Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN

“Penerapan Belajar Dalam Konteks Perkembangan Fisik, Otak dan Kognitif”

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

dalam Mata Kuliah Psikologi Pendidikan

Dosen Pengampu: Nurhairani, S.Pd., M.Pd

Oleh :

Kelompok 1

Afrida Khairani Rangkuti (4192421002)

Bintama Sihotang (4192421023)

Junija Gisriani (4193321026)

FISIKA DIK A 2019

PROGRAM STUDI (S1) PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami sanggup menyusun Makalah yang berjudul “Penerapan
Belajar Dalam Konteks Perkembangan Fisik, Otak dan Kognitif” ini semaksimal mungkin.
Adapun maksud kami menyusun makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Psikologi
Pendidikan yang telah di amanahkan kepada kami. Kami juga mengucapkan banyak terimakasih
kepada Ibu Nurhairani, S.Pd., M.Pd selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Psikologi
Pendidikan ini.
Kami sadar bahwa makalah ini tentu saja tidak lepas dari banyaknya kekurangan baik
dari segi mutu maupun jumlah dari materi yang dipaparkan. Semua ini murni didasari oleh
keterbatasan yang kami miliki.
Oleh sebab itu, kami membutuhkan masukan dan kritik yang bersifat membangun yang
berasal dari semua pihak demi perbaikan terhadap makalah selanjutnya. Harapan kami semoga
makalah ini bermanfaat terlebih bagi kami dan para pembaca.

Medan, 17 Februari 2020

Penyusun

Kelompok 1

i
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR.......................................................................................................i

DAFTAR ISI .....................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................1
A. Latar Belakang.......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................................2
C. Tujuan Masalah.....................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................................. 3
A. Defenisi Perkembangan.........................................................................................3
B. Perkembangan Kognitif.........................................................................................3
C. Perkembangan Fisik..............................................................................................9
D. Perkembangan Otak...............................................................................................10

BAB III PENUTUP...........................................................................................................12


A. Kesimpulan............................................................................................................12
B. Saran .....................................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan anak merupakan hal yang penting untuk kita pelajari dan kita pahami selaku
calon pendidik. Banyak para pendidik yang belum memahami perkembangan - perkembangan
anak. Sehingga masih ada pendidik yang menerapkan sistem pembelajaran tanpa melihat
perkembangan anak didiknya. Hal ini akan berakibat adanya ketidakseimbangan antara sistem
pembelajaran dengan perkembangan anak yang akan menyulitkan anak didik mengikuti sistem
pembelajaran yang ada. Dengan mengetahui proses, faktor dan konsep perkembangan anak didik
kita akan mudah mengetahui sistem pembelajaran yang efektif, efisien, terarah dan sesuai dengan
Perkembangan anak didik. Untuk mengembangkan potensi anak didik dan menciptakan generasi
- generasi masa depan yang berkualitas, maka diperlukan adanya pemahaman tentang
perkembangan anak didik. Dengan demikian, sebagai pendidik kita diharuskan mengetahui dan
memahami perkembangan peserta didik.

Otak mengatur dan mengkoordinasi sebagian besar gerakan, prilaku dan fungsi tubuh
homoestasis seperti detak jantung, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak manusia
bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia, oleh karena itu
terdapatkaitan erat antara otak dan pemikiran manusia. Pengetahuan mengenai otak
mempengaruhi perkembangan psikologi kognitif. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi
seperti pengenalan, emosi, ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran
lainnya. Otak merupakan alat untuk memproses data tentang lingkungan internal dan eksternal
tubuh yang diterima reseptor pada alat indera (seperti mata, telinga, kulit dan lain-lain). Data
tersebut dikirimkan oleh urat syaraf yang dikenal dengan sistem syaraf keseluruhan.

Pendidikan pada hakekatnya adalah upaya yang dilakukan oleh seorang pendidik untuk
membantu perkembangan peserta didik dan membantu membentuk serta mengembangkan nilai –
nilai, sikap, moral, pengetahuan dan keterampilan tertentu dari generasi sebelumnya kepada
generasi berikutnya. Oleh karena itu pendidikan perlu disesuaikan dengan proses dan tahapan
perkembangan.

