Anda di halaman 1dari 17

Pragmatik

Makalah Ini Diajukan untuk Memenuhi salah satu Tugas Mata Kuliah Linguistik
(Akan dipresentasikan pada hari Rabu,10 Desember 2019)

DISUSUN OLEH:
Muhammad Topan Arifani
Riswandi
Wenny Satrya Maulana

Dosen Pembimbing:
Ilham Tumanggor, M.Si.

Prodi Pendidikan Bahasa Arab


Semester III B

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AS-SUNNAH


DELI SERDANG SUMATRA UTARA
T.A. 2019/2020
DAFTAR ISI

PENDAHULUAN............................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 1
1.3 Tujuan................................................................................................... 1
PEMBAHASAN............................................................................................... 2
A. Pengertian Pragmatik............................................................................ 2
B. Pengertian Pragmatik Menurut Para Ahli............................................. 2
C. Ruang Lingkup Kajian Pragmatik........................................................ 6
D. Hubungan Pragmatik dan Semantik..................................................... 11
PENUTUP........................................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 15

i
BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar belakang

Salah satu cabang dari linguistik yang mempelajari tentang ujaran dari
sang penutur adalah pragmatik. Seorang ahli bahasa Leech mengemukakan bahwa
pragmatik adalah studi mengenai makna ujaran di dalam situasi-situasi tertentu
atau dalam konteks tertentu. Atau dengan kata lain pragmatik adalah ilmu cabang
lnguistik yang mengkaji hubungan timbal balik antara fungsi dan bentuk tuturan.
Dan dalam pragmatik inilah terdapat prinsip-prinsip tentang bagaimana seorang
manusia bertutur dalam situasi tertentu. Salah satu dari prinsip tersebut adalah
prinsip kesantunan atau kesopanan. Dengan mengetahui prinsip-prinsip
kesantunan kita sebagai penutur bisa menerapkan atau mengimplementasikanany
dalam situasi atau konteks tertentu dalam membuat tuturan.

1.2     Rumusan Masalah

1) Apa saja jenis-jenis dalam pragmatik itu?


2) Apa saja komponen-komponen yang terdapat pada pragmatik?
3) Apa saja prinsip-prinsip kesantunan itu?
4) Bagaimana kita menilai seseorang bertutur santun atau tidak?
5) Apa saja skala-skala kesantunan itu?

1.3    Tujuan

1) Menjelaskan prinsip-prinsip kesantunan dalam pragmatik.


2) Menjelaskan komponen-komponen yang ada dalam prinsip-
prinsipkesantunan dalam pragmatik.
3) Menilai atau mengukur santun tidaknya penutur dalam menyampaikan
tuturannya pada mitra tutur.
4) Mengetahui skala kesantunan penutur.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pragmatik
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terdapat kata-kata pragmatic,
pragmatika, pragmatis, dan pragmatisme1. Kata pragmatik dimaknai (i)
berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian
bahasa dalam komunikasi, (ii) berkenaan dengan negara, pemerintahan.
Tampaknya makna pertamalah yang lebih cocok berkaitan dengan pembahasan
pada bab ini. Sedangkan kata pragmatika bermakna (i) cabang semiotika tentang
asal-usul, pemakaian, dan akibat lambang dan tanda (ii) ilmu tentang pertuturan,
konteksnya, dan maknanya.
Selanjutnya kata pragmatis diberi makna (i) bersifat praktis dan berguna
bagi umum, bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan
(kemanfaatan); mengenai atau bersangkutan dengan nilai-nilai praktis, (ii)
mengenai atau bersangkutan dengan pragmatisme. Sedangkan kata pragmatisme
diberi makna (i) kepercayaaan bahwa kebenaran atau nilai-nilai ajaran (paham,
doktrin, gagasan, pernyataan, ucapan dan sebagainya) bergantung pada
penerapannya bagi kepentingan manusia, (ii) paham yang menyatakan bahwa
segala sesuatu tidak tetap, melainkaan tumbuh dan berubah terus, (iii) pandangan
yang memberi penjelasan yang berguna tentang suatu permasalahan dengan
melihat sebab akibat berdasarkan kenyataan untuk tujuan praktis

B. Pengertian Pragmatik Menurut Para Ahli


Istilah pragmatik yang digunakan dalam kaitannya dengan pengajaran
bahasa sebenarnya berasal dari
1. Charles Morris (1946) yang membagi pengkajian bahasa menjadi tiga,
yaitu:
a. Sintaksis, yaitu kajian tentang hubungan antara unsur-unsur bahasa.
b. Semantik, yaitu kajian tentang hubungan unsur-unsur bahasa dengan
maknanya.

