Anda di halaman 1dari 8

JURNAL RISET KESEHATAN

POLTEKKES DEPKES RI BANDUNG


VOL 10 NO 1 TAHUN 2018

Penyuluhan Gizi dengan Pengembangan Food Model


‘Piring Makanku’ Meningkatkan Perilaku Konsumsi
Makanan Seimbang pada Remaja

Melfa Siti Asyary1, Yenny Moviana1, Surmita1


1
Jurusan Gizi Poltekkes Bandung
E-mail: melfaasyary@gmail.com

ABSTRAK: Pola makan masyarakat Indonesia belum sesuai pesan gizi seimbang.
Berdasarkan data Riskesas (2010) Proporsi penduduk ≥10 tahun kurang konsumsi sayur
dan buah di Indonesia 93,6%. Prevalensi kurus dan gemuk pada remaja di Kota
Bandung diatas rata-rata Jawa barat. Salah satu visualisasi pesan gizi seimbang ‘Piring
Makanku’ menunjukkan sajian makanan dan minuman pada setiap kali makan perlu
disosialisasikan agar menjadi pedoman makan masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui pengaruh penyuluhan gizi menggunakan food model ‘Piring Makanku’
terhadap perilaku konsumsi makanan seimbang pada remaja. penelitian ini dilakukan di
SMP Negeri 2 Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah one group pre-test post-
test. Sampel dipilih secara purposive sampling dan didapatkan jumlah sampel minimal
32 orang. Rata-rata skor perilaku konsumsi makanan seimbang sebelum intervensi
adalah 7,81 sedangkan skor perilaku konsumsi makanan seimbang setelah intervensi
adalah 10,53. Hasil uji statistik menunjukan terdapat pengaruh pemberian penyuluhan
menggunakan food model ‘Piring Makanku’ terhadap perilaku konsumsi makanan
seimbang pada remaja dengan p<0,001. Food model ‘Piring Makanku’ adalah salah satu
media yang berpengaruh terhadap perilaku konsumsi makanan seimbang pada remaja.

Kata kunci: Penyuluhan gizi, ‘Piring Makanku’, makanan seimbang

ABSTRACT: People's diet is far from balanced nutrition messages. Based on the results
of riskesdas 2010 the proportion of population ≥10 years less consumption of vegetables
and fruits in Indonesia 93.6%. Based on the monitoring of Nutritional Status of West Java
2014, the prevalence of lean and fat in adolescents in Bandung is still above the average
of West Java. A country needs balanced nutrition guidelines and needs to be socialized
in order to serve as a guideline for eating the community. One visualization of the
balanced nutrition message is 'Piring Makanku' which shows the food and beverage
serving at every meal. The purpose of this study was to determine the effect of nutritional
counseling using food model 'Piring Makanku' to the behavior of balanced food
consumption in adolescents. This research conducted in SMP Negeri 2 Bandung. The
method used is one group pre-test post-test. The sample was chosen by purposive
sampling and got the minimum sample size of 32 people. The average score of the
behavior of balanced food consumption before the intervention was 7.81 while the score
of food consumption behavior was balanced after the intervention was 10.53. Based on
statistical test, there is influence of giving counseling using food model ‘Piring Makanku’
to the behavior of balanced food consumption in adolescents with p <0.001. Food model
'Piring Makanku' is one of the media that influence the behavior of balanced food
consumption in adolescents.

