Anda di halaman 1dari 35

INTEGRASI GENDER DAN HAM

2.1         Paradigma dan Filosofi Bidan Berspektif Gender dan HAM


2.1.1        Definisi Bidan dan Kebidanan
Bidan adalah profesi yang peduli terhadap perbakan kesehatan reproduksi perempuan
selama siklus hidup mereka.
Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang terakreditasi,
memenuhi kualifikasi untuk didaftarkan, disertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk
praktik kebidanan. Bidan diakui sebagai seorang profesional yang bertanggung jawab dan
akuntabel, bermitra dengan perempuan dalam memberikan dukungan, informasi berdasarkan
bukti, asuhan dan nasihat yang diperlukan selama masa kehamilan, persalinan dan nifas,
memfasilitasi kelahiran atas tanggung jawabnya sendiri serta memberikan asuhan kepada bayi
baru lahir dan anak. Asuhan tersebut mencakup upaya pencegahan, mendeteksi adanya
komplikasi pada ibu dan anak, memperoleh akses bantuan medis dan melakukan tindakan
kegawatdaruratan. Bidan mempunyai peran penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan,
tidak saja untuk perempuan yang bersangkutan, tetapi juga untuk keluarga dan komunikasinya.
Tugasnya harus juga mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta
permasalahan tertentu dari kesehatan reproduksi perempuan, keluarga berencana dan asuhan
anak. Dia dapat berpraktik di berbagai tempat, meliputi rumah, masyarakat, pondok bersalin,
klinik dan rumah sakit atau di pelayanan lainnya.

Kata kunci definisi bidan


a.         Pendidikan formal kebidanan
b.         Kemitraan
c.         Berdasarkan bukti
d.        Tanggung jawab sendiri
e.         Lingkup asuhan:
       Promosi kesehatan dan preventif
       Deteksi dini komplikasi ibu dan anak
       Melakukan tindakan ke
       gawatdaruratan
       Tugas penting :
o    Pendidikan kesehatan dan konseling untuk ibu, keluarga dan masyarakat
o    Pendidikan antenatal dan persiapan sebagai orang tua
o    Memperluas area dari kesehatan reproduksi perempuan, keluarga berencana dan asuhan anak
       Tempat bekerja :
o    Rumah
o    Masyarakat
o    Klinik/klinik bersalin
o    Rumah sakit
o    Pusat kesehatan lainnya

2.1.2        Paradigma Kebidanan


Paradigma Kebidanan adalah suatu cara pandang bidan dalam meberikan pelayanan.
Keberhasilan pelayanan dipengaruhi oleh pengetahuan  dan cara pandang bidan dalam kaitan
atau hubungan timbale balik antara manusia/perempuan, lingkungan, perilaku, pelayanan
kebidanan dan keturunan. Bidan bermitra dengan perempuan, ia pelindung perempuan. Karena
itu dalam praktiknya bidan harus sensistif terhadap kebutuhan dan masalah yang ada pada
perempuan. Untuk pelayanan yang berkualitas kerangka konsep berikut menggambarkan
penghargaan bidan terhadap hak-hak perempuan dan hak reproduksinya.
Kerangka Konsep Bidan dengan Kacamata Gender
Budaya
( Agama & Suku)

Aktualisasi
Penghargaan hak-hak
Perempuan sebagai hak
 Sosial
asasi manusia ;   Ekonomi
(Kelas & Usia)
pandangan hak-hak
reproduksi sebagai hak
perempuan

Sensitif Gender
Politik

Lingkaran dalam : Akultualisasi penghargaan hak-hak perempuan sebagai hak asasi


perempuan dan memandang hak-hak reproduksi sebagai hak-hak perempuan karena kita ingin
menghasilkan bidan yang sensitive gender.
Lingkaran tengah: Bidan dengan kacamata/sensitive gender
   Hak-hak perempuan adalah hak-hak manusia, dan hak-hak reproduksi adalah hak-hak perempuan.
Bidan yang sensitive gender melihat pasiennnya dari konteks kehidupan sosialnya di masyarakat.
   Gender menbantu mengungkap hubungan kekuasaan yang tidak adil antara laki-laki dan
perempuan. Paradigm bidan melihat perempuan sebagai individu yang khusus. Kita harus
menghormati setiap perempuan.
   Bidan yang sensitive gender tidak hanya menangani masalah fisik pasiennya saja.
   Seorang bidan harus menekankan di dalam benaknya bahwa isu gender merupakan kunci dalam
meningkatkan kualitas pelayanan perempuan dan secara tidak langsung memperbaiki kualitas
kesehatan laki-laki dan seluruh keluarga, termasuk masyarakat.
   Ceramah sebagai metode pengajaran kognitif, harus tumbuh dari hati dan tercermin dalam sikap.
Lingkaran luar: dalam meberikan pelayanan kepada perempuan, pertimbangkan:
Pluralitas, etnis, usia dan sebagainya. Toleransi dan sifat sensitif terhadap elemen agama
merupakan kunci keberhasilan sebuah program kesehatan.

2.1.3        Filosofi Dasar Bidan Indonesia


Ikatan Bidan Indonesia (IBI) mengadopsi filosofi dasar, yaitu bidan haruslah:
a.              Yakin bahwa kehamilan dan/atau persalinan adalah proses alamiah, dan bukan merupakan
proses patologis, tetapi harus diingatkan bahwa kondisi yang semula alamiah (normal) ini dapat
berubah menjadi kondisi patologis (abnormal).
b.             Yakin bahwa setiap perempuan mempunyai kepribadian unik dan dia harus mempunyai hak
mengendalikan kebutuhan dirinya sendiri dan bila patut dihormati. Kepribadian yang unik berarti
setiap perempuan mempunyai fisik, emosi, mental, social dan budaya yang berbeda.
c.              Yakin bahwa tugas utama asuhan kebidanan adalah untuk menjamin kesejahteraan perempuan
dan bayi baru lahir yang ditolongnya. Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan
pendidikan bukan hanya bagi kliennya saja, tetapi juga keluarga, khususnya mengenai. proses
normal atau fisiologis harus dipertahankan; tetapi, apabila timbul komplikasi maka harus
memanfaatkan teknologi dan rujukan yang tepat.
d.             Yakin bahwa perempuan, sebagai klien dari pelayanan kebidanan mempunyai hak untuk
memilih dan memutuskan siapa penolong persalinnya dan dimana dia akan melahirkan. Bidan
harus menghargai pilihan individu kliennya dan bahwa keputusan itu merupakan hasil dari
tanggung jawab bersama antara klien (perempuan), keluarga dan bidan.
e.              Yakin bahwa focus asuhan kebidanan adalah untuk memberikan upaya pencegahan termasuk
upaya peningkatan kesehatan secara lengkap dan menyeluruh, yang terdiri dari pemberian
informasi yang relevan dan obyektif dan konseling kepada klien yang menjadi tanggung jawab.
Dengan dukungan dan perhatian, perempuan dapat melahirkan dengan aman dan selamat. Oleh
karena itu, asuhan kebidanan harus aman, memuaskan, menghormati dan memberdayakan
perempuan dan keluarganya.
f.              Yakin bahwa asuhan kebidanan harus tetap mempertahankan, mendukung dan menghargai
proses fisiologis. Intervensi dan penggunaan teknologi dalam asuhan hanya atas indikasi. Bidan
adalah praktisi mandiri, tetapi juga berkonsultasi dengan para professional kesehatan lain, dan
melakukan rujukan bila ada kebutuhan asuhan diluar kompetensi bidan.
g.             Yakin bahwa dalam mengembangkan kemandirian profesi, bidan harus membangun kemitraan
dengan disiplin ilmu lain dan masyarakat setempat untuk mendukung upaya pemberdayaan
perempuan. Untuk mebantu perempuan yang mecari/ membutuhkan pelayanan kesehatan
reproduksi, bidan harus menyediakan asuhan, dukungan dan bimbingan yang berkesinambungan
sepanjang siklus kehidupan reproduksi perempuan (IBI 2003).
2.2         KERANGKA KONSEP ASUHAN KEBIDANAN
2.2.1        Kerangka Konsep Asuhan kebidanan di Indonesia
Kongres Ikatan Bidan Indonesia ke-13 pada 7-11 september 2003, dalam konsultasinya
dengan departemen kesehatan-direktorat keperawatan dan Teknis Medik (dibawah Direktorat
General Pelayanan Medik) menerbitkan sebuah buku yang berisi tentang tujuan umum, tujuan
khusus, definisi, filosofi, jenis pelayanan kebidanan berdasarkan kewenangan bidan dan langkah-
langkah manajemen asuhan kebidanan sebagai bagian terpadu dari sistem pelayanan kesehatan
yang lebih besar.
Ikatan Bidan Indonesia telah mengadopsi sebuah kerangka konsep dimana faktor-faktor
penentu (determinan) didalamnya terdalam analisisi dengan berbagaicara untuk mengukur
perubahan di tingkat Individu, program dan dampak. Kerangka konsep ini terdiri dari
determinan, proses dan hasil yang diharapkan.
a.              Faktor penentu (determinan) : meliputi filosofi dasar, sensitifitas akan kaebutuhan dasar
permpuan dan bayi mereka ; dan kompetensi untuk membuat keputusan dalam memberikan
asuhan kebidanan.
b.             Bidan sebagai pemberi asuhan : Akuntabel atas tindakan mereka. Berdasarkan Kode Etik
Internasional ICM Tahun 1993, agar bidan menjadi akuntabel terhadap apa yang mereka
lakukan, maka mereka harus :
           Telah dididik dalam sebuah program pendidikan yang dirancang untuk memperoleh
pengetahuan dan keterampilan untuk kompetensi ;
           Secara rutin diperbarui dan diperluas pengetahuan dan keterampilan yang menjadi dasar
kompetensi praktik kebidanan.
c.              Perempuan sebagai penerima asuhan : dipaengaruhi oleh tingkat penngetahuan untuk
beradaptasi, mengolah informasi dan konseling yang diterimanya, serta tingkat otonomi untuk
membuat keputusan berdasarkan pilihan (Informed Decisions).
d.             Proses asuhan menggambarkan bahwa bidan sebagai sebuah profesi yang didasari kemitraan
antara perempuan sebagai penerima asuhan dan bidan sebagai penyedia asuhan. Misalnya, bidan
bersama-sama dengan perempuan dan keluarganya, bekerja untuk memberdayakan diri mereka
sendiri dan orang lain. Proses asuhan dipengaruhi oleh dua aspek:
  Standar Praktik : Praktik kebidanan yang baik berdasarkan  fakta yang tersedia, pemikiran kritis,
pengambilan keputusan yang bertanggung jawab yang mengambil ukuran rasional yaitu untuk
menghindari kerusakan yang tidak perlu pada kemajuan persalinan dan kelahiran normal,
menghormati perbedaan budaya lokal dan etik dan nasihat yang benar bagi perempuan dalam
membuat pilihan tentang apa yang digunakan atau tidak digunakannya selama persalinan ;
  Strategi : memperlakukan perempuan menggunakan pendekatan secara menyuluruh (Holistik)
yang berpusat pada perempuan, secara berkesinambungan untuk meningkatnan kompetensi
dalam memenuhi kebutuhanklien pada kondisi apapun, melakukan intervensi dan rujukan yang
tepat, memelihara kepercayaan dan saling menghargai antara bidan dan klien, menyediakan
panduan dan memfsilitasi klien untuk membuat keputusan serta kreatif dalam memberikan
asuhan. Meberikan dukungan bagi seluruh perempuan agar tercapai hak-hak azasi manusia dan
hak untuk memperoleh asuhan kebidanan yang berkualitas.
  Hasil yang diharapkan : semua bidan berkualifikasi dikenali karena tingkatan standar kompetensi
untuk meningkatkan kepuasan dan keamanan bagi perempuan dan bayi baru lahir dalam
mewujudkan keluarga ideal yang berkualitas.

