Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bangsa terbentuk oleh persamaan bahasa, ras, agama, peradaban, wilayah, Negara dan
Kewarganegaraan ;bangsa bukan suatu ras, bukan pula orang-orang yang mempunyai
kepentingan yang sama, bukan pula dibatasi oleh batas-batas geografis atau bahasa alamiah.
Semua unsur Identitas Nasional, yaitu suku bangsa, wilayah nusantara, agama, bahasa dan
budaya yang serba majemuk dirangkum menjadi satu dan dijadikan motivasi perekat bangsa
dan identitas nasional, yaitu Bhineka Tunggal Ika. Hal ini merupakan modal dasar
pembangunan nasional dan menjadi ciri khas bangsa Indonesia diantar bangsa lainnya
didunia.

Untuk mewujudkan identitas nasional, diperlukan integrasi nasional yang kokoh.


Integrasi ialah integrasi kebudayaan, integrasi sosial yang berwujud pluralisme, sedangkan
pembauran ialah asimilasi dan amalgimasi. Integrasi kebudayaan berarti penyesuaian antar
dua atau lebih kebudayaan. Interaksi sosial adalah penanggulangan masalah konflik melalui
modifikasi dan koordinasi dari unsur-unsur kebudayaan yang baru dan lama yang menjadi
suatu kelompok besar dengan cara melenyapkan perbedaan dan jati diri masing-masing.
Integrasi nasional adalah penyatuan bagian-bagian yang berbeda dari suatu masyarakat
menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh atau memadukan masyarakat-masyarakat kecil
yang banyak jumlahnya menjadi suatu bangsa.

B. Rumusan Masalah

1. Pengertian Identitas Nasional?


2. Apa saja Unsur-Unsur Identitas Nasional?
3. Bagaimana Dimensi Identitas Nasional?
4. Pengertian Integrasi Nasional?
5. Apa saja Jenis Integritasi Nasional?
6. Bagaimana Pengembangan Integrasi di Indonesia?
7. Apa Tantangan Dalam Membangun Integrasi?
8. Bagaimana Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam Mewujudkan Integrasi Nasional?
9. Bagimana Strategi Integrasi?

C. Tujuan

1. Untuk Mengertahui Apa itu Identitas Nasional.


2. Untuk Mengetahui Unsur-Unsur Identitas Nasional.
3. Untuk Mengetahui Dimensi Identitas Nasional.
4. Untuk Mengetahui Integrasi Nasional.
5. Untuk Mengetahui Jenis Integritasi Nasional.
6. Untuk Mengetahui Pengembangan Integrasi di Indonesia.
7. Untuk Mengetahui Tantangan Dalam Membangun Integrasi.
8. Untuk Mengetahui Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam Mewujudkan Integrasi
Nasional.
9. Untuk Mengetahui Bagimana Strategi Integrasi.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Identitas Nasional

Identitas Nasional adalah suatu jati diri dari suatu bangsa. Artinya, jati diri
tersebut merupakan milik suatu bangsa dan berbeda dengan banga lainnya. Dalam
garis besarnya, identitas nasional merupakan suatu jati diri yang tidak hanya mengacu
pada individu tertentu, namun juga berlaku untuk suatu kelompok/organisasi/negara.

Kata identitas berasal dari “Identity" yang berarti ciri-ciri, tanda-tanda, ciri
khas, jati diri pada perorangan atau suatu kelompok tertentu yang bisa
membedakannya dengan orang lain atau kelompok yang lainnya.

Sedangkan kata “Nasional" merupakan gambaran akan identitas yang melekat


pada diri seseorang atau suatu kelompok tertentu atau organisasi yang lebih besar
berdasarkan kesamaan fisik, budaya, ragam, bahasa, sejarah, cita-cita, serta tujuan.