Keywords: nutrition counseling, 'Piring Makanku’, balanced food

1
JURNAL RISET KESEHATAN
POLTEKKES DEPKES RI BANDUNG
VOL 10 NO 1 TAHUN 2018

PENDAHULUAN

Gizi yang optimal pada remaja Desain penelitian ini adalah one
sangat penting untuk pertumbuhan group pre-test post-test untuk
normal serta perkembangan fisik dan mengetahui apakah penyuluhan gizi
kecerdasan. Pola makan merupakan menggunakan food model ‘Piring
perilaku paling penting yang dapat Makanku’ berpengaruh terhadap
mempengaruhi keadaan gizi. Hal ini perilaku konsumsi makanan seimbang.
disebabkan karena kuantitas dan Desain ini termasuk ke dalam pre-
kualitas makanan yang dikonsumsi akan experimental design [20]. Penelitian
mempengaruhi tingkat kesehatan dilakukan di SMP Negeri 2 Kota
individu dan masyarakat. Agar tubuh Bandung. Waktu penelitian mulai dari
tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyusunan proposal sampai
penyakit kronis atau penyakit tidak pengumpulan data dilakukan pada
menular (PTM) terkait gizi, maka pola bulan Agustus 2016 sampai Februari
makan masyarakat perlu ditingkatkan 2017. Sampel dipilih secara purposive
kearah konsumsi gizi seimbang1. Pola sampling dengan kriteria inklusi dan
makan masyarakat masih jauh dari eklusi. Besar sampel minimal yang
pesan gizi seimbang. Hal tersebut dapat dibutuhkan adalah 32 orang5,6,7.Kriteria
dilihat dari data hasil Riskesdas 2010 inklusi pemilihan sampel pada penelitian
bahwa Proporsiroporsi penduduk ≥10 ini adalah: Siswa bersedia mengikuti
tahun yang telah mengonsumsi sayur penelitian dari awal sampai akhir secara
dan buah dengan cukup hanya16,4%2. utuh, hadir saat penilaian awal,
intervensi dan penilaian akhir. Berusia
Untuk mencapai status gizi yang antara 13 – 15 tahun. Sedangkan
optimal, maka suatu negara kriteria eksklusi pemilihan sampel pada
memerlukan pedoman gizi seimbang. penelitian ini siswa sedang menjalankan
Tidak hanya cukup sampai dicetak, diet khusus dan sedang sakit pada saat
namun pedoman gizi seimbang tersebut pengumpulan data. Jenis data yang
perlu disosialisasikan agar bisa menjadi dikumpulkan yaitu data karakteristik
pedoman makan masyarakat dalam sampel yang meliputi usia dan jenis
berperilaku konsumsi makanan kelamin dan skor perilaku konsumsi
seimbang. Salah satu visualisasi pesan makanan seimbang sampel sebelum
gizi seimbang adalah ‘Piring Makanku’ dan setelah intervensi diperoleh dari
yang menunjukkan sajian makanan dan wawancara. Data jenis kelamin yang
minuman pada setiap kali makan1. diperoleh dikategorikan menjadi laki-laki
Pedoman Gizi Seimbang yang dan perempuan. Perilaku konsumsi
merupakan kata-kata akan lebih mudah makanan seimbang dinyatakan dalam
diterima dengan alat peraga. Visual skor. Skor diperoleh dari hasil
‘Piring Makanku’ yang berupa gambar wawancara recall 1x24 jam sebelum
akan lebih mudah dipahami jika dan setelah intervensi. Skor perilaku
dikembangkan menjadi benda tiruan konsumsi makanan seimbang meliputi
karena intensitas makanan tiruan lebih skor jenis makanan dan skor porsi
tinggi daripada gambar dan merupakan makan sehari. Setiap jenis makanan
visual aids yang dapat merangsang yang dikonsumsi sampel (makanan
indra penglihatan dan perabaan3,4. pokok, lauk pauk, sayuran, buah-
Tujuan penelitian ini adalah untuk buahan dan air putih) masing-masing
mengetahui pengaruh penyuluhan gizi diberi skor satu (1) di setiap kali waktu
menggunakan food model ‘Piring makan utama dan selingan (pagi, siang
Makanku’ terhadap perilaku konsumsi dan malam), kemudian skor tersebut
makanan seimbang pada remaja. dijumlahkan sehingga didapatkan
jumlah skor jenis makanan sehari. Skor
METODE

