Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tanah merupakan elemen yang penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu
kepastian kepemilikan tanah sangat diperlukan untuk kepastian hukum. Sehingga
kepemilikan tanah perlu di daftarkan. Untuk tercapainya kepastian pendaftaran
tanah tersebut maka Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 (selanjutnya akan disebut sebagai PP 10/1961)
yang telah berlaku sejak tahun 1961 dipandang memiliki substansi yang sudah
tidak dapat lagi memenuhi tuntutan zaman untuk memberikan kepastian atas
pendaftaran tanah tersebut.

Oleh karenanya pada tanggal 8 Juli 1997 pemerintah menetapkan dan


mengundangkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah (selanjutnya akan disebut sebagai PP 24/1997) untuk
menggantikan PP 10/1961 tersebut. PP ini berlaku tiga bulan sejak tanggal
diundangkannya (Pasal 66) yang berarti secara resmi mulai berlaku diseluruh
wilayah Indonesia sejak tanggal 8 Oktober 1997 dengan Peraturan Pelaksananya
adalah Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1997
(selanjutnya akan disebut sebagai PerMen 3/1997). Sementara semua peraturan
perundang-undangan sebagai pelaksana dari PP 10/1961 yang telah ada masih
tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau diubah atau diganti berdasarkan
PP 24/1997 ini (Pasal 64 ayat (1) ).

PP 24/1997 yang menggantikan PP 10/1961 ini merupakan peraturan pelaksana


dari amanat yang ditetapkan dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (yang selanjutnya akan
disebut UUPA) yang mengatur:"Untuk menjamin kepastian hukum oleh
Pemerintah diadakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia
menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah".

1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas, adapun  rumusan masalah dalam makalah ini
adalah :
1. Apa dasar hukum pendaftaran tanah di Indonesia?
2. Apa objek pendaftaran tanah di Indonesia?
3. Bagaimana tatacara pendaftaran tanah di Indonesia?

C.    Tujuan penulisan

1. Untuk Mengetahui dasar hukum pendaftaran tanah di Indonesia?


2. Untuk Mengetahui objek pendaftaran tanah di Indonesia?
3. Untuk Mengetahui tatacara pendaftaran tanah di Indonesia?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Tinjauan Pustaka
a. Pengertian Pendaftaran Tanah
Sesuai pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran
Tanah. Pendaftaran Tanah adalah  Rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
pemerintah secara terus menerus berkesinambungan dan teratur meliputi
pengumpulan pengolahan pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data fisik
dan data yuridis dalam bentuk peta dan daftar mengenai bidang-bidang tanah dan
satuan satuan rumah susun termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi
bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah
susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.

Data fisik yang dimaksud adalah, mengenai letak, batas, luas bidang tanah dan
satuan rumah susun yang didaftar, termasuk mengenai adanya bangunan atau
bagian bangunan di atasnya. Data Yuridis adalah mengenai status hukum bidang
tanah dan satuan rumah susun.

b. Dasar Hukum Pendaftaran Tanah


Menurut Pasal 19 (1)  Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-pokok Agraria  (UUPA) menyebutkan bahwa ;
1. Untuk menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah diadakan pendaftaran
tanah diseluruh wilayah Republik  Indonesia menurut ketentuan-ketentuan
yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.
2. Pendaftaran tersebut dalam ayat (1) pasal ini meliputi:
a) pengukuran perpetaan dan pembukuan tanah;
b) pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-haktersebut;
c) pemberian surat-surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat
pembuktian yang kuat.

3
3. Pendaftaran tanah diselenggarakan dengan mengingat keadaan Negara dan
masyarakat, keperluan lalu-lintas sosial ekonomi serta
kemungkinan penyelenggaraannya, menurut pertimbangan Menteri
Agraria.
4. Dalam Peraturan Pemerintah diatur biaya-biaya yang bersangkutan dengan
pendaftaran termaksud dalam ayat (1) diatas, dengan ketentuan bahwa
rakyat yang tidak mampu dibebaskan dari pembayaran biaya-biaya
tersebut.

Disamping kewajiban pemerintah untuk melakukan pendaftaran tanah,


masyarakat juga diwajibkan untuk melakukan pendaftaran tanah sesuai pasal 23,
pasal 32, dan pasal 38 UUPA, sebagaimana dijelaskan sebagai berikut :

1. Pasal 23 UUPA  Ayat 1 : Hak milik demikian pula setiap peralihan,


hapusnya dan pembebanannya dengan hak-hak lain harus didaftarkan
menurut ketentuan ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 19 Ayat 2 :
Pendaftaran termasuk dalam ayat 2 merupakan alat pembuktian yang kuat
mengenai hapusnya hak milik serta sahnya peralihan dan pembebanan hak
tersebut.
2. Pasal 32 UUPA, Ayat 1 : Hak guna usaha, termasuk syarat-syarat
pemberiannya, demikian juga setiap peralihan dan penghapusan hak
tersebut, harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud
dalam Pasal 19. Ayat 2 : Pendaftaran termasuk dalam ayat 1 merupakan
alat pembuktian yang kuat mengenai peralihan serta hapusnya hak guna
usaha, kecuali dalam hak-hak itu hapus karena jangka waktunya berakhir.
3. Pasal 38 UUPA  Ayat 1 : Hak guna bangunan, termasuk syarat-syarat
pemberiannya, demikian juga setiap peralihan dan hapusnya dak tersebut
harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam
Pasal 19.    Ayat 2 : Pendaftaran termaksud dalam ayat 1 merupakan alat
pembuktian yang kuat mengenai hapusnya hak guna bangunan serta
sahnya peralihan tersebut, kecuali dalam hal hak itu hapus karena jangka
waktunya berakhirnya.

4
Sebagai implementasi dari Pasal 19 UUPA No. 5 Tahun 1960, maka
diterbitkanlah  beberapa peraturan-peraturan
diantaranya : Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran
Tanah. Peraturan ini diangap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan
tuntutan akan kepastian hukum Hak Atas Tanah, sehingga diperbaharui
dengan ;  Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah
tertanggal 8 Oktober 1997, Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan
Pertanahan NAsional No. 3  Tahun 1997.

