Anda di halaman 1dari 26

Komunikasi Multikultur

Makalah Tentang Etnosentrisme & Prasangka

M NUR ADESTIANSYAH 1810414610018

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya. Sehingga Penulis dapat menyelesaikan makalah tentang “ Etnosentrisme &
Prasangka ”. Penyusunan makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Komunikasi
Multikultur . Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
yang telah membantu Penulis dalam menyusun makalah ini. Penulis juga berharap semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Dengan segala kerendahan hati, kritik dan saran
yang konstruktif sangat Penulis harapkan dari pembaca guna meningkatkan dan mempernbaiki
pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.

Banjarmasin, 18 Maret 2020

Muhammad Nur Adestiansyah

i
DAFTAR ISI

Cover

Kata Pengantar …………………………………………………………………………. I

Daftar isi ………………………………………………………………………………..II

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang ……………………………………………………………………,...1

Rumusan Masalah ……………………………………………...……………..……,.1

Tujuan Penelitian. ……………………………………………...……………..……,.1

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Etnosentrism & Prasangka ……………………………………………....2

Karakteristik Etnosentrism & Ciri - Ciri Prasangka…………………………............4

Terjadinya Etnosentrisme & Penyebab Terjadinya Prasangka………………………9

Menghindari Etnosentrisme & Mengatasi Prasangka………………………..……..15

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan…………………. ……………………………………………………..20

Saran………………………………. ……………………………………………....22

Daftar Pustaka

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang 


Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk karena terdiri atas berbagai suku
bangsa,adat istiadat, bahasa daerah,serta agama yang berbeda beda. Keanekaragaman tersebut
terdapat di berbagai wilayah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Setiap suku bangsa di
Indonesia mempunyai kebiasaan hidup yang berbeda beda. Kebiasaan hidup itu menjadi budaya
serta ciri khas suku bangsa tertentu.Keragaman tersebut di satu sisi, kita mengakuinya sebagai
khazanah  budaya yang bernilai tinggi. Akan tetapi di sisi lain,ketika dua karakter sosial dan
budaya  bertemu, membuat mereka benar-benar menjadi dua suku berbeda, seperti air dan
minyak, Banyak pihak juga yang menilai bahwa masyarakat Indonesia saat ini merupakan
masyarakat yang senang menduga-duga atau berprasangka.Penilaian itu tentu bukan tanpa
dasar.Saat ini masyarakat Indonesia memiliki kecurigaan yang akut terhadap segala sesuatu yang
berbeda atau dikenal dengan istilah heterophobia. Segala sesuatu yang baru dan berbeda dari
umumnya orang akan ditanggapi dengan penuh kecurigaan termasuk antar suku atau etnis.
Kehadiran anggota kelompok yang berbeda apalagi berlawanan akan dicurigai membawa misi-
misiyang mengancam.

B.     Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas maka penulis menetapkan beberapa
rumusan masalah yang akan dipaparkan :

1. Apa yang dimaksud dengan etnosentrisme ?


2. Apa yang dimaksud dengan prasangka ?

C.    Tujuan Masalah


Berdasarkan uraian rumusan masalah yang sudah dipaparkan diatas, maka tujuan dari
penulisan makalah ini adalah :

1. Untuk memenuhi tugas Komunikasi Multikultur


2. Untuk mengetahui Etnosentrisme dan Prasangka

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Etnosentrism & Prasangka


2.1.1 Pengertian Etnosentrisme
Adanya perbedaan budaya dari masing-masing daerah bahkan negara. Perbedaan cara
pandang dan pendapat terhadap budaya yang dimiliki atau diakui dapat menunjukan perilaku
etnosentrisme. Etnosentrisme terdapat dalam beberapa bahasa yaitu arti kata “Cina” dalam bahsa
Cina sebetulnya bermakna “pusat dunia” dan suku Navajo, Kiowa dan Inuit menyebut diri
mereka sendiri sebagai “The people”.
perilaku etnosentrisme merupakan sikap/ perilaku yang menggunakan pandangan dan
cara hidup dari sudut pandangnya sebagai tolak ukur untuk menilai budaya lain atau kelompok
lain. Selain itu etnosentrisme dapat didefinisikan sebagai kepercayaan yang sangat tinggi
terhadap budayanya sendiri dan menganggap tidak nyaman dengan budaya lain sehingga lebih
memandang rendah terhadap budaya lain.
Contoh adanya perilaku etnosentrisme, misalnya saja suatu daerah mempunyai budaya
untuk memakan daging kuda mentah. Hal ini mendapat cara pandang yang berbeda dari berbagai
kalangan. Ada yang berpendapat bahwa memakan daging kuda mentah adalah hal yang biadab
dan tidak normal. Tetapi mungkin saja ada yang memiliki pandangan bahwa memakan daging
kuda mentah adalah biasa dan tidak sebanding dengan meletakkan orang tua di panti jompo. Dari
contoh diatas maka Nanda dan Warms (dalam Larry, 2010) menjelaskan bahwa etnosentrisme
merupakan pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul dibandingkan budaya yang lain.
Pandangan bahwa budaya lain dinilai berdasarkan standart budaya kita.

