Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam tubuh, selain sistem sirkulasi darah juga terdapat sistem
getah bening. Sistem getah bening adalah bagian dari sistem pertahanan tubuh
kita. Tubuh kita memiliki kurang lebih sekitar 600 kelenjar getah bening,
namun hanya di daerah submandibular (bagian bawah rahang bawah, sub
bawah mandibula, rahang bawah), ketiak atau lipat paha yang teraba normal
pada orang sehat.
Sistem getah bening (limfa) membawa protein dan cairan yang hilang
kembali ke darah. Sistem ini mengangkut cairan dari jaringan menuju darah.
Selain itu, juga mengangkut lemak dan bahan bahan asing untuk dirombak ke
nodus limfe. Pembuluh limfa bermuara di berbagai jaringan dan peredarannya
termasuk sirkulasi terbuka. Sistem getah bening (limfa), merupakan cairan
tubuh yang tak kalah penting dari darah.
WHO memperkirakan sekitar 1,5 juta orang di dunia saat ini hidup
dengan NHL dan 300 ribu orang meninggalkarena penyakit ini tiap tahun.
Sekitar 55 persentasi NHL tipenya agresif dan tumbuh cepat. NHL
merupakan kanker tercepat ketiga pertumbuhannya setelah kanker kulit dan
paru-paru. Angka kejadian NHL meningkat 80 % dibandingkan tahun 1970-
an. Setiap tahun angka kejadian penyakit ini meningkat 3-7 persen. NHL
banyak terjadi pada orang dewasa dengan angka tertinggi pada rentang usia
45-60 tahun.
Sistem getah bening memiliki banyak fungsi seperti mengembalikan
cairan dan protein dari jaringan ke dalam sirkulasi darah, mengangkut
limfosit dari kelenjar limfe ke sirkulasi darah, dan untuk membawa lemak
yang sudah dibuat emulsi dari usus ke sirkulasi darah. Saluran yang
melaksanakan fungsi ini adalah saluran lakteal. Selain itu juga, kelenjar limfe
menyaring dan menghancurkan mikroorganisme untuk menghindarkan
penyebaran organisme itu dari tempat masuknya ke dalam jaringan, ke bagian

1
lain tubuh. Apabila ada infeksi, kelenjar limfe menghasilkan zat anti
(antibodi) untuk melindungi tubuh terhadap kelanjutan infeksi.
Oleh karena itu yang melatar belakangi makalah ini dibuat agar
mahasiswa dapat mengetahui bagaimana penyakit ini dapat masuk atau
menginfeksi tubuh manusi.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan getah bening (kelenjar limfoid) ?
2. Darimana asal getah bening (kelenjar limfoid) ?
3. Bagaimana patofisiologi dan anatomi fisiologi kelenjar getah bening ?
4. Bagaimana etiologi kelenjar getah bening ?
5. Apa penyebab terjadinya getah bening (kelenjar limfoid) ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari getah bening (kelenjar limfoid)
2. Untmengetahui mengetahui asal getah bening
3. Untuk mengetahui patofisiologi dan anatomi fisiologi kelenjar getah
bening
4. Untuk mengetahui etiologi kelenjar getah bening
5. Untuk mengetahui penyebab terjadinya kelenjar getah bening

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kelenjar Getah Bening
Kelanjar gatah bening merupakan sebagian dari sistem pertahanan
tubuh manusia. Tubuh manusia mempunyai sekitar 600 kelenjar getah bening,
tetapi hanya did daerah submandibular (bagain bawah rahang bawah; sub:
bawah;mandibula:rahang bawah), lipat paha tau ketiak yang reraba normal
pada orang yang memiliki kondisi sehat.
Terbungkus kapsul fibrosa yang berisi kumpulan sel-sel yang
membentuk pertahanan tubuh, serta merupakan kondisi penyaringan antigen
(protein asing) dari pembuluh getah bening yang melewatinya. Pembuluh
limfe akan mengalir ke arah kelenjar getah bening agar dari lokasi kelenjar
getah bening akan dilihat aliran pembuluh limfe yang melewatinya.
Sebab dilewati oleh aliran pembuluh getah bening yang bisa membawa
antigen (mikroba, zat asing) serta mempunyai sel pertahanan tubuh maka jika
ada antigen yang dapat menginfeksi maka kelenjar fetah bening bisa membuat
sel-sel pertahanan tubuh yang banyak untuk dapat mengatasi antigen itu
sehingga kelenjar getah bening membesar.

