Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

REKAYASA PROSES PANGAN


ACARA III
DESTILASI

Disusun Oleh:
KELOMPOK 9

1. Agata Febiola D.E.M. (H0917002)


2. Anastasia Dinda P.A. (H0917017)
3. Cindy Shaveira P. (H0917023)
4. Cyrillus Alton (H0917025)
5. Nurul Fauzi (H0917063)
6. Triyani Hikmah A. (H0917081)

PROGRAM STUDI ILMU TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2019
ACARA III
DESTILASI

A. Tujuan
Tujuan dari Praktikum Rekayasa Proses Pangan Acara III “Destilasi”
adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa mampu memisahkan suatu senyawa dalam suatu sampel
dengan metode destilasi sederhana.
2. Mahasiswa mampu memahami proses yang berlangsung pada saat
destilasi.
B. Tinjauan Pustaka
Destilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia
berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.
Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini
kemudian didinginkan kembali kedalam bantuk cairan. Zat yang memliki titik
didih lebih rendah akan menguap terlebih dahulu. Metode ini termasuk sebagai
unit operasi kimia jenis perpindahan panas. Penerapan proses ini didasarkan
pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap
pada titik didihnya. Model ideal destilasi didasarkan pada hukum raoult dan
hukum dalton (Treybal, 1980).
Destilasi atau penyulingan didefinisikan sebagai pemisah
komponenkomponen suatu campuran dari dua jenis cairan atau lebih yang
berdasarkan perbedaan tekanan uap dari masingmasing zat tersebut. Secara
umum ada tiga macam sistem destilasi yaitu penyulingan dengan air,
penyulingan dengan air dan uap, dan penyulingan dengan uap langsung
(Nugraheni dkk, 2016). Beberapa jenis destilasi dapat diuraikan sebagai
berikut: 1) destilasi Sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan
kimia untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan
titik didih yang jauh. Suatu campuran dapat dipisahkan dengan destilasi biasa
ini untuk memperoleh senyawa murni. Senyawa yang terdapat dalam campuran
akan menguap saat mencapai titik didih masing-masing. 2) Destilasi
Fraksionasi (Bertingkat), prinsipnya sama dengan destilasi sederhana, hanya
destilasi bertingkat ini memiliki rangkaian alat kondensor yang lebih baik,
sehingga mampu memisahkan dua komponen yang memiliki perbedaan titik
didih yang berdekatan. Untuk memisahkan dua jenis cairan yang sama mudah
menguap dapat dilakukan dengan destilasi bertingkat. Destilasi bertingkat
adalah suatu proses destilasi berulang. Proses berulang ini terjadi pada kolom
fraksional. Kolom fraksional terdiri atas beberapa plat dimana pada setiap plat
terjadi pengembunan. Uap yang naik plat yang lebih tinggi lebih banyak
mengandung cairan yang lebih atsiri (mudah menguap) sedangkan cairan yang
yang kurang atsiri lebih banyak kondensat. 3) Destilasi Azeotrop merupakan
destilasi dengan cara memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau
lebih komponen yang sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan
senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop tersebut atau dengan
menggunakan tekanan tinggi. 4) Destilasi Uap digunakan untuk memurnikan
zat/senyawa cair yang tidak larut dalam air, dan titik didihnya cukup tinggi,
sedangkan sebelum zat cair tersebut mencapai titik didihnya, zat cair sudah
terurai, teroksidasi atau mengalami reaksi pengubahan (rearranagement), maka
zat cair tersebut tidak dapat dimurnikan secara destilasi sederhana atau destilasi
bertingkat, melainkan harus didestilasi dengan destilasi uap. Destilasi uap
adalah istilah yang secara umum digunakan untuk destilasi campuran air
