Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH STRATEGI PEMBELAJARAN INOVATIF

DENGAN METODE PEMBELAJARAN LATIHAN KETERAMPILAN


A. Latar Belakang
Pendidikan adalah salah satu aspek yang wajib dipenuhi oleh setiap
orang disetiap Negara. Apalagi, di era globalisasi seperti ini semua aspek
kehidupan dituntut untuk terus maju dan berkembang dengan cepat. Peningkatan
sumber daya manusia juga berpengaruh terhadap dunia  pendidikan. Pendidikan
merupakan ujung tombak dalam pengembangan sumber daya manusia harus bisa
berperan aktif dalam meningkatkan kualitas dan juga kuantitas. Upaya
pengembangan tersebut harus sesuai dengan proses pengajaran yang tepat agar
anak didik dapat merima  pendidikan dengan baik. Dalam kegiatan belajar
mengajar sangat diperlukannya interaksi antara guru dan murid yang memiliki
tujuan. Agar tujuan ini dapat tercapai sesuai dengan target dari guru itu sendiri,
maka sangatlah perlu terjadi interaksi positif yang terjadi antara guru dan murid.
Proses interaksi inilah yang disebut dengan pembelajaran. Dalam interaksi ini,
sangat perlu bagi guru untuk membuat interaksi antara kedua belah pihak berjalan
dengan menyenangkan dan tidak membosankan. Hal ini selain agar mencapai
target dari guru itu sendiri, siswa juga menjadi menyenangkan dalam kegiatan
belajar mengajar, serta lebih merasa bersahabat dengan guru yang mengajar.
Sehingga dalam mengajar diperlukan pendekatan, strategi, model dan metode
dalam pembelajaran yang tepat, pendidik harus pandai menggunakan hal tersebut
secara arif dan bijaksana. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan
sikap dan perbuatan. Setiap  pendidik tidak selalu memiliki suatu pandangan yang
sama dalam hal mendidik anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan dan
strategi mana yang pendidik ambil dalam pembelajaran.
Persoalan berikut ini adalah bagaimana melaksanakannya di dalam
proses belajar mengajar atau proses pembelajaran agar tujuan atau kompetensi
yang diharapkan tercapai. Dalam proses pembelajaran yang menjadi persoalan
pokok ialah bagaimana memilih dan menentukan strategi pembelajaran atau
strategi belajar mengajar (SBM), karena SBM menentukan jenis interaksi di
dalam proses pembelajaran.
B. Studi Kasus metode pembelajaran latihan keterampilan
Berikut merupakan contoh metode pembelajaran yang dikutip dari rancangan
pembelajaran gambar teknik

1. Kompetensi Dasar
1.1 Menyadari sempurnanya konsep Tuhan tentang benda-benda dengan
fenomenanya untuk dipergunakan sebagai aturan garis-garis gambar
teknik dan cara proyeksi untuk menggambarkan benda.
1.2 Mengamalkan nilai-nilai ajaran agama sebagai tuntunan dalam
pembuatan gambar konstruksi geometris dan gambar proyeksi untuk
menggambarkan benda.
2.1 Mengamalkan perilaku jujur, disiplin, teliti, kritis, rasa ingin tahu,
inovatif dan tanggung jawab dalam menerapkan aturan garis gambar
dalam tugas menggambar konstruksi garis dan gambar proyeksi.
2.2 Menghargai kerjasama, toleransi, damai, santun, demokratis, dalam
menyelesaikan masalah perbedaan konsep berpikir dan cara menggambar
konstruksi geometris dan gambar proyeksi.
2.3 Menunjukkan sikap responsif, proaktif, konsisten, dan berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan sosial sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam melakukan tugas menggambar konstruksi geometris
dan gambar proyeksi.
3.1 Memilih peralatan dan kelengkapan gambar teknik berdasarkan fungsi
dan cara penggunaan.
1.1 Menggunakan peralatan dan kelengkapan gambar teknik sesuai fungsi
dan prosedur penggunaannya

2. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Mengaplikasikan sikap disiplin, toleransi dan bertanggungjawab dalam
penggunaan alat dan bahan gambar teknik.
2. Memahami dan membuat konsep tentang alat-alat gambar teknik dengan
benar.
3. Menggunakan peralatan dan kelengkapan gambar teknik dalam
menggambar.
4. Menggambar huruf dan angka menggunakan peralatan dan kelengkapan
gambar teknik.

