Anda di halaman 1dari 7

Khumairaa

( ​pipi Kemerah merahan​)


Oleh : Munif Al Maskur

​“ Aku pernah mencoba dengan dia yang salah.


Kau pernah gagal menemukan cahaya di lorong hatinya sampai kehilangan arah.
Tapi bukankah setiap pagi selalu menawarkan angin baru?
Bukankah setiap insan berhak atas perjalanan yang lebih menjanjikan untuk dijalani
esok?
Demimu,aku rela menunggu.Demi kau,aku bersabar dan berjibaku demi
memantaskan diriku
Yaa Khumaira,,,tunggulah ”

Malam ini, di sepetak kamar kos sederhana tengah kota, tampak sebuah
laptop menyala dengan rumus integral kalkulus yang masih dikerjakan dalam
program Excell bajakan. Tugas kuliah matematika kelas dewa agaknya. Seorang
mahasiswa jurusan statistika yang berada di dalam kamar itu memperhatikan hp
jadulnya yang bergetar pertanda ada pesan masuk. Muhammad, sang pemilik
handphone yang sedari tadi terus saja memegangi kepalanya kini mulai beranjak
mengambil Hp tersebut. “Assalamualaikum mas Ahmad”. Aisyah, adik kelasnya di
kampus. Seorang gadis anggun dengan hijab yang menutupi auratnya.
“Subhanallah!”
Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Ahmad.Bergegas Ahmad membalas sms
dari Aisyah. Baginya gadis itu bagaikan oase di tengah-tengah gurun perasaannya
yang selama ini panas dan mengering.
Tak ada setetespun perasaan Ahmad kepada Aisyah.Semuanya murni soal
akidah,hanya itulah bahasan dalam setiap pesannya. Tak ada lagi yang bisa
diucapkan.
Tanpa terasa,tanpa tersadari oleh indera,mulai ada tawa dalam setiap
pesannya.Keduanya mulai membahas masalah yang lebih intim.Remaja itu berteriak
histeris. Ideologinya selama ini yang kental akan nuansa muslim telah membentengi
perasaannya sendiri. Bahwa pada dasarnya, laki-laki dan perempuan tak boleh
bersatu apabila bukan suami istri. Astaghfirullahalazim!

“Mas Ahmad? Gimana nih surah Al-Ahzab ayat 21! Tentang sifat nabi itu!”
sebuah pesan datang dari Khumairaa,,yahh panggilan akrab Ahmad pada Aisyah.
Ahmad tahu ini salah,dan Ahmad pun yakin Aisyah pun tahu kalau ini semua
salah, entah apa yang telah meracuni keduanya hingga itu semua terjadi begitu
saja.Hampir tiap hari layanan ​Short Message Service menjadi penghubung diantara
keduanya.
“ Mas,kayaknya ini ada yang salah sama kita” Jleggg,,,Ahmad terdiam
dengan jantung berdebar debar membaca pesan itu dari Aisyah.Sepertinya Ahmad
sudah tahu mau kemana arah pembicaraannya..
“gimana khumairaa?’ jawab Ahmad gemetar
Aisyah pun membeberkan semua argumennya,,dan benar dugaan
Ahmad.Keduanya paham betul dengan aturan di agamanya.
Astaghfirullahhh,,,kata itu yang terucap berkali kali dari mulut Ahmad..hijab
memang tidak hanya digunakan untuk menutupi kepala,tetapi lebih dari itu,ada yang
lebih ​urgent ​ ntuk
u ditutupi,Kalbu,,,yahh Ahmad merenung semalaman
menginstropeksi jiwanya,,salahkah ini??? Egois sekali kalau hanya mementingkan
diri sendiri .
“Fix” keduanya sepakat untuk membatasi komunikasi mereka untuk beberapa
waktu,satu bulan dua bulan dilalui tanpa satu katapun,namun itu semua tak
bertahan lama, kesepakatan itu akhirnya hanya sebatas wacana belaka,faktanya
keduanya tak bisa lepas dari tali yang telah terlanjur terikat erat keduanya.
Kesepakatan yang benar mufakat akhirnya tercapai seiring berjalannya
waktu,perlahan intensitas komunikasi mereka mulai berkurang..Entah ini cobaan apa
hadiah dari Sang Kuasa,rasa itu tak beranjak dari hati Ahmad walau tak pernah ada
tatap muka diantara keduanya.
Berbagai kajian dijabani oleh Ahmad,demi mendapatkan ketentraman hati
yang halal.
“ Pak Ustadz,apakah dosa apabila dalam doaku aku tidak lagi meminta jodoh
yang terbaik bagiku,melainkan aku meminta agar aku dijodohkan dengan
seseorang” Guru ngaji Ahmad hanya tersenyum mendengar pertanyaan Mahasiswa
tingkat akhir itu.. “ Jodohmu sudah tertulis akhi,janganlah kamu khawatir akan hal
seperti itu” si Ustadz menjawab dengan tenang.
Memang tidak seharusnya kita mencampuri hal hal yang sudah menjadi
ketentuan Allah,apalagi yang bersifat azali.tetapi pengetahuan itu masih belum
cukup untuk menyadarkan anak yang hobi nulis cerpen itu.
Haiiissssshhhh,,,Ahmad memalingkan pandangan dari hp jadulnya tersebut,ia
mulai membuka laptop yang sudah dipenuhi dengan materi materi skripsi tingkat
dewa itu..Tampaknya hanya monitor kecil itu yang bisa mengalihkan perhatiannya
akan Aisyah

*****

24 oktober 2015 bertempat di salah satu gedung dikawasan kota


Semarang,Ahmad dan teman temannya merayakan hari kemerdekaan mereka
dengan melempar topi toga yang sudah dinantikannya selama 4 tahun itu.
Jeprett!!!! Kamera berbagai merk itu mulai bersuara dimana mana,tak
satupun mata Ahmad yang terfokus pada jepretan kamera kamera disekelilingnya.
“Wooyyy Ahmad,apa yang kau cari ??”
Ahmad hanya tersenyum dan melambaikan tangan saat ditanya
temannya.Remaja 22 tahun itu berharap dapat bertemu Aisyah untuk yang pertama
kali disaat akhir Studinya.
Harapan itupun pupus setelah Rani,teman Aisyah mengatakan Aisyah tidak
ikut di wisuda tahun ini.Senyum sedih itu tak dapat terhindar dari muka Ahmad
mendengar perkataan Rani.Kenyataannya Ahmad tidak pernah sekalipun bertatap
muka dengan gadis yang mengkalangkabutkan hatinya tersebut.
“ Ya Allah,engkaulah penguasa hati ini,maka perjelaslah isi hatiku ini”
Usai acara tahunan tersebut,Ahmad langsung bergegas pulang ke kampung
halamannya.Dia tidak memperdulikan teman temannya yang sibuk dengan sesi
pemotretan tersebut.
Home sweet home,,s​ ejenak melepas kepenatan hidup,berkumpul layaknya
keluarga utuh,bercengkerama dengan saudara.Hal yang sempat hilang selama 4
tahun itu terasa begitu nyaman di hati Ahmad.
“Allahu Akbar,,Allahu Akbar “ suara mas Didik tetangga Ahmad menyuruhnya
untuk segera solat subuh.Begitulah kehidupan Ahmad selama 2 bulan
dirumah,bangun subuh pulang magrib,seperti ayam kehilangan induknya,tiap hari
Ahmad berkelana mengelilingi kota kecil tempat kelahirannya itu,jalan setapakpun ia
lindas demi secuil pengalaman yang belum tentu ia harapkan.
Tuliiittt tuliiitttt,,suara hp Ahmad sambil bergetar. “Nang,cepat pulang.ini ada
surat untukmu” Pesan dari Ibu Ahmad.
Aisyahh,,,yaa,,hanya Aisyah yang terpikir di otak Ahmad.tapi kenapa tidak
sms,kenapa kirim surat??? Pikir Ahmad sambil ngebut bergegas pulang.
Sampai rumah,belum sampai motornya mati.ayah dan ibu Ahmad langsung
memeluk anak laki lakinya ini.
“selamat ya nak,,,, ayooo kamu siap siap “
Senyum bingung Ahmad mulai terjawab ketika adiknya Fatimah
membawakan surat dengan logo perusahaan ternama itu.
Langsung Ahmad menyabet surat yang digenggam adiknya itu,tak perlu
waktu lama untuk membaca,Ahmad langsung sujud mengucapkan syukur pada
Tuhannya.

*****

Pagi ini aku harus berangkat ke kantor lebih awal, ini adalah tanggal muda
saatnya menerima gaji bulanan dari bos secara langsung. “ini untukmu Ahmad,
terimakasih telah bekerja secara profesional di kantor ku ini, semoga kau selalu
betah. Ada sedikit bonus tambahan untuk bulan ini” itu lah ucapan bos besarku, Pak
Djalil. “Alhamdulillah, terima kasih banyak pak atas semua nya” ujarku membalas.
“Berterimakasih lah kepada Allah nak, bapak kan hanya perantara” kalimat jitu yang
selalu dikeluarkan Pak Djalil disaat tanggal muda tiba.

Aku bergegas kembali ke meja ku, setumpuk kertas dan ratusan email
sudah menunggu ku, inilah pekerjaanku.Suara ketikan dan dering telpon tak
henti-hentinya mengirama puluhan pekerja di ruangan ini. Suara yang sudah biasa.
“hari ini ada karyawan baru yang akan mengisi meja kosong di sebelahmu Ahmad”
suara itu berkali-kali terulang di setiap perjumpaanku dengan orang dalam ruang itu.
“benarkah? Siapa? berarti aku tak akan sendirian mulai hari ini ya. Berita yang
bagus”

Serambi mengerjakan pekerjaan yang semakin siang semakin banyak,


ruangan ini tak pernah sepi dari obrolan para karyawan, aku yang duduk di sebelah
pojok kanan pun tak mau tertinggal dari berita-berita atau gosip yang beredar.
“Ahmad, kau tau karyawan baru itu perempuan. Senang sekali kau pastinya, aku
yang selalu ingin duduk di sebelah perempuan di kantor ini saja tak pernah terwujud.
Kau beruntung Ahmad” ucap Gandhi, karyawan yang senang sekali menggoda
perempuan, yang tak pernah mengenal usia yang telah Menginjak kepala empat.

Hari semakin siang, setelah makan siang dan sholat serta istirahat yang
cukup inilah saat kerja kembali dimulai. Aku mendapat banyak sekali pesan masuk
di email. Harus kuselesaikan hari ini juga, tak peduli lah jika aku pulang malam.

“Assalamu’alaikum. Apakah anda Bapak Ahmad”

“Wa’alaikum salam. Iya saya Ahmad” dengan sangat tak sopan aku sampai
tak menoleh siapa yang menyapaku, sampai pemilik suara itu mengetok mejaku.
“saya karyawan baru disini” suara itu yang membuat aku kaget. Aku bergegas berdiri
dan merapikan apa-apa yang harus aku rapikan.

“Ma..ma...maafff “ pulpen Ahmadpun jatuh berbarengan dengan kata


maafnya itu.

Haaahhh,,haaahhh,,haaah,,, begitulah kira kira suara nafas Ahmad yang


tersengal sengal melihat karyawan baru di kantornya.

AISYAHHHH?????

Keduanya diam sejenak dengan mimik yang tidak percaya.Dua menit yang
ditunggu tunggu Ahmad selama bertahun tahun itu terwujud juga.

Tak butuh waktu lama bagi keduanya beradaptasi dengan lingkungan yang
baru dalam hidup mereka.Tetapi ada dua hal yang tidak berubah dari
keduanya,,mereka sama sama tidak berani menatap mata masing
masing.Sepertinya mereka masih sama kuat menjaga pandangan mereka.

*****

“ Aisyahh,,aku pengen ngomong sama kamu” Belum sempat Aisyah


menjawab pertanyaannya,,Ahmad langsung meneruskan perkataannya.

“ Apakah kau masih ingat dengan targetmu ditahun 2020 ini??apa kau
masih ingat perkataanmu 6 tahun yang lalu??” tanya Ahmad lirih sambil
menundukkan kepalanya.

“ tentu aku ingat mas,itu target terbesarku tahun ini” jawab Aisyah dengan
senyum khas manisnya.

“lalu,,,apakah kau sudah mempersiapkan untuk targetmu itu??” tanya


Ahmad dengan penuh penasaran.

“ Aku sedang menunggu seseorang mas “ Aisyah menjawabnya dengan


nada datar.

“ Siapa dia??apakah aku mengenalnya? “ keringat dingin Ahmad pun mulai


bercucuran.

“ tentu kau sangat mengenalnya mas,dia adalah orang yang memanggilku


Khumairaa ​6 tahun yang lalu” Jawab wanita berkerudung biru itu dengan wajah yang
kemerah merahan.

“Apakah yang kau maksud itu,,,,AKU????? Suara Ahmad semakin lirihhh

Senyum kemerah merahan itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan


Ahmad..

Tuuuuttt tuuuttt,,” Assalamualaikum Yaa khumairaa ​☺ .Bulan depan


bolehkan aku dan kedua orangtuaku berkunjung kerumahmu?? “ Aisyah membaca
pesan di layar hpnya

“ Silahkan mas,,Bapak ibu sudah menunggu ​☺​ “

*****
14 Oktober 2020, bertempat di kediaman Aisyah.Ahmad mengucapkan
qabul yang didampingi oleh orangtua Aisyah.

“ Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Zumratul Muna binti Muhammad
Rasyid dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai” dengan lantang
Ahmad melantunkan kalimat qabul tersebut.

Keduanya bertemu karena Allah dan karena Allah pula mereka


bersatu.maka terjawab sudah doa Ahmad selama ini “ ​Rabbana hablana min
azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw,waj’alna lil muttaqiena imaamaa”

*****

“ Tapi dalam tiap ukhuwah dan cinta

Dalam tiap ikatan yang Allah jadi saksinya

Aku ingin meloncat ke hakikat yang lebih tinggi

Karena tiap orang beriman tetaplah rembulan

Memiliki sisi hitam,yang tak pernah ingin ditampakkannya pada siapapun

Maka kucukupkan bagiku

Memandang satu rembulan

Pada sisi anggun dalam diamnya

Satu pintaku padamu sang bulan

Bersediakah engkau mendampingi bumi sampai akhir nanti??”