2
JURNAL RISET KESEHATAN
POLTEKKES DEPKES RI BANDUNG
VOL 10 NO 1 TAHUN 2018

maksimal jenis makanan sehari adalah Jenis Kelamin n %


15 yang berasal dari makan pagi dan
Perempuan 18 56
selingan (5), makan siang dan selingan
(5) serta makan malam dan selingan (5). Laki-laki 14 44
Skor porsi makan diperoleh dari 32 100
konversi jumlah makanan dalam bentuk
URT ke dalam satuan penukar,
kemudian dianalisis menggunakan Jumlah sampel dalam penelitian ini
program komputer. Jumlah energi yang sebanyak 32 orang terdiri dari 18 orang
dikonsumsi sampel dalam sehari dibagi perempuan (56%) dan 14 orang laki-laki
oleh Angka Kecukupan Energi Remaja (44%). Usia sampel berkisar antara 13-
kemudian dinyatakan dalam bentuk 15 tahun. Sampel berusia 13 tahun
persen AKE dan diberi skor dengan sebanyak 12 orang (38%), sampel
berusia 14 tahun sebanyak 19 orang
ketentuan: skor 0 = <70 & ≥130% AKE ,
(59%) dan sampel berusia 15 tahun
skor 1= 70 - <80% AKE, skor 2= 80 -
sebanyak 1 orang (3%). Karakteristik
<90% AKE, skor 3= 90 - <100% AKE,
skor 4= 100 - <130% AKE. Skor sampel berdasarkan usia dapat dilihat
maksimal porsi adalah 4. pada Tabel 2.

Pada Tabel 3 dapat lihat skor rerata


Skor perilaku konsumsi makanan
seimbang merupakan penjumlahan skor perilaku konsumsi makanan seimbang
meningkat dari 7,81 menjadi 10,53
jenis makanan dengan skor porsi. Skor
maksimal perilaku konsumsi makanan setelah diberikan intervensi.
seimbang mencapai 19 yang berasal Berdasarkan hasil uji statistik, terdapat
pengaruh pemberian penyuluhan
dari skor jenis makanan (15) dan skor
porsi makan (4) sedangkan skor minimal menggunakan food model ‘Piring
0. Makanku’ terhadap perilaku konsumsi
makanan seimbang pada remaja
Uji statistic menggunakan uji t- dengan p<0,001
Dependen untuk mengetahui 2 beda
Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa
rata-rata skor perilaku konsumsi
makanan seimbang untuk data yang terdapat peningkatan rerata skor jenis
makanan setelah diberikan intervensi
terdistribusi normal, sedangkan
dilakukan uji Wilcoxon untuk data yang yaitu dari 7,81 menjadi 9,47.
tidak terdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji statistik, terdapat
pengaruh penyuluhan gizi
menggunakan food model ‘Piring
Makanku’ terhadap skor jenis makanan
HASIL (p<0,001).

Hasil penelitian ini diolah secara .Berdasarkan hasil analisa, terdapat


univariat dan bivariat. Univariat untuk peningkatan rerata skor porsi makan
karakteristik sampel berdasarkan jenis dari 0,47 menjadi 1,10 setelah diberikan
kelamin dan umur. Tabel 1 berikut ini intervensi. hasil uji statistik menunjukan
adalah karakteristik sampel bahwa terdapat pengaruh penyuluhan
berdasarkan jenis kelamin gizi menggunakan food model ‘Piring
Makanku’ terhadap skor porsi makan
remaja dengan p=0,001, seperti yang
tertulis pada Tabel 5.

