan untuk mengurangi degradasi natural habitat,
menghambat hilangnya keanekaragaman hayati dan, pada tahun 2020, melindungi
dan mencegah kepunahan spesies terancam/langka
6. Mendorong pembagian keuntungan yang adil dan setara yang berasal dari
pemanfaatan sumber-sumber genetika dan mendukung akses yang layak terhadap
sumber-sumber tersebut, sebagaimana disepakati secara internasional
7. Melakukan aksi segera untuk mengakhiri perburuan dan penjualan spesies flora dan
fauna yang dilindungi dan mengatasi baik penawaran maupun permintaan produk
satwa liar ilegal
8. Pada tahun 2020, mengenalkan upaya-upaya yang dapat mencegah pengenalan dan
secara signifikan mengurangi dampak dari invasi spesies asing terhadap ekosistem
tanah dan air yang dapat mengurangi jumlah spesies prioritas
9. Pada tahun 2020, mengintegrasikan nilai ekosistem dan keanekaragaman hayati
kedalam perencanaan nasional dan lokal, proses pembangunan, dan strategi
pengentasan kemiskinan
• Memobilisasi dan secara signifikan meningkatkan sumber daya finansial dari segala
macam sumber untuk melakukan konservasi dan pemanfaatan yang berkelanjutan
terhadap keanekaragaman hayati dan ekosistem
• Memobilisasi sumber daya yang signifikan dari semua sumber dan semua level untuk
mendanai pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan menyediakan insentif yang
sesuai kepada negara-negara berkembang untuk dapat melaksanakan model
pengelolaan tersebut, termasuk untuk konservasi dan reforestasi
• Memperbanyak dukungan global untuk upaya-upaya memerangi perburuan dan
penjualan spesies dilindungi, termasuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal
untuk mendapatkan kesempatan kesejahteraan yang berkelanjutan

Adapun upaya pencegahan/penganggulangan pemanasan global secara umum yaitu :

o Mengurangi aktivitas yang menghasilkan GRK dan mengurangi penggunaan


bahan perusak ozon (BPO), dengan cara:
• Mengurangi emisi gas karbon dengan cara mengurangi proses pembakaran
sampah dan serasah di tempat pembuangan akhir (TPA), kawasan pertanian ,
peternakan dan kawasan lainnya.
• Penggalakan pembangunan TPA sanitary landfill dalam usaha pengurangan emisi
gas metan dan karbon.
• Melarang atau membatasi penggunaan alat-alat yang menghasilkan BPO.
• Penciptaan dan penggalakan penggunaan alat-alat yang ramah lingkungan.
• Membangun pembangkit listrik yang tidak menggunakan bahan bakar fosil ( PLT
Air, PLT Angin, PLTS, PLTN, PLT Fuell Cell)
• Penghematan penggunaan energi di bidang industri, pembangkit listrik berbahan
bakar fosil, bangunan komersial, transportasi, dan rumah tangga
• Penggalakan kendaraan bermotor berbahan bakar GAS, tenaga surya, fuell cell,
dan hibrid
• Penggalakan penggunaan bahan bakar Gas sebagai pengganti bahan bakar kayu
atau fosil
• Penggalakan pengunaan bahan bakar ramah lingkungan.
• Mewajibkan uji emisi pada setiap kendaraan dan pemasangan catalitic converter
pada kendaraan yang mengasilkan gas buang melebihi ambang batas
• Pemasangan alat penyaring emisi (filter) pada berbagi cerobong yang
menghasilkan GRK

o Menjaga keberadaan daerah terbuka hijau dalam upaya memepertahankan


keberadaan daerah resapan air maupun penyerap karbon.
• Mencegah terjadinya penebangan hutan secara liar.
• Mencegah konversi ruang terbuka hijau menjadi daerah terbangun.
• Mencegah perusakan hutan mangrove.
• Meningkatkan keberadaan hutan kota/kabupaten serta lahan terbuka hijau lainnya.
• Mencegah pembangunan di daerah resapan air.

o Meningkatkan kepedulian terhadap data lingkungan laut, darat dan udara, dengan
cara :
• Memperkuat keberadaan data lingkungan laut, darat dan udara.
• Monitoring terhadap perubahan variabilitas iklim.
• Monitoring terhadap perubahan garis pantai.
• Monitoring terhadap kenaikan muka air laut.
• Monitoring terhadap kemungkinan banjir dan kekeringan di setiap wilayah.
• Monitoring terhadap penyusutan ketersediaan air.
Melakukan perencanaan tata ruang yang berwawasan lingkungan yang
memadukan antara perencanaan ruang laut, pesisir dan daratan.
• Peningkatan kepedulian masyarakat terhadap upaya memperlambat/mencegah
meningkatnya pemanasan global.