Dari pengertian di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa identitas nasional adalah
suatu kumpulan nilai budaya yang tumbuh dan berkembang pada macam-macam
aspek kehidupan, baik dari ratusan suku atau budaya yang ada dihimpun menjadi satu
kesatuan, seperti Indonesia. Di mana identitas nasional Indonesia sendiri mengacu
pada Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

B. Unsur-Unsur Identitas Nasional

Unsur-unsur identitas nasional, meliputi :

1. Suku bangsa
Yaitu golongan sosial yang khusus dan bersifat askriptif. Artinya, individu
memilikinya sejak lahir dan bukan kuasanya untuk memilih. Misalnya, kamu
sebagai orang Minang, saya orang Asmat. Minang dan Asmat adalah identias
masing-masing kita. Lebih dari 300 identitas suku bangsa yang tersebar di
seantero nusantara.
2. Agama
Yaitu golongan sosial yang klasifikasinya berdasarkan agama atau aliran
kepercayaan. Individu sejak lahir biasanya sudah berafiliasi ke salah satu agama.
Pertama-tama atas arahan orang tua yang punya ’hak prerogatif’ menentukan apa
agama anaknya. Seiring kedewasaan dan kematangan intelektual, individu
mencari sendiri, menemukan atau memantapkan kembali agama yang diimaninya.

3. Bahasa
Yaitu golongan sosial yang didasarkan pada aspek simbolik yang secara
arbiter dibentuk sebagai sarana interaksi. Individu mempelajari simbol-simbol
yang membentuk bahasa sejak lahir. Kemajuemukan bahasa sangat berhubungan
dengan kemajemukan budaya karena bahasa merupakan bagian dari budaya.

4. Budaya
Yaitu golongan sosial yang didasarkan pada pengetahuan manusia yang secara
kolektif digunakan untuk menafsir lingkungannya sehingga menjadi pedoman
untuk bertindak dan menghasilkan karya. Cakupan budaya sangat luas, kita bisa
memahami sistem pengetahuan yang berada dalam pikiran manusia sebagai
budaya, dan teknologi yang dihasilkannya juga sebagai budaya.

C. Dimensi Identitas Nasional

Dimensi Identitas Nasional, meliputi :

1. Dimensi psikologis
Yaitu dimensi yang muncul dari kesadaran yang didasarkan pada kedekatan
atau ikatan yang menyatukan sekelompok orang merasa memiliki kesamaan
sebagai sebuah bangsa. Perasaan mereka itu bersifat laten dan muncul ketika
terdapat konfrontasi, bak eksternal maupun internal.

2. Dimensi budaya
Dimensi yang berkaitan dengan nilai-nilai, kepercayaan, tradisi, adat istiadat,
kesepakatan, kebiasaan, bahasa dan praktik-praktik lainnya yang selalu diwariskan
kepada anggota baru yang menerima budaya dari suatu bangsa. Identitas nasional
yang berasal dari identifikasi sebuah budaya yang spesifik akan menghasilkan
sebuah penanaman emosional yang kuat, yang selanjutkan akan meningkatkan
rasa solidaritas antar anggota bangsa yang mengakui satu sama lain sebagai
bangsa yang sama.

3. Dimensi sejarah
Yaitu berkaitan dengan kebanggaan warga bangsa kepada sejarah yang
dimilikinya dan umumnya juga menginterpretasikan sejarah tersebut sebagai
simbol ketahanan, kekuatan, dan superioritas dibandingkan bangsa-bangsa
lainnya.

4. Dimensi teritori
Berkaitan dengan wilayah yang menjadi tanah air tempat tinggal semua warga
bangsa. Dalam wilayah ini seluruh warga bangsa melakukan aktivitasnya serta
berinteraksi satu sama lain.

5. Dimensi politik
Memiliki hubungan dengan bagaimana para penyelenggara pemerintahan
dipilih yang selanjutnya akan memerintah warga bangsa tersebut.