3. Analisis Karakteristik peserta didik


Karakteristik peserta didik
· Umum: umur, budaya, suku, agama, gender, latar belakang status sosial
· Khusus: gaya belajar, kecerdasan, lingkungan belajar
B. Kunci keberhasilan analisis peserta didik
1, Karakteristik Umum (General Characteristics)
1) Usia
Studi tentang pembelajaran bahasa Inggris, dimana anak 12 tahun
dikelompokkan dengan usia 18-20 tahun. Hasilnya, kurang dari 50 % anak
yang mampu bertahan hingga evaluasi akhir program. Padahal metode sudah
dibuat sevariatif mungkin dan lingkungan kelas yang menyenangkan.
Perbedaan umur menentukan adanya perbedaan perkembangan intelektual.
(Studi Piaget tentang perkembangan intelektual anak ).
2) Jenis Kelamin
Studi terhadap pembelajaran berbasis masalah di UEA menunjukkan bahwa
kelompok wanita lebih produktif dan oleh karena itu mempunyai skor
motivasi, kohesi, interaksi dan elaborasi yang secara signifikan lebih tinggi
dari pada kelompok pria. Pengelompokan ini akan berdampak pada
peningkatan motivasi dan perhatian belajar
2, Kemampuan Awal Khusus (Specific Entry Competenceis)
Kemampuan Awal Khusus (Specific Entry Competenceis): Pengetahuan dan
ketrampilan yang dimiliki/ belum dimiliki peserta didik: pengetahuan
prasyarat, kemampuan yang ditargetkan dan sikap. Guru harus memahami
kompetensi awal peserta didik sebelum mengikuti pembelajaran yang
diberikan. Mereka datang ke kelas dengan membawa pengetahuan,
ketrampilan, keyakinan, sikap yang berbeda-beda. Hal ini mempengaruhi
bagaimana mereka hadir, menafsirkan dan mengelola informasi yang
diperoleh. Cara mengetahui kemampuan awal :
1. Pertanyaan Informal
Menanyakan topik-topik tertentu dalam kelas
2. Tes Formal/tes formal yang dikembangkan sebelumnya
3. Tes Prasyarat (apakah peserta didik mempunyai pengetahuan prasyarat
untuk memulai sebuah pembelajaran).
3, Gaya Belajar (Learning Styles)
Gaya belajar adalah cara tertentu dimana seorang individu belajar. Cara yang
disukai atau terbaik untuk berfikir, memproses informasi dan
mendemonstrasikan pembelajaran. Alat yang dipilih individu dalam
memperoleh pengetahuan dan ketrampilan. Kebiasan, strategi, atau perilaku
mental yang teratur tentang belajar. (Pritchard, 2009) atau bisa juga ciri-ciri
psikologis yang mempengaruhi bagaimana pandangan dan respon peserta
didik pada berbagai stimulus yang diberikan
Macam – macam gaya belajar :
(1). Visual Learners
Mereka belajar sesuatu paling baik melalui penglihatan. Memiliki kesulitan
menyerap informasi melalui presentasi verbal tanpa disertai dengan gambar-
gambar visual. Perlu alat bantu visual atau alat peraga yang dapat mereka
lihat dan saksikan secara langsung. Cara belajar mereka :
• Mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar,
• Suka mencoret-coret sesuatu
• Pembaca cepat dan tekun
• Lebih suka membaca dari pada dibacakan
• Rapi dan teratur
• Mementingkan penampilan
• Teliti terhadap detail
• Pengeja yang baik
• Lebih memahami gambar dan bagan dari pada instruksi tertulis
• Tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak terpikir kata yang tepat
• Biasanya tidak tertanggu oleh keributan
• Mengingat dengan asosiasi visual
(2). Auditory Learners
Mereka belajar sesuatu paling baik melalui pendengaran. Lebih suka
penyajian materi lewat ceramah dan diskusi. Biasanya terfokus pada satu
masalah dalam satu waktu, mudah kehilangan konsentrasi jika ada gangguan,
tidak suka pada kelompok besar dan tugas berbasis proyek. Cara mereka
belajar :
• Lebih cepat menyerap dengan mendengarkan
