Anda di halaman 1dari 27

1

MAKALAH
TAHAPAN PEMBUATAN RESTORASI GIGI SULUNG

Oleh :

MERRY AYUNDA PUTRI


1710070110037

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS BAITURRAHMAH

PADANG

2020
2

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Puji syukur kami ucapkan kehadiran Allah SWT atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah mengenai tahapan
pembuatan restorasi gigi sulung sebagai salah satu syarat guna memenuhi proses
pembelajaran di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah.

Dalam kesempatan ini dengan tulus dan segala kerendahan hati kami
menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya khususnya kepada yang
terhormat ibu drg. Puji Kurnia.,MDSc.,SP.KGA selaku dosen pengampu Blok
XIX.
Akhir kata Saya mengharapkan Allah SWT melimpahkan berkah-Nya
kepada kita semua dan semoga makalah ini dapat bermanfaat serta dapat
memberikan sumbangan pemikiran yang berguna bagi semua pihak yang
memerlukan.

Padang, 23 Maret 2020

Penulis,

ii

2
3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................................................................................................


DAFTAR ISI ..........................................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................1
1.1 Latar Belakang......................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................................................
2.1 Tahapan Pembuatan Restorasi Gigi Sulung..........................................................4
2.2 Restorasi Gigi.....................................................................................................7
2.3 Macam – Macam Restorasi Gigi........................................................................7
2.4 Proses Polimerisasi Bahan Material Restorasi.................................................13
BAB III PENUTUP ...............................................................................................23
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................24

iii

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit gigi dan mulut yang paling sering dijumpai adalah gigi
berlubang. Gigi berlubang disebabkan invasi mikroorganisme dan biasa disebut
karies gigi. Di era milenial ini bahan bahan dan tata cara penanganan terhadap gigi
berlubang mengalami kemajuan yang sangat menggembirakan. Bahan bahan
restorasi/ tambal gigi tidak hanya digunakan untuk mengatasi rasa sakit tetapi juga
sangat mempertimbangkan nilai estetika. Untuk menambah pengetahuan tentang
berbagai macam bahan restorasi berikut uraian tentang bahan restorasi dari
berbagai sudut pandang.
Bahan restorasi berdasarkan warna gigi. - Sewarna gigi: komposit, Glass
Ionomer, porselin, akrilik, semen silikat( kebanyakan sudah tidak digunakan ),
zirconia. - Tidak sewarna gigi : amalgam, logam tuang. Bahan restorasi
berdasarkan cara aplikasi : - Direct/ langsung dikerjakan pada gigi di tempat
praktek dokter gigi: komposit, glass ionomer, amalgam. - Indirect / dikerjakan
tidak langsung di gigi pasien. Gigi dicetak terlebih dahulu, dikerjakan di luar
mulut , bisa di laboratorium gigi ataupun oleh dokter yang merawat : akrilik,
komposit, porselin, porselin fusi metal, logam tuang, zirconia. Bahan restorasi
berdasarkan cara pengerasan nya : - light cure , memerlukan proses penyinaran :
komposit, glass ionomer,  - Self cure , tidak memerlukan proses penyinaran : glass
ionomer. Bahan restorasi berdasarkan kemasan nya : - packable : bentuk nya padat
tetapi lunak : komposit - flowable : berbentuk kental, bisa mengalir , dapat di
inject kan : komposit, glass ionomer. Bahan restorasi berdasar logam dan non
logam - logam : amalgam, logam tuang - non logam : komposit, glass ionomer,
porselin, akrilik, zirconia. Dalam aplikasi di klinis penggunaan bahan akan
disesuaikan dengan indikasi dan diagnosis nya. Pada gigi gigi depan yang
memerlukan estetika tinggi tentu dipilih bahan tambalan yang sewarna gigi
misalnya komposit atau glass ionomer. Untuk restorasi pada gigi gigi dengan
kerusakan yang besar dan memerlukan restorasi indirect , biasanya dipilih bahan
porselin, zirconia atau akrilik. Mungkin ada pertanyaan apa beda bahan bahan
indirect tersebut? Semua sewarna gigi tetapi perbedaan nya terletak pada kekuatan
dan kecemerlangannya. Semakin kuat dan cemerlang semakin mahal. Pada saat ini
trend gigi gigi rapi dengan warna putih sedang trend, veneer gigi inilah yang
sedang menjadi trend. Veneer gigi merupakan contoh penggunaan bahan gigi
untuk keperluan estetik, bisa dikerjakan secara direct maupun indirect.
Penggunaan logam tuang atau logam tuang difusi dengan porselin sering
digunakan untuk gigi gigi belakang karena kekuatan lebih diutamakan. Dengan
mengenal berbagai macam bahan restorasi, tentunya akan sangat bermanfaat bila
ada pembaca yang mengalami keluhan gigi berlubang. Tentu saja pemilihan bahan
ataupun peruntukan bahan tersebut harus sesuai dengan diagnosis dokter gigi yang
merawat, dan harus sesuai dengan indikasi kasus yang dihadapi.
Karies atau gigi berlubang seringkali terjadi pada gigi sulung. Hal tersebut
berkaitan dengan kebiasaan diet makanan dan minuman manis pada anak serta
faktor risiko terjadi karies yang tinggi pada anak-anak. Karies yang terjadi pada
gigi sulung tersebut perlu dilakukan perawatan berupa restorasigigi untuk
menghindari pencabutan karena pencabutan atau kehilangan gigi yang terlalu dini
pada gigi sulung dapat menyebabkan maloklusi pada perkembangan gigi
dewasanya. Restorasi gigi sulung merupakan upaya perawatan pada gigi karies
menggunakan material restorasi gigi, baik menggunakan bahan adhesive (dapat
berikatan langsung dengan struktur gigi) maupun bahan nonadhesif (tidak dapat
berikatan langsung dengan struktur gigi). Pemilihan material restorasi gigi sulung
tersebut disesuaikan dengan keadaan gigi, sifat, kelebihan dan kekurangan, serta
pertimbangan lainnya.Tujuan dari perawatan restorasi gigi sulung yaitu untuk
mengembalikan fungsi normal pada gigi yang mengalami kerusakan akibat karies
gigi, melindungi dan menjaga pulpa serta struktur anatomis gigi yang masih
tersisa sampai pergantian gigi dewasa pada waktunya.
Dalam restorasi gigi sulung dilakukan pembuangan jaringan karies supaya
karies tidak meluas mengenai jaringan pulpa, pengembalian fungsi gigi yang
terkena karies dengan bahan restorasi yang sesuai, pengembalian morfologi gigi
agar oklusi dan titik kontak tidak berubah, serta memperbaiki estetik atau
penampilan.Beberapa pertimbangan juga perlu diperhatikan dalam merestorasi
gigi sulung, diantaranya yaitu pertimbangan anatomis, pemilihan material, usia,
risiko karies, dan kekooperatifan anak. Seiring dengan perubahan teknologi
material restorasi, prinsip prinsip preparasi kavitas seperti yang telah
dikemukakan oleh Black dengan menekankan “perluasan untuk pencegahan” yang
dianut selama berpuluh-puluh tahun mengalami perubahan menjadi prinsip
minimal intervensi,yaitu dengan hanya mengambil jaringan gigi yang
terdemineralisasi dan pemeliharaan struktur gigi yang sehat sebanyak mungkin.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tahapan Pembuatan Restorasi Gigi Sulung