Faktor-faktor Pembentuk Identitas Nasional

a. Primordialisme

Ikatan kekerabatan (darah dan keluarga) dan kesamaan suku bangsa, daerah,
bahasa dan adat istiadat merupakan faktor-faktor primordial yang dapat membentuk
bangsa-bangsa. Primordialisme tidak hanya menimbulkan pola perilaku yang sama,
tetapi juga melahirkan persepsi yang sama tentang masyarakat negara yang dicita-
citakan.

b. Keagamaan (Sakralitas Agama)

Kesamaan agama yang dipeluk oleh suatu masyarakat, atau ikatan ideologi
doktriner yang kuat dalam suatu masyarakat merupakan faktor sakral yang dapat
membentuk bangsa-negara.
c. Pemimpin Bangsa

Kepemimpinan dari seorang tokoh yang disegani dan dihormati secara luas
oleh masyarakat dapat pula menjadi faktor yang menyatukan suatu bangsa-negara.
Pemimpin ini menjadi panutan sebab warga masyarakat mengidentifikasikan diri
kepada sang pemimpin, dan ia dianggap sebagai "penyambung lidah" masyarakat.

d. Sejarah Bangsa

Persepsi yang sama tentang asal-usul (nenek moyang) dan/atau persepsi yang
sama tentang pengalaman masa lalu seperti penderitaan yang sama yang disebabkan
dengan penjajahan tidak hanya melahirkan solidaritas (sependeritaan dan
sepenanggungan), tetapi juga tekad dan tujuan yang sama antar kelompok masyarakat.

e. Perkembangan Ekonomi

Perkembangan ekonomi (industrialisasi) akan melahirkan spesialisasi


pekerjaan yang beraneka sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Semakin tinggi mutu
dan semakin bervariasi kebutuhan masyarakat, semakin tinggi pula tingkat saling
bergantung di antara berbagai jenis pekerjaan.

Parameter Identitas Nasional

Parameter identitas nasional adalah suatu ukuran atau patokan yang dapat
digunakan untuk menyatakan sesuatu adalah menjadi cirri khas suatu bangsa. Sesuatu
yang diukur adalah unsur suatu identitas seperti kebudayaan yang menyangkut norma,
bahasa, adat istiadat dan teknologi, sesuatu yang alami atau ciri yang sudah terbentuk
seperti geografis.

Sesuatu yang terjadi dalam suatu masyarakat dan mencari ciri atau identitas
nasional biasanya mempunyai indikator sebagai berikut :

 Identitas nasional menggambarkan pola perilaku yang teruwujud melalui


aktivitas masyarakat sehari-harinya. Identitas ini menyangkut adat istiadat, tata
kelakuan, dan kebiasaan, ramah tamah, hormat kepada orang tua, dan gotong
royong merupakan salah satu identitas nasional yang bersumber dari adat
istiadat dan tata kelakuan.
 Lambang-lambang yang merupakan ciri dari bangsa dan sccara simbolis
menggambarkan tujuan dan fungsi bangsa. Lambang-lambang negara ini
biasanya dinyatakan dalam undang-undang seperti Garuda Pancasila, bendera,
bahasa, dan lagu kebangsaan.
 Alat-alat perlengkapan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan seperti
bangunan, teknologi, dan peralatan manusia. Identitas yang berasal dari alat
perlengkapan ini seperti bangunan yang merupakan tempat ibadah (borobudur,
prambanan, masjid dan gereja), peralatan manusia (pakaian adat, teknologi
bercocok tanam), dan teknologi (pesawat terbang, kapal laut, dan lain-lain).
 Tujuan yang ingin dicapai suatu bangsa. Identitas yang bersumber dari tujuan
ini bersifat dinamis dan tidak tetap seperti budaya unggul, prestasi dalam
bidang tertentu, seperti di Indonesia dikenal dengan bulu tangkis.

Keterkaitan Globalisasi Dengan Identitas Nasional.

Dengan adanya globalisasi, intensitas hubungan masyarakat antara satu negara


dengan negara yang lain menjadi semakin tinggi. Dengan demikian kecenderungan
munculnya kejahatan yang bersifat transnasional menjadi semakin sering terjadi.

Kejahatan-kejahatan tersebut antara lain terkait dengan masalah narkotika,


pencucian uang (money laundering), peredaran dokumen keimigrasian palsu dan
terorisme. Masalah-masalah tersebut berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa
yang selama ini dijunjung tinggi mulai memudar.

