Anda di halaman 1dari 25

PRODUCE OF SENTENCE

Submitted as a partial fulfillment of the assignment of Psycholinguistic Subject to


English Education Study Program of Muhammadiyah University of Tangerang

Arranged by :

YOSHI RANTO 1788203133

6B.1

ENGLISH EDUCATION STUDY PROGRAM

TEACHERS TRAINING AND EDUCATION FACULTY

MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF TANGERANG

2020
PREFACE

The authors would like to thanks to Allah SWT and for many people who
have helped us for arranged a part in this paper. So, we don’t forget give thanks to
Mr. Moh. Iqbal Firdaus, M.Hum. who helped me and as our lecture for
Psycholnguistic subject in our class. Firstly, we are grateful to our team for all the
inspiration they have given us. We are grateful to our institution for the
encouragment and support.

In addition, we would like to express gratitude to all our collaegues who


have shared and discussed many ideas throughout the recent week and last but
certainly not least, thanks to all our lecturers to whom we have taught English and
who have taught us to learn over the years.

Tangerang, March 19, 2020

Composser

i
DAFTAR ISI

Preface ......................................................................................
i

Kata Pengantar .......................................................................... ii

BAB I : Pendahuluan .............................................................. 1

A. Latar Belakang ........................................................................... 1

B. Kerangka Teori ............................................................... 2

BAB II : Pembahasan ................................................................. 3

A. Senyapan dan Kilir Lidah .................................................................. 3

B. Lupa-Lupa Ingat ............................................................................. 7

C. Proses Pengujaran Berujar ..................................................... 8

D. Artikulasi Kalimat Pertanyaan ..................................................... 13

E. Kekeliruan .............................................................................. 16

BAB III : Penutup ............................................................................... 21

A. Kesimpulan ............................................................................... 21
ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan


manusia. Tanpa adanya bahasa, maka manusia dipastikan tidak akan bisa
berinteraksi atau berkomunikasi dengan baik. Dengan kata lain, bahwa bahasa itu
adalah sesuatu yang telah menyatu dengan kehidupan manusia. Sebagai salah satu
yang menyatu dengan kehidupan manusia, bahasa selalu muncul dalam segala
aspek dan kegiatan manusia di manapun berada. 

Betapa pentingnya bahasa, hingga tidak ada satu kegiatan manusiapun


yang tidak disertai dengan kehadiran bahasa. Oleh karena itu, jika orang bertanya
apakah bahasa itu, maka jawabannya dapat bermacam-macam sejalan dengan
bidang kegiatan tempat bahasa itu digunakan. Bahasa adalah alat untuk
menyampaikan isi pikiran, bahasa adalah alat untuk berinterakasi, bahasa adalah
alat untuk mengekspresikan diri, dan bahasa adalah alat untuk menampung hasil
kebudayaan, semuanya dapat diterima. 

Sesuai dengan fungsi bahasa, suatu proses berbahasa dikatakan berjalan


baik apabila makna yang dikirmkan penutur dapat diresepsi oleh pendengar
seperti yang dimaksudkan oleh si penutur. Sebaliknya, suatu proses berbahasa
dikatakan tidak berjalan dengan baik pabila makna yang dikirim penutur diresepsi
atau dipahami pendengar tidak sesuai dengan yang dikehendaki penutur. 

1
Ketidaksesuaian ini bisa disebabkan oleh faktor penutur yang kurang
pandai dalam memproduksi kalimat, bisa juga diebabkan oleh faktor pendengar
yang kurang mampu merespsi kalimat itu, atau bisa juga akibat faktor lingkungan
sewaktu kalimat itu ditransfer dari mulut penutur ke dalam telinga pendengar. 

Sebagaimana diketahui pada pembahasan sebelumnya telah dibahas


mengenai proses produksi ujaran, maka pada makalah ini yang akan dibahas
adalah seperti apa dan bagaimana proses produksi kalimat tersebut dan fenomena
apas saja yang terjadi? Berikut ini akan kita pada poin pembahasan. 

B. Kerangka Teori
Ujaran diproses melalui tiga tahap: konseptualisasi, formulasi dan artikulasi
( Meyer: 2000: 49; Reolos 2000: 71-73)

1.      Tahap konseptualisasi yaitu tahap dimana pembicara merencanakan struktur


konseptual yang akan disampaikan.