Restorasi gigi sulung merupakan upaya perawatan pada gigi karies
menggunakan material restorasi gigi, baik menggunakan bahan adhesive (dapat
berikatan langsung dengan struktur gigi) maupun bahan nonadhesif (tidak dapat
berikatan langsung dengan struktur gigi). Pemilihan material restorasi gigi sulung
tersebut disesuaikan dengan keadaan gigi, sifat, kelebihan dan kekurangan, serta
pertimbangan lainnya.
Tujuan dari perawatan restorasi gigi sulung yaitu untuk mengembalikan
fungsi normal pada gigi yang mengalami kerusakan akibat karies gigi, melindungi
dan menjaga pulpa serta struktur anatomis gigi yang masih tersisa sampai
pergantian gigi dewasa pada waktunya. Namun dalam perawatan restorasi juga
terdapat risiko seperti membuat gigi rentan terhadap fraktur,kegagalan restorasi,
dan tereksposnya pulpa saat ekskavasi karies.
Dalam restorasi gigi sulung dilakukan pembuangan jaringan karies supaya
karies tidak meluas mengenai jaringan pulpa, pengembalian fungsi gigi yang
terkena karies dengan bahan restorasi yang sesuai, pengembalian morfologi gigi
agar oklusi dan titik kontak tidak berubah, serta memperbaiki estetik atau
penampilan. Berbagai pertimbangan juga perlu diperhatikan dalam merestorasi
gigi sulung, diantaranya yaitu pertimbangan anatomis, pemilihan material, usia,
risiko karies, dan kekooperatifan anak.
Gigi sulung menunjukkan kemiripanbentuk dengan gigi permanen
penggantinya, namun memiliki perbedaan anatomis seperti bentuk dan ukuran.
Oleh karena itu perlu diperhatikan sebelum melakukan restorasi, yaitugigi sulung
mempunyai enamel dan ketebalan dentin lebih tipis daripada gigi permanen, selain
itu pulpa gigi sulung lebih besar dibandingkan dengan ukuran mahkota daripada
pulpa gigi permanen. Tanduk pulpa gigi sulung juga lebih dekat ke permukaan
daripada gigi permanen, pada gigi sulung.Pada enamel rod pada 1/3 gingival ke
arah oklusal dari dentino enamel junction sedangkan pada gigi permanen ke arah
servikal. Mahkota gigi sulung lebih menyempit pada daerah servikal daripada gigi
permanen. Gigi sulung mempunyai proksimal kontak yang lebih datar dan lebar.
Kebanyakan permukaan gigi sulung ditutupi lapisan prismless enamel.
Usia pada anak akan juga memengaruhi kemampuan anak untuk bersikap
kooperatif dengan prosedur seperti rubber dam dan anestesi local, selain itu usia
juga menentukan berapa lama sebuah restorasi diharapkan dapat bertahan.
Contohnya, untuk mengembalikan fungsi gigi karies yang sebentar lagi
mengalami pergantian gigi dewasa. Pemilihan bahan restorasi pada anak juga
dipertimbangkan dengan risiko kariesnya. Contohnya pada anak dengan risiko
karies tinggi, GIC mungkin bukan merupakan pilihan yang tepat pada mulut
dengan risiko asam yang tinggi meskipun GIC memiliki efek preventif. Stainless
steel crown membutuhkan preparasi yang cukup banyak, namun pada kasus
tersebut dapat dipilih untuk mengurangi kemungkinan dibutuhkannya retreatment.
Pada kasus lain, GIC memiliki peran penting dalam mengontrol karies pada karies
rampan.
Prinsip preparasi kavitas dari Black yang menekankan “perluasan untuk
pencegahan” telah dipraktekkan oleh para dokter gigi selama lebih dari 100 tahun.
Banyak dokter gigi masih berpendapat bahwa karies gigi dapat dirawat dengan
upaya restorasi gigi yang terkena. Pada kenyataan pengeboran dan selanjutnya
penambalan gigi hanya menghilangkan gejala, tanpa menghentikan penyakit
tersebut secara menyeluruh. Dewasa ini, pemeliharaan struktur gigi yang sehat
harus menjadi tujuan utama pada setiap perawatan gigi karena proses terjadinya
karies gigi dan mekanisme kerja fluorida sebagai agen pencegah karies semakin
dipahami. Oleh karena itu “pencegahan untuk perluasan” merupakan motto baru
yang lebih tepat untuk menggantikan “perluasan untuk pencegahan”.
Minimum Intervention Dentistry (MID) merupakan pendekatan baru
penanganan karies gigi yang diawali dengan proses identifikasi dan perawatan
pencegahan dan selanjutnya upaya restorasi yang seminimal mungkin.Tindakan
ekstraksi hanya dilakukan sebagai pilihan terakhir jika gigi tersebut sudah tidak
dapat dilakukan perawatan lain. Prinsip dan desain harus memudahkan akses pada
kavitas, menyediakan retensi maksimal dan resitensi yang baik ketika ada tekanan
yang disalurkan selama mastikasi, dan mencegah karies sekunder.
Dalam melakukan preparasi karies perlu diketahui klasifikasi karies pada
gigi tersebut terlebih dahulu. Klasifikasi karies menurut Black menggambarkan
lokasi lesi sebagai berikut: kelas I - lesi yang terletak pada pit atau fisura mahkota
gigi; pit insisif atas; pit fasial molar bawah; kelas II - lesi proksimal gigi posterior;
kelas III - lesi proksimal gigi anterior; kelas IV - lesi proksimal gigi anterior yang
meluas ke incisal edge; kelas V - lesi pada 1/3 servikal mahkota gigi atau pada
akar yang terkekspos.

Gambar 1. Klasifikasi lesi karies menurut G.V. Black


Mount dan Hume mengklasifikasikan karies berdasarkan lokasi dan
ukuran lesi, yaitu: Site I (pit dan fisur permukaan oklusal); Site II(area proksimal
dibawah titik kontak); Site III (1/3 servikal mahkota); Size I (keterlibatan dentin
minimal); Size II (keterlibatan dentin sedang, struktur gigi tersisa cukup untuk
mendukung restorasi); Size III (kavitas besar dengan struktur gigi yang rapuh);
Size IV (karies yang meluas dengan kehilangan struktur gigi).

Selain itu terdapat klasifikasi karies menurut ICDAS (International Caries


Detection and Assessment System). ICDAS mengklasifikasikan karies
berdasarkan tingkat keparahan karies, dalam bentuk angka dan diawali dengan
huruf D, contohnya D0, D1.