Pembesaran tersebut dapat berasal dari penambahan sel-sel


pertahanan tubuh yang berasal dari kenlenjar getah bening tersebut, seperti
limfosit, histiosit, sel plasma, monosit, serta limfosit, atau disebabkan
datangnya sel-sel peradangan untuk mengatasi infeksi di kelenjar getah
bening (limfadenitis), infiltrasi (masuknya) sel genas atau adanya
timbunan dari penyakit metabolit makrofaga( gaucher disease).

3
Pembuluh limfa, seperti vena, mempunyai katup yang mencegah
aliran balik cairan menuju kapiler. Kontraksi ritmik (berirama) dinding
pembuluh tersebut membantu mengalirkan cairan ke dalam kapiler
limfatik. Seperti vena, pembuluh limfa juga sangat bergantung pada
pergerakan otot rangka untuk memeras cairan ke arah jantung. Ada
beberapa perbedaan antara limfa (getah bening) dengan darah. Diantaranya
dapat dijelaskan di bawah ini.
Cairan limfa berwarna kuning keputih-putihan yang disebabkan
karena adanya kandungan lemak dari usus. Jika darah tersusun dari banyak
sel-sel darah, maka pada limfa hanya terdapat satu macam sel darah, yaitu
limfosit, yang merupakan bagian dari sel darah putih. Limfosit inilah yang
akan menyusun sistem imunitas pada tubuh, karena dapat menghasilkan

4
antibodi.

Cairan limfa juga memiliki kandungan protein seperti pada plasma


darah, namun pada limfa ini kandungan proteinnya lebih sedikit dan
mengandung lemak yang dihasilkan oleh usus. Perbedaan lain juga terlihat
pada pembuluh limfa. Berbeda dengan pembuluh darah, pembuluh limfa
ini memiliki katup yang lebih banyak dengan struktur seperti vena kecil
dan bercabang-cabang halus dengan bagian ujung terbuka. Dari bagian
yang terbuka inilah cairan jaringan tubuh dapat masuk ke dalam pembuluh
limfa.

5
Secara garis besar, sistem limfatik mempunyai 3 fungsi, yaitu:
1. Aliran Cairan Interstisial
Cairan interestial yang menggenangi jaringan secara terus
menerus yang diambil oleh kapiler kapiler limfatik disebut dengan
Limfa. Limfa mengalir melalui sistem pembuluh yang akhirnya
kembali ke sistem sirkulasi. Ini dimulai pada ekstremitas dari sistem
kapiler limfatik yang dirancang untuk menyerap cairan dalam jaringan
yang kemudian dibawa melalui sistem limfatik yang bergerak dari
kapiler ke limfatik (pembuluh getah bening) dan kemudian ke kelenjar
getah bening. Getah bening ini disaring melalui benjolan dan keluar
dari limfatik eferen. Dari sana getah bening melewati batang limfatik
dan akhirnya ke dalam saluran limfatik. Pada titik ini getah bening
dilewatkan kembali ke dalam aliran darah dimana perjalanan ini
dimulai lagi.
2. Mencegah Infeksi
Sementara kapiler getah bening mengumpulkan cairan
interstisial mereka juga mengambil sesuatu hal lain seperti virus dan
bakteri, ini terbawa dalam getah bening sampai mereka mencapai
kelenjar getah bening yang mana dirancang untuk menghancurkan
virus dan bakteri dengan menggunakan berbagai metode. Pertama sel
makrofag menelan bakteri, ini dikenal sebagai fagositosis. Kedua sel
limfosit menghasilkan antibodi, ini dikenal sebagai respon kekebalan
tubuh. Proses ini diharapkan akan berhubungan dengan semua infeksi
yang berjalan melalui getah bening tetapi sistem limfatik tidak
meninggalkan ini di sana.
Beberapa sel limfosit akan meninggalkan node dengan
perjalanan di getah bening dan memasuki darah ketika getah bening
bergabung kembali, ini memungkinkan untuk menangani infeksi pada
jaringan lain. Ini bukan satu-satunya daerah dimana perlawanan
berlangsung, limpa juga menyaring darah dengan cara yang sama
seperti sebuah nodus yang menyaring getah bening, sel B dan sel T