dengan senyawa yang tidak larut dalam air, dengan cara mengalirkan uap air
kedalam campuran sehingga bagian yang dapat menguap berubah menjadi uap
pada temperature yang lebih rendah dari pada dengan pemanasan langsung.
Untuk destilasi uap, labu yang berisi senyawa yang akan dimurnikan
dihubungkan dengan labu pembangkit uap (lihat gambar alat destilasi uap).
Uap air yang dialirkan ke dalam labu yang berisi senyawa yang akan
dimurnikan,dimaksudkan untuk menurunkan titik didih senyawa tersebut,
karena titik didih suatu campuran lebih rendah dari pada titik didih komponen-
komponennya. 5) Destilasi Vakum digunakan untuk memisahkan dua
kompenen yang titik didihnya sangat tinggi, motode yang digunakan adalah
dengan menurunkan tekanan permukaan lebih rendah dari 1 atm, sehingga titik
didihnya juga menjadi rendah, dalam prosesnya suhu yang digunakan untuk
mendestilasinya tidak perlu terlalu tinggi (Walangare dkk, 2013).
Langkah-langkah dalam melakukan destilasi sederhana yaitu,
mengetahui dan melihat titik didih zat campuran yang akan didestilasi.
Selanjutnya menyusun alat destilasi ke dalam posisi yang benar dan tepat.
Selanjutnya, memasukkan campuran pada labu destilasi (paling banyak 2/3
bagian labu) lalu memasukkan distilling flask. Lalu pemanas dinyalakan sesuai
dengan titik didih sampel secara bertahap tingkat pemanasnya. Setelah itu, air
pendingin dialirkan dan termometer diperhatikan. Jika ada cairan yang keluar
sebelum titik didih tercapai, maka cairan tersebut harus dipisahkan. Sedangkan,
apabila termometer menunjukkan titik didih sampel, tahan suhu tersebut
konstan dan tampung destilat yang dihasilkan. Proses destilasi dihentikan jika
sampel hampir habis dan titik didih sampel lebih besar dari titik didih zat
pencemar. Sedangkan apabila titik didih zat sampel lebih kecil dari titik didih
zat pencemar, maka destilasi dihentikan pada saat suhu melebihi titik didihnya.
Setelah proses destilasi selesai, tentukan indeks bias zat yang diperoleh lalu
membandingkan dengan nilai dari literatur (Wahyudi dkk., 2017).
Alkohol (C2H5OH) adalah cairan transparan, tidak berwarna, cairan
yang mudah bergerak, mudah menguap, dapat bercampur dengan air, eter, dan
kloroform. Alkohol dapat diperoleh melalui fermentasi karbohidrat dari ragi.
Setelah air, alkohol merupakan zat pelarut dan bahan dasar paling umum yang
digunakan di laboratorium dan di dalam industri kimia (Berlian dkk., 2016).
Larutan Alkohol dapat diperoleh dari destilasi, ekstraksi cair-cair dan ekstraksi
fase padat. Alkohol dengan proses destilasi diperoleh dengan cara memasukkan
sebanyak 1,0 mL sampel ke dalam labu distilat dan ditambahkan 10 mL
aquades. Campuran didestilasi dengan kondensor refluks (Yanti et al., 2019).
Teknik destilasi banyak diterapkan di kehidupan sehari-hari. Destilasi
merupakan salah satu metode yang digunakan untuk pemurnian air. Aquades
merupakan air hasil penyulingan yang bebas dari zat-zat pengotor sehingga
bersifat murni dalam laboratorium (Adani dan Pujiastuti, 2017). Selain untuk
menghasilkan aquades, destilasi juga dapat digunakan sebagi metode konversi
air laut menjadi air bersih. Proses pembuatan alat destilasi air laut ini tidak
memakan anggaran yang besar, sehingga masih terjangkau untuk kalangan
masyarakat (Walangare dkk., 2013).
C. Metodologi
1. Alat
a. Erlenmeyer
b. Gelas ukur
c. Hotplate
d. Klem holder
e. Kondensor
f. Labu dasar bulat
g. Labu leher tiga
h. Statif
i. Termometer
2. Bahan
a. Air teh
b. Larutan alkohol
c. Susu
d. Madu
3. Cara Kerja
Pemasangan alat destilasi