Walaupun  Peraturan Pemerintah  No. 10 Tahun 1961 sudah tidak berlaku lagi,


namun peraturan pelaksanaan yang menyertainya tetap dinyatakan berlaku
sepanjangtidak bertentangan, diubah atau diganti dalam PP 24 Tahun 1997.

c. Tujuan dan Manfaat Pendaftaran Tanah


Tujuan Pendaftaran Tanah menurut Pasal 3 PP No. 24 Tahun 1997 yaitu ada 3
(tiga) :
1. Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada
pemegang hak suatu bidang tanah, rumah susun atau hak lain yg terdaftar.
Agar mudah membuktikan dirinya sebagai pemegang hak
2. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan
termasuk Pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang
diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang
tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar;
3. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.

Selain tujuan diatas, menurut Maria S.W.Sumardjono bahwa manfaat


daripendaftaran tanah dapat dipetik oleh 3 pihak yaitu :
1. Pemegang hak atas tanah itu sendiri, sebagai pembuktian atas haknya.
2. Pihak yang berkepentingan, misalnya calon pembeli tanah, atau kreditur
untuk memperoleh keterangan atas tanah yang menjadi objek perbuatan
hukumnya.
3. Bagi Pemerintah yaitu dalam rangka mendukung kebijaksanaan
pertanahannya.

5
d. Asas Pendaftaran Tanah
Asas pendaftaran tanah dapat dilihat dalam pasal 12 PP No. 24 Tahun 1997
meliputi ;
1. Sederhana, yaitu asas dimaksudkan agar ketentuan-ketentuan pokok dan
tatacaranya mudah dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan,
terutama hak atas tanah.
2. Aman, yaitu suatu asas yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa
pendaftaran tanah diselenggarakan secara teliti dan cermat sehingga dapat
memberikan jaminan kepastian hukum sesuai tujuan pendaftaran tanah itu
sendiri.
3. Terjangkau, asas yg dimaksudkan bahwa keterjangkauan bagi pihak-pihak
yg memerlukan, dengan memperhatikan golongan ekonomi lemah.
4. Mutakhir, adanya kelengkapan data yg memadai dalam pelaksanaannya
dan keseimbangan dalam pemeliharaan datanya, sehingga data pendaftaran
tanah harus dipelihara. Data disimpan dalam bentuk buku tanah di kantor
pertanahan dan harus selalu diperbaharui jika ada perubahan.
5. Terbuka, masyarakat  dapat memperoleh keterangan tentang data yang
benar setiap saat.

e. Objek Pendaftaran Tanah


Objek pendaftaran tanah terdapat dalam pasal 9 PP No. 24 Tahun 1997 meliputi :
1. bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan hak milik, hak guna usaha, hak
guna bangunan dan hak pakai;
2. tanah hak pengelolaan;
3. tanah wakaf;
4. hak milik atas satuan rumah susun;
5. hak tanggungan;
6. tanah Negara.

f. Sistem Pendaftaran Tanah


Ada 2 macam sistem pendaftaran tanah yaitu ;

6
1. Sistem pendaftaran akta atau registration of deeds.
2. Sistem pendaftaran hak atau registration of titles, titles dalam arti hak
yang lebih dikenal dengan sistem Torrens.

Dengan lahirnya UUPA pada tanggal 24 september 1960 maka sistem pendaftaran
tanah berupa sistem pendaftaran hak (registration of title) dimana hal tersebut
ditetapkan dalam Pasal 19 UUPA yang antara lain berbunyi:

1. Untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran


tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan
yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.
2. Pendaftaran tanah meliputi:
a. Pengukuran, pemetaan dan pembukuan tanah
b. Pendafataran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut
c. Pemberian surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat
pembuktian yang kuat.
Sistem pendaftaran yang digunakan adalah sistem pendaftaran hak atau
registration of title , hal ini tampak dengan adanya buku tanah sebagai dokumen
yang memuat data yuridis dan data fisik yang terhimpun dan disajikan serta
diterbitkannya sertipikat sebagai surat tanda bukti hak yang di daftar.

Hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf dan hak milik atas satuan rumah
susun didaftar dengan membukukannya dalam buku tanah, yang memuat data
juridis dan data fisik bidang tanah yang bersangkutan dan sepanjang ada surat
ukurnya dicatat pula pada surat ukur tersebut. Pembukuan dalam buku tanah serta
pencatatannya pada surat ukur secara hukum telah didaftar menurut PP 24 Tahun
1997.  Sertifikat diterbitkan sesuai dengan data fisik yang ada dalam surat ukur
dan data yuridis yang telah didaftar dalam buku tanah untuk kepentingan
pemegang hak.

Menurut Boedi Harsono, menyatakan bahwa sistem publikasi dalam pendaftaran


tanah digolongkan menjadi 2 (dua) yaitu ;

7
1.      Sistem Positif. 
Sistem ini menunjukkan bahwa sertipikat tanah yang diberikan adalah berlaku
sebagai tanda bukti hak yang bersifat mutlak (absolute) serta sertipikat merupakan
bentuk satu-satunya tanda bukti hak atas tanah yang dimiliki oleh seseorang.
Sistem publikasi positif selalu menggunakan sistem pendaftaran hak, maka meski
ada register atau buku tanah sebagai bentuk penyimpanan dan penyajian data
yuridis dan sertifikasi sebagai surat tanda bukti hak. Pencatatan dan pendaftaran
nama seseorang dalam register sebagai pemegang haklah yang menjadi pemegang
hak atas tanah  yang bersangkutan, bukan perbuatan hukum pemindahan hak yang
dilakukan (title by registration, the register is everything). Apa yang tercantum
dalam buku pendaftaran tanah dan surat tanda bukti hak yang dikeluarkan
merupakan alat pembuktian yang mutlak. Negara menjamin kebenaran data yang
disajikan. Perolehan tanah dengan etikad baik melalui cara sebagaimana diatur
dalam undang-undang, memberikan kepada pihak yang memperolehnya suatu hak
yang “indefeasible” yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun, juga oleh
pihak yang sebenarnya berhak sekalipun.