6
yang bermigrasi dari sumsum tulang merah dan Thymus yang telah
matang pada limpa (ada 3 jenis sel T yang menakjubkan, itu adalah
memori T sel yang dapat mengenali patogen yang telah memasuki
tubuh sebelumnya. Dan dapat menangani mereka dengan lebih cepat,
sel T lainnya disebut helper dan sitotoksik) yang melaksanakan fungsi
kekebalan, sedangkan sel makrofag limpa menghancurkan sel-sel
darah patogen yang dilakukan oleh fagositosis. Ada nodul limfatik
seperti amandel yang menjaga terhadap infeksi bakteri yang mana ini
menggunakan sel limfosit. Kelenjar timus mematangkan sel yang
diproduksi di sumsum tulang merah. Setelah sel-sel ini matang, sel-sel
ini kemudian bermigrasi ke jaringan limfatik seperti amandel yang
mana kemudian berkumpul pada suatu wilayah dan mulai melawan
infeksi. Sumsum tulang Merah memproduksi sel B dan sel T yang
bermigrasi ke daerah lain dari sistem getah bening untuk membantu
dalam respon kekebalan.
3. Pengangkutan Lipid (lemak)
Jaringan kapiler dan pembuluh juga mengangkut lipid dan
vitamin yang larut lemak A, D, E dan K ke dalam darah, yang
menyebabkan getah bening berubah warna menjadi krem. Lipid dan
vitamin yang diserap dalam saluran pencernaan dari makanan dan
kemudian dikumpulkan oleh getah bening pada saat ini dikirimkan ke
darah. Tanpa sistem limfatik kita akan berada dalam kesulitan,
memiliki masalah dengan banyak penyakit. Jaringan tubuh akan
menjadi macet dengan cairan dan sisa-sisa yang membuat kita
menjadi bengkak. Kita juga akan kehilangan vitamin yang diperlukan.

7
B. Asal Getah Bening
Ketika darah melalui kapiler-kapiler di dalam jaringan, cairan
merembes keluar melalui dinding kapiler yang berpori dan besirkulasi di
dalam jaringan tersebut untuk mendarahi setiap sel. Cairan ini disebut cairan
jaringan atau cairan interstisial. Cairan ini mengisi interstisium atau ruang
antar sel yang terdapat di berbagai jaringan. Cairan ini jernih, encer, dan
berwarna jerami, mirip plasma darah yang merupakan asalnya. Apabila darah
bersirkulasi hanya melalui pembuluh darah, cairan jaringan bersirkulasi
melalui jaringan dan membawa zat-zat nutrisi, oksigen, dan air dari aliran
darah ke masing-masing sel dan membawa produk-produk sisa, seperti
karbon dioksida, urea, dan air, dan menghantarkan mereka ke dalam darah.
Dengan kata lain, cairan ini merupakan medium penghubung antara sel-sel
jaringan dan darah.
Dari sejumlah cairan yang keluar dari kapiler ke dalam jaringan,
sebagian diantaranya kembali ke sirkulasi melalui dinding kapiler, tetapi
proses kembali ini lebih sulit daripada proses keluarnya karena adanya aliran
darah yang terus-menerus datang dari kapiler. Kelebihan cairan yang tidak
dapat kembali langsung ke dalam aliran darah bergabung dan kembali ke
aliran darah melalui perangkat pembuluh kedua, yang membentuk sistem
limfatik dan cairan yang mengisi pembuluh ini disebut limfa (getah bening).

