Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem pengendalian manajemen tidak hanya menyangkut aspek manufaktur


saja. Sistem pengendalian manajemen juga berfungsi pada sektor jasa. Salah satu yang
melatar belakangi berdirinya perusahaan jasa dilihat dari pengertian perusahaan yaitu
suatu organisasi dimana sumber daya (input) dasar seperti bahan dan tenaga kerja
dikelola serta diproses untuk menghasilkan barang atau jasa (output) kepada
pelanggan. Jasa merupakan hal yang biasa kita dengar sehari-hari dalam berbagai
kegiatan yang dilakukan. Jasa juga dapat dikaitkan dengan sarana penunjang dari
produk yang dibeli agar tercipta kepuasan konsumen. Juga salah satu faktor berdirinya
perusahaan jasa adalah kebutuhan manusia yang tidak terbatas selain barang yang
berwujud manusia juga perlu pelayanan yang dapat memuaskan kebutuhan hidupnya.
Dalam proses pengendaliannya, sektor jasa mempunyai karakteristik yang relatif
berbeda dibanding sektor manufaktur. Sistem pengendalian manajemen yang akan
dibahas adalah dikhususkan pada organisasi jasa profesional (konsultan hukum,
pengacara, akuntansi dan profesi sejenis), rumah sakit, nirlaba (yayasan), pemerintah
dan organisasi dagang (agen, distributor, pengecer).
Selain membahas mengenai sistem pengendalian manajemen pada sektor jasa,
makalah ini juga membahas mengenai sistem pengendalian manajemen pada
perusahaan jasa keuangan. Perusahaan jasa keuangan merupakan perusahaan yang
bidang utamanya adalah mengelola uang. Pada dasarnya perusahaan ini bertindak
sebagai penengah yakni ia memperoleh uang dari para deposan atau penabung dan
meminjamkannya pada perorangan atau perusahaan. Tindakan lainnya adalah
pemindah resiko (risk shifters), yakni memperoleh uang dalam bentuk premi,
menginvestasikan premi tersebut dan menerima resiko terjadinya peristiwa tertentu
seperti kematian atau kerusakan. Tindakan lainnya adalah sebagai pedagang yakni
membeli dan menjual sekuritas baik untuk mereka sendiri ataupun nasabahnya.
Melihat bidang usaha yang dijalankan, maka perusahaan jasa keuangan mempunyai
beberapa masalh terhadap pengendalian manajemennya yang berbeda dari perusahaan
jasa lainnya.

1
Sistem Pengendalian Manajemen
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dapat
dirumuskan masalahnya sebagai berikut :
1. Bagaimanakah karakteristik dan sistem pengendalian organisasi jasa professional?
2. Bagaimanakah ciri khusus dan karakteristik organisasi non profit?
3. Bagaimanakah karakteristik perusahaan jasa keuangan secara umum?
4. Bagaimanakah karakteristik umum dan implikasi pengendalian manajemen bank
komersial?
5. Bagaimanakah karakteristik umum pada perusahaan sekuritas?
6. Apa yang dimaksud perusahaan asuransi?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk:
1. Memahami karakteristik dan pengendalian dan sistem pengendalian organisasi jasa
professional;
2. Memahami ciri khusus dan system pengendalian manajemen organisasi non profit;
3. Untuk memahami karakteristik pada perusahaan jasa keuangan secara umum;
4. Untuk memahami karakteristik dan implikasi pengendalian manajemen bank
komersial;
5. Untuk mengetahui karakteristik umum pada perusahaan sekuritas; dan
6. Untuk mengetahui tentang perusahaan asuransi.

BAB II
2
Sistem Pengendalian Manajemen
PEMBAHASAN

2.1 Organisasi Profesional


Organisasi penelitian dan pengembangan, kantor pengacara, kantor akuntan,
organisasi kesehatan, perusahaan teknik, perusahaan, arsitektur, kantor konsultan,
organisasi simfoni dan organisasi kesenian lainnya, serta organisasi olahraga adalah
contoh organisasi yang produknya adalah jasa profesional.
 Karakterístik Khusus
1. Sasaran
Organisasi profesional memiliki relatif sedikit aktiva yang berwujud;
aktiva utamanya adalah keterampilan dan staf profesionalnya, yang
tidak muncul di neraca perusahaan. Tingkat pengembalian atas aktiva ýang
digunakan pada hakikatnya tidak berarti dalam organisasi. Sasaran
keuangan untuk memberikan kompensasi yang memadai kepada para
profesional. Sasaran terkait adalah meningkatkan ukuran organisasi. Hal ini
mencerminkan tendensi alamiah untuk mengaitkan keberhasilan dengan
ukuran yang besar; skala ekonomi dalam menggunakan usaha dan staf
karyawan dan unit sentral yang bertanggung jawab untuk menjaga agar
organisasi tetap terkini.