2
2.1.2 Pengertian Prasangka

Baron dan Byrne (1982) menyatakan bahwa prasangka ialah suatu sikap negative
terhadap para anggota kelompok tertentu, yang semata-mata didasarkan pada keanggotaannya di
kelompok itu. Prasangka sering diartikan sebagai sikap atau perilaku negatif terhadap suatu
kelompok atau anggota suatu kelompok (Nelson, 2009). Dua implikasi yang menyertai apabila
prasangka didefinisikan sebagai suatu sikap. Pertama, sikap adalah fungsi dari skema (kerangka
berpikir untuk mengorganisasi, menginterpretasi, dan mengambil informasi. Oleh sebab itu
individu yang berprasangka terhadap kelompok-kelompok tertentu akan memproses informasi
tentang kelompok tersebut berbeda bila dibandingkan memproses informasi kelompok lain.
Kedua, prasangka sebagai suatu sikap melibatkan perasaan negative atau emosi yang ditujukan
kepada seseorang atau kelompok yang diprasangkai. Anggota kelompok luar diasumsikan
memiliki lebih bayak ciri sifat yang tidak diinginkan, dipersepsi lebih mirip satu sama lain (lebih
homogen) dibanding para anggota kelompok sendiri, dan seringkali tidak disukai.

3
2.2 Karakteristik Etnosentrism & Ciri - Ciri Prasangka
2.2.1 Karakteristik Etnosentrism
Karakteristik dalam etnosentrisme dikemukakan oleh beberapa tokoh, antara lain sebagai
berikut:
Menurut Larry, dkk (2010) terdapat tiga tingkatan dalam etnosentrisme, yaitu:
1. Positif, merupakan kepercayaan bahwa paling tidak bagi Anda, budaya Anda lebih baik
dari yang lain. Hal ini alami dan kepercayaan Anda berasal dari budaya asli Anda.
2. Negatif, Anda mengevaluasi secara sebagian. Anda percaya bahwa budaya Anda
merupakan pusat dari segalanya dan budaya lain harus dinilai dan diukur berdasarkan
standar budaya Anda. Menurut Triandis, “kita melihat kebiasaan kelompok sebagai hal
yang benar. Kita langsung berpikir bahwa peranan dan nilai-nilai dalam kelompok
benar”.
3. Sangat Negatif, bagi Anda tidak cukup hanya menganggap budaya Anda sebagai yang
paling benar dan bermanfaat, Anda juga menganggap budaya Anda sebagai yang paling
berkuasa dan Anda percaya bahwa nilai dan kepercayaan Anda harus diadopsi oleh orang
lain.
Etnosentrisme semuanya terletak pada identitas sosial yang mendasar: kami. Sesaat sesudah
orang-orang menciptakan kategori yang disebut “kami”, mereka mempersepsikan semua orang
lain sebagai “bukan kami”. Solidaritas dalam kelompok ini dapat tercipta dalam waktu satu
menit dalam laboratorium, sebagaimana ditunjukkan oleh Henri Tajfel dan rekan-rekannya
(1971) dalam sebuah eksperimen di sekolah khusus lelaki di Inggris. Tajfel menunjukkan kepada
anak-anak lelaki ini berbagai potongan gambar, masing-masing memiliki sejumlah titik yang
beraneka ragam dan meminta anak-anak ini untuk menebak beberapa jumlah semua titik dalam
potongan gambar tersebut. Anak-anak ini dengan acak dikelompokkan sebagai “overestimators”
ataupun “underestimators” dan mereka kemudian diminta untuk mengerjakan tugas lainnya.
Dalam tahap ini, mereka diberikan kesempatan menilai anak-anak lain yang diidentifikasikan
sebagai “overestimators” ataupun “underestimators”. Walaupun setiap anak bekerja sendiri
dalam ruangnya masing-masing, setiap anak memberikan nilai yang lebih tinggi pada anak-anak
yang dianggap mirip dengannya, entah itu seorang yang “overestimators” ataupun
“underestimators”. Ketika anak-anak ini keluar dari ruangannya masing-masing dan ditanyai,