2.      Sistem Negatif
Dalam sistem publikasi negatif, bukan pendaftaran tetapi sahnya perbuatan hukum
yang dilakukan yang menentukan berpindahnya hak kepada pembeli. Pendaftaran
tidak membuat orang yang memperoleh tanah dari pihak yang tidak berhak,
menjadi pemegang haknya yang baru. Sistem publikasi negatif, menunjukkan ciri
bahwa apa yg tercantum didalam sertipikat tanah adalah dianggap benar sampai
dapat dibuktikan suatu keadaan yang sebaliknya (tidak benar) dimuka
pengadilan. Surat tanda bukti hak berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat,
yang berarti pula bahwa keterangan-keterangan yang tercantum di dalamnya
mempunyai kekuatan hukum danharus diterima (oleh hakim) sebagai keterangan
yang benar, sepanjang tidak ada alat pembuktian lain yang membuktikan
sebaliknya.

Sistem publikasi menurut UUPA No. 5 Tahun 1960 adalah sistem publikasi


negatif  bertendensi positif. Artinya sistem  negatif  yang  mengandung unsur
positif karena akan menghasilkan surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai

8
alat pembuktian yang kuat, seprti yang dinyatakan dalam pasal 19 ayat 2 huruf c,
pasal 23 ayat 2, pasal 32 ayat2 dan pasal 38 ayat 2 UUPA. Sistem Publikasi
yang dianut adalah bukan sistem negatif murni, karena pejabat pendaftaran tanah
dalam rangka pengumpulan data bersikap passif dan pada umumnya
menggunakan sistem pendaftaran akta yang memuat data itulah yang didaftar.
Dalam akta tersebut oleh pejabat pendaftaran dibubuhkan catatan bahwa telah
dilakukan pendaftarannya. Akta itulah yang merupakan tanda bukti hak.

Bahwa pendaftaran tanah yang diselenggarakan atas perintah Pasal 19 UUPA,


menghasilkan alat pembuktian yang kuat (bukan mutlak = positif), menurut para
pejabat pendaftaran tanah dalam mengumpulkan data fisik dan data yuridis, sejauh
mungkin berusaha memperoleh data yang benar.  Data pada pendaftaran tanah
meliputi: Data fisik, kegiatan pengumpulan data fisik meliputi penetapan batas,
pengukuran dan pemetaan tanah yang bersangkutan (diatur dalam pasal 17,18,19
dan 20 PP 24/1997). Pengumpulan data yuridis diatur dalam pasal 23,24 dan 25
PP 24/1997. Dibedakan antara hak baru dan hak lama. 

g. Alat Bukti Kepemilikan Tanah


Pengumpulan data yuridis hak-hak lama diatur dalam pasal 24(1), yaitu hak-hak
atas tanah yang data yuridisnya bersumber pada alat-alat bukti pemilikan
tanahnya. Sedang yang diatur dalam pasal 24(2) yaitu hak-hak atas tanah yang
bukti-bukti yuridisnya bersumber pada alat-alat bukti penguasaan atas tanah.

Alat bukti pemilikan tanah menurut pasal 24(1) bisa berupa alat-alat tertulis,
keterangan saksi dan atau pernyataan yangbersangkutan yang kadar kebenarannya
dianggap cukup untuk mendaftar hak, pemegang hak dan hak-hak pihak lain yang
membebaninya. Ada 3 (tiga) kemungkinan alat pembuktiannya ;
1. Bukti tertulisnya lengkap, tidak memerlukan bukti lain.
2. Bukti tertulisnya sebagian tidak ada lagi ; diperkuat keterangan saksi
dan/atau pernyataan yang bersangkutan
3. Bukti tertulisnya semuanya tidak ada lagi, diganti keterangan saksi
dan/atau pernyataan yang bersangkutan.

9
Untuk hak atas tanah-tanah baru dibuktikan dengan ;
1. Penetapan pemberian hak dari pejabat yang berwenang apabila hak
tersebut dari tanah negara atau hak pengelolaan
2. Asli akta PPAT yang memuat pemberian hak oleh pemegang hak milik
kepada penerima hak bangunan atau hak pakai atas tanah.
3. Hak pengelolaan dibuktikan dengan penetapan pemberian hak pengelolaan
oleh pejabat yang berwenang.
4. Tanah wakaf dibuktikan dengan akta ikrar wakaf.
5. Hak milik atas satuan umah susun, dibuktikan dengan akta pemisahan.
6. Pemberian hak tanggungan, dibuktikan dengan akta pemberian hak
tanggungan.

h. Pendaftaran Tanah Secara Sistematis


Pendaftaran tanah secara sistimatik menurut Boedi Harsono adalah kegiatan
pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak meliputi
semua objek pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah atau bagian
wilayah suatu desa/kelurahan, untuk keperluan pengumpulan dan pengolahan data
fisik dilakukan kegiatan pengukuran dan pemetaan yang meliputi :
1. Pembuatan peta dasar pendaftaran
2. Penetapan batas bidang-bidang tanah
3. Pengukuran dan pemetaan bidang tanah dan peta pembuatan
4. Pembuatan daftar tanah
5. Pembuatan surat ukur.
Pendaftaran tanah secara sistimatik diselenggarakan atas prakarsa pemerintah
berdasarkan pada suatu rencana kerja jangka panjang dan tahunan serta
dilaksanakan dalam wilayah yang ditetapkan oleh Menteri Negara Agraria/Kepala
BPN. Dalam hal suatu desa/kelurahan belum ditetapkan sebagai wilayah
pendaftaran tanah secara sistimatik, pendaftarannya dilakukan dengan
cara “sporadik”.