• Menggerakkan bibir dan mengucapkan tulisan di buku ketika
membaca
• Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
• Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, irama dan warna
suara
• Bagus dalam bicara dan bercerita
• Berbicara dengan irama yang terpola
• Mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
• Suka berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu panjang lebar
• Lebih pandai mengeja dengan keras dari pada menuliskannya
• Suka musik dan bernyanyi
• Tidak bisa diam dalam waktu lama
• Suka mengerjakan tugas kelompok
(3). Kinesthetic Learners
Mereka melakukan aktifitas secara fisik, senang berpindah dan bergerak
selama pembelajaran. Gemar menulis dengan tangan dan yang terpenting
adalah menggunakan anggota tubuh dalam belajar. Mereka senang bergerak,
menggoyangkan kepala, tangan, kaki. Mereka senang dengan metode bermain
peran, dominan pada mapel olah raga, seni acting dan teater. Cara mereka
belajar :
• Selalu berorientasi fisik dan banyak bergerak
• Berbicara dengan perlahan
• Suka menggunakan berbagai peralatan dan media
• Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka
• Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang
• Belajar melalui praktek
• Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
• Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca
• Banyak menggunakan isyarat tubuh
• Tidak dapat duduk diam dalam waktu lama
• Ingin melakukan segala sesuatu
• Menyukai permainan dan olah raga
4. Kecerdasan Jamak (Multiple Intellegences)
“Berbagai kemampuan, ketrampilan atau bakat yang dimiliki seseorang untuk
menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi”. Dicetuskan oleh Howard
Gardner (1983) mencakup 7 kecerdasan: verbal-linguistik, matematik-logik,
badaniah-kinestetik, visual-spasial, berirama-musik, interpersonal, dan
intrapersonal. Dia menambahkan satu kecerdasan lagi (1999), yaitu
kecerdasan naturalistik, dan memungkinkan adanya kecerdasan eksistensial
yang dikenal dengan istilah kecerdasan setengah (half intellegence).
Dinamakan demikian karena dia belum sepenuhnya memiliki data autentik
yang mengisyaratkan secara ilmiah kecerdasan eksistensial menjadi salah satu
bagian kecerdasan jamak.
Pengelompokkan kecerdasan jamak :
1. Domain Interaktif
Merujuk kepada kemampuan individu untuk berinteraksi dengan individu lain
dengan menggunakan kecerdasan verbal- linguistik, interpersonal, dan
badaniah-kinestetik yang dimiliki.Verbal: Kemampuan untuk
mengekspresikan diri secara lisan dan tertulis. Linguistik: Kemampuan
menggunakan bahasa. Badaniah-kinestetik: Kemampuan untuk
menggunakan seluruh tubuh dalam mengekspresikan ide, perasaan dan
menggunakan tangan untuk menghasilkan atau mentransformasi sesuatu.
Interpersonal: kemampuan memahami pikiran, sikap dan perilaku orang lain.
Orang yang memiliki kecerdasan rendah pada domain ini maka ia akan sulit
berinteraksi dengan orang lain.
Metode yang sesuai: pembelajaran berbasis kerja, diskusi kelompok,
pembelajaran kolaboratif dan pembelajaran kooperatif.
2. Domain Analitik
Merujuk pada kemampuan untuk berfikir logis yang melibatkan alasan-alasan
rasional yang mencakup kecerdasan logis-matematik, berirama-musik, dan
naturalis. Logis-matematik: kemampuan untuk merangkaikan alasan-alasan,
mengenal pola-pola dan aturan. Berirama-musik: kemampuan untuk berfikir
dengan menggunakan musik, mendengarkan pola-pola dan mengenal serta
mungkin memanipulasinya. Naturalis: kemampuan untuk membuat