4
“Termasuk yang manakah dirimu?” dan jawaban yang diberikan disebut dengan sorak gembira
atau cemooh dari anak-anak lainnya.
Identitas sosial kita-mereka diperkuat ketika kedua kelompok berkompetisi satu dengan yang
lainnya. Bertahun-tahun yang lalu. Muzafer Sherif dan rekan-rekannya menggunakan sebuah
situasi alamiah, yaitu lokasi perkemahan pramuka yang dikenal sebagai Robbers Cave, untuk
menunjukkan pengaruh kompetisi pada perilaku kasar dan konflik antar kelompok (Sherif, 1958,
Sherif dkk 1961). Sherif menempatkan secara acak anak-anak usia 11 dan 12 tahun ke dalam dua
kelompok, kelompok Elang dan kelompok Ular. Untuk membangun perasaan sebagai sebuah
kelompok, serta membentuk identitas dalam kelompok dan semangat tim, setiap kelompok di
minta bekerja sama dalam kegiatan seperti membuat jembatan dari tali-temali dan membangun
sebuah papan untuk menyelam. Sherif kemudian menempatkan kelompok Elang dan Ular dalam
sebuah kompetisi untuk mendapatkan hadiah. Selama permainan bola, baseball, dan tug-of-war
yang sengit, anak-anak ini kemudian menciptakan atmosfer kompetisi yang segera menyelimuti
lapangan permainan. Mereka mulai masuk ke daerah lawan dan mengacak-acak tempat
penympanan mereka. Tidak butuh waktu yang lama untuk membuat kelompok ular dan
kelompok Elang menjadi orang-orang yang agresif terhadap kelompok lawan, seperti halnya dua
geng yang berkelahi untuk mendapatkan suatu wilayah, atau dua bangsa yang bertarung untuk
memperoleh dominasi. Agresivitas dan perilaku kasar ini berlanjut ketika mereka hanya duduk
dan menonton film bersama.
Kemudian Sherif memutuskan untuk menghilangkan pertikaian yang dia ciptakan dan
membuat perdamaian antara kedua kelompok. Dia dan para rekannya membuat sejumlah
rangkaian situasi di mana kedua kelompok perlu bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan-
menggabungkan seluruh sumber daya untuk dapat menonton film yang ingin mereka lihat,
sebagai contohnya, atau dengan menarik sebuah truk milik staf hingga ke bukit tempat
perkemahan. Kebijakan untuk saling bergantung dalam mencapai tujuan bersama sangat sukses
dalam mengurangi “etnosentrisme”, tingkat kompetisi, dan perilaku kasar mereka; masing-
masing anak kemudian menjadi teman dengan anak-anak yang semula adalah “musuh mereka”.
Saling tergantungan memiliki dampak seruupa pada orang dewasa dan kelompoknya. Alasannya
tampaknya karena kerja sama menyebabkan seseorang berpikir bahwa mereka sendiri merupakan
anggota dari suatu kelompok besar dan bukan lagi dua kelompok yang saling bertentangan,
“kami” dan “mereka”.

5
Dari bacaan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik lain yang terdapat
pada etnosentrisme (dalam wede carole, dkk. 2008) antara lain sebagai berikut:
1. Etnosentris terletak pada identitas sosial yang mendasar. Hal ini mengarah pada kata “kami”,
setelah mengenal kata tersebut, para etnosentris mempresepsikan semua orang lain “bukan
kami”.
2. Solidaritas dalam kelompok dapat tercipta lebih cepat, etnosentris menyukai orang lain yang
hampir sama dengan dirinya dan budayanya.
3. Menciptakan “kerja sama” bagi orang yang berpandangan etnosentris dapat merubah makna
kata “kami” dan “mereka”.
4. Budaya yang mengadopsi perilaku/ sikap etnosentrisme dapat menciptakan permusuhan
dengan cepat antara dua kelompok yang berbeda yaitu melalui adanya perebutan dalam hal
tertentu (identitas sosial menjadi lebih kuat)

6
2.2.2 Ciri - Ciri Prasangka
Ciri-ciri prasangka menurut Brigham (1991) dapat dilihat dari kecenderungan individu
untuk membuat kategori sosial (social categorization). Kategori sosial adalah kecenderungan
untuk membagii dunia sosial menjadi dua kelompok, yaitu“kelompok kita” ( in group ) dan
“kelompok mereka” (out group). In group adalah kelompok sosial di mana individu merasa
dirinya dimiliki atau memiliki (“kelompok kami”). Sedangkan out group adalah grup di luar grup
sendiri (“kelompok mereka”). Timbulnya prasangka sosial dapat dilihat dari perasaanin group
dan out group yang menguat.
Ciri-ciri dari prasangka sosial berdasarkan penguatan perasaan in group dan out group adalah:

1. Proses Generalisasi Terhadap Perbuatan Anggota Kelompok Lain

Menurut Ancok dan Suroso (1995), jika ada salah seorang individu dari kelompok luar berbuat
negatif, maka akan digeneralisasikan pada semua anggota kelompok luar. Sedangkan jika ada
salah seorang individu yang berbuat negatif dari kelompok sendiri, maka perbuatan negaitf
tersebut tidak akan digeneralisasikan pada anggota kelompok sendiri lainnya.

2. Kompetisi Sosial

Kompetisi sosial merupakan suatu cara yang digunakan oleh anggota kelompok untuk
meningkatkan harga dirinya dengan membandingkan kelompoknya dengan kelompok lain dan
menganggap kelompok sendiri lebih baik daripada kelompok lain.

3. Penilaian ekstrem terhadap anggota kelompok lain

Individu melakukan penilaian terhadap anggota kelompok lain baik penilaian positif ataupun
negatif secara berlebihan. Biasanya penilaian yang diberikan berupa penilaian negatif.

4. Pengaruh Persepsi Selektif dan Ingatan Masa Lalu

Pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu biasanya dikaitkan dengan stereotipe. Stereotipe
adalah keyakinan (belief ) yang menghubungkan sekelompok individu dengan ciri-ciri sifat
tertentu atau anggapan tentang ciri-ciri yang dimiliki oleh anggota kelompok luar. Jadi,
stereotipe adalah prakonsepsi ide mengenai kelompok, suatu image yang pada umumnya sangat
sederhana, kaku, dan klise serta tidak akurat yang biasanya timbul karena proses generalisasi.