1
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan permasalahan dari pembahasan makalah ini, yaitu:
1. Apa itu perkembangan?
2. Apa itu perkembangan fisik?
3. Apa itu perkembangan kognitif?
4. Apa itu perkembangan otak?
5. Bagaimanakah penerapan belajar dalam konteks ke 3 perkembangan tersebut?

C. Tujuan Masalah
Adapun tujuan permasalahan dari pembahasan makalah ini, yaitu:
1. Untuk mengetahui tentang perkembangan
2. Untuk mengetahui tentang perkembangan fisik
3. Untuk mengetahui tentang perkembangan kognitif
4. Untuk mengetahui tentang perkembangan otak
5. Untuk mengetahui tentang penerapan belajar dalam konteks ke 3 perkembangan tersebut

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Defenisi Perkembangan
Perkembangan berarti serangkaian perubahan perubahan progresif yang terjadi sebagai
akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Vandale (dalam hurlock (1980)
menyebutkan bahwa perkembangan bukan sekedar penambahan beberapa cm pada tinggi
badan seseorang melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dan proses yang
kompleks. Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang progresif dan kontinyu
atau berkesinambungan dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati.

B. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek terpenting untuk menjadi pedoman
dalam proses pendidikan. Ranah kognitif adalah ranah yang berkaitan dengan tujuan belajar
yang berorientasi pada kemampuan berpikir yang dalam pendidikan dikenal dengan istilah
Talksonomi Bloom ranah kognitif. Terdapat 6 level dalam Talksonomi Bloom ranah kognitif
yaitu mengingat (remember), memahami (understand), menerapkan (apply), menganalisis
(analyze), menilai/mengevaluasi (evaluate), dan menciptakan (create). Keenam level ini
merupakan hasil revisi yang dilakukan oleh Anderson dan Kratwohl dari versi sebelumnya
yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, evaluasi.

Dalam pemetaan kognitif, pembagian ranah penting untuk kepentingan pengukuran


instruksional. Artinya seorang perancang pengajaran akan memanfaatkan kata kerja
operasional sebagai acuan mengevaluasi proses pembelajaran. Dibawah ini tabel pemetaan
kata kerja opersaional sebagai berikut:

N TINGKATAN KATA KERJA OPERASIONAL


O
1 Pengetahuan/pengenalan Mengidentifikasi
Memilih
Menyebutkan nama
Membuat daftar
2 Pemahaman Membedakan

3
Menjelaskan
Menyimpulkan
Memperkirakan
3 Penerapan Menghitung
Mengembangkan
Menggunakan
Memodifikasi
4 Analisis Membuat diagram
Membedakan
Menghubungkan
Menjabarkan
5 Sintesis Menciptakan
Mendisain
Memformulasikan
Membuat prediksi
6 Evaluasi Membuat kritik
Membuat penilaian
Membandingkan
Membuat evaluasi

Perkembangan kognitif merupakan pertumbuhan berfikir logis dari masa bayi hingga
dewasa, menurut Piaget perkembangan yang berlangsung melalui empat tahap, yaitu:

1. Tahap sensori-motor (0 – 1,5 tahun).


2. Tahap pra-operasional (1,5 – 6 tahun)
3. Tahap operasional konkrit (6 – 12 tahun).
4. Tahap operasional formal (12 tahun ke atas).

TAHAP-TAHAP UMUR KEMAMPUAN


Sensori-motorik 0 - 2 tahun Menunjuk pada konsep permanensi objek,yaitu
kecakapan psikis untuk mengerti bahwa suatu objek

4
masih tetap ada. Meskipun pada waktu itu tidak tampak
oleh kita dan tidak bersangkutan dengan aktivitas pada
waktu itu. Tetapi, pada stadium ini permanen objek
belum sempurna.
Praoperasinal 2 - 7 tahun Perkembangan kemampuan menggunakan simbol-simbol
yang yang menggambarkan objek yang ada disekitarnya.
Berpikirnya masih egosentris dan berpusat.
Operasional 7 - 11 tahun Mampu berpikir logis. Mampu konkret memperhatikan
lebih dari satu dimensi sekaligus dan juga dapat
menghubungkan dimensi ini satu sama lain. Kurang
egosentris. Belum bias berfikir abstrak.
Operasional formal 11 - dewasa Mampu berpikir abstrak dan dapat menganalisis masalah
secara ilmiah dan kemudian menyelesaikan masalah.