8
C. Patofisiologi dan Anatomi Fisiologi Kelenjar Getah Bening
Pembesaran KGB dapat dibedakan menjadi pembesaran KGB lokal
(limfadenopati lokalisata) dan pembesaran KGB umum (limfadenopati
generalisata). Limfadenopati lokalisata didefinisikan sebagai pembesaran
KGB hanya pada satu daerah saja, sedangkan limfadenopati generalisata
apabila pembesaran KGB pada dua atau lebih daerah yang berjauhan dan
simetris. Ada sekitar 300 KGB di daerah kepala dan leher, gambaran lokasi
terdapatnya KGB pada daerah kepala dan leher adalah sebagai berikut:

Gambar kelenjar getah bening leher dan drainage

Gambar kelenjar getah bening aksila dan drainage

9
Gambar kelenjar getah bening aksila dan drainage

Sistem Limfatik

Gambar letak getah bening pada pembuluh darah jantung


Sistem limfatik (lymphatic system) atau sistem getah bening
membawa cairan dan protein yang hilang kembali ke darah .Cairan memasuki
sistem ini dengan cara berdifusi ke dalam kapiler limfa kecil yang terjalin di
antara kapiler-kapiler sistem kardiovaskuler. Apabila suda berada dalam
sistem limfatik, cairan itu disebut limfa (lymph) atau getah bening,
komposisinya kira-kira sama dengan komposisi cairan interstisial. Sistem

10
limfatik mengalirkan isinya ke dalam sistem sirkulasi di dekat persambungan
vena cava dengan atrium kanan.
Pembuluh limfa, seperti vena , mempunyai katup yang mencegah
aliran balik cairan menuju kapiler. Kontraksi ritmik (berirama) dinding
pembuluh tersebut membantu mengalirkan cairan ke dalam kapiler limfatik.
Seperti vena, pembuluh limfa juga sangat bergantung pada pergerakan otot
rangka untuk memeras cairan ke arah jantung.
Di sepanjang pembuluh limfa terdapat organ yang disebut nodus
(simpul) limfa (lymph node) atau nodus getah bening yang menyaring limfa.
Di dalam nodus limfa terdapat jaringan ikat yang berbentuk seperti sarang
lebah denagn ruang-ruang yang penuh dengan sel darah putih. Sel-sel darah
putih tersebut berfungsi untuk menyerang virus dan bakteri. Organ-organ
limfa diantanya kelenjar getah bening (limfonodus), tonsil, tymus, limpa (
spleen atau lien) , limfonodulus. System limfe terdiri dari pembuluh limfe,
nodus limfatik, organ limfatik, nodul limfatik, sel limfatik. Pembuluh limfe
merupakan muara kapiler limfe, menyerupai vena kecil yang terdiri atas 3
lapis dan mempunyai katup pada lumen yang mencegah cairan limfe kembali
ke jaringan. Kontraksi otot yang berdekatan juga mencegah limfe keluar dari
pembuluh. Tonsil merupakan kelompok sel limfatik dan matrix extra seluler
yang dibungkus oleh capsul jaringan pemyambung, tapi tidak lengkap. Terdiri
atas bagian tengah (germinal center) dan Crypti.Tonsil ditemukan
dipharyngeal yaitu :
1. Tonsil pharyngeal (adenoid), dibagian posterior naso pharynx
2. Tonsil palatina, posteo lateral cavum oral
3. Tonsil lingualis, sepanjang 1/3 posterior lidah
Nodus limfaticus terdapat di sepanjang jalur pembuluh limfe berupa
benda oval atau bulat yang kecil. Ditemukan berkelompok yang menerima
limfe dari bagian tubuh. Fungsi utama nodus limfaticus untuk menyaring
antigen dari limfe dan menginisiasi respon imun. Timus terletak di
mediastinum anterior berupa 2 lobus. Pada bayi dan anak-anak, timus agak
besar dan sampai ke mediastinum superior. Timus terus berkembang sampai