Determinan : Filosofi
Asuhan kebidanan
Perempuan
Proses :
Bidan sebagai sebagai
Manajemen Asuhan Kebidanan
pemberi asuhan penerima
asuhan
Tercapainya :
Meningkatnya kepuasan dan
keamanan bagi perempuan dan
bayinya (dalam mewujudkan
keluarga bahagia dan
berkualitas)
                        Gambar 1. Kerangka Konsep Asuhan Kebidanan Indonesia, 2003
(Sumber: PP-IBI. “Dasar-dasar Asuhan Kebidanan”. Dalam Kongres Ikatan Bidan
Indonesia XIII: Kumpulan Materi Sidang Organisasi. Jakarta: P-IBI, September 7-12, 2003).

2.2.2        Definisi praktik kebidanan


Pelayanan kebidanan adalah penerapan ilmu kebidanan, dimana bidan
bertanggunghjawab atas keputusan dan tindakan dalam memberikan pelayanan asuhan
kebidanan pada klien – selama hamil, bersalin dan nifas, termasuk keluarga berencana (KB) dan
akuntabel terhadap hasil yang terkait dengan asuhan bagi perempuan dan bayi baru lahir.

2.2.3        Ruang lingkup praktik kebidanan


Berdasarkan Permenkes No.900/Menkes/SK/VII/2002, praktik kebidanan meliputi
pelayanan kebidanan, keluarga berencana dan kesehatan masyarakat.
1.             Pelayanan kebidanan : memberikan asuhan bagi perempuan mulai dari masa pra-nikah, pra
kehamilan, selama kehamilan hingga melahirkan, nifas, menyusui, interval antara kehamilan
hingga masa menopause. Pelayanan kepada bayi baru lahir, bayi dan balita ( Usia 1-5 tahun).
2.             Pelayanan Keluarga Berencana : memberikan konseling KB dan penyediaan berbagai jenis
kontrasepsi, lengkap dengan nasihat/ tindakan jika timbul efek samping.
3.             Pelayanan kesehatan masyarakat : memberikan asuhan bagi keluarga yang mengasuh anak,
termasuk pembinaan kesehatan keluarga, kebidanan komunitas, termasuk persalinan dirumah,
kunjungan rumah, serta deteksi dini kelainan pada ibu dan anak.

2.2.4        Bidan, Perempuan dan Hak Asasi Manusia


Pelanggaran atau kurangnya perhatian terhadap hak asasi manusia berdampak buruk bagi
kondisi kesehatan (misal praktik tradisional yang membahayakan, perlakuan menganiaya/ tidak
berperikemanusiaan, merupakan kekerasan terhadap perempuan dan anak ). Oleh karena itu,
bidan harus mendukung kebijakan dan program yang dapat meningkatkan hak asasi manusia
didalalm menyusun atau melaksanakannya (misal tidak ada diskriminasi, otonomi individu, hak
untuk berpartisipasi, pribadi dan informasi).  Karena perempuan lebih rentan terhadap penyakit,
dapat dilakukan langkah-langkah untuk menghormnati dan melindungi perempuan (misal
terbebas dari diskriminasi berdasarkan ras, jenis kelamin,  peran gender, hak atas kesehatan,
makanan, pendidikan dan perumahan).
Konfederasi Bidan Internasional (ICM) mendukung seluruh upaya untuk memberdayakan
perempuan dan untuk mamberdayakan bidan sesuai hak asasi manusia dan sebuah pemahaman
tentang tanggung jawab yang dipikul seseorang untuk memperoleh haknya.
ICM menyatakan keyakinannya, sesuai dengan Kode Etik Kebidanan (1993), Visi dan
Strategi Global ICM (1996), definisi bidan yang dikeluarkan oleh ICM/ FIGO/ WHO (1972),
dan Deklarasi Universal PBB tentang Hak Asasi Manusia (1948), yang menyatakan bahwa
perempuan patut dihormati harkat dan martabatnya sebagai manusia dalam segala situasi dan
pada seluruh peran yang dilalui sepanjang hidupnya.
Konfederasi juga meyakini bahwa saeluruh individu harus dilakukan dengan rasa hormat
atas dasar kemanusiaan, dimana setiap orang harus merujuk pada hak asasi manusia dan
bertanggung jawab atas konsekuensi atau tindakan untuk menegakkan hak tersebut.
Konfederasi juga meyakini bahwa salah satu peran terpenting dari bidan adalah untuk
memberikan secara lengkap, komprehensif, penuh pengertian, kekinian (up-to-date) dan
berdasarkan ilmu pendidikan serta informasi dasar sehingga dengan pengetahuannya
perempuan/keluarga dapat berpartisifasi di dalam memilih/ memutuskan apa mempengaruhi
kesehatan mereka dan menyusun serta menerapkan pelayanan kesehatan mereka.
Penerapan sebuah etika dan pendekatan hak asasi manusia pada pelayanan kesehatan
harus menghormati budaya, etnis/ ras, gender dan pilihan individu disetiap tingkatan dimana
tidak satupun dari hasil ini mebahayakan kesehatan dan kesejahteraan perempuan, anak dan laki-
laki. Ketika seseorang bidan menghadapi situasi yang berpotensi mebahayakan diri atau orang
lain, apakah dikarenakan ketiadaan hak asasi manusia, kekejaman atau kekerasan, atau praktik
budaya, mampunyai tugas etik untuk mengintervensi dengan perilaku yang tepat untuk
menghentikan bahaya dengan tetap memikirkan keselamatan dirin ya dari bahaya selanjutn ya
(diadaptasi dari the International Confederation Of Midwives Council, Manila, May 1999).

2.3         KONSEP ASUHAN KEBIDANAN


2.3.1        Pengertian Konsep Asuhan Kebidanan
            Zaman dahulu kelahiran manusia diartikan sebagai hukum keajaiban alam yang
terbesar. Alam menghendakinya an alam pulalah yang menyediakan keperluan-keperluan
baginya. Setelah kemajuan lebih maju kebidanan adalah ilmu yang mempelajari kelahiran
manusia, mulai dari kandungan sampai melahirkan.
Kebidanan merupakan ilmu yang terbentuk dari sintesa berbagai disiplin ilmu (Multi
disiplin) yang terkait dengan pelayanan kebidanan yang meliputi : ilmu kedokteran,
keperawatan, sosial, perilaku, kesehatan masyarakat, budaya, manajemen (untuk memberi
penyuluhan pada ibu dalam masa pra konsepsi, hamil, bersalin, postpartum, bayi baru lahir, yang
meliputi pendeteksian keadaan abnormal pada ibu dan anak, melaksanakan konseling dan
pendidikan kesehatan terhadap individu, keluarga dan masyarakat).
Konsep asuhan kebidanan adalah konsep penerapan fungsi, kegiatan dan tanggung jawab
bidan dalam pelayanan yang diberikan kepada klien yang memiliki kebutuhan dan/atau masalah
kebidanan (kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, keluarga berencana, kesehatan
reproduksi pada wanita dan pelayanan kesehatan pada masyarakat). Berisi teori-teori yang
mengacu pada suatu pemikiran atau ide tentang kebidanan yang mencakup beberapa hal yang
berkenaan dengan bidan dan kebidanan yang akan memberikan suatu kejelasan yang
menjelaskan bidan sebagai suatu profesi.
Tujuan konsep asuhan kebidanan adalah menjamin kepuasan dan keselamatan ibu dan
bayinya sepanjang siklus reproduksi, mewujudkan keluarga bahagia dan berkualitas melalui
pemberdayaan perempuan dan keluarganya dengan menumbuhkan rasa percaya diri.
Keberhasilan tujuan konsep asuhan kebidanan antara lain dipengaruhi oleh adanya
keterkaitan penerapan masing-masing komponen yang dapat memengaruhi  keberhasilan konsep
asuhan kebidanan, baik dari pemberian asuhan maupun penerimaan asuhan.

2.3.2        Faktor-Faktor Konsep Asuhan Kebidanan


Faktor-faktor dari konsep asuhan kebidanan antara lain:
1.         Nilai, etika, falsafah yang dianut oleh bidan.
2.         Kepekaan terhadap kebutuhan asuhan.
3.         Kemampuan memfasilitasi dan mengambil keputusan dalam bertindak.