D0 : Gigi yang sehat.


D1 : Perubahan awal pada email yang tampak secara visual. Biasa dilihat dengan
cara mengeringkan permukaan gigi, dan tampak adanya lesi putih pada gigi.
D2 : Perubahan pada email yang jelas tampak secara visual. Terlihat lesi putih
pada gigi, walau gigi masih dalam keadaan basah.
D3 : Kerusakan email, tanpa keterlibatan dentin (karies email).
D4 : Terdapat bayangan dentin (tidak ada kavitas pada dentin). Karies pada tahap
ini sudah menuju dentin, berada pada perbatasan dentin dan email (dentino-
enamel junction).
D5 : Kavitas karies yang tampak jelas dan juga terlihatnya dentin (karies sudah
mencapai dentin).
D6 : Karies dentin yang sudah sangat meluas (melibatkan pulpa).

2.2 Restorasi Gigi


Restorasi (tumpatan) adalah istilah generik yang digunakan untuk
menyebut tambalan, inlay, mahkota, jembatan, implan, atau protesa lepasan yang
menggantikan jaringan gigi yang hilang dan merestorasi bentuk fungsi, atau
estetik.
2.3 Macam-macam Restorasi Gigi
2.3.1 Restorasi Plastis
Restorasi plastis adalah bahan restorasi yang dapat dibentuk dalam kavitas,
dan setelah beberapa waktu diaplikasikan dalam kavitas nantinya akan dapat
mengeras.
2.3.2 Restorasi Rigid
Restorasi rigid yaitu restorasi yang dibuat di luar mulut dari bahan yang
rigid atau kaku dan di semen pada preparasi kavitas gigi dengan bahan perantara
golongan semen. Restorasi rigid dapat dibagi menjadi restorasi ektrakoronal,
intrakoronal dan interadikuler.
1.     Restorasi Ekstrakoronal
Salah satu contoh restorasi ekstrakoronal yaitu mahkota penuh
atau complete crown. Complete crown  merupakan restorasi yang menutupi
seluruh permukaan mahkota klinis dari suatu gigi asli.
Terdapat berbagai jenis complete crown, diantaranya:
A. All metal crown
Mahkota ini sering disebut dengan mahkota tuang penuh atau full cast
crown. Merupakan suatu restorasi yang menyelubungi permukaan gigi dari logam
campur yang dituang.Indikasinya yaitu untuk gigi molar dan premolar rahang atas
dan bawah, penderita dengan oklusi dan artikulasi yang berat, tekanan kunyah
besar, tidak memerlukan estetik, gigi dengan karies cervikal, dekalsifikasi, dan
enamel hipoplasi. Kontraindikasinya yaitu sisa mahkota gigi tidak cukup terutama
pada gigi dengan pulpa vital, memerlukan estetik pasien dengan OH buruk
sehingga restorasi mudah tarnish, gusi sensitif terhadap logam. 
B. All ceramic crown (mahkota porselen)
Teknologi porselen gigi merupakan bidang ilmu paling cepat
perkembangannya dalam bahan kedokteran gigi. Porselen gigi umumnya
digunakan untuk memulihkan gigi yang rusak ataupun patah dikarenakan faktor
estetiknya yang sangat baik, resistensi pemakaian, perubahan kimiawi yang
lambat, dan konduktifitas panas yang rendah. Terlebih lagi, porselen mempunyai
kecocokan yang cukup baik dengan karakteristik struktur gigi.
Komposisi porselen gigi konvensional adalah keramik vitreus (seperti
kaca) yang berbasis pada anyaman silica (SiO2) dan feldspar
potas (KO2.Al2O3.6SiO2) atau feldspar soda (Na2O.Al2O3.6SiO2) atau keduanya.
Pigmen, bahan opak dan kaca ditambahkan untuk mengontrol temperatur
penggabungan, temperatur sintering, koefisien ekspansi thermal, dan
kelarutan. Feldspar yang digunakan untuk porselen gigi relatif murni dan tidak
berwarna. Jadi harus ditambahkan pigmen untuk mendapatkan corak dari gigi-gigi
asli atau warna dari bahan restorasi sewarna gigi yang sesuai dengan gigi-gigi
tetangganya.
Mahkota porselen mempunyai nilai estetik tinggi, tidak mengalami korosi,
tingkat kepuasan pasien tinggi, namun biayanya mahal dan kekuatan rendah
dibandingkan dengan mahkota metal-porselen. Indikasinya membutuhkan estetik
tinggi, Tooth discoloration, malposisi, gigi yang telah dirawat endodonsi dengan
pasak dan inti. Kontraindikasinya yaitu indeks karies tinggi, distribusi beban di
oklusal tidak baik, dan bruxism.
C. Porcelain fused to metal
Pemilihan restorasi porselen fused to metal sebagai restorasi akhir pasca
perawatan saluran akar karena mampu memberikan keuntungan ganda, yaitu dari
segi kekuatan dan dari segi estetik. Lapisan logam sebagai substruktur mahkota
jaket porselen fused to metal akan mendukung lapisan porselen di atasnya
sehingga mengurangi sifat getas (brittle) dari bahan porselen, memiliki kerapatan
tepi dan daya tahan yang baik. Sementara lapisan porselen akan memberikan
penampilan yang estetik. Gigi pasca perawatan saluran akar yang direstorasi
dengan mahkota porselen fused to metal tingkat keberhasilan perawatannya tinggi.
2. Restorasi Intrakoronal
A. Inlay dan Onlay Logam
Inlay merupakan restorasi intrakoronal bila kerusakan mengenai sebagian
cuspatau tambalan yang berada di antara cusp, sehingga ukurannya biasanya tidak
begitu luas. Onlay merupakan restorasi intrakoronal bila kerusakan mengenai
lebih dari 1 cusp atau lebih dari 2/3 dataran oklusalkarena sisa jaringan gigi yang
tersisa sudah lemah.
B. Inlay dan Onlay Porselen
Restorasi inlay dan onlay porselen menjadi populer untuk restorasi gigi
posterior dan memberikan penampilan estestik yang lebih alamiah dibandingkan
dengan inlay dan onlay logam tuang dan lebih tahan abrasi dibandingkan dengan
resin komposit.
Porselen tidak sekuat logam tuang tetapi jika sudah berikatan dengan
permukaan email akan menguat pada gigi dengan cara yang sama seperti pada
restorasi resin berlapis komposit atau semen ionomer-resin komposit. 
C.  Inlay dan Onlay Komposit (indirect)
Restorasi dengan resin komposit dapat dilakukan secara indirect (tidak
langsung), yaitu berupa inlay dan onlay. Bahan resin komposit untuk tambalan
inlay lebih sering digunakan daripada pemakaian bahan keramik, sebab kekerasan
bahan keramik menyebabkan kesulitan apabila diperlukan penyesuaian oklusal
atau kontur, mudah pecah saat pemasangan percobaan sehingga menyulitkan
operator. Sedangkan resin komposit dapat dipoles kembali dengan mudah dan
efektif, lebih murah serta restorasi yang berlebihan pada daerah gingival dapat
dibuang hanya dengan menggunakan hand instrument. Indikasinya: menggantikan
tambalan lama (amalgam) dan atau yang rusak dengan memperhatikan nilai
estetik terutama pada restorasi gigi posterior, memperbaiki restorasi yang tidak
sempurna atau kurang baik, serta fraktur yang terlalu besar dan apabila pembuatan
mahkota bukan merupakan indikasi. Keuntungan restorasi secara indirect resin
komposit dibanding restorasi secara direct adalah dapat dihindarinya konstraksi
akibat polimerisasi bahan komposit, sehingga kebocoran tepi dapat dihindari.
Kontak pada bagian proksimal dapat dibuat rapat dan pembentukan kontur
anatomis lebih mudah.Sedangkan kekurangan restorasi secara indirect resin
komposit adalah adanya ketergantungan restorasi pada semen perekat (lutting
cement). Isolasi yang kurang baik serta polimerisasi yang kurang sempurna dari
semen akan berakibat negatif terhadap restorasi tersebut.
D.  Indirect Komposit Inlay dengan Fibers
Untuk gigi dengan restorasi yang besar denngan sedikit enamel tersisa,
fibers dapat digunakan sebagai bahan dasar pada veneer komposit. Pertimbangan
paling penting untuk mencapai daya tahan klinis yang lama pada resin inlay yang
dibuat melalui tahap laboratosis adalah penguatan gigi. Untuk menguatkan resin
komposit, penambahan fibers digabungkan ke dalam matriks resin, selama
pembuatan dan sebelum proses curing.
E.   Mahkota ¾
Disebut mahkota tiga per empat oleh karena dari 4 permukaan gigi, hanya
3 permukaan yang ditutup oleh mahkota. Bagian yang tidak tertutup oleh mahkota
adalah bagian labial atau bukal. Mahkota sebagian terutama dipakai sebagai
retainer jembatan. Preparasinya memerlukan pembuangan jaringan gigi yang jauh