7
Sehingga apabila ada seorang individu memiliki stereotype yang relevan dengan individu yang
mempersepsikannya, maka akan langsung dipersepsikan secara negatif.

5. Perasaan Frustasi (scope goating)

Menurut Brigham (1991), perasaan frustasi (scope goating) adalah rasa frustasi seseorang
sehingga membutuhkan pelampiasan sebagai objek atas ketidakmampuannya menghadapi
kegagalan. Kekecewaan akibat persaingan antar masing-masing individu dan kelompok
menjadikan seseorang mencari pengganti untuk mengekspresikan frustasinya kepada objek lain.
Objek lain tersebut biasanya memiliki kekuatan yang lebih rendah dibandingkan dengan dirinya
sehingga membuat individu mudah berprasangka

6. Agresi Antar Kelompok

Agresi biasanya timbul akibat cara berpikir yang rasialis, sehingga menyebabkan seseorang
cenderung berperilaku agresif.

7. Dogmatisme

Dogmatisme adalah sekumpulan kepercayaan yang dianut seseorang berkaitan dengan masalah
tertentu, salah satunya adalah mengenai kelompok lain. Bentuk dogmatisme dapat berupa
etnosentrisme dan favoritisme. Etnosentrisme adalah paham atau kepercayaan yang
menempatkan kelompok sendiri sebagai pusat segala-galanya. Sedangkan, favoritisme adalah
pandangan atau kepercayaan individu yang menempatkan kelompok sendiri sebagai yang
terbaik, paling benar, dan paling bermoral.

8
2.3 Terjadinya Etnosentrisme & Penyebab Terjadinya Prasangka
2.3.1 Terjadinya Etnosentrisme
Etnosentrisme terjadi jika masing-masing budaya bersikukuh dengan identitasnya,
menolak bercampur dengan kebudayaan lain. Porter dan Samovar mendefinisikan etnosentrisme
seraya menuturkan, “Sumber utama perbedaan budaya dalam sikap adalah etnosentrisme, yaitu
kecenderungan memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan kelompok kita
sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk penilaian. Makin besar kesamaan kita
dengan mereka, makin dekat mereka dengan kita; makin besar ketidaksamaan, makin jauh
mereka dari kita. Kita cenderung melihat kelompok kita, negeri kita, budaya kita sendiri, sebagai
yang paling baik, sebagai yang paling bermoral.”
Etnosentrisme membuat kebudayaan kita sebagai patokan untuk mengukur baik-buruknya
kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan budaya kita. Ini dinyatakaan dalam
ungkapan : “orang-orang terpilih”, “progresif”, “ras yang unggul”, dan sebagainya. Biasanya kita
cepat mengenali sifat etnosentris pada orang lain dan lambat mengenalinya pada diri sendiri.
Sebagian besar, meskipun tidak semuanya, kelompok dalam suatu masyarakat bersifat
etnosentrisme. Semua kelompok merangsang pertumbuhan etnosentrisme, tetapi tidak semua
anggota kelompok sama etnosentris. Sebagian dari kita adalah sangat etnosentris untuk
mengimbangi kekurangan-kekurangan kita sendiri. Kadang-kadang dipercaya bahwa ilmu sosial
telah membentuk kaitan erat antara pola kepribadian dan etnosentrisme. Kecenderungan
etnosentrisme berkaitan erat dengan kemampuan belajar dan berprestasi.
Dalam buku The Authoritarian Personality, Adorno (1950) menemukan bahwa orang-
orang etnosentris cenderung kurang terpelajar, kurang bergaul, dan pemeluk agama yang fanatik.
Dalam pendekatan ini, etnosentrisme didefinisikan terutama sebagai kesetiaan yang kuat dan
tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri disertai prasangka terhadap kelompok etnis
dan bangsa lain. Yang artinya orang yang etnosentris susah berasimilasi dengan bangsa lain,
bahkan dalam proses belajar-mengajar. Etnosentrisme akan terus marak apabila pemiliknya tidak
mampu melihat human encounter sebagai peluang untuk saling belajar dan meningkatkan
kecerdasan, yang selanjutnya bermuara pada prestasi. Sebaliknya, kelompok etnis yang mampu
menggunakan perjumpaan mereka dengan kelompok-kelompok lain dengan sebaik-baiknya, di
mana pun tempat terjadinya, justru akan makin meninggalkan etnosentrisme. Kelompok
semacam itu mampu berprestasi dan menatap masa depan dengan cerah.