1
Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembang Bahasa, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka , 1999), h. 784.

2
c. Pragmatik, yaitu kajian hubungan unsur-unsur bahasa dengan
pemakai bahasa.2
Untuk lebih mendekatkan pada pemahaman, di sini, dikemukakan lima
definisi pragmatik yang dikemukakan oleh Levinson (1983).3
Definisi pertama berbunyi: “Pragmatics is the study of those relations between
language and context that are grammaticalized or encoded in the structure of a
language.” (Pragmatik adalah studi tentang hubungan-hubungan antar bahasa
dengan konteks yang ditatabahasakan, atau dituangkan dalam struktur bahasa).
Definisi ini membatasi bidang pragmatik pada pengkajian aspek-aspek
struktur dan bentuk bahasa yang dapat dikaitkan dengan konteks penggunaan
bahasa.
Definisi ini membuat pragmatik lebih relevan pada pengajaran bahasa
yang bertujuan membuat pelajar mampu mengerti dan menghasilkan bentuk
bahasa yang sesuai dengan konteks penggunaannya. Dengan perkataan lain,
pengetahuan tentang pragmatik ini akan membuat pelajar mampu menyelaraskan
bentuk bahasa, baik produktif (dalam hal ini berbicara dan menulis) maupun
reseptif (yakni menyimak dan membaca) dengan faktor-faktor yang terdapat
dalam penggunaan bahasa4
Definisi kedua berbunyi sebagai berikut: “pragmatics is the study of the
ability of language users to pair sentences with the context in wich they would be
appropriate.” (pragmatik adalah studi tentang kemampuan pemakai bahasa untuk
menyesuaikan kalimat-kalimat yang digunakan dengan konteksnya).
Definisi ini menunjukkan bahwa untuk memahami makna yang
dimaksudkan oleh pembicara atau penulis, tidak cukup hanya memahami makna
literal kata atau kalimat yang digunakan, tetapi kita dituntut untuk mengambil
kesimpulan tentang apa yang dikatakan atau ditulis berdasarkan pemakaian,
konteks yang ada, dan pengetahuan kita tentang apa yang dikatakan dan ditulis

2
2 PWJ Nababan, Ilmu Pragmatik: Teori dan Penerapannya (untuk selanjutnya disebut
Ilmu Pragmatik), (Jakarta: Dep. P dan K, 1987), h. 1.
3
Mansoer Pateda, Linguistik Terapan, (Flores: Nusa Indah, 1991), h. 177-180.
4
PWJ Nababan, Pengajaran Bahasa dan Pendekatan Pragmatik (untuk selanjutnya
disebut Pengajaran Bahasa), dalam Bambang Kaswanti Purwo (Ed), Bulir-bulir Sastra dan
Bahasa: Pembaharuan Pengajaran, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991), h. 76.

3
lebih lanjut, definisi ini menggambarkan bahwa pragmatik mengkaji suatu
keterampilan pemakai bahasa; yaitu keterampilan menghubungkan suatu bentuk
bahasa (kalimat) dengan konteks penggunaannya.
Definisi ketiga berbunyi: Pragmatics is the study of all those aspects of
meaning not captured in a semantic theory. (Pragmatik adalah studi tentang semua
aspek makna yang tidak dimasukkan dalam semantik).
Kalau semantik dianggap bidang yang khususnya menyelidiki kebenaran
logis (true value), maka pragmatik menyelidiki semantik dikurangi nilai
kebenaran. Misalnya di dalam kalimat, “paman seorang laki-laki”, kita dapat
menentukan nilai kebenaran kalimat ini kalau kita tahu bahwa makna kata paman
termasuk makna laki-laki. Tapi kalau kita berkata “paman kaya”, nilai kebenaran
kalimat ini hanya dapat ditentukan kalau kita mengetahui dengan sesungguhnya
bahwa paman memang benar-benarkaya. Kalau kenyataannya cocok, maka
kalimat itu benar. Ini hanya dapat ditentukan kalau kita menggunakan pragmatik
konteks.
Definisi keempat berbunyi: “Pragmatics is the study of deixis (at least in
part), implicature, presupposition, speech acts, and aspects of discourse structure.”
(Pragmatik adalah studi tentang deiksis, implikatur, praanggapan, ujaran, dan
aspek-aspek struktur wacana).
Sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila referennya berpindah-
pindah atau berganti-ganti tergantung pada siapa yang menjadi pembicara dan
tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu. Misalnya dalam
pemakaian yang metaforis, kata anjing berpindah referennya kalau kita berkata
sambil marah. Kalimat “kau anjing” memperlihatkan bahwa “kau” bukanlah
anjing, tetapi referen anjing kita pindahkan pada leksem “kau” karena kita sedang
marah. Implikatur adalah ungkapan yang tidak diungkapkan sebagai mana
mestinya. Hal itu karena pendengar sudah dianggap mengerti dan juga karena
antara pembicara dan pendengar biasa terjadi kerja sama.
Praanggapan (presupposition) adalah syarat yang diperlukan bagi benar tidaknya