lebih sedikit dibandingkan untuk mahkota penuh. Mahkota tiga per empat dapat
merupakan retainer yang baik pada gigi jika:
1. Bagian labial atau bukal dalam keadaan baik, histologis, anatomis, maupun
estetis.
2. Cukup tebal untuk membuat parit– parit proksimal untuk memberi retensi.
3. Mempunyai mahkota klinis yang cukup panjang, dan besar.
4. Mempunyai kedudukan normal (tidak malposisi).
5. Gigi-gigi yang cocok untuk dibuat mahkota tiga per empat adalah incisivus
sentral, premolar rahang atas, caninus dan premolar kedua rahang bawah. Pada
gigi ini terdapat permukaan proksimal   yang cukup lebar untuk dibuat parit
sebagai  retensi.
6. Sebagai retainer untuk short span bridge. 
3. Restorasi Intradikuler
A. Mahkota Pasak
Kerusakan mahkota gigi asli pada gigi posterior maupun anterior yang
cukup parah akan menimbulkan masalah retensi, permasalahan ini dapat
ditanggulangi dengan menggunakan pasak. Pada kebanyakan kasus gigi sudah
dirawat saluran akar, khususnya pada gigi-gigi dengan saluran akar tunggal yang
lurus. Keadaan ini sebaiknya harus diantisipasi terlebih dahulu sebelum
melakukan pengisian saluran akar, sehingga dapat digunakan teknik pengisian
yang memungkinkan untuk membantu retesi.
Pasak adalah suatu prosedur untuk membangun kembali suatu gigi yang
bertujuan menyediakan dukungan yang sesuai untuk suatu mahkota. Pasak seperti
jangkar untuk menempatkan mahkota. Pasak ditempatkan di dalam akar gigi yang
telah dilakukan perawatan saluran akar. Terdiri dari poros dan post/tonggak yang
disementasi pada saluran akar. Bagian yang lain berupa jacket crown atau veneer
crown atau cast gold crown. Indikasinya:gigi pasca perawatan endodontia,
memperbaiki inklinasi gigi. Kontraindikasinya: jaringan yang mendukung gigi
tidak cukup, OH buruk, dinding saluran akar tipis, resorpsi procesus alveolaris
lebih dari 1/3.Pasak juga bisa dilakukan pada gigi posterior. 
B. Mahkota pasak fiber reinforced composite.
Pemilihan jenis pasak yang digunakan penting untuk mendapatkan retensi
yang maksimal dengan menghilangkan seminimal mungkin struktur jaringan gigi.
Akhir-akhir ini, jenis pasak yang digunakan untuk retensi gigi yang telah dirawat
saluran akar telah mengalami perubahan dari bahan yang kaku (pasak metal dan
zirconium) menjadi bahan yang memiliki karakteristik mekanis menyerupai dentin
(pasak fiber dan resin komposit), karena kegagalan restorasi dengan retensi
intraradikuler dapat terjadi karena fraktur pasak, kehilangan retensi dan fraktur
mahkota serta akar, sehingga gigi akhirnya harus diekstraksi.
Pasak metal digunakan untuk menahan inti, menggantikan struktur gigi
yang hilang dan ditutup dengan mahkota penuh, tanpa memperhatikan estetik.
Sejalan dengan meningkatnya segi estetik, restorasi pasak dan inti sewarna gigi
menjadi pilihan untuk restorasi gigi non vital . Pasak fiber dapat dilekatkan pada
dentin saluran akar dengan menggunakan semen resin. Pasak fiber terbuat dari
seratserat karbon, kuarsa, silica, zirkonia atau kaca dalam satu matriks epoksi
resin. Secara kimia, pasak fiber sesuai dengan bahan dasar resin yang digunakan
untuk sementasi yaitu BisGMA.
Pasak ini terbuat dari serat berdiameter 7-10 mikrometer dan dikelilingi
oleh matriks resin polimer yang umumnya berupa resin epoksi. Bahan inti dan
semen resin dapat berikatan dengan pasak jenis ini. Scanning electron
microscope (SEM) menunjukkan pembentukan lapisan resin tagshybrid. Bonding
yang baik akan meminimalkan efek ungkitan di dalam saluran akar sehingga dapat
digunakan pasak dengan ukuran lebih pendek dan diameter lebih kecil.
Pasak fiber, semen resin, bahan inti resin komposit, dan dentin memiliki
modulus elastisitas yang hampir sama, sehingga meningkatkan keberhasilan
restorasi, dibandingkan dengan pasak dan inti metal. Pasak fiber memiliki
modulus elastisitas yang hampir sama dengan dentin yaitu, 20 GPa (modulus
elastisitas dentin = 18 GPa, pasak metal prefabricated = 200 GPa dan pasak
keramik=150 GPa), sehingga pasak fiber lebih lentur daripada pasak metal,
mempunyai sifat biokompatibel terhadap dentin dan tahan terhadap korosi, serta
mudah diambil dari saluran akar bila terjadi kegagalan dalam perawatan saluran
akar.
Keuntungan pasak fiber adalah dapat diindikasikan untuk saluran akar
yang lebar, dinding saluran akar yang tipis misalnya pada akar yang belum
terbentuk sempurna.selain itu, pasak fiber juga memiliki keuntungan dari segi
estetik, karena pasak ini memiliki warna sesuai dengan warna gigi, sehingga tidak
menimbulkan bayangan warna keabu-abuan pada gigi yang telah direstorasi.
Hal ini tidak hanya berperan pada gigi anterior tetapi juga pada gigi
posterior. Preparasi saluran akar pasak dilakukan hingga kira-kira tersisa 4,5 mm
gutta percha pada bagian apical, lalu pasak fiber disementasi dengan
menggunakan semen resin. Setelah itu kavitas ditutup dengan tumpatan resin
komposit hingga penuh dan kelebihan pasak fiber dipotong sebatas permukaan
oklusal.
2.4 Material Restorasi yang Digunakan Pada Gigi Sulung
Bahan restorasi yang dapat digunakan pada gigi sulung diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu restorasi adhesif dan restorasi nonadhesif. Restorasi adhesif
merupakan bahan restorasi yang dapat berikatan secara langsung dengan struktur
gigi. Restorasi nonadhesifdiindikasikan untuk gigi dengan karies luas yang telah
melibatkan beberapa permukaan dan tonjol mahkota gigi, gigi pasca pulpotomi,
pulpektomi, dan pasca perawatan saluran akar.
2.4.1 Glass Ionomer Cement (GIC)
GIC memiliki beberapa tipe berdasarkan fungsinya yaitu tipe I luting, tipe
II restoratif, tipe III fast setting lining, tipe IV fissure sealants, tipe V semen
ortodontik, tipe VI core build up material, tipe VII command set, tipe VIII GIC
ART, dan tipe XI geriatri dan pediatri.
GIC pertama kali diperkenalkan oleh Wilson dan Kent pada tahun 1971,
yang terdiri dari bubuk kaca fluoroaluminosilikat dan larutan asam
polikarboksilat, merupakan semen yang berbahan dasar air dengan bentuk
reaksinya asam basa, dimana asam polialkenoat sebagai asam dan kaca kalsium
stronsium aluminosilikat sebagai basa.
Beberapa lapisan pelindung yang saat digunakan adalah varnis dan
bonding agent. Varnis merupakan larutan resin, shellac, copal, sandarac, dan
medikamen lain dalam pelarut yang mudah menguap seperti eter atau alkohol.
Pada penguapannya, varnis membentuk lapisan tipis yang lengket atau film yang
merupakan barier terhadap efek berbahaya dari cairan atau bahan
pengiritasi.Varnis yang diaplikasikan di atas permukaan SIK bertujuan untuk
mencegah kontaminasi air dan saliva selama 24 jam pertama setelah penempatan
tumpatan SIK di dalam kavitas.Selain itu, varnis juga digunakan untuk melindungi
SIK yang belum mengeras secara sempurna dari pengeringan akibat perubahan
mekanisme hilangnya air.
Teknik manipulasi restorasi GIC, yaitu: letakkan GIC pada paper pad
dengan rasio powder dan liquid sesuai dengan anjuran pabrik. Bubuk dibagi
menjadi dua porsi dengan jumlah yang sama banyak. Bagian pertama disatukan
dengan cairan, kemudian dicampur dengan menggunakan spatula dengan gerakan
rolling dan melipat dengan tujuan hanya untuk membasahi permukaan
partikel bubuk dan menghasilkan campuran encer selama 10 detik. Kemudian
bagian kedua disatukan dengan adukan pertama. Pengadukan terus dilanjutkan
dengan gerakan yang sama sampai seluruh partikel terbasahi. Luas daerah
pengadukan diusahakan tidak meluas dan pengadukan selalu dikumpulkan
menjadi satu. Ambil tumpatan GIC menggunakan Plastic Filling. Letakkan pada
kavitas dan tumpat sesuai anatomis.