9
Etnosentrisme mungkin memiliki daya tarik karena faham tersebut mengukuhkan kembali
“keanggotaan” seseorang dalam kelompok sambil memberikan penjelasan sederhana yang cukup
menyenangkan tentang gejala sosial yang pelik. Kalangan kolot, yang terasing dari masyarakat,
yang kurang berpendidikan, dan yang secara politis konservatif bisa saja bersikap etnosentris,
tetapi juga kaum muda, kaum yang berpendidikan baik, yang bepergian jauh, yang berhaluan
politik “kiri” dan yang kaya [Ray, 1971; Wilson et al, 1976]. Masih dapat diperdebatkan apakah
ada suatu variasi yang signifikan, berdasarkan latar belakang sosial atau jenis kepribadian, dalam
kadar etnosentris seseorang

10
2.3.2 Penyebab Terjadinya Prasangka

Sumber penyebab prasangka secara umum dapat dilihat berdasarkan tiga pandangan,
yaitu:

1. Prasangka Sosial

Sumber prasangka sosial, antara lain:

a) Ketidaksetaraan Sosial

Ketidaksetaraan sosial ini dapat berasal dari ketidaksetaraan status dan prasangka serta agama
dan prasangka. Ketidaksetaraan status dan prasangka merupakan kesenjangan atau perbedaan
yang mengiring ke arah prasangka negatif. Sebagai contoh, seorang majikan yang memandang
budak sebagai individu yang malas, tidak bertanggung jawab, kurang berambisi, dan sebagainya,
karena secara umum ciri-ciri tersebut ditetapkan untuk para budak. Agama juga masih menjadi
salah satu sumber prasangka. Sebagai contoh kita menganggap agama yang orang lain anut itu
tidak sebaik agama yang kita anut.

b) Identitas Sosial

Identitas sosial merupakan bagian untuk menjawab “siapa aku?” yang dapat dijawab bila kita
memiliki keanggotaan dalam sebuah kelompok. Kita megidentifikasikan diri kita dengan
kelompok tertentu (in group), sedangkan ketika kita dengan kelompok lain kita cenderung untuk
memuji kebaikan kelompok kita sendiri.

c) Konformitas

Konformitas juga merupakan salah satu sumber prasangka sosial. Menurut penelitian bahwa
orang yang berkonformitas memiliki tingkat prasangka lebih tinggi dibandingkan dengan yang
tidak berkonformitas

11
2. Prasangka secara Emosional

Prasangka secara Emosional sering kali timbul dipicu oleh situasi sosial, pada hal faktor emosi
juga dapat memicu prasangka sosial. Secara emosional, prasangka dapat dipicu oleh frustasi dan
agresi, kepribadian yang dinamis, dan kepribadian otoriter.

a) Frustasi dan Agresi Rasa sakit sering membangkitkan pertikaian

Salah satu sumber frustasi adalah adanya kompetisi. Ketika dua kelompok bersaing untuk
memperebutkan sesuatu, misalnya pekerjaan, rumah, dan derajat sosial, pencapaian goal salah
satu pihak dapat menjadikan frustasi bagi pihak yang lain.

b) Kepribadian yang dinamis Status

Untuk dapat merasakan diri kita memiliki status, kita memerlukan adanya orang yang memiliki
status dibawah kita. Salah satu kelebihan psikologi tentang prasangka adalah adanya sistem
status, yaitu perasaan superior. Contohnya adalah ketika kita mendapatkan nilai terbaik dikelas,
kita merasa menang dan dianggap memiliki status yang lebih baik.

c) Kepribadian Otoriter

Emosi yang ikut berkontribusi terhadap prasangka adalah kepribadian diri yang otoriter. Sebagai
contoh, pada studi orang dewasa di Amerika, Theodor Adorno dan kawan-kawan (1950)
menemukan bahwa pertikaian terhadap kaum Yahudi sering terjadi berdampingan dengan
pertikaian terhadap kaum minoritas.

12
3. Prasangka Kognitif

Memahami stereotipe dan prasangka akan membantu memahami bagimana otak bekerja.
Selama sepuluh tahun terakhir, pemikiran sosial mengenai prasangka adalah kepercayaan yang
telah distereotipekan dan sikap prasangka timbul tidak hanya karena pengkondisian sosial,
sehingga mampu menimbulkan pertikaian,akan tetapi juga merupakan hasil dari proses
pemikiran yang normal. Sumber prasangka kognitif dapat dilihat dari kategorisasi dan simulasi
distinktif. Kategorisasi merupakan salah satu cara untuk menyedehanakan lingkungan kita, yaitu
dengan mengkelompokkan objek-objek berdasarkan kategorinya. Biasanya individu
dikategorikan berdasarkan jenis kelamin dan etnik. Sebagai contoh, Tom (45 tahun), orang yang
memiliki darah Afrika-Amerika. Dia merupakan seorang agen real estat di Irlandia Baru. Kita
memiliki gambaran dirinya adalah seorang pria yang memiliki kulit hitam, daripada kita
menggambarkannya sebagai pria berusia paruh baya, seorang bisnisman, atau penduduk bagian
selatan. Berbagai penelitian mengekspos kategori orang secara spontan terhadap perbedaan ras
yang menonjol. Selain menggunakan kategorisasi sebagai cara untuk merasakan dan mengamati
dunia, kita juga akan menggunakan stereotipe.