4
suatu kalimat; misalnya kalimat “ia berdagang” adalah praanggapan bagi
kebenaran kalimat “barang dagangannya sangat laku.5
Menurut teori pertuturan (speech acts) suatu ucapan hanya mempunyai
makna kalau kita dapat menentukan nilai kebenarannya, bahwa makna suatu
ucapan atau kalimat tergantung pada pemakaiannya. Konsep terakhir pada
definisi pragmatik keempat ini adalah struktur wacana yang mencakup soal
pergantian pembicara, penggunaan kalimat yang tidak lengkap, dan kata penyela.
Definisi kelima berbunyi: “Pragmatics is the study of the relations between
language and context that are basic to an account of language understanding.”
(Pragmatik adalah studi tentang kaitan antara bahasa dengan konteksnya yang
merupakan dasar penentuan pemahaman).
Dalam definisi ini tersirat bahwa untuk memahami makna yang dimaksud
oleh pembicara atau penulis, kita harus menarik kesimpulan berdasarkan
pemakaian, konteks yang ada, dan pengetahuan kita tentang apa yang
dibicarakan oleh pembicara atau penulis. Berdasarkan batasan-batasan yang
dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa telaah pragmatik akan
memperhatikan faktor-faktor yang mewadahi pemakaian bahasa dalam
kehidupan sehari-hari. Sehubungan dengan ini berarti pemakai bahasa tidak
hanya dituntut menguasai kaidah-kaidah gramatikal tetapi juga harus menguasai
kaidah-kaidah sosio-kultural dan konteks pemakaian bahasa.
Sedangkan menurut International Pragmatics Association (IPRA) yang dimaksud
dengan pragmatik ialah penyelidikan bahasa yang menyangkut seluk belum
penggunaan bahasa dan fungsinya (dalam Soemarmo, 1987 : 3).
   Yule (1996;3) menyebutkan 4 definsi pragmatik, yaitu (1) bidang yang
mengkaji makna pembicara, (2) bidang yang mengkaji makna menurut
konteksnya; (3) bidang yang melabihi kajian tentang makna yang diujarkan,
mengkaji makna yang dikomunikasikan atau ter komunikasikan oleh pembicara,
dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang
membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.

5
Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, (Jakarta: PT Gramedi Pustaka Utama, 1993),
h. 176.

