Anda di halaman 1dari 2

LEMBATA, KOMPAS.

com - Menjalani profesi sanitarian (penyuluh sanitasi) di daerah bukan pekerjaan


mudah. Sanitarian perlu berhadapan dengan masyarakat yang masih awam soal pentingnya kesehatan.
Petugas penyuluhan sanitasi di daerah perlu bekerja ekstra untuk mengajak orang menjalani perilaku
hidup bersih sehat. Pasalnya, masyarakat pedesaan, termasuk di desa pesisir kepulauan Flores, belum
terbiasa menjalani pola hidup sehat mendasar dengan memiliki MCK.

Salah satu daerah pesisir ini adalah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Lembata terus
berbenah menggerakkan kesadaran masyarakat dan mengubah perilaku menjadi lebih sehat.
Pemerintah daerah setempat menargetkan 30 desa menjalani perilaku hidup bersih sehat melalui

program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), pada 2012 nanti.

LSM, pemerintah daerah, puskesmas, dan sanitarian sebagai fasilitator berkolaborasi untuk menjalani
program ini. Fasilitator datang ke desa membawa enam pesan STBM. Lima pesan yang diterapkan skala
nasional adalah mengajak masyarakat tidak buang air besar sembarangan (BABS), cuci tangan pakai
sabun (CTPS), mengelola limbah rumah tangga, mengelola air minum, dan mengelola limbah cair. Satu
lagi pilar dalam konteks lokal Lembata, pengasingan ternak dari rumah tempat tinggal.

?Emerensia Benidau Amd Kesling (28), perempuan kelahiran Lembata, memilih terlibat dalam program
ini sebagai sanitarian. Setelah menyelesaikan pendidikan D-3 Kesehatan Lingkungan di Yogyakarta,
perempuan yang akrab dipanggil Erni ini memutuskan kembali ke Lembata, kampung halamannya.

Erni bekerja di puskesmas Waipukang, ibukota kecamatan Ile Ape, kabupaten Lembata, NTT. Sejak 2006
lalu, ibu yang tengah hamil anak kedua ini resmi diangkat sebagai pegawai negeri sipil di Lembata,
sebagai sanitarian.

"Sejak lama saya ingin bekerja di bidang kesehatan. Apalagi di sini, banyak program yang dijalankan
namun tenaga tidak ada. Satu orang di puskesmas bisa mengerjakan dua atau tiga program. Mama yang
menjadi perawat di puskesmas di kecamatan lain, menjadi pemicu saya untuk bekerja di kesehatan,"
tutur Erni kepada Kompas Female, seusai peresmian desa total sanitasi di Watodiri, Ile Ape, Lembata,
NTT, Sabtu (16/4/2011) lalu.

Sebagai sanitarian, Erni bersentuhan langsung dengan masyarakat memberikan penyadaran perilaku
hidup sehat, melalui program STBM. Tidak mudah baginya mengubah perilaku masyarakat untuk hidup
lebih sehat. Butuh proses untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya kesehatan serta
mengidentifikasi persoalan di desa. "Masyarakat perlu diberitahukan pelan-pelan mengenai lima pilar
STBM, agar mereka memahami dan mau mengubah perilaku," jelasnya.

Bagi Erni, tantangan terbesar menjadi sanitarian di pedesaan adalah berhadapan dengan para orangtua.
Para generasi pendahulu ini sudah terbiasa hidup dengan pola tak sehat, seperti buang air besar
sembarangan. Saat sanitarian masuk desa untuk memberikan pemicuan dan penyuluhan untuk
perubahan perilaku, tak sedikit orangtua yang tersinggung.

"Orangtua merasa malu dan tersinggung. Rasa malu muncul karena soal WC saja mereka harus diatur
orang lain. Banyak warga yang memiliki rumah layak tetapi tidak punya jamban. Hal mendasar ini belum
disadari para orangtua, inilah yang membuat mereka malu dan tersinggung," jelas Erni, menambahkan
rasa malu inilah juga yang mendorong orangtua mengubah perilakunya agar lebih sehat lagi.

Mengambil hati orangtua menjadi tantangan bagi sanitarian desa seperti Erni. Meski begitu, sanitarian
selalu punya cara menyampaikan maksudnya. Alhasil, kini 133 rumah tangga di Watodiri dan 75 rumah
tangga di Lamaau, Ile Ape Timur, sudah bebas BABS. Dua desa inilah yang menjadi area kerja Erni. Warga
di dua desa total sanitasi ini membangun jamban atas kesadaran dan biaya sendiri. Perilaku masyarakat
mulai berubah lebih sehat berkat dorongan fasilitator, termasuk sanitarian.