10
i. Sertifikat Sebagai Alat Pembuktian Yang Kuat
Menurut pasal 1 poin 20 PP No. 24 Tahun 1997, sertifikat adalah surat tanda bukti
hak yang memuat data yuridis dan data fisik obyek yang didaftar untuk hak atas
tanah, hak pengelolaan, tanah milik atas satuan rumah susun, dan hak tanggungan
yang masing-masing sudah dibukukan dalam buku tanah yang
bersangkutan. Kekuatan pembuktian sertifikat meliputi 2 hal yaitu :
1. Merupakan alat bukti hak yang kuat, berarti bahwa selama tidak
dibuktikan sebaliknya, data fisik dan data yuridis yang tercantum dalam
sertipikat harus diterima sebagai data yang benar sepanjang sepanjang data
tersebut sesuai dengan data yang tercantum dalam surat ukur dan buku
tanah yang bersangkutan.
2. Bahwa orang tidak dapat menuntut tanah yang sudah bersertipikat atas
nama orang atau badan hukum, jika selama 5 (lima) tahun sejak
diterbitkannya sertipikat tersebut, yang bersangkutan tidak mengajukan
keberatan secara tertulis kepada pemegang sertipikat dan kepala kantor
pertanahan atau tidak mengajukan gugatan di Pengadilan, sedangkan tanah
tersebut diperoleh orang atau badan hukum lain tersebut dengan itikad
baik dan secara fisik dikuasai olehnya atau oleh orang badan hukum lain
yang mendapat persetujuannya(pasal 32(2) PP No. 24 Tahun 1997).

j. Sertifikat Ganda
Istilah ganda dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai dua ataupun tiga
kali lipat atau kelipatannya. Menurut Soni Harsono, sertifikat ganda yaitu adanya
2 (dua) atau lebih sertifikat pada satu bidang tanah yang sama. Menurut  Ali
Achmad Chomzah, sertifikat ganda adalah sertifikat-sertifikat yang menguraikan
satu bidang tanah yang sama, dengan demikian satu bidang tanah diuraikan
dengan 2 (dua) sertipikat atau lebih yang datanya berlainan.
Terjadinya sertifikat ganda ini merupakan salah satu akibat adanya tumpang tindih
dalam penerbitan sertipikat hak atas tanah yang disebut cacat hukum administrasi.
Sebagaimana terdapat dalam Pasal 107 Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor 9 tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan
Pembatalan Hak Atas Tanah dan Hak Pengelolaan, Sertifikat Hak Atas Tanah

11
yang cacad hukum administratif adalah sertifikat Hak Atas Tanah yang
mengandung kesalahan antara lain sebagai berikut :
1. Kesalahan prosedur
2. Kesalahan penerapan peraturan perundang-undangan
3. Kesalahan subjek hak
4. Kesalahan objek hak
5. Kesalahan jenis hak
6. kesalahan perhitungan luas
7. terdapat tumpang tindih hak atas tanah
8. data yuridis atau data data fisik tidak benar;atau
9. kesalahan lainnya yang bersifat administratif.

Yang tidak dikategorikan sebagai sertifikat ganda adalah


1. Sertifikat yang diterbitkan sebagai pengganti sertifikat yang hilang;
2. Sertifikat yang diterbitkan sebagai pengganti sertifikat yang rusak.
3. Sertifikat yang diterbitkan sebagai pengganti sertifikat yang dibatalkan

B. Contoh Kasus dan Pembahasan Kasus


a. Sengketa tanah Prokimal (proyek pemukiman TNI AL)

Sengketa tanah Prokimal (proyek pemukiman TNI AL) meletus tahun 1998.
Warga di sekitar Prokimal sering menggelar unjuk rasa dengan cara memblokade
jalur pantura (pantai utara) untuk menuntut pembebasan lahan yang dianggap
miliknya. Di lain pihak, menurut keterangan TNI AL, lahan yang diinginkan
warga itu merupakan milik TNI AL yang diperoleh dengan pembelian yang sah
tahun 1960 seluas 3.569,205 hektare yang tersebar di dua kecamatan, yakni
Nguling dan Lekok, serta di 11 desa, yakni Desa Sumberanyar, Sumberagung,
Semedusari, Wates, Jatirejo, Pasinan, Balunganyar, Brang, Gejugjati, Tamping,
dan Alas Telogo.

Saat itu tanah tersebut dibeli seharga Rp 77,66 juta dan rencananya digunakan
untuk pusat pendidikan dan latihan TNI AL yang terlengkap dan terbesar. Karena

12
belum memiliki dana, agar tidak telantar, tanah tersebut dijadikan area
perkebunan dengan menempatkan 185 keluarga prajurit.

Kemudian pada 1984 keluar Surat Keputusan KSAL No Skep/675/1984 tanggal


28 Maret 1984 yang menunjuk Puskopal dalam hal ini Yasbhum (Yayasan Sosial
Bhumyamca) untuk memanfaatkan lahan tersebut sebagai lahan perkebunan
produktif, dengan memanfaatkan penduduk setempat sebagai pekerja.

Upaya-upaya penyelesaian sertifikasi tanah yang dilaksanakan Lantamal III


Surabaya sejak 20 Januari 1986 dapat terealisir BPN pada 1993 dengan terbitnya
sertifikat sebanyak 14 bidang dengan luas 3.676 hektare. Meski demikian masih
ada penduduk yang belum melaksanakan pindah dari tanah yang telah dibebaskan
TNI AL. Pada 20 November 1993 Bupati Pasuruan mengirimkan surat kepada
Komandan Lantamal III Surabaya perihal usulan pemukiman kembali
nonpemukim TNI AL di daerah Prokimal Grati. Kemudian Bupati Pasuruan
mengajukan surat kepada KSAL pada 3 Januari 1998 untuk mengusulkan bahwa
tanah relokasi untuk penduduk nonpemukim TNI AL agar diberikan seluas 500
meter persegi per KK.