Larutan Pemasukkan ke dalam labu


alkohol destilasi

Air Pengaliran melalui kondensor

Pemanasan sampel

Pengamatan kenaikan suhu

Pencatatan suhu dan waktu saat


tetesan pertama kondensat

Pengamatan sampai tidak ada


kondensat menetes

Pencatatan volume destilat


tertampung

Gambar 3.1 Diagram Alir Proses Destilasi Larutan Alkohol


D. Hasil dan pembahasan
Destilasi adalah suatu cara pemisahan larutan dengan menggunakan
panas sebagai pemisah. Jika larutan yang terdiri dari dua buah komponen yang
cukup mudah menguap ada perbedaan komposisi antara fase cair dan fase uap
dan hal ini merupakan syarat utama agar pemisahan dengan destilasi dapat
dilakukan. Jika komposisi fase uap sama dengan komposisi fase cair, maka
pemisahan dengan jalan destilasi tidak dapat dilakukan. Proses destilasi bisa
berjalan dengan baik jika faktor – faktor yang mempengaruhi destilasi seperti
kondisi umpan, sifat dari camuran, karakteristik kolom, jenis kolom (plate,
packed), jenis tray, serta besaran – besaran lainnya (laju uap naik, laju cairan
turun/reflux, luas permukaan kontak antara fasa gas dan cair, dan efisiensi
perpindahan massa) diperhatikan sehingga dampak yang diakibatkan kesalahan
operasi seperti foaming, weaping, entrainment, flooding bisa diatasi
(Fatimura, 2014).
Destilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia
berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.
Proses destilasi yaitu campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini
kemudian didinginkan kembali kedalam bantuk cairan. Zat yang memliki titik
didih lebih rendah akan menguap terlebih dahulu. Metode ini termasuk sebagai
unit operasi kimia jenis perpindahan panas. Penerapan proses ini didasarkan
pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap
pada titik didihnya. Model ideal destilasi didasarkan pada hukum raoult dan
hukum dalton (Treybal, 1980).
Sampel yang digunakan dalam praktikum destilasi adalah alkohol, air
teh, susu, dan madu. Berdasarkan beberapa studi, dapat diketahui titik didih
dari sampel-sampel yang digunakan pada praktikum ini. Alkohol untuk jenis
ethanol memiliki titik didih sebesar78°C. Pada suhu 78°C etanol lebih dulu
menguap dari pada air (Fahmi et al., 2014). Air teh memiliki titik didih yang
tidak berbeda jauh dengan titik didih air yaitu sebesar 100oC (Saklar et al.,
2015). Susu sapi memiliki titik didih sedikit lebih tinggi dari air, yaitu sebesar
100,17oC (Masruroh dkk, 2018). Madu memiliki titik didih yang hampir sama
dengan sukrosa, mengingat komponen terbesar madu adalah gula, yaitu 186oC
(Saska, 2002).
Secara umum ada tiga macam sistem destilasi yaitu penyulingan dengan
air, penyulingan dengan air dan uap, dan penyulingan dengan uap langsung
(Nugraheni dkk, 2016). Beberapa jenis destilasi dapat diuraikan sebagai berikut
1. Destilasi Sederhana
Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan
kimia untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki
perbedaan titik didih yang jauh. Suatu campuran dapat dipisahkan dengan
destilasi biasa ini untuk memperoleh senyawa murni. Senyawa yang
terdapat dalam campuran akan menguap saat mencapai titik didih masing-
masing (Walangare dkk, 2013).

Gambar 3.2 Destilasi Sederhana (Walangare dkk, 2013)


2. Destilasi Fraksionasi (Bertingkat)
Sama prinsipnya dengan destilasi sederhana, hanya destilasi
bertingkat ini memiliki rangkaian alat kondensor yang lebih baik, sehingga
mampu memisahkan dua komponen yang memiliki perbedaan titik didih
yang berdekatan. Untuk memisahkan dua jenis cairan yang sama mudah
menguap dapat dilakukan dengan destilasi bertingkat. Destilasi bertingkat
adalah suatu proses destilasi berulang. Proses berulang ini terjadi pada
kolom fraksional. Kolom fraksional terdiri atas beberapa plat dimana pada
setiap plat terjadi pengembunan. Uap yang naik plat yang lebih tinggi
lebih banyak mengandung cairan yang lebih atsiri (mudah menguap)
sedangkan cairan yang yang kurang atsiri lebih banyak kondensat
(Walangare dkk, 2013).
Gambar 3.3 Destilasi Fraksionasi (Walangare dkk, 2013)
3. Destilasi Azeotrop
Memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau lebih
komponen yang sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan
senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop tersebut atau dengan
menggunakan tekanan tinggi (Walangare dkk, 2013).

