Anda di halaman 1dari 3

Kebijakan Jepang dibidang sosial budaya

Salah satu kebijakan yang cukup penting dalam bidang sosial adalah pembagian kelas masyarakat
seperti zaman belanda. Masyarakat hanya dibedakan menjadi saudara tua (Jepang) dan saudara muda
(Indonesia). Sedangkan penduduk timur asing terutama Cina adlah golongan masyarakat yang sangat
dicurigai karenadinegeri leluhurnya bangsa Cina telah mempersulit bangsa Jepang dalam
mewujudkan cita citanya. Hal ini sesuai dengan propaganda Jepang bahwa ‘Asia untuk bangsa Asia’.
Namun kenyataannya Indonesia bukan untuk bangsa Asia melainkan untuk bangsa Jepang. Untuk
mencapai tujuannya Jepang mengeluarkan beberapa kebijakan :

1.Membentuk Rukun Tetangga (RT).

Tonarigumi adalah Rukun Tetangga (RT) satuan pemerintahan terbawah yang di bentuk pada masa
pendudukan Jepang untuk mengawasi aktifivtas warga, serta mendukung kebijakan Politik dan
Ekonomi Jepang, serta ada kinrohoshi (kerja bakti yang menyerupai kerja paksa). Oleh karena itu
pembentukan RT dianggap efektif untuk mengerahkan dan mengawasi aktivitas masyarakat.

2. Pembentukan tenaga Romusha.

Pada mulanya, pelaksanaan romusha didukung rakyat. Rakyat Indonesia masih termakan propaganda


Jepang untuk membangun keluarga besar Asia. Tenaga-tenaga romusha ini kebanyakan diambil dari
desa-desa, umumnya orang-orang yang tidak bersekolah atau paling tinggi tamat Sekolah Dasar.

Semula program romusha bersifat sukarela dan sementara. Akan tetapi, setelah kebutuhan mendesak,
pengerahan tenaga kerja berubah menjadi paksaan. Ribuan tenaga kerja romusha dikirim ke luar
Jawa, bahkan ke luar negeri, seperti Burma, Malaysia, Thailand, dan Indo-Cina. Dalam leteratur lain
menyebutkan jumlah Romusha di Indonesia mencapai 4 sampai 10 juta
.

3. Kebijakan sosial dibidang pendidikan.

Pendidikan pada zaman Jepang mengalami perubahan, Sekolah Dasar (Gokumin Gakko) untuk semua
warga masyarakat tanpa membedakan status sosialnya. Belajar di SD selama enam tahun.

Sekolah menengah terdiri dari : Shoto Chu Gakko (SMP) dan Chu Gakko (SMA).Dibangun  Sekolah
Pertukangan (Kogyo Gakko), Sekolah Teknik Menengah (Kogyo Sermon Gakko), dan Sekolah Guru
yang dibedakan menjadi tiga tingkatan. Sekolah Guru dua tahun (Syoto Sihan Gakko), Sekolah Guru
empat tahun (Guto Sihan Gakko), dan Sekolah Guru dua tahun (Koto Sihan Gakko).

Tidak ada pendidikan universitas. Akan tetapi Jepang membangun Sekolah Tinggi Kedokteran (Ika
Dai Gakko) di Jakarta, Sekolah Tinggi Teknik (Kagyo Dai Gakko) di Bandung. Kedua Sekolah
Tinggi itu meru-pakan kelanjutan pada zaman Belanda. Untuk menyiapkan kader pamong praja
diselenggarakan Sekolah Tinggi Pamongpraja (Kenkoku Gakuin) di Jakarta.

4. Penggunaan Bahasa Indonesia.

Tahun 1942, Jepang tidak mengizinkan Bahasa Belanda digunakan dan menggantinya dengan Bahasa
Indonesia. Tahun 1943 semua tulisan yang berbahasa Belanda diganti tulisan berbahasa
Indonesia. Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi pada instansi pemerintah dan lembaga pendidikan.
Pada masa 1943 lahir sejumlah  tokoh-tokoh sastra Indonesia antara lain:

a.Armin Pane,

b.Abu Hanifah (El Hakim)

c.Chairil Anwar yang disebut sebagai tokoh Angkatan ‘45, dengan karyanya: Aku, Kerawang Bekasi,
dan sebagainya. (Lt)

Lenyapnya bahasa Belanda dalam pergaulan sehari-hari memberikan peluang bagi berkembangnya
bahasa Indonesia. Tidak bolehnya menggunakan Bahasa Indonesia dipapan-papan iklan maupun
papan nama digantikan bahasa Indonesia dan Bahasa Jepang. Pertumbuhan bahasa Indonesia yang
tidak dapat terbendung mengakibatkan mau tidak mau jepang mengabulkan keinginan bangsa
Indonesia untuk mengangkat bahasa melalui pelaksanaan Sumpah Pemuda tahun 1928.

Disusun oleh :

1. Chonit Ilham S

2. Dendi Prayudha

3. Diva Elfrida

4. Khoirunnisa Asdi

5. Ratu

Kelas : 11 IPA 4