2.      Tahap formulasi yaitu tahap dimana lema yang cocok diretrif dari leksikon
mental kita dan kemudian diberi kategori dan struktur sintaktik serta afiksasinya.

3.      Tahap artikulasi yakni tahap dimana kerangka serta isi yang sudah jadi itu
diwujudkan dalam bentuk bunyi.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Senyapan dan Kilir Lidah
Kegiatan pada waktu berujar merupakan suatu proses yang terjadi pada
mental (otak) manusia. Proses mental pada waktu berujar tersebut ada dua
macam yaitu, senyapan (pause) dan kekeliruan (errors).
1. Senyapan Senyapan beasal dari kata senyap yang artinya berhenti sejenak
(pause) pada saat sedang berbicara atau mengucapkan sebuah kalimat. Tidak
semua orang dapat berbicara dengan baik dan lancar. Orang berbicara pada
umumnya sambil berpikir sehingga semakin sulit topik yang dibicarakan
maka, kemungkinan besar jumlah senyapan yang terjadi. Senyapan yang lebih
umum terjadi adalah pada waktu orang ragu-ragu (hesitation). Keraguan
tersebut bisa terjadi karena si penutur lupa atau sedang mencari kata-kata yang
paling tepat yang ingin ia ujarkan. Menurut Dardjowidjojo (2008:144) ada
berbagai alasan mengapa orang senyap. Pertama, orang senyap karena dia
telah terlanjur mulai dengan ujarannya, tapi sebenarnya dia belum siap untuk
mengujarkan seluruh kalimat itu. Oleh karena itu, dia senyap sejenak untuk
mencari kata atau kata-kata untuk melanjutkan ujarannya. Kedua, kesenyapan
terjadi karena dia lupa akan kata-kata yang dia perlukan. Kemudian alasan
ketiga, bahwa dia harus sangat berhati-hati di dalam memilih kata.
Berdasarkan ketidaksiapan dan terlalu berhati-hati dalam berujar kesenyapan
ada dua macam yaitu: senyapan diam dan senyapan terisi.
1.1 Senyapan Diam
Senyapan diam adalah senyapan ketika sedang berbicara terhenti sejenak,
terdiam tampa suara apapun sehingga ujaran terputus sampai ia menemukan
kata-kata yang ingin diujarkan. Contoh: Itu Bapak … yang masuk di kelas kita
kemarin?

3
1.2 Senyapan Terisi
Senyapan terisi adalah Senyapan yang diisi dengan kata-kata tertentu yang
hanya pengisi kekosongan saja. Hal ini dapat memancing mengingat kembali
kata yang ingin diujarkan. Contoh: Itu siapa itu (kemarin masuk ke kelas
kita?). Selain kata anu banyak cara orang-orang mengisi kesenyapan atau
jedah ketika berbicara dengan kata-kata lain seperti, -eh dan uh yang hanya
sekedar merupakan pengisi belaka. Kesenyapan-kesenyapan seperti ini tidak
hanya terjadi pada kalangan orang-orang biasa tetapi tidak jarang juga terjadi
pada kalangan pejabat atau penyiar televisi dengan alasan karena keberhati-
hatian dia untuk tidak menimbulkan dampak yang keliru atau menggegerkan.
Senyapan-senyapan terjadi berdasarkan tempatnya. Ada pun tempat-tempat
biasa terjadinya senyapan antara lain: jeda gramatikal, batas konstituen dengan
konsituen lain, dan di tempat sebelum kata utama pertama pada konsituen.
Jedah gramatikal adalah tempat senyapan pada saat merencanakan ujaran yang
akan diujarkan selanjutnya. Senyapan di tempat ini biasanya terjadi agak
sering dan lama. Tipe senyapan yang terjadi bukan karena keraguan dan biasa
juga senyapan ini untuk mengambil nafas. Hal ini berbeda dengan senyapan
yang terjadi pada batas antara satu konstituen dengan konstituen lainnya.
Senyapan yang terjadi pada batas antara satu konstituen dengan konstituen
lainnya ini pada umumnya adalah senyapan yang berisi. Sedangkan yang
terjadi pada tempat senyapan sebelum kata dalam konstituen umumnya
senyapan tipe diam. 