2. Profesional
Organisasi profesional adalah organisasi yang padat karya, dan
karyawannya adalah orang-orang yang khusus. Banyak profesional lebih
menyukai bekerja secara independen daripada sebagai bagian dan suatu
tim. Profesional yang juga adalah manajer cenderung bekerja hanya
paruh waktu dalam aktivitas manajemen. Pendidikan bagi kebanyakan
profesi tidak mencakup pendidikan dalam manajemen tetapi pada
umumnya menekankan kepada keterampilan profesi di banding kepada
keterampilan manajemen. Profesional cendrung meremehkan implikasi
keuangan dari keputusan mereka; mereka ingin untuk melakukan pekerjaan
terbaik yang dapat mereka lakukan, tanpa memperdulikan biayanya. Sikap
ini mempengaruhi sikap dari staf pendukung dan karyawan nonprofesional
dalam organiasi tersebut; hal ini mengarah pada pengendalian biaya yang
tidak memadai.

3. Pengukuran Input dan Output


Output dari organisasi profesional tidak dapat diukur dengan ukuran
fisik, seperti unit, ton, atau galon. Seseorang dapat mengukur jumlah
pasien yang dilayani oleh seorang dokter dalam satu hari, dan bahkan dapat
mengklasifikasikan pasien-pasien tersebut berdasarkan jenis keluhannya;
tetapi tidak dapat disamakan dengan jumlah atau kualitas layanan yang
diberikan oleh dokter tersebut. Yang terbaik yang dapat diukur adalah

3
Sistem Pengendalian Manajemen
efisiensi dokter tersebut dalam menangani pasiennya, yang dapat
digunakan untuk mengidentifikasikan pekerja yang santai dan pekerja
keras. Pendapatan yang diperoleh adalah salah satu ukuran output di
beberapa organisasi profesional, tetapi angka moneter ini, paling-paling
hanya berkaitan dengan kuantitas jasa yang diberikan, namun bukan
kualitasnya (meskipun kualitas yang buruk tercermin dalam pendapatan
yang berkurang dalam jangka panjang).

4. Ukuran Kecil
Dengan beberapa perkecualian, seperti beberapa kantor pengacara
dan kantor akuntan, organisasi profesional biasanya relatif kecil dan
beroperasi di satu lokasi saja. Manajemen senior dalam organisasi semacam
itu dapat secara pribadi mengamati apa yang sedang berlangsung dan
secara langsung memotivasi karyawannya. Dengan demikian, terdapat
lebih sedikit kebutuhan akan sistem pengendalian manajemen yang
canggih, dengan pusat laba dan laporan kinerja formal. Meskipun
demikian, organisasi yang kecilpun tetap membutuhkan anggaran,
perbandingan umum antara kinerja terhadap anggaran, dan suatu cara untuk
mengaitkan kompensasi dengan kinerja.

5. Pemasaran
Dalam suatu perusahaan manufaktur terdapat garis pemisah yang
jelas antara aktivitas pemasaran dengan aktivitas produksi; hanya
manajemen senior yang menaruh perhatian pada keduanya. Pemisahan
yang jelas semacam itu tidak terdapat dalam organisasi proesional. Di
beberapa organisasi profesional, kode etik profesi membatasi jumlah dan
karakter dan usaha pemasaran yang terlalu kentara oleh para profesional.
Tetapi, pemasaran adalah aktivitas yang penting di hampir semua
organisasi. Dalam situasi seperti ini, sangatlah sulit untuk memberikan
penghargaan yang sesuai kepada orang yang bertanggung jawab untuk
“menjual” ke pelanggan baru.

 Sistem Pengendalian Manajemen


1. Penentuan Harga
Harga jual dari pekerjaan yang dilakukan pada organisasi profesi
biasanya ditetapkan secara tradisional. Tarif biasanya didasrkan pada jam
kerja untuk kompensasi dengan tingkat profesionalnya, ditambah biaya
overhead dan laba. Biasanya juga dibebankan biaya tetapnya.

2. Pusat laba dan harga transfer


Organisasi nirlaba biasanya menggunakan pusat laba. Unit pendukung,
seperti pemeliharaan, proses informasi,transformasi, telekomunikasi,

4
Sistem Pengendalian Manajemen
percetakan dan sejumlah material dan jasa, membebankan uang yang
dikonsumsinya pada jasa yang diberikannya.

3. Perencanaan strategi dan penganggaran


Pada umumnya, sistem perencanaan strategi dibuat tidak sebaik pada
perusahaan manufaktur. Pada organisasi profesi, asset utamanya adalah
orang, dan walaupun terjadi fluktuasi jangka pendek pegawainya,
perubahan ukuran dan kompensasiuntuk stafnya lebih mudah dibuat dan
direvisi dimana perlu.

4. Pengawasan operasi
Perhatian yang besar hendaknya diberikan pada penjadwalanwaktu dan
professional tersebut. The billed time ratio adalah rasio jumlah jam yang
dipakai terhadap total jam kerja yang tersedia dari professional tersebut,
diawasi dengan cermat. Ketidakmampuan untuk menciptakan standar kerja
dan ukuran prestasinya, akan membawa dampak terhadap perencanaan dan
pengendalian tugas sehari-hari.

5. Ukuran prestasi dan penghargaan


Kinerja professional cukup mudah dinilai. Namun ada juga kinerja
professional yang cukup sulit dunilai. Untuk beberapa kondisi, ukuran
prestasi biasanya tersedia.

2.2 Organisasi Nonprofit


Suatu organisasi disebut organisasi nonprofit apabila ia pertama-tama
menyebut dirinya nonprofit, yaitu tidak menjadikan keuntungan sebagai tujuan
utamanya saat didirikan. Kemudian menyatakan dalam statutanya bahwa bila ada
keuntungan yang diperoleh dari suatu transaksi atau aktivitas, tidak akan dibagikan
kepada pengurus sebagai tambahan penghasilan di luar gaji. Dengan kata lain, tidak
dipandang sebagai dividen yang harus diperoleh setiap pemegang saham. Disamping
itu, kehadirannya diakui oleh peraturan perundang-undangan.
 Ciri-ciri khusus :
1. Tidak ada ukuran dana
Tujuan utama dari kebanyakan usaha adalah memperoleh laba yang
memuaskan bagi pemiliknya. Laba dalam hal ini merupakan ukuran prestasi
terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan dan ukuran seperti ini tidak
kita jumpai pada organisasi nirlaba. Ketiadaan ukuran kuantitas dalam
penghargaan kinerja manajemen merupakan masalah yang serius bagi
penerapan pengendalian manajemen pada organisasi nirlaba. Laporan
keuangan merupakan laporan yang sangat bermanfaat pada organisasi
nirlaba, sama seperti pada dunia usaha. Walaupun kinerja keuangan tidak
merupakantujuan dominan pada orgaisasi nirlaba, tapi tujuan seperti ini
tetap perlu karena tanpa pendapatan yang sedikit melebihi biaya sulit bagi
suatu organisasi nirlaba untuk bertahan hidup.

5
Sistem Pengendalian Manajemen
2. Kontribusi modal
Hanya sedikit perbedaan utama pada pencatatan transaksi akuntansi
pada unit usaha dan organisasi nirlaba, yakni yang berkaitan dengan modal
pada neraca. Sedangkan persamaannya adalah baik organisasi laba maupun
nirlaba menyatakan peningkatan modal jika terjadi peningkatan pendapatan
labanya. Ada dua kategori kontribusi modal yaitu dalam bentuk bangunan
dan sumbangan. Penerimaan kontribusi aktiva modal tidak merupakan
pendapatan. Organisasi nirlaba mempunyai dua bentuk laporan keuangan,
bentuk pertama berkaitan dengan kegiatan operasional dan termasuk
didalamnya adalah laporan operasional, neraca, dan laporan cash flow,
semuanya sama seperti yang ditemui di dunia usaha umumnya. Bentuk
kedua berkaitan dengan kontribusi modal, dan laporan ini berisikan laporan
kontribusi modal inflow dan outflow selama satu periode dan neraca yang
melaporkan kontribusi aktiva modal dan yang berkaitan dengan hutang dan
modal.

3. Akuntansi dana
Banyak organisasi nirlaba menggunakan pencatatan system
akuntansinya dengan cara akuntansi dana. Rekening disimpan terpisah
untuk beberapa dana yang masing-masing seimbang dengan sendirinya.

4. Aturan
Organisasi nirlaba biasanya diatur dan diawasi oleh dewan
penyantun(trustee). Biasanya dewan ini tidak mampu mengidentifikasi
masalah sebenarnya. Untuk itulah diperlukan dewan yang mengatur secara
kuat dan bekerja secara efektif.

 Karakteristik
Anthony dan Young (Gies, et al.,1990) merumuskan beberapa
karakteristik organisasi nonprofit, yaitu:
(1) Tidak bermotif mencari keuntungan
(2) Adanya pertimbangan khusus dalam pembebanan pajak
(3) Ada kecenderungan berorientasi semata-mat apada pelayanan
(4) Banyak menghadapi kendala yang besar pada tujuan dan strategi
(5) Kurang banyak menggantungkan diri pada kliennya untuk mendapatkan
bantuan keuangan
(6) Dominasi professional
(7) Pengaruh politik biasanya memainkan peranan yang sangat penting.
Ditambahkan oleh Koteen bahwa salah satu karakteristik utamanya
ialah less responsive bureaucracy (birokrasi yang kurang responsive).
Profesionalisme dalam organisasi nonprofit lebiih banyak tampak dalam
organisasi keagamaan.

6
Sistem Pengendalian Manajemen
 Hak Istimewa
a. pembebasan dari pajak dan berhak meminta sumbangan, donasi hadiah
dan yang serupa.
b. Tidak dituntut undang-undang untuk memberikan pesangon sesuai aturan
kepada karyawan yang di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

 Sistem Pengendalian Manajemen


(1) Penentuan harga pokok
Kebanyakan organisasi nirlaba tidak memperhatikan dengan serius
tentang kebijakan harga. Harga atas jasa biasanya ditetapkan dengan
system biaya penuh (full cost system). Prinsip ini diterapkan pada jasa-
jasa yang berkaitan dengan tujuan organisasi. Pada umunya pengendalian
manajeman ditetapkan apabila harganya telah ditetapkan terlebih dahulu
sebelum ditetapkannya kinerja atas jasa yang diberikan.

(2) Penyusunan anggaran dan perencanaan strategi


Pada organisasi nirlaba yang harus memutuskan alokasi sumber daya
yang terbatas secara bijaksana, perencanaan strategi lebih penting dan
lebih banyak memakan waktu dari pada jenis usahanya itu sendiri. Alat
pengendalian manajemen yang paling penting dalam organisasi seperti
ini adalah berkaitan dengan aktivitas keuangan organisasi yakni
anggaran (baik itu pendapatan maupun pengeluaran).

(3) Operasi dan evaluasi


Pada kebanyakan organisasi nirlaba, tidak ada cara untuk mengetahui
biaya operasional yang optimum. Banyak organisasi mengalami
kesulitan untuk memperoleh dana terutama dari sumber pemerintah. Hal
ini membawa konsekuensi makin diperlukannya

2.3 Organisasi Jasa Keuangan


Organisasi jasa keuangan meliputi bank komersial dan institusi penghematan,
perusahaan sekuritas dan perusahaan asuransi. Perusahaan-perusahaan ini berada
dalam bisnis yang terutama bertujuan untuk mengelola uang. Beberapa dari
perusahaan tersebut bertindak sebagai perantara, yang lain bertindak sebagai pemidah
risiko dan yang lainnya adalah pedagang.
 Karakteristik Umum:
1. Aset Moneter
Kebanyakan asset perusahaan jasa keuangan adalah moneter. Nilai
asset moneter saat ini lebih mudah diukur dari pada aset fisik lainnya,
seperti gedung dan peralatan serta hak patent dan aktiva tak berwujud
lainnya. Mata uang merupakan contoh ekstrem komoditi fungible. Setiap
saat pada suatu waktu rupiah yang dimiliki oleh seluruh perusahaan
mempunyai nilai yang sama dengan nilai nominalnya atau daya belinya.

7
Sistem Pengendalian Manajemen
Daya beli rupiah berubah menurut waktu, tetapi pada masa depan, semua
rupiah mempunyai nilai yang seimbang. Hal ini berarti rupiah yang
dipunyai setiap orang mempunyai kualitas yang sama pada saat diberikan.
Aset keuangan juga bisa ditransfer dari satu pemilik ke pemilik lain dengan
cepat dan mudah.

2. Jangka Waktu Untuk Transaksi


Kesuksesan atau kegagalan pengeluaran obligasi, pinjaman hipotik
pada seseorang atau kebijakan asuransi jiwa mungkin tidak diketahui
selama 30 tahun atau lebih. Selama periode ini, ketepatan dari pinjaman
ataupun kebijakannya mungkin berubah, daya beli uang tersebut tentu saja
berubah. Ini berarti kinerja akhir meliputi otorisasi dan penyusutan
pinjaman, atau penjualan dan penetuan harga kebijakan asuransi, tidak bisa
diukur pada saat keputusan awal dibuat. Hal ini berarti pengawasan
membutuhkan suatu alat yang mensurvei keabsahan secara berkala
transaksi selama periode tertentu, termasuk pemeriksaa berkala semua
pinjaman yang beredar.

3. Risiko dan penghargaan


Banyak perusahaan jasa keuangan dalam bisnis menerima risiko
dalam bentuk penghargaan, kebanyakan keputusan usaha melibatkan
keseimbangan risiko dan penghargaan. Makin besar risiko, makin besar
penghargaan yang diterima. Pada perusahaan jasa keuangan, keseimbangan
ini nampak jelas pada investasi usaha, seperti melibatkan pembelian mesin
atau pengenalan produk baru. Tarif bunga atas pinjaman dan premi pada
polis asuransi didasari asumsi risiko yang akan terjadi.

4. Regulasi
Perusahaan jasa keuangan diatur secara ketat. Bank dan pedagang
sekuritas diatur oleh undang-undang dan peraturan lainnya. Walaupun
regulasi ini diperlukan, beberapa aturan ini melarang praktik usaha tertentu
dan aturan akuntansi khusus lainnya berbeda dari akuntansi yang berlaku
umum (GAAP). Untuk keputusan tertentu, pengaruh baik akuntansi GAAP
maupun akuntansi pada regulasi tersebut harus dipertimbangkan.

A. Bank Komersial dan Lembaga pembiayaan


 Karakteristik Umum
1. Modal Yang Diatur
Kemampuan suatu bank untuk meminjamkan atau
menginvestasikan uang diatur oleh pemerintah dimana modal
setidaknya harus seimbang dengan persentase tertentu dari asetnya.

8
Sistem Pengendalian Manajemen
2. Produk Baru
Hingga saat ini kegiatan bank komersial umumnya berkaitan
dengan kegiatan menyimpan dan meminjamkan uang, dengan jumlah
pendapatan yang relative kecil dihasilkan dari fee yang dibebankan
untuk mengelola dana trust dan pengamanan asset konsumen. Bank
melengkapi beberapa jasa untuk nasabahnya tanpa beban atau dengan
beban tidak langsung yang dihasilkan dari perolehan perusahaan dalam
menjaga keseimbangan minimum tertentu.

3. Risiko
Bank dihadapkan dengan 3 bentuk risiko:
a. Risiko kredit, yakni risiko dimana suatu pinjaman tidak bisa
kembali.
b. Risiko tingkat bunga, yakni selisijh antara bunga yang dibayarkan
pada deposito dan tarif yang diperoleh atas pinjaman dan investasi,
akan berubah dengan cara yang tak tampak.
c. Risiko transaksi, yakni risiko kesalahan dalam proses transaksi.

4. Otomasi
Di semua bank fungsi penabungan dan penarikan biasanya
otomatis.untuk jumlah transaksi yang besar dilakukan melalui
Automatic Teller Machine (ATM). Banyak keputusan peminjaman
juga terotomatisasi. Bahkan fungsi-funsi seperti ini terotomatisasi
dimanapara ahli percaya bahwa dalam waktu dekat hanya fungsi
karyawan pada kantor cabang yang masih melayani kepuasan
pelanggan.

 Implikasi Pengendalian Manajemen


Jika cabang-cabang diperlakukan sebagai pusat laba masalah-masalah
berikut perlu diperhatikan :
1. Hubungan tarif dan jangka waktu deposito terhadap tarif dan jangka
waktu pinjaman
2. Volume deposit
3. Kerugian pinjaman
4. Biaya
5. Pendapatan bersama
6. Harga transfer

B. Perusahaan Sekuritas
Perusahaan sekuritas merupakan perusahaan yang mengkhususkan diri
dalam perdagangan surat-surat berharga yang tercatat di bursa efek.
Kegiatannya meliputi: sebagai pedagang efek; penjamin emisi; perantara
perdagangan efek; dan pengelola dana.

9
Sistem Pengendalian Manajemen
 Karakteristik
1) Kepentingan hubungan pelanggan
Produk dari perusahaan sekuritas adalah tidak tampak, dan
mutunya sulit diukur. Isi kualitas prinsipnya adalah kemampuan
professional perusahaan. Sikap langganan terhadap perusahaan
terutama dipengaruhi oleh penilaian mereka tentang professional yang
biasa berhubungan dengan mereka.
2) Stars dan kerjasama tim
Pelaku bintang struktur organisasi perusahaan sekuritas relative
mempunyai tingkatan yang sedikit, dan hubungan antara atasan dan
bawahan lebih bersifat informal dan tidak terstruktur. Bintang-bintang
yang berdagang sekuritas biasanya dibantu professional lain, yang
beberapa diantaranya merupakan bintang juga. Untuk suatu tugas yang
penting, professional terdepan mungkin mengadopsi suatu tim yang
bekerja pada suatu proyek, terkadang full time tapi lebih sering paruh
waktu.
3) Kebutuhan akan aliran informasi yang cepat
Banyak sekuritas dan komoditi yang didaftarkan pada bursa-
bursa dunia yang masing-masing wilayah mempunyai zona waktu yang
berbeda. Oleh karenanya perusahaan sekuritas menjalankan usaha
perdagangan 24 jam per hari. Setiap trader mempunyai sebuah buku
yang menunjukkan posisi perubahan pada masing-masing sekuritas
dimana ia bertanggung jawab. Setiap trader juga mempunyai layer
computer yang menunjukkan informasi tentang perkembangan seluruh
dunia yang mungkin saja mempengaruhi harga. Pengembangan dan
pemeliharaan system informasi pada perusahaan sekuritas merupakan
fungsi yang sangat penting.
4) Fokus pada kinerja jangka pendek
Perusahaan sekuritas cenderung memfokuskan pada kinerja
jangka pendek, dan jangka pendek yang mereka maksudkan adalah
kuartalan. Bukti merupakan kelas investor terbesar dan mereka
mempunyai sedikit keuntungan pada kelas berjalan, karena tujuan
mereka adalah menyediakan dana untuk pembayaran yang harus
dilakukan sepanjang waktu para pensiunan. Focus jangka pendek ada
karena tidak seorang pun tau apa yang akan terjadi dimasa depan dan
terutama karena bukti jangka pendek ini telah menjadi tradisi.
5) Pengukuran Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan perusahaan sekuritas dan manajer atau
professional lainnya terutama diukur atas dasar pendapatan dan kedua
berdasarkan laba kotor. Sedikit upaya yang diperlukan untuk
mengukur laba bersih dari berbagai aktivitas atau perseorangan.

10
Sistem Pengendalian Manajemen
C. Perusahaan Asuransi
Asuransi adalah bisnis teknis yang melibatkan ahli statistik, analis
keuangan, insinyur, ekonom, ahli hukum, dan lain-lain. Secara ekonomis,
asuransi memberikan sumbangan kepada masyarakat dengan tujuan mencegah
kerugian dalam kegiatan-kegiatan. Apabila tertanggung menderita kerugian
yang dijamin oleh polis, risiko yang dihadapinya diambil alih. Polis asuransi
dibuat oleh organisasi bisnis yang disebut perusahaan asuransi.
Ada dua bentuk perusahaan asuransi yaitu asuransi jiwa dan asuransi
kecelakaan. Perusahaan asuransi jiwa mengumpulkan premi dari pemegang
polis, menginvestasikan premi ini, dan membayarkan sejumlah tertentu
apabila pemegang polis meninggal. Seluruh kontrak asuransi jiwa biasanya
memasukkan suatu tampilan investasi yakni bagian dari premi yang membawa
pengembangan dari nilai kas polis tersebut. Perusahaan asuransi kecelakaan
mengumpulkan premi, menginvestasikan, dan membayarkan kepada
pemegang polis sejumlah kerugian tertentu.
Masalah pengendalian manajemen dalam perusahaan asuransi
khususnya asuransi jiwa adalah mereka tidak mengetahui laba dari penjualan
polis saat ini sampai beberapa tahun berikutnya. Mereka membuat premi
didasarkan estimasi terbaik dari aluran masuk dan keluaran dari polis tersebut.
Walaupun laba tidak segera diketahui, manajemen tidak bias menunggu
terlalu lama untuk menghasilkan keputusan pengendalian sehingga diperlukan
informasi saat ini.
Aktuaris menghitung suatu premi tentatif, dan premi akhir
menunjukkan penilaian orang pemasaran tentang bagusnya polis tersebut dan
premi yang dibebankan oleh pesaing. Perhitungan aktuaris
mempertimbangkan faktor-faktor berikut :
1. Biaya akuisisi
2. Biaya pemberian jasa
3. Laba
4. Kemungkinan kehilangan
5. Pendapatan investasi
6. Kemungkinan pembayaran
7. Pajak penghasilan
8. Tingkat laba yang diinginkan
Pengukuran kinerja penjualan lebih difokuskan pada volume penjualan
dan tidak hanya sekedar tingkat laba. Komisi didasarkan atas premi tahun
pertama atau awal tahun, atau atas jumlah polis yang tertulis.

11
Sistem Pengendalian Manajemen
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pengendalian manajemen pada organisasi jasa berbeda bila dibandingkan
dengan organisasi manufaktur. Hal ini disebabkan ketiadaan persediaan penyangga
pada organisasi jasa, kesulitan mengukur kualitas, dan pada umumnya perusahaan
jasa cenderung merupakan padat karya. System pengendalian manajemen pada
organisasi jasa umumnya sama dengan system pengendalian manajemen pada
organisasi dagang.
Organisasi jasa keuangan berbeda dalam dua hal dibandingkan perusahaan
lainnya. Pertama, bahan bakunya adalah uang. Kedua, tingkat laba dari banyak
transaksi tidak bisa diukur hingga bertahun-tahun setelah komitmen yang dilakukan.
Yang utama, perusahaan akan mendapat laba jika pendapatan masa depan diperoleh
dari pinjaman saat ini, investasi, dan premin asuransi yang melebihi biaya dana yang
berkaitan dengan pendapatan ini. Masalah pengendalian manajemen lebih kompleks
dalam investasi perbankan, perdagangan sekuritas, dan beberapa organisasi lainnya
karena fakta bahwa laba ataupun rugi bisa dihasilkan dari satu transaksi tunggal.

3.2 Saran
Dalam sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang apapun dan dalam
cakupan manapun hendaknya organisasi tersebut menjalankan organisasinya secara
terorganisir, sebab setiap organisasi pasti mempunyai tujuan, tidak hanya untuk
memperoleh keuntungan juga diharapkan organisasi tersebut dapat bertahan lama
dimasa yang akan datang. Agar supaya dalam mencapai tujuan yang diinginkan dapat
tercapai, dalam hal ini sistem pengendalian manajemen sangat dibutuhkan karena
sistem pengendalian manajemen ini mampu menuntun dan memberikan arah yang
jelas pada sebuah organisasi untuk mencapai tujuan organisasi tersebut.

12
Sistem Pengendalian Manajemen
DAFTAR PUSTAKA

Sistem Pengendalian Manajemen (Management Control Systems, 11th)/Robert N. Anthony,


Vijay. Govindarajan: Jakarta, Salemba Empat, 2005.

Kasmir, Dr. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya edisi revisi 2014. Jakarta: Rajawali Pers,
2016

Simorangkir, Drs. O. P. Pengantar Lembaga Keuangan Bank dan Nonbank. Bogor Selatan:
Ghalia Indonesia, 2004

Salusu, Prof. Dr. J. M.A. Pengambilan Keputusan Stratejik untuk Organisasi Publik dan
Organisasi Nonprofit. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 1996

http://myteamorganisasijasadanmultinasiona.blogspot.co.id/2016/12/organisasi-jasa-dan-
multinasional

http://sistem-pengendalian-manajemen.blogspot.co.id/2011/10/pengendalian-manajemen-
pada-organisasi

13
Sistem Pengendalian Manajemen