11
pubertas mencapai berat 30 -50 gr. Kemudian mengalami regresi dan
digantikan oleh jaringan lemak (Iryani, 2010).
Pada orang dewasa timus mengalami atrofi dan hampir tidak
berfungsi. Limpa terletak di Quadran atas kiri abdomen, di inferior
diaphragma yang memanjang dari iga 9 – 11, terletak dilateralis ginjal dan
posterolateral gaster. Fungsi limfa yaitu:
1. Menginisiasi respon imun bila ada antigen didalam darah
2. Reservoir eritrosit dan platelet
3. Memfagosit eritrosit dan platelet yang defectiv
4. Phagosit bacteri dan benda asing lainnya
Pembuluh Getah Bening
1. Kapiler getah bening
Kapiler getah bening terdiri dari:
a. Saluran yang berdinding tipis
b. Dilapisi endotel
c. Lumennya tidak teratur
Kapiler getah bening merupakan pembuluh Limfe yang terkecil,
membentuk anyaman yang luas & berakhir buntu. Berfungsi:
menampung cairan Limfe yang berasal dari masing2 kapiler .
2. Pembuluh getah bening yang besar
Kapiler-kapiler getah bening bergabung dengan pembuluh getah
bening yang lebih besar .Terdiri dari saluran yang dindingnya lebih tebal
memiliki katub. Dindingnya terdiri dari 3 lapisan:
a. T. Intima terdiri dari endotel dan sabut elastis.
b. T. Media terdiri dari sabut otot plos.
c. T. Adventitia terdiri dari sabut kolagen, sabut elastis, dan sabut otot
polos.
Dalam perjalanan pembuluh getah bening yang besar, pembuluh
getah bening ini mencurahkan isinya ke dalam kelenjar getah bening
(Lymph Nodes). Katub pembuluh getah bening merupakan lipatan T.
Intima yang terdiri dari jaringan ikatkendor, dan dilapisi endotel yang

12
terletak berpasangan dan berhadapan kedua ujung bebas searah dengan
aliran limfe.

Gambar aliran limfe pada pembuluh getah bening


3. Pembuluh limfe besar
Pembuluh limfe besar merupakan gabungan dari pembuluh limfe,
membentuk 2 pembuluh limfe utama:
a. Ductus Lymphaticus Dexter, menerima cairan limfe dari bagian
kanan atas tubuh.
d. Ductus Thoracicus, Menerima cairan limfe dari bagian tubuh kiri &
kanan saluran pencernaan makanan. Dindingnya terdiri dari: T.
Intima terdiri dari sabut kolagen dan sabut elastis, T. Media terdiri
dari sabut otot plos, T. Adventitia terdapat pada Vasa Vasorum.
D. Etiologi
Makin tua usia makin tinggi risiko terkena limfoma karena daya tahan
tubuhnya menurun. Hingga kini penyebab limfoma belum diketahui secara
pasti. Ada empat kemungkinan penyebabnya yaitu faktor keturunan, kelainan
sistem kekebalan, infeksi virus atau bakteri dan toksin lingkungan (herbisida,
pengawet, pewarna kimia).
Banyak keadaan yang dapat menimbulkan limfadenopati. Keadaan-
keadaan tersebut dapat diingat dengan mnemonik MIAMI: malignancies
(keganasan), infections (infeksi), autoimmune disorders (kelainan autoimun),
miscellaneous and unusual conditions (lain-lain dan kondisi tak-lazim), dan
iatrogenic causes (sebab-sebab iatrogenik) (Amaylia, 2013).
Etiologi limfadenopati terangkum pada tabel

13
No
Penyebab Karakteristik
.
1. Keganasan
a. Limfoma Demam, keringat malam,
penurunan berat badan,
asimtomatik.
b. Leukemia Memar, splenomegali
c. Neuplasma kulit Lesi kulit karakteristik
d. Metastasis Bervariasi tergantung tumor kulit