2. Kekeliruan
Kekeliruan yang terjadi pada saat berbicara atau ketika mengujarkan suatu
kalimat dapat disebabkan oleh dua hal yaitu, karena kilir lidah dan terkena
penyakit afasia. 
4
2.1 Kilir Lidah
Kilir lidah adalah proses produksi suatu ujaran yang tidak sesuai dengan
ujaran yang ingin diujarkan. Kilir lidah ini disebabkan oleh: seleksi yang
keliru (kekeliruan seleksi) dan kekeliruan asembling. Kekeliruan seleksi
adalah kilir lidah yang disebabkan oleh kekeliruan pemilihan semantik atau
yang sifatnya berhubungan dengan medan semantik.Contohnya: Kamu nanti
beli pensil, maksud saya, pena, ya. pensil dan pena dalam hal ini masih
memiliki medan makna yaitu, alat tulis. Hal ini tidak mungkin terjadi
kekeliruan seperti, Kamu nanti beli sepatu, maksud saya, pensil, ya. Karena
sepatu dengan pensil bukan merupakan medan makna. Sementara, kekeliruan
asembling adalah proses pengucapan kata-kata yang keliru padahal pemilihan
kata-katanya sudah benar. Selain itu bisa juga karena proses pemindahan
bunyi atau kata dari satu posisi ke posisi lain. Contohnya dalam bahasa
Inggris: I need a gas of tank, padahal yang dimaksud adalah I need a tank of
gas. Sementara dalam bahasa Indonesia “seluling bambu”/”seluring bambu”
padahal yang ingin diucapkannya adalah “seruling” (Dardjowidjojo,
2008:149). 

2.2 Afasia
Afasia adalah salah satu penyakit gangguan pada berbicara. Penyakit ini
dikarenakn kekurangn oksigen pada otak dan pernah mengalami stroke.
Sehingga orang yang terkena penyakit ini tidak bisa berbicara dengan baik.
5
2.3 Unit-unit Kilir Lidah
Secara garis besar unit-unit pada kilir lidah adalah fitur distingtif, segment
fonetik, sukukata, kata, dan konstituen yang lebih besar dari kata.
a. Kekeliruan Fitur Distingtif Kekeliruan ini terjadi apabila yang terkilir
bukan suatu fonem, tetapi fitur distingtif dari fonem itu saja. Contohnya: clear
blue sky → glear plue sky. Kekeliruan dari clear ke glear sebenarnya bukan
penggantian fonem /k/ menjadi /g/, tetapi penggantian fitur distingtif [-vois]
dengan [+vois]. Kekeliruan ini sangat jarang terjadi. Di dalam bahasa
Indonesia dapat dicontohkan pada kata Paris menjadi Baris.
b. Kekeliruan Segmen Fonetik Kekeliruan segmen fonetik merupakan
kekeliruan yang paling umum, yang jumlah fiturnya lebih dari satu. Contoh:
with this ring I thee wed → with this ring I thee red left hemisphere → heft
lemisphere. Bunyi /r/ pada ring mempunyai titik artikulasi yang berbeda
dengan /w/ pada wing, begitu juga dengan bunyi /l/ dan /h/ pada left dan
hemisphere. Kekeliruan di mana bunyi yang saling mengganti ini berbeda
lebih dari satu fitur distingtif dinamakan kekeliruan segmen fonetik. Dapat
dikatakan bahwa kekeliruan seperti ini adalah kekeliruan di mana fonem
bertukar tempat.
c. Kekeliruan Sukukata Dalam bahasa Indonesia kita sering temukan
kekeliruan pada sukukata, contohnya: ke-pa-la → ke-la-pa, se-mi-nar → se-ni-
mar, dst. d. Kekeliruan Kata Kekeliruan ini terjadi bila yang tertukar tempat
adalah kata. Contoh: tank of gas → gas of tank, go for broke → broke for go.
Kekeliruan ini kadang-kadang berlalu tanpa pembicara menyadarinya. 
6
B. Lupa-lupa Ingat dan Latah
Lupa-lupa ingat merupakan kebiasaan di mana seseorang itu dahulunya
ingat (pernah ingat) terhadap apa yang ingin ia katakan namun ketika ia ingin
mengucapkannya ia lupa, sehingga terjadilah antara lupa dan ingat. Kebiasaan
ini sering terjadi ketika kita mengingat nama orang. Salah satu contoh,
mungkin kita sedang di bus lalu kenalan dengan orang di sebelah kita, suatu
saat kita bertemu lagi di suatu tempat. Kita tahu wajahnya namun kita
bertanya-tanya dengan diri kita siapa ya namanya?, antara ingat dan lupa.
Inilah yang merupakan contoh lupa-lupa ingat. Lupa-lupa ingat berbeda lagi
dengan latah. Latah merupakan kebiasaan yang unik yaitu, mengucapkan kata
secara spontan tanpa ia sadari ketika terkejut. Menurut Dardjowidjojo
(2008:154) latah memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. konon latah hanya
terjadi di asia tenggara 2. hampir yang mengalami adalah wanita 3. kata-kata
yang dikeluarkan umumnya berhubungan dengan seks atau kelamin laki-laki
4. kalau dikejutkan dengan kata, maka ia juga bisa hanya mengulang kata-kata
itu saja. Proses latah ini, kalau si A yang latah dikejutkan dengan kata-kata
maka, yang ia ucapkan adalah kata yang sama misalnya, dikejutkan dengan
menyebutkan kata bakso maka , si latah pun akan mengucapkan kata bakso
juga. Akan tetapi, apabila si latah dikejutkan dengan bunyi suatu benda maka,
ia akan mengeluarkan kata-kata yang berhubungan dengan seks atau kelamin
laki-laki atau kelamin binatang jantan. Hal inilah yang membuat latah menjadi
pristiwa wicara yang unik, namun belum dapat dijelaskan mengapa demikian
karena belum ada yang menelitinya lebih jauh.
7
C. Proses Pengujaran Berujar