Seringkali orang yang berbeda, mencolok, dan terlalu ekstrem dijadikan perhatian dan
mendapatkan perlakuan yang kurang ajar. Berdasarkan pada perspektif tersebut, sumber utama
penyebab timbulnya prasangka adalah faktor individu dan sosial. Menurut Blumer, (dalam
Zanden, 1984) salah satu penyebab terjadinya prasangka sosial adalah adanya perasaan berbeda
dengan kelompok lain atau orang lain misalnya antara kelompok mayoritas dan kelompok
minoritas. Berkaitan dengan kelompok mayoritas dan minoritas tersebut di atas Mar’at,(1988)
menguraikan bahwa prasangka sosial banyak ditimbulkan oleh beberapa hal sebagai berikut:

1. Kekuasaan faktual yang terlihat dalam hubungan kelompok mayoritas dan minoritas.
2. Fakta akan perlakuan terhadap kelompok mayoritas dan minoritas.
3. Fakta mengenai kesempatan usaha antara kelompok mayoritas dan minoritas. Fakta
mengenai unsur geografik, di mana keluarga kelompok mayoritas dan minoritas
menduduki daerah-daerah tertentu.
4. Posisi dan peranan dari sosial ekonomi yang pada umumnya dikuasai kelompok
mayoritas

13
5. Potensi energi eksistensi dari kelompok minoritas dalam mempertahankan hidupnya

Prasangka sosial terhadap kelompok tertentu bukanlah suatu tanggapan yangdibawa sejak
lahir tetapi merupakan sesuatu yang dipelajari. Menurut Kossen(1986) seseorang akan belajar
dari orang lain atau kelompok tertentu yang menggunakan jalan pintas mental prasangka. Jadi,
seseorang memiliki prasangka terhadap orang lain karena terjadinya proses belajar

14
2.4 Menghindari Etnosentrisme & Mengatasi Prasangka

2.4.1 Menghindari Etnosentrisme

Untuk menghindari persepsi dan perilaku etnosentris bukanlah hal yang mudah, berikut
beberapa saran untuk mengurangi akibat negatif dari sifat etnosentris:

1)      Cobalah Menghindari Dogmatisme.


Anda dapat memulainya dengan memikirkan pertanyaan berikut ini:
a. Orang Yahudi menutup kepala mereka ketika berdoa, namun tidak demikian dengan
orang Protestan. Apakah seseorang melakukan yang lebih benar dari yang lainnya?
b. Umat katolik memiliki satu Tuhan, umat Budha tidak memiliki Tuhan, dan umat Hindu
memiliki banyak Tuhan. Apakah kepercayaan yang satu lebih benar dari kepercayaan
yang lainnya?
c. Di beberapa bagian Iran dan Arab Saudi, perempuan menutup muka mereka dengan
cadar, sedangkan perempuan di Amerika Serikat tidak. Apakah satu perilaku lebih benar
dari yang lainnya?
d. Di Cina, orang makan dengan sumpit, sedangkan di Amerika Serikat orang makan
dengan peralatan makan dari metal atau plastik. Apakah suatu metode lebih benar dari
yang lainnya?
Pertanyaan seperti di atas tidak terhingga. Menurut Larry, dkk (2010) bahwa bukan
pertanyaan-pertanyaan ini yang penting, namun sikap dogmatis orang dalam menjawabnya.
Bahaya etnosentrisme lebih besar dalam bidang politik, moral, dan agama. Dalam konteks
tersebut, mudah untuk membiarkan pandangan yang terbatas mengalahkan rasional. Waspada
terhadap segala bentuk ketidaktoleransian. St. Thomas Aquinas mengatakan hal yang sama
ratusan tahun yang lalu, “berhati-hatilah terhadap seseorang dengan satu buku”.

15
2)  Belajar untuk memiliki pandangan yang terbuka.
Triandis menjelaskan, “ketika kita membuat penilaian komparatif bahwa budaya kita lebih
unggul dibandingkan yang lainnya, kita belajar untuk mengikuti penilaian ini dengan dua
pertanyaan: “apakah hal ini benar? Apakah bukti objektifnya?”. Menurut Triandis, mengenal
keberagaman budaya dengan mengetahui “kebenaran” budaya yang lain. Kurang pengetahuan
merupakan penyebab utama etnosentrisme

16
2.4.2 Mengatasi Prasangka

Pettigrew dan Tropp (dalam Aronson, 2007) mengatakan bahwa kontak antar ras merupakan hal
yang baik. Dalam kenyataannya, kontak tidak selalu dapat mengurangi prasangka. Berdasarkan
penelitian dan eksperimen yang dilakukan oleh Sherif, dkk (1961) terhadap kamp anak laki-laki,
di mana dua kubu (EaKles dan Rattlers) saling bersaing, terdapat enam kondisi dalam kontak
yang dapat mengurangi prasangka: Peneliti menempatkan dua kubu yang bersaing dalam suatu
keadaan yang membuat mereka saling tergantung satu sama lain (mutual interdependence)
(Kondisi pertama) untuk mencapai tujuan tertentu (Kondisi kedua). Contohnya, peneliti
membuat sebuah keadaan darurat dengan merusak sistem suplai air. Satu-satunya cara untlik
menyelesaikan masalah ini adalah dengan bersatunya Eagles dan Rattlers.