D. Integrasi Nasional

Istilah integrasi nasional dalam bahasa Inggrisnya adalah “National


Integration”. "Integration" berarti kesempurnaan atau keseluruhan. Kata ini berasal
dari bahasa latin Integer, yang berarti utuh atau menyeluruh. Berdasarkan arti
etimologisnya itu, integrasi dapat diartikan sebagai pembauran hingga menjadi
kesatuan yang utuh atau bulat.
“Nation” artinya bangsa sebagai bentuk persekutuan dari orang-orang yang
berbeda latar belakangnya, berada dalam suatu wilayah dan di bawah satu kekuasaan
politik. Secara etimologi, integrasi nasional terdiri atas dua kata Integrasi dan
Nasional.

Beberapa pendapat mengenai Integrasi Nasional, diantaranya :

 Saafroedin Bahar(1996)

Upaya menyatukan seluruh unsur suatu bangsa dengan pemerintah dan


wilayahnya.

 Riza Noer Arfani(2001)

Pembentukan suatu identitas nasional dan penyatuan berbagai


kelompok sosial dan budaya ke dalam suatu kesatuan wilayah.

 Djuliati Suroyo (2002)

Bersatunya suatu bangsa yang menempati wilayah tertentu dalam


sebuah negara yang berdaulat.

 Ramlan Surbakti(2010)

Proses penyatuan berbagai kelompok sosial budaya dalam satu


kesatuan wilayah dan dalam suatu identitas nasional.

E. Jenis Integritasi Nasional

Myron Weiner dalam Ramlan Surbakti (2010) lebih cocok menggunakan


istilah integrasi politik daripada integrasi nasional. Menurutnya integrasi politik
adalah penyatuan masyarakat dengan sistem politik.

Integrasi politik dibagi menjadi 5 jenis, yaitu:

1. Integrasi Bangsa.
2. Integrasi Wilayah.
3. Integrasi Nilai.
4. Integrasi Elit-Massa.
5. Integrasi Tingkah Laku (Perilaku Integratif).

Uraian secara berturut-turut sebagai berikut:

a. Integrasi bangsa menunjuk pada proses penyatuan berbagai kelompok budaya dan
sosial dalam satu kesatuan wilayah dan dalam suatu pembentukan identitas
nasional.
b. Integrasi wilayah menunjuk pada masalah pembentukan wewenang kekuasaan
nasional pusat di atas unit-unit sosial yang lebih kecil yang beranggotakan
kelompok kelompok sosial budaya masyarakat tertentu.
c. Integrasi elit massa menunjuk pada masalah penghubungan antara pemerintah
dengan yang diperintah. Mendekatkan perbedaan-perbedaan mengenai aspirasi
dan nilai pada kelompok elit dan massa.
d. Integrasi nilai menunjuk pada adanya konsensus terhadap nilai yang minimum
yang diperlukan dalam memelihara tertib sosial.
e. Integrasi tingkah laku (perilaku integratif) menunjuk pada penciptaan tingkah laku
yang terintegrasi dan yang diterima demi mencapai tujuan bersama.

F. Pengembangan Integrasi di Indonesia

Lalu bagaimana mengembangkan integrasi nasional sebuah bangsa? Howard


Wriggins dalam Muhaimin & Collin MaxAndrews (1995) menyebut ada lima
pendekatan atau cara bagaimana para pemimpin politik mengembangkan integrasi
bangsa. Kelima pendekatan yang selanjutnya kita sebut sebagai faktor yang
menentukan tingkat integrasi suatu negara adalah :

1. Adanya ancaman dari luar.


2. Gaya politik kepemimpinan.
3. Kekuatan lembaga-lembaga politik.
4. Ideologi Nasional.
5. Kesempatan pembangunan ekonomi.