5
C. Ruang Lingkup Kajian Pragmatik
Secara umum pragmatik berhubungan dengan pemakaian bahasa tulis dan
lisan dalam situasi yang sebenarnya. Dengan ini berarti pemakaian bahasa itu
memperhatikan konteks yang seutuh-utuhnya atau selengkap-lengkapnya. Terkait
dengan pemakaian bahasa dalam konteks seutuh-utuhnya ini, dapatlah ditelusuri
ruang lingkup kajian pragmatik baik sebagai ilmu maupun sebagai ‘label’
keterampilan berbahasa ‘plus’. Adapun ruang lingkup kajian pragmatik meliputi:6
1. Variasi bahasa
Dalam kenyataannya, bahasa yang dipakai dalam kehidupan berbahasa
sehari-hari adalah variasi bahasa dari bahasa yang ada di satu wilayah. Setiap
bahasa mempunyai variasi. Variasi-variasi bahasa itu adanya dapat dikenali antara
lain dari ciri-cirinya yang ada pada pilihan kata, struktur, dan intonasi.
Selanjutnya, adanya variasi bahasa itu didukung oleh beberapa faktor, yaitu: (i)
faktor geografis, (ii) faktor kemasyarakatan, (iii)faktor situasi berbahasa, dan (iv)
faktor waktu (temporal). Faktor geografis menimbulkan variasi bahasa yang
disebut dialek (lahjah). Faktor sosial kemasyarakatan menimbulkan variasi bahasa
yang disebut ragam sosiolek. Termasuk dalam faktor sosial kemasyarakatan ini
antara lain: (i) status sosial ekonomi, (ii) tingkat pendidikan, (iii) usia, dan (iv)
jenis kelamin. Faktor situasi berbahasa akan menghasilkan variasi berbahasa yang
disebut ragam fungsiolek, yang mencakup (i) partisipan/pihak yang terlibat dalam
peristiwa berbahasa, (ii) topik yang dibicarakan, (iii) jalur yang digunakan, (iv)
tingkat keresmian berbahasa, (v) hubungan antarperan, dan (vi) anggapan
antarperan. Terakhir, faktor waktu (temporal) akan menghasilkan variasi bahasa
yang disebut ragam kronolek. Variasi bahasa karena faktor waktu ini dapat dilihat
dari wujud bahasa yang digunakan dalam kegiatan berbahasa dari waktu ke
waktu. Dalam perspektif pragmatik, yang terkait dengan variasi bahasa,
bagaimana variasi-variasi bahasa itu dipakai dan ditafsirkan dalam kegiatan
berbahasa yang sesungguhnya. Karena itu, berkaitan dengan variasi bahasa, yang
perlu diajarkan melalui pendekatan pragmatik adalah: (i) kapan dan bagaimana
menggunakan berbagai variasi bahasa secara tepat, dan (ii) bagaimana
menyelaraskan bentuk-bentuk (variasi bahasa)
6
Suyono, Pragmatik: Dasar-dasar dan Pengajarannya, (Malang: Yayasan Asah Asih
Asuh Malang, 1990), h. 11

6
dengan faktor sosial kemasyarakatan dan situasi berbahasa dalam kegiatan
berbahasa yang senyatanya secara tepat.
2. Deiksis
Sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila acuan/rujukan/referennya
berpindah-pindah atau berganti-ganti bergantung pada siapa yang menjadi si
pembicara dan bergantung pula pada saat dan tempat dituturkannya kata itu.
Dalam kajian pragmatik dikenal ada lima macam deiksis, yaitu: (i) deiksis
persona, (ii) deiksis tempat, (iii) deiksis waktu, (iv) deiksis wacana, dan (v)
deiksis sosial. Deiksis persona berkaitan dengan peran atau peserta yang terlibat
dalam peristiwa berbahasa, yang dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu: (i)
kategori orang pertama, (ii) kategori orang kedua, dan (iii) kategori orang ketiga.
Deiksis persona biasanya berupa kata ganti orang (saya, kamu, mereka, dan
sebagainya; dalam Bahasa Arab ‫ أنا‬,‫ هو‬,‫ أنت‬, dan sebagainya).
Di samping itu, digunakan pula bentuk sapaan (saudara, bapak, ibu, dan
sebagainya; dalam Bahasa Arab, ‫سعادة‬ ,‫ شيخ فضيلة‬, dan sebagainya). Dalam
kaitannya dengan pengajaran pragmatik, yang perlu diperhatikan adalah
bagaimana menggunakan deiksis persona tersebut dengan tepat. Dengan perkataan
lain, dalam suatu peristiwa berbahasa, pemakai bahasa dituntut untuk dapat
menggunakan deiksis persona sesuai dengan kaidah sosial (sosio-kultural) dan
santun berbahasa dengan tepat. Deiksis tempat adalah pemberian bentuk kepada
lokasi ruang (tempat) dipandang dari lokasi pemeran dalam suatu peristiwa
berbahasa. Deiksis tempat berkaitan dengan yang dekat dengan pembicara (di sini,
‫) هنا‬, dan tidak dekat dengan pembicara (di sana ‫) هناك‬, dan lain sebagainya.
Dalam kaitannya dengan pengajaran pragmatik, yang perlu diperhatikan adalah
bagaimana menggunakan dan menafsirkan wujud wujud deiksis tempat dalam
berbahasa secara tepat, sesuai dengan konteksnya. Deiksis waktu menunjuk
kepada pengungkapan jarak waktu dipandang dari waktu sesuatu ungkapan dibuat
oleh pembicara. Leksem waktu yang berdeiktis misalnya sekarang (‫)اآلن‬, kemarin
(‫)أمس‬, besok (‫دا‬bb‫)غ‬, dan sebagainya. Dalam hubungannya dengan pengajaran
pragmatik, yang penting adalah melatih siswa menggunakan dan menafsirkan
leksem waktu yang berdeiksis dalam kegiatan berbahasa. Deiksis wacana
berkaitan dengan bagian-bagian tertentu dalam wacana yang