2. Infeksi
a. Bruselosis Demam, menggigil, malaise
b. Cat-Scratch disease Demam, menggigil, asimptomatik
c. CMV Hepatitis, pneumonitis
d. HIV, infeksi primer Nyeri, promiskuitas seksual
e. Limfogranuloma Demam, malaise, splenomegali
venereum
f. Mononukleosis Demam, eksudat orofangineal
g. Faringitis Ruam kareakterisitik, demam
h. Rubela Demam, keringat malam,
hemoptisis
i. Tuberkulosis Demam, ulkus pada tempat
j. Tularemia gigitan
k. Demam tifoid Damam, konstipasi, diare
l. Sifilis Ruam, ulkus tanpa nyeri
m. Hepatitis virus Demam, mual, muntah, diare
Artritis, nefritis, anemia, ruam

14
3. Autoimun
a. Lupus eritematosus Artritis simetris, kaku pada pagi
sistemik hari, demam
b. Artritis reumatoid Perubahan kulit, kelemahan otot
proksimal
c. Dermatomiositis Keratokonjungtivitis, gangguan
ginjal, vaskulitis
d. Sindrom sjogren Demam, conjungtivitis,
strawberry tongue

4. Lain-lain atau kondisi


tak lazim
a. Penyakit kawasaki Perubahan kulit, dispepsia,
adenopati hilar
b. Sarkoidosis Demam, urtikaria, fatique

5. Latrogenik
a. Serum sicknnes Limfadenopati asimptomatik
b. Obat

E. Penyebab Kelenjar Getah Bening


1. Infeksi virus atau bakteri
Sebagian besar kasus adenopati disebabkan oleh infeksi virus atau
infeksi bakteri. Sering kali, pembengkakan terjadi di dekat bagian tubuh
yang terinfeksi. Misalnya, pembengkakan yang terjadi di sekitar leher
biasanya disebabkan oleh infeksi tenggorokan. Penyakit lain akibat infeksi
virus, bakteri, dan jamur yang bisa menyebabkan adenopati adalah sebagai
berikut:
 Cacar air
 Campak
 HIV
 Herpes
 Flu

15
 Adenovirus
 Radang tenggorokan
 Radang amandel
 Infeksi telinga
 Penyakit lyme
 Penyakit TBC
 Klamidia
 Sipilis
2. Penyakit autoimun
Pembengkakan kelenjar getah bening juga bisa terjadi akibat
penyakit autoimun akibat sistem kekebalan tubuh malah keliru menyerang
jaringan yang sehat, seperti:
a. Rheumatoid arthritis
b. Lupus
c. Sarcodiosis
3. Kanker
Terkadang kanker juga bisa menjadi penyebab pembengkakan
kelenjar getah bening. Contohnya, limfoma dan beberapa jenis leukimia.
Saat kanker bermetastatik alias menyebar, terkadang terjadi juga
pembengkakan kelenjar. Misalnya, ketika kanker payudara menyebar ke
kelenjar getah bening, akan muncul adenopati di ketiak (axilla), atau
ketika kanker paru-paru menyebar ke kelenjar getah bening, akan ada
adenopati di sekitar tulang selangka.
4. Penyebab lain
Hal lain yang juga bisa menyebabkan pembengkakan kelenjar
getah bening adalah cedera, atau penggunaan obat-obatan tertentu seperti
dilantin (obat pencegahan malaria

BAB III

16
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa sistem getah bening
(limfatik) adalah suatu sistem sirkulasi sekunder yang berfungsi mengalirkan
limfa atau getah bening di dalam tubuh. Sistem limfatik (lymphatic system)
atau sistem getah bening membawa cairan dan protein yang hilang kembali ke
darah. Secara garis besar, sistem limfatik mempunyai 3 fungsi, yaitu aliran
cairan interstisial, mencegah infeksi dan pengangkutan lipid (lemak).
B. Saran
Sistem limfatik merupakan bagian penting dari sistem kekebalan
tubuh yang membentuk pertahanan alamiah tubuh melawan infeksi dan
kanker. Kita harus selalu menjaga kesehatan kita agar tidak memberatkan
kerja kelenjar getah bening sehingga tidak menyebabkan mutasi sel limfosit
yang normal menjadi ganas yang dapat tumbuh menjadi kanker kelenjar getah
bening.

17