Berikut penjelasan faktor yang menentukan tingkat integrasi suatu negara :

a. Adanya ancaman dari luar


Adanya ancaman dari luar dapat menciptakan integrasi masyarakat.
Masyarakat akan bersatu, meskipun berbeda suku, agama dan ras ketika menghadapi
musuh bersama. Contoh, ketika penjajah Belanda ingin kembali ke Indonesia,
masyarakat Indonesia bersatu padu melawannya.

b. Gaya politik kepemimpinan

Gaya politik para pemimpin bangsa dapat menyatukan atau mengintegrasikan


masyarakat bangsa tersebut. Pemimpin yang karismatik, dicintai rakyatnya dan
memiliki jasa-jasa besar umumnya mampu menyatukan bangsanya yang sebelumya
tercerai berai. Misal Nelson Mandela dari Afrika Selatan.

c. Kekuatan lembaga-lembaga politik

Lembaga politik, misalnya birokrasi, juga dapat menjadi sarana pemersatu


masyarakat bangsa. Birokrasi yang satu dan padu dapat menciptakan sistem
pelayanan yang sama, baik, dan diterima oleh masyarakat yang beragam. Pada
akhirnya masyarakat bersatu dalam satu sistem pelayanan.

d. Ideologi Nasional

Ideologi merupakan seperangkat nilai-nilai yang diterima dan disepakati.


Ideologi juga memberikan visi dan beberapa panduan bagaimana cara menuju visi
atau tujuan itu. Jika suatu masyarakat meskipun berbeda-beda tetapi menerima satu
ideologi yang sama maka memungkinkan masyarakat tersebut bersatu. Bagi bangsa
Indonesia, nilai bersama yang bisa mempersatukan masyarakat Indonesia adalah
Pancasila. Pancasila merupakan nilai sosial bersama yang bisa diterima oleh seluruh
masyarakat Indonesia.

e. Kesempatan pembangunan ekonomi

Jika pembangunan ekonomi berhasil dan menciptakan keadilan, maka


masyarakat bangsa tersebut bisa menerima sebagai satu kesatuan. Namun jika
ekonomi menghasilkan ketidak adilan maka muncul kesenjangan atau ketimpangan.
Orang-orang yang dirugikan dan miskin sulit untuk mau bersatu atau merasa satu
bangsa dengan mereka yang diuntungkan serta yang mendapatkan kekayaan secara
tidak adil.
G. Tantangan Dalam Membangun Integrasi

Dalam upaya mewujudkan integrasi nasional Indonesia, tantangan yang


dihadapi datang dari dimensi horizontal dan vertikal. Dalam dimensi horizontal,
tantangan yang ada berkenaan dengan pembelahan horizontal yang berakar pada
perbedaan suku, agama, ras, dan geografi. Sedangkan dalam dimensi vertikal,
tantangan yang ada adalah berupa celah perbedaan antara elite dan massa, di mana
latar belakang pendidikan kekotaan menyebabkan kaum elite berbeda dari massa yang
cenderung berpandangan tradisional.

Masalah yang berkenaan dengan dimensi vertikal lebih sering muncul ke


permukaan setelah berbaur dengan dimensi horizontal, sehingga hal ini memberikan
kesan bahwa dalam kasus Indonesia dimensi horizontal lebih menonjol daripada
dimensi vertikalnya.

Terkait dengan dimensi horizontal ini, salah satu persoalan yang dialami oleh
negara-negara berkembang termasuk Indonesia dalam mewujudkan integrasi nasional
adalah masalah primordialisme yang masih kuat. Titik pusat goncangan primordial
biasanya berkisar pada beberapa hal, yaitu masalah hubungan darah (kesukuan), jenis
bangsa (ras), bahasa, daerah, agama, dan kebiasaan.

Terkait dengan dimensi vertikal, tantangan yang ada adalah kesediaan para
pemimpin untuk terus menerus bersedia berhubungan dengan rakyatnya. Pemimpin
mau mendengar keluhan rakyat, mau turun kebawah, dan dekat dengan kelompok-
kelompok yang merasa dipinggirkan.

H. Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam Mewujudkan Integrasi Nasional

Dalam upaya untuk mencapai integrasi nasional dengan cara menjaga


keselarasan antarbudaya. Hal itu dapat terwujud jika ada peran serta pemerintah dan
partisipasi masyarakat dalam proses integrasi nasional.