kategorisasi dan hierarki tentang suatu organisme, seperti tumbuhan, binatang
dan alam.
Metode yang sesuai: problem solving, eksperimen, berpikir kritis, musik
instrumental, sugestopedia, belajar melalui alam, menggunakan tanaman
sebagai media, darmawisata.
3. Domain Introspektif
Dapat dicapai dengan proses afektif secara alamiah, artinya diperlukan
keterlibatan aspek emosional untuk melihat sesuatu lebih dalam dari sekedar
memandang, tetapi mampu membuat hubungan emosional antara apa yang
sedang terjadi dengan pengalaman masa lalu. Mencakup kecerdasan visual,
intrapersonal dan eksistensial. Mencakup kecerdasan visual-spasial:
kemampuan mempersepsi dunia visual-spasial secara akurat serta
mentransformasikan persepsi visual-spasial tersebut dalam berbagai bentuk.
Kemampuan ini mencakup kepekaan pada garis, warna, bentuk, ruang,
keseimbangan, pola, hubungan antar unsur-unsur. Kecerdasan intrapersonal:
kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman
tersebut. Ia adalah kecerdasan batin yang bersumber pada pemahaman diri
secara menyeluruh guna menghadapi, merencanakan dan memecahkan
berbagai persoalan yang dihadapi. Kecerdasan eksistensial-spiritual: kapasitas
hidup manusia yang bersumber dari hati yang dalam, yang terilhami dalam
bentuk kodrat untuk dikembangkan dan ditumbuhkan dalam mengatasi
berbagai kesulitan hidup. Merupakan kecerdasan yang esensial dalam
kehidupan manusia.
Metode yang sesuai: membuat potongan kertas warna-warni, membuat
visualisasi, pemetaan ide, poster, sketsa, melakukan tugas mandiri, refleksi,
pengungkapan perasaan, merespon suatu peristiwa.
Tujuan Pembelajaran
Setelah pembelajaran ini, peserta didik diharapkan mampu :
1. Memahami peralatan dan kelengkapan garis teknik melalui pengamatan.
2. Terlibat aktif dan mandiri mengajukan pertanyaan tentang jenis peralatan
dan kelengkapan gambar serta fungsinya.
3. Menjawab pertanyaan yang diajukan tentang jenis peralatan dan
kelengkapan gambar serta fungsi dan cara penggunanannya.
4. Mengkatagorikan data dan menentukan hubungan jenis dan fungsi
peralatan gambar, selanjutnyanya menyimpulkan dengan urutan dari yang
sederhana sampai pada yang lebih kompleks terkait dengan penggunaan
peralatan dan kelengkapan gambar teknik.
5. Menyampaikan hasil konseptualisasi berupa penggunaan peralatan dan
kelengkapan gambar teknik dalam bentuk lisan, tulisan, dan gambar.
Metode Pembelajaran Latihan Keterampilan
Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang telah disusun ke dalam bentuk kegiatan nyata
dan praktis agar mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Nana Sudjana (2005:76)
metode pembelajaran ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan
hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Terdapat beberapa
metode pembelajaran yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana
pembelajaran yang telah disusun sebelumnya yaitu diantaranya:
1. Metode Ceramah
2. Metode Diskusi
3. Metode Demokrasi
4. Metode Ceramah Plus
5. Metode eksperimental
6. Metode Resitasi
7. Metode Study Tour
8. Metode Latihan Keterampilan
9. Metode Pengajaran Beregu
10. Peer Theaching Method
11. Metode Pemecahan Masalah
12. Project Method
13. Taileren Method
14. Metode Global
15. Teknik Pembelajaran
Metode latihan keterampilan adalah suatu metode mengajar, dimana siswa
diajak ke tempat latihan keterampilan untuk melihat bagaimana cara membuat
sesuatu, bagaimana cara menggunakannya, untuk apadibuat, apa manfaatnya dan
sebagainya.