7
telah diberikan dan atau yang sedang dikembangkan. Deiksis wacana berupa
anafora (merujuk kepada yang akan disebut). Adapun bentuk-bentuk yang biasa
digunakan untuk menyatakan deiksis wacana biasanya berupa kata atau frase,
seperti: yang terdahulu, yang pertama, sebagai brikut, ‫ا ذكرنا‬bb‫ كم‬,‫ا يلي‬bb‫ كم‬, dan
sebagainya. Deiksis wacana bermanfaat untuk menghasilkan dan
menafsirkan/memahami wacana (tulis dan lisan) secara utuh. Deiksis sosial
mengungkapkan perbedaan-perbedaan kemasyarakatan yang terdapat antara para
partisipan yang terlibat dalam peristiwa berbahasa, terutama yang berhubungan
dengan aspek sosial budayanya. Adanya deiksis ini memunculkan adanya
“kesopanan/etiket berbahasa”. Dengan deiksis ini pula bentuk/ragam bahasa yang
dipilih akan diselaraskan dengan aspek-aspek sosial budaya yang dimiliki oleh
partisipan yang terlibat dalam peristiwa berbahasa.
3. Implikatur percakapan

Implikatur percakapan merupakan salah satu aspek kajian pragmatik yang


perhatian utamanya mempelajari maksud suatu ucapan sesuai dengan konteksnya.
Dengan perkataan lain, implikatur percakapan dipakai untuk menerangkan makna
implisit dibalik “apa yang diucapkan/ditulis” sebagai “sesuatu yang
diimplikasikan”. Menurut Grice (1967) ada seperangkat asumsi yang melingkupi
dan mengatur kegiatan percakapan sebagai suatu tindakan berbahasa. Seperangkat
asumsi itu akan memadu tindakan orang dalam percakapan untuk mencapai hasil
yang baik. Seperangkat asumsi itu disebut aturan percakapan (maxims of
conversation) yang merupakan prinsip kerjasama (PK) (cooperative principle)
yang terdiri dari:7
a. Maksim kuantitas yang berkaitan dengan jumlah informasi yang diberikan,
karena itu “buat sumbangan/keterangan anda seinformatif yang diperlukan” dan
“jangan memberikan sumbangan lebih informatif dari yang diperlukan”.
b. Maksim kualitas, berkaitan dengan mutu informasi yang disampaikan,
karena itu “jangan katakan apa yang anda anggap salah” dan jangan katakan
sesuatu yang anda tidak dapat mendukung dengan bukti yang cukup.

Ibid, h.14-15. Lihat pula Geofrey Leech, Prinsip-prinsip Pragmatik, Diterjemahkan oleh
7

M.D.D. Oka dari The Principles of Pragmatics, (Jakarta: UI Press, 1993), h. 128.