Tabel 1. Karakteristik Sampel Berdasarkan


Jenis Kelamin

3
JURNAL RISET KESEHATAN
POLTEKKES DEPKES RI BANDUNG
VOL 10 NO 1 TAHUN 2018

Tabel 2. Karakteristik Sampel Berdasarkan Usia

Usia n % Rerata SD Minimal Maksimal

13 12 38

14 19 59 13,66 0,545 13 15

15 1 3

Tabel 3. Perbedaan Rerata Skor Perilaku Konsumsi Makanan Seimbang Sebelum dan Setelah
Intervensi

Skor Perilaku Gizi


Rerata SD Minimal maksimal Nilai p*
Seimbang
Sebelum 7,81 2,00 4 12
<0,001
Setelah 10,53 3,00 5 17

*) Dependent T-test. Nilai p < 0,05 (ada hubungan bermakna)

Tabel 4. Perbedaan Rerata Skor Jenis Makanan Sebelum dan Setelah Intervensi

Skor Jenis
Rerata SD Minimal Maksimal Nilai p*
Makanan

Sebelum 7,81 1,7 4 11


<0,001
Setelah 9,47 2,2 5 13

*) Dependent t-test. Nilai p < 0,05 (ada hubungan bermakna)

Tabel 5. Perbedaan Rerata Skor Porsi Makan Sebelum dan Setelah Intervensi

Skor Porsi Makanan Rerata SD Minimal Maksimal Nilai p*

Sebelum 0,47 0,88 0 3


0,001
Setelah 1,10 1,40 0 4

*) Dependent t-test. Nilai p < 0,05 (ada hubungan bermakna)

dibandingkan skor perilaku konsumsi


makanan seimbang sebelum intervensi
PEMBAHASAN (7,81). Berdasarkan uji statistik terhadap
rerata skor perilaku konsumsi makanan
Berdasarkan hasil analisa statistik, seimbang, terdapat pengaruh
skor perilaku konsumsi makanan penyuluhan menggunakan food model
seimbang setelah intervensi memiliki ‘Piring Makanku’ terhadap perilaku
nilai rerata lebih besar (10,53) konsumsi makanan seimbang