Kondisi ketiga, ketika status individu berbeda, interaksi atau kontak dapat berujung pada
pola stereotype yang ada, seperti ketika bos berbicara pada pegawainya, maka sang bos akan
berperilaku sesuai stereotip umum mengenai bos. Pada intinya, kontak seharusnya membuat
orang belajar bahwa stereotype (khususnya stereotype negatif) mereka salah. Dengan kesetaraan
status antar individu. tidak ada yang lebih berkuasa dibandingkan siapapun, dan prejudice pun
dapat tereduksi (berkurang). Kondisi keempat, menempatkan dua kelompok yang berbeda dalam
satu ruangan tidak dapat dengan mudah mengurangi prejudice karena masing-masing individu
akan tetap terfokus pada kelompoknya. Individu dapat lebih mengenal dan memahami individu
lainnya jika berada dalam keadaan one-to-one basis, dimana interaksi yang dilakukan lebih
bersifat interpersonal.
Melalui interaksi bersahabat dan informal dengan beberapa anggota out-group, individu
dapat lebih memahami bahwa stereotip yang dipercayainya ternyata salah.
Kondisi kelima, melalui persahabatan, interaksi informal dengan berbagai anggota (multiple
members) out-group, seorang individu akan belajar bahwa keyakinan-nya tentang out-group
adalah salah. Kondisi keenam, adanya norma yang mempromosikan dan mendukung kesetaraan
di antara kelompok (Amir, 1969; Wilder, 1984). Norma sosial yang kuat, dapat dimanfaatkan
untuk memotivasi orang untuk menjangkau anggota kelompok luar. Sebagai contoh, jika bos
atau profesor menciptakan dan memperkuat norma penerimaan dan toleransi di tempat kerja atau
di dalam kelas, anggota kelompok akan mengubah perilaku mereka agar sesuai norma tersebut.

17
Berdasarkan paparan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan upaya-upaya untuk
mengurangi prasangka sosial adalah dengan melakukan pendidikan dari ruang lingkup keluarga,
pengetahuan yang dikemukakan secara objektif di sekolah-sekolah, menjauhkan orang/anak dari
orang yang sudah memiliki prasangka sosial, media massa berperan secara aktif dan memberikan
pengertian serta penjelasan secara gamblang akan kerugian-kerugian prasangka sosial kepada
masyarakat secara keseluruhan.
Untuk mengukur sikap rasial implicit, ada 2 teknik yang bisa digunakan:

1. The Bogus Pipeline untuk mengukur sikap yang eksplisit. Dalam prosedurnya,partisipan
diberitahu bahwa alat yang ditunjukkan dapat meenyingkap sikap mereka yang
sebenarnya dengan mengukur reaksi fisik. Jika partisipan percaya penjelasan ini, mereka
tidak memiliki alasan untuk berusaha menutup-nutupi pandangan mereka yang
sebenarnya; lagipula hal ini akan ditunjukkan oleh alat tersebut. The bogus pipeline dapat
digunakan untuk menyingkap sikap seseorang yang secara normal mereka
sangkal/sembunyikan.
2. The Bona Fide Pipeline sebuah teknik menggunakan priming untuk mengukur sikap
rasial implicit. Tahap pertama, partisipan melihat berbagai kata sifat dan diminta untuk
mengindikasikan apakah mereka memiliki arti “baik” atau “buruk” dengan menekan
salah satu dari kedua tombol. Tahap kedua, partisipan melihat foto orang yang termasuk
dalam berbagai kelompok etnis atau rasial. Tahap ketiga, sekali lagi mereka diminta
melihat foto dan diminta untuk mengindikasikan apakah mereka telah melihat atau belum
pernah melihat sebelumnya tiap foto tersebut satu persatu. Tahap keempat—tahap yang
melibatkan priming—partisipan sekali lagi diminta untuk mengindikasikan apakah kata-
kata sifat tersebut memiliki arti “baik” atau “buruk”. Namun, sebelum melihat setiap kata
sifat tersebut mereka secara cepat dihadapkan padda wajah dari orang-orang yang
termasuk dalam berbagai kelompok rasial. Sikap rasial implicit akan tersingkap oleh
seberapa cepat partisipan berespons pada kata-kata itu.

18
Berikut berbagai cara untuk mengatasi prasangka:

 Memutuskan siklus prasangka: belajar tidak membenci karena dapat membahayakan diri
sendiri dan orang lain. Dengan cara mencegah orang tua dan orang dewasa lainnya untuk
melatih anak menjadi fanatic.
 Berinteraksi langsung dengan kelompok berbeda: i) contact hypothesis—pandangan
bahwa peningkatan kontak antara anggota dari berbagai kelompok sosial dapat efektif
mengurangi prasangka diantara mereka. Usaha-usaha tersebut tampaknya berhasil hanya
ketika kontak tersebut terjadi di bawah kondisi-kondisi tertentu. ii) extended contact
hypothesis—sebuah pandangan yang menyatakan bahwa hanya dengan mengetahui
bahwa anggota kelompoknya sendiri telah membentuk persahabatan dengan anggota
kelompok out-group dapat mengurangi prasangka terhadap kelompok tersebut.
 Kategorisasi ulang batas antara “kita” dan “mereka” hasil dari kategorisasi ulang ini,
orang yang sebelumnya dipandang sebagai anggota out-group sekarang dapat dipandang
sebagai bagian dari in-group.
 Intervensi kognitif: memotivasi orang lain untuk tidak berprasangka, pelatihan (belajar
untuk mengatakan “tidak” pada stereotype).
 Pengaruh social untuk mengurangi prasangka

