Anda di halaman 1dari 5

IKATAN MAHASISWA SIPIL

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL


ERLISSA SHIDQA
03011381924094

BAB II
AGREGAT HALUS

2.1. Pemeriksaan Kadar Air Agregat Halus


2.1.1.Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dalam percobaan ini yaitu untuk mengetahui presentase air yang
terkandung dalam agregat terhadap berat kering dari agregat.

2.1.2.Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan pada pemeriksaan kadar air agregat
halus adalah :
1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 % dari berat.
2. Oven yang suhunya dapat diatur sampai (100 ± 5)o c.
3. Talam logam tahan karat berkapasitas cukup besar bagi tempat pengeringan.
4. Bahan yang digunakan berupa agregat kasar dengan 2500 gram.

Gambar 2.1.1. Pan Gambar 2.1.2. Timbangan

Civil Engineering of Sriwijaya University


8
IKATAN MAHASISWA SIPIL
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL
ERLISSA SHIDQA
03011381924094

Gambar 2.1.3. Agregat halus Gambar 2.1.4. Oven

2.1.3.Prosedur Percobaan
Adapun prosedur percobaan praktikum ini adalah sebagai berikut :
9
Civil Engineering of Sriwijaya University
IKATAN MAHASISWA SIPIL
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL
ERLISSA SHIDQA
03011381924094

1. Timbang berat pan (W1).


2. Masukkan Benda Uji seberat 2500 gram ke dalam pan , lalu timbang (W2).
3. Keringkan benda uji dalam oven beserta pan dengan suhu (100±5) o C sampai
beratnya konstan (tetap).
4. Timbang pan beserta benda uji (W).
5. Hitung berat benda uji sebelum di oven (W4=W2-W1).
6. Hitung berat benda uji setelah di oven (W5=W3-W1).
7. Hitung kadar air yang terkandung dalam agregat.

2.1.4.Perhitungan
Rumus yang digunakan :
10

Civil Engineering of Sriwijaya University


IKATAN MAHASISWA SIPIL
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL
ERLISSA SHIDQA
03011381924094

W 4−W 5
Kadar air (KA) = x 100 %
W5
KA 1+ KA 2
Kadar air rata-rata =
2

Tabel 2.1.1. Data perhitungan observasi 1

OBSERVASI I
A Berat Pan (W1) 590 gr
B Berat Pan + Benda uji (sebelum dioven) (W2) 3090 gr
C Berat Pan + Benda uji (setelahdioven) (W3) 2916 gr
D Benda uji (sebelum dioven) (W4 = W2 - W1) 2500 gr
E Benda uji (setelah dioven) (W4 = W3 - W1) 2326 gr

W 4−W 5 2500−2326
Kadar air (KA1) = x 100 % = x 100 %=7,48 %
W5 2326

Tabel 2.1.2. Data perhitungan observasi 2

OBSERVASI II
A Berat Pan (W1) 590 gr
B Berat Pan + Benda uji (sebelum dioven) (W2) 3090 gr
C Berat Pan + Benda uji (setelah dioven) (W3) 2922 gr
D Benda uji (sebelum dioven) (W4 = W2 - W1) 2500 gr
E Benda uji (setelah dioven) (W4 = W3 - W1) 2332 gr

W 4−W 5 2500−2332
Kadar air (KA2) = x 100 % = x 100 %=7,20 %
W5 2332

KA 1+ KA 2 7,48 %+7,20 %
Kadar air rata-rata = = = 7,34 %
2 2

2.1.5.Pembahasan

11

Civil Engineering of Sriwijaya University


IKATAN MAHASISWA SIPIL
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL
ERLISSA SHIDQA
03011381924094

Perhitungan kadar air merupakan salah satu komponen dari perhitungan sifat
agregat sangatlah penting dalam menentukan kondisi beton yang dihasilkan. Karena
kita ketahui bahwa agregat dapat menyimpan air, sehingga dikhawatirkan akan
menyumbang atau menyerap air pada campuran sehingga merubah kondisi campuran
tidak sesuai dengan kondisi yang diharapkan.
Didapatkan dari percobaan ini kadar air pada agregat halus di observasi I adalah
7,20% dan pada observasi II adalah 7,4806% sehingga didapatkan nilai rata-rata
kadar air agregat halus adalah 7,34%. Persentase kadar air yang diperoleh merupakan
perbandingan antara berat air dengan berat benda uji setelah di oven. Kadar air
agregat perlu diketahui untuk mengetahui jumlah air yang diperlukan dalam
campuran adukan beton sesuai dengan nilai yang pas.
Ketika melakukan koreksi, dapat diketahui kelebihan dan kekurangan air dalam
campuran beton dengan membandingkan persentase absorpsi, persentase kadar air
dalam agregat halus memperngaruhi rasio air semen(w/c) yang digunakan dalam
proses pencampuran beton. Hal ini dikarenakan agregat yang basah akan membuat
campuran beton menjadi semakin basah dan begitu pula sebaliknya.

12
Civil Engineering of Sriwijaya University