4
JURNAL RISET KESEHATAN
POLTEKKES DEPKES RI BANDUNG
VOL 10 NO 1 TAHUN 2018

(p<0,001). Perilaku konsumsi makanan masing-masing sebesar 66.67 dan


seimbang meliputi jenis dan porsi 73,14. Terdapat perbedaan yang
makanan yang dikonsumsi. Penyuluhan signifikan pada rerata skor sikap gizi
gizi dapat meningkatkan pemahaman seimbang sesudah pemberian
seseorang tentang pentingnya makanan intervensi berupa media animasi11. Food
dan gizi sehingga dapat bersikap dan model ‘Piring Makanku’ yang berupa
bertindak mengikuti norma-norma gizi. benda tiruan memiliki intensitas jauh
Pendidikan dan pengetahuan lebih tinggi dalam proses pendidikan
merupakan faktor tidak langsung yang dibandingkan animasi sejenis televisi8.
mempengaruhi perilaku seseorang8.
Penyuluhan gizi berguna untuk Media pendidikan kesehatan adalah
menciptakan perilaku konsumsi alat bantu pendidikan dimana alat-alat
makanan yang seimbang. Penelitian ini ini digunakan oleh pendidik dalam
sejalan dengan penelitian Utami, S dan menyampaikan bahan pendidikan
Isdiany, N bahwa terdapat pengaruh kesehatan. Masing-masing alat
pendidikan gizi menggunakan model mempunyai intensitas yang berbeda-
menu seimbang terhadap peningkatan beda dalam membantu persepsi
asupan energi pada ibu hamil9. seseorang. Edgar Dale membagi alat
peraga menjadi 11 macam, dan
Perubahan atau adopsi perilaku sekaligus menggambarkan tingkat
adalah suatu yang kompleks dan intensitas tiap-tiap alat tersebut dalam
memerlukan waktu yang relatif lama. suatu kerucut8,10. Benda asli mempunyai
Secara teori perubahan perilaku, intensitas yang paling tinggi untuk
seseorang mengadopsi perilaku baru mempersepsi bahan pendidikan yang
dalam kehidupannya melalui tiga tahap disusul oleh benda tiruan. Sedangkan
yaitu munculnya pengetahuan, penyampaian bahan yang hanya
kemudian bersikap dan terbentuklah dengan kata-kata sangat kurang efektif
tindakan atau praktik10. Pada penelitian atau intensitasnya paling rendah8.
ini, intervensi berupa penyuluhan
dilakukan sebanyak dua kali dengan Food model ‘Piring Makanku’
rentang waktu satu minggu. Setelah merupakan benda tiruan yang memiliki
intervensi kedua, diberi rentang waktu intensitas yang paling tinggi setelah
satu minggu untuk proses pembentukan benda asli untuk memudahkan sampel
perilaku dan dapat terlihat pada saat dalam menerima informasi yang
penilaian akhir perilaku konsumsi disampaikan pada saat penyuluhan.
makanan seimbang. Hal ini sejalan Selain itu, food model ‘Piring Makanku’
dengan penelitian Utami, S dan Isdiany, dapat disimpan dan digunakan berulang
N yang melakukan intervensi sebanyak kali karena sifatnya yang tahan lama
dua kali dengan rentang waktu satu karena terbuat dari resin atau seringkali
minggu sehingga terdapat pengaruh disebut dengan food model. Food model
pendidikan gizi menggunakan model ‘Piring Makanku’ merupakan alat bantu
menu seimbang terhadap peningkatan lihat yang membantu menstimulasi indra
asupan energi pada ibu hamil9. penglihatan (visual aids) pada saat
penyuluhan sehingga sampel dapat
Hal utama yang menyebabkan lebih mudah mempersepsikan apa yang
peningkatan skor perilaku konsumsi dimaksud oleh penyuluh. Penyuluhan
makanan seimbang adalah peran food juga menstimulasi indra pendengaran
model ‘Piring Makanku’. Hasil penelitian karena metode penyuluhan yang
di Sekolah Dasar Negeri Tanjung Duren digunakan adalah ceramah tanya jawab.
Utara 01 Pagi Jakarta Barat tahun 2015 Semakin banyak indra yang dilibatkan,
menunjukan bahwa pemberian media maka proses penyampaian informasi
animasi meningkatkan rerata skor sikap menjadi lebih efektif.
sebelum dan sesudah intervensi yaitu