2.3 Teknik Pembelajaran


Pengertian dari Teknik Pembelajaran yaitu sebagai cara yang dilakukan
seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan,
pengunaan metode ceramah pada suatu kelas dengan jumlah siswa yang relative
banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda
dengan penggunaan metode ceramah dengan skelas yang memiliki jumlah siswa
yang terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu
menggunakan teknik yang berbeda pada kelas yang tingkat keaktifan siswanya
tinggi dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru
diharapkan dapat berganti-ganti teknikmeskipun dalam koridor metode yang
sama.
Teknik pembelajaran adala cara yang konkret yang dipakai saat proses
pembelajaran berlangsung.
1) Teknik Umum
Teknik umum adalah cara-cara yang dapat digunakan semua bidang studi.
Contoh teknik umum yaitu antara lain:
a. Teknik Ceramah
Teknik ini paling banyak diterapkan oleh para guru dan teknik ini
menggunakan sumber referensi hampir 80% dari buku lalu sisanya siswa
melakukan observasi di laboratorium dll.
b. Teknik Tanya Jawab
Teknik tanya jawab adalah teknik yang menerapkan tanya jawab antara
guru dengan peserta didik. Teknik ini juga banyak diterapkan oleh para guru.
Dengan teknik ini diharapkan guru dapat langsung mengevaluasi proses belajar
mengajarnya terhadap siswa.
c. Teknik Diskusi
d. Teknik Ramu Pendapat
e. Teknik Latihan
f. Teknik Inquiri
g. Teknik Demostrasi
h. Teknik Simulasi
2) Teknik Khusus
Teknik khusus adalah cara mengajarkan(menyajikan atau memantapkan) bahan-
bahan pelajaran bidang studi tertentu. Contohnya adalah teknik meringkas, teknik
medekripsikan objek, teknik menyadur, dll dalam teknik pembelajaran menulis.
BAB III
PELAKSANAAN
3.1 Langkah-langkah
Tahapan dalam metode latihan keterampilan:

 Fase   Pemberian    Latihan.   Latihan    yang   diberikan   kepada   siswa


hendaknya mempertimbangkan: tujuan  yang akan dicapai, jenis tugas  yang
jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan, sesuai dengan
kemampuan  siswa,  ada  petunjuk/sumber  yang  dapat  membantu  pekerjaan
siswa, sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.

 Langkah     Pelaksanaan     Latihan.     Fase     ini     meliputi:     diberikan


bimbingan/pengawasan oleh guru, diberikan dorongan sehingga anak mau
bekerja, diusahakan/dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain,
dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan
sistematik.

 Fase  mempertanggungjawabkan  latihan.  Fase  ini  meliputi:  laporan siswa


secara tertulis dari apa yang telah dikerjakannya, ada tanya jawab/diskusi
kelas, penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun nontes atau
cara lainnya.

Selain ketiga langkah tersebut, ada langkah langkah yang biasa digunakan oleh
guru, secara runtut sebagai berikut :

a. Tahap Persiapan

Pada tahap ini, ada beberapa hal yang dilakukan, antara lain :

1)      Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa


2)      Tentukan dengan jelas keterampilan secara spesifik dan berurutan
3)  Tentukan rangkaian gerakan atau langkah yang harus dikerjakan untuk
menghindari kesalahan
4)      Lakukan kegiatan pradrill sebelum menerapkan metode ini secara penuh
b.      Tahap Pelaksanaan
1)      Langkah pembukaan
Dalam langkah pembukaan, beberapa hal yang perlu dilaksanakan oleh guru
diantaranya mengemukakan tujuan yang harus dicapai, bentuk-bentuk latihan
yang akan dilakukan.
2)      Langkah pelaksanaan
a.       Memulai latihan dengan hal-hal yang sederhana dulu
b.      Ciptakan suasana yang menyenangkan/menyejukkan
c.       Yakinkan bahwa semua siswa tertarik untuk ikut
d.      Berikan kesempatan \kepada siswa untuk terus berlatih
3)      Langkah mengakhiri
Apabila latihan sudah selesai, maka guru harus terus memberikan
motivasi untuk siswa terus melakukan latihan secara berkesinambungan
sehingga latihan yang diberikan dapat semakin melekat, terampil dan terbiasa.
(Ahmad Rifai 5201413061)

3.2 Teknik Pelaksanaan

Bentuk- bentuk Metode Drill dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk teknik,
yaitu sebagai berikut :
a.      Teknik Inquiry (kerja kelompok)
Teknik ini dilakukan dengan cara mengajar sekelompok anak didik untuk
bekerja sama dan memecahakan masalah dengan cara mengerjakan tugas yang
diberikan.
b.     Teknik Discovery (penemuan)
Dilakukan dengan melibatkan anak didik dalam proses kegiatan mental
melalui tukar pendapat, diskusi.
c.      Teknik Micro Teaching
Digunakan untuk mempersiapkan diri anak didik sebagai calon guru untuk
menghadapi pekerjaan mengajar di depan kelas dengan memperoleh nilai
tambah atau pengetahuan, kecakapan dan sikap sebagai guru.
d.     Teknik Modul Belajar
Digunakan dengan cara mengajar anak didik melalui paket belajar berdasarkan
performan (kompetensi)
e.      Teknik Belajar Mandiri
Dilakukan dengan cara menyuruh anak didik agar belajar sendiri, baik di
dalam kelas maupun di luar kelas.
(Sahidul Hamzah 5201413047)