19
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Prasangka adalah penilaian terhadap kelompok atau seorang individu yang terutama
didasarkan pada keanggotaan kelompok tersebut, artinya prasangka sosial ditujukan pada orang
atau kelompok orang yang berbeda dengannya atau kelompoknya. Prasangka sosial memiliki
kualitas suka dan tidak suka pada obyek yang diprasangkainya, dan kondisi ini akan
mempengaruhi tindakan atau perilaku seseorang yang berprasangka tersebut.

Ciri-ciri prasangka sosial menurut Brigham (1991) dapat dilihat dari kecenderungan individu
untuk membuat kategori sosial (social categorization). Kategori sosial adalah kecenderungan
untuk membagi dunia sosial menjadi dua kelompok, yaitu “kelompok kita” (in group) dan
“kelompok mereka” (out group). In group adalah kelompok sosial dimana individu merasa
dirinya dimiliki atau memiliki (“kelompok kami”). Sedangkan out group adalah grup di luar grup
sendiri (“kelompok mereka”). dampak prasangka social di atas adalah bahwa dengan adanya
prasangka sosial akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku seseorang dalam berbagai situasi.

Prasangka dapat menjadikan seseorang atau kelompok tertentu tidak mau bergabung atau
bersosialisasi dengan kelompok lain. Apabila kondisi tersebut terdapat dalam organisasi akan
mengganggu kerjasama yang baik sehingga upaya pencapaian tujuan organisasi kurang dapat
terealisir dengan baik. Prasangka sosial sebenarnya adalah sikap dan terbentuknya sikap tersebut
berawal dari persepsi. Jadi prasangka sosial terintegrasidalam kepribadian seseorang dan dengan
adanya prasangka social dalam diriakan mempengaruhi persepsinya terhadap subyek atau obyek
yang ada dalam lingkungannya

Sedangkan etnosentrisme merupakan sikap/ perilaku yang menggunakan pandangan dan


cara hidup dari sudut pandangnya sebagai tolak ukur untuk menilai budaya lain atau kelompok
lain. Selain itu etnosentrisme dapat didefinisikan sebagai kepercayaan yang sangat tinggi
terhadap budayanya sendiri dan menganggap tidak nyaman dengan budaya lain sehingga lebih
memandang rendah terhadap budaya lain.
Etnosentris memiliki beberapa karakteristik, tetapi biasanya kita lebih mudah mengenali
sikap etnosentris pada orang lain daripada sikap etnosentris pada diri sendiri. Larry (2010)

20
mengatakan bahwa rasa etnosentris lebih kuat dalam konteks moral dan agama, dimana
emosionalisme lebih mendominasi.
Etnosentrisme terjadi jika masing-masing budaya bersikukuh dengan identitasnya, menolak
bercampur dengan kebudayaan lain. Untuk berfungsi secara efektif, kita mungkin mengharapkan
masyarakat untuk memiliki rasa bangga terhadap etnisnya dan kesetiaan terhadap tradisi budaya
yang unik, dari mana masyarakat mendapatkan dukungan secara psikologis dan ikatan sosial
yang kuat dengan kelompoknya, oleh sebab itu sikap etnosentris dapat mempengaruhi suatu
budaya.

21
3.2 Saran
Sikap etnosentris memiliki dampak yang positif dan negatif. Setelah kita mengulas sedikit
banyal tentang etnosentris maka kita harus dapat mengendalikan diri sendiri dalam menyikapi
adanya etnosentris. Bahaya etnosentrisme lebih besar dalam bidang politik, moral, dan agama.
Sehingga sikap etnosentris tersebut perlu kita hindari walaupun sikap etnosentris juga kita
perlukan pada saat-saat tertentu.
Harus adanya keterbukaan satu sama lain dan masing-masing pihak harus dapat menerima
keragaman budaya, ras dan etnis sebagai kekayaan suatu bangsa yang majemuk seperti
Indonesia. Justru dengan kesatuan dalam keragaman ini kita akan menjadi suatu bangsa kuat di
mata dunia. Bagi generasi yang akan datang, diupayakan memerangi prasangka antara golongan.
Jelasnya pelajaran budi pekerti luhur harus kembali diajarkan kepada anak-anak sejak dini, baik
dirumah maupun di sekolah karna lingkungan sangat berpengaruh besar. Sementara itu,
sebaiknya dihindari pengajaran - pengajaran yang dapat menimbulkan prasangka - prasangka
sosial.

22
DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia. 2020. Prasangka Sosial

https://id.wikipedia.org/wiki/Prasangka

Wikipedia. 2020. Etnosentrisme

https://id.wikipedia.org/wiki/Etnosentrisme

Salasah, Rebiyyah 2013. Etnosentrisme

https://www.kompasiana.com/rebiyaa/552ff5646ea83453728b45ce/etnosentrisme