8
c. Maksim hubungan atau keinformatifan khusus mengatakan “usahakan
agar informasi yang diberikan ada relevansinya”
d. Maksim cara mengatakan “usahakan agar apa yang disampaikan mudah
dimengerti”. Grice menganggap maksim ini tidak sepenting maksim-maksim
lainnya, ia juga berpendapat bahwa maksim ini berbeda dengan maksim-maksim
yang lain karena maksim ini bukan mengatur “apa” yang dikatakan tetapi
“bagaimana” yang dikatakan itu seharusnya dikatakan.
Di samping keempat prinsip tersebut ada prinsip lain yang harus
diperhatikan dalam komunikasi yaitu prinsip sopan santun (PS) (politeness
principle) yang terdiri dari:8
a. Maksim kearifan (tact maxim), berkaitan dengan keuntungan dan kerugian
dalam berbahasa, karena itu “perkecil kerugian pada orang lain sekecil mungkin”
dan “buatlah keuntungan untuk orang lain sebesar mungkin”.
b. Maksim kedermawanan (generosity maxim), merupakan pasangan dari
maksim keaarifan yang juga berkaitan dengan keuntungan dan kerugian dalam
berbahasa, menyarankan “buatlah keuntungan untuk diri sendiri sekecil mungkin”
dan “buatlah kerugian pada diri sendiri sebesar mungkin”.
c. Maksim pujian (approbation maxim), berkaitan dengan skala pujian dan
kecaman dalam berbahasa, menyarankan “ kurangi cacian pada orang lain
sesedikit mungkin” dan “pujilah orang lain sebanyak mungkin”.
d. Maksim kerendahan hati (modesty maxim), merupakan pasangan dari
maksim pujian yang juga berkaitan dengan skala pujian dan kecaman dalam
berbahasa, menyarankan “pujilah diri sendiri sesedikit mungkin” dan “kecamlah
diri sendiri sebanyak mungkin”.
e. Maksim kesepakatan (agreement maxim) menyarankan “usahakan agar
ketaksepakatan antara diri sendiri dan orang lain terjadi sesedikit mungkin” dan
“usahakan agar kesepakatan antara diri sendiri dan orang lain terjadi sebanyak
mungkin”.
f. Maksim kesimpatisan (sympathy maxim) menyarankan “kurangi rasa
antipati antara diri sendiri dengan orang lain hingga sekecil mungkin” dan
“tingkatkan rasa simpati antara diri sendiri dan orang lain sebesarbesarnya”.

8
Ibid, h. 206.

9
4. Pranggapan
Praanggapan adalah pengetahuan latar belakang atau pengetahuan
prasyarat yang dapat membuat suatu tindakan, teori, atau ungkapan mempunyai
makna atau masuk akal/dapat diterima oleh partisipan yang terlibat dalam
peristiwa berbahasa. Praanggapan sebagai penyimpulan dasar mengenai konteks
berbahasa akan membuat bentuk bahasa mempunyai makna bagi pendengar dan
sebaliknya membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dapat
mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud. Dengan kata lain, jika suatu
kalimat yang diucapkan, selain dari makna yang dinyatakan dengan pengucapan
kalimat itu, turut tersertakan pula tambahan makna yang tidak dinyatakan, tetapi
tersiratkan dari pengucapan kalimat itu.9 Misalnya percakapan si A melalui
telepon: “Kalau barang saya itu sudah laku, uangnya jangan dikirimkan ke alamat
rumah, tetapi ke alamat kantor saja”. Yang dinyatakan (asserted) pada kalimat itu
adalah pemberitahuan mengenai cara pengiriman uang, tetapi yang
dipraanggapkan (presupposed) adalah bahwa orang yang ditelpon itu masih
memiliki tanggungan yang harus dibereskan pada suatu waktu.
5. Tindak ujaran atau tindak tutur (speech act)
Di dalam mengatakan suatu kalimat, seseorang tidak semata-mata
mengatakan sesuatu dengan pengucapan kalimat itu. Di dalam pengucapan
kalimat ia juga “menindakkan” sesuatu. Perkataan seorang ibu rumah pondokan
putri “sudah jam sembilan”, tidak semata-mata memberi tahu keadaan jam pada
saat itu; akan tetapi ia juga menindakkan sesuatu, yakni memerintahkan si lawan
bicara penghuni pondokan supaya pergi meninggalkan rumah pondokannya. Ada
beberapa hal yang dapat ditindakkan di dalam berbicara, seperti permintaan
(requests), pemberian izin (permissions), tawaran (offers), penerimaan akan
tawaran (acceptation of offerrs).10
Tindak ujaran ada yang berupa langsung dan ada yang tidak langsung.
Seperti contoh berikut:
 Tindak ujaran langsung
A : Minta uang untuk membeli gula!

Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa: Menyibak Kurikulum


9

1984, (Yogyakaarta: Penerbit Kanisius, 1990), h. 18.