Bahan ini dikenal sebagai ionomer kaca modifikasi resin (SIKMR). Semen
ini merupakan material restorasi yang dapat bersifat dual-cured sewaktu terjadi
reaksi asam-basa selama setting dan dapat di- light cured setelah semen
ditumpatkan. Light curing meningkatkan kekuatan awal restorasi dan mampu
memberi proteksi lebih besar pada matriks hidrogel matang. Walaupun
translusensi nya meningkat, sifat mekanisnya tidak adekuat sebagai material
restorasi posterior.
Indikasi restorasi GIC, yaitu Restorasi pada lesi erosi/abrasi tanpa
preparasi kavitas, Penutupan/penumpatan pit dan fisura oklusal, Restorasi gigi
decidui, Restorasi lesi karies kelas V, Restorasi lesi karies kelaa III, diutamakan
yang pembukaannya dari lingual atau palatinal belum melibatkan bagian labial.
Kontraindikasi dari restorasi GIC, yaitu karies yang meluas hingga melibatkan
cusp, labial/bukal, dan area yang menerima beban oklusal yang besar.
Kelebihan dari restorasi GIC, yaitu mampu melepaskan fluoride, sewarna dengan
gigi, biokompatibel, serta mampu berikatan baik dengan struktur gigi.
Kekurangan dari restorasi GIC adalah working time yang singkat, kekuatannya
rendah dibandingkan restorasi lain, lebih mudah aus, dan bersifat hidrofilik
(membutuhkan air untuk reaksi pengrasan dan pertukaran ion, apabila kering GIC
akan menyerap air dari tubuli dentin sehingga menyebabkan sensitivitas).

