Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS

SEPSIS NEONATORUM AWITAN DINI

Dosen Pembimbing:

dr. Effendi R, Sp.A

Oleh:

Adefani Tia Anggraini


201810401011057

SMF ILMU KESEHATAN ANAK

RSUD JOMBANG

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

FAKULTAS KEDOKTERAN

2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat
dan rahmat-Nya, laporan kasus Neonatus tentang Kejang Demam dapat saya
selesaikan. Laporan kasus ini disusun sebagai bagian dari proses belajar selama
kepaniteraan klinik di bagian Pediatri dan saya menyadari bahwa laporan kasus ini
tidaklah sempurna. Untuk itu saya mohon maaf atas segala kesalahan dalam
pembuatan laporan ini.
Saya berterima kasih kepada dokter pembimbing, dr. Rachmat Hadi
Santoso, Sp.A atas bimbingan dan bantuannya dalam penyusunan Laporan kasus
ini. Saya sangat menghargai segala kritik dan masukan sehingga laporan kasus ini
bisa menjadi lebih baik dan dapat lebih berguna bagi pihak-pihak yang
membacanya di kemudian hari.

Jombang, Juli 2019

Penulis

2
BAB I
PENDAHULUAN

Demam merupakan keadaaan yang sering di temui dalam kehidupan

sehari-hari terutama pada anak yang tubuhnya masih rentan terhadap penyakit,

serta merupakan kasus tersering yang menyebabkan orangtua membawa anak ke

pelayanan kesehatan dan terkadang membuat orang tua panik (Lusia,2015). Pada

umum nya demam merupakan salah satu gejala yang menyertai penyakit infeksi.

Demam tinggi pada anak dapat menyebabkan kejang pada anak ( Ngastiyah,

2005).

Kejang demam (febris convulsion/stuip/step) yaitu kejang yang timbul

pada saat demam yang tidak di sebabkan oleh proses di dalam kepala, namun

diluar kepala misalnya karena ada nya infeksi di saluran pernapasan, telinga atau

infeksi di saluran pencernaan (Airlangga Universty Press (AUP), 2015). Insiden

terjadi nya kejang demam di perkirakan mencapai 4-5% dari jumlah penduduk di

Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan Eropa Barat (Hernal, 2010 dalam Ervina

Tri Untari, 2013). Namun di Asia angka kejadian kejang lebih tinggi , seperti di

jepang di laporkan antara 6-9% kejadian kejang demam, di india yaitu 5-10%, dan

di Guam adalah 14% (Ervina, 2013).

Sebagian besar kasus kejang demam sembuh sempurna, sebagian

berkembang menjadi epilepsi (2%-7%) dengan angka kematian 0,64%-0,75%.

Menurut Taslim (2013) kejang demam yang di perkirakan setiap tahun nya terjadi

diantara nya mengalami komplikasi epilepsi. Di Indonesia, komplikasi yang

terjadi berupa kejang berulang, epilepsi, hemiparese dan gangguan mental (IDAI,

2013). Dari data RSUD ulin Banjarmasin dalam penelitian Lusia 2014 insidensi

3
kejang demam pada anak dengan usia enam bulan hingga satu tahun yaitu 50,54%

(Lusia, 2014). Dari laporan Dinas Kesehatan Provinsi banjarmasin tercatat di lain-

lainnya 1% anak yang kejang demam menyebabkan kematian (Dinkes, 2015).

Faktor faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam penanganan demam

diantaranya adalah pengetahuan, kemampuan ibu dalam penanganan kejang

demam harus di dasari pengetahuan yang benar tentang kejang demam. Hal yang

tidak kalah penting dalam menghadapi kejang dan menangani anak yang kejang

demam adalah kematangan atau sifat kedewasaan ibu, sehingga ibu dapat

berprilaku positif (Notoatmojo, 2010).

BAB II

4
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada anak berumur 6

bulan sampai 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh (suhu rectal di atas

38ºC ) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (Pusponegoro, 2006).

Berdasarkan International League Against Epilepsy (ILAE), kejang

demam merupakan kejang selama masa kanak-kanak setelah usia 1 bulan, yang

berhubungan dengan penyakit demam tanpa disebabkan infeksi sistem saraf pusat,

tanpa riwayat kejang neonatus dan tidak berhubungan dengan kejang simptomatik

lainnya.

2.2 Epidemiologi
Kejang demam biasanya terjadi pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun.

Menurut IDAI, kejadian kejang demam pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun

hampir 2 - 5%. Kejadian kejang demam diperkirakan 2-4% di Amerika Selatan

dan Eropa, sedangkan di Jepang 9-10%. Di Asia dilaporkan lebih tinggi. Kira-kira

20% kasus merupakan kejang demam kompleks. Umumnya kejang demam timbul

pada tahun kedua kehidupan (17-23 bulan). Kejang demam sedikit lebih sering

pada laki-laki (IDAI 2009).

2.3 Klasifikasi
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, kejang demam diklasifikasikan

menjadi dua yaitu :

a. Kejang demam sederhana

 Berlangsung singkat

 Umumnya serangan berhenti sendiri dalam waktu <15 menit

5
 Bangkitan kejang tonik-klonik tanpa gerakan fokal

 Tidak berulang dalam waktu 24 jam

b. Kejang demam kompleks

 Kejang berlangsung lama, >15 menit

 Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului

dengan kejang parsial

 Kejang berulang 2 kali atau lebih dalam 24 jam, anak sadar kembali

di antara bangkitan kejang.

Klasifikasi kejang demam menurut Livingstone, adalah :

a. Kejang Demam sederhana

- Kejang bersifat umum

- Lamanya kejang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit)

- Usia waktu kejang demam pertama muncul kurang dari 6 tahun

- Frekuensi serangan 1-4 kali dalam satu tahun

- EEG normal

b. Epilepsy yang dicetuskan oleh demam

Kejang demam yang tidak sesuai dengan ciri tersebut diatas

digolongkan sebagai epilepsy yang dicetuskan oleh demam.

2.4 Faktor Resiko


Demam merupakan faktor utama terjadinya bangkitan pada kejang

demam. Selain itu terdapat faktor riwayat kejang demam pada orang tua atau

saudara kandung, perkembangan terlambat, problem masa neonatus, anak dalam

perawatan khusus, dan kadar natrium rendah. Setelah kejang demam pertama,

kira-kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi atau lebih dan kira-kira

6
9% anak mengalami 3 kali rekurensi atau lebih, resiko rekurensi meningkat

dengan usia dini, usia dibawah 18 bulan, cepatnya anak mendapat kejang setelah

demam timbul, temperatur yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang

demam dan riwayat keluarga epilepsi. Faktor risiko terjadinya epilepsi

dikemudian hari adalah adanya gangguan neurodevelopmental, kejang demam

kompleks, riwayat epilepsi dalam keluarga, lamanya demam saat awitan kejang

dan lebih dari satu kali kejang demam kompleks (Widagdo, 2012). Berdasarkan

penelitian oleh Fuadi,dkk (2012), faktor risiko terjadinya bangkitan kejang

demam adalah suhu tubuh yang tinggi (>390C) dan usia kurang dari dua tahun.

2.5 Patofisiologi
Dalam mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak

diperlukan suatu energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk

metabolisme otak yang terpenting adalah glukosa. Sifat proses tersebut adalah

oksidasi dimana oksigen disediakan dengan perantaraan fungsi paru-paru dan

diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskuler. Sehingga sumber energi otak

adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel

dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipoid

dan permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron

dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K +) dan sangat sulit dilalui oleh ion

Natrium (Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion Klorida (Cl-). Akibatnya

konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan

diluar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan

konsentrasi ion di dalam dan diluar sel, maka terdapat perbedaan potensial yang

disebut potensial membran sel dari sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan

7
potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-KATPase yang

terdapat pada permukaan sel.

Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya :

a. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.

b. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau

aliran listrik dari sekitarnya.

c. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau

keturunan (Widagdo, 2012).

Pada saat demam, kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan

metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada

seorang anak berumur 3 tahun, sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh,

dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Sehingga pada kenaikan

suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel

neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion

Natrium melalui membran, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas

muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel

maupun ke membran sel sekitar dengan bantuan bahan yang disebut

neurotransmiter dan terjadilah kejang. Setiap anak mempunyai ambang kejang

yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang seseorang anak

menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang

yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38oC sedangkan pada anak dengan

ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40 oC atau lebih. Dari

kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering

8
terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya

perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang.

Kejang demam yang berlangsung singkat biasanya tidak berbahaya dan

tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lama (lebih

dari 15 menit) biasanya disertai gejala apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen

dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia,

hiperkapnea, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi

arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin

meningkat disebkan oleh meningkatnya aktivitas otot dan selanjutnya

menyebabkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian diatas adalah

faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya

kejang lama. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang

mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul

edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada

daerah mesial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang

berlangsung lama dapat menjadi “matang” dikemudian hari, sehingga terjadi

serangan epilepsi yang spontan. Jadi kejang demam yang berlangsung lama dapat

menyebabkan kelainan anatomis di otak sehingga terjadi epilepsi (Behrem, 1992).

2.6 Manifestasi klinis


Terjadinya kejang pada kejang demam terkait dengan kenaikan suhu yang

cepat dan biasanya berkembang bila suhu tubuh mencapai 39 0C atau lebih (rectal).

Umumnya kejang berlangsung singkat, berupa serangan tonik klonik. Bentuk

kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik keatas dengan disertai

9
kekakuan atau kelemahan gerakan, sentakan berulang tanpa didahului kekakuan,

atau hanya sentakan atau kekakuan fokal (Hardiono, 2006).

Sebagian besar kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan kurang dari

8% yang berlangsung lebih dari 15 menit. Sering kali kejang berhenti sendiri

setelah mendapat pertolongan pertama. Setelah kejang berhenti anak tampak lelah,

mengantuk, tertidur pulas, dan tidak memberikan reaksi apapun untuk sejenak

atau disebut periode mengantuk singkat pasca kejang, tetapi setelah beberapa

detik atau menit, anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis

(Behrem, 1992).

Kejang demam yang berlangsung lebih lama dari 15 menit sering bersifat

fokal atau unilateral dan kadang-kadang diikuti oleh parese Todd (lumpuh

sementara pasca serangan kejang) yang berlangsung beberapa jam sampai

beberapa hari. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiparesis yang

menetap. Bangkitan kejang yang berlangsung lama biasanya lebih sering terjadi

pada kejang demam yang pertama (Hardiono, 2006).

2.7 Diagnosis
a. Anamnesis

1.) Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang, suhu sebelum

atau saat kejang, frekuensi, interval, pasca kejang, penyebab

demam diluar susunan saraf pusat.

2.) Riwayat perkembangan, kejang demam dalam keluarga, epilepsi

dalam keluarga.

3.) Singkirkan penyebab kejang lainnya.

10
b. Pemeriksaan fisik : kesadaran, suhu tubuh, tanda rangsal meningeal,

tanda peningkatan tekanan intrakranial, tanda infeksi di luar SSP.

c. Pemeriksaan Penunjang

1.) Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada

kejang demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber

infeksi penyebab demam, atau keadaan lain misalnya

gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan laboratorium

yang dapat dikerjakan misalnya darah perifer, elektrolit dan gula

darah.

2.) Pemeriksaan cairan serebrospinal

Dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan

kemungkinan meningitis. Resiko terjadinya meningitis bakterialis

adalah 0,6%-6,7%. Pada bayi kecil seringkali sulit untuk

menegakkan atau menyingkirkan diagnosis meningitis. Oleh karena

itu pungsi lumbal dianjurkan pada ; bayi kurang dari 12 bulan, bayi

antara 12-18 bulan dianjurkan, bayi > 19 bulan tidak rutin. Bila

yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi

lumbal.

3.) Elektroensefalografi (EEG)

Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat

memprediksi berulangnya kejang atau memperkirakan

kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Oleh

karenanya tidak direkomendasikan. Pemeriksaan EEG masih dapat

11
dilakukan pada keadaan kejang demam tidak khas misalnya kejang

demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun atau kejang

demam fokal.

4.) Pencitraan

Foto X- ray kepala dan pencitraan seperti computed

tomography scan (CT-scan) atau magnetic resonance imaging

(MRI) jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan hanya atas indikasi

seperti ; kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis),

paresis nervus VI, papil edema.

Diagnosis kejang demam sederhana ditegakkan berdasarkan

kriteria Livingston yang telah dimodifikasi, yang merupakan pedoman yang

dipakai oleh Sub Bagian Saraf Anak IKA FKUI-RSCM Jakarta, yaitu:

- Umur anak ketika kejang antara 6 bulan – 6 tahun

- Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15menit

- Kejang bersifat umum

- Kejang timbul 16 jam pertama setelah timbulnya demam

- Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal

- Pemeriksaan EEG yang dibuat setidaknya 1 minggu sesudah suhu

normal tidak menunjukkan kelainan

- Frekuensi bangkitan kejang dalam satu tahun tidak melebihi 4 kali

Secara klinis umumnya tidak sulit untuk menegakkan diagnosis

kejang demam, dengan adanya gejala kejang pada suhu badan yang tinggi

serta tidak didapatkan gejala neurologis lain dan anak segera sadar setelah

kejang berlalu.

12
2.8 Tatalaksana
a. Penatalaksanaan saat kejang

Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien

datang kejang sudah berhenti. Apabila datang dalam keadaan kejang obat

yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam intravena

adalah 0,3 -0,5 mg/kg perlahan –lahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit

atau dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 20 mg. Obat yang

praktis dan dapat diberikan oleh orang tua atau dirumah adalah diazepam

rektal. Diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5 mg

untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk berat

badan lebih dari 10 kg. Atau Diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk

anak dibawah usia 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak diatas usia 3

tahun.

Bila setelah pemberian Diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat

diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5

menit. Bila setelah 2 kali pemberian Diazepam rektal masih tetap kejang,

dianjurkan ke rumah sakit. Di rumah sakit dapat diberikan Diazepam

intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg. Bila kejang tetap belum berhenti

diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10-20 mg/kg/kali

dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila

kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/hari, dimulai 12 jam

setelah dosis awal. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka

pasien harus dirawat di ruang rawat intensif. Bila kejang berhenti,

pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam apakah

kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor resikonya.

13
b. Pemberian obat pada saat demam

1. Antipiretik

Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik

mengurangi resiko terjadinya kejang demam, namun para ahli di

Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan. Dosis

Paracetamol yang digunakan adalah 10-15 mg/kg/kali diberikan 4

kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. Dosis Ibuprofen 5-10

mg/kg/kali, 3-4 kali sehari. Meskipun jarang, asam asetilsalisilat

dapat menyebabkan sindrom Reye terutama pada anak kurang dari

18 bulan, sehingga penggunaan asam asetilsalisilat tidak dianjurkan.

2. Antikonvulsan

Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat

demam menurunkan resiko berulangnya kejang pada 30% -60%

kasus, begitu pula dengan diazepam rektal dosis 0,5 mg/kg setiap 8

jam pada suhu > 38,5oC. Dosis tersebut cukup tinggi dan

menyebabkan ataksia, iritabel dan sedasi yang cukup berat pada 25-

39% kasus. Fenobarbital, karbamazepin dan fenitoin pada saat

demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam.

c. Pemberian Obat Rumat

1. Indikasi Pemberian obat Rumat

Pengobatan rumat diberikan bila kejang demam menunjukkan

ciri sebagai berikut (salah satu) ;

- Kejang lama > 15 menit

14
- Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau

sesudah kejang, misalnya hemiparesis, paresis Todd, cerebral

palsy, retardasi mental, hidrocephalus.

- Kejang fokal

Pengobatan rumat dipertimbangkan bila ; kejang berulang dua

kali atau lebih dalam 24 jam, kejang demam terjadi pada bayi kurang

dari 12 bulan, kejang demam ≥ 4 kali per tahun.

2. Jenis Antikonvulsan untuk Pengobatan Rumat

Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari

efektif dalam menurunkan risiko berulangnya kejang. Berdasarkan

bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak berbahaya dan penggunaan

obat dapat menyebabkan efek samping, maka pengobatan rumat

hanya diberikan terhadap kasus selektif dan dalam jangka pendek.

Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan

perilaku dan kesulitan belajar pada 40-50% kasus. Obat pilihan saat

ini adalah asam valproat. Pada sebagian kecil kasus, terutama yang

berumur kurang dari 2 tahun asam valproat dapat menyebabkan

gangguan fungsi hati. Dosis asam valproat 15-40 mg/kg/hari dalam

2-3 dosis, dan fenobarbital 3-4 mg/kg per hari dalam 1-2 dosis.

Pengobatan rumat diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian

dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.

2.9 Prognosis
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah

dilaporkan. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada

15
pasien yang sebelumnya normal. Penelitian lain secara retrospektif melaporkan

kelainan neurologis pada sebagian kecil kasus, dan kelainan ini biasanya terjadi

pada kasus dengan kejang lama atau kejang berulang baik umum atau fokal.

Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan.

2.10 Edukasi
Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua.

Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara yang diantaranya :

a. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai

prognosis baik

b. Memberitahukan cara penanganan kejang

c. Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali

d. Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi

harus diingat adanya efek samping obat.

Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang

a. Tetap tenang dan tidak panik.

b. Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher.

c. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring.

Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun

kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatu ke dalam

mulut.

d. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.

e. Tetap bersama pasien selama kejang.

f. Berikan diazepam rektal, dan jangan diberikan bila kejang telah

berhenti.

16
g. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau

lebih.

BAB III
LAPORAN KASUS
Identitas
 Nama : An. F
 Tanggal Lahir : 11 Mei 2017
 Jenis Kelamin : Laki - laki
 BB : 11,22 kg
 TB : 87 cm
 Alamat : Kedungjero - Peterongan - Jombang
 RM : 452338
 Ayah:
o Nama : Tn. A
o Usia : 25 tahun
o Pekerjaan : Karyawan Swasta
o Pendidikan : SMA
 Ibu:
o Nama : Ny. L
o Usia : 26 tahun
o Pekerjaan : IRT
o Pendidikan : SMA

17
Summary of data base
Keluhan utama:
Kejang
RPS :
Pasien kiriman dari IGD RSUD Jombang datang dengan keluhan kejang. Kejang
sebanyak 2x. Pertama pukul 21.00, lama kejang ± 1 menit, kejang seluruh tubuh,
dan sehabis kejang pasien sadar. Kemudian pasien kejang lagi pukul 21.30 ± 1
menit, kejang seluruh tubuh, setelah kejang pasien tidak sadar. Diantara 2 kejang,
pasien BAB 1x. BAB biasa. Sebelumnya pasien mengalami panas badan sejak
siang pukul 12.00. Panas terus-terusan. Muntah 1x, muntah makanan. Batuk (-),
pilek (-), diare (-). Saat di IGD suhu badan 38,6.
Riwayat Penyakit Dahulu :
 Pernah di rawat karena demam (-)

 Asma (-)

 Alergi (-)

 Kejang (-)

 Riwayat Trauma (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :


 Tidak ada yang memiliki keluhan yang sama

Riwayat Antenatal :
 Saat hamil ANC rutin di bidan, tidak pernah sakit saat hamil.
 Riwayat tekanan darah tinggi saat hamil (-)
 Konsumsi obat-obatan selama hamil (-)
Riwayat Imunisasi : imunisasi lengkap
• Polio : 4x (saat usia 0 hari, 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan)

• Hepatitis B : 3x (saat usia 0 hari, 1 bulan, 6 bulan)

• BCG : 1x (saat usia 0 hari)

• DPT : 3x (saat usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan)

18
• Campak : 1x (saat usia 9 bulan)

Riwayat Tumbuh Kembang


Sesuai dengan teman sebaya
Riwayat Gizi :
 ASI 0-6 bulan

 MPASI sejak usia 6 bulan

Riwayat Sosial
 Pasien tinggal dengan kedua orang tuanya
 Rumah dengan ventilasi dan kebersihan yang cukup
 MCK di dalam rumah

Pemeriksaan Fisik
Kesan Umum : Cukup/composmentis
Status Gizi : Baik
Tanda-tanda Vital :
- HR : 89 kali/menit
- RR : 23 kali/menit
- Suhu : 37,5°C
- Berat badan : 11,22 kg
- Tinggi badan : 87cm
Kepala :

 A/I/C/D : -/-/-/-

 Normochepalli

 Rambut : hitam, lurus, tipis, tidak mudah dicabut.

 Mata : refleks cahaya (+/+), pupil bulat isokor +/+


Conjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-) , Mata cowong -/-

 Hidung : sekret (-), pernafasan cuping hidung (-)

19
 Mulut : Mukosa bibir kemerahan, lidah kotor (-), gusi
berdarah (-), Pharynx hyperemi (-), Tonsil hiperemi (-)

 Telinga : cairan keluar dari telinga (-)

 Leher : Pembesaran kelenjar getah bening : - / - , deviasi


trakea (-)

Thorax : normochest

 Pulmo:
I: Bentuk simetris, gerak dinding dada simetris, retraksi subcostal (-)
P: Ekspansi dinding dada simetris
P: Sonor di semua lapang paru
A: suara nafas vesikuler, rh -/-, wh -/-
 Cor :
I: Ictus cordis tidak tampak
P: Ictus tidak kuat angkat, thrill (-)
P: Batas jantung dalam batas normal
A: S1S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)
Abdomen :
I : Flat, simetris, distensi (-)
P : Supel, Nyeri tekan (-), turgor normal
P : Tympani di seluruh lapang abdomen, meteorismus (-)
A : Bising Usus normal
Ekstremitas :

Akral Hangat + + Oedem - -

+ + - -

CRT < 2 detik

Genetalia : dbn

Pemeriksaan Neurologi

- GCS : 456

20
- Meningeal Sign: kaku kuduk (-), brudzinsky I/II (-/-), kernig sign (-)

- Nervus cranialis: dbn

5/5
- Motorik:
5/5

- Sensorik: dbn

Status Gizi

 Usia : 2 tahun 2 bulan

 Berat badan : 11,22 kg

 Tinggi badan : 87 cm

11,22 kg 11,22 kg
 IMT= 2
= 2
=1 4,76 m 2
( 0,87 m ) 0,76 m

21
Interpretasi Berat Badan menurut Panjang Badan:

- Sangat Kurus : <-3 SD


- Kurus : -3 SD sampai dengan <-2 SD
- Normal : -2 SD sampai dengan 2 SD
- Gemuk : > 2 SD

Pemeriksaan Penunjang :
Darah Lengkap (Tgl : 25 Juni 2019)

Hb : 11,8 g/dL

Leukosit : 7,39 /mm3

Hematokrit : 35,1 %

Eritrosit : 4,79 106/ul

Trombosit : 338.000 /mm3

22
Kimia Darah
GDS : 178 mg/dl
Natrium : 138 mEq/l
Kalium : 3,47 mEq/l
Clorida : 104 mEq/l
Resume
 An.F, laki – laki usia 2 tahun 2 bulan
 Kejang 2x
 Kejang pertama ± 1 menit, seluruh tubuh, dan setelah kejang pasien sadar.
 Kejang kedua ± 1 menit, seluruh tubuh, dan sehabis kejang pasien tidak
sadar.
 Sebelumnya demam (+)
 Riwayat vomiting 1x
 Pemeriksaan fisik : A/I/C/D -/-/-/- ; mata cowong (-); faring hiperemi (-),
ubun-ubun belum menutup; thorax dalam batas normal; abdomen dalam
batas normal; ekstremitas dalam batas normal.
 Pemeriksaan penunjang : darah lengkap anemia, kimia darah dalam batas
normal

Problem List :
- Kejang demam
Initial Diagnosis :
- Kejang demam kompleks
- Epilepsi
Planing Diagnosis : DL, SE, EEG
Planing Therapy :
- Infus D5 1/4 NS 1000cc/24 jam
- Inj Paracetamol 10cc (k/p)
- Diazepam 10 mg rektal jika terjadi kejang lagi

Planing Monitoring
- Vital sign
- Keluhan pasien bangkitan kejang berulang

23
- DL
Planing Edukasi
 Menjelaskan kepada orang tua atau keluarga pasien mengenai diagnosis
pasien, yaitu kejang demam.
 Menjelaskan penyebab terjadinya kejang demam, yaitu suatu bangkitan
kejang yang terjadi akibat demam yang dialami pasien sebelumnya.
 Menjelaskan mengenai pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan
 Menjelaskan tentang tindakan yang akan dilakukan kepada pasien
(memasang infus, pemberian obat, pengambilan darah).
Prognosis : dubia ad bonam

SOAP
TGL/JAM SUBJEK OBJEK Assesement Planning
Pasien kiriman GCS BB HR RR S - Infus
26/6 dari IGD RSUD 456 11,22 kg 89 23 37,5
D5 1/4 NS
01.30 Jombang.
Kejang 2x, lama 1000cc/24
kejang ± 1
jam
menit, kejang
H-1 seluruh tubuh. - Inj
Sebelum kejang, KDK Paracetamol
demam (+)
terus-terusan, 10cc (k/p)
muntah (+). 1x,
- Stesolid
BAB 1x.
Saat di IGD (k/p)
suhu badan 38,6.
- Valproat
2x2 ml
K/L : a/i/c/d -/-/-/-. KGB membesar (-)
Tho : simetris,ves +/+, rh -/- wh -/-,
Cor : S1S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)
Abd : soefl, BU (+)
Ext : HKM, CRT <2’’

27/6 Kejang (-) GCS BB HR RR S


456 11,22 kg 94 18 36,0
Demam (-)
Muntah (-)
- Infus
Makan dan D5 1/4 NS

24
H-2 minum mau (+) 1000cc/24
jam  Aff
KDK - Pro KRS
K/L : a/i/c/d -/-/-/-. KGB membesar (-)
Tho : simetris,ves +/+, rh -/- wh -/-,
Cor : S1S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)
Abd : soefl, BU (+)
Ext : HKM, CRT <2’’

BAB IV
PEMBAHASAN

An.F, laki-laki, usia 2 tahun 2 bulan, 11,22 kg, 87 cm. Pasien dibawa ke

IGD RSUD Jombang dengan keluhan habis mengalami kejang. Dari anamnesis

didapatkan informasi bahwa pasien mengalami kejang sebanyak dua kali, dengan

lamanya tiap kejang ± 1 menit. Kejang yang dialami adalah seluruh badan.

Setelah kejang pertama pasien sadar, dan BAB 1x, kemudian setelah kejang kedua

pasien tidak sadar. Sebelum kejang, keadaan pasien didahului dengan demam dan

muntah 1x. Dari hasil anamnesis diduga pasien mengalami kejang demam. Hal

tersebut sesuai dengan definisi kejang demam berdasarkan Konsensus

Penatalaksanaan Kejang Demam Ikatan Dokter Anak Indonesia. Kejang demam

adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh yang disebabkan

oleh suatu proses ekstrakranium. Menurut Riyadi (2013) kondisi yang

menyebabkan kejang demam antara lain infeksi yang mengenai jaringan

ektrakranial seperti tonsilitis, ototis media akut, bronkitis. Adapun menurut IDAI

(2013) penyebab terjadinya kejang demam, antara lain obat-obatan,

ketidakseimbangan kimiawi seperti hiperkalemia, hipoglikemia dan asidosis,

demam, patologis otak, eklampsia (ibu yang mengalami hipertensi prenatal,

25
toksimea gravidarum). Sedangkan menurut data profil kesehatan indonesia tahun

2012 yaitu didapatkan 10 penyakit-penyakit yang sering rawat inap di rumah

sakit, beberapa diantaranya diare dan penyakit gastroenteritis oleh penyebab

infeksi tertentu. Biasanya penyakit yang menyertai kejang demam memiliki

manifestasi klinis demam. Demam dengan peningkatan suhu 1 0 akan dapat

mengakibatkan bangkitan kejang (Johston MV dalam Wisnu, 2014).

Saat ini pasien berusia 2 tahun 2 bulan (26 bulan). Menurut Airlangga

University Press (AUP) (2015) kejang demam biasanya terjadi pada anak usia 6

bulan sampai 5 tahun. Lebih dari 90% kasus kejang demam terjadi pada anak

berusia di bawah 5 tahun (Arzimanoglou, 2004). Terbanyak bangkitan kejang

demam terjadi pada anak berusia antara usia 6 bulan sampai dengan 22 bulan,

insiden bangkitan kejang demam tertinggi terjadi pada usia 18 bulan.

Pada pasien, kejang terjadi sebanyak dua kali dengan durasi tiap

kejangnya kurang lebih 1 menit, kejang seluruh tubuh. Setelah kejang pertama

pasien sadar, namun setelah kejang kedua pasien tidak sadar. Hal ini sesuai

dengan salah satu kriteria kejang demam kompleks yaitu berulang atau lebih dari

1 kali dalam 24 jam.

Terapi yang diberikan kepada pasien yaitu paracetamol sebagai antipiretik,

asam valproat sebagai antikonvulsan rumatan. Penggunaan antipiretik tidak

ditemukan bukti bahwa dapat mengurangi resiko terjadinya kejang demam,

namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan.

Dosis Paracetamol yang digunakan adalah 10-15 mg/kg/kali diberikan 4 kali

sehari dan tidak lebih dari 5 kali. Asam valproat sebagai antikonvulsan rumatan

efektif dalam menurunkan risiko berulangnya kejang (level I). Kejadian kejang

26
demam berulang sebesar 5,5 % pada kelompok yang diobati dengan asam

valproate dan 33 % pada kelompok tanpa pengobatan dengan asam valproat.

Dosis asam valproat adalah 15 – 40 mg/kg BB perhari dalam 2 – 3 dosis

(Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam Ikatan Dokter Anak Indonesia,

2006).

BAB V
KESIMPULAN

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada anak berumur

6 bulan sampai 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh (suhu rectal di atas

38ºC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Adapun kondisi yang

menyebabkan kejang demam antara lain infeksi yang mengenai jaringan

ektrakranial seperti penyakit gastroenteritis, tonsilitis, ototis media akut,

bronkitis.. Kejang demam yang berlangsung singkat biasanya tidak berbahaya dan

tidak menimbulkan gejala sisa. Kejang selalu merupakan peristiwa yang

menakutkan bagi orang tua, oleh karena itu diperlukan edukasi untuk mengurangi

kecemasan, antara lain meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai

prognosis baik, memberitahukan cara penanganan kejang, dan memberikan

informasi mengenai kemungkinan kejang kembali.

Pada An.F, mengalami kejang yang diprovokasi oleh demam. Demam

pada an.F disebabkan dari proses ekstrakranium. Namun dikarenakan keterbatasan

anamnesis, sebab dari pencetus demam belum dapat dipastikan, sehingga

27
dibutuhkan pemeriksaan penunjang berupa EEG. Diagnosis sementara yaitu

kejang demam kompleks, dd epilepsi.

DAFTAR PUSTAKA

1. De Siqueira LFM. Febrile seizures: Update on diagnosis and management.


Rev Assoc Med Bras. 2010; 56(4): 489-92.

2. Fuadi,dkk. 2012. Faktor risiko bangkitan kejang demam pada anak.


Universitas Diponegoro/RSUP Dr. Kariadi Semaran. Sari Pediatri, Vol.
12, No. 3, Oktober 2010

3. Hardiono D. Pusponegoro, Dwi Putro Widodo dan Sofwan Ismail. 2006.

Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Badan Penerbit IDAI. Jakarta

4. IDAI.2013. Kejang Demam Anak.


(Online).<Http:www.idai.or.id/main.php.pdf> (diakses pada tanggal 29
Juli 2019)

5. Lusia. 2015. Mengenal Demam dan Perawatannya pada Anak. Surabaya:


Airlangga University Press (AUP).

6. Ngastiyah.2005. Perawatan anak sakit.Edisi 2. Jakarta: EGC

7. Notoatmodjo. 2010. Metedologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


Cipta

8. Taslim.2013. Buku Ajar Neorologis Anak. Jakarta: FKUI

28
29