Piaget percaya, bahwa kita semua melalui keempat tahap tersebut, meskipun mungkin setiap
tahap dilalui dalam usia berbeda. Setiap tahap dimasuki ketika otak kita sudah cukup matang
untuk memungkinkan logika jenis baru atau operasi. Semua manusia melalui setiap tingkat,
tetapi dengan kecepatan yang berbeda, jadi mungkin saja seorang anak yang berusia 6 tahun
berada pada tingkat operasional konkrit, sedangkan ada seorang anak yang berusia 8 tahun masih
pada tingkat pra-operasional dalam cara berfikir. Namun urutan perkembangan intelektual sama
untuk semua anak, struktur untuk tingkat sebelumnya terintegrasi dan termasuk sebagai bagian
dari tingkat-tingkat berikutnya.

Pada tahap Operasional Konkret (7-12 tahun), anak sudah cukup matang untuk menggunakan
pemikiran logika atau operasi, tetapi hanya untuk objek fisik yang ada saat ini. Dalam tahap ini,
anak telah hilang kecenderungan terhadap animism dan articialisme. Egosentrisnya berkurang
dan kemampuannya dalam tugas-tugas konservasi menjadi lebih baik. Namun, tanpa objek fisik
di hadapan mereka, anak-anak pada tahap operasional kongkrit masih mengalami kesulitan besar
dalam menyelesaikan tugas-tugas logika.

Pada tahap ini anak mengembangkan kemampuan untuk mempertahankan (konservasi),


kemampuan mengelompokkan secara memadai, melakukan pengurutan (mengurutkan dari yang
terkecil sampai paling besar dan sebaliknya), dan menangani konsep angka. Tetapi, selama tahap

5
ini proses pemikiran diarahkan pada kejadian riil yang diamati oleh anak. Anak dapat melakukan
operasi problem yang agak kompleks selama problem itu konkret dan tidak abstrak.

Pada fase operasional formal, anak sudah menggunakan pemikiran hopotesis-deduktif


yakni mengembangkan hipotesa-hipotesa atau prediksi- prediksi terbaik, berfi kir sistematis
dalam menyusun langkah-langkah strategis dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Proses berfikir seperti ini menuntut pola-pola berfikir tingkat tinggi, seperti memahami
setiap variabel dan hubungan antar variabel. Model siklus belajar hipotesis-deduktif paling baik
digunakan dalam rangka mengembangkan daya kritis anak yang pada gilirannya berpengaruh
terhadap peningkatan pemahaman konsep. Pada fase ini, dalam konteks pendidikan, anak
memasuki level kelas lima dan enam. Anak mampu berfikir secara kritis, ketika dihadapkan
dengan masalah, anak akan memahami sebab-akibat terlebih dahulu, baru kemudian menyusun
langkah untuk menyelesaikannya. Anak melihat suatu objek tidak hanya satu dimensi tetapi
dengan berbagai dimensi. Daya ingat anak semakin kuat dan sudah bisa berpikir strategis serta
menyusun siasat. Sebagai contoh dalam suatu penelitian menemukan bahwa dua orang anak
berusia 10 dan 11 tahun yang berpengalaman bermain catur (ahli) mampu mengingat lebih
banyak informasi mengenai bidak catur dibandingkan dengan mahasiswa yang bukan pemain
catur (pemula).