Pembahasan Kasus
Tap MPR No. IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya
Alam telah mengamatkan bahwa “menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi
manusia” adalah salah satu prinsip yang wajib ditegakkan oleh (aparat) negara
dalam penanganan sengketa agraria. Dengan merujuk pada Tap MPR ini saja,
cara-cara yang ditempuh oleh (aparat) negara itu tentu saja menjadi tindakan yang
tragis-ironis. Sekali lagi hal itu pun bisa menunjukkan, betapa bobroknya
implementasi hukum kita, dan betapa masyarakat yang semestinya dilindungi
selalu berada dalam posisi tidak berdaya, selalu dipersalahkan, dan menjadi
korban. Malangnya, hampir dalam setiap kasus sengketa tanah, posisi masyarakat
selalu lemah atau dilemahkan. Masyarakat sering tidak memiliki dokumen-
dokumen legal yang bisa membuktikan kepemilikan tanahnya. Mereka bisanya
hanya bersandar pada “kepemilikan historis” dimana tanah yang mereka miliki
telah ditempati dan digarap secara turun-temurun.

13
Didalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok Agraria (UUPA)
sebenarnya termaktub satu ketentuan akan adanya jaminan bagi setiap warga
negara untuk memiliki tanah serta mendapat manfaat dari hasilnya (pasal 9 ayat
2). Jika mengacu pada ketentuan itu dan juga merujuk pada PP No. 24/1997
tentang Pendaftaran Tanah (terutama pasal 2) Badan Pertanahan Nasional (BPN)
semestinya dapat menerbitkan dokumen legal (sertifikat) yang dibutuhkan oleh
setiap warga negara dengan mekanisme yang mudah, terlebih lagi jika warga
negara yang bersangkutan sebelumnya telah memiliki bukti lama atas hak tanah
mereka. Namun sangat disayangkan pembuktian dokumen legal melalui sertifikasi
pun ternyata bukan solusi jitu dalam kasus sengketa tanah. Seringkali sebidang
tanah bersertifikat lebih dari satu, pada kasus Meruya yang belakangan sedang
mencuat, misalnya. Bahkan, pada beberapa kasus, sertifikat yang telah diterbitkan
pun kemudian bisa dianggap aspro (asli tapi salah prosedur).

Dari hal tersebut setidaknya ada 3 (tiga) faktor penyebab sering munculnya
masalah sengketa tanah, diantaranya yaitu :
1. Sistem administrasi pertanahan, terutama dalam hal sertifikasi tanah, yang
tidak beres. Masalah ini muncul boleh jadi karena sistem administrasi
yang lemah dan mungkin pula karena banyaknya oknum yang pandai
memainkan celah-celah hukum yang lemah.
2. Distribusi kepemilikan tanah yang tidak merata. Ketidakseimbangan
dalam distribusi kepemilikan tanah ini baik untuk tanah pertanian maupun
bukan pertanian telah menimbulkan ketimpangan baik secara ekonomi,
politis maupun sosiologis. Dalam hal ini, masyarakat bawah, khususnya
petani atau penggarap tanah memikul beban paling berat. Ketimpangan
distribusi tanah ini tidak terlepas dari kebijakan ekonomi yang cenderung
kapitalistik dan liberalistik.
3. Legalitas kepemilikan tanah yang semata-mata didasarkan pada bukti
formal (sertifikat), tanpa memperhatikan produktivitas tanah. Akibatnya,
secara legal (de jure), boleh jadi banyak tanah bersertifikat dimiliki oleh
perusahaan atau para pemodal besar, karena mereka telah membelinya dari
para petani atau pemilik tanah, tetapi tanah tersebut lama ditelantarkan
begitu saja.Ironisnya ketika masyarakt miskin mencoba memanfaatkan

14
lahan terlantar tersebut dengan menggarapnya, bahkan ada yang sampai
puluhan tahun, dengan gampanya mereka dikalahkan haknya di pengadilan
tatkala muncul sengketa.

b. Sengketa Tanah Muhammadiyah


Sengketa tanah antara Yayasan Al Kautzar Bumiayu dan Muhammadiyah cabang
Bumiayu bermula pada tahun 2001 lalu ketika Muhammadiyah cabang Bimiayu
menerima surat ikrar wakaf dari dr. Lisa Maulida, warga asal Bumiayu yang
tinggal di Bekasi. Dalam surat tersebut, Lisa mewakafkan tanah hak milik nomor
229 seluas 12.000 m2 di Desa Adisana kepada Muhammadiyah Bumiayu. Upaya
sertifikasi pembagian tanah ternyata mengalami hambatan di Badan Pertanahan
Nasional ( BPN ) Brebes. Karena merasa dipersulit, pengurus muhammadiyah, H.
Abdul Karim Nagib, menyampaikan masalah tersebut kepada Lisa. Dalam sebuah
pengajian akbar di Bumiayu pada 2002 lalu, Lisa lalu memberikan seluruh tanah
wakaf kepada Muhammdiyah. Selang beberapa bulan berdirilah Pondok Pesantren
Al Kautzar. Melalui rapat organisasi, Ketua Cabang Muhammdiyah, H. Sudarmo,
memberikan wewenang kepada H. Abdul Kodir untuk megelola pondok tersebut.
Pada perkembangan selanjutnya, pengurus Muhammadiyah menilai bahwa Kodir
telah melampaui batas wewenang. Dia yang mendirikan Yayasan Al Kautzar
mengklaim sebagai pemilik pesantren. Atas hal itu, Muhammadiyah mengirimkan
surat peringatan. Dalam waktu enam bulan terakhir, Muhammdiyah melayangkan
tiga kali surat peringatan. Namun, hingga tiga kali peringatan itu dilayangkan,
Kodir tidak juga mengindahkan peringatan tersebut. Malahan ia melaporkan kasus
tersebut ke polisi. Pengurus Muhammdiyah cabang Bumiayu, Fahrudin Abdul
Kafi, membantah tindak pemalsuan tanda tangan dalam surat ikrar wakaf tersebut.
Dia mengatakan surat itu sah dan diketahui pemilik tanah, Lisa, dan orang tuanya,
Hj. Afifah. Pemberian wakaf bahkan dilakukan di depan khalayak ramai dan
diadakan pada pengajian akbar. Sebaliknya, ia telah menuduh Abdul Kodir telah
menyerobot hak tanah wakaf milik muhammadiyah. Dia memberi bukti pendirian
Yayasan Al Kautzar tanpa sepengetahuan Muhammadiyah