2. Apa saja dampak pemanasan global pada kesehatan manusia?


Ø Penakaran Dampak Emisi Debu

Dampak emisi debu pada PLTU difokuskan kepada dua kategori yaitu kesehatan manusia
dan lingkungan dalam hal ini kualitas ekosistem.
a. Efek racun terhadap manusia
Zat beracun yang paling dominan baik dari proses bongkar muat melalui Pelabuhan
Tanjung Intan maupun melalui Dermaga PLTU yaitu Arsenik dan Zinc. Untuk proses
bongkar muat melalui Pelabuhan Tanjung Intan, efek racun Arsenik sebesar 2,11.10-05
DALY dan Zinc sebesar 1,18.10-06 DALY. Sedangkan untuk proses bongkar muat
melalui Dermaga PLTU, efek racun Arsenik sebesar 1,94.10-08 DALY dan Zinc sebesar
1,99.10-09 DALY. Arsenik merupakan polutan yang muncul baik dari batubara, tanah,
maupun dari bahan bakar kendaraan.
b. Efek karsinogen terhadap manusia
Zat penyebab timbulnya kanker yang muncul dari aktivitas bongkar muat batubara yaitu
arsenik sebesar 2,11.10-06 DALY untuk proses bongkar muat batubara melalui
Pelabuhan Tanjung Intan dan sebesar 1,93.10-09 DALY untuk proses bongkar muat
melalui Dermaga PLTU.
c. Efek terhadap gangguan pernafasan
Partikulat yang paling dominan memberikan efek terhadap gangguan pernafasan baik dari
proses bongkar muat batubara melalui pelabuhan Tanjung Intan maupun melalui
Dermaga PLTU yaitu PM 10 yang terutama berasal dari aktivitas bongkar muat batubara.
Efek gangguan pernafasan dari proses bongkar muat melalui Pelabuhan Tanjung Intan
sebesar 3,95.10-03 DALY dan melalui dermaga PLTU sebesar 2,8.10-04 DALY.

Ø Menurut Dewan Riset Nasional tentang Perubahan Iklim

• Meningkatnya suhu lingkungan menjadi media yang baik bagi mikroba non patogen
dalam saluran cerna, sehingga mikroba ini dapat berkembang biak dengan baik.
Contoh mikroba tersebut antara lain bakteri E. Coli yang berkembang dengan cepat
sebagai penyebab penyakit diare. Suhu lingkungan yang meningkat, berarti juga
meningkatnya suhu di wilayah-wilayah yang tadinya tidak layak untuk vektor
penyakit. Contoh kasus ini adalah meningkatnya suhu wilayah pegunungan yang
tadinya dingin. Suhu udara di pegunungan yang menghangat akan menyebabkan
nyamuk dapat berkembangbiak dengan baik. Ini berarti telah terjadi perluasan area
penyebaran vektor penyakit nyamuk seperti malaria dan demam berdarah dengue
(DBD).
• Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem perairan terestris yang sangat
penting dalam sistem ekologi manusia, terutama pada penularan penyakit yang
ditularkan oleh vektor. Dewasa ini ekosistem perairan terestris mengalami penurunan
akibat dari kebutuhan perekonomian. Dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai
penyakit termasuk DBD, pesimisme ini semakin meningkat berkaitan dengan
pemanasan global yang sedang berlangsung.
3. Bila anda adalah pemimpin daerah apa saja yang akan dilakukan untuk
mengurangi kejadian bencana (hubungkan dengan upaya pembangunan
berkelanjutan)?

Bila saya menjadi pemimpin daerah misalkan di jawa, sebelum saya melakukan tindakan
saya akan terlebih dahulu mencari tahu jenis bencana alam apa yang terdapat didaerah
tersebut contoh di jawa terdapat jenis bencana seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi,
letusan gunung api, tsunami

Strategi pengurangan risiko bencana yang saya lakukan adalah

1) Internalisasi pengurangan risiko bencana dalam kerangka pembangunan


berkelanjutan
2) Penurunan tingkat kerentanan terhadap bencana

1. Mendorong dan menumbuhkan budaya sadar bencana serta meningkatkan


pengetahuan masyarakat
2. sosialisasi dan diseminasi pengurangan risiko bencana kepada masyarakat
3. kerjasama dengan mitra pembangunan, OMS dan dunia usaha untuk mengurangi
kerentanan sosial dan ekonomi masyarakat;
4. Pemeliharaan dan penataan lingkungan disekitar daerah aliran sungai (DAS)
Ciliwung, Citarum, Bengawan Solo, Cisadane dan daerah rawan bencana alam
lainnya;
5. Membangun dan menumbuhkan kearifan lokal dalam membangun dan mitigasi
bencana.