1. Peran pemerintah dalam mewujudkan integerasi nasional adalah :


 Pemerintah harus mampu melaksanakan sebuah sistem politik nasional yang
dapat mengakomodasikan aspirasi masyarakat yang memiliki kebudayaan
yang berbeda-beda.
 Kemampuan desentralisasi pemerintah yang diwujudkan dalam agenda
otonomi daerah.
 Keterbukaan dan demokratisasi yang bertumpu pada kesamaan hak dan
kewajiban warganegara.

2. Peran Masyarakat dalam mewujudkan integeritas nasional adalah :


 Meminimalkan perbedaan dan berpijak pada kesamaan-kesamaan yang
dimiliki oleh setiapbudaya daerah.
 Meminimalkan setiap potensi konflik yang ada.

Syarat Integrasi, diantaranya :

1. Anggota-anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil mengisi


kebutuhan-kebutuhan satu dengan lainya.
2. Terciptanya kesepakatan bersama mengenai norma-norma dan nilai-nilai
social yang dilestarikan dan dijadikan pedoman.
3. Norma-norma dan nilai-nilai social dijadikan aturan baku dalam
melangsungkan proses integerasi nasional.

Faktor-faktor pendorong, pendukung dan penghambat Integerasi Nasional, meliputi :

A. Faktor pendorong tercapainya integerasi nasional :


1. Adanya rasa senasib dan seperjuangan yang diakibatkan oleh factor sejarah.
2. Adanya semangat persatuan dan kesatuan dalam bangsa,bahasa dan tanah air.
3. Adanya keperibadian dan pandangan hidup bangsa yang sama yaitu pancasila.
4. Adanya jiwa dan semangat gotong royong, solidaritas dan toleransi
keagamaan yang kuat.
5. Adanya rasa senasib dan perjuangan akibat penderitaan penjajahan.

B. Faktor penghambat Integerasi nasional :


1. Kurangnya penghargaan terhadap kemajemukan yang bersifat heterogen.
2. Kurang toleransi antar golongan.
3. Kurang kesadaran dari masyarakat Indonesia terhadap ancaman dari luar.
4. Adanya ketidakpuasan terhadap ketimpangan dan ketidakmerataan hasil-hasil
pembangunan.
I. Strategi Integrasi

Strategi integrasi nasional hanya mencakup 3 hal yaitu :

1. Asimilasi

Menyatukan masyarakat dengan menjadikan budaya yang dominan


sebagai acuan dan budaya lain melebur di dalamnya.

2. Akulturasi

Menyatukan budaya yang berbeda di mana unsur dari masing-masing itu


masih tampak.

3. Unity in Diversity (Bhinneka Tunggal Ika)

Menyatukan masyarakat dengan tetap mempertahankan terdapatnya


perbedaan.
STUDI KASUS INTEGRASI NASIONAL

Larangan Jilbab di Bali Berpotensi Mengancam Integrasi Nasional

Terjadi beberapa kasus pelarangan penggunaan jilbab di bali baik pelarangan di


sekolah ataupun di tempat kerja. Salah satu berita pelarangan terakhir adalah pelarangan
karyawan Hypermart untuk menggunakan jilbab dan peci yang dianggap sebagai simbol
agama Islam, meskipun sebenarnya peci adalah termasuk pakaian dan simbol nasional bangsa
ini. Pelarangan oleh Hypermart Bali disebabkan oleh instruksi dari The Hindu Center of
Indonesia yang dipimpin oleh Arya Wedakarna.

Bagi banyak wanita muslim berjilbab atau berhijab adalah melaksanakan perintah
agama, dimana menjalankan dan melaksanakan perintah agama adalah hak esensi mendasar
yang bahkan dijamin haknya dalam Undang-Undang Dasar 1945. Seluruh rakyat Indonesia
dimanapun berada bebas menjalankan perintah agamanya di seluruh wilayah publik dalam
wilayah teritori negeri ini tanpa harus mendapatkan halangan dan rintangan.