Pada dasarnya merupakan salah satu proses kognitif paling kompleks yang
dilakukan oleh manusia. Dalam Bahasa Inggris, kecepatan ujaran yang normal
terdiri dari sekitar 150 kata per-menit. Yang berarti bahwa seorang penutur
dapat meretrif dua sampai tiga kata per detik dari sekitar 30.000
perbendaharaan kata harian yang dimilikinya untuk berujar. Yang lebih
menakjubkan lagi adalah bahwa seorang penutur mampu berujar secara
berkelanjutan dengan tingkat keakuratan yang luar biasa, mengingat besarnya
jumlah rata-rata kosa kata yang dimilikinya (Field 2004: 283). Proses mental
yang rinci ini kadang terjadi dalam kendali bawah sadar kita, sehingga pada
saat kita bertutur, dalam komunikasi sehari-hari, seolah-olah tanpa harus
berfikir. Namun pada dasarnya dibalik kalimat-kalimat yang diujarkan oleh
seorang penutur ada proses mental luarbiasa terjadi sebelumnya. Pada bagian
ini, kami mencoba untuk menggambarkan urutan hierarkis yang terjadi dalam
proses pengujaran kalimat, dari tahap konseptualisasi sampai pada tahap
perwujudan konsep dalam pelaksanaan ujaran (artikulasi kalimat).

Umumnya, para ahli sepakat bahwa proses produksi kalimat terdiri dari
tiga tahap umum yaitu tahap konseptualisasi – menentukan pesan apa yang
akan disampaikan, formulasi – menentukan bagaimana cara penyampaian
pesan yang telah ditentukan kedalam bentuk-bentuk linguistik, dan terakhir
tahap artikulasi. Tahap pelaksanaan penyampaian pesan, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Levelt dalam Harley (2001: 374). Proses konseptualisasi
sampai formulasi terjadi secara berurutan di dalam mental kita lalu kemudian
hasil dari proses mental ini siap untuk deskripsikan menjadi ujaran dalam
bentuk bunyi yang dapat dimengerti oleh interlokutor (lawan bicara).
8

Tahap konseptualisasi, penutur membentuk konsep dan menentukan pesan


apa yang ingin disampaikan kemudian memilah informasi yang relevan dalam
memorinya untuk disiapkan menjadi susunan ujaran yang dimaksudkan. Pada
tahap ini penutur juga mempertimbangkan batasan situasional dimana ujaran
yang terncanakan dapat diungkapkan pada situasi yang sepatutnya (Griffin dan
Ferreira 2006: 22).