3.3 Taktik Pembelajaran

Pengertian taktik pembelajaran gaya seseorang dalam melaksanakan


metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Contohnya
terdapat dua orang guru yang menggunakan metode yang sama seperti metode
ceramah, tetapi mungkin proses dari pembelajarannya akan sangat berbeda karena
taktik yang digunakannya. Dalam penyajiaanya mungkin guru yang satu
cenderung diselingi humor namun mendidik sementara guru yang satunya krena
kurang memiliki selera humor akan menggunakan alat bantu atau media
pembelajaran lainnya. Dalam gaya pembelajaran kan nampak keunikan atau
kekhasan dari masing-masing guru sesuai dengan kemampuan, pengalaman, dan
tipe kepribadian dari sang guru yang bersangkutan.
Contoh taktik pembelajaran selanjutnya yaitu seorang siswa yang nakala
dan sangat usildapat diatasi dengan taktik pembelajaran memberikan kepercayaan
yang lebih kepada siswa tersebut untuk menjawab pertanyaan soal matematika
ataupun mata pelajaran lainnya di depan kelas sehingga dapat menciptakan
kepercayaan diri yang baik terhadap siswa tersebut. Namun apabila siswa tersebut
merasa cemas atau takut maka guru dapat mengatasinya dengan membuat suasana
menjadi riang gembira melalui humor dan media pembelajaran lainnya.
(Ray Catur Pamungkas, 5201413054)
BAB IV
KESIMPULAN

4.1 Implikasi
Metode latihan keterampilan adalah suatu metode mengajar, dimana siswa
diajak ke tempat latihan keterampilan untuk melihat bagaimana cara membuat
sesuatu, bagaimana cara menggunakannya, untuk apa dibuat, apa manfaatnya dan
sebagainya.
Strategi pembelajaran diartikan sebagai perencanaan yang  berisi tentang
rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan  pendidikan tertentu,
Dari kalimat ini dapat disimpulkan bahwa yang lebih ditekankan pada strategi
pembelajaran adalah perencanaannya. Sedangkan  pendekatan pembelajaran
adalah cara memandang terhadap pembelajaran , serta cara kerja untuk
memudahkan pelaksanaan proses pembelajaran dan membelajarkan siswa guna
membantu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sehingga yang lebih
ditekankan dalam pendekatan sudah bukan merupakan perencanaan, tetapi
bagaimana seorang pendidik dapat memandang suatu masalah dalam
pembelajaran, unuk kemudian ditemukan solusinya dalam metode pembelajaran.
Jadi dapat dikatakan  bahwa metode pembelajaran merupakan tindak lanjut dari
pendekatan  pembelajaran. Yang tidak kalah pentingnya lagi adalah model
pembelajaran, diartikan sebagai suatu rencana atau pola yang dapat digunakan
untuk membentukkurikulum, merancang bahan-bahan  pembelajaran, dan
membimbing pembelajaran di kelas.
Meskipun  pengertiannya hamper sama dengan strategi pembelajaran,
model  pembelajaran mempunyai ruang lingkup yang lebih sempit. Hal tersebut
disebabkan oleh model pembelajaran merupakan bagian dari strategi
pembelajaran. Begitupun dengan metode dan pendekatan pembelajaran, ketiga
aspek tersebut merupakan pengembangan dari strategi  pembelajaran.Dengan kata
lain, gabungan dari ketiga aspek tersebutlah yang dikatakan strategi pembelajaran.
(Septyayu CP 5201413069)
 