10
Ibid, h. 19.

10
B: Ini
 Tindak ujaran tidak langsung
A: Gulanya habis, nyak.
B: Ini uangnya. Beli sana!
6. Struktur (situasi) percakapan
Percakapan hakikatnya adalah peristiwa berbahasa lisan antara dua orang
partisipan atau lebih yang pada umumnya terjadi dalam suasana santai.
Percakapan merupakan wadah yang memungkinkanterwujudnya prinsip-prinsip
kerja sama dan sopan santun yang muncul dalamperistiwa berbahasa secara
fungsional. Dalam percakapan, sebagai peristiwa berbahasa, ada beberapa hal
penting yang perlu diperhatikan, diantaranya: (i) bagaimana cara menarik
perhatian seseorang, (ii) bagaimana cara memulai pembicaraan (iii) bagaimana
cara mengakhiri pembicaraan, (iv) bagaimana cara menginterupsi atau memotong
pembicaraan, dan (v) bagaimana memperbaiki kesalahan.11
D. Hubungan Pragmatik dan Semantik
Masalah perbedaan antara ‘bahasa’ (langue) dengan ‘penggunaan bahasa’
(parole) berpusat pada perselisihan antara semantik dengan pragmatik mengenai
garis batas bidang-bidang ini. Kedua bidang ini berurusan dengan makna, tetapi
perbedaan di antara mereka terletak pada perbedaan penggunaan verba to mean
(berarti):
Contoh:

[1] What does X mean? (Apa artinya X?)

[2] What did you mean by X? (Apa maksudmu dengan X?)

Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang


melibatkan dua segi (dyadic) yaitu bentuk dan makna, seperti pada contoh [1], dan
pragmatik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga
segi (triadic), yaitu bentuk, makna, dan konteks, seperti pada contoh [2].
Di dalam semantik, makna didefinisikan hanya sebagai ungkapan-
ungkapan dalam bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur dan petuturnya.
Sedangkan dalam pragmatik, makna memiliki hubungan yang erat dengan situasi,

11
Suyono, Op. cit., h. 17

11
penutur dan unsur lain (Leech, 1993:8). Pragmatik mengkaji maksud ujaran
dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act). Dengan kata lain,
pragmatik lebih cenderung ke fungsionalisme daripada ke formalisme.
Pragmatik juga mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa
tindak tutur (speech act), Misalnya dalam komunikasi, satu maksud atau satu
fungsi dapat diungkapkan dengan berbagai bentuk atau struktur. Untuk maksud
“menyuruh” orang lain, penutur dapat mengungkapkannya dengan kalimat
imperatif, kalimat deklaratif, atau bahkan dengan kalimat interogatif.
Pragmatik dan semantik adalah dua bidang yang berbeda namun saling
melengkapi (komplementer) dan saling berhubungan. Pemahaman makna dari dua
verba to mean di atas termasuk bidang semantik, sedangkan penggunaan makna
pada kedua contoh tersebut termasuk bidang pragmatik.
Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa semantik dan pragmatik
keduanya menelaah makna. Meskipun demikian telaah makna yang ada pada
ranah semantik berbeda dengan telaah makna yang ada pada ranah pragmatik.
Semantik menelaah makna-makna satuan lingual, dan mempelajari makna secara
internal atau makna yang bebas konteks (context independent), sedangkan
pragmatik mempelajari makna secara eksternal yaitu makna yang terikat konteks
(context dependent) (Wijana, 1996:2). Kata ‘bagus’ secara internal bermakna
‘baik’ atau ‘tidak buruk’ seperti pada kalimat berikut: “prestasi kerjanya yang
bagus membuat ia dapat diangkat untuk masa jabatan yang kedua”.
Namun secara eksternal, jika ditinjau dari penggunaannya, kata ‘bagus’
tidak selalu bermakna ‘baik’ atau ‘tidak buruk’, seperti pada contoh berikut:
Ayah : Bagaimana ujian matematikamu?
Anton : Wah, hanya dapat 45, pak.
Ayah : Bagus, besok jangan belajar. Nonton terus saja.
Kata ‘bagus’ di atas tidak bermakna sebagaimana mestinya (baik atau tidak
buruk). Sehubungan dengan konteks dalam contoh di atas, kata ‘bagus’ digunakan
untuk menyindir.
Menurut Peccei (1998), semantik menekankan pada makna yang berasal dari
pengetahuan linguistik secara murni, sedangkan pragmatik menekankan pada
aspek-aspek makna yang tidak dapat diramalkan dengan pengetahuan linguistik