5
JURNAL RISET KESEHATAN
POLTEKKES DEPKES RI BANDUNG
VOL 10 NO 1 TAHUN 2018

Perilaku yang didasari oleh penting yang dapat mempengaruhi


pengetahuan akan bertahan lebih lama keadaan gizi. Hal ini disebabkan oleh
daripada perilaku yang tidak didasari kuantitas dan kualitas makanan yang
oleh pengetahuan. Sebelum dikonsumsi akan mempengaruhi
mengadopsi perilaku baru, sampel asupan gizi yang berdampak pada
penelitian meliputi beberapa tahap yang kesehatan individu maupun
berurutan yaitu awareness, interest, masyarakat. Agar tubuh tetap sehat dan
evaluation, trial dan adoption. Tahap terhindar dari berbagai penyakit tidak
awareness pada penelitian ini yaitu menular terkait gizi, maka pola makan
pada saat pemberian materi dimana masyarakat perlu ditingkatkan kearah
sampel mulai diberikan stimulus berupa konsumsi gizi seimbang1.
penyuluhan dengan food model ‘Piring
Makanku’ yang melibatkan indra Anjuran pemenuhan kebutuhan zat
pendengaran dan penglihatan gizi selama sehari untuk anak yaitu
kemudian timbul ketertarikan atau dengan makan secara teratur 3 kali
interest yang dapat dilihat dari perhatian sehari dimulai dengan sarapan atau
sampel terhadap materi yang diberikan. makan pagi, makan siang dan makan
Sampel mengikuti proses penyuluhan malam1. Hasil selisih rerata menunjukan
dengan baik dimana seluruh sampel bahwa peningkatan skor jenis makanan
memperhatikan penyuluh. Setelah itu yang paling signifikan adalah perubahan
muncul tahap evaluation dimana sampel pada makan malam sebelum dan
mempertimbangkan informasi yang setelah intervensi dengan selisih rerata
diberikan dibuktikan dengan 0,81. Beberapa sampel tidak makan
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan malam sebelum diberikan intervensi,
oleh sampel pada saat penyuluhan. setelah diberikan intervensi, sampel
Sampel penelitian terlihat antusias makan malam dengan jenis makanan
dilihat dari pertanyaan-pertanyaan yang lengkap. Selain itu, sebelum intervensi,
mereka ajukan serta mampu menjawab ada pula sampel yang hanya
pertanyaan yang penyuluh berikan. mengonsumsi makanan manis
Tahap selanjutnya sampel diberikan berbahan dasar gula pada malam hari
kesempatan selama satu minggu untuk akan tetapi hal tersebut berubah setelah
mencoba perilaku baru atau trial dan intervensi karena sampel mengonsumsi
pada hari terakhir dilakukan penilaian makanan pokok, lauk pauk, buah dan air
apakah sampel telah berperilaku yang putih. Jenis makanan meningkat karena
baru sesuai dengan pengetahuan yang perbaikan pola makan sampel.
telah diberikan. Tahap tersebut adalah Pengetahuan mengenai pola makan yg
tahap terakhir dari pembentukan sesuai disampaikan saat intervensi.
perilaku yang disebut adoption.
Terdapat peningkatan rerata skor
Berdasarkan hasil uji statistik, porsi makan setelah diberikan intervensi
terdapat pengaruh penyuluhan gizi dari 0,47 menjadi 1,10 dengan skor
menggunakan food model ‘Piring maksimal 4. Berdasarkan uji statistik
Makanku’ terhadap skor jenis makanan. diketahui bahwa terdapat pengaruh
Dari hasil analisa diketahui bahwa penyuluhan gizi menggunakan food
terdapat peningkatan rerata skor jenis model ‘Piring Makanku’ terhadap skor
makanan setelah diberikan penyuluhan porsi makan pada remaja. Peningkatan
menggunakan food model ‘Piring skor porsi tidak lepas kaitannya dengan
Makanku’. Dari skor maksimal 15, rerata food model ‘Piring Makanku’ yang
skor jenis makanan sebelum intervensi digunakan karena besar porsi pada
adalah 7,81 sedangkan rerata skor jenis ‘Piring Makanku’ adalah besar porsi
makanan setelah intervensi adalah 9,47. yang dibutuhkan oleh sampel. Konsumsi
Pola makan merupakan perilaku paling makan sehari-hari harus mengandung
zat gizi dalam jenis dan jumlah (porsi)