Gambar 3.4 Destilasi Azeotrop (Walangare dkk, 2013)


4. Destilasi Uap
Untuk memurnikan zat / senyawa cair yang tidak larut dalam air,
dan titik didihnya cukup tinggi, sedangkan sebelum zat cair tersebut
mencapai titik didihnya, zat cair sudah terurai, teroksidasi atau mengalami
reaksi pengubahan (rearranagement), maka zat cair tersebut tidak dapat
dimurnikan secara destilasi sederhana atau destilasi bertingkat, melainkan
harus didestilasi dengan destilasi uap. Destilasi uap adalah istilah yang
secara umum digunakan untuk destilasi campuran air dengan senyawa
yang tidak larut dalam air, dengan cara mengalirkan uap air kedalam
campuran sehingga bagian yang dapat menguap berubah menjadi uap pada
temperature yang lebih rendah dari pada dengan pemanasan langsung.
Untuk destilasi uap, labu yang berisi senyawa yang akan dimurnikan
dihubungkan dengan labu pembangkit uap (lihat gambar alat destilasi
uap). Uap air yang dialirkan ke dalam labu yang berisi senyawa yang akan
dimurnikan,dimaksudkan untuk menurunkan titik didih senyawa tersebut,
karena titik didih suatu campuran lebih rendah dari pada titik didih
komponen-komponennya (Walangare dkk, 2013).

Gambar 3.5 Destilasi Uap (Walangare dkk, 2013)


5. Destilasi Vakum
Memisahkan dua kompenen yang titik didihnya sangat tinggi,
motode yang digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan
lebih rendah dari 1 atm, sehingga titik didihnya juga menjadi rendah,
dalam prosesnya suhu yang digunakan untuk mendestilasinya tidak perlu
terlalu tinggi (Walangare dkk, 2013).
Gambar 3.6 Destilasi Vakum (Walangare dkk, 2013)
Proses destilasi bisa berjalan dengan baik jika faktor – faktor yang
mempengaruhi destilasi seperti kondisi umpan, sifat dari camuran,
karakteristik kolom, jenis kolom (plate, packed), jenis tray, serta besaran –
besaran lainnya (laju uap naik, laju cairan turun/reflux, luas permukaan kontak
antara fasa gas dan cair, dan efisiensi perpindahan massa) diperhatikan
sehingga dampak yang diakibatkan kesalahan operasi seperti foaming,
weaping, entrainment, flooding bisa diatasi (Fatimura, 2014).
Destilasi adalah pemisahan komponen yang memiliki titik didih
berbeda. Destilasi terjadi apabila terdapat umpan atau komponen yang akan
diuapkan, jenis larutan, suhu dan tekanan. Selain itu, adanya kondensor untuk
mengkondensasi uap. Adanya komponen yang mudah menguap juga
merupakan syarat terjadinya disilasi (Fatimura, 2014). Selain itu, terdapat
transfer massa dan panas yang menyebabkan senyawa volatile keluar dari
bahan
(Wulandari dan Mustofa, 2017).
Teknik destilasi banyak diterapkan di kehidupan sehari-hari. Destilasi
merupakan salah satu metode yang digunakan untuk pemurnian air. Aquades
merupakan air hasil penyulingan yang bebas dari zat-zat pengotor sehingga
bersifat murni dalam laboratorium (Adani dan Pujiastuti, 2017). Selain untuk
menghasilkan aquades, destilasi juga dapat digunakan sebagi metode konversi
air laut menjadi air bersih. Proses pembuatan alat destilasi air laut ini tidak
memakan anggaran yang besar, sehingga masih terjangkau untuk kalangan
masyarakat (Walangare dkk., 2013). Penerapan lain dari destilasi dalam
kehidupan sehari-hari adalah dalam pembuatan minyak atsiri. Minyak atsiri
atau yang disebut juga dengan essential oils, ethereal oils atau volatile oils
adalah senyawa yang mudah menguap yang tidak larut di dalam air dan
merupakan ekstrak alami dari tanaman, baik yang berasal dari daun, bunga,
kayu, biji-bijian, ataupun kulit buah. Proses ekstraksi minyak atsiri dapat
ditempuh melalui tiga tahap yaitu pengempaan, ekstraksi menggunakan
pelarut, dan penyulingan (Hidayati, 2012). Minyak atsiri memiliki banyak
manfaat bagi kesehatan, misalnya sebagai penyegar udara dan untuk obat atau
produk perawatan tubuh. Destilasi juga dapat digunakan dalam industri minyak
dan gas bumi. Minyak bumi merupakan senyawa hidrokarbon, senyawa ini
terdiri dari unsur karbon, hidrogen, belerang, nitrogen dan logam. Pada industri
pengolahan minyak dan gas bumi, kolom destilasi memegang peranan penting,
karena sebagai tempat terjadinya proses pemisahan fraksi-fraksi yang
terkandung dalam minyak mentah (crude oil) ke komponen-komponen
penyusunnya. Hasil pengolahan pada kolom destilasi menentukan kualitas
produk dari kilang minyak tersebut (Hersaputri dkk., 2012).
Langkah-langkah dalam melakukan destilasi sederhana yaitu,
mengetahui dan melihat titik didih zat campuran yang akan didestilasi.
Selanjutnya menyusun alat destilasi ke dalam posisi yang benar dan tepat.
Selanjutnya, memasukkan campuran pada labu destilasi (paling banyak 2/3
bagian labu) lalu memasukkan distilling flask. Lalu pemanas dinyalakan sesuai
dengan titik didih sampel secara bertahap tingkat pemanasnya. Setelah itu, air
pendingin dialirkan dan termometer diperhatikan. Jika ada cairan yang keluar
sebelum titik didih tercapai, maka cairan tersebut harus dipisahkan. Sedangkan,
apabila termometer menunjukkan titik didih sampel, tahan suhu tersebut
konstan dan tampung destilat yang dihasilkan. Proses destilasi dihentikan jika
sampel hampir habis dan titik didih sampel lebih besar dari titik didih zat
pencemar. Sedangkan apabila titik didih zat sampel lebih kecil dari titik didih
zat pencemar, maka destilasi dihentikan pada saat suhu melebihi titik didihnya.
Setelah proses destilasi selesai, tentukan indeks bias zat yang diperoleh lalu
membandingkan dengan nilai dari literatur (Wahyudi dkk., 2017).
Tabel 3.1 Data Hasil Pengamatan Destilasi Larutan Alkohol
No Hasil Pengamatan
Pengamatan
. Kelompok 9 Kelompok 10
1 Sampel awal Larutan alkohol Larutan alkohol
2 Warna sampel Bening Bening
3 Volume sampel 100 ml 100 ml
4 Suhu larutan mendidih 82℃ 79℃
5 Suhu dan waktu kondensat 82℃, 6 menit 80℃, 9 menit
pertama
6 Suhu konstan 88℃ 80℃
7 Volume destilat 67 ml 85 ml
8 Warna destilat Bening Bening
9 Rendemen 67% 85%
Sumber: Laporan Sementara
Berdasarkan Tabel 3.1 diperoleh data hasil pengamatan destilasi larutan
alkohol kelompok 9 dan 10. Volume sampel yang digunakan pada proses
destilasi adalah sebanyak 100 ml dan berwarna bening. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa larutan alkohol pertama kali mendidih adalah sebesar
82℃ pada kelompok 9 dan 79℃ pada kelompok 10. Suhu dan waktu
kondensat pertama pada sampe kelompok 9 adalah 82℃ selama 6 menit,
sedangkan pada kelompok 10 adalah 80℃ selama 9 menit. Suhu konstan yang
tercapai pada sampel kelompok 9 adalah sebesar 88℃, sedangkan pada
kelompok 10 sebesar 80℃. Volume destilat alkohol yang diperoleh oleh
kelompok 9 adalah sebesar 67 ml dan berwarna bening, sedangkan pada
kelompok 10 adalah sebesar 85 ml berwarna bening. Rendemen yang
dihasilkan pada sampel kelompok 9 lebih sedikit dibandingkan
denganrendemen yang diperoleh kelompok 10. Rendemen yang diperoleh
kelompok 9 adalah sebesar 67%, sedangkan kelompok 10 memperoleh
rendemen sebesar 85%.
Berdasarkan SNI:3565 Tahun 2009, alkohol merupakan larutan tidk
berwarna yang dapat bercampur dengan air, eter, dan kloroform. Titik didih
alkohol teknis adalah 81,36℃ sedangkan pada akohol primer adalah 78,36℃.
Alkohol untuk jenis ethanol memiliki titik didih sebesar78°C. Pada suhu 78°C
etanol lebih dulu menguap dari pada air (Fahmi et al., 2014). Konsentrasi
alkohol dinyatakan dalam sistem ABV (Alcohol by Volume) yag merupakan
persentase perbandingan volume alkohol dan air. Larutan alkohol atau etanol
70% dalam 100 ml larutan alkohol mengandung 70 ml alkohol dan 30 ml air.
Semakin tinggi konsentrasi alkohol maka semakin banyak jumlah alkohol
dalam larutan (Lesmana dkk., 2011). Berdasarkan hasil praktikum, diperoleh
volume destilat alkohol sebanyak 67 ml, sehingga rendemen yang diperoleh
sebesar 67%. Hal ini hampir mendekati teori yaitu larutan alkohol 70%
mengandung alkohol sebanyak 70 ml. Perbedaan rendemen dengan teori
diakibatkan oleh pemanasan atau suhu sehingga akan berpengaruh terhadap
kelarutan bahan, penggunaan metode analisis yang berbeda dengan teori,
kondisi bahan uji, dan perbedaan pelarut yang digunakan. Nilai rendemen
dapat digunakan untuk memperkirakan banyaknya senyawa bioaktif yang
terdapat di dalam rendemen, tetapi tidak dapat digunakan untuk menentukan
jenisnya (Martono dkk., 2016).
E. Kesimpulan
Berdarakan Praktikum Rekayasa Proses Pangan Acara III “Destilasi”
dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Berdasarkan praktikum, hasil volume destilat yang diperoleh dari destilasi
larutan alkohol pada kelompok 9 yaitu sebesar 67 ml dengan rendemen
67%, sedangkan pada kelompok 10 adalah sebesar 85 ml dengan
rendemen sebesar 85%.
2. Proses yang terjadi ketika destilasi atau penyulingan yaitu pemisahan
bahan kimia bahan berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan
menguap (volatilitas). Dalam destilasi, campuran zat dididihkan
sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali
kedalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah
akan menguap terlebih dahulu, sedangkan zat yang memiliki titik didih
yang lebih tinggi akan mengembun dan akan menguap apabila telah
mencapai titik didihnya.
DAFTAR PUSTAKA

Adani, Shabrina., dan Yunita Pujiastuti. 2017. Pengaruh Suhu Dan Waktu Operasi
Pada Proses Destilasi Untuk Pengolahan Aquades Di Fakultas Teknik
Universitas Mulawarman. Jurnal Chemurgy. 1(1): 31-35.
Berlian, Zainal., Fitratul Aini1., dan Resti Ulandari. 2016. Uji Kadar Alkohol
pada Tapai Ketan Putih dan Singkong Melalui Fermentasi Dengan Dosis
Ragi Yang Berbeda. Jurnal Biota. 2(1):106-111.
Fahmi, Dony., Bambang Susilo., Wahyunanto., dan Agung Nugroho. 2014.
Pemurnian Etanol Hasil Fermentasi Kulit Nanas (Ananas comosus L.
Merr_ dengan Menggunakan Destilasi Vakum. Jurnal Keteknikan
Pertanian Tropis dan Biosistem. 2(2):131–137.
Fatimura, Muhrinsyah. 2014. Tinjauan Teoritis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Operasi Pada Kolom Destilasi. Jurnal Media Teknik.
11(1):24-31.
Hersaputri, Megarini., Sutanto Hadisupadmo., dan Agus Samsi. 2012.
Perancangan Sistem Kontrol Proses Kolom Destilasi Minyak Mentah
Berbasis Anfis. Jurnal Otomasi Kontrol dan Instrumentasi. 4(2):107-121.
Hidayati. 2012. Destilasi Minyak Atsiri dari Kulit Jeruk Pontianak dan
Pemanfaatannya dalam Pembuatan Sabun Aromaterapi. Jurnal Biopropal
Industri. 3(2):39-49.
Lesmana, Handy Dwi., R. Tri Endro Utara., dan Wignyo Hadriyanto. 2011.
Pengaruh Konsentrasi Alkohol sebagai Bahan Irigasi Terhadap Kekuatan
Geser Pelekatan Semen Resin pada DentinSaluran Akar Pasca Perawatan
Endodontik engan Siler Seng Oksida Eugenol. Jurnal Kedokteran Gigi.
2(2):92-97.
Martono, B., Syamsul F., dan Eneng N. 2016. Aktivitas Antioksidan Teh Varietas
Gmb 7 Pada Beberapa Ketinggian Tempat. J. TIDP 3(1): 53–60.
Masruroh, Hidayatul, Ulla Disky Masruroh, Fransisca Sri Nugraheni, dan Vita
Paramita. 2018. Analisa Kadar Lemak Dalam Susu Perah Sapi
Menggunakan Gaya Sentrifugasi. METANA. 14(1):25-30.
Nugraheni, Krisnawati Setyaningrum., Lia Umi Khasanah., Rohula Utami.,
Baskara Katri Ananditho. 2016. Pengaruh Perlakuan Pendahuluan Dan
Variasi Metode Destilasi Terhadap Karakteristik Mutu Minyak Atsiri
Daun Kayu Manis (C. Burmanii) . Jurnal Teknologi Hasil Pertanian.
9(2):51-65.
Saklar, Sena, Erdal Ertas, Ibrahim S. Ozdemir, and Bulent Karadeniz. 2015.
Effects of different brewing conditions on catechin content and sensory
acceptance in Turkish green tea infusions. J Food Sci Technol. 52(10):
6639–6646.
Saska, Michael. 2002. Boiling Point Elevation of Technical Sugarcane Solutions
and Its Use in Automatic Pan Boiling. International Sugar Journal.
104(1247):500-507.
Standar Nasional Indonesia. 2009. Etanol Nabati SNI 565: 2009. Badan
Standardisasi Nasional. Jakarta.
Treyball, R.E. 1980. Mass Transfer Operations 3rd Edition. McGraw-HillBook
Co. Rhode Island.
Wahyudi, N. T., Ilham, F. F., Kurniawan, I., dan A. S. Sanjaya. 2017. Rancangan
Alat Destilasi untuk Menghasilkan Kondensat dengan Metode Destilasi
Satu Tingkat. Jurnal Chemugry. 1(2):30-33.
Walangare, K., A. Lumenta., J. Wuwung., dan B. Sugiarso. 2013. Rancang
Bangun Alat Konversi Air Laut Menjadi Air Minum Dengan Proses
Destilasi Sederhana Menggunakan Pemanas Elektrik. e-Jurnal Teknik
Elektro dan Komputer. 20(13): 1-11.
Wulandari, Y. Wuri dan Akhmad Mustofa. 2017. Pengaruh Perlakuan
Penggilingan Terhadap Rendemen Minyak Atsiri Daun Jeruk Purut (Citrus
Hystrix Dc) dengan Metode Destilasi Air. JOGLO. 29(1):1-9.
Yanti, Arisma., Sri Mursiti., Nuni Widiarti., Bowo Nurcahyo., dan M. Alauhdin.
2019. Optimalisasi Metode Penentuan Kadar Etanol dan Metanol pada
Minuman Keras Oplosan Menggunakan Kromatografi Gas (KG).
Indonesian Journal of Chemical Science. 8(1):53-59.
LAMPIRAN DOKUMENTASI

Gambar 3.7 Pemanasan Larutan Alkohol

Gambar 3.8 Pengukuran Suhu dan Waktu


Pertama Kondensat

Gambar 3.9 Penampungan Destilat