Anda di halaman 1dari 3

CORYZA (SNOT)

Infeksius coryza atau Snot merupakan penyakit pernafasan bagian atas pada unggas,
terutama ayam, yang bersifat akut. Penyakit ini telah menyebar luas diseluruh dunia, dan
kejadiannya sering pada musim dingin atau ketika kualitas udara jelek. Penyebaran penyakit
dalam kandang sangat cepat, baik secara kontak langsung dengan ayam-ayam sakit, maupun
tidak langsung melalui air minum, udara, dan peralatan yang tercemar. Secara umum Coryza
dikenal sebagai penyakit yang menyebabkan kematian rendah tetapi morbiditasnya tinggi,
penyakit ini bersifat sangat infeksius dan terutama menyerang saluran pernapasan. Tingkat
kejadian penyakit coryza lebih tinggi pada ayam petelur dibandingkan pada ayam broiler,
penyakit ini menimbulkan kerugian bagi peternak karena dapat menurunkan produksi telur
dan bersifat sangat infeksius. Penetapan jenis penyakit pernapasan tersebut dilakukan dengan
pendekatan patologi diagnostik. Infeksius Coryza merupakan penyakit yang mempunyai
dampak ekonomik yang merugikan industri perunggasan, sehubungan dengan peningkatan
jumlah ayam yang diafkir, penurunan berat badan, penurunan produksi telur (10%-40%), dan
peningkatan biaya pengobatan.

ETIOLOGI

Tahun 1930 sampai tahun 1960, agen penyebab coryza disebabkan oleh bakteri
Haemophillus gallinarum, organisme tersebut membutuhkan faktor x (haemin) dan faktor v
(nicotinamide adenin dinucleotide (NAD)) untuk pertumbuhan secara in vitro. Tahun 1960
sampai 1980 semua isolat agen penyakit yang ditemukan hanya membutuhkan faktor v untuk
pertumbuhan yang disebut dengan Avibacterium paragallinarum.

Taksonomi bakteri tersebut adalah spesies Haemophillus paragallinarum, famili


pasteurellaceae, genus Haemophillus, dan merupakan genus baru dari avibacterium. Famili
lainnya adalah A.v gallinarum, A.v avium dan A.v volantium. Maka agen penyebab infeksius
coryza adalah Avibacterium paragallinarum yang memerlukan faktor v atau NAD untuk
pertumbuhan.

Bakteri Avibacterium paragalilinarum merupakan bakteri gram negatif, berbentuk


batang pendek atau coccobacilli, tercat polar, non-motil, tidak membentuk spora, fakultatif
anaerob dan membutuhkan faktor-v untuk bisa menyebabkan penyakit pada unggas.
Avibacterium Paragallinarum merupakan organisme yang mudah mati atau mengalami
inaktivasi secara cepat diluar tubuh hospes. Penyakit ini dapat menyerang ayam kampung,
ayam petelur dan ayam pedaging dan sangat mudah menular dari satu ayam ke ayam yang
lain dalam satu kandang.

PATOGENESIS

Ayam berumur 14 minggu keatas lebih rentan daripada yang muda, antara umur 18-
23 minggu. Penyakit ini bersifat sporadik dan dapat mewabah dengan angka mortalitas
rendah dan morbiditas tingga mencapai 80%. Penularan terjadi melalui kontak langsung
maupun tidak, dalam suatu kelompok penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dari
satu penderita ataupun pembawa penyakit. Penularan melalui kontak tidak langsung dapat
terjadi melalui makanan atau minuman yang tercemar yang selanjutnya menjadi sumber
penularan.

Patogenesis coryza berawal dari bakteri masuk melalui mukosa hidung. Kapsul
polisakarida dari A. paragallinarum melekat pada silia di mukosa hidung. Lipopolisakarida
(LPS) pada dinding sel dan komponen asam hyaluronic diyakini berperan dalam patogenesis
walaupun interaksi ini dengan inang belum dapat didefinisikan secara jelas. Endotoxin juga
diyakini memiliki peran penting dalam patogenesis dari coryza. Namun, faktor virulensinya
belum sepenuhnya dapat diidentifikasi. Pada penelitian sebelumnya protein membran luar
dari bakteri diyakini sebagai penentu dari tingkat virulensi penyakit coryza selain ini protein
yang terdapat pada A. paragallinarum disebutkan dapat membunuh embrio ayam.

GEJALA KLINIS

Penyakit ini memiliki masa inkubasi yang pendek, antara 24-46 jam, kadang-kadang
sampai 72 jam. Gejala yang muncul paling awal adalah bersin yang diikuti dengan keluarnya
eksudat serous sampai mukoid dari rongga hidung ataupun mata. Eksudat yang dihasilkan
mula-mula berwarna kuning dan encer (sereous), tetapi lama-lama berubah menjadi kental
dan bernanah dengan bau yang khas (mucopurulent). Bagian paruh disekitar hidung tampak
kotor atau berkerak, pembengkakan yang terjadi di sekitar Sinus infraorbitalis meliputi
daerah sekitar mata dan muka. Suara ngorok kadang terdengar dan terlihat ayam penderita
agak sulit bernafas. Penyakit yang disertai dengan infeksi sekunder, misalnya infeksius
bronchitis, infeksius laringotraheitis, mycoplasma atau cronic respiratory diseases, dapat
berlangsung beberapa bulan.
DIAGNOSA

Ditanam pada media coklat agar atau agar darah, sensitif terhadap sulfathiazole, oleh
karena itu bila sembuh diobati dengan sulfathiazole maka diagnosa positif, akan tetapi bila
tidak sembuh belum tentu berarti ayam tersebut tidak menderita coryza, namun tidak
menutup kemungkinan ada infeksi campuran dengan penyakit saluran pernafasan lainnya.

PENGENDALIAN

Pengobatan pada suatu flok dengan sulfonamide atau antibiotik direkomendasikan.


Berbagai macam sulfonamide seperti sulfadimethoxine, sulfaquinoxaline, sulfamethazine
semuanya efektif, tapi sulfadimethoxine merupakan obat yang paling aman. Vaksinasi
dilakukan pada umur 8-10 minggu dan diulangi pada umur sekitar 16-18 minggu. Selain
pengobatan manajemen peternakan juga sama pentingnya untuk mengendalikan penyakit
antara lain sanitasi kandang, biosecurity dan pemberian obat-obatan yang bersifat untuk
pencegahan.