6
JURNAL RISET KESEHATAN
POLTEKKES DEPKES RI BANDUNG
VOL 10 NO 1 TAHUN 2018

yang sesuai dengan kebutuhan setiap Rata-rata skor jenis makanan sampel
orang atau kelompok umur 1. Porsi meningkat dari 7,81 menjadi 9,47
makan adalah jumlah atau banyaknya setelah diberikan intervensi. Rata-rata
makanan yang dikonsumsi. Anjuran skor jenis makanan sampel meningkat
porsi makan untuk remaja 13-15 tahun dari 0,47 menjadi 1,10 setelah diberikan
terdapat dalam Pedoman Gizi intervensi. Rata-rata skor perilaku
Seimbang yang mengacu pada Angka konsumsi makanan seimbang sampel
Kecukupan Energi remaja 13-15 tahun. meningkat dari 7,81 menjadi 10,53
Tingkat kecukupan energi tersebut setelah diberikan intervensi. Terdapat
dikategorikan menjadi sangat kurang, pengaruh penyuluhan gizi
kurang, cukup dan lebih. Kategori menggunakan food model ‘Piring
tersebut dijadikan pertimbangan untuk Makanku’ terhadap skor jenis makanan
menentukan skor porsi makan pada pada remaja p<0,001. Terdapat
penelitian ini. pengaruh penyuluhan gizi
menggunakan food model ‘Piring
Remaja membutuhkan asupan Makanku’ terhadap skor porsi makan
makanan yang lebih tinggi karena pada remaja p=0,001. Terdapat
peningkatan pertumbuhan fisik dan pengaruh penyuluhan gizi
perkembangan dibandingkan kelompok menggunakan food model ‘Piring
usia lainnya12. Ketidakseimbangan Makanku’ terhadap perilaku konsumsi
antara asupan dan kebutuhan atau makanan seimbang pada remaja
kecukupan akan menimbulkan masalah p<0,001.
gizi, baik berupa masalah gizi lebih
maupun gizi kurang. Masalah gizi DAFTAR PUSTAKA
remaja akan berdampak negatif pada
tingkat kesehatan masyarakat, misalnya 1. Departemen Kesehatan Republik
penurunan konsentrasi belajar, risiko Indonesia. Pedoman Gizi Seimbang
melahirkan bayi dengan BBLR, Jakarta: Kementerian Kesehatan
penurunan kesegaran jasmani, dan lain- RI. 2014
lain 13. 2. Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. Riset Kesehatan Dasar
Berdasarkan hasil analisa, masih (RISKESDAS) 2013. Jakarta:
terdapat sampel yang tidak mendapat Badan Penelitian dan
skor porsi makan setelah intervensi (0) Pengembangan Kesehatan. 2013
karena porsi yang dikonsumsi belum 3. Notoatmodjo, S. Kesehatan
mencukupi anjuran angka kecukupan Masyarakat Ilmu & Seni. Jakarta:
energi remaja. Hal ini dapat terjadi Rineka Cipta. 2007
karena kurangnya kepatuhan sampel 4. Supariasa, D. Pendidikan &
dalam menerapkan informasi yang telah Konsultasi Gizi. Jakarta: EGC. 2012
diberikan terutama dalam mengonsumsi 5. Umar, H. Metode Penelitian untuk
jumlah makanan dan melewatkan waktu Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta:
makan sehingga asupan energi tidak PT. Raja Grafindo Persada;2014.
optimal. Hal ini sejalan dengan teori 6. Lapau, B. Metode Penelitian
bahwa pola makan remaja cenderung Kesehatan. Jakarta: Yayasan
tidak baik, mereka sering melewatkan Pustaka Obor Indonesia. 2012
waktu makan di rumah terutama 7. Chandra, B. Metodologi Penelitian
sarapan dan makan siang. Namun Kesehatan. Jakarta: EGC. 2008
karena aktivitas di sekolah, waktu 8. Notoatmodjo, S. Kesehatan
makan malam pun sering dilewatkan14. Masyarakat Ilmu & Seni. Jakarta:
Rineka Cipta. 2007
9. Utami, S. Isdiani, N. Pengaruh
Pendidikan Gizi Menggunakan
KESIMPULAN Model Menu Seimbang Terhadap

7
JURNAL RISET KESEHATAN
POLTEKKES DEPKES RI BANDUNG
VOL 10 NO 1 TAHUN 2018

Asupan Zat Gizi Dan Kadar 13. Waryono. Gizi Reproduksi.


Hemoglobin Ibu Hamil. Bandung: Yogyakarta: Pustaka Rihama. 2010
Poltekkes Kemenkes Bandung. 14. Mahan, L.et al. Krause’s Food,
2014 Nutrition and Diet Therapy. 2000
10. Notoatmodjo, S. Promosi
Kesehatan & Ilmu Perilaku.Jakarta:
Rineka Cipta. 2007
11. Lingga, N. Pengaruh Pemberian
Media Animasi terhadap Perubahan
Pengetahuan dan Sikap Gizi
Seimbang pada Siswa Kelas VI
Sekolah Dasar Negeri Tanjung
Duren Utara 01 Pagi Jakarta Barat.
Jakarta: Universitas Esa Unggul.
2015
12. Soetardjo, S. Gizi Seimbang dalam
Daur Kehidupan. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama. 2011