Pelarangan yang diminta oleh The Hindu Center of Indonesia bisa bermakna bahwa
wilayah Bali hanyalah untuk orang yang beragama Hindu dan yang beragama lain tidak boleh
datang karena tidak boleh menjalankan perintah agamanya di tempat umum. Tindakan ini
adalah tindakan berlebihan yang dilakukan oleh pribadi dan oknum tertentu dalam negara
yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Bahkan di negara-negara yang bukan
berpenduduk muslim masyarakat bisa mengenakan jilbab dan hijab tanpa harus mengalami
pelarangan.

Ummat Hindu di bali selayaknya bersyukur hidup dalam negara Indonesia yang
mayoritas beragama Islam karena hak beribadahnya dijamin. Dalam menjalankan ibadah
agama Hindu bahkan propinsi bali memaksakan semua warga di propinsi dan untuk
mengikuti aturan ibadah seperti Nyepi karena semua layanan publik dihentikan karena
adanya hari Nyepi. Bisa dibayangkan jika penduduk muslim negeri ini meminta semua
layanan restoran dan rumah makan untuk wajib tutup dan bisa dipidana jika membuka
restoran selama bulan puasa karena menggunakan analogi yang sama dengan hari Nyepi. PT
Matahari Putra Prima sebagai perusahaan yang menaungi Hypermart selayaknya menolak
permintaan dari The Hindu Center of Indonesia karena jelas membatasi hak karyawan untuk
melakukan perintah agamanya.
Bali tak akan berkurang keindahannya karena adanya orang yang berjilbab dan
berhijab, dan agama Hindu tak akan tercemar karena dalam komunitasnya ada warga
beragama lain.Tindakan ini bisa memicu tindakan pembalasan dan bisa mengancam integrasi
bangsa ini. Jika The Hindu Center berpikir bahwa Bali hanya untuk orang Bali dan beragama
Hindu, maka wilayah lain dengan mayoritas agama berbeda bisa memaksakan bahwa
propinsinya hanya untuk agama yang sama.

Jika ini terjadi maka pecahlah negeri ini, tindakan pelarangan jilbab adalah tindakan
bermotif SARA karena karyawan/siswa mendapatkan tindakan pemberhentian semata karena
agama atau menjalankan agamanya, bukan karena kemampuan, skill, dan prestasi kerjanya.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Identitas nasional merupakan identitas yang melekat pada kelompok-


kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik fisik seperti
budaya, agama dan bahasa maupun non fisik seperti keinginan, cita-cita dan tujuan.
Identitas sendiri adalah ciri-ciri, tanda-tanda, jati diri yang melekat pada seseorang
atau sesuatu yang bisa membedakannya.
Perlu dikemukakan bahwa nilai-nilai budaya yang tercermin sebagai identitas
nasional tadi bukanlah barang jadi yang sudah selesai dalam kebekuan normatif dan
dogmatif, melainkan sesuatu terbuka cenderung terus-menerus sejalan dengan hasrat
menuju kemajuan yang dimiliki oleh masyarakat pendukungnya. Konsekuensi dan
implikasinya adalah identitas nasional juga sesuatu yang terbuka, dinamis, dan
dialektis untuk ditafsir dengan diberi makna baru agar tetap relevan dan fungsional
dalam kondisi aktual yang berkembang dalam masyarakat.

B. SARAN

Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini banyak sekali kekurangan


yang ditemukan, maka diperlukan lah masukan dan saran yang membangun dari
berbagai pihak. Kami sangat menerima apabila terdapat masukan dan saran yang
disampaikan kepada kami terkait hal apapun dalam materi. Masukan dan saran
tersebut akan membuat kami belajar dan memperbaiki kesalahan kami sehingga
tercipta makalah yang nantinya bisa menjadi referensi buat banyak pihak
DAFTAR PUSTAKA

https://dosensosiologi.com/identitas-nasional/

https://salamadian.com/pengertian-identitas-nasional-indonesia/

Sulisworo, Dwi dkk. 2012. Identitas Nasional. Yogyakarta: Hibah Materi Pembelajaran Non
Konvensional

Buku Ajar Pendidikan Kewarganegaraan (cetakan 1 2016_Ristekdikti)