Polimerisasi adalah reaksi kimia yang mengubah molekul-molekul


kecil menjadi polimer besar. Bubuk GIC merupakan kaca kalsium/stronsium
fluoroaluminosilikat tersusun atas SiO2 (Quartz, 29%) yang dapat meningkatkan
translusensi, Al2O3 (alumina, 16,6%) yang membentuk struktur skeletal dan
meningkatkan opasitas, CaF2 (fluorite, 34,2%) dan Na3AlF6 (cryolite, 5%) yang
dapat meningkatakan opasitas, AlF3 (5,3%) dan AlPO4 (9,9%) menurunkan suhu
lebur dan meningkatkan translusensi. Larutan GICmerupakan larutan asam
poliakrilat yang berguna memperbaiki karakteristik manipulasi, meningkatkan
estetika, menghasilkan gambaran translusen, meningkatkan waktu kerja dan
kekuatan, serta memperpendek waktu pengerasan. Reaksi yang terjadi ketika
mencampur powder dan liquid merupakan reaksi asam-basa.
Ikatan GIC dengan struktur gigi didapatkan melalui pertukaran ion Ca 2+,
Al3-, Na2+, F- pada gigi dan gugus COOH (karboskil) dari GIC. Ikatan fisikokimia
tersebut GIC memiliki sifat fluoride release yang membantu remineralisasi
gigi.Asam polialkenoat dari GIC akan melepaskan ion kalsium dan alumunium
dari semen, serta ion kalsium dan fosfat dari gigi. Kelompok karboksil akan
menggantikan ion fosfat pada apatit.Reaksi pengerasan dimulai saat cairan asam
polielektrolit berkontak dengan permukaan kaca aluminosilikat yang kelak akan
menghasilkan pelepasan sejumlah ion. Ketika GIC setting akan terlepas ion
mineral dari permukaan dentin atau enamel yang memicu terjadinya buffering
polyacid, kenaikan pH, pelepasan mineral pada semen atau struktur gigi.
2.4.2 Resin Komposit
Resin komposit adalah bahan restorasi gigi yang terdiri dari matriks resin
(BIS-GMA) serta filler yang berkaitan satu sama lain secara antar atom atau
molekul. Matriks resin organik berupa bis-GMA, TEGMA, UDMA dan filler atau
pengisi anorganik terdiri dari quartz, silicat, barium, stronsium atau kaca. Matriks
berfungsi sebagai pengencer dan akan membentuk polimer. Filler berfungsi
memberikan kekerasan dan menghambat perubahan bentuk matriks, serta
memberikan densitas radiopak pada foto radiograf agar dapat diidentifikasikan
sebagai bahan restorasi. Ukuran filler pada resin komposit beragam dan menjadi
penggolongan dari resin komposit.Setting atau polimerisasi dari resin komposit
terdiri dari tahap inisiasi, propagasi dan terminasi. Inisiasi dilakukan dengan
pemaparan sinar biru dengan panjang gelombang 486 nm untuk mengaktifkan
radikal bebas dalam pasta champoroquinone. Pada tahap propagasi, terjadi
penambahan monomer untuk memberikan pemanjangan rantai polimer. Pada
tahap terminasi, terjadi penambahan berat molekul dan kepadatan ikatan silang
sampai pertumbuhan radikal bebas berakhir.Beberapa komponen pada resin
komposit memiliki sifat yang sitotoksik, serta dapat menyebabkan alergi pada
beberapa orang. Kekerasan resin komposit dibawah enamel dan amalgam. Resin
komposit memiliki setting time 3-5 menit. Setelah disinar, permukaan komposit
akan mengeras dan setting berlanjut hingga 24 jam. Setelah setting, resin komposit
akan mengalami penyusutan volume sehingga rentan terhadap microleakage yang
menyebabkan terjadinya karies sekunder. Resin komposit dapat mengalami
diskolorasi akibat oksidasi dan hasil pertukaran air dalam matriks, atau interaksi
dengan polimer yang tidak bereaksi atau inisiator tidak terpakai.

Resin komposit dibagi berdasarkan ukuran partikel filler, teknik


polimerisasi, dan viskositasnya. Berdasarkan ukuran partikel, resin komposit
diklasifikasikan menjadi Macrofilled composites, yaitu memiliki ukuran filler
sebesar 10-25 µm, menghasilkan restorasi yang kasar, warna opak, serta daya
tahan yang lebih rendah, Microfilled composites, menggunakan dua jenis filler
yang lebih kecil dengan ukuran sebesar 0.03-0.5 µm yang menghasilkan
permukaan hasil restorasi yang sangat halus, mengkilap dan menyerupai email,
namun memiliki sifat mekanis yang rendah, Hybrid composites, menggunakan dua
filler dengan ukuran berbeda (rata-rata berukuran 0.5-1 µm, dimana menghasilkan
restorasi yang halus dan kuat, mengkilap namun dapat kehilangan kehalusan
seiring berjalannya waktu, Nano-filled composites, memiliki ukuran partikel yang
sangat kecil (0.005-0.04 µm) dan memiliki kekuatan mekanik sama dengan hybrid
namun kehalusan tahan lama seperti microfilled composite.Berdasarkan teknik
polimerisasinya, resin komposit diklasifikasikan menjadi Self cured, yang
memiliki inisiator benzoil peroksida dan akselerator amina. Terdiri dari dua pasta
basis dan katalis yang diaduk diatas paper pad. Polimerisasi akan terjadi dari
reaksi basis dan katalis (tanpa sinar). Light cured, menggunakan pasta tanpa
pengadukan yang berbentuk syringe. Setelah dikeluarkan dari syringe, resin
ditumpat dan disinar dengan light curing. Dilakukan teknik inkremental untuk
menghasilkan hasil tumpatan yang lebih maksimal.Berdasarkan viskositas, resin
komposit terbagi menjadi Packable composite, yang memiliki viskositas tinggi
surface tackiness rendah. Resin komposit ini direkomendasikan untuk kavitas
kelas I dan II karena memiliki depth of cure yang lebih besar, polymerization
shrinkage yang lebih rendah, serta radiopasitas dan wear rate yang lebih rendah
(3.5 µm/tahun). Flowable composite, yang memiliki viskositas rendah dan
direkomendasikan untuk kavitas servikal, restorasi gigi sulung, dan kavitas kecil
atau non-stress bearing area. Partikel flowable composite memiliki ukuran 0.4 - 3
µm (microfilled).