a. Teori-Teori Belajar Kognitif


Dari perspektif kognitif, belajar adalah perubahan dalam struktur mental seseorang yang
memberikan kapasitas untuk menunjukkan perubahan perilaku. Struktur mental ini meliputi
pengetahuan,keyakinan,keterampilan,harapan dan mekanisme lain “dalam kepala
pembelajar”. Focus teori kognitif adalah potensi untuk berprilaku dan bukan pada
perilakunya sendiri. Teori belajar kognitif menekankan pentingnya proses-proses mental
seperti berfikir,dan memfokuskan pada apa yang terjadi pada pembelajar. Proses ini
memungkinkan pembelajar untuk menginterpretasi dan mengorganisir informasi secara
aktifinilah yang mendasari semua teori kognitif. Menurut Eggen dan Kauchak (1997),
psikologi kognitif merupakan orientasi teoritis eklektrik karena tidak ada teori belajar
kognitif yang tunggal,tetapi lebih pada sekumpulan teori kognitif. Pengaruh teori belajar
kognitif dalam pendidikan meningkat mantap selama 40 tahun terakhir.

6
Ciri-ciri Teori Belajar Kognitif, yaitu:

1. Mementingkan apa yang ada pada diri siswa


2. Mementingkan keseluruhan
3. Mementingkan peranan fungsi kognitif
4. Mementingkan keseimbangan dalam diri siswa
5. Mementingkan kondisi yang ada pada waktu ini (sekarang)
6. Mementingkan pembentukan struktur kognitif
7. Dalam pemecahan masalah, memiliki ciri khas yaitu “insight”

Diantara teori-teori kognitif yang terkenal adalah Teori Cognitive Field,Teori Schema,
dan Teori Pemrosesan Informasi (Information-Processing Theory).

1. Teori Cognitive Field


Teori ini dikemukakan oleh Kurt Lewin (1892-1947). Menurutnya, masing-masing
individu berada dalam medan kekuatan yang bersifat psikologis. Medan dimana individu
bereaksi disebut life space. Life space mencakup perwujudan lingkungan dimana individu
bereaksi,misalnya orang-orang yang dijumpainya,objek material yang ia hadapi,serta fungsi
kejiwaan yang ia miliki. Jadi menurut Lewin,belajar berlangsung sebagai akibat dari
perubahan dalam struktur kognitif perubahan struktur kognitif itu adalah hasil dari dua
macam kekuatan,satu dari struktur medan kognisi itu sendiri,yang lainnya dari kebutuhan
motivasi internal individu. Lewin memberikan peranan lebih penting pada motivasi dari
reward. Lewin juga lebih setuju dengan penggunan istilah sukses dan gagal dari pada reward
dan punishment.

2. Teori Schema
Teori Schema mengemukakan keberadaan struktur pengetahuan yang disebut dengan
Schema atau Schemata yang memiliki dua bentuk yaitu,berbentuk objek dan berbentuk
kejadian. Bentuk yang terakhir secara umum disebut sebagai script. Meski schemata kadang-
kadang menyebabkan kita salah pengertian atau salah mengingat segala sesuatu ,schemata

7
membuat kita mampu memecahkan masalah secara lebih baik dan sangat membantu dalam
mengkategorisasi,memahami dan mengingat segala sesuatu.

Schema dibentuk melalui sebuah proses abstraksi. Schema yang sudah terbentuk akan
memengaruhi apa yang diingat tentang sebuah pengalaman melalui tiga proses yaitu
seleksi,pengambilan intisari,dan interpretasi. Schema juga dapat diubah atau dimodifikasi
dengan tiga proses yaitu penambahan,penyesuaian,dan restrukturisasi. Siswa yang adaptif
memperoleh schemata dan memodifikasinya berdasarkan pengalaman.

Ada tiga implikasi utama teori schema dalam praktik pendidikan (Byrnes,1996) yaitu:

- Guru harus memandang belajar sebagai perolehan dan modifikasi schema dan bukan
perolehan tanpa makna.
- Guru harus mengetahui bahwa tanpa berbagi alat bantu belajar,siswa terkadang hanya
menyerap sedikit pengalaman atau pelajaran.
- Belajar yang bermakna timbul bila siswa dapat memasukkan informasi baru kedalam
schema yang telah ada atau bila mereka dapat menciptakan schema baru dengan cara
analogi terhadap schemata yang lama.