4.2 Kelebihan dan Kekurangan
1. Kelebihan Metode Latihan
 Peserta didik memperoleh kecakapan motoris, contohnya menulis,
melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat.
 Peserta didik memperoleh kecakapan mental, contohnya dalam perkalian,
penjumlahan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda/simbol, dan
sebagainya.
 Dapat membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan
pelaksanaan.
Peserta didik memperoleh ketangkasan dan kemahiran dalam melakukan
sesuatu sesuai dengan yang dipelajarinya.
 Dapat menimbulkan rasa percaya diri bahwa peserta didik yang berhasil
dalam belajar telah memiliki suatu keterampilan khusus yang berguna kelak
dikemudian hari.
 Guru lebih mudah mengontrol dan membedakan mana peserta didik yang
disiplin dalam belajarnya dan mana yang kurang dengan memperhatikan
tindakan dan perbuatan peserta didik saat berlangsungnya pengajaran.
2. Kelemahan Metode Latihan
 Menghambat bakat dan inisiatif anak didik karena anak didik lebih banyak
dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan kepada jauh dari pengertian.
 Dapat menimbulkan verbalisme, terutama pengajaran yang bersifat
menghapal. Dimana peserta didik dilatih untuk dapat menguasai bahan
pelajaran secara hapalan dan secara otomatis mengingatkannya bila ada
pertanyaan yang berkenaan dengan hapalan tersebut tanpa suatu proses
berfikir secara logis.
 Membentuk kebiasaan yang kaku, artinya seolah-olah peserta didik
melakukan sesuatu secara mekanis, dalam dalam memberikan stimulus
peserta didik bertindak secara otomatis.
 Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan, dimana peserta
didik menyelesaikan tugas secara statis sesuai dengan apa yang diinginkan
oleh guru.
3. Usaha Mengatasi Kelemahan Metode Latihan
 Metode ini hendaknya digunakan untuk melatih hal-hal yang bersifat
motorik, seperti menulis, permainan, pembuatan grafik, kesenian dsb.
 Sebelum latihan dimulai, pelajar hendaknya diberi pengertian yang
mendalam tentang apa yang akan dilatih dan kompetensi apa saja yang
harus dikuasai.
 Latihan untuk pertama kalinya hendaknya bersifat diagnosis. Kalau pada
latihan pertama, pelajar tidak berhasil, maka guru harus mengadakan
perbaikan, lalu penyempurnaan.
 Latihan harus menarik minat dan menyenangkan serta menjauhkan dari hal-
hal yang bersifat keterpaksaan.
Sifat latihan, yang pertama bersifat ketepatan kemudian kecepatan, yang keduanya
harus dimiliki oleh peserta didik.
(M.Zulfahmi 5201413086)
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid, 2006. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Study


Kompetensi Guru. , hlm. 133 . Bandung: PT. Rosda Karya

Hartoko, Dick. 1984 . Manusia dan Seni. Yogyakarta: Penerbit Kanisius,

Liang Gie, 1976, Garis Besar strategi Belajar (Filsafat Pembelajaran), Fakultas
Filsafat Universitas gajah Mada, Yogyakarta.

Pasaribu, U dan B. Simanjuntak , 1986 . Didaktik dan Metodik, Bandung: Tarsito,


, hlm. 25
Roestiyah N K, 1985. Strategi Belajar Mengajar. , hlm. 125 .Jakarta: Bina Aksara,
Rohendi R, Tjejep, 2000, Metode pelatihan Kesenian Dalam Pendekatan
Kebudayaan, STSI, Bandung.

Summahamijaya, Suparman. 2004. Pembangunan Karakter Peserta didik melalui


latihan keterampilan .Jakarta: Lembaga Bina insan cendekia.

Sutrisno, Muji, 1993. Model Belajar: Filsafat Pembelajaran, Yogyakarta:


Kanisius.

Sutjipto, Katjik, 1973, Seni Rupa sebagai Alat Peraga Pendidikan, sub Proyek
Penulisan Buku Pelajaran, IKIP Malang.

Analisis Sumber Belajar

 Bahan ajar yang sengaja dirancang untuk belajar, seperti buku


tematik , buku pegangan siswa tema, handouts, LKS dan modul;
 Bahan ajar yang tidak dirancang namun dapat dimanfaatkan untuk
belajar, misalnya kliping, koran, film, iklan atau berita. Koesnandar juga
menyatakan bahwa jika ditinjau dari fungsinya, maka bahan ajar yang
dirancang terdiri atas tiga kelompok yaitu bahan presentasi, bahan
referensi, dan bahan belajar mandiri.