Anda di halaman 1dari 4

RESUME SEMINAR

JUDUL SEMINAR : “Financial Technology Business Model


& Regulation”
PEMBICARA : Setiawan Adhiputro
TANGGAL SEMINAR : 1 November 2019

ABRAHAM IVAN ALEXANDER


201750051

www.tsm.ac.id
2019
Zaman sekarang ini teknologi sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat, jika
dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Tidak hanya dalam bidang teknologi itu sendiri, tetapi
juga merambah ke bidang-bidang yang lainnya, tidak terkecuali finansial. Berkat perkembangan
teknologi, berbagai aktivitas finansial bisa dilakukan dengan lebih mudah dan praktis sehingga
hemat waktu dan tenaga.

Mulai dari transaksi melalui smartphone, membayar dengan e-Money, bahkan hingga melakukan


investasi, membayar tagihan bulanan, kredit online, pembukaan rekening tabungan, semuanya
kini bisa dilakukan secara mudah. Salah satunya adalah Fintech (Financial Technology) yang
sedang berkembang dalam Indonesia bahkan dunia.

Beberapa tahun terakhir ini memang istilah fintech banyak jadi bahan pembicaraan.


Fintech adalah singkatan dari financial technology, yaitu penggabungan antara teknologi dan
sistem finansial atau keuangan. Kalau menurut National Digital Research Centre
(NDRC), fintech merujuk pada inovasi dalam bidang jasa finansial atau inovasi finansial yang
diberi sentuhan teknologi modern.

Definisi tersebut tidak jauh berbeda dari yang dipaparkan oleh Bank Indonesia. Pada situs
resminya, Bank Indonesia mendefinisikan financial technology sebagai hasil gabungan antara
teknologi dan jasa keuangan, yang mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat.
Jadi, yang pada awalnya harus melakukan transaksi dengan bertemu langsung atau bertatap
muka, kini bisa dilakukan walau dengan jarak jauh dalam hitungan detik saja.

Berkat adanya pemanfaatan teknologi yang digabung dengan sistem finansial, fintech pun


berhasil memberikan banyak manfaat di berbagai lingkup kehidupan. Mulai dari memudahkan
layanan finansial hingga mendukung inklusi keuangan, ini dia beberapa manfaat fintech yang
perlu kamu tahu. Perusahaan Fintech (Financial Technology) juga masuk dalam OJK (Otoritas
Jasa Keuangan) ada perusahaan yang sudah terverifikasi dan legal untuk berada di Indonesia dan
ada juga yang illegal, jadi kita harus berhat-hati dalam memilih perusahaan fintech yang akan
kita pilih, untuk memastikan apakah perusahaan fintech tersebut sudah legal atau illegal kita
dapat mengecek nya di website OJK

Salah satu manfaat yang ditawarkan oleh fintech adalah kemudahan layanan finansial,mungkin


manfaat satu inilah yang paling terasa. Coba bandingkan dengan sepuluh tahun lalu. Saat hendak
mentransfer uang, kita mungkin harus mendatangi mesin ATM atau teller di bank. Hal ini tentu
cukup merepotkan karena membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tetapi saat ini kita hanya
tinggal membuka handphone kita lalu bisa mentransfer uang kita melalui HP, lalu bisa mengecek
saldo dan melakukan pembayaran lainnya.
Bahkan beberapa layanan fintech juga memungkinkan kamu untuk membayar berbagai tagihan
bulanan, contohnya listrik, telepon, dan BPJS. Kita pun jadi bisa menghemat waktu dan tenaga
karena tidak perlu keluar rumah untuk melakukan transaksi tersebut.

Sebelum kemunculan fintech, mayoritas pelaku UMKM di Indonesia mengandalkan pinjaman


bank untuk mendapatkan modal usaha. Tentu tidak ada yang salah dengan hal ini. Namun, perlu
kita ingat lagi kalau pinjaman bank biasanya memiliki bunga yang cukup tinggi. Belum lagi
prosedur dan persyaratan yang umumnya cukup sulit.

Fintech adalah solusi terbaik untuk membantu memajukan UMKM. Saat ini, sudah ada cukup
banyak penyedia layanan fintech di Indonesia yang menawarkan pinjaman modal usaha dengan
bunga relatif lebih rendah apabila dibandingkan dengan bunga bank. Sistem ini disebut juga
dengan peer-to-peer (P2P) lending, yaitu sebuah praktik berbasis online platform yang
mempertemukan pelaku UMKM yang membutuhkan dana dengan orang-orang yang bersedia
berinvestasi meminjamkan uang mereka.

Inklusi keuangan merujuk pada akses terhadap lembaga keuangan masyarakat. Pada 2019 ini,
Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DKNI) menargetkan 75% inklusi keuangan. Namun,
sampai sekarang target tersebut baru tercapai 49%. Itulah kenapa pemerintah Indonesia
menyusun kebijakan inklusi keuangan demi menarget masyarakat yang berada di piramida
ekonomi paling bawah. Umumnya, masyarakat ini tinggal di desa-desa terpencil.

Fintech adalah alternatif solusi untuk membantu mencapai target inklusi keuangan tersebut.
Umumnya, layanan fintech berbasis online sehingga bisa lebih mudah diakses selama siapa pun
memiliki jaringan internet. Hal ini sejalan dengan pilar ketiga dari pengembangan inklusi
keuangan di Indonesia, yaitu Layanan Keuangan Digital Inovatif.

Ada beberapa regulasi yang dikeluarkan oleh OJK dalam perizinan perusahaan fintech :

1. Mekanisme pencatatan dan pendaftaran fintech


2. Mekanisme Pemantauan dan Pengawasan Fintech
3. Pembentukan Ekosistem Fintech
4. Membangun Budaya Inovasi
5. Inklusi dan Literasi
6. Bisnis dan Perlindungan Data
7. Manajemen Risiko yang Efektif
8. Kolaborasi
9. Perlindungan konsumen
10. Transparansi
11. Anti pencucian uang dan pendanaan terorisme

Inilah regulasi-regulasi yang harus dijalankan oleh pemilik perusahaan fintech agar dapat masuk
dalam daftar legal milik OJK.