 Langkah selanjutnya yaitu tahap formulasi. Tahap ini terbagi menjadi


beberapa sub tahapan, pertama yaitu tahap pemilihan kata yang sesuai dengan
pesan yang akan disampaikan (lexicalization). Menentukan kata yang ingin
digunakan dalam suatu ujaran melibatkan pertimbangan kesesuaian kata
dengan faktor makna semantik dan pragmatik. Kata yang dianggap dapat
mewakili pesan inilah yang disebut dengan lemma. Selanjutnya proses
perencanaan bunyi yang sesuai dengan kata yang telah dipilih. Pada proses ini
terjadi penyusunan bentuk-bentuk fonologis dari tiap kata yang telah terpilih
dengan memilahnya dalam bentuk bunyi yang bermakna. Selain itu tahap ini
juga melibatkan perincian sintaksis. Kata yang telah terpilih kemudian
diletakkan secara hierarkis pada posisinya masing-masing dalam bentuk
kalimat sesuai dengan aturan sintaksis yang berlaku. Meskipun demikian
beberapa pendapat menyatakan bahwa perhatian pada bentuk sintaksis dari
sebuah kalimat yang akan diujarkan tidak selamanya kita butuhkan dalam
usaha kita untuk menyampaikan pesan yang telah direncanakan pada tahap
konseptualisasi sebelumnya (Harley 2001: 374).

9
Tahap yang terakhir adalah tahap artikulasi, yaitu proses pelafalan kata-
kata yang telah taerkonsep oleh perangkat motorik artikulasi. Pada tahap ini
terjadi penerjemahan informasi-informasi fonologis kedalam bentuk suara.
Otot-otot artikulasi diperintahkan untuk bergerak sesuai dengan spesifikasi
suara yang diharapkan. Selain itu, suara yang terbentuk selayaknya terwujud
dalam urutan yang tepat. Sehingga gerakan alat artikulator serta urutan bunyi
yang tepat kemudian membentuk suara yang bermakna sesuai dengan yang
dimaksudkan sebelumnya dalam proses konseptualisasi dan formulasi.
Tahapan proses produksi ujaran secara singkat dapat dilihat pada bagan
berikut ini:

CONSEPTUALIZATION (MESSAGE LEVEL OF PRESENTATION) 


· Involves determining what to say 
· Speaker conceives an intention 
· Speaker select a relevant information 
· The product is a preverbal message 

FORMULATION 
· Involves translating the conceptual representation into linguistic form 
· Includes the process of lexicalization 
· Includes the process of syntactic planning 
· Involves detailed phonetic and articulatory planning 
· Includes the process of phonological encoding 

ARTICULATION · 
· Involves retrieval of chunks of internal speech 
· Involves motor execution 

Levelt’s speech production process (Harley 2001: 375) 

10
Salah satu pendekatan terhadap tahapan produksi ujaran ialah yang
diajukan oleh Willem Levelt, yang kemudian diadaptasi menjadi model
matematis yang disebut dengan WEAVER++ (Taxler 2012: 39). Menurut
model ini, hal penting yang harus kita garis bawahi dalam pengujaran
kalimat adalah bahwa pada saat kita menyusun satu ide yang akan kita
ungkapkan dalam ujaran kita, tidak secara otomatis langsung sampai
kepada produksi ujaran yang terwujud dalam suara. Ada serangkaian tahap
yang kita lalui mulai dari tahap konsepsi ide hingga proses artikulasi
kalimat dalam rangka menyampaikan ide kita. WEAVER++
mengambarkan tahapan-tahapan ini secara sistematis. Tahapan ini terjadi
secara berurutan dan simultan dimama tiap tahapan akan menghasilkan
satu produk yang akan mengaktifkan tahapan beriktunya.
Dalam model ini, produksi kalimat dimulai dari penyusunan ide
yang akan disampaikan oleh seorang penutur. Kemudian ide ini
dihubungkan dengan konsep leksikal yang kita punya dalam memori kita.
Suatu bahasa bisa saja memiliki kata-kata spesifik untuk menggambarkan
satu konsep, namun terkadang juga ada satu konsep yang mengharuskan
kita untuk menggambungkan dua konsep atau lebih agar dapat
menggambarkan konsep yang dimaksud dengan lebih tepat. Oleh karena
itu kita akan melewati tahap ini sebelum kita masuk ke dalam tahapan
selanjutnya yaitu pemilihan kata (lexical selection). Setelah memilah kata-
kata dalam kamus mental kita yang dianggap tepat untuk mewakili konsep
kita kemudian lemma terbentuk. Lemma adalah konsep kata terpilih yang
dianggap mampu mewakili pesan yang ingin kita sampaikan. Lemma
kemudian di proses pada tahap enkode morphologi, dalam proses ini
terjadi penyusunan bentuk kata yang sesuai dengan yang dimaksudkan
oleh konsep, termasuk penyusunan bagaimana bentuk kata dalam kalimat
dan bagaimana kata-kata ini dirangkaikan dalam satu kalimat serta
urutannya.