3) Peningkatan kapasitas aparatur dan masyarakat,

1. Penyediaan sistem peringatan dini bencana tsunami di kabupaten/kota di pesisir


selatan Pulau Jawa Bali yang rawan bencana tsunami;
2. Penyediaan sistem pemantauan gunung api di Cilegon, Tasikmalaya, Wonosobo,
Magelang, Kediri, Blitar, Klaten, Sleman, Bangli, Karangasem
3. Penyediaan infrastruktur mitigasi dan kesiapsiagaan (shelter/tempat evakuasi
sementara, jalur evakuasi dan rambu-rambu evakuasi) menghadapi bencana
gempa bumi, tsunami, letusan gunung api dan banjir;
4. Pengurangan risiko bencana berbasis komunitas melalui pengembangan Desa
Tangguh Bencana yang difokuskan pada daerah yang berisiko tinggi bencana di
Pulau Jawa-Bali;
5. Penguatan kapasitas manajemen dan pendistribusian logistik kebencanaan, di
Wilayah Jawa-Bali
6. Melaksanakan simulasi dan gladi kesiapsiagaan tanggap darurat secara berkala
dan berkesinambungan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana
gempa bumi, tsunami, letusan gunung api dan banjir.
Siaran Pers Koalisi Masyarakat Sipil untuk Sustainable Development Goals (SDGs)
“Perpres SDGs Tantangan bagi Jokowi untuk Memperkuat Prioritas Pembangunan dan
Partisipasi Warga” “Pemerintah harus bisa mengidentifikasi siapa dan di mana mereka
yang tertinggal tersebut, untuk kemudian dilibatkan dalam keseluruhan proses
pembangunan. Paradigma inklsivitas dalam partisipasi warga selayaknya menjadi dasar
partisipasi warga yang dimaksudkan dalam Perpres No. 59 Tahun 2017 tentang
pelaksanaan SDGs ini. Prinsip SDGs leave no one behind (tidak meninggalkan
seorangpun, red) perlu membawa perspektif hak asasi manusia, sehingga partisipatif yang
terbentuk tidak sekedar mengundang kelompok tertinggal tetapi juga melibatkan mereka
dalam dialog pembangunan,” tutur pak jokowi.

Referensi :

1. Unitied Cities and Local Governments. Tujuan pembangunan berkelanjutan Yang


Perlu Diketahui Oleh Pemerintah Daerah.
https://www.uclg.org/sites/default/files/tujuan-sdgs.pdf (diakses pada 20 maret
2020)
2. United Nations. Transforming Our World: The 2030 Agenda For Sustainable
Development.
https://sustainabledevelopment.un.org/content/documents/21252030%20Agenda
%20for%20Sustainable%20Development%20web.pdf (diakses pada 20 maret
2020)
3. Siaran Pers. Koalisi Masyarakat Sipil untuk Sustainable Development Goals (SDGs) “Perpres
SDGs Tantangan bagi Jokowi untuk Memperkuat Prioritas Pembangunan dan Partisipasi Warga”
https://www.sdg2030indonesia.org/an-component/media/upload-book/Siaran_Pers_-
_Perpres_SDGs_Tantangan_bagi_Jokowi_untuk_Memperkuat_Prioritas_Pembangunan_dan_Parti
sipasi_Warga.pdf (diakses pada 20 maret 2020)
4. BAPPENAS. Perencanaan dan Pelaksanaan Pengurangan Risiko Bencana Dalam
SDGs. 2019. https://ditjenbinaadwil.kemendagri.go.id/wp-
content/uploads/2019/06/Dir-DTTP_Bappenas_Perencanaan-dan-Pelaksanaan-
PRB-dalam-SDGs_030519-1.pdf (diakses pada 20 maret 2020)
5. Saipul Bahri. Dampak Kesehatan dan Lingkungan Emisi Debu Dari Aktivitas
PLTU Karangkandri. Cilacap. Volume 3. 2018
https://ejournal.unugha.ac.id/index.php/ratih/article/viewFile/91/71 (diakses pada
20 maret 2020)
6. Gustini Hastuty, et al. Peran Huta Mangrove Dalam Ekosistem Perairan Terestris
Sebagai Pengendali Penyakit Demam Berdarah Dengue Dibawah Skenario
Pemanasan Global. Lampung. 2019
http://repository.lppm.unila.ac.id/11817/1/%5B1%5D%20Gustini%20Hastuty%2
0dkk_Hari%20Air%20Dunia%202019.pdf (diakses pada 20 maret 2020)
7. Dewan Riset Nasional. IPTEK UNTUK ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM:
Kajian Kebutuhan Tema Riset Prioritas. 2011 http://www.drn.go.id/files/buku-
adaptasi-iklim-2011-final.pdf (diakses pada 20 maret 2020)