12
dan mempertimbangkan pengetahuan tentang dunia fisik dan sosial. Mengenai
perbedaan antara semantik dan pragmatik, Leech (1983) berpendapat bahwa (1)
semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis,
sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force)
pragmatiknya; dan (2) semantik terikat pada kaidah (rule-governed), sedangkan
pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Tentang perbedaan yang
pertama, meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda, keduanya tidak
dapat benar-benar dipisahkan, sebab daya mencakup juga makna. Dengan kata
lain, semantik mengkaji makna linguistik, sedangkan pragmatik mengkaji makna
ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Selanjutnya, kaidah berbeda
dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Kaidah bersifat deskriptif, absolut atau
bersifat mutlak, dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya,
sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif, dapat
bertentangan dengan prinsip lain, dan memiliki batasan yang bersinggungan
dengan prinsip lain.
Leech (1993: 9) menguraikan bahwa selama ini terdapat pandangan
terhadap hubungan semantik dan pragmatik. Pertama semantisisme, yang
menganggap bahwa penggunaan makna seperti contoh [1] dan [2] (pada verba to
mean -hal. 3- ) ,termasuk bidang semantik, berarti mereka lebih banyak
memasukkan studi makna ke dalam semantik daripada pragmatik; kedua
pragmatisme, ialah lebih banyak memasukkan studi makna dalam pragmatik
daripada semantik; ketiga komplementerisme, memiliki pandangan bahwa
semantik dan pragmatik berbeda tetapi saling melengkapi (komplementer) dan
saling berhubungan. Dari analisis semantik dan pragmatik dalam makalah ini,
terdapat bahwa hubungan semantik dan pragmatik ialah saling melengkapi, karena
dalam komunikasi sehari-hari, pembahasan makna secara semantik belum cukup
untuk memahami maksud penutur yang sebenarnya, jadi diperlukan pembahasan
lebih lanjut mengenai makna secara pragmatik. Sebaliknya, pragmatik mengkaji
makna yang terkait dengan konteks dengan berdasarkan makna yang dikaji oleh
semantik, yaitu linguistic meaning.12

12
https://niethazakia.blogspot.com/2012/10/hubungan-semantik-dan-pragmatik.html
(dilihat pada tanggal 10 Desember 2019, pukul : 23.20)

13
BAB III
PENUTUP
Pragmatik adalah studi yang mengkaji tuturan dari segi makna dan konteks
yang menyertai tuturan tersebut. Pada hakikatnya pragmatik sama dengan
semantik, yakni sama-sama mengkaji makna suatu tuturan secara internal,
sedangkan pragmatik mengkaji makna suatu tuturan secara eksternal.
Pada umumnya, prinsip-prinsip pragmatik mencakup Prinsip Kerjasama
(PK) dan prinsip Sopan Santun (PS). Kedua prinsip ini masing-masing
termanifestasikan dalam maksim-maksim yang bersifat regulatif, yang digunakan
untuk mengatur pemakaian bahasa agar komunikasi berjalan dengan lancar
mencapai tujuan secara efektif. Namun pada kenyataannya, tujuan komunikasi
tidak selalu dapat dicapai dengan mematuhi prinsip-prinsip tersebut

14
DAFTAR PUSTAKA
Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembang Bahasa, (1999). Kamus Besar
Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
2 PWJ Nababan,(1987). Ilmu Pragmatik: Teori dan Penerapannya (untuk
selanjutnya disebut Ilmu Pragmatik), Jakarta: Dep. P dan K.
Mansoer Pateda, Linguistik Terapan, (1991). Flores: Nusa Indah,
PWJ Nababan, (1991). Pengajaran Bahasa dan Pendekatan Pragmatik (untuk
selanjutnya disebut Pengajaran Bahasa), dalam Bambang Kaswanti
Purwo (Ed), Bulir-bulir Sastra dan Bahasa: Pembaharuan Pengajaran,
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Suyono, Pragmatik: Dasar-dasar dan Pengajarannya, (1990).Malang: Yayasan
Asah Asih Asuh Malang.
https://niethazakia.blogspot.com/2012/10/hubungan-semantik-dan
pragmatik.html

15