11
Proses ini kemudian menghasilkan morpheme, bentuk kata yang
telah terseleksi. Selanjutnya kita mulai merancang bagaimana kata-kata ini
akan diformulasikan kedalam bentuk suara yang tersusun sesuai dengan
urutannya.
Proses perencanaan bunyi dimulai di enkode fonologi. Proses ini
mengaktifkan organisasi susunan fonem kedalam potongan suku kata
secara berurutan. Hasil dari proses ini adalah susunan perncanaan bunyi
kata yang terdiri dari urutan suku kata. Urutan perencanaan bunyi ini
kemudian digunakan di dalam enkode fonetik untuk kemudian dicocokkan
dengan bunyi yang sesuai. Serangkaian suku kata ini secara lebih spesifik
dicocokkan dengan bunyi yang tersedia dalam memori kita, kemudian
masing-masin ditempatkan pada posisi yang seharusnya. Hasil dari proses
ini kemudian jadi pedoman bagi proses perwujudan fonetik kedalam suara
oleh sistem motorik. Yang pada akhirnya sistem motorik ini
menginstruksikan kepada otot-otot yang terlibat dalam alat artikultor unutk
mulai melakukan tugasnya untuk mengartikulasikan kata-kata yang telah
diformulasikan kedalam bentuk ujaran yang nyata. Selain itu, berdasarkan
analisis kesalahan berbahasa, Garret (Harley 2001: 378) berpendapat
bahwa kita memproduksi ujaran melalui serangkaian tahapan proses yang
terpisah. Pada model yang diajukan olehnya, proses pembentukan sebuah
ujaran terjadi secara berurutan, dimana setiap tahap hanya ada satu proses
yang terjadi. Model ini memberi perhatian pada perencanaan sintaksis
(susnan kalimat) yang terjadi pada tahap formulasi ujaran. Pada model ini
formulasi ujaran melibatkan dua tahap proses yang penting, level
fungsional dan level posisional.

12
Pada level fungsional, tatanan kalimat belum terwujud secara jelas,
melainkan ditekankan pada kandungan makna semantik dalam setiap kata
yang terpilih yang kemudian akan diposisikan pada susunan sintaksis
seperti subjek atau objek. Sedangkan pada level posisional, kata-kata telah
tersusun dengan jelas dalam bentuk susunan sintaksis. Conceptualization
Message level Functional level Formulation Positional level Sound level
Articulation Articulatory instructions Garret’s model of speech production
(Harley 2001: 378) 
D. Artikulasi Kalimat Pertanyaan
Yang muncul selanjutnya adalah bagaimana langkah-langkah yang
kita lakukan setelah formulasi ujaran selesai terbentuk dalam benak kita,
proses apa saja yang terjadi pada saat suara mulai terproduksi oleh sistem
artikulasi kita. Pada bagian ini kami akan menggambarkan bagaimana kita
memproduksi ujaran kedalam bentuk suara melalui eksekusi sistem
motorik pada alat artikulasi kita. Sehingga dapat kita pahami bagaimana
urutan proses yang terjadi pada saat kita mengeksekusi kata-kata yang
telah tersusun menjadi ujaran dalam bentuk suara yang bermakna. 

Sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya, bahwa proses


pengungkapkan sebuah ujaran dimulai oleh proses mental dalam otak kita
bukan dimulai oleh sistem pernafasan kita. Oleh karena itu, proses
pengujaran kalimat erat kaitannya dengan kinerja otak kita, semakin baik
kinerja otak kita dalam mengkoordinasi kalimat yang akan diujarkan,
semakin baik kalimat yang terproduksi. Kalimat yang telah selesai
terformulasi pada tahap sebelumnya, kemudian siap untuk diujarkan, kita
membutuhkan serangkaian bunyi yang dapat mewakili formulasi kalimat
ini.