3. Teori Pemrosesan Informasi (Information-Processing Theory)


Menurut teori ini belajar adalah menyangkut tentang bagaimana informasi dari
lingkungan dapat disimpan dalam memori. Untuk menggambarkan proses tersebut digunakan
pemodelan. Model peoses penyimpanan informasi yang paling berpengaruh dalam hal ini
adalah model yang dikemukakan oleh Atkinson dan Shiffrin pada tahun 1968.

Komponen pertama adalah penyimpanan informasi, yaitu tempat penyimpanan data yang
digunakan untuk menyimpan informasi,sering kali dianalogikan dengan filing cabinet, buku
alamat, harddisk komputer.

Komponen kedua adalah proses kognitif, yaitu tindakan internal ,intelektualyang


mentransfer informasi dari satu tempat penyimpanan ketempat penyimpanan yang lain.
Proses-proses kognitif yang terlibat dalam pemrosesan informasi tersebut adalah
perhatian,persepsi,rehearsal (pengulangan/latihan),encoding(penyandian),dan retrieval
(pengungkapan kembali).

8
Komponen ketiga adalah metakognisi,yaitu pengetahuan dan control terhadap proses-
proses kognitif. Metakognisi mengontrol dan mengkoordinasikan proses-proses yang
mentransfer informasi dari satu tempat penyimpanan ketempat penyimpanan lainnya.

Teori pemrosesan informasi memiliki dua implikasi pokok terhadap praktik pendidikan
(Byrnes,1996) yaitu:

- Guru perlu mengetahui bahwa siswa pada dasarnya memiliki keterbatasan dalam
memproses dan mengingat informasi.
- Guru harus memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan pengulangan dan
latihan.

C. Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan
sangat mengagumkan. Kuhlen dan Thompson mengemukakan bahwa perkembangan fisik
individu meliputi empat aspek, yaitu:

a. Sistem saraf yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi;


b. Otot-otot yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik;
c. Kelenjar Endoktrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru, seperti
pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan yang
sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis;
d. Struktur fisik/tubuh yang meliputi tinggi berat dan proporsi.

Masa kanak-kanak awal (early childhood) merupakan periode perkembangan yang terjadi
mulai akhir masa bayi hingga sekitar usia 5 atau 6 tahun, kadang periode ini disebut tahun
pra sekolah. Kelas satu sekolah dasar biasanya menandai akhirnya periode ini. Dari
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, masa kanak-kanak awal masa perkembangan
anak dari usia 2 tahun sampai usia 6 tahun, yang mana bisa disebut juga dengan periode
prasekolah.

Perkembangan fisik merupakan dasar bagi kemajuan perkembangan berikutnya, dengan


meningkatnya pertumbuhan tubuh baik berat badan maupun tinggi badan serta kekuatannya,

9
memungkinkan anak untuk lebih aktif dan berkembang keterampilan fisiknya, dan juga
berkembangnya eksplorasi terhadap lingkungan tanpa bantuan orang tuanya.

Perkembangan fisik menggambarkan perubahan dalam penampilan fisik anak-anak,


samaseperti dalam keterampilan motor mereka. Dalam tahun-tahun sebelum masuk taman
kanak-kanak, urutan perkembangan motor semua anak pada umumnya sama,walaupun ada
beberapa anak yang lebih cepat dari yang lain.

Perkembangan fisik anak ditandai dengan hilangnya ciri-ciri perut yang menonjol, seperti
hanya kaki dan tubuh yang berkembang lebih cepat dari pada kepala mereka. Selama masa
ini,anak-anak juga mengalami perkembangan yang menunjuk sebelah sisi tubuh,hal ini dapat
diobservasi ketika mereka menggunakan tangan yang satu lebih sering dan lebih cepat dari
yang lain. Sebagian besar anak akan lebih suka menggunakan tangan kanan,tetapi yang
menggunakan tangan kiri jangan dipaksa untuk berubah.

Prestasi fisik yang penting dalam masa ini adalah bertambahnya control anak terhadap
gerakan-gerakan motor dari yang tidak karuan menjadi teratur dan terarah. Mereka sudah
dapat menali sepatunya,menulis huruf abjad,berjalan,berlari,dan sebagainya. Mereka juga
dapat menunjukkan keterampilan motor yang baik, seperti memotong dengan gunting dan
menggunakan pensil warna untuk mewarnai sebuah gambar. Mereka juga mulai belajar
menulis kalimat dan kata-kata. Setelah enam atau tujuh tahun umur mereka,semua
keterampilan dasar tersebut dapat dikuasai.

D. Perkembangan Otak
Aspek lain yang sangat penting bagi perkembangan manusia adalah otak (brain). Otak
merupakan sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan. Otak mempunyai pengaruh yang
sangat menentukan bagi aspek- aspek perkembangan individu lainnya, baik berupa
keterampilan motorik, intelektual, emosional, sosial, moral maupun kepribadian.

Perkembangan otak yaitu perkembangan yang menyangkut ukuran (volume) dan fungsi
otak. Kecepatan perkembangan otak berpengaruh terhadap perkembangan kognitif manusia.
Pada usia 10 tahun berat otak sudah mencapai 95% dari otak orang dewasa, berbeda ketika
bayi baru dilahirkan yang beratnya hanya 25% otak orang dewasa. Perkembangan otak akan
mempengaruhi fungsi otak untuk berfikir, seperti mengetahui, memahami, menganalisis,

10
mensintesis, beride, bernalar, berakreatifitas dan bertindak. Perkembangan otak terbagi
menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan. Perkembangan otak kiri meliputi
kemampuan berfikir rasional, ilmiah, logis, analitis, dan berkaitan dengan kemampuan
belajar membaca, berhitung dan bahasa. Perkembangan otak kanan meliputi kemampuan
berfi kir holistik, non-linier, non-verbal, intuitif, imajinatif dan kreatifitas.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

11
Melalui belajar peserta didik akan berkembang dan mampu mempelajari hal-hal yang baru.
Perkembangan adalah tahapan perubahan psiko-fisik manusia yang progresif sejak lahir hingga
akhir hayat. Perkembangan akan dicapai karena adanya proses belajar, sehingga anak
memperoleh pengalaman baru dan menimbulkan perilaku yang baru juga. Ada beberapa konteks
perkembangan, yaitu : Perkembangan Fisik, Perkembangan Kognitif dan Perkembangan Otak.

Proses belajar merupakan hal yang kompleks. Peserta didiklah yang menentukan terjadi atau
tidak terjadi belajar. Maka menjadi tugas seorang guru untuk memberikan gambaran tentang
bagaimana proses pembelajaran yang tepat sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik.
Sedangkan bagi peserta didik dapat melalui proses pembelajaran dengan pengetahuannya
berdasarkan tahap perkembangan yang di milikinya. Sehingga kesemuanya itu dapat menjadi
wujud realisasi atau penerapan proses belajar dalam konteks perkembangan Fisik, Kognitif dan
Otak.

B. Saran
Semoga makalah yang penulis buat dapat memberikan manfaat pengetahuan tentang Sistem
Operasi, Aplikasi dan Manajemen File kepada pembaca. Saya menyadari masih terdapat
kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, Saya meminta saran dan kritik dari para
pembaca untuk penyempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

12
Bujuri, Dian Andesta. 2018. Analisis Perkembangan Kognitif Anak Usia Dasar Dan
Implikasinya Dalam Kegitan Belajar Mengajar. Litersai,Volume 9(1).

Dwijandon, SEW. 2008. Psikologi Pendidikan (Rev-2). Jakarta: Grasindo

Juwantara, Ridho Agung. 2019. Analisis Teori Perkembangan Kognitif Piaget Pada Tahap Anak
Usia Operasional Konkret 7-12 Tahun Dalam Pembelajaran Matematika. Jurnal Ilmiah
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Volume 9 (1).

Khodijah,N. 2017. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

Mardianto. 2012. Psikologi Pendidikan. Medan: Perdana Mulya Sarana

Murni. 2017.Perkembangan Fisik, Kognitif, Dan Psikososial Pada Masa Kanak-Kanak Awal 2-6
Tahun,Volume 3 (1).

Rahmulyani, dkk. 2019. Perkembangan Peserta Didik. Medan: UnimedPress

Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.

13