Anda di halaman 1dari 11

Masyarakat dan Kebudayaan

oleh: Almr. Prof. Parsudi Suparlan

Dari Buku: Hubungan Antar Suku Bangsa, YPKIK, 2004

A.Masyarakat  

Masyarakat adalah sekelompok individu yang secara langsung atau tidak langsung saling
berhubungan  sehingga merupakan sebuah satuan kehidupan yang berkaitan antara sesamanya
dalam sebuah satuan kehidupan yang dimana mempunyai kebudayaan tersendiri, berbeda dari
kebudayaan yang dipunyai  oleh masyarakat lain.  Sebagai satuan kehidupan, sebuah  masyarakat
biasanya menempati sebuah wilayah yang  menjadi tempatnya  hidup dan lestarinya masyarakat
tersebut, karena warga masyarakat tersebut hidup dan memanfaatkan berbagai sumber daya yang
ada dalam wilayah tempat mereka itu hidup untk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup mereka
sebagai manusia. Maka terdapat semacam keterkaitan hubungan antara sebuah masyarakat dengan
wilayah tempat masyarakat itu hidup. sebuah masyarakat merupakan sebuah struktur yang terdiri
atas saling berhubungan peranan-peranan dan para warga, peranan-peranan tersebut dijalankan
sesuai norma-norma yang berlaku. Saling berhubungan diantara peranan-peranan ini mewujudkan
struktur-struktur peranan yang biasanya terwujud sebagai pranata-pranata. untuk mewujudkan
peranata-peranata itu dalam kehidupan manusia bermasyarakat untuk pemenuhan kebutuhan-
kebutuhan hidup sebagai manusia, yang dianggap penting oleh masyarakat yang bersangkutan.
Melalui pranata-pranata yang ada, sebuah masyarakat dapat tetap lestari dan berkembang. Pranata-
pranata yang ada dalam masyarakat, antara lain, adalah pranata keluarga, pranata ekonomi, pranata
politik, pranata keagamaan, dsb.

Norma-norma yaitu norma yang mengatur hubungan antara peranan-peranan, yang berisikan
patokan-patokan etika dan moral yang harus ditaati dan dilakukan oleh para pemegang peranan
dalam hubungan antara satu dengan lainnya dalam kegiatan-kegiatan pemenuhan kebutuhan.
Norma-norma yang berlaku dalam sebuah masyarakat mengacu pada kebudayaan yang dipunyai
oleh masyarakat tersebut.

B. Kebudayaan

Profesor Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan sebagai wujud yang mencakup antara


gagasan atau ide, kelakuan, dan hasil kelakuan. kebudayaan yang dikemukakan oleh Profesor
Koenjaraningrat, lebih lanjut, dilihatnya dalam persepektif  Taksonomik yaitu kebudayaan dilihat dari
unsur-unsur universal adalah masing-masing terdiri atas unsur yang lebih kecil dan yang lebih kecil 
lagi, yang dinamakan sebagai trais dan items. Dalam hal ini kebudayaan dilihat sebagai sebuah
satuan yang berdiri terlepas dari keberadaan pelakunya ataupun terealisasi dari fungsi dalam
struktur kehidupan manusia. Dalam upaya memahami hubungan antara individu, masyarakat, dan
kebudayaan. dan dalam upaya memahami fungsi kebudayaan dalam struktur kehidupan manusia,
definisi profesor koenjaraningrat sebetulnya tidak relevan.

Dengan mangacu pada karya-karya Malinowski (1961, 1944) mengenai kebutuhan-kebutuhan


manusia dan pemenuhannya melalui fungsi dan pola-pola kebudayaan, dan dengan mengacu pada
karya Kluckhohn (1994) yang melihat kebudayaan sebagai blueprint bagi kehidupan manusia, serta
dari Geerts (1973) yang melihat kebudayaan sebagai sistem-sistem makna, saya melihat kebudayaan
sebagai pedoman bagi kehidupan manusia yang secara bersama dimilik oleh para warga sebuah
masyarakat.’ Atau dengan kata lain kebudayaan adalah sebuah pedoman menyeluruh bagi
kehidupan sebuah masyarakat ydan para warganya.
Dalam perspektif ini kebudayaan dilihat sebagai terdiri atas konsep-konsep, teori-teori, dan metode-
metode yang diyakini kebenarannya oleh warga masyarakat yang menjadi pemiliknya. Kebudayaan
dengan demikian merupakan sistem-sistem acuan yang ada pada berbagai tingkat pengetahuan dan
kesadaran, dan bukan pada tingkat gejala yaitu pada tingkat kelakuan atau hasil kelakuan
sebagaimana didefinisikan oleh Profesor koenjaraningrat. sebagai sistem-sistem acuan, konsep-
konsep, teori-teori, dan metode-metode digunakan secara selektif sebagai acuan oleh para pemilik
kebudayaan dalam menghadapi lingkungannya , yaitu digunakan untuk menginterpretasikan dan
manfaatka lingkungan bserta isinya bagi pemenuhan-pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidupnya
sebagai manusia. Pemilhan secara selektif dilakukan secara pertimbangan oleh pelaku mengenai
konsep atau metode atau teori yang mana yang paling cocok atau yang tebaik yang dapat digunakan
sebagai interpretasi sebagai acuan interpretasi mewujudkan tindakan-tindakan. Tindakan-tindakan
tersebut dapat dilihat sebagai dorongan-dorongan atau motivasi dari dalam diri pelaku  bagi
pemenuhan kebtuhan maupun sebagai tanggapan-tanggapan (responses) pelaku atas rangsangan-
rangsangan (stimulasi) yang berasal dari lingkungannya.

Keberadaan kebudayaan dalam kehidupan manusia adalah fungsional dalam struktur-struktur


kegiatan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup sebagai manusia. Yaitu sebagai kategori-
kategori atau golongan-golongan yang ada di dalam lingkungannya. Yaitu kategori yang dapat
dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya sebagai manusia. Kebutuhan-
kebutuhan hidup yang harus dipenuhi manusia agar dapat hidup sebagai manusia mencakup tiga
kategori. Ketiga kategori kebutuhan tersebut harus dipenuhi secara bersama-sama dan dalam
pemenuhan kebutuhan tersebut di integrasi oleh kebutuhan adab, yang menjadikan pemenuhan
kebutuhan hidup tersebut sebagai tindakan-tindakan yang penuh adab, etika, dan moral. Adapun
kebutuhan-kebutuhan hidup manusia adalah sebagai berikut:

Kebutuhan biologi atau primer (makan, minum, menghirup oksigen, buang air besar/kecil, istirahat,
tidur seksual, dan sebagainya).

Kebutuhan sosial atau sekunder (berkomunikasi dengan sesama, pendidikan, kontrol sosial, pamer,
dan sebagainya).

Kebutuhan adab atau kemanusiaan, yaitu kebutuhan-kebutuhan yang mengintegrasikan berbagai


kebutuhan yang tercakup dalam kebutuhan biologi dan sosial. Kebutuhan adab atau kemanusiaan ini
muncul dan terpancar dari hakekat manusia sebagai mahluk tuhan yang tertinggi derajatnya, yang
mmpunyai kemampuan berfikir, bermoral, sehingga pemenuhan-pemenuhan kebutuhan hidup
manusia itu bercorak manusiawi bukan hewani.

kebutuhan-kebutuhan adab mencakup:

Kebutuhan untuk dapat membedakan yang benar dari yang salah, yang adil dari yang tidak adil, yang


suci dari yang kotor, yang berpahala dari yang berdosa.

Kebutuhan untuk mengungkapkan perasaan-perasaan dan sentimen-sentimen perorangan atau


kolektif atau kebersamaan.

Kebutuhan untuk menunjukkan jati diri dan keberadaan serta asal muasalnya, dan kebutuhan untuk
mempunyai keyakinan serta kehormatan diri.

Kebutuhan untuk dapat menyampaikan ungkapan-ungkapan estetika, etika, dan moral.

Kebutuhan rekreasi dan hiburan

Kebutuhan akan rasa aman, tentram, dan adanya keteraturan dalam kehidupan.
Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup manusia selalu dilakukan melalui pranata-pranata
(Suparlan 1998, 1986). Setiap pranata yaitu sebuah sistem antar hubungan norma-norma dan
peranan-peranan untuk pemenuhan kebutuhan yang dianggap penting oleh masyarakat yang
bersangkutan, menyajikan seperangkat pedoman untuk bertindak sesuai dengan corak pranatanya.
Kegiatan-kegiatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan melalui pranata-pranata biasanya terpola dan
berlangsung secara berulang dari waktu kewaktu. Dalam proses-proses tersebut maka tradisi-tradisi
berkenaan dengan sesuatu pemenuhan kebutuhan-kebutuhan untuk hidup itu menjadi baku.

Kepustakaan

Geertz, C (1973), The Interpretation of Cultures, Newyork: Basic Book.

Kluckhom, C. (1994). “ Cermin Bagi Manusia” Dalam, Parsudi Suparlan, Editor, Manusia, kebudayaan,
dan lingkungannya (Disadur oleh Parsudi Suparlan, dari Mirroro for Man Oleh Clyde Kluchon, New
York: MacGraw Hill, 1948). Jakarta: Grafindo Persada, Cetakan-2.

Malinowski, B. (1961), Argonauts of the Western Pacific. New York: Dutton. Paperback.

Malinowski, B. (1994), A Scientific Theory of Culture. Chappel Hill: Univ Of North Caroline Press.

Suparlan, P. (1998), ‘ Model Sosial Budaya bagi penyelenggaraan Transmigrasi  di Irian Jaya’, Majalah
Antropologi Indonesia, 57, 1998, hal. 23-47.

Suparlan, P. (1986), ‘ Kebudayaan dan Pembangunan’, Media IKA, Vol. 14, no.11, hal. 106-135.


Jurusan Antropologi, U.I.
 Masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Tak ada masyarakat
yang tidak mempunyai kebudayaan dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai
wadah dan penduduknya.

            Kata “kebudayaan” bersal dari (bahasa sansekerta) buddhayah yang merupakan bentuk jamak
dari kata “buddhi”yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang
bersangkutan dengan akal atau budi.

Adapun istilah culture yang merupakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayaan,
berasal dari kata latin colere. Artinya mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah atau
bertani. Dari asal arti tersebut yaitu colere kemudian culture, diartikan sebagai segala daya dan
kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.

Pengertian kebudayaan menurut beberapa ahli :

Menurut Bronislaw Malinowski (Antropolog), kebudayaan adalah segala sesuatu yang terdapat
dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah
pendapat ini disebut Cultural-Determinism.

Menurut Herskovits, kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari suatu generasi ke
generasi yang lain yang kemudian disebut superorganic

Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, ilmu sosial
keseluruhan struktur-struktur sosial, religious, dan lain-laintambahan lagi segala pernyataan
intelektual dan artistic yang menjadi ciri khas masyarakat

Menurut Edward B. Tylor, menurut merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya
terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-
kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Seseorang sosiolog lebih menaruh perhatianya pada perilaku sosial. Selo Soemardjan dan Soelaeman
Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya
masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebendaan jasmaniah yang
diperlukan oleh manusia untuk menguasi alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat
diabadikan untuk keperluan masyarakat.

Rasa yang meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu
untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakaan dalam arti luas. Cipta merupakan kemampuan
mental, kemampuan berpikir orang-orang yang hidup bermasyarakat dan yang antara lain
menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan. Semua karya, rasa, dan cipta dikuasai oleh karsa
orang-orang yang menetukan kegunaanya agar sesuai dengan kepentingan sebagian besar atau
dengan seluruh masyarakat.

UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN

Kebudayaan setiap bangsa masyarakat terdiri dari unsur-unsur besar maupun unsur-unsur kecil yang
merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat kesatuan.

Beberapa orang sarjana, telah mencoba merumuskan unsur-unsur pokok kebudayaan tadi, misalnya,
Melville J. Herskovits mengajukan 4 unsur pokok kebudayaan, yaitu :

Alat-alat teknologi
Sistem ekonomi

Keluarga

Kekuasaan politik

Bronislaw Malinowski yang terkenal sebagi salah seorang pelopor teori fungsional dan antropologi,
menyebutkan unsur-unsur pokok kebudayan sebagai berikut,

Sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat di dalam upaya
menguasai alam sekelilingnya

Organisasi ekonomi

Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan; perlu diingat bahwa keluarga merupakan lembaga
pendidikan yang utama

Organisasi kekuatan.

Antropolog C. Kluckhohn di salam sebuah karyanya yang berjudul Universal Categoris of


Culture menguraikan ulasan para sarjana mengenai pendapat-pendapat sarjana mengenai
kebudayaan. Inti pendapat-pendapat para sarjana itu menunjuk pada adanya tujuh unsur
kebudayaan yang dianggap sebagai Cultural Universal, yaitu :

Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat produksi, transport,dsb)

Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi

Sistem kemasyarakatan

Bahasa

Kesenian

Sistem Pengetahuan

Religi (sistem kepercayaan)

KARAKTERISTIK BUDAYA (CHARACTERISTICS OF CULTURE)

Only man has culture

Culture exists in the minds of individual human beings who be learned it in their past associations
with other human being and who use it to guide the own continuing interaction with other

Human Cultures vary considerably, one from the other. In our culture, for instance, the “eternal
triangle” is a serious problem.

But although different in some respect, cultures resemble one other to a considerable extent

Once a culture has been learned and accepted

All culture are gradually and continuously being change, even though human beig tend to resist
these changes.
In the process of changing culture, members of a society often borrow from other culture.

Different individuals of the same society may behave differently in respond to a given situation, even
though all have internalized certain element of the same culture

No person can escape entirely from his culture.

FUNGSI KEBUDAYAN BAGI MASYARAKAT

Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dam masyarakat. Bemacam
kekuatan yang harus dihadapi masyarakat dan anggota-anggotanya seperti kekuatan alam, maupun
kekuatan-kekuatan lainnya di dalam masyarakat itu sendiri yang tidak selalu baik baginya. Manusia
dan masyarakat memerlukan pula kepuasan, baik dalam bidang spiritual maupun materiil.
Kebutuhan-kebutuhan masyarakat diatas, sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang
bersumber pada masyarakat itu sendiri.

Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi atau kebudayaan kebendaan yang mempunyai
kegunaan utama di dalam melindungi masyarakat tehadap lingkungan dalamnya. Teknologi pada
hakikatnya meliputi paling sedikit tujuh unsur, yaitu :

Alat-alat produktif

Senjata

Wadah

Makanan dan minuman

Pakian dan perhiasan

Tempat berlindung

Alat-alat transport

Dalam tidakan-tindakannya untuk melindungi diri terhadap lingkungan alam, pada taraf permulaan,
manusia bersikap menyerah dan semata-mata bertindak di dalam batas-batas untuk melindungi
dirinya. Taraf tersebut masih banyak di jumpai pada masyarakat yang masih rendah tahap
kebudayaanya. Misalnya suku bangsa Kubu yang tinggal di pedalaman daerah Jambi yang masih
sangat tergantung oleh alam dan tidak memiliki teknologi yang canggih. Keadaanya berbeda dengan
masyarakat yang sudah kompleks, di mana taraf kebudayaanya tinggi. Hasil karya manusia tersebut,
yaitu teknologi, memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk memanfaatkan hasil-hasil alam dan
apabila memungkinkan menguasai alam.

Kebudayaan mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat,
menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang lain. Apabila manusia hidup sendiri,
maka tak aka nada manusia lain yang merasa terganggu oleh tindakan-tindakanya. Akan tetapi setiap
orang, bagaimanapun hidupnya, ia akan selalu meciptakan kebiasaan bagi dirinya sendiri.
Kebiasaan (habbit) merupakan suatu pola perilaku pribadi. Menurut Ferdinand Tonnies, kebiasaan
mempunyai tiga arti, yaitu :
Dalam arti yang menunjuk pada suatu kenyataan yang bersifat obyektif. Misalnya, kebiasan untuk
bangun pagi. Artinya adalah, bahwa seseorang biasa melakukan perbuatan itu dalam tata cara
hidupnya.

Dalam arti bahwa kebiasaan tersebut dijadikan kaidah bagi seseorang, norma mana diciptakannya
untuk dirinya sendiri.

Sebagai perwujudan kemauan atau keinginan seseorang untuk berbuat sesuatu.

Jadi kebiasaan tersebut merujuk pada sesuatu gejala bahwa seseorang di dalam tindakan-
tindakannya selalu ingin melakukan hal-hal yang teratur baginya.

Di dalam setiap masyarakat terdapat apa yang dinamakan pola-pola perilaku atau Patterns of
behavior. Pola-pola perilaku merupakan cara-cara masyarakat bertindak atau berkelakuan yang
sama dan  harus diikuti oleh semua anggota masyarakat tersebut. Pola-pola perilaku berbeda
dengan kebiasaan. Kebiasaan merupakan cara bertindak seseorang anggota masyarakat yang
kemudian diakui dan mungkin diikuti oleh orang lain.

Dalam mengatur hubungan antar manusia, kebudayaan dinamakan pola struktur normatif atau
menurut istilah Ralph Linton design for living . unsur-unsur normatif yang merupakan bagian dari
kebudayaan adalah sebagai berikut :

Unsur-unsur yang menyangkut penilaian ( valuational elements) misalnya baik apa buruk,dsb.

Unsur-unsur yang berhubungan dengan apa yang seharusnya seperti bagaimana orang harus
berlaku.

Unsur-unsur yang menyangkut kepercayaan (cognitive elements) seperti misalnya harus


mengadakan upacara adat pada saat kelahiran.

Kaidah-kaidah kebudayaan berarti peraturan tentang tingkah laku atau tindakan yang harus
dilakukan dalam suatu keadaan tertentu. Kaidah-kaidah kebudayaan mencakup peraturan-peraturan
yang beraneka warna yang mencakup bidang yang luas sekali. Akan tetapi penelitian masyarakat,
maka secara sosiologis dapat dibatasi pada empat hal, yaitu :

Kaidah-kaidah yang dipergunakan secara luas dalam suatu kelompok menusia tertentu

Kekuasaan yang memperlakukan kaidah-kaidah tersebut

Unsur-unsur formal kaidah iturhubungan dengan ketentuan-ketentuan lainnya.

Belakunya kaidah dalam suatu kelompok manusia tergantung pada kekuatan kaidah tersebut sebagi
petunjuk tentang bagaimana seorang harus berlaku. Artinya sampai berapa jauh kaidah-kaidah itu
diterima oleh anggota kelompok, sebagai petunjuk perilaku yang pantas.

SIFAT HAKIKAT KEBUDAYAAN

Walaupun setiap masyarakat memiliki kebudayaan yang saling berbeda satu dengan yang lainnya,
namun setiap kebudayaan mempunyai sifat hakikat yang berlaku bagi umum bagi semua
kebudayaan di manapun juga. Sifat hakikat kebudayaan tadi adalah sebagai berikut.
Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia.

Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan
mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.

Kebudayaan-kebudayaan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah-lakunya.

Kebudayaan mncakup hal-hal yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang dilarang


dan tindakan-tindakan yang diizinkan.

Sifat hakikat kebudayaan adalah ciri setiap kebudayaan, akan tetapi bila sesorang hendak
memahami sifat hakikatnya yang esensial, terlebih dahulu harus memecahkan pertentangan-
pertentangan yang ada di dalamnya, yaitu :

Di dalam pengalaman manusia, kebudayaan bersiat universal. Akan tetapi perwujudan kebudayaan
mempunyai ciri-ciri khusus yang sesuai dengan situasi maupun lokasinya.  Sifat universal kebudayaan
memungkinkan terwujudnya kebudayaan yang berbeda, yang mana tergantung pada pengalaman
pendukungnya, yaitu masyarakat. Contoh : Bangsa Indonesia, Bangsa Malaysia, Bangsa Amerika.
Akan tetapi masing-masing kebudayaan mempunyai ciri-ciri khusus yang berbeda dengan lainnya,
karena masing-masing bangsa mempunyai latar belakang sendiri-sendiri.

Kebudayan bersifat stabil di samping juga dinamis, dan setiap kebudayaan mengalami perubahan
yang kontinu. Setiap kebudayaan pasti mengalami perubahan dalam perkembangannya, hanya
kebudayaan yang mati saja yang bersifat statis.

Kebudayaan mengisi serta menentukan jalannya kehidupan manusia, walaupun hal itu jarang
disadari oleh manusia itu sendiri. Gejala tersebut data diterangkan dengan penjelasan bahwa
walaupun kebudayaan merupakan atribut manusia. Namun tak mungkin seseorang mengetahui dan
meyakini seluruh kebudayaannya. Contoh : jarang bagi seseorang asal Indonesia untuk mengetahui
kebudayaan Indonesia samapi pada unsur-unsur yang sekecil-kecilnya, padahal kebudayaan itu
menentukan arah serta perjalan hidupnya.

KEPRIBADIAN DAN KEBUDAYAAN

Masyarakat dan kebudayaan sebenarnya merupakan perwujudan abstraksi perilaku manusia.


kepribadian merupakan perwujudan perlaku manusia. perilaku manusia dapat dibedakan dengan
kepribadiannya, karena kepribadian merupakan latar belakang prilaku yang ada dalam diri seseorang
individu. Kekuatan kepribadian bukanlah terletak pada jawaban atau tangapan manusia terhadap
keadaan, akan tetapi justru pada kesigapannya di dalam memberikan jawaban dan tangapan.
Sebenarnya kepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis yang
mendasari perilaku individu. Kepribadian mencakup kebiasaan-kebiasaan, sikap dan lain-lain sifat
khas yang dimiliki seseorang yang berkembang apabila orang tadi berhubungan dengan orang lain.

Dasar-dasar pokok perilaku seseorang adalah faktor-faktor biologis dan psikologis. Faktor-faktor
biologis dapat mempengaruhi kepribadian secara langsung. Misalnya, seseorang yang mempunyai
badan yang lemah (secara fisik), dapat mempunyai sifat rendah diri yang tebal. Faktor psikologis
yang dapat mempengaruhi kepribadian adalah unsur tempramen, kemampuan belajar,perasaan,
keterampilan, keinginan dan lain sebagainya.
Dalam setiap masyarakat, akan dijumpai suatu proses,di mana seseorang anggota masyarakat yang
baru (misalnya seorang bayi) akan mempelajari norma-norma dan kebudayaan masyarakat di mana
dia menjadi anggota. Proses tersebut dinamakan juga proses socialization. Ia merupakan suatu
proses di pandang dalam suatu masyarakat. Sebaiknya bila hal itu ditinjau dari sudut pandang
seorang individu maka socialization merupakan suatu proses mendapatkan pembentukan sikap
untuk berprilaku yang sesuai dengan kelompoknya. Secara sosiologis, kepribadian seseorang didapat
melalui proses diatas yang dimulai sejak kehadirannya.

Tipe-tipe kebudayaan khususnya yang nyata mempengaruhi bentuk kepribadian yakni :

Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan.

Disini dijumpai kepribadian yang saling berbeda antara individu yang merupakan anggota suatu
masyarakat tertentu, karena masing-masing tinggal di daerah yang tidak sama dan dengan
kebudayaan khusus yang tidak sama juga. Contoh :  di Indonesia ini, adat istiadat melamar mempelai
di Minangkabau adalah berbeda dengan adat istiadat melamar di Lampung.

Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda (urban and the rural ways of life). Contoh : perbedaan
antara seorang anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak yang dibesarkan di desa. Anak
kota terlihat lebih berani untuk menonjolkan diri di antara teman-temannya dan sikapnya lebih
terbuka untuk menyesuaikan diri dengan perubahan sosial dan kebudayaan tertentu. Sedangkan
seorang anak yang dibesarkan di desa lebih mempunyai sikap percaya pada diri dan lebih banyak
mempunyai sikap menilai (sense of value).

Kebudayaan khusus kelas sosial. Di dalam setiap masyarakat akan dijumpai lapisan sosial karena
setiap masyarakat mempunyai sikap menghargai yang tertentu tehadap bidang-bidang kehidupan
yang tertentu pula. Dengan demikian kita mengenal lapisan sosial yang tinggi, rendah dan
menengah. Himpunan orang-orang yang merasa dirinya tergolong pada lapisan sosial tertentu, hal
mana diakui masyarakat, itu dinamakan kelas sosial. Masing-masing kelas sosial punya kebudayaan
masing-masing, menghasilkan kepribadian yang tersendiri pula pada setiap diri anggota-anggotanya.
Contohnya kehidupan di Jakarta dilihat dari cara berpakaian, etika dalam pergaulan, cara mengisi
waktu senggang, dll.

Kebudayaan khusus atas dasar agama. Agama juga mempunyai pengaruh besar di dalam
membentuk kepribadian seorang individu. Bahkan ada berbagai mazhab di dalam satu agamapun
melahirkan pula kepribadian yang berbeda-beda di kalangan umatnya.

Kebudayaan berdasarkan profesi. Pekerjaan atau keahlian juga memberi pengaruh besar pada
kepribadian seorang. Kepribadian seorang dokter, misalnya, berbeda dengan kepribadian seorang
pengacara dan itu semua berpengaruh pada suasana kekeluargaan dan cara-cara mereka bergaul.

Inti kebudayaan setiap masyarakat adalah sistem nilai yang dianut oleh masyarakat pendukung
kebudayaan bersangkutan. Sistem nilai tersebut mencakup konsepsi-konsepsi abstrak tentang apa
yang dianggap buruk dan apa yang dianggap baik. Dengan demikian, dikenal pembedaan antara
nilai-nilai yang positif dengan nilai-nilai yang negatif.

Oleh karena sistem nilai tersebut bersifat abstrak, maka perlu diketengahkan beberapa indikator
nilai-nilai tersebut.

Konsepsi mengenai hakikat  hidup


Konsepsi mengenai hakikat karya

Konsepsi mengenai hakikat waktu

Konsepsi mengenai lingkungan awal

Konsepsi mengenai hakikat lingkungan sosial

GERAK KEBUDAYAAN

Gerak kebudayaan sebenarnya adalah gerak manusia yang hidup di dalam masyarakat yang menjadi
wadah kebudayaan. Gerak manusia terjadi oleh sebab dia mengadakan hubungan-hubungan dengan
manusia lainnya. Artinya, karena terjadinya hubungan antar kelompok manusia dalam masyarakat.

Akulturasi terjadi bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan yang tertentu dihadapkan
pada unsur-unsur suatu kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur
kebudayaan asing itu dengan lambat-laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa
menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Proses akulturasi dalam sejarah
kebudayaan manusia telah terjadi dalam masa-masa yang silam. Beberapa masalah yang
menyangkut akulturasi adalah :

Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang mudah untuk diterima,

Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang sulit untuk diterima,

Individu-individu manakah yang yang cepat menerima unsur-unsur yang baru,

Ketegangan-ketegangan apakah yang timbul sebagi akibat akulturasi tersebut.

Pada umumnya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah :

Unsure kebudayaan kebendaan seperti alat peralatan yang terutama sangat mudah dipakai dan
dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya. Sebagai contoh adalah alat-alat
tulis-menulis yang banyak dipergunakan orang Indonesia yang diambil dari unsure-unsur
kebudayaan barat.

Unsure-unsur yang terbukti membawa manfaat besar misalnya radio transistor yang banyak
membawa kegunaan terutama sebagai alat media massa

Unsure-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsure-
unsur tersebut, seperti mesin penggiling padi yang dengan biaya murta serta pengetahuan teknis
yang sederhana, dapat digunakan untuk memperlengkapi pabrik-pabrik penggilingan

Unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima oleh sesuatu masyarakat adalah misalnya :

Unsur-unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup dan lain-lain

Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Contoh yang paling mudah adalah
soal makanan pokok suatu masyarakat. Nasi sebagai makanan pokok sebagian besar masyarakat
Indonesia sukar sekali diubah dengan makanan pokok lain.

Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu. Individu yang cepat menerima unsur-
unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua, dianggap
sebagai orang-orang yang kolot yang sukar menerima unsur baru. Hal ini disebabkan karena norma-
norma yang tradisional sudah mendarah daging dan menjiwai sehingga sukar sekali mengubah
norma-norma yang sudah sedemikianmeresapnya dalam jiwa generasi tua. Sebaliknya belum
menetapnya unsur-unsur atau norma-norma tradisional dalam jiwa generasi muda, menyebabkan
bahwa mereka lebih mudah menerima unsur-unsur baru yang kemungkinan besar dapat mengubah
kehidupan mereka.

Suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi, selalu ada kelompok individu-individu yang suka
sekali atau bahkan tak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi.
Perubahan-perubahan dalam masyarakat dianggap oleh golongan tersebut sebagai keadaan krisis
yang membahayakan keutuhan masyarakat. Apabila mereka menggunakan golongan yang kuat,
maka mungkin proses perubahan dapat ditahannya. Sebaliknya bila mereka berada dipihak yang
lemah, maka mereka hanya akan dapat menunjukan sikap yang tidak puas.

Proses akulturasi yang berjalan dengan baik, dapat menghasilkan integrasi antar unsur-unsur
kebudayaan asing dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri. Dengan demikian, unsur-unsur
kebudayaan asing tidak lagi dirasakan sebagai hal yang berasal dari luar, akan tetapi dianggap
sebagai unsur-unsur kebudayaan sendiri. Unsur-unsur asing diterima, tentunya terlebih dahulu
mengalami proses pengolahan, sehingga bentuknya tidaklah asli sebagai semula. Selagi misal, sistem
pendidikan Indonesia, untuk sebagian besar diambil dari unsur-unsur kebudayaan Barat. Akan tetapi
sudah disesuaikan serta diolah sedemikian rupa, sehingga merupakan unsur-unsur
kebudayaan (cultural shock), sebagai akibat masalah-masalah yang dijumpai dalam proses
akulturasi. Kegoncangan kebudayaan terjadi, apabila warga masyarakat mengalami disorientasi dan
frustasi, di mana muncul perbedaan yang tajam antara cita-cita dengan kenyataan yang disertai
dengan terjadinya perpecahan-perpecahan di dalam masyarakat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012.

Goode, William Josiah. Principles of Sociologi. United Stateso f Amerika: McGraw-Hill, 1977.

Dresseler, David. Sociology : The Study of Human Interaction. New York: Alfred A Knop,1969