13
Oleh sebab itu, kita membutuhkan sistem yang memberikan
perintah kepada alat articulator agar mengeksekusi formulasi kalimat ini
kedalam bentuk ujaran. Sistem yang berperan pada proses ini adalah
sistem yang terletak pada otak kita tepatnya pada daerah Broca. Sistem ini
mengirimkan pesan kepada sistem korteks motorik untuk mulai melakukan
pekerjaannya membentuk pola gerakan tertentu agar menghasilkan bunyi
yang diinginkan. Korteks motorik ialah jaaringan yang bertanggung jawab
dalam pengendalian sistem artikulasi kita termasuk lidah, rahang, gigi, pita
suara dan alat artikulasi lainnya (Dardjowidjojo 2008: 157). 

Instruksi yang diberikan oleh sistem dalam daerah Broca ini


diberikan secara berurutan sebab jarak antara otak dengan rangkaian alat-
alat artikulasi berbeda. Instruksi pertama didapatkan oleh pita suara kita
untuk menjaga ketepatan segmen fonetik kata yang akan kita ujarkan
dengan iringan getaran suara (voice atau voiceless). Instruksi ini diberikan
sebelum suara dilafalkan. Setelah perintah ini diterima oleh pita suara kita
(bergetar atau tidak) alat-alat articulator lainnya – lidah, rahang, bibir,
gusi, rongga mulut, dan lainnya – bersiap dan mulai digerakkan untuk
membentuk pola yang menghasilkan suara tertentu sesuai kebutuhan
berdasarkan kata yang ingin kita ucapkan (sesuai dengan phonological
planning yang telah tersusun sebelumnya). Proses terjadi secara berurutan
terusmenerus seiring kita mengucapkan kata-kata dalam ujaran kita dalam
kecepatan yang tinggi. Sehingga kita dalam berujar akan terasa normal
seolah-olah tidak ada proses bertahap yang kita lakukan sebelum ujuaran
terucap dalam bentuk suara. Karena adanya keragaman susunan phonetic
dalam setiap kata, maka proses artikulasi untuk menghasilkan bunyi
disesuaikan dengan keadaan alat artikulator kita seiring rangkaian bunyi
yang diproduksi pada tiap kata dalam ujaran kita.

14
Namun seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya bahwa proses
ini terjadi begitu cepatnya sehingga seseorang yang berujar dengan
kecepatan tinggi akan mempengaruhi kualitas ujaran yang diproduksinya
sebab semakin singkat waktu yang gunakannya untuk menyelesaikan
semua proses ini. Oleh karena itu terkadang terjadi produksi suara yang
kurang akurat dan kekeliruan dalam mengucapkan beberapa kata. Selain
itu, oleh karena suara yang kita produksi pada dasarnya berasal dari aliran
udara yang dihembuskan dari paru-paru yang melewati batang
tenggorokan, organ hidung dan mulut kita, maka ada tiga proses yang kita
lalui – dalam kaitannya dengan aliran udara ini – sebelum ujaran terwujud
dalam bentuk suara, yaitu inisiasi, phonation, oro-nasal process, dan
artikulasi. Proses inisiasi yaitu saat dimana udara mulai dikeluarkan
(dihembuskan) dari dalam paru-paru. Udara yang dihembuskan ini
kemudian dialirkan kedalam pangkal tenggorokan (Larynx). Larynx
memiliki dua lembaran yang tersusun horizontal, lembaran inilah yang
disebut pita suara. Jarak yang terbentuk diantara dua lembaran ini disebut
glottis. Glottis dapat berposisi tertutup, sedikit terbuka, maupun terbuka
lebar. Ketika udara melewati pita suara ini kemudian terbentuk glottis
yang sedikit terbuka menyebabkan pita suara bergetar sehingga
menghasilkan suara voiced. Dan apabila glottis terbuka lebar maka akan
mengurangi getaran pada pita suara sehingga mneghasilkan suara
voiceless, hal ini juga terjadi disaat kita bernafas normal. Proses ini
disebut phonation. Setelah melewati larynx, udara kemudian disalurkan ke
dalam rongga mulut atau rongga hidung (sesuai dengan sistem fonetik kata
yang ingin kita ucapkan). Bagian yang bertanggung jawab dalam
penyaluran udara apakