Anda di halaman 1dari 7

J. Tek. Ling Vol.11 No.1 Hal.

53 - 59 Jakarta, Januari 2010 ISSN 1441-318X

PERBANYAKAN VEGETATIF SECARA CANGKOK


PIPER MINIATUM BL.

Sumarnie Hasto Priyono


Peneliti di Bidang Botani Puslit.Biologi-LIPI
Jl.Raya Bogor - Jakarta Km 46 Cibinong 16911
Email: bumarnie@yahoo.com

Abstract
Ninety percent from approximately 1200 plant species belonged to Piper genus
(Piperaceae) have not been explorated their phytochemical potency and biological
activities. Piper miniatum has beeing used traditionally in Papua as spices and tonic.
However, the propagation effort has never been done yet so its population in nature is
decresed gradually. Therefore, simple propagation is conducted that can be adopted
by the local people in order to cultivate as well as to explore its potency as antibacterial
agent. The propagation experiment was carried out using air layering method with
variable treatment of internode maturity ( R1, R2, R3 ), growth medium (Selaginela sp.,
Asplenium nidus root, compost) with completely randomized design with 10 replications.
Air layering media using Asplenium nidus root of 18 weeks gave the best respon.
Key words: Piper miniatum, Air layering.

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dengan keragaman mencapai lebih berlokos-lokos.
dari 1200 spesies, menempatkan tumbuhan Secara tradisional, tumbuhan genus
Genus Piper (Piperaceae) menjadi salah satu Piper memperlihatkan khasiat dan kegunaan
kelompok besar diantara tumbuhan lainnya1) yang unik dan menarik. Buah P. longum
di kawasan tropika. Tumbuhan dari Genus biasa digunakan untuk mengobati kejang
Piper, seperti Piper nigrum, P. methysticum, usus 3). Tumbuhan wati atau P. methysticum
P. auritum dan P. betle telah dikenal sejak dapat memberikan efek narkotik dan bersifat
lama sebagai komoditi pertanian untuk sedatif yang merupakan tradisi adat pada
rempah, insektisida pada lahan pertanian beberapa suku di Propinsi Papua4). Piper
dan bahan obat-obatan dengan nilai ekonomi aduncum, secara tradisional dimanfaatkan
yang tinggi2). Umumnya masyarakat tidak sebagai obat sakit perut, kencing nanah dan
membudidayakan tumbuhan sirih yang penolak serangga. Secara in-vitro, ekstrak
mempunyai ciri fisik merambat/liana pada kasar petroleum eter dari P. aduncum telah
saat muda dan menjadi semak tegak setelah dibuktikan mempunyai aktivitas yang kuat
dewasa. Demikian juga daunnya bersifat sebagai molusisida melawan Biomphalaria
dimorphisme warnanya hijau, tipis dan glabrata. Ekstrak ini juga memperlihatkan
tekturnya lunak, berbentuk jantung hati pada aktivitas yang signifikan sebagai antibakteri
saat muda dan pada saat dewasa daunnya melawan Bacillus subtilis, Micricoccus luteus
berwarna hijau menebal dan berbentuk oval dan Escherichia coli 5).

Perbanyakan Vegetatif Secara...J. Tek. Ling. 11 (1) : 53 - 59 53


Sejauh ini, baru sekitar 112 jenis 2. METODOLOGI
tumbuhan (sekitar 10%) dari Genus Piper
2.1 Bahan Tumbuhan dan Waktu
yang telah diinvestigasi komponen kimianya
Penelitian
yang meliputi 667 senyawa kimia yang
berbeda yang terdiri dari 190 alkaloid, 49 Bahan berupa batang muda tumbuhan
lignan, 70 neolignan, 97 terpena, 15 steroid, Piper miniatum hasil perbanyakan secara
18 kavapirona, 17 calkon, 16 flavona, 6 stek dengan indukan yang diperoleh di desa
flavanona, 4 piperolida dan 146 golongan Kurima, Kecamatan Wamena, Kabupaten
senyawa lainnya6). Jayawijaya, Papua pada bulan Maret
tahun 2003 7). Indentifikasi jenis tanaman
1.2 Tujuan dilakukan di Herbarium Bogoriense, Bidang
Botani, Puslit Biologi LIPI. Bahan stek dari
Berdasarkan kenyataan di atas,
Kurima diperbanyak dahulu di Kebun Raya
masih banyak jenis lainnya yang belum
Cibodas sebagai langkah adaptasi klimat
dieksplor sama sekali, salah satunya
yang mendekati klimat Wamena Papua.
adalah Piper miniatum. Secara tradisional,
Setelah agak banyak tumbuhan tersebut
tumbuhan ini digunakan oleh suku Dani di
digunakan sebagai bahan penelitian pada
Papua sebagai penyedap makanan dan
tahun 2006.
dipercaya memiliki khasiat untuk menguatkan
badan, sehingga banyak diperjualbelikan 2.2 Metoda Perbanyakan Vegetatif
di pasar tradisional (komunikasi pribadi). Secara Cangkok
Namun seperti lazimnya, pengamatan
dilapang memperlihatkan bahwa bahan Percobaan dilakukan di rumah kaca
tumbuhan P. miniatum dipanen secara Kebun Raya Cibodas – LIPI, pada bulan
langsung dari alam tanpa adanya upaya Februari 2007 sampai bulan November
untuk membudidayakannya tumbuhan 2007. Pemilihan sulur selain sehat dan
tersebut apalagi mengkonservasikannya. segar, diameter juga dijadikan patokan
Akibatnya populasi tumbuhan ini di habitat untuk perkiraan umur jaringan, sehingga
aslinya secara perlahan namun pasti terus tingkat keseragaman sulur lebih tinggi.
menurun. Untuk itu perlu dilakukan upaya Selain itu, jumlah ruas yang sama pada
untuk mencari teknik perbanyakan dan setiap sulur juga dijadikan sebagai salah satu
budidaya P. miniatum yang sederhana dan patokan untuk menjaga kesamaan bahan
nantinya dapat diaplikasikan di lapang bagi (sulur). Bahan percobaan ditentukan pada
masyarakat. perlakuan tingkat ketuaan stek batang yaitu
ruas ke satu/pucuk dianggap paling muda,
Hasil pada penelitian pendahuluan
ruas kedua/tengah dianggap mempunyai
memperlihatkan bahwa perbanyakan P.
ketuaan sedang dan yang ketiga/pangkal
miniatum secara stek membutuhkan rentang
dianggap mewakili yang paling tua. Media
waktu aklimatisasi yang cukup panjang
yang digunakan untuk pertumbuhan cangkok
(9 - 12 minggu) dengan persentase hidup
adalah paku Selaginela sp, akar Asplenium
hanya 60 %, sehingga dinilai kurang efisien
nidus dan humus hutan. Penentuan bahan
7)
. Untuk itu perlu dilakukan modifikasi teknik
media cangkok mengacu pada kebiasaan
perbanyakan dengan teknik yang lebih
masyarakat petani pengembang tanaman
efisien secara waktu dan biaya dengan
hias yang memanfaatkan tumbuhan paku
menggunakan media cangkok yang berbeda
Selaginela sp. Tumbuhan paku Selaginela
dan induksi rooton-f.
sp. umum digunakan untuk bahan pengganti
oasis (bahan seperti sponge yang apabila
dicelup ke air akan menyerap dan berbentuk
padatan yang dapat kita ubah sesuai

54 Priyono.S.H..., 2010
keinginan kita) dalam merangkai bunga metode dekstruksi basah asam (HClO4 ,
atau tanaman. Sedangkan akar Asplenium HNO3 , H2SO4, 5 : 2 : 1).
nidus merupakan bahan alami yang bersifat
halus dan empuk tidak mudah hancur yang Penentuan Kadar N
diharapkan dapat membantu menjaga
Seberat 0.5 g masing-masing sampel
kelembaban udara dalam cangkok sehingga
( Selaginela sp , akar Asplenium nidus
akar dapat menembus dengan mudah.
dan humus hutan) dan 10 ml HCl 0.02 N,
Humus hutan yang kaya akan unsur hara
dimasukkan kedalam labu kjeldahl 30 ml.
mineral dan teksturnya berongga banyak
Tambahkan 1.9 g K2SO4 , 40 mg HgO2 dan
sehingga membantu dalam pengaturan
2.0 ml H2SO4 pekat dan didihkan sampel
udara dalam cangkok Rancangan percobaan
1-1.5 jam sampai cairan menjadi jernih.
menggunakan rancangan acak lengkap
Setelah dingin kemudian dipindahkan ke
dengan 10 ulangan dan dua faktor perlakuan
dalam seperangkat alat distilasi, tambahkan
yaitu tahapan ruas (pucuk/R1, tengah/R2,
10 ml larutan NaOH-Na2S2O3 ( 60 g Na
pangkal/R3) serta media cangkok.
OH dan 5 g Na S2 O2 5 H2 O dalam air dan
Setelah itu tumbuhan tersebut diencerkan sampai 100 ml), dan didistilasi.
dicangkok satu persatu sesuai perlakuan Distilat ditampung dengan 5ml H2BO3 yang
dan kemudian dioles dengan Rootone-F berisikan 2-4 tetes indikator (campuran 2
(sebagai sumber auksin) lalu diletakkan bagian metil merah 0.2 % dalam alkohol dan
diatas media cangkok dan segera ditutup, 1 bagian metilen blue 0.2 % dalam alkohol).
kemudian dipadatkan, bungkus dengan Distilasi dilakukan sampai volume distilat
plastik bening dan diikat dengan tali raffia. mencapai 15 ml, kemudian diencerkan
Kemudian cangkokan tersebut bersama sampai volume menjadi 50 ml. Kemudian
tumbuhan induk ditempatkan pada lokasi dititrasi dengan HCl 0.02 N sampai terjadi
bernaungan paranet 50 %, serta diletakkan perubahan warna menjadi abu-abu. Hal
pada lokasi yang dapat dengan mudah yang sama juga dilakukan terhadap blanko.
dikontrol penyinaran matahari, kelembaban, Kadar N yang terkandung didalam sampel
curah hujan dan suhu lingkungannya serta selanjutnya dihitung berdasarkan persamaan
dijauhkan dari gangguan yang mungkin di bawah8):
terjadi. Pengamatan dilakukan seminggu
( ml HCl - ml blanko) x normalitas x 14.007 x 100
sekali terhadap perubahan pada perakaran,
jumlah daun dan sulur yang muncul pada % N = -----------------------------------------------
mg sampel
ujung cangkokan. Proses pencangkokan
dianggap selesai ketika akar sudah
memenuhi media dan sulur sudah cukup kuat
untuk dipotong menjadi bibit baru. Adapun Penentuan Kadar P dan K
indikatornya: sulur paling sedikit satu dengan Penetapan unsur P dan K
ruas 4-5 buah. Seluruh parameter perubahan dilakukan dengan cara pengabuan basah
yang diamati, selanjutnya dianalisis secara menggunakan HNO3 dan HCl O4. Seberat
statistik menggunakan Program SAS (SAS 0.5 g masing-masing sampel (Selaginela
Institute Inc. USA). sp, akar Asplenium nidus dan humus hutan)
Analisis Unsur N, P dan K pada Media dimasukkan kedalam tabung digestion.
Tumbuh Ditambahkan 5 ml HNO3 p.a dan biarkan
satu malam. Keesokan hari dipanaskan
Analisa unsur hara N media cangkok dalam digestion block pada temperatur
(tumbuhan Selaginela sp. dan akar Asplenium 100oC selama satu jam, kemudian suhu
nidus ) menggunakan metode Kjeldhal ditingkatkan menjadi 150oC. Setelah uap
sedangkan unsur P dan K menggunakan kuning habis, suhu digestion block kembali

Perbanyakan Vegetatif Secara...J. Tek. Ling. 11 (1) : 53 - 59 55


dinaikkan menjadi 200oC. Destruksi selesai Kadar P(%) = ppm kurva x 0.1 x 31/95 x fk
setelah keluar asap putih dan sisa ekstrak
Kadar K (%) = ppm kurva x 0.1 x fk
kurang dari lebih 0.5 ml, dan kemudian
didinginkan. Setelah itu ekstrak diencerkan Keterangan :
dengan air bebas ion hingga volume tepat
Ppm kurva= kadar contoh yang didapat
50 ml dan kocok dengan pengocok tabung
dari kurva hubungan antara kadar
hingga homogen 9).
deret standar dengan pembacaanya
setelah dikoreksi blanko.
Pengukuran Kadar P
fk = faktor koreksi kadar air = 100/(100- %
Pipet masing-masing 1 ml ekstrak
kadar air)
contoh ke dalam tabung kimia. Tambahkan 9
ml air bebas ion dan kocok. Dipipet masing- 2. HASIL DAN PEMBAHASAN
masing 2 ml ekstrak encer contoh dan deret
Pemanenan dilakukan ketika proses
standar P (0-20 ppm PO4) ke dalam tabung
pencangkokan dianggap selesai ketika akar
reaksi. Tambahkan 10 ml pereaksi pewarna
sudah memenuhi media dan sulur sudah
P (campuran 1.06 g asam askorbat dan 100
cukup kuat (telah terbentuk sulur dengan
ml pereaksi P pekat dan dijadikan 1 L). Kocok
jumlah ruas 4 – 5) untuk dipotong menjadi
dengan pengocok tabung sampai homogen
bibit baru. Pada kondisi ini, hasil cangkokan
dan biarkan 30 menit. P dalam larutan diukur
P. miniatum dianggap sudah mampu tumbuh
dengan alat spektrofotometerp ada panjang
di pot-pot kecil sebagai media adaptasi dalam
gelombang 693 nm9).
masa aklimatisasi bibit tumbuhan baru.
Hasil pengamatan terhadap perkembangan
Pengukuran Kadar K
morfologi (sulur, daun, ruas batang) cangkok
Pipet 1 ml ekstrak dan deret standar batang muda dengan interval waktu satu
masing-masing kedalam tabung kimia minggu (7 hari) memperlihatkan bahwa
dan ditambahkan 9 ml larutan La 0.25 %. cangkok dengan media Asplenium nidus
Kocok dengan menggunakan pengocok lebih baik dibanding perlakuan lainnya. Hal
tabung sampai homoge. K diukur dengan ini ditandai dengan lebih banyaknya jumlah
alat fotometer nyala deangan deret standar sulur daun dan ruas batang yang terbentuk
sebagai pembanding menggunakan pada cangkok yang menggunakan medium
persamaan berikut 9): tersebut (Tabel 1.). Kelebihan secara fisik
cangkokan pada media akar Asplenium
nidus lebih nyata terlihat pada cangkok
setelah mencapai umur 18 minggu seperti
terlihat pada gambar 2. itu, hasil analisis
unsur hara N, P dan K pada setiap media
tumbuh ditampilkan pada tabel 2

Tabel 1. Pengaruh media terhadap pertumbuhan tanaman hasil cangkok (18 minggu)
dari saat tanam.

Media cangkok Jumlah sulur Jumlah daun Jumlah ruas


R1 R2 R3 R1 R2 R3 R1 R2 R3
Paku Selaginela sp. 2h 3h 4h 13 c 17 b 18 b 16 c 18 b 20 b
Akar Asplenium nidus 3h 5h 8f 12 c 18 b 19 b 17 b 19 b 24 a
Humus Hutan 1h 2h 2h 4 h 6g 7g 6g 9f 8f
Catatan : huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji Duncan taraf-5%

56 Priyono.S.H..., 2010
Tabel 2. Kandungan hara N, P, K pada percobaan ini terlihat bahwa kematangan
media cangkok. ruas ketiga mampu mengadaptasi dengan
baik dan perkembangan akar dapat dipicu
Mine- Media lebih cepat oleh rooton-f (auksin) dibanding
ral Selaginela A k a r H u m u s dengan ruas dua ataupun ruas kesatu. Hal
sp.(%) Asplenium u t a n ini juga berimplikasi terhadap lebih cepatnya
nidus(%) (%) penyerapan unsur mineral oleh akar yang
terbentuk pada ruas ke tiga.. Kondisi ini
N 0.104 0.211 0.280
ditunjang juga oleh tekstur berongga yang
P 0.604 0.471 0.100 relatif banyak pada media akar Asplenium
K 1.041 1.401 0.540 nidus dibanding Selaginela sp. dan humus
hutan, yang memungkinkan akar lebih
Keterangan : Paku Selaginela sp. (moss) mudah menembus media dan ketersediaan
Akar Asplenium nidus (akar pakis oksigen yang lebih banyak untuk menunjang
sarang burung) perkembangan akar. Faktor lainnya yang
Humus hutan (kompos asli dari hutan) menunjang perkembangan akar pada
media akar Asplenium nidus adalah dengan
tingginya kandungan mineral N, P dan K
3.1 Pembentukan Akar seperti terlihat pada Tabel 2.. Seperti telah
Proses terbentuknya akar dimulai diketahui bahwa mineral N, P dan K unsur
pada ruas atau buku-buku batang tumbuhan hara makro esensial yang mempunyai fungsi
Piper miniatum Bl atau sirih yang mempunyai penting untuk metabolisme di dalam jaringan
perawakan merambat. Calon akar yang tumbuhan12).
terletak pada ruas-ruas batang dikondisikan
dengan dibungkus plastik bening dan 3.2 Pengaruh Auksin dan Ketuaan
berisi media tumbuh, sehingga mendorong Ruas Cangkok.
terjadinya pembengkakan batang di ruas Secara umum pada bagian ujung
batang lalu berkembang membesar dan tanaman seperti ujung akar dan pucuk
memecah pori-pori sel ruas batang. Hal ini memiliki kandungan auksin internal yang
terjadi karena induksi auksin dari rootone-f relatif lebih tinggi dibanding bagian tumbuh
dan situasi berkembang dengan sifat yang lain13). Auksin secara umum berfungsi
kehidupan untuk bertumbuh dan mencari untuk menstimulasi pembentukan jaringan
air dengan memanfaatkan kelembaban akar baru14). Secara teoritis, bagian pucuk
yang terjadi dalam wadah cangkokan, yang Piper miniatum (ruas pertama) akan
kemudian memanjang menyerap zat hara membentuk sistem perakaran relatif lebih
yang tersedia pada media cangkok tersebut10). cepat dibanding ruas 2 atau ruas 3 karena
Selanjutnya akar akan berkembang menjadi memiliki kandungan auksin internal yang
banyak dan diikuti pertumbuhan lainnya lebih tinggi. Namun pada penelitian ini, pada
seperti munculnya tunas, sulur dan daun. Tabel 1, terlihat bahwa pertumbuhan sistem
Keberhasilan cangkok pada umumnya perakaran yang berasal dari cangkokan
dipengaruhi oleh faktor dalam dari bahan yang diperlakukan dengan auksin eksternal
tersebut seperti kematangan atau umur batang pada ruas pertama lebih lambat dibanding
setek dan faktor luar seperti media tumbuh, cangkokan dari ruas ke-2 dan ke-3.
kelembaban udara dan suhu dari lingkungan Pertumbuhan sistem perakaran yang
percobaan11). Hal ini berkaitan erat dengan paling cepat malah terjadi pada cangkokan
ketuaan sulur yang dicangkok tersebut yang berasal dari ruas ke 3 (jaringan yang
merespon dengan baik untuk mempercepat lebih tua) 15). Fenomena ini menjelaskan
tumbuh kembang calon tanaman baru. Dari bahwa pada perbanyakan tumbuhan

Perbanyakan Vegetatif Secara...J. Tek. Ling. 11 (1) : 53 - 59 57


Piper miniatum dengan teknik cangkok, Setelah tejadinya pembentukan sistem
kandungan auksin yang tinggi saja tidak perakaran, faktor unsur hara pada medium
cukup untuk menstimulasi pembentukan yang digunakan juga akan menentukan
sistem perakaran. Akan tetapi kematangan perkembangan cangkokan. Cangkok yang
jaringan (ketuaan) juga merupakan faktor memiliki sistem perakaran akan dengan
yang sangat menentukan kecepatan segera menyerap unsur N, P, dan K yang
pembentukan akar(16). Karena pada ruas terdapat pada media yang digunakan. Pada
yang relatif lebih pada sulur Piper miniatum tahap ini media dari akar Asplenium nidus
telah terbentuk bakal akar sehingga lebih memperlihatkan keunggulan dibanding
mudah untuk berkembang lebih lanjut. paku Selaginela sp. maupun humus hutan
karena memiliki kandungan N, P, dan K
3.3 Pengaruh Media Cangkok
yang relatif lebih tinggi seperti terlihat pada
Tabel 2. Ketiga unsur hara esensial di atas
sangat dibutuhkan oleh tumbuhan untuk
menunjang metabolisme di dalam jaringan
tumbuhan. Dari pengamatan pada minggu ke
18 menunjukkan bahwa ruas pangkal/ketiga
merespon baik dengan munculnya akar yang
mendorong pertumbuhan sulur, daun dan
ruas pada perlakuan media cangkok akar
Asplenium nidus.

3. KESIMPULAN
Perbanyakan tumbuhan Piper
miniatum Bl. dapat dilakukan secara
sederhana dengan penerapan metoda
cangkok selama 4,5 bulan. Keberhasilan
dari metoda ini sangat dipengaruhi oleh
kematangan jaringan (paling baik pada ruas
R3/pangkal) dengan media akar Asplenium
nidus.

DAFTAR PUSTAKA
1. Burkill, I.H., 1935. A Dictionary of the
Economic products of The Malay.
Peninsula, Vol.II (I-Plum). Published
on Behalf of The Goerments of The
Straits Settlements and Federated
Malay States By The Crown Agents
For The Colonies Milbark London
Gambar 1. Percobaan cangkok Piper S.W.
miniatum Bl. Umur 6 minggu (A), Kondisi 2. Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna
tumbuhan hasil cangkok umur 18 minggu Indonesia, Jilid II Cetakan ke-1. Badan
(B). Litbang Kehutanan Jakarta. Penerbit:
Yayasan Sarana Warna Jaya. Jakarta
619-641.
3. Perry, L.M. and J. Metzger. 1980.

58 Priyono.S.H..., 2010
Medicinal plants of East and Southeast dan Pengembangan Pertanian
Asia Attributed Properties and Uses, Departemen Pertanian. 51-56 hal.
The MIT Press. London. UK.
4. Agusta, A., Y. Jamal dan Chairul. 10. Weaver, R.M., 1972. Plant Growth
1998. Analisis Komonen Kimia Daun Substances, in Agric. W.H.Freeman
Wati (Piper methysticum) Forst, Berita and Co. San Fransisco. USA.
Biologi. 4(2,3): 53-59.
11. Devlin, R.M. and F.H. Witham.
5. Orjala J., C.A.J. Erdelmeier, A.D. 1983. Plant Physiology, 4th edition.
Wright, T. Rali, and O. Sticher. 1993. Golden Art Printing Corp.58 Kalayaan
Five new prenylated-hydroxybenzoic St.Deliman Quezon City 577 p +XIV.
acid derivatives with antimicrobial
12. Darmawan, J. and Y. Baharsyah.
and moluscicidal activity from Piper
1983. Dasar-dasar Fisiologi Tanaman,
aduncum leaves, Planta Med. 59(6):
Penerbit P.T. Suryandaru Utama-
546-551.
Semarang. 51-56 hal.
6. Dyer L., J. Richards and C. Dodson.
13. Abidin, Z., 1983. Dasar-dasar
2004. Isolation, synthesis, and
Pengetahuan Tentang Zat Pengatur
evolutionary ecology of Piper Amides,
Tumbuhan, Angkasa. Bandung.
In Piper: A Model Genus for Studies
of Phytochemistry, Ecology, and 14. Aloni, R., 1977. The time course of
Evolution. Lee A. Dyer and Aparna sieve tube and vessel regeneration and
D. N. Palmer (eds). Kluwer Academic/ their relation to phloem anastomoses
Plenum Publishers. 117-139 pp. in mature internodes of Coleus,
Amer.J.Bot.(64): 615- 621.
7. Sumarnie. 2005. Perbanyakan Piper
miniatum Bl. Dengan Setek Batang 15. Fahn, A., 1990. Plant Anatomy, 4th
Muda Secara Aquatik dan Medium edition. Pergamon Press. 104 -152.
Humus Perlakuan Zat Pengatur 187-217 dan 270-305pp.
Tumbuh Tanaman, Laporan Teknik 16. Mauseth, J.D., 1991. Botany An
Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Pusat Introduction to Plant Biology, University
Penelitian Biologi. Lembaga Ilmu of Texas. Austin Universidad Catolica.
Pengetahuan Indonesia. Santiago, Chile. Saunders College
8. Apriyantono A, D. Fardiaz, N.L. Publishing Philadelpia Ft.Chicago.103-
Puspitasari, Sedarnawati, S. Budiyanto. 203 pp.
1989. Analisis Pangan, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Pusat Antar Universitas Pangan dan
Gizi IPB. 71-73 hal.
9. Anonim. 2005. Analisis Kimia Tanah,
Tanaman, Air dan Pupuk, Balai
Penelitian Tanah Badan Penelitian

Perbanyakan Vegetatif Secara...J. Tek. Ling. 11 (1) : 53 - 59 59