Etsa asam dan bonding agent merupakan dua komponen penting yang
berperan dalam ikatan resin komposit ke struktur gigi. Ikatan yang terjadi antara
resin komposit dan email adalah micromechanical interlocking. Etsa asam pada
struktur gigi akan membentuk mikroporus akibat larutnya hidroksiapatit pada
prisma enamel. Mikroporus yang telah terbentuk akan memberikan ikatan
mekanis yang diisi oleh bonding agent untuk membentuk resin tag. Resin tag
terbentuk dimulai dengan adanya penetrasi resin ke permukaan gigi. Resin tag
yang terbentuk pada perifer enamel rod disebut dengan macrotag. Resin tag yang
lebih kecil dan halus terbentuk di setiap ujung enamel rod dimana kristal
hidroksiapatit telah larut, meninggalkan crypts yang diuraikan oleh residu bahan
organik. Tag halus ini disebut microtag. Macrotag dan microtag adalah dasar
untuk ikatan mikromekanis email. Microtag berperan lebih penting karena
jumlahnya yang besar dan luas permukaan kontak yang lebih besar.Resin
komposit memiliki sifat seperti rentan terjadi shrinkage selama polimerisasi
(polymerization shrinkage). Semakin kecil partikel filler, semakin besar resin
kompositmengalami shrinkage. Hal yang dapat mengurangi terjadinya shrinkage
yaitu dengan penumpatan resin komposit secara incremental 2mm.
Teknik manipulasi dan penumpatan resin komposit, yaitu dengan
mengisolasi daerah kerja dan preparasi dibuat dengan pengambilan jaringan
seminimal mungkin dan dibuat bevel pada sudut tepi kavitas.Hal ini dilakukan
untuk membuat retention form.Basis diberikan apabila kavitas melibatkan dentin
yang cukup dalam, hal ini bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi pulpa
karena resin komposit bersifat iritan terhadap pulpa. Basis juga bertujuan untuk
menahan tekanan mekanik dari bahan restorasi, penahan termal, listrik, dan
kimiawi. Kemudian kavitas dibersihkan dan dikeringkan.Aplikasikan etsa (asam
fosforat 37%) pada kavitas selama 15 detik yang berfungsi untuk membentuk
porositas pada enamel, lalu bilas dengan semprotan air. Kemudian aplikasikan
bonding di permukaan yang telah diberikan etsa, diamkan selama 20 detik,
tipiskan dengan semprotan udara, lalu sinar dengan light cure selama10 detik.
Tumpatkan resin komposit pada kavitas secara incremental, bentuk sesuai
anatomis, kemudian sinar selama 20 detik.
Kunci keberhasilan penumpatan resin komposit adalah menjaga daerah
kerja tetap dalam keadaan kering selama proses penumpatan berlangsung. Resin
komposit sendiri tidak berikatan dengan enamel. Untuk memperoleh ikatan,
diciptakan ikatan fisik antara resin dan jaringan gigi yaitu dengan pengetsaan
enamel dengan asam fosfat 30-50%, membentuk pori – pori yang akan dialiri
unfilled resin (bonding agent) dan berpolimerisasi di dalamnya membentuk
retensi mekanis (tag resin). Etsa memberi keuntungan yaitu menghindari
kebocoran tepi tambalan dan diskolorasi tambalan Resin komposit merupakan
bahan yang dapat mengiritasi pulpa jika pulpa tidak dilindungi bahan pelapis
kalsium-hidroksid.
Material ini adalah material restorasi direk yang paling estetis karena
warna dan translusensinya serupa dengan gigi. Sifat adhesifnya tidak memerlukan
banyak pengambilan struktur gigi dan dapat menguatkan struktur gigi tersisa.
Indikasi resin komposit yaitu restorasi kelas I, II, III, IV dan V, sebagai base
lining dan core built up, sebagai sealant pada restorasi resin preventif, penutupan
diastema, modifikasi kontur gigi, dan splinting.
Kontraindikasinya sebagai restorasi karies dengan area kavitas yang tidak dapat
diisolasi, pasien yang memiliki alergi komposit, OH buruk, serta risiko karies
yang tinggi. Kelebihan yang dimiliki resin komposit, yaitu estetik dapat
disesuaikan dengan warna gigi pasien dan tahan lama. Selain itu memiliki adhesi
yang baik, tidak mudah aus, setting time dapat diatur, dapat digunakan sebagai
restorasi hampir semua kavitas, kekuatannya lebih besar dibandingkan GIC
sehingga cocok untuk kavitas dengan beban oklusal yang tinggi, serta dapat
bertahan lama.
Kelebihan dari meterial restori menggunakan resin composit adalah
Konservasi maksimal struktur gigi, Estetik cukup baik, Komposit memiliki
kondktivitas termal rendah sehingga untuk melindungi pulpa tidak diperlukan
basis insulasi, Dapat diperbaiki, bukannya digantikan, Restorasi komposit
menunjukkan rendahnya kebocoran mikro dibandingkan dengan resin nir-filer
( unfilled resin ), Dapat beradhesi langsung dengan gigi, membuat gigi lebih kuat
dibandingkan dengan menggunakan tumpatan amalgam, Komposit indirek dan
inlay dipolimerisasi dengan panas, sehingga meningkatkan kekuatannya.
Kekurangan dari resin komposit adalah dapat terjadi shrinkage selama
polimerisasi yang mempengaruhi adaptasi margin. Hal tersebut dapat dicegah
dengan penumpatan yang dilakukan secara inkremental. Selain itu, resin komposit
juga dapat berubah warna akibat kebersihan mulut yang buruk dan konsumsi
makanan dan minuman yang mengandung pewarna.
Proses polimerisasi dimulai oleh activator (kimia atau sinar) yang
menyebabkan molekul inisiator membentuk radikal bebas. Proses polimerisasi
terbagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap inisiasi, propagasi dan terminasi.
Tahap inisiasi merupakan pembentukan radikal bebas dari suatu molekul yang
diperlukan untuk tahap propagasi. Radikal dapat dihasilkan dari inisiator radikal.
Tahap propagasi merupakan tahap reaksi yang cepat karena radikal yang
terbentuk menyerang molekul lain dan menghasilkan radikal baru. Monomer
yang telah bereaksi dengan radikal bebas bereaksi dengan molekul lain sehingga
terjadi perpanjangan rantai. Pada tahap terminasi ini terjadi proses pemutusan
rantai. Terminasi terjadi karena reaksi penggabungan reaktan radikal
yang membentuk molekul tunggal. Reaksi polimerisasi resin komposit self-cured
diinisiasi secara kimia oleh inisiator peroxida dan akselerator amine sedangkan
polimerisasi light- cured di inisiasi oleh sinar biru. Polimerisasi yang terjadi
pada resin komposit adalah polimerisasi crossed linked yang terjadi karena
adanya ikatan karbon ganda.
Perbedaan polimerisasi pada resin komposit light-cured dipengaruhi oleh
jarak penyinaran dan durasi penyinaran, jarak sumber penyinaran yang paling
ideal adalah 1-2 mm dengan ketebalan material resin komposit 1,5-2 mm.
Jika jarak sumber mencapai 5-6 mm, maka sinar yang diterima oleh resin
komposit tidak dapat mempolimerisasi resin komposit dengan baik. Polimerisasi
yang tidak sempurna akan menurunkan sifat fisik dan mekanis resin komposit.

2.4.3 Resin modified glass ionomer cement (RMGIC)


RMGIC merupakan modifikasi bahan restorasi gabungan resin dan GIC
yang bertujuan untuk memperbaiki sifat GIC konvensional.Kandungan resin dapat
meningkatkan kekuatan terhadap fraktur dan keausan dari GIC.RMGIC dapat
digunakan pada pasien dengan risiko karies tinggi, restorasi kelas I,III,V gigi
sulung, serta teknik sandwich untuk restorasi kelas 2. Kelebihan dari RMGIC
yaitu memiliki nilai estetis yang baik, working time yang lebih lama, melepaskan
fluoride, berikatan baik dengan struktur gigi, dan aplikasi yang mudah karena
membutuhkan isolasi yang minimal ketika dilakukan penumpatan. Namun,
kekurangan dari bahan ini yaitu polimerisasi metakrilat dari resin dapat
menyebabkan terjadi shrinkage selama pengerasan sehingga lebih rentan terhadap
terjadinyamicroleakage dibandingkan dengan GIC konvensional, serta kekuatan
yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan resin komposit.
Teknik restorasi RMGIC yaitu dengan memulai preparasi gigi mengikuti
bentuk dari kavitas; buang semua jaringan karies menggunakan bur bulat
tertekanan rendah, aplikasi dentin conditioner berupa 10% asam poliakrilik selama
20 detik, kemudian bilas, dan keringkan sampai keadaan lembab; Tumpat RMGIC
secara incremental Pada kavitas yang besar dan dalam kemudian dilakukan
penyinaran; Setelah penumpatan dan penyinaran, cek oklusi. Periksa kontur,
kontak, dan hubungan oklusal. Bahan RMGIC ditemukan pada tahun 1988-1989.
Komposisinya terdiri dari Glass Ionomer dan HEMA (hidroxyethyl methacrylate).
Indikasi dari penggunaan RMGIC adalah Restorasi gigi desidui, Restorasi kelas I
yang kecil, Restorasi kelas III dan V, Restorasi transisi, Kegagalan, pengisian dan
undercut, Teknik laminasi dan sandwich dan Pembuatan pasak yang sekurang-
kurangnya 50% dari struktur mahkota gigi tersisa sehingga dapat dijadikan
sebagai dukungan.
Kontra indikasi dari penggunaan RMGIC adalah kehilan daerah tonjol atau
cups dan materialnya mudah rapuh.
Kekurangan dari bahan ini yaitu polimerisasi metakrilat dari resin dapat
menyebabkan terjadi shrinkage selama pengerasan sehingga lebih rentan terhadap
terjadinya microleakage dibandingkan dengan GIC konvensional, serta kekuatan
yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan resin komposit.

Kelebihan dari RMGIC yaitu memiliki nilai estetis yang baik, working
time yang lebih lama, melepaskan fluoride, berikatan baik dengan struktur gigi,
dan aplikasi yang mudah karena membutuhkan isolasi yang minimal ketika
dilakukan penumpatan.
Bahan RMGIC menjadi keras dalam waktu 30 detik penyinaran. Jika cahaya
tidak memadai dalam proses polimerisasi, maka bahan akan tetap menjadi keras,
namun dalam waktu yang lebih lama yaitu 15 – 20 menit. Aktivasi sinar akan
membentuk jembatan garam alumunium, dilanjutkan dengan reaksi asam basa
setelah proses polimerisasi hingga proses polimerisasi bahan sempurna. Reaksi
polimerisasi terjadi melalui dua tahap yaitu reaksi asam basa dan reaksi
polimerisasi. Reaksi yang pertama terjadi yaitu reaksi asam basa, yang terjadi
ketika pencampuran fluoroaminosilicate glass dan asam polikarboksilat. Setelah
pencampuran tersebut, akan terjadi pelepasan ion Al 3+ dan Ca2+. Setelah itu
terjadi fase migrasi, ion metal akan berpindah dari bubuk semen ke cairan,
kemudian dilanjutkan dengan fase gelatin. Pada fase ini akan terbentuk gelatin
dan asam poliakrilat berikatan dengan kalsium (McCabe & Walls, 2008).
Setelah reaksi asam basa selesai, dilanjutkan dengan reaksi polimerisasi.
Pengerasan bahan dipercepat dengan aktivasi sinar karena terjadi polimerisasi
dari HEMA dan kopolimer akan membantu reaksi silang (cross-linking) diantara
gugus metakrilat. Pada reaksi ini terjadi reaksi oksidasi dan reduksi atau katalis
fotopolimerisasi. Kemudian akan terbentuk ikatan hidrogen antara polimer
HEMA dan asam polikarboksilat. Ikatan hidrogen tersebut akan membentuk
ikatan ganda yang akan mengikat produk lain, sehingga membentuk monomer
baru sampai setting. Setelah setting, ikatan ganda dari monomer yang
berpolimerisasi akan hilang dan kelompok karboksil pada asam poliakrilik
menurun.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Restorasi gigi dapat terbagi dua jenis restorasi plastis (direct restoration)
dan restorasi rigid (indirect restoration). Tujuan dari perawatan restorasi gigi
sulung yaitu untuk mengembalikan fungsi normal pada gigi yang mengalami
kerusakan akibat karies gigi, melindungi dan menjaga pulpa serta struktur
anatomis gigi yang masih tersisa sampai pergantian gigi dewasa pada waktunya.
Namun dalam perawatan restorasi juga terdapat risiko seperti membuat gigi rentan
terhadap fraktur,kegagalan restorasi, dan tereksposnya pulpa saat ekskavasi karies.
Masing-masing bahan memiliki komposisi, kelebihan dan kekurangan yang
berbeda. Bahan restorasi yang dapat digunakan pada gigi sulung diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu restorasi adhesif dan restorasi nonadhesif. Restorasi adhesif
merupakan bahan restorasi yang dapat berikatan secara langsung dengan struktur
gigi. Restorasi nonadhesifdiindikasikan untuk gigi dengan karies luas yang telah
melibatkan beberapa permukaan dan tonjol mahkota gigi, gigi pasca pulpotomi,
pulpektomi, dan pasca perawatan saluran akar.
DAFTAR PUSTAKA
1. http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/odj/article/download/283/508
2. https://www.scribd.com/doc/244511905/Penggunaan-Gic-Dan-Rmgic-
Pada-Penambalan-Gigi-Sulung
3. http://ocw.usu.ac.id/course/download/611-PEDODONSIA-
TERAPAN/pdi705_slide_restorasi_gigi_anak.pdf
4. http://www.jdentistry.ui.ac.id/index.php/JDI/article/download/28/24
5. https://www.dictio.id/t/apa-saja-bahan-bahan-material-yang-dapat-
digunakan-untuk-restorasi-gigi/120325
6. https://www.scribd.com/document/242993060/Jenis-Bahan-Restorasi-
Pada-Gigi-Sulung
7. http://media.unpad.ac.id/thesis/160110/2007/160110070077_3_2149.pdf
8. http://fkg.ub.ac.id/wp-content/uploads/2018/07/UN10F14-43-HK0102a-
005-SOP-Requirement-Klinik-IKGA.pdf
9. Alam DR. Semen ionomer kaca pada gigi sulung. Repository FKG USU.
2002: 3-5.
10. Ferawati S. Pengaruh penambahan kitosan nano dari blangkas
terhadap compressive strength semen ionomer kaca modifikasi resin
nano. Repository FKG USU. 2011: 6-11.
11. Dewi. GIC (Glass Ionomer Cement).
http://drgdewi09.blogspot.com/2010/12/gic-glass-ionomer-cement.html.
18 September 2014.
12. Dha Asmalia. Bahan Kedokteran Gigi- Modul BKG 301.
http://dhaasmalia.blogspot.com/2010/11/bahan-kedokteran-gigi-modul-
bkg-301.html. 19 September 2014.
13. Mifta Fatia. Kerusakan pada Gigi Bercampur.
dentacrab.blogspot.com/2012/09/makalah-makalah-lagi.html. 19
September 2014.