15
Pembahasan Kasus
Kasus diatas ialah mengenai permasalahan Pewakafan Hak Milik yang lalu timbul
sengketa karena telah terjadi penyalah gunaan dan pengambil-ahlihan hak milik
atas tanah wakaf tadi.
Wakaf adalah Perbuatan hukum seseorang/badan hukum untuk memisahkan
dan/atau menyerahkan sebagian dari harta miliknya untuk dimanfaatkan
selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna
keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah. (ps. 1 ayat (1)
PP No. 28/1977).

Jadi, dalam kasus, terdapat suatu perbuatan hukum seorang yaitu dr. Lisa Maulida
untuk menyerahkan sebagian harta miliknya yaitu pada tahun 2000 berupa tanah
hak milik nomor 229 seluas 12.000 m 2 di Desa Adisana kepada Muhammadiyah
Bumiayu dan pada tahun 2001 memberikan tanah wakaf sepenuhnya dengan
keperluan ibadah atau kesejahteraan umum.

Yang menjadi Unsur-Unsur Wakaf dan syarat-syarat wakaf (ps. 3 – 6 PP


No.28/1977)
1. Wakif : Pihak yang mewakafkan tanah miliknya.
2. Harta benda wakaf
3. Ikrar :Pernyataan kehendak dari wakif untuk mewakafkan tanah miliknya
(sighat).
4. Nadzir : Kelompok orang/badan hukum yang diserahi tugas pemeliharaan
dan pengurusan benda wakaf. Perseorangan, syaratnya WNI, Islam,
dewasa, amanah, mampu secara rohani dan jasmani dan tidak terhalang
melakukan perbuatan hukum; Organisasi; dan Badan hokum
5. Peruntukan Harta Benda Wakaf
6. Jangka waktu wakaf

Tata Cara Wakaf (ps. 9 PP No.28/1977)


1. Diperlukan ikrar;
2. Ditujukan kepada Nadzir;

16
3. Dihadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW);
4. Disaksikan 2 orang saksi;
5. Harus dibuat secara tertulis;
6. Harus didaftarkan di Kantor Pertanahan setempat dalam jangka waktu
maksimum 3 bulan sesudah ikrar;
7. Segala penyimpangan harus mendapat persetujuan dari Menteri Agama
atas persetujuan Badan Wakaf Indonesia

Dalam proses pewakafan, disebutkan dalam kasus bahwa dengan berdasar pada
ikrar wakaf yang ditujukan kepada Nadzir yaitu Muhammadiyah Bumiayu dr.
Lisa Maulida menyerahkan sebagian harta miliknya yaitu pada tahun 2000 berupa
tanah hak milik nomor 229 seluas 12.000 m2 di Desa Adisana dan pada tahun
2001 memberikan tanah wakaf sepenuhnya. Walau tidak dijelaskan mengenai
apakah prosesnya disaksikan 2 orang saksi, dihadapanan PPAIW atau tidak. Pada
prinsipnya, proses pewakafan ini yelah sesuai. Tetapi terdapat permasalahan disini
ialah pada proses pendaftaran Tanah wakaf tersebut.

Pengaturan Pendaftaran Tanah Wakaf (ps. 10 PP No.28 Tahun 1977)


1. Didaftarkan di Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya;
2. Diajukan oleh PPAIW selambat-lambatnya 3 bulan sesudah ikrar wakaf;
Harus melampirkan:
 Sertipikat/tanda bukti tanah milik yang bersangkutan
 akta ikrar wakaf
 Surat Pengesahan Nadzir (KUA)

Disini terdapat beberapa kejanggalan dan permasalahan yang mengakibatkan


sengketa dari pewakafan tanah tersebut. Sebelumnya, telah disebutkan bahwa
dalam ikrar wakaf yang menjadi Nadir (penerima tugas pemeliharaan dan
pengurusan benda wakaf) yaitu Muhammadiah Bumiayu (kelompok/badan
hukum), tetapi pada pendaftaran tanah yang diupayakan Kodir, yang menjadi
Nadir ialah pengurus muhammadiyah, H. Abdul Kodir (perorangan). Maka
terdapat pengingkaran terhadap ikrar wakaf.

17
Dalam perkembangan selanjutnya, H. Abdul Kodir juga telah menyalahgunakan
wewenang dan tugas pemeliharaan & pengurusan tanah tersebut, dengan tanpa
seizin dari Muhammadiah dia mendirikan Yayasan Al Kautzar dan mengklaim
sebagai pemilik pesantren. Kemudian dalam waktu 6 bulan terakhir
Muhammadiyah mengirimkan tiga kali surat peringatan, tapi Kodir tidak juga
mengindahkan peringatan tersebut. Malahan ia melaporkan kasus tersebut ke
polisi.

Maka dalam hal ini, pihak Muhammadiah dapat mengajukan gugatan terhadap
Kodir atas perampasan Hak tanah wakaf milik Muhammadiah dan juga
menyalahgunakan wewenanng yang ada padanya yaitu mendirikan yayasan tanpa
seizin organisasi Muhammadiah.

Catatan:
Masalah wakaf diselesaikan oleh Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri sesuai
dengan hubungan antara masalah dengan yurisdiksi masing-masing pengadilan
(pasal 12 PP No. 28/1977).
DASAR HUKUM
 Pasal 49 ayat 3 UUPA;
 PP No. 28/1977 tentang Perwakafan Hak Milik;
 PMDN No. 6/1977 tentang Pendaftaran Perwakafan Tanah Hak Milik;

C. Sengketa Tanah Senayan City

Sengketa tanah antara pengelola Senayan City dengan ahli waris Alm Toyib bin
Kiming terus berkepanjangan. Bahkan persoalan ini membuat Pusat Pengelolaan
Kompleks Gelora Bung Karno (PPK GBK) turut gerah. Mereka tidak terima jika
lahan yang dikelolanya itu tidak memiliki surat-surat tanah. Bahkan PPK GBK
menantang di peradilan jika ahli waris Alm Toyib bin Kiming itu memiliki bukti
otentik atas lahan yang diperebutkan itu. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah DKI Jakarta meminta pemerintah DKI Jakarta segera menutup pusat
belanja dan perkantoran Senayan City. Menurutnya, langkah itu perlu ditempuh
agar penyelesaian sengketa tidak berlarut-larut.

18
Pengelola komplek Gelora Bung karno (GBK) atau Badan Layanan Umum (BLU)
Pusat Pengelolaan Komplek Gelanggang Olahraga Bung Karno (PPKGBK)
menyatakan kerja sama dengan proyek Senayan City sudah sesuai aturan. Pada
saat ini, eksekutif, termasuk Government Public Relations diharapkan dapat
membantu mengambil tindakan tegas. Kasus sengketa lahan Senayan City,
Jakarta, muncul karena adanya pengaduan atau klaim atas tanah yang digunakan
untuk Senayan City oleh orang yang mengaku ahli waris Alm Toyib bin Kiming.
Sengketa lahan yang ditempati Senayan City mencuat setelah ahli waris Toyib bin
Kiming mengklaim tanah seluas 6,2 hektare di Jalan Asia Afrika itu sebagai
miliknya.

Pengelola GBK yang ada di bawah Sekretariat Negara (Setneg) membantah klaim
bahwa tanah tempat Senayan City adalah lahan sengketa. Tanah yang digunakan
oleh PT Manggala Gelora Perkasa untuk proyek Senayan City adalah tanah milik
negara atau PPK GBK atau Setneg dan apabila ada pihak-pihak lain yang
mengaku mempunyai hak kepemilikan atas tanah tersebut tentunya dapat
melakukan upaya hukum. Sebab tanah GBK adalah tanah eks Asian Games IV
tahun 1962 yang kepemilikannya adalah milik negara. Namun, menurut
Government Public Relations Senayan City, sengketa itu adalah masalah antara
pihak Gelora Bung Karno dan keluarga ahli waris. Kepastian dari Sekretariat
Negara sangat dibutuhkan, karena ini tanah negara. Hak kepemilikan tanah berada
di tangan Sekretaris Negara dan pengelolaannya dipercayakan kepada Gelora
Bung Karno. Sebagai penyewa, Senayan City mengajukan permohonan kepada
pengelola Gelora Bung Karno mengenai perjanjian sewa-menyewa akan
penggunaan lahan itu selama 35 tahun, terhitung sejak 2006.

Kuasa hukum ahli waris Toyib bin Kiming, Tony Arif, mengatakan, lahan yang
di klaim kliennya berada di luar lahan yang dikuasai Sekretariat Negara.
Kesimpulan itu sudah diverfikasi Badan Pertanahan Nasional, P2U, pajak, camat,
dan lurah setempat. Di sisi lain, Public Relations Manager Senayan City
membantah anggapan bahwa pihaknya menganggap remeh persoalan sengketa
tanah itu. Ia menjelaskan, Senayan City sebagai pihak ketiga harus menyerahkan
persoalan kepemilikan lahan kepada pemerintah. Menurut pendapatnya, mereka

19
hanya penyewa, tidak berwenang menentukan siapa pemilik tanah, Government
Public Relations Senayan City berkomentar bahwa mereka hanya sebagai
pihak ketiga dan penyewa tanah. Kasus ini dapat diselesaikan melalui jalur
hukum, karena sengketa lahan itu tidak akan menemui jalan keluar dan tidak
menemukan kepastian jika pihak yang bersengketa tetap berkukuh dengan
pendirian mereka.

Pembahasan Kasus
Pada hakikatnya, kasus pertanahan merupakan benturan kepentingan (conflict of
interest) di bidang pertanahan antara siapa dengan siapa, sebagai contoh konkret
antara perorangan dengan perorangan; perorangan dengan badan hukum; badan
hukum dengan badan hukum dan lain sebagainya.Sehubungan dengan hal tersebut
di atas, guna kepastian hukum yang diamanatkan UUPA, maka terhadap kasus
pertanahan dimaksud antara lain dapat diberikan respons/reaksi/penyelesaian
kepada yang berkepentingan (masyarakat dan pemerintah), berupa solusi melalui
Badan Pertanahan Nasional dan solusi melalui Badan Peradilan.

Melalui BPN, seringkali Badan Pertanahan Nasional diminta sebagai mediator di


dalam menyelesaikan sengketa hak atas tanah secara damai saling menghormati
pihak-pihak yang bersengketa. Berkenaan dengan itu, bilamana penyelesaian
secara musyawarah mencapai kata mufakat, maka harus pula disertai dengan bukti
tertulis, yaitu dari surat pemberitahuan untuk para pihak, berita acara rapat dan
selanjutnya sebagai bukti adanya perdamaian dituangkan dalam akta yang bila
perlu dibuat di hadapan notaris sehingga mempunyai kekuatan pembuktian yang
sempurna.Pembatalan keputusan tata usaha negara di bidang pertanahan oleh
Kepala Badan Pertanahan Nasional berdasarkan adanya cacat hukum/administrasi
di dalam penerbitannya.

Yang menjadi dasar hukum kewenangan pembatalan keputusan tersebut antara


lain :
1. Undang-Undang No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
Agraria.
2. Peraturan Pemerintah No 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

20
3. Keputusan Presiden No 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional Di
Bidang Pertanahan.
4. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No
3 Tahun 1999.

Melalui Badan Peradilan, setelah melalui penelitian ternyata Keputusan Tata


Usaha Negara yang diterbitkan oleh Pejabat Badan Pertanahan Nasional sudah
benar menurut hukum dan sesuai dengan prosedur yang berlaku, maka Kepala
BPNdapat juga mengeluarkan suatu keputusan yang berisi menolak tuntutan pihak
ketiga yang berkeberatan atas Keputusan TUN yang telah dikeluarkan oleh
Pejabat BPN tersebut. Sebagai konsekuensi dari penolakan tersebut berarti
Keputusan Tata Usaha Negara yang telah dikeluarkan tersebut tetap benar dan sah
walaupun ada pihak lain yang mengajukan ke pengadilan setempat. Sementara
menunggu putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, dilarang bagi
Pejabat Tata Usaha Negara yang terkait mengadakan mutasi atas tanah yang
bersangkutan (status quo). Oleh karena itu untuk menghindari terjadinya masalah
di kemudian hari yang menimbulkan kerugian bagi pihak-pihak yang berperkara
maupun pihak ketiga, maka kepada Pejabat Tata Usaha Negara di bidang
Pertanahan yang terkait harus menerapkan asas-asas umum pemerintahan yang
baik, yaitu untuk melindungi semua pihak yang berkepentingan sambil menunggu
adanya putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van
gewijsde)

21
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Salah satu tujuan dari Pendaftaran Tanah yaitu  untuk memberikan kepastian
hukum hak milik atas tanah terhadap masyarakat sesuai pasal 3 Peraturan
Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 , namun seutuhnya belum terlaksana dengan
baik sebagai bukti bahwa peringkat pertama di setiap pengadilan Negeri di
Indonesia masih ditempati oleh konflik-konflik sengketa pertanahan dan terkait
dengan pasal 32 ayat (2) PP Nomor 24 Tahun 1997 bahwa pihak yang merasa
mempunyai sesuatu kepentingan terkait hak atas tanah yang didaftarkan oleh
seseorang, dibatasi hanya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak diterbitkannya
sertifikat tanah, dapat melakukan gugatan dalam rangka mempertahankan haknya,
kecuali dapat dibuktikan tidak adanya itikad baik dalam perolehan sertifikat
tersebut. Sesuai dengan pasal ini secara jelas dan tegas pembentuk UU bersifat
mendua. Disatu sisi mempunyai keinginan untuk memberikan kepastian hukum
bagi pemilik tanah yang sudah bersertifikat, tetapi di sisi lain juga tidak
mempunyai keyakinan atas kebenaran data fisik maupun data yuridis yang
digunakan untuk melakukan pendaftaran tanah hingga terbitnya sertifikat. Oleh
karena itu sampai saat ini janji untuk memberikan kepastian hukum atas
kepemilikan tanah belum dirasakan oleh masyarakat.  Sertifikat berlaku hanya
sebagai alat pembuktian yang kuat, artinya  selama tidak dapat dibuktikan
sebaliknya, data fisik dan data yuridis yang tercantum di dalam sertipikat harus
diterima sebagai data yang benar baik dalam perbuatan hukum sehari-hari maupun
dalam berperkara di pengadilan.
 Penyebab terjadinya sertipikat ganda disebabkan oleh kesalahan dari Pemilik
tanah/pemohon itu sendiri dan oleh pihak Badan Pertanahan Nasional selaku
instansi yang menerbitkan sertipikat. Secara garis besar penyebabnya adalah :
1. Pemohon dengan sengaja atau tidak dengan sengaja menunjuk letak tanah
dengan batas-batas yang salah.

22
2. Adanya surat, alat bukti, atau pengakuan haknya dibelakang hari terbukti
mengandung ketidak benaran, kepalsuan atau tidak berlaku lagi.
3. Tidak dilaksanakannya UUPA dan peraturan-peraturannya secara
konsekwen dan bertanggung jawab, dan Kurang berfungsinya aparat
pengawas.
4. Ketidaktelitian pejabat kantor Pertanahan dalam menerbitkan sertifikat.
5. Ketergantungan BPN pada instansi Pemerintah lainnya, seperti kantor
desa/camat dan kantor perpajakan dan keterlibatan Pejabat Umum.
6. Masyarakat kurang memahami mengenai peraturan perundangan
menganai prosedur pembuatan sertifikat tanah.
7. Pembeli tidak pernah melihat batas-batas tanahnya.
8. Pengukuran yang tidak tertib bahkan tidak professional.
9. Adanya alas hak yang tidak benar atau dipalsukan.

B. Saran
Dengan harapan terciptanya kepastian hukum hak atas tanah, serta tidak terjadinya
tumpang tindih  overlapping atau sertipikat ganda, maka berdasarkan kesimpulan
sebelumnya direkomendasikan beberapa saran, yaitu;
1. Pelaksanaan pendaftaran tanah hendaknya memanfaatkan teknologi tinggi,
komputerisasidi bidang pengukuran dan pemetaan yang akurat dan cepat,
dan ditunjung oleh sumber daya manusia yang berkwalitas dan handal
dibidangnya.
2. Melaksanakan pendaftaran tanah sesuai dengan koridor hukum dan
prosedur yang telah ditetapkan disetiap unit kerja dan dilaksanakan dengan
penuh tanggung jawab.
3. Meningkatkan pengawasan terhadap kinerja dan tanggung jawab aparat
pelaksana pendaftaran tanah diseluruh wilayah Indonesia, serta selalu
memberikan binaan moral dan etika secara kontinyu, sehingga kolusi yang
terjadi dapat diminimalisir.

23
DAFTAR PUSTAKA

Boedi Harsono. 2008. Hukum Agraria Indonesia : Sejarah Pembentukan Undang-


undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya.  Jakarta : Djambatan
Boedi Harsono. 2008. Hukum Agraria Indonesia : Himpunan Peraturan-
Peraturan Hukum Tanah.  Jakarta : Djambatan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
Agraria.
www.academia.edu, Pendaftaran dan Peralihan Hak atas Tanah,  diakses pada
bulan November 2015.

24