2.4         INTEGRASI
2.4.1        Pengertian Integrasi
            Integrasi berasal dari bahasa inggris yaitu “integration" yang berarti
kesempurnaan atau keseluruhan. integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara
unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola
kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi.
Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik
beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih
tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi memiliki 2 pengertian,
yaitu :

            Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu

            Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu.

2.5         GENDER
2.5.1        Pengertian Gender
            Pengertian gender berkaitan dengan peran dan tanggung jawab antara perempuan dan
laki-laki. Hal ini ditentukan oleh nilai-nilai sosial budaya yang berkembang.
Laki-laki dan perempuan, di semua lapisan masyarakat memainkan peran yang berbeda,
mempunyai kebutuhan yang berbeda, dan menghadapi kendala kendala yang berbeda pula.
Masyarakatlah yang membentuk nilai dan aturan tentang bagaimana harus berperilaku,
berpakaian, bekerja apa dan boleh berpergian kemana, dan contoh lainnya.
Nilai dan aturan bagi laki-laki dan perempuan di setiap masyarakat berbeda sesuai dengan
nilai sosial-budaya setempat dan seringkali berubah seiring dengan perkembangan budaya.
Di beberapa daerah contohnya, menjaga hasil bumi yang akan dijual menjadi tugas
perempuan, sementara di daerah lain itu menjadi tugas laki-laki.

2.6         KONSEP DAN PERANGKAT ANALISIS GENDER


2.6.1        Konstruksi Sosial Gender
Sex adalah perbedaan secara biologis antara laki-laki dan perempuan- perbedaan dalam
sistem reproduksi seperti organ kelamin (penis, testis, dengan vagina, rahim, dan payudara),
hormon yang dominan dalam tubuh (estrogen dengan testosteron), kemampuan untuk
memproduksi sperma atau ovarium (telur), kemampuan untuk melahirkan dan menyusui (IPAS,
2001).
Gender mengacu pada kesempatan dan atribut ekonomi, sosial dan kultural yang
diasosiasikan dengan peran laki-laki dan perempuan dalam situasi sosial pada saat tertentu.
Konstruksi sosial tentang seksualitas mengacu pada proses pemikiran seksual, perilaku
dan kondisi (misalnya keperawanan) yang diinterpretasikan dan diberi makna konstruksi sosial
ini mencakup keyakinan kolektif dan individu tentang karakteristik tubuh, tentang apa yang
dianggap erotis atau menjijikan, serta hal apa dan dengan siapa sepantasnya laki-laki dan
perempuan melakukan atau berbicara tentang seksualitas.
Di beberapa budaya tertentu, ideologi  seksualitas menekan pada perlawanan perempuan,
agresi laki-laki, saling melawan atau menentang dalam aktivitas seksual; dalam kebudayaan lain,
penekanannya adalah saling bertukar kesenangan.
Konstruksi sosial seksualitas menjelaskan bahwa tubuh laki-laki dan perempuan
memainkan peranan penting dalam seksualitas mereka. Konstruksi sosial seksualitas juga
melihat dengan seksama konteks historis khusus dan budaya untuk memahami bagaimana
pemikiran khusus dan keyakinan tentang seksualitas dibentuk, disetujui, dan diadaptasi.
1.         Pembagian pekerjaan berbasis Gender
Dalam masyarakat, perempuan dan laki-laki melakukan aktivitas yang berbeda, walaupun
karakteristik dan cakupan aktivitas tersebut berbeda melintasi kelas dan komunitas. Aktivitas
tersebut juga boleh berubah sepanjang waktu. Perempuan biasanya bertanggung jawab dalam
perawatan anak dan pekerjaan rumah tangga atau sering disebut peran reproduksi, tetapi mereka
juga terlibat dalam produksi barang-barang untuk konsumsi rumah tangga atau pasar atau yang
dikenal dengan peran produktif. Laki-laki biasanya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan
rumah tangga, makanan, minuma dan sumber daya terutama peran produktif.

2.         Peran Gender dan Norma


Dalam masyarakat, laki-laki dan perempuan diharapkan untuk berperilaku sesuai dengan
norma dan peran maskulin dan feminin. Mereka harus berpakaian dengan cara yang berbeda,
tertarik kepada isu atau topik yang berbeda, tertarik kepada isu dan topik yang berbeda dan
memiliki respon yang tidak sama dalam segala situasi. Ada persepsi yang disepakati bersama
bahwa apa yang dilakukan oleh laki-laki baik dan lebih bernilai daripada yang dilakukan
perempuan. Dampak dari peran gender yang dibentuk secara sosial. Perempuan diharapkan
membuat diri mereka menarik dari laki-laki, tetapi bersikap agak pasif, menjaga keperewanan,
tidak pernah memulai aktivitas seksual dan melindungi diri dari hasrat seksual laki-laki yang
tidak terkendali. Dalam masyarakat tertentu, hal ini terjadi karena perempuan dianggap memiliki
dorongan seksual yang lebih rendah. Dalam masyarakat lain, cara perempuan dikendalikan
adalah berdasarkan pemikiran bahwa perempuan memiliki dorongan seksual dan secara alami
tidak dapat setia pada satu pasangan.
3.         Kekuasaan dan Pengambilan Keputusan
Mempunyai akses ke dan kontrol yang lebih besar atas sumber daya biasanya membuat
laki-laki lebih berkuasa daripada perempuan dalam kelompok sosial manapun. Hal ini dapat
menjadi kekuasaan kekuatan fisik, pengetahuan dan keterlampilan, kekayaan dan pendapatan,
atau kekuasaan untuk mengambil keputusan karena merekalah yang memegang otoritas. Laki-
laki kerap kali memiliki kekuasaan yang lebih besar dalam membuat keputusan atas reproduksi
dan seksualitas. Kekuasaan laki-laki dan kontrol atas sumber daya dan keputusan
diinstitusionalkan melalui undang-undang dan kebijakan negara, serta melalui aturan dan
peraturan institusi sosial yang formal. Hukum di berbagai negara di dunia memberi peluang
kendali yang lebih besar kepada laki-laki atas kekayaan dan hak dalam perkawinan, serta atas
anak-anak. Selama berabad-abad, lembaga keagamaan mengingkari hak perempuan untuk
menjadi lembaga keagamaan mengingkari hak perempuan untuk menjadi pemimpin agama, dan
sekolah sering kali bersikukuh bahwa ayah si anak lah yang menjadi wali resmi, bukan sang ibu.
4.         Akses ke dan kontrol atas Sumber Daya
Perempuan dan laki-laki mempunyai akses ke dan kontrol yang tidak setara atas sumber
daya. Ketidaksetaraan ini merugikan perempuan. Ketidaksetaraan berbasis gender dalam
hubungannya dengan akses ke dan kontrol atas sumber daya terjadi dalam kelas sosial, ras, atau
kasta. Tetapi, perempuan dan laki-laki dari raskelas sosial tertentu dapat saja memiliki kekuasaan
yang lebih besar dari laki-laki yang berasal dari kelas sosial yang rendah.
      Akses adalah kemampuan memanfaatkan sumber daya.
      Kontrol adalah kemampuan untuk mendefinisikan dan mengambil keputusan tentang kegunaan
sumber daya.
Contohnya, perempuan dapat memiliki akses ke pelayanan kesehatan, tetapi tidak
memiliki kendali atas pelayanan apa saja yang tersedia dan kapan menggunakan pelayanan
tersebut. Contoh lain yang lebih umum adalah perempuan memiliki akses untuk memiliki
pendapatan atau harta benda, tetapi tidak mempunyai kendali atas bagaiman pendapatan tersebut
dihabiskan atau bagaiman harta tersebut digunakan.
Perempuan memiliki akses dan kendali yang kurang atas banyak jenis sumber daya yang
berbeda.
Sumber daya ekonomi
      Pekerjaan, kredit, uang, makanan, keamanan sosial, asuransi kesehatan, fasilitas perawatan anak,
perumahan, fasilitas untuk melaksanakan tugas sosial, transportasi, perlengkapan pelayanan
kesehatan, teknologi dan perkembangan ilmiah.

Sumber daya politik


      Posisi kepemimpinan dan akses menjadi pembuat keputusan, kesempatan untuk membangun
komunikasi, melakukan negosiasi dan membuat persetujuan, sumber daya yang membantu
menjamin hak-hak seperti sumber daya sosial.
Sumber daya sosial
      Sumber daya komunitas, jaringan sosial dan keanggotaan dalam organisasi sosial.
Informasi/pendidikan
      Informasi atau masukan untuk dapat membuat atau mengambil keputusan untuk memodifikasi
atau merubah situasi, pendidikan formal, pendidikan non-formal, kesempatan untuk bertukar
informasi dan pendapat.
Waktu
                  Memilih waktu untuk bekerja, jam kerja dibayar dan fleksibel.
      Harga diri, kepercayaan diri dan kemampuan untuk mengekspresikan minat seseorang.
5.         Kekuasaan dan Pengambilan Keputusan
Mempunyai akses ke dan kontrol yang lebih besar atas sumber daya biasanya membuat
laki-laki lebih berkuasa daripada perempuan dalam kelompok sosial manapun. Hal ini dapat
menjadi kekuasaan kekuatan fisik, pengetahuan dan ketrampilan, kekayaan dan pendapatan, atau
kekuasaan untuk mengambil keputusan karena merekalah memegang otoritas. Laki-laki kerap
kali memiliki kekuasaan yang lebih besar dalam membuat keputusan atas reproduksi dan
seksualitas. Kekuasaan laki-laki dan kontrol atas sumber daya dan keputusan diinstitusionalkan
melalui undang-undang dan kebijakan negara, serta melalui aturan dan peraturan institusi sosial
yang formal. Hukum di berbagai negara di dunia memberi peluang kendali yang lebih besar
kepada laki-laki atas kekayaan dan hak dalam perkawinan, serta atas anak-anak. Selama berabad-
abad, lembaga keagamaan mengingkari hak perempuan untuk menjadi pemimpin agama, dan
sekolah seringkali bersikukuh bahwa ayah si anak lah yang menjadi wali resmi, bukan sang ibu.

2.6.2        Perbedaan Seks dan Gender


Adanya aturan ini menegaskan laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan
tugas.Perbedaan Seks dan Gender:
SEKS GENDER
Secara biologis, kita telah Kita belum memilikinya pada saat
memilikinya sejak lahir, yang selalu lahir. Gender dibangun dari proses
tidak berubah. sosial, merupakan perilaku yang
Contoh: dipelajari dan ditanamkan, dan bisa
        Hanya perempuan yang bisa diubah.
melahirkan. Contoh:
        Hanya laki-laki yang memproduksi 1.               Perempuan hanya tinggal di
sperma. rumah dan mengurus anak,tetapi laki-
laki dapat pula tinggal di rumah dan
mengurus anak seperti halnya
perempuan.
2.               Salah satu jenis pekerjaan bagi
laki-laki adalah sopir taksi, tetapi
perempuan bisa juga mengemudi taksi
sebaik yang dilakukan oleh laki-laki.

2.6.3        Peran Gender


Peran ekonomi dan sosial yang dianggap sesuai untuk perempuan dan laki-laki. Laki-laki
biasanya diidentifikasi dengan peran produktif, sementara perempuan mempunyai tiga peran:
tanggung jawab domestik, pekerjaan produktif dan kegiatan di masyarakatyang biasanya
dilakukan secara stimultan. Peran dan tanggung jawab gender berbeda antara satu budaya dengan
budaya lainnya dan dapat berubah sepanjang waktu. Hampir di semua masyarakat peran
perempuan cenderung tidak dihargai.
2.6.4        Hubungan Jenis Kelamin, Gender dan Kesehatan
Pola kesehatan dan penyakit pada laki-laki dan perempuan menunjukkan perbedaan yang
nyata. Perempuan sebagai kelompok cenderung mempunyai angka harapan hidup yang lebih
panjang daripada laki-laki, yang secara umum dianggap sebagai faktor biologis. Namun dalam
kehidupannya perempuan lebih mengalami banyak kesakitan dan tekanan daripada laki-laki.
Walaupun faktor yang melatar-belakanginya berbeda-beda pada berbagai kelompok sosial, hal
tersebut, menggambarkan bahwa dalam menjalani kehidupannya perempuan kurang sehat
dibandingkan laki-laki. Penjelasan terhadap paradoks ini berakar pada hubungan yang kompleks
antara faktor biologis jenis kelamin dan sosial (gender) yang berpengaruh terhadap kesehatan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa berbagai penyakit menyerang laki-laki dan
perempuan pada usia yang berbeda, misalnya penyakit kardiovaskuler ditemukan pada usia yang
lebih tua pada perempuan dibandingkan laki-laki.
Beberapa penyakit, misalnya anemia, gangguan makan dan gangguan pada otot serta
tulang lebih banyak ditemukan pada perempuan daripada laki-laki.
Berbagai penyakit atau gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kehamilan dan kanker
serviks; sementara itu hanya laki-laki yang dapat terkena kanker prostat.
Kapasitas perempuan untuk hamil dan melahirkan menunjukkan bahwa mereka
memerlukan pelayanan kesehatan reproduksi yang berbeda, baik dalam keadaan sakit maupun
sehat. Perempuan memerlukan kemampuan untuk mengendalikan fertilitas dan melahirkan
dengan selamat, sehingga akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas
sepanjang siklus hidupnya sangat menentukan kesejahteraan dirinya.
Kombinasi antara faktor jenis kelamin dan peran gender dalam kehidupan sosial,
ekonomi dan budaya seseorang dapat meningkatkan resiko terhadap terjadinya beberapa
penyakit, sementara di sisi lain memberikan perlindungan terhadap penyakit lainnya. Perbedaan
yang timbul dapat berupa keadaan sebagai berikut:
1.         Perjalanan penyakit pada laki-laki dan perempuan.
2.         Sikap laki-laki dan perempuan dalam menghadapi suatu penyakit.
3.         Sikap masyarakat terhadap laki-laki dan perempuan yang sakit.
4.         Sikap laki-laki dan perempuan terhadap pengobatan dan akses pelayanan kesehatan.
5.         Sikap petugas kesehatan dalam memperlakukan laki-laki dan perempuan.
Sebagai contoh, respon terhadap epidemi HIV/AIDS dimulai dengan pemberian fokus
pada kelompok resiko tinggi, termasuk pekerja seks komersial. Laki-laki menggunakan kondom.
Laki-laki dianjurkan untuk menjauhi pekerja seks komersial atau memakai kondom
Secara bertahap, fokus beralih pada perilaku resiko tinggi, yang kemudian menekankan
pentingnya laki-laki menggunakan kondom. Hal ini menghindari isu gender dalam hubungan
seksual, karena perempuan tidak menggunakan kondom tetapi bernegosiasi untuk
penggunaannya oleh laki-laki. Dimensi gender tersebut tidak dibahas, sampai pada saat jumlah
ibu rumah tangga biasa yang tertular penyakit menjadi banyak.
Dewasa ini, kerapuhan perempuan untuk tertular HIV/AIDS dianggap sebagai akibat dari
ketidaktahuan dan kurangnya akses terhadap informasi. Ketergantungan ekonomi dan hubungan
seksual yang dilakukan atas dasar pemaksaan.
Terjadinya tindak kekerasan pada umumnya berkaitan dengan gender. Secara umum
pelaku kekerasan biasanya laki-laki, yang merefleksikan keinginan untuk menunjukkan
maskulinitas, dominasi, serta memaksakan kekuasaan dan kendalinya terhadap perempuan,
seperti terlihat pada kekerasan dalam rumah tangga (domestik). Karena itu kekerasan terhadap
perempuan sering disebut sebagai “kekerasan berbasis gender”.

Akibat Kekerasan Berbasis Gender Terhadap Kesehatan

AKIBAT NONFATAL AKIBAT NONFATAL- AKIBAT FATAL


– FISIK MENTAL
Trauma fisik Stres HIV/AIDS
Nyeri kepala Depresi Bunuh diri
Gangguan saluran Cemas Pembunuhan
pencernaan
Dll.

2.6.5        Pengarustamaan Kesetaraan Gender Di Institusi Dan Hubungan Gender Dengan


Kesehatan
Pengarustamaan gender mengacu pada integrasi peduli gender dalam analisis, formulasi
dan pengawasan kebijakan, program dan proyek serta dalam organisasi yang bertujuan untuk
menyampaikan ketidakadilan gender dan ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Kebutuhan praktis berbasis gender merupakan kebutuhan yang bersifat dasar dan segera
sering kali berkaitan dengan ketidaklayakan kondisi hidup, perawatan kesehatan dan pekerjaan
seperti pusat kesehatan, memastikan persediaan air bersih dan menyediakan konsultasi keluarga
berencana. Pemusatan terhadap kebutuhan ini tidak merubah posisi laki-laki dan perempuan
dalam masyarakat.
Kebutuhan strategis berbasis gender berhubungan dengan pembagian gender dalam
bidang pekerjaan, kekuasaan dan pengawasan dan boleh jadi meliputi isu sepertihak-hak hukum,
kekerasan domestik , akses ke sumber daya, upah yang adil dan kontrol perempuan atas
tubuhnya. Pemusatan terhadap kebutuhan ini membantu perempuan mencapai kesetaraan yang
lebih baik dan menolak untuk berada di bawah laki-laki.
Pengarustamaan bukanlah aktivitas yang singkat, tetapi merupakan proses yang terus
menerus. Hal ini berarti bahwa isu ketidaksetaraan gender disampaikan atau diintegrasikan
dalam setiap aspek struktur organisasi dan program daripada sebagai aktivitas tambahan.
Pengurustamaan gender aspek penting (WHO 2001) yaitu (1) distribusi yang adil oleh laki-laki
dan perempuan, kesempatan  dan keuntungan dari proses pembangunan pengurustamaan (2)
termasuk pengalaman yang menarik dan visi perempuan dan laki-laki dalam menentukan
permulaan pembangunan, kebijakan, dan program serta menentukan agenda keseluruhan.
Dalam pengurustamaan gender, kebutuhan strategis dan praktis berbasis gender
perempuan sebaiknya dipertimbangkan. Kebutuhan praktis berbasis gender merupakan
kebutuhan yang bersifat dasar dan segera serta sering kali berkaitan dengan ketidaklayakan
kondisi hidup, perawatan kesehatan dan pekerjaan seperti perbaikan pusat kesehatan,
memastikan persediaan air bersih dan menyediakan konsultasi keluarga berencana. Pemusatan
terhadap kebutuhan ini tidak merubah posisi laki-laki dan perempuan dalam masyarakat.
Kebutuhan strategis berbasis gender berhubungan dengan pembagian gender dalam
bidang pekerjaan, kekuasaan, dan pengawasan dan boleh jadi meliputi isu seperti hak-hak
hukum, kekerasan domestik, akses ke sumber daya, upah yang adil dan kontrol perempuan atas
tubuhnya. Pemusatan terhadap kebutuhan ini membantu perempuan mencapai kesetaraan yang
lebih baik dan menolak untuk berada dibawah laki-laki.

2.6.6        Hubungan antara Gender dan Kesehatan


Dalam masyarakat, perempuan dan laki-laki berbeda karena tugas dan aktivitasnya, ruang
fisik yang mereka tempati dan orang-orang yang berhubungan dengan mereka. Namun,
perempuan memiliki akses ked an control yang kurang atas sumber daya daripada laki-laki,
khususnya akses ke pendidikan dan fasilitas pelatihan yang terbatas.
Konsep analisis gender penting sekali di bidang kesehatan karena perbedaan berbasis
gender daalam peran dan tanggung jawab, pembagian pekerjaan, akses ked an control atas
sumber daya, dalam kekuasaan dan keputusan mempunyai konsekuensi maskulinitas dan
feminitas yang berbeda berdasarkan budaya, suku dan kelas social. Sangat penting memilikin
pemahaman yang baik tentang konsep dan mengetahui karakteristik kelompok perempuan dan
laki-laki yang berhubungan dengan proses pembangunan.
Pada status kesehatan perempuan dan laki-laki. Konsekuensi boleh jadi meliputi: “risiko
yang berbeda dan kerawanan terhadap infeksi dan kondisi kesehatan,” mebuat banyaknya
pendapat tentang kebutuhan kesehatan tindakan yang tepat, akses yang berbeda ke layanan
kesehatan, yang diakibatkan oleh penyakit dan konsekuensi social yang berbeda dari penyakit
dan kesehatan.
WHO (2001) telah membuat daftar cara bagaimana dampak gender terhadap status
kesehatan:
           Pembongkaran, risiko atau kerawanan
           Sifat dasar, kekerasan dan frekuensi masalah kesehatan yang gejalanya dapat dirasakan
           Perilaku mencari kesehatan
           Akses ke layanan kesehatan
           Konsekuensi social jangka panjang dan konsekuensi kesehatan

Seks, gender dan tindakan yang disarankan


Untuk memahami bagaimana seks dan gender dikaitkan dengan kesehatan, perlu sekali
meneliti kasus tentang tuberculosis.
Gender dan tuberculosis
Secara global, 8,4 juta penduduk diperkirakan mengidap penyakit tuberculosis setiap
tahun dan hamper 2 juta kematian penduduk disebabkan oleh penyakit ini. Secara umum,
sepertiga penduduk dunia saat ini terinfeksi oleh kuman tuberculosis, lebih dari 90 persen terjadi
di Negara berkembang.
Kebanyakan yang terinfeksi tuberculosis adalah penduduk miskin dari Negara miskin.
Mereka tidah hanya rentan terhadap penyakit ini karena kehidupan dan kondisi kerja mereka,
tetapi mereka juga terpuruk dalam kemiskinan akibat tuberculosis. Orang yang mengidap TB
kehilangan 20 sampai 30 persen pendapatan rumah tangga pertahun karena penyakit ini.
Situasi ini memerlukan tindakan yang cepat untuk meberantas epidemic ini. Meneliti
dimensu gender pada TB penting sekali untuk mengatasi hambatan yang ditemukan dalam
pencegahan yang efektif, cakupan dan tindakan untuk membasmi tuberculosis.
Timbulnya tuberculosis dan prevalensinya lebih tingggi pada laki-laki dewasa. Di
berbagai tempat, tingkat timbulnya tuberculosis lebih tinggi pada laki-laki disegala usia kecuali
pada masa kanak-kanak, ketika mereka lebih tinggi dari perempuan. Hasil penelitian menyatakan
bahwa perbedaan jenis kelamin dalam tingkat prevalensi mulai muncul pada usia 10 dan 16
tahun dan semakin tinggi pada laki-laki daripada perempuan. Penyebab timbulnya dan prevalensi
yang tinggi pada laki-laki adalah minimalnya pemahaman dan penelitian lebih lanjut untuk
mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang berhubungan. Laporan tentang tingkat timbulnya TB
boleh jadi di bawah gambaran perempuan. Norma penyaringan yang standar dapat menyebabkan
lebih banyak perempuan yang mengidap TB tidak terdeteksi daripada laki-laki. Gejala yang
muncul pada perempuan tidak seperti pada laki-laki yaitu batuk, mengeluarkan dahak, atau hasil
tes yang positif pada mikroskopi dahak.
Tingkat pemberitahuan yang rendah boleh jadi merupakan konsekuensi dari proporsi
perempuan yang lebih kecil daripada laki-laki dalam kunjungan ke fasilitas kesehatan dan
pemberian contoh dahak untuk diperiksa.
Ada beberapa perbedaan seks dalam perkembangan dan akibat tuberculosis. Sekali
terinfeksi TB, perempuan di usia produktif lebih mudah jatuh sakit daripada laki-laki dan juga
meninggal karena TB tersebut. Pada perempuan hamil, perbedaan ini belum terbukti.
Daya tahan tubuh orang muda yang terinfeksi HIV dan terkena tuberculosis dapat
melemah dan orang yang menderita HIV positif dan menderita tuberculosis penyakitnya akan
menjadi lebih aktif dibandingkan dengan orang terinfeksi TB tetapi tidak mengidap HIV. Karena
perempuan yang lebih muda lebih beresiko terkena HIV daripada laki-laki di usia yang sama,
dibeberapa bagian di Afrika yang banyak ditemukan HIV, perempuan yang menderita TB lebih
banyak daripada laki-laki.
Tuberculosis yang diidap oleh perempuan hamil dapat mengakibatkan buruknya
kehamilan. Studi kasus di Meksiko dan India menyatakan bahwa TB paru-paru pada ibu
meningkatkan risiko kelahiran premature dan bayi yang lahir dengan berat yang rendah menjadi
dua kali lipat dan risiko kematian menjelang atau satu bulan setelah kelahiran bayi meningkat
antara tiga sampai enam kali lipat.
Perempuan hamil yang menderita tuberculosis paru-paru, tetapi terlambat di diagnosa
penyakit yang berkaitan dengan kandungan meningkat menjadi enam kali lipat, menurut ulasan
terakhir pada tuberculosis dan kehamilan. Ulasan tersebut juga melaporkan risiko lain, yakni
keguguran, toksemi dan komplikasi pada proses persalinan.

2.6.7        Kesetaraan Gender


Kesetaraan gender merupakan perlakuan yang setara antara perempuan dan laki-laki
dalam hukum dan kebijakan serta akses yang sama ke sumber daya dan pelayanan dalam
keluarga, komunitas dan masyarakat luas.

2.6.8        Ketidaksetaraan Gender dalam Kesehatan


Status perempuan begitu rendah karena akibat ketidaksetaraan gender yang dibiarkan
terus berlangsung. Dengan potret buram yang sudah dijelaskan sebelumnya, perhatian yang lebih
besar mestinya diberikan kepada perempuan. Bukan berarti laki-laki terlupakan. Tetapi perhatian
terhadap perempuan menjadi lebih utama sebab perempuan sedemikian tertinggalnya dan
teramat lama terabaikan nasibnya.
Berikut ini beberapa contoh pengaruh ketidaksetaraan gender terhadap kesehatan baik
laki-laki maupun perempuan sejak lahir hingga lanjut usia.

N KETIDAKSETARAAN KETIDAKSETARAAN
O GENDER (PEREMPUAN) GENDER (LAKI-LAKI)
1 Rata-rata perempuan di pedesaan Laki-laki bekerja 20% lebih
bekerja 20% lebih lama daripada pendek.
laki-laki.
2 Perempuan mempunyai akses Laki-laki menikmati akses sumber
yang terbatas terhadap daya ekonomi yang lebih besar.
sumberdaya ekonomi.
3 Perempuan tidak mempunyai Laki-laki mempunyai akses yang
akses yang setara terhadap lebih baik terhadap sumberdaya
sumberdaya pendidikan dan pendidikan dan pelatihan.
pelatihan.
4 Perempuan tidak mempunyai Laki-laki mempunyai akses yang
akses yang setara terhadap mudah terhadap kekuasaan dan
kekuasaan dan pengambilan pengambilan keputusan di semua
keputusan disemua lapisan lapisan masyarakat.
masyarakat.
5 Perempuan menderita dan Laki-laki tidak mengalami tingkat
mengalami kekerasan dalam kekerasan yang sama dengan
rumah tangga dengan kadar yang perempuan.
sangat tinggi.

Kesetaraan gender dalam hak, yaitu adanya kesetaraan hak dalam peran dan tanggung
jawab laki-laki dan perempuan dalam bidang kesehatan.
           Kesetaraan hak dalam rumah tangga yaitu perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang sama
dalam kesehatan, misalnya menentukan jumlah anak, jenis persalinan, pemilihan alat
kontrasepsi, dll.
           Kesetaraan hak dalam ekonomi/keuangan yaitu perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang
sama dalam memilih alat kontrasepsi.
           Kesetaraan hak dalam masyarakat yaitu adanya budaya di beberapa daerah yang mengharuskan
masyarakat mengikuti budaya tersebut sehingga tidak terjadi kesehatan yang responsif gender.
Selain itu, perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang sama dalam berpolitik dan dalam
pengambilan keputusan.
Kesetaraan gender dalam sumber daya, yaitu adanya kewenangan dalam penggunaan
sumber daya terhadap kesehatan.
           Di tingkat rumah tangga,  perempuan dan laki-laki mempunyai alokasi yang sama untuk
mengakses pelayanan kesehatan.
           Di tingkat ekonomi, perempuan dan laki-laki mempunyai kemampuan yang sama untuk
membelanjakan uang untuk keperluan kesehatan. Selain itu,  perempuan dan laki-laki
mempunyai kesempatan yang sama dalam membelanjakan pendapatannya untuk kesehatan.
           Di tingkat masyarakat, tidak tersedianya sarana dan pra-sarana publik yang responsif gender, 
seperti tidak adanya tempat untuk menyusui, tempat ganti popok bayi.
Kesetaraan gender dalam menyuarakan pendapat, yaitu ekspresi terhadap kebutuhan akan
kesehatan dan laki-laki tidak lagi mendominasi pendapat dalam kesehatan.
           Di tingkat rumah tangga, perempuan dan laki-laki mempunyai kesempatan yang sama untuk
mengekspresikan rujukan kesehatan yang diharapkan, sesuai tingkat pendidikannya, kesempatan
untuk memberikan umpan balik atas pelayanan yang diterimanya.
           Di bidang ekonomi, pengetahuan ibu untuk memilih tempat rujukan yang tepat tidak didukung
oleh kemampuan ekonomi suami. Perempuan dan laki-laki mempunyai kesempatan yang sama
dalam menyampaikan keluhan atau komplainterhadap kepuasan pelayanan.
           Di tingkat masyarakat, pendapat tentang memiliki anak yang sehat didukung dengan ajaran
agama yang diyakini.
Masalah gender meliputi berbagai aspek yang memerlukan penanganan oleh berbagai
sektor termasuk sektor kesehatan.
Kebijakan publik merupakan pedoman dalam pelaksanaan publik, termasuk kebijakan
bidang kesehatan. Kebijakan kesehatan menjadi acuan dalam pelayanan kesehatan di sarana
kesehatan. Kebijakan terbagi dalam tiga strata, yaitu:
           Kebijakan strategis yang mencakup kebijakan pada tingkat tertinggi seperti Undang-Undang dan
Peraturan Pemerintah.
           Kebijakan manajerial yang mencakup kebijakan pada tingkat menengah seperti Keputusan
Menteri.
           Kebijakan teknis yang mencakup kebijakan pada tingkat pelaksanaan seperti Keputusan
Direktur Jenderal Departemen.
Kebijakan publik ditetapkan pemerintah dengan dalil lebih mengetahui kepentingan
rakyat publik (public interest). Setelah suatu kebijakan ditetapkan, kelemahan paling utama
adalah kemampuan pelaksanaan (policy implentation). Pelaksanaan kebijakan ini juga menjadi
kendala dalam implementasi kebijakan makro dan mikro dari pengurustamaan gender di
Indonesia.
Bukti-Bukti Ketidaksetaraan Berbasis Gender
           Kemampuan perempuan dalam membaca dan menulis, rasio pendidikan dasar dan menengah
dibandingkan dengan presentase pendidikan primer dan sekunder laki-laki selama kurun waktu
1970,1992, dan 1997 untuk wilayah yang berbeda dunia:

Perbandingan
Perbandingan jumlah
jumlah perempuan dan
perempuan dan laki-laki yang
Kemampuan baca laki-laki yang mendaftar di
tulis perempuan mendaftar di Sekolah
dewasa : laki-laki Sekolah Dasar Menengah
199 197 199 197 199 199
1970 1992 7 0 1992 7 0 2 7
Semua
Negara
Berkembang n.a 73 79 79 88 94 68 78 83
Negara
Berkembang
Spesifik n.a 57 65 61 84 83 43 67 66
Sub Sahara
Afrika n.a 66 75 72 85 85 60 72 76
Negara Arab n.a 61 66 63 92 91 47 77 85
Asia Timur
termasuk
China n.a 80 83 87 96 100 76 79 88
Asia
Tenggara dan
Pasifik 72 90 91 90 97 99 74 95 95
Asia Selatan
termasuk
India 40 55 59 60 75 86 43 60 70
Amerika
Latin dan
Karibia 91 97 98 101 98 98 91 98 101
Negara
Industri n.a n.a n.a n.a 100 n.a n.a 100
Dunia n.a n.a n.a n.a n.a n.a n.a n.a n.a
Tabel 1. Tren Perbedaan Gender dalam Status Pendidikan
Kemampuan baca tulis perempuan dewasa dibandingkan dengan laki-laki: Hanya sedikit
jumlah perempuan yang dapat menulis dan membaca dalam setiap 100 laki-laki yang dapat
menulis dan membaca.
Perbandingan jumlah perempuan dan laki-laki yang mendaftar di sekolah dasar dan
menengah: Hanya sedikit jumlah anak perempuan yang bersekolah di sekolah dasar atau
menengah (biasanya berusia 6-10 tahun untuk pendidikan dasar dan 11-14 tahun untuk
pendidikan menengah) yang mendaftarkan diri di sekolah dasar atau menengah untuk setiap 100
anak laki-laki usia sekolah dasar dan menengah yang mendaftar sekolah.
           Data khusus gender pada jumlah kursi parlemen yang dipegangoleh perempuansebagai
bandingan jumlah keseluruhan pada tahun 1994 dan 1999 dan bagian perempuan dalam tingkat
menteri pada tahun 1994.
Kursi di
Kursi di parlemen yang kementrian
diperoleh perempuan yang diperoleh
(Persentasi dari total) perempuan
(%dari total)
1994 1999 1994
Semua Negara 10 10 5
Berkembang
Negara Berkembang 6 9 5
Spesifik
8 11 6
Sub Sahara Afrika
Negara Arab 4 4 1
Asia Timur termasuk 19 5 6
China
Asia Tenggara dan Pasifik 9 12 3
Asia Selatan termasuk 5 6 3
India
Amerika Latin dan Karibia 10 15 8
Negara Industri 12 19 8
10 12 8
Dunia

Tabel 2. Tren Partisipasi Perempuan dalam Politik


Total jumlah kursi parlementer: sedikit sekali jumlah perempuan yang duduk di perlemen.
Jumlah kursi kementrian: dari setiap 100 menteri, sedikit sekali jumlah perempuan yang
duduk di kursi kementrian.
Waktu kerja:  waktu yang dihabiskan dalam mengerjakan semua jenis pekerjaan di dalam dan
di luar, dibayar dan tidak dibayar.
Waktu kerja perempuan dibandingkan laki-laki: setiap 100 menit waktu kerja dihabiskan oleh
laki-laki, sedikit sekali waktu kerja yang dihabiskan oleh perempuan.
Aktivitas pasar didefinisikan sebagai aktivitas yang menghasilkan produksi barang dan
jasa untuk kebutuhan pasar serta produksi barang-barang rumah tangga untuk konsumsi rumah
tangga. Tetapi, produksi jasa untuk konsumsi rumah tangga seperti memasak mencari air dan
bahan bakar, perawatan anak dan orang tua dianggap sebagai aktivitas non-pasar yang bertujuan
untuk mengukur hasil ekonomi. Presentase total jam kerja dihabiskan dalam aktivitas pasar atau
non-pasar adalah 100 menit jumlah yang dihabiskan dalam aktivitas pasar/non-pasar.
Total presentasi pengurus dan manajer perempuan: dari 100 pengurus dan manajer, sedikit sekali
yang jumlahnya perempuan.
GDP perempuan dibandingkan GDP laki-laki di PPP$: jumlah dolar yang disumbangkan
ke GDP oleh populasi perempuan di suatu negara untuk setiap 100 PPP$ yang disumbangkan
oleh penduduk laki-laki.

2.6.9        Keadilan Gender


Keadilan gender Merupakan keadilan pendistribusian manfaat dan tanggung jawab
perempuan dan laki-laki. Konsep yang mengenali adanya perbedaan kebutuhan dan kekuasaan
antara perempuan dan laki-laki, yang harus diidentifikasi dan diatasi dengan cara memperbaiki
ketidakseimbangan antara jenis kelamin.
Definisi “keadilan gender dalam kesehatan” menurut WHO mengandung dua aspek:
1.      Keadilan dalam (status) kesehatan, yaitu tercapainya derajat kesehatan yang setinggi mungkin
(fisik,psikologis, dan sosial) bagi setiap warga negara.
2.      Keadilan dalam pelayanan kesehatan, yang berarti bahwa pelayanan diberikan sesuai dengan
kebutuhan tanpa tergantung pada kedudukan sosial seseorang, dan diberikan sebagai respon
terhadap harapan yang pantas dari masyarakat, dengan penarikan biaya pelayanan yang sesuai
dengan kemampuan bayar seseorang.
Keadilan dalam kesehatan didefinisikan sebagai “keadaan untuk mengurangi kesenjangan
dalam kesehatan dan determinan kesehatan, yang dapat dihindarkan antara kelompok masyarakat
yang mempunyai latar belakang sosial (termasuk gender) yang berbeda”.
Untuk mengupayakan keadilan dalam kesehatan, fokus perlu diberikan kepada kelompok
masyarakat yang paling rawan dan upaya mengurangi kesenjangan. Dalam kaitan gender,
perempuan dalam posisi yang tersisih dan status kesehatannya lebih buruk dari laki-laki.

2.6.10    Ketidakadilan Gender dalam Kesehatan


Dalam berbagai aspek ketidaksetaraan gender tersebut sering ditemukan pula
ketidakadilan gender, yaitu ketidakadilan (unfairness, unjustice) berdasarkan norma dan standar
yang berlaku, dalam hal distribusi manfaat dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan
(dengan pemahaman bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan kebutuhan dan
kekuasaan).
Keadilan antara lain ditentukan oleh norma atau standar yang dianggap pantas atau adil
dalam suatu masyarakat, yang mungkin berbeda satu dengan yang lain dan mungkin berubah dari
waktu ke waktu. Sering kali sulit untuk menentukan norma atau standar yang dapat diterima oleh
berbagai pihak, karena terkait dengan nilai-nilai dan penentuan keputusan, sehingga istilah
ketidaksetaraan lebih sering digunakan.
Istilah “ketidaksetaraan” menyiratkan bahwa kesenjangan yang terjadi tidak dinilai
apakah hal tersebut dapat dianggap pantas atau adil dalam suatu tatanan masyarakat. Dengan
kata lain dapat dikatakan bahwa ketidakadilan adalah ketidaksetaraan yang tidak pantas atau
tidak adil.
Contoh-contoh tentang ketidakadilan gender dalam bidang kesehatan:
1.      Ketidakadilan dalam Hal Penyakit dan Kematian
Dibeberapa wilayah dunia, ketidakadilan antara perempuan dan laki-laki berkaitan langsung
dengan perkara hidup dan mati, terutama bagi kaum perempuan. Misalnya tergambarkan dari
tingginya angka kesakitan dan kematian perempuan. Hal ini terjadi karena berbagai bentuk
pengabaian terhadap kesehatan, gizi an kebutuhan perempuan secara langsung kualitas hidupnya.
2.      Ketidakadilan dalam Kelahiran Bayi
Anak laki-laki lebih diinginkan kehadirannya daripada anak perempuan. Sekalipun  kitas tahu
semua agama tidak membedakan jenis kelamin anak. Namun karena kebanyakn laki-laki lebih
tinggi status di masyarakat, maka mencuatnya isu ketidaksetaraan gender yang tercermin dari
kuatnya keinginan orangtua untuk mempunyai anak laki-laki dari pada anak perempuan.
3.      Ketidakadilan dalam Rumah Tangga
Seringkali terdapat ketidakadilan gender yang mendasar di dalam rumah tangga dan bentuknya
bermacam-macam. Dari perkara yang sederhana sampai kepada yang rumit. Begitu juga
pembagian peran dan tanggung jawabdalam rumah tangga, sering kali tidak adil. Misalnya dalam
pembagian tugas mengurus rumah tangga dan mengurus anak.

2.6.11    Diskriminasi Gender


Adanya perbedaan, pengecualiaan atau pembatasan yang dibuat berdasarkan peran dan
norma gender yang dikontruksi secara sosial yang mencegah seseorang untuk menikmati hak
asasi manusia secara penuh.

2.6.12    Analisis Gender dalam Kesehatan


Memahami teknik analisis gender dalam layakaan kesehatan ini, setidaknya difokuskan
untuk mengetahui :
           Situasi aktual pria dan wanita meliputi peranan, tingkat kesejahteraan, kebutuhan, dan
permasalahan yang dihadapi dalam berbagai unit sosial, budaya dan eonomi.
           Pembagian beban kerja wanita dan pria yang mliputi tanggung jawab, curahan tenaga dan
curahan waktu.
           Saling berkaitan, saling ketergantungan dan saling mengisi antara peranan wanita dan pria
khususnya dalam kluarga.
           Tingkat akses dan kekuatan kontrol wanita dan pria terhadap sumber produktif maupun sumber
daya manusia dalam keluarga.

2.6.13    Peran Gender


Sejak kecil, secara sistematis anak perempuan dan laki-laki diajarkan bahwa mereka
berbeda satu sama lain. Selain menyadarkan mereka bahwa mereka secara biologis berbeda
karena memiliki perbedaan anatomi, mereka juga dibedakan secara sosial; masing-masing
sebagai makhluk dengan peran, tanggung jawab dan kesempatan yang tidak sama. Sejak kanak-
kanak, mereka dianjurkan untuk berpakaian dan bertingkah laku dengan cara yang berbeda.
Misalnya, anak perempuan dipaksa untuk memakai baju yang berwarna merah jambu dan
pakaian feminin sementara anak laki-laki seringkali memakai kemeja dan celana panjang biru.
Anak laki-laki cenderung memainkan permainan kasar yang melibatkan kontak fisik, seperti
sepak bola dan gulat sementara anak perempuan dianjurkan untuk memainkan boneka dan main
masak-masakan. Dalam masyarakat tertentu, anak laki-laki dan perempuan tidak diizinkan
bermain bersama. Anak laki-laki acapkali diberikan kebebasan untuk bermain di luar rumah
untuk waktu lama sementara waktu bermain sementara waktu bermain untuk anak perempuan
biasanya terbatas. Anak perempuan diminta untuk tinggal di rumah supaya dapat membantu ibu
mereka mengerjakan pekerjaan rumah tangga khususnya mencuci piring dan pakaian, memasak
dan membersihkan rumah. Pada umumnya, anak laki-laki tidak diharapkan untuk membersihkan,
mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tetapi mereka biasanya melakukan pekerjaan seperti
membeli sesuatu di toko atau warung atau membantu pekerjaan rumah tangga yang
membutuhkan kekuatan otot, seperti pertukangan atau membawa atau memikul sekarung beras
yang berat dan barang-barangnya.
Anak laki-laki dan perempuan didorong untuk mengekspresikan emosi mereka dengan
cara yang berbeda. Stereotipe anak laki-laki adalah bersuara keras dan lantang, berantakan,
bertubuh atletis, agresif, kasar dan tidak berperasaan karena mereka tidak sepantasnya menangis.
Anak laki-laki juga diharapkan lebih pintar daripada anak perempuan. Anak perempuan
dideskripsikan sebagai makhluk yang patuh, mau mengalah, emosional, rapi atau bersih dan
kaku. Mereka tidak mengekspresikan pendapatnya. Oleh karena itu laki-laki dicap lebih kuat dan
anak perempuan lebih lemah.
Seks dan gender merupakan hal yang berbeda, namun konsepnya saling berkaitan. Seks
berarti perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan sementara gender merujuk pada atribut
ekonomi, sosial dan kultural serta kesempatan yang diasosiasikan dengan peran laki-laki dan
perempuan dalam situasi sosial pada saat tertentu. (WHO 2001).

2.6.14    Peran Institusi Sosial


Keluarga adalah institusi pertama dalam mensosialisasikan hal yang disebut feminin dan
maskulin. Keluarga, terutama ibu memainkan peranan penting dan mengajarkan anak laki-laki
dan perempuan tentang peran gender mereka.
Di sekolah, misalnya guru dan buku seringkali memperluas peran reproduksi perempuan,
seperti pengasuhan dan tugas rumah tangga dan peran produktif laki-laki, misalnya tugas
mencari nafkah.
Agama justru menjungjung tinggi feminitas dan kepatuhan perempuan terhadap laki-laki.
Sebagian besar agama mengajarkan kesetaraan gender, tetapi ideologi bahwa laki-laki lebih
dominan atau patriarkis masih saja berlaku karena pemimpin agama pada umumnya berpikiran
seperti itu.
Di dunia kerja, perempuan sering kali memiliki karir yang berhubungan dengan peran
reproduksi mereka, seperti perawat, guru, sekretaris atau juru tulis, dan lainnya. Sedikit
perempuan yang memegang posisi lebih tinggi karena posisi ini lebih sering di pegang oleh laki-
laki. Misalnya politik, laki-laki sering berada di posisi ini karena tidak banyak perempuan yang
mengikuti pemilihan.
Media juga sering menginformasikan peran gender tradisional atau yang dapat diterima di
berbagai betuk dalam iklan, komedi situasi, opera sabun, dalam cerita dan buku komik yang
sering kali dilihat dan dibaca publik. Oleh karena itu, media ini juga mendukung nilai-nilai yang
dianut oleh institusi sosial yang lain.
Walaupun jumlah perempuan yang melakukan aktivitas produktif semakin meningkat,
mayoritas perempuan masih saja tinggal di rumah, memikul peran reproduksi. Karena itu pada
kenyataannya di masyarakat, mereka kurang mendapat peran penting dibandingkan laki-laki.
Nilai yang tidak setara ini merupakan sumber diskriminasi dan penindasan terhadap perempuan
dan bertanggung jawab atas rendahnya status perempuan dalam masyarakat. (WHO 2001).
Karena daerah keluarga  merupakan ruang lingkup pribadi, dibandingkan dengan sekolah,
pemerintahan dan institusi sosial lainnya, peraturan dan praktik yang berkenaan dengan
hubungan gender dalam keluarga tidak diketahui secara langsung dan jarang sekali tunduk
terhadap pengaruh luar. (WHO 2001).
Perempuan dan anak perempuan serta laki-laki cenderung tetap menjalankan peran
gendernya karena ada beberapa perilaku yang terkendali yang dibenarkan oleh berbagai institusi
sosial. Kekerasan terhadap harapan peran gender diawali dengan ketidaksetujuan terhadap
pengasingan sosial dan agresi bahkan kekerasan yang diterima dalam kehidupan sosial (WHO
2001). Dalam masyarakat tertentu, jika seorang perempuan menikah tanpa persetujuan keluarga,
perempuan tersebut telah mencoreng nama baik keluarga. Keluarga dekat si perempuan sering
kali ditugaskan untuk membunuh perempuan tersebut karena telah mempermalukan keluarganya
dengan tidak mengindahkan keinginan keluarga. Karena pihak luar biasanya tidak dapat
mencampuri urusan keluarga tersebut, terutama kekuasaan absolut laki-laki yang memimpin
rumah tangga, hal ini menjadi salah satu alat yang ampuh untuk melanggengkan ketidaksetaraan
gender. (WHO 2001).
Ketidaksetaraan gender secara sistematis disahkan dan diinstitusionalkan melalui undang-
undang dan kebijakan. Dalam masyarakat tertentu, perempuan tidak dapat memiliki harta benda
secara sah ataupun bekerja di luar rumah tanpa persetujuan suami atau pasangan mereka. Di
negara Muslim, poligami diizinkan dengan syarat tertentu. Hal ini membuat tugas untuk merubah
peran gender menjadi sangat sulit.
Walaupun perbedaan gender biasanya memarjinalisasikan perempuan daripada laki-laki,
kaum pria dilatih untuk menahan emosi atau tidak menangis dan mereka dibiasakan untuk
menganggap perempuan lebih rendah. Bersikap agresif atau kasar adalah satu indikasi
kejantanan; karena itu, mereka sering kali menjadi pelaku kekerasan terhadap perempuan di
dalam dan di luar rumah. Namun, ada beberapa laki-laki yang dijuluki “new age” karena mereka
peduli dengan hubungan dan peran gender.
Ketidaksetaraan gender ini mempertanyakan “ideologi patriarkis” yang menganggap laki-
laki lebih tinggi daripada perempuan. Ideologi ini dianut oleh laki-laki dan perempuan. Ideologi
ini juga mempertanyakan institusi sosial yang menganut nilai-nilai patriarkis.

2.6.15    Peran Gender Bervariasi Berdasarkan Keadaan, Waktu, Kesukuan Dan Kelas/Golongan
Peran gender dapat berbeda berdasarkan waktu, dan diantara berbagai budaya, suku, dan
kelas sosial masyarakat. Beberapa suku di Indonesia seperti Jawa dan Sunda boleh jadi memiliki
peran gender yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Dalam beberapa masyarakat tertentu,
perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.
Karena peran gender dibentuk dan dipelajari secara sosial, peran gender dapat diubah
melalui pendidikan atau advokasi dan kerjasama berbagai institusi sosial yang ada dalam
masyaraka. Walaupun tugas ini tidak mudah, kepekaan terhadap ketidakadilan, ketidaksetaraan,
dan dikriminasi terhadap hubungan dan status gender semakin berkembang di Indonesia dan
dunia.

2.7         HAM
2.7.1        Pengertian HAM
HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia, sesuai dengan kodratnya
(Kaelan: 2002).
Menurut pendapat Jan Materson (dari komisi HAM PBB), dalam Teaching
Human Rights, United Nations sebagaimana dikutip Baharuddin Lopa
menegaskan bahwa HAM adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia,
yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia.
John Locke menyatakan bahwa HAM adalah hak-hak yang diberikan langsungoleh
Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. (Mansyur Effendi,1994).
Dalam pasal 1 UU No39 tahun 1999 tentang HAM disebutkan bahwa “Hak Asasi
Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan meruapak anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung
tinggi dan dilindungu oleh negara, hokum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta
perlindungan harkat dan martabat manusia”.

2.7.2        HAM yang Terkait dengan Kesehatan Reproduksi


           UU No. 7 Tahun 1984 (Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap Wanita):
           Jaminan persamaan hak atas jaminan kesehatan dan keselamatan kerja, termasuk usaha
perlindungan terhadap fungsi melanjutkan keturunan (Pasal 11 ayat 1 f).
           Jaminan hak efektif untuk bekerja tanpa diskriminasi atas dasar perkawinan atau kehamilan
(Pasal 11 ayat 2).
           Penghapusan diskriminasi di bidang pemeliharaan kesehatan dan jaminan pelayanan kesehatan
termasuk  pelayanan KB (Pasal 12).
           Jaminan hak kebebasan wanita pedesaan untuk memperoleh fasilitas pemeliharaan kesehatan
yang memadai, termasuk  penerangan, penyuluhan dan pelayanan KB (Pasal 14  ayat 2 b).
           Penghapusan diskriminasi  yang berhubungan dengan perkawinan dan hubungan kekeluargaan
atas dasar persamaan antara pria dan wanita (Pasal 16 ayat 1).
           Tap. No. XVII/MPR/1998 tentang HAM
           Hak untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah (Pasal
2).
           UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM
           Setiap orang berhak membentuk suatu keluarga dan melanjutkan keturunan  melalui perkawinan
yang sah  (Pasal 10).
           Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara
layak (Pasal 11).
           Setiap orang berhak atas  rasa aman dan tenteram serta perlindungan terhadap ancaman
ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu (Pasal 30).
           Hak wanita dalam UU HAM sebagai hak  asasi manusia (Pasal 45).
           Wanita berhak  untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam pelaksanaan pekerjaan /
profesinya terhadap hal-hal yang dapat mengancam keselamatan dan atau kesehatannya
berkenaan dengan fungsi reproduksi wanita (Pasal 49 ayat 2).
           Hak khusus yang melekat pada diri wanita dikarenakan fungsi reproduksinya, dijamin dan
dilindungi oleh hukum (Pasal 49 ayat 3).
           Hak dan tanggungjawab yang sama  antara isteri dan suaminya dalam ikatan perkawinan (Pasal
51 ).

2.8         FUNGSI BIDAN DALAM GENDER DAN HAM


2.8.1        Fungsi Bidan dalam Gender
Secara kodrati, perempuan dan laki-laki adalah dua jenis kelamin yang berbeda.
Perbedaan yang bersifat universal tersebut, sayangnya banyak disalah artikan sebagai sebuah
sekat yang membentengi ruang gerak. Dalam perkembangannya kemudian, jenis kelamin
perempuan lebih banyak menerima tekanan, hanya karena secara kodrati perempuan dianggap
lemah dan tak berdaya.
Yulfita Rahardjo dari Pusat Studi Kependudukan dan Pemberdayaan Manusia Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, persepsi yang bias tersebut pada akhirnya
menyulitkan perempuan untuk mendapatkan akses pada berbagai segi kehidupan, utamanya
bidang kesehatan yang menentukan kehidupan dan kematian perempuan.
Secara biologis, perempuan melahirkan, menstruasi dan menyusui, sementara pria tidak.
Perempuan memiliki payudara yang berfungsi untuk menyusui, laki-laki tidak punya. Demikian
juga jakun dan testikel yang dimiliki pria, tidak dimiliki kaum hawa.
Jenis kelamin memang bersifat kodrati, seperti melahirkan dan menyusui bagi
perempuan. Tapi gender yang mengacu pada peran, perilaku dan kegiatan serta atribut lainnya
yang dianggap oleh suatu masyarakat budaya tertentu sebagai sesuatu yang pantas untuk
perempuan atau pantas untuk laki-laki, masih bisa dirubah.
Di beberapa wilayah dengan adat istiadat dan budaya tertentu, isu gender memang sangat
membedakan aktivitas yang boleh dilakukan antara pria dan wanita. Pada masyarakat Jawa dari
strata tertentu misalnya, merokok dianggap pantas untuk laki-laki, tapi tidak untuk perempuan.
Demikian dengan profesi bidan, yang sebagian besar disandang perempuan. Sementara
dokter kandungan didominasi laki-laki. Bahkan pernah dalam satu masa, dokter kandungan tidak
boleh dilakoni kaum hawa. Juga mitos gender seputar hubungan seksual, dimana isteri tabu
meminta suaminya untuk pakai kondom. Jadi yang ber-KB adalah kaum perempuan. Dalam
masalah ini bidan berperan untuk member penyuluhan kepada pasangan suami istri bahwa tidak
hanya kaum wanita yang diharuskan memakai KB namun kaum laki-laki pun perlu memakai KB
bila ingin meminimalisir kehamilan dan persalinan.
Data terakhir, Indonesia masih menempati urutan tertinggi dengan Angka Kematian Ibu
(AKI) mencapai 307/100 ribu kelahiran dan Angka Kematian Bayi (AKB) mencapai 45/1000
kelahiran hidup. Tak pelak lagi, perempuan seringkali menghadapi hambatan untuk mendapatkan
akses terhadap pelayanan kesehatan. Hal itu disebabkan tiga hal, yakni jarak geografis, jarak
sosial budaya serta jarak ekonomi.
Perempuan biasanya tidak boleh bepergian jauh. Jadi kalau rumah sakit atau puskesmas
letaknya jauh, sulit juga perempuan mendapatkan pelayanan kesehatan. Dalam masalah ini bidan
desa atau bidan yang berada di daerah terpencil sangat berperan penting untuk memberikan
pelayanan kesehatan yang layak kepada para wanita ataupun pria yang menduduki tempat
terpencil.
Hambatan lainnya adalah jarak sosial budaya. Selama ini, ada keengganan kaum ibu jika
mendapatkan pelayanan kesehatan dari petugas kesehatan laki-laki. Mereka, kaum ibu di
pedesaan ini, lebih nyaman kalau melahirkan di rumah dan ditemani mertua dan anak-anak.
Akibatnya, apabila terjadi perdarahan dalam proses persalinan, sulit sekali mendapatkan layanan
dadurat dengan segera. Bidan pun berperan dalam member penyuluhan tentang bahaya
melahirkan dirumah tanpa bantuan tenaga medis. Itu semua dilakukan untuk meminimalisir
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angkan Kematian Bayi (AKB) yang saat ini semakin
berkembang setiap tahunnya.
Yang paling penting menjadi hambatan adalah masalah ekonomi. Banyak keluarga yang
kurang mampu, sehingga harus berpikir dua kali untuk menuju rumah sakit atau rumah bersalin.
Sebagai seorang bidan, jangan melihat klien berdasarkan status ekonominya karena bidan
berperan sebagai penolong bagi semua kliennnya dan tidak membedakan status ekonominya.
Selain menimpa perempuan, bias gender juga bisa menimpa kaum pria. Di bidang
kesehatan, lebih banyak perempuan menerima program pelayanan dan informasi kesehatan,
khususnya yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan anak ketimbang laki-laki. Hal itu
bisa jadi ada kaitannya dengan stereotip gender yang melabelkan urusan hamil, melahirkan,
mengasuh anak dan kesehatan pada umumnya sebagai urusan perempuan. Dari beberapa contoh
diatas memperlihatkan bagaimana norma dan nilai gender serta perilaku yang berdampak negatif
terhadap kesehatan.
Untuk itu, tugas bidan adalah meningkatkan kesadaran mengenai gender dalam
meurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

2.8.2        Fungsi Bidan dalam HAM


Dalam konsep Hak Asasi Manusia (HAM), bidan memiliki beberapa fungsi, diantaranya:
           Memberikan hak kepada semua pasangan dan individual untuk memutuskan dan bertanggung
jawab terhadap jumlah, jeda dan waktu untuk mempunyai anak serta hak atas informasi yang
berkaitan dengan hal tersebut. Contohnya bidan memberikan informasi selengkap-lengkapnya
kepada klien saat klien tersebut ingin menggunakan jasa KB (Keluarga Berencana) dan bidan
memberi hak kepada klien untuk mengambil keputusan sesuai keinginan kliennya.
           Memberikan hak kepada masyarakat untuk mendapatkan kehidupan seksual dan kesehatan
reproduksi yang terbaik serta memberikan hak untuk mendapatkan pelayanan dan informasi agar
hal tersebut dapat terwujud. Misalnya, bidan membrikan penyuluhan tentang kehidupan seksual
dan kesehatan reproduksi kepada masyarakat dan memberikan pelayanan serta informasi
selengkap-lengkapnya kepada masyarakat agar masyarakat mendapatkan kehidupan seksual dan
kesehatan reproduksi yang terbaik.
           Memberikan hak untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan reproduksi yang bebas dari
diskriminasi, pemaksaan dan kekerasan. Hak-hak reproduksi merupakan hak asasi manusia. Baik
ICPD 1994 di Kairo maupun FWCW 1995 di Beijing mengakui hak-hak reproduksi sebagai
bagian yang tak terpisahkan dan mendasar dari kesehatan reproduksi dan seksual. Contohnya
setelah bidan memberikan informasi kepada klien, bidan tidak boleh memaksakan klien atau
menekan klien untuk mengambil keputusan secepatnya.
           Memberikan hak privasi kepada klien
           Memberikan hak pelayanan dan proteksi kesehatan

DAFTAR PUSTAKA

 Soepardan ,Suryani. 2007.Konsep Kebidanan. Jakarta;EGC.


 http://brilianaputrimawaddah.blogspot.com/2010/10/peran-fungsi-dan-kompetensi-bidan.html
http://id.shvoong.com/law-and-politics/politics/2094305-pengertian-regulasi/
http://id.shvoong.com/law-and-politics/politics/2094305-pengertian-regulasi/#ixzz1JVKrqqFP