Anda di halaman 1dari 12

NAMA : MARVIN PERSULESSY

NPP : 28.1285
KELAS : D-5

1. Apa saja ruang lingkup pengawasan dan pemeriksaaan laporan keuangan

Lingkup Pemeriksaan
Pemeriksaan keuangan negara meliputi pemeriksaan atas pengelolaan keuangan
negara dan pemeriksaan atas tanggung jawab keuangan negara. Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan negara.
Pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan
oleh BPK meliputi seluruh unsur keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Dalam hal pemeriksaan dilaksanakan oleh Akuntan Publik berdasarkan ketentuan
undang undang, laporan hasil pemeriksaan tersebut wajib disampaikan kepada BPK
dan dipublikasikan. Penyampaian laporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud
diperlukan agar BPK dapat melakukan evaluasi pelaksanaan pemeriksaan yang
dilakukan oleh akuntan publik. Hasil pemeriksaan akuntan publik dan evaluasi
tersebut selanjutnya disampaikan oleh BPK kepada lembaga perwakilan, sehingga
dapat ditindaklanjuti sesuai dengan kewenangannya.
Pemeriksaan sebagaimana dimaksud terdiri atas pemeriksaan keuangan,
pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu:
 Pemeriksaan Keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan
pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemeriksaan keuangan ini dilakukan
oleh BPK dalam rangka memberikan pernyataan opini tentang tingkat kewajaran
informasi yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah.
 Pemeriksaan Kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara
yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan
aspek efektivitas yang lazim dilakukan bagi kepentingan manajemen oleh aparat
pengawasan intern pemerintah.
Pasal 23E Undang-Undang Dasar 1945 mengamanati BPK untuk melaksanakan
pemeriksaan kinerja pengelolaan keuangan negara. Tujuan pemeriksaan ini
adalah untuk mengidentifikasikan hal hal yang perlu menjadi perhatian lembaga
perwakilan. Adapun untuk pemerintah, pemeriksaan kinerja dimaksudkan agar
kegiatan yang dibiayai dengan keuangan negara/daerah diselenggarakan secara
ekonomis dan efisien serta memenuhi sasarannya secara efektif.
 Pemeriksaan dengan tujuan tertentu adalah pemeriksaan yang tidak termasuk
dalam pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan kinerja. Pemeriksaan dengan
tujuan tertentu meliputi antara lain pemeriksaan atas hal hal lain di bidang
keuangan, pemeriksaan investigatif, dan pemeriksaan atas sistem pengendalian
intern pemerintah.
Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dilaksanakan berdasarkan standar
pemeriksaan. Standar dimaksud disusun oleh BPK dengan mempertimbangkan
standar di lingkungan profesi audit secara internasional. Standar pemeriksaan
sebagaimana dimaksud disusun oleh BPK, setelah berkonsultasi dengan
Pemerintah. Dalam penyusunan standar pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada
ayat ini, BPK menetapkan proses penyiapan standar dan berkonsultasi mengenai
substansi standar kepada Pemerintah. Proses penyiapan standar dimaksud
mencakup langkah langkah yang perlu ditempuh secara cermat (due process)
dengan melibatkan organisasi terkait dan mempertimbangkan standar pemeriksaan
internasional agar dihasilkan standar yang diterima secara umum.

2. Pentingnya adanya pemeriksaan laporan keuangan :

a. Menginformasikan, yaitu menceritakan hal-hal yang mereka temui


b. Mempengaruhi, yaitu meyakinkan manajemen mengenai nilai dan validasi
dari
temuan audit.
c. Memberikan hasil, yaitu mengerakkan menajemen kearah perubahan dan
perbaikan

3. langkah-langkah atau proses  audit atas laporan keuangan dibagi menjadi empat
tahap yaitu:

Penerimaan Perikatan Audit


Periatan adalah kesepakatan dua pihak untuk mengadakan suatu ikatan
perjanjian. Dalam
perikatan audit, klien yang memerlukan jasa auditing mengadakan suatu
ikatan perjanjian dengan
auditor. Dalam ikatan perjanjian tersebut, klien menyerahkan pekerjaan audit
atas laporan
keuangan kepada auditor dan auditor sanggup untuk melaksanakan
pekerjaan audit tersebut
berdasarkan kompetensi profesionalnya. Langkah awal pekerjaan audit atas
laporan keuangan
berupa pengambilan keputusasn untuk menerima atau menolak perikatan
audit dari calon klien
atau untuk melanjutkan atau menghentikan perikatan audit dari klien berulang.
Ada enam
langkah perlu ditempuh oleh auditor di dalam mempertimbangkan penerimaan
perikatan audit
dari calon kliennya, antara lain sebagai berikut:

1. Mengevaluasi integritas manajemen


Audit atas laporan keuangan bertujuan untuk memberikan pendapat
atas laporan keuangan yang
disajikan oleh manajemen. Oleh karena itu, utnuk dapat, menerima
perikatan audit, auditor
berkepneitngan untuk mengevaluasi integritas manajemen, agar
auditor mendapatkan keyakinan
bahwa manajemen perusahaan klien dapat dipercaya, sehingga
laporan keuangan yang diaudit
bebas dari salah saji material sebagai akibat dari adanya integritas
manajemen.
2. Mengidentifikasi keadaan khusus dan risiko luar biasa
Faktor yang perlu dipertimbangkan oleh auditor tentang kondisi khusus
dan risiko luar biasa
yang mungkin berdampak terhadap penerimaan perikatan audit dari
calon klien dapat diketahui
dengan cara:
 Mengidentifikasi pemakai laporan audit
 Mendapatkan informasi tentang stabilitas keuangan dan legal calon
klien di masa depan,
 Mengevaluasi kemungkinan dapat atau tidaknya laporan keuangan
calon klien diaudit.
3. Menentukan kompetensi untuk melaksanakan audit
Standar umum yang pertama berbunyi sebagai berikut; “Audit harus
dilaksanakan oleh seorang
atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup sebagai
auditor.”  Oleh karena itu,
sebelum auditor menerima suatu perikatan audit, ia harus
mempertimbangkan apakah ia dan
anggota tim auditnya memiliki kompetensi memadai untuk
menyelesaikan perikatan tersebut,
sesuai standatr auditing yang ditetapkan oleh IAI ( Ikatan Akuntan
Indonesia).
4. Menilai independensi
Standar umum yang kedua: “dalam semua hal yang berhubungan
dengan perikatan, independensi
dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.”  Oleh karena itu,
sebelum auditor
menerima suatu perikatan audit, ia harus memastikan bahwa setiap
profesional yang menjadi
anggota tim auditnya tidak terlibat atau memiliki kondisi yang
menjadikan independensi tim
auditnya diragukan oleh pihak yang mengetahui salah satu dari
delapan golongan informasi.
5. Menentukan kemampuan untuk menggunakan kemahiran
profesionalnya dengan kecermatan
dan keseksamaan.
Standar umum yang ketiga berbunyi sebagai berikut: “ dalam
pelaksanaan audit dan penyusunan
laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya
dengan cermat dan seksama.”

Dengan demikian, kecermatan dan keseksamaan penggunaan


kemahiran profesional auditor
ditentukan oleh ketersediaan waktu yang memadai untuk
merencanakan dan melaksanakan audit.
6. Membuat surat perikatan audit
Surat perikatan audit dibuat oleh auditor untuk kliennya yang berfungsi
untuk
mendokumentasikan dan menegaskan penerimaan auditor atas
penunjukkan oleh klien, tujuan
dan lingkup audit, lingkup tanggungjawab yang dipikul oleh auditor bagi
kliennya.
Perencanaan Audit
Setelah auditor memutuskan untuk menerima perikatan audit dari
kliennya, langkah berikutnya
yang perlu ditempuhhhh adalah merencanakan audit. Ada tujuah tahap
yang harus ditempuh oleh
auditor dalam merencanakan auditnya:
1. Memahami bisnis dan industri klien
Pemahaman atas bisnis klien memberikan panduan tentang sumber
informasi bagi auditor untuk
memahami bisnis dan industri klien.
2. Melaksanakan prosedur analitik
Prosedur analitik memberikan panduan bagi auditor dalam
menggunakan prosedur analitik pada
tahap perencanaan audit, pada tahap pengujian dan pada
tahapreview menyeluruh terhadap hasil
audit. Prosedur analitik dilaksanakan melalui enam tahap, yaitu:
 Menidentifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat
 Megembangkan harapan
 Melaksanakan perhitungan/perbandingan
 Menganalisa data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan
 Menyelidiki perbedaan signifikan yang tidak terduga dan
mengevaluasi perbedaan tersebut
 Menentukan dampak hasil prosedur analitik terhadap perencanaan
audit
3. Mempertimbangkan tingkat materialitas awal
Pada tahap perencanaan audit, audit perlu mempertimbangkan
materialitas awal pada dua tingkat
berikut ini:
 Tingkat kaporan keuangan

Materialitas awal pada tingkat laporan keuangan  diterapkan oleh


auditor karena pendapat
auditor atas kewajaran laporan keuangan diterapkan pada laporan
keungan sebagai keseluruhan.
 Tingkat saldo akun
Materialitas awal pada tingkat saldo akun ditentukan oleh auditor pada
tahap perencanaan audit
karena untuk mencapai kesimpulan tentang kewajaran laporan
keuangan sebagi keseluruhan,
auditor perlu melakukan verifikasi saldo akun.
4. Mempertimbangkan risiko bawaan
Dalam keseluruhan proses audit, auditor mempertimbangkan berbagai
risiko, sesuai dengan
tahap-tahap proses auditnya.  Berbagai risiko yang harus
dipertimbangkan oleh auditor dalam
setiap tahap proses auditnya yaitu:
- Perencanaan Audit
- Pemahaman & pengujian pengendalian intern
- Penaksiran risiko pengendalian
- Pelaksanaan Pengujian Substantif
- Penetapan risiko deteksi
- Penerbitan Laporan Audit
- Penilaian Risiko Audit

5. Mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap


saldo awal, jika periaktan
dengan klien berupaa audit tahun pertama
Auditor harus menetukan bahwa saldo awal mencerminkan penerpaan
kebijakan akuntansi yang
semestinya dan bahwa kebijakan tersebut diterapkan secara konsisten
dalam laporan keuangan
tahun berjalan. Bila terdapat perubahan dalam kebijakan akuntansi
atau penerapnnya, auditor
harus memperoleh kepastian bahwa perubahan tersebut memang
semestinya dilakuakn, dan
dipertanggungjawabkan, serta diungkapkan.
6. Mengembangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan

Dengan adanya keterkaitan antara bukti audit, materialitas dan


komponen risiko audit (risiko
bawaan, risiko pengendalian dan riiko deteksi), auditor dapat memilih
strategi audit awal dalam
perencanaan audit terhadap asersi individual atau golongan transaksi.
Ada dua strategi audit awal
yang dapat dipilih oleh auditor:
 Primarily substantive approach
 Lower assessed level of control risk approach
7. Memahami pengendalian intern klien
Langkah pertama dalam pengendalian intern adalah dengan
mempelajari unsur-unsur
pengendalian intern yang berlaku. Langkah berikutnya adalah
melakukan penilaian terhadap
efektivitas pengendalian intern dengan menentukan kekuatan dan
kelemahan pengendalian intern
tersebut. Untuk mendukung keyakinan atas efektivitas pengendalian
intern tersebut, auditor
melakukan pengujian pengendalian.
Pelaksanaan Pengujian Audit
Auditor melakukan berbagai macam pengujian yang secara garis besar
dapat dibagi menjadi tiga
golongan sebagai berikut.
1. Pengujian analitik
Pengujian analitik dilakukan olehh auditor pada tahap awal proses
auditnya dengan cara
mempelajari perbandingan dan hubungan antara data yang satu
dengan data yang lain. Pada awal
proses audit, pengujian analitik dimaksudkan untuk membantu auditor
dalam memahami bisnis
klien dan dalam menemukan bidang yang memerlukan audit lebih
intensif. Sebelum seorang
auditor melaksanakan audit secara rinci dan mendalam terhadap objek
audit, auditor harus
memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai perusahaan yang
diaudit. Untuk itu, analisi
ratio, analisis laba bruto, analisis terhadap laporan keungan
perbandingan merupakan cara yang
umumnya ditempuh oleh auditor untuk mendapatkan gambaran
menyeluruh dan secara garis
besar mengenai keadaan keungan dan hasil usaha klien.
2. Pengujian pengendalian
Pengujian pengendalian merupakan prosedur audit yang dirancang
untuk memverifikasi
efektivitas pengendalian intern klien. Pengujian pengendalian terutama
ditujukan untuk
mendapat informasi mengenai:

 Frekunsi pelaksanaan aktivitas pengendalian yang ditetapkan,


 Mutu pelaksanaan aktivitas pengendalian tersebut
 Karyawan yang melaksanakan aktivitas pengendalian tersebut.

3. Pengujian substantif
Pengujian substantif merupakan prosedur audit yang dirancang untuk
menemukan kemungkinan
kesalahan moneter yang secara langsung mempengaruhi kewajaran
penyajian laporan keuangan.
Kesalahan moneter yang terdapat dalam informasi yang disajikan
dalam laporan keuangan
kemungkinan terjadi karena dalam:
 Penerapan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia
 Tidak diterapkannya prinsip akuntasni bertrima umum di Indonesia.
 Ketidakkonsistenan dalam penerapan prinsip akuntasi berterima
umum di Indonesia.
 Perhitungan.
 Pekerjaan penyajian penggolangan dan peringkasan informasi.
 Pencatuman pengungkapan unsur tertnetu dalam laporan keuangan.
Prosedur pengujian substantif meliputi:
1. Verifikasi atas ketepatann saldo kas dan sekdul kas.
2. Penerapan prosedur analitis.
3. Perhitungan kas yang disimpan dalam entitas.
4. Melaksanakan pengujian pisah batas kas.
5. Konfirmasi saldo simpanan pinjaman di bank.
6. Konfirmasi perjanjian atau kontrak lain dengan bank.
7. Melakukan pemindaian (sacnning) penelaahan, atau pembeuatan
rekonsiliasi bank.
8. Menghimpun dan menggunakan laporan pisah batas bank.
9. Melakukan pengujia  pisah batas penerimaan kas.
10. Mengusut transfer bank
11. Menyiapkan pembuktian kas.
12. Membandingkan penyajian laporan keuangan dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum.
Pelaporan Audit
Bagian akhir dari proses audit adalah pelaporan hasil audit. Isi laporan
audit terikat pada format
yang telah diterapkan oleh IAI. Laporan audit merupakan media yang
dipakai oleh auditor dalam

berkomunikasi dengan masyarakat lingkungannya. Dalam laporan


tersebut auditor menyatakan
pendapatnya mengenai kewajaran laporan keungan auditnya.

4. Saran

- agar tidak terjadinya penyelewengan kekuasaan terhadap


pengelolaan penyususnan
laporan keuangan
- Untuk mengatur penerimaan daerah agar bisa menyesuaikan dengan
pengelaran rutin
sehingga pengelolaan keuangan daerah bisa di atur dan efisien
- di upayakan peningkatan pertumbuhan daerah khususnya
penerimaan dimasa yang akan
datang sehingga dapat menampung pengeluaran daerah demi
berbagai kebutuhan rill
masyarakat sesuai dengan aspirasinya
Pemeriksaan Laporan keuangan yang Efektif

Pengertian Eftktivitas. Kata efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu effective
yang berarti berhasil atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Kamus
ilmiah populer mendefinisikan efektivitas sebagai ketepatan penggunaan, hasil guna
atau menunjang tujuan. Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan
atau sasaran yang telah ditentukan di dalam setiap organisasi, kegiatan ataupun
program.
Disebut efektif apabila tercapai tujuan ataupun sasaran seperti yang telah
ditentukan, atau dengan kata lain output yang direncanakan telah terealisasi dengan
baik. Hal ini sesuai dengan pendapat H. Emerson yang dikutip Handayaningrat
(1994) yang menyatakan bahwa efektivitas adalah pengukuran dalam arti
tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Terkait dengan efektivitas
tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah,
efektivitas mengandung pengertian tingkat keberhasilan tindak lanjut yang
membandingkan antara capaian hasil dengan tujuan yang telah ditetapkan. Menurut
Hendrawan dan Sumatri (2013), efektivitas selalu terkait dengan hubungan antara
hasil yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya dicapai. Efektivitas dapat
dilihat dari berbagai sudut pandang (view point) dan dapat dinilai dengan berbagai
cara dan mempunyai kaitan yang erat dengan efisiensi. Efektivitas tindak lanjut hasil
pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah merupakan kegiatan
membandingkan output tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK dengan rekomendasi
hasil pemeriksaan BPK yang perlu ditindak lanjuti.
Hal ini harus dilakukan untuk transparansi pengelolaan keuangan negara,
meskipun terkadang keluaran (output) yang dihasilkan banyak bersifat keluaran
(output) tidak berwujud (intangible) yang tidak mudah untuk dikuantifikasi, maka
pengukuran efektivitas sering menghadapi kesulitan. Pada kondisi ini timbul kesilitian
dalam tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK. Kesulitan dalam pengukuran efektivitas
tersebut karena pencapaian hasil (outcome) seringkali tidak dapat diketahui dalam
37 jangka pendek, akan tetapi dalam jangka panjang setelah program berhasil,
sehingga ukuran efektivitas biasanya dinyatakan secara kualitatif (berdasarkan pada
mutu) saja, misalnya bila pengelolaan keuangan negara dilakukan dengan baik,
maka tujuan pembangunan lebih cepat tercapai dan peningkatan kesejahteraan
rakyat lebih terasa. Georgopolous dan Tannembaum (1985) menyatakan bahwa
efektivitas ditinjau dari sudut pencapaian tujuan, dimana keberhasilan suatu
organisasi harus mempertimbangkan bukan saja sasaran organisasi tetapi juga
mekanisme mempertahankan diri dalam mengejar sasaran. Dengan kata lain,
penilaian efektivitas harus berkaitan dengan masalah sasaran maupun tujuan
melaksanakan tugas, fungsi (operasi kegiatan program atau misi) daripada suatu
organisasi atau sejenisnya yang tidak adanya tekanan atau ketegangan diantara
pelaksanaannya.
Mengukur efektivitas suatu organisasi atau suatu pekerjaan bukanlah suatu hal yang
sederhana, karena efektivitas dapat dikaji dari berbagai sudut pandang dan
tergantung pada siapa yang menilai, apa ukuran efektivitasnya, dan bagaimana cara
menginterpretasikannya.
Bila dipandang dari sudut produktivitas, maka efektivitas suatu pekeraan merupakan
tingkat kualitas dan kuantitas (output) barang dan jasa yang dihasilkan dibandingkan
dengan rencana barang dan jasa sebelumnya. Tingkat efektivitas juga dapat diukur
dengan membandingkan antara rencana yang telah ditentukan dengan hasil nyata
yang telah diwujudkan. Namun, jika usaha atau hasil pekerjaan dan tindakan yang
dilakukan tidak tepat, sehingga menyebabkan tujuan tidak tercapai atau sasaran
yang diharapkan, maka hal itu dikatakan tidak efektif. Dalam tindak lanjut hasil
pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD),
ketidaktepatan tersebut dapat jumlah kasus penyelengan keuangan negara yang
diselesaikan sedikit atau nilai kerugian negara yang berhasil dikembalikan sedikit.
Menurut Lubis dan Husaini (1987), ada tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk
mengukur efektivitas suatu organisasi, yaitu
: (a) Pendekatan sumber (resource approach) yaitu mengukur efektivitas dari input.
Pendekatan mengutamakan adanya keberhasilan organisasi untuk memperoleh
sumber daya, baik fisik maupun nonfisik yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.;
(b) Pendekatan proses (process approach) adalah untuk melihat sejauhmana
efektivitas pelaksanaan program dari semua kegiatan proses internal atau
mekanisme organisasi.;
(c) Pendekatan sasaran (goals approach) dimana pusat perhatian pada output,
mengukur keberhasilan organisasi untuk mencapai hasil (output) yang sesuai
dengan rencana.
Sedangkan kriteria-kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur efektivitas
menurut Strees dalam Tangkilisan dan Hessel (2005) ada lima, yaitu:
(a) Produktivitas;
(b) Kemampuan adaptasi kerja;
(c) Kepuasan kerja;
(d) Kemampuan berlaba;
(e) Pencarian sumber daya.
Hendrawan dan Sumantri (2013) dan Steers (1985) memberi penegasan tentang
ukuran efektivitas, yaitu:
1. Pencapaian Tujuan. Pencapaian adalah keseluruhan upaya pencapaian tujuan
harus dipandang sebagai suatu proses. Oleh karena itu, agar pencapaian tujuan
akhir semakin terjamin, diperlukan pentahapan, baik dalam arti pentahapan
pencapaian bagianbagiannya maupun pentahapan dalam arti periodisasinya.
Pencapaian tujuan terdiri dari beberapa faktor, yaitu: Kurun waktu dan sasaran yang
merupakan target kongktit
2. Integrasi. Integrasi yaitu pengukuran terhadap tingkat kemampuan suatu
organisasi untuk mengadakan sosialisasi, pengembangan konsensus dan
komunikasi dengan berbagai macam organisasi lainnya. Integrasi menyangkut
proses sosialisasi.
3. Adaptasi. Adaptasi adalah kemampuan organisasi untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Untuk itu digunakan tolak ukur proses pengadaan dan
pengisian tenaga kerja.
Seperti kita ketahui jika audit atas laporan keuangan selalu dibutuhkan setiap
entitas untuk menilai kewajaran atau kelayakan atas penyajian laporan keuangan
yang telah dibuat oleh suatu entitas. Dan penilaian tersebut akan tercermin pada
suatu opini audit. Tak terkecuali dengan entitas pemerintahan. Pemerintah Pusat
maupun Pemerintah Daerah juga memerlukan audit atas laporan keuangan yang
telah dibuat agar masyarakat mengetahui dan bisa menilai atas kredibilitas,
kebenaran, kecermatan dan keandalan informasi atas pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan Negara. Dalam Undang-Undang No.17 tahun 2003 tentang
Keuangan Negara, yang dimaksud dengan Keuangan Negara adalah semua hak
dan kewajiban Negara yang dapat dinilaidengan uang, serta segala sesuatu baik
berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik Negara berhubung
dengan pelaksanaaan hak dan kewajiban. Terdapat beberapa ruang lingkup
Keuangan Negara berdasarkan Undang-Undang No.17 tahun 2003 pasal 2 yaitu:

a.Hak Negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang, dan
melakukan pinjaman.

b.Kewajiban Negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan


Negara dan membayar tagihan pihak ketiga.

c.Penerimaan Negara

d.Pengeluaran Negara

e.Penerimaan Daerah

f.Pengeluaran Daerah
g.Kekayaan Negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain
berupa uang, surat berharga, piutang barang serta hak-hak lain yang dapat dinilai
dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan
Negara/perusahaan daerah.

h.Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka


penyelenggaraan tugas pemerintahan dan/atau kepentingan umum.

i.Kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang


diberikan oleh pemerintah.

Ruang lingkup laporan keuangan Negara diatas merupakan hal dasar yang
digunakan dalam menyusun laporan keuangan Negara. Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat biasa disebut LKPP adalah merupakan pertanggungjawaban
pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja yang disusun berdasarkan Standar
Akuntansi Pemerintah. Dari LKPP yang disusun oleh pemerintah pusat terdapat
komponen-komponen yang lebih detail, dan komponen-komponen detail ini yang
menjadi obyek pemeriksaan audit untuk meyakini atas saldo dalam laporan
keuangan yang sudah disajikan. Komponen yang disajikan dalam laporan keuangan
pemerintah pusat yaitu:

1.Laporan Pelaksanaan Anggaran yang terdiri atas Laporan Realisasi Anggaran


dan Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih.

2.Laporan Finansial yang terdiri atas Neraca, Laporan Operasional, Laporan


Perubahan Ekuitas dan Laporan Arus Kas.

3.Catatan Atas Laporan Keuangan.

Audit atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat dilakukan oleh pihak yang
independen yaitu Badan pemeriksa Keuangan (BPK-RI). BPK sendiri memiliki tugas
memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara yang dilakukan oleh
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank Indonesia,
BUMN, BUMD dan lembaga lain yang mengelola keuangan Negara. Seperti pada
umumnya mekanisme audit yang dilakukan oleh BPK sama dengan audit yang
dilakukan oleh KAP, yaitu menentukan obyek pemeriksaan, perencanaan,
pelaksanaan pemeriksaan yang terkait dengan waktu dan metode yang digunakan
selama pemeriksaan serta penyusunan dan penyajian laporan pemeriksaan. Pada
saat merencanakan pemeriksaan BPK terlebih dahulu memperhatikan saran dan
pendapat dari lembaga perwakilan seperti Dewan Perwakilan Rakyat(DPR), saran
dan pendapat tersebut dapat berupa hasil dari rapat paripurna. Pada dasarnya
pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK RI adalah untuk menguji sejauh mana
kemampuan pemerintah dalam melaksanakan anggaran Negara dengan tidak
mengabaikan ketentuan perundang-undangan.
Dasar dari pelaksanaan pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK yaitu Standar
Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang merupakan patokan untuk melakukan
pemeriksaan pengelolaan dan tanggumg jawab Keuangan Negara. Berdasarkan
Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia No.1 tahun 2017 pasal 3,
SPKN sendiri terdiri atas Kerangka Konseptual Pemeriksaan dan PSP.

Secara jelas pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK berdasarkan Pernyataan


Standar Pemeriksaan (PSP) yang terdiri atas 3 sub bab yaitu:

a.PSP nomor 100 tentang Standar Umum

b.PSP nomor 200 tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan

c.PSP nomor 300 tentang Standar Pelaporan Pemeriksaan

Secara singkat PSP diatas dapat dijabarkan dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh
BPK yaitu terbagi menjadi:

PSP 200 Pelaksanaan Pemeriksaan Keuangan yang terdiri atas:

1.Perencanaan dan Supervisi

2.Penambahan dan pengendaiian Intern

3.Bukti Audit

PSP 300Pelaporan Pemeriksaan Keuangan yang terdiri atas:

1.Pernyataan penyajian sesuai PABU

2.Pengungkapan inkonsistensi penerapan prinsip akuntansi berlaku umum (PABU)

3.Opini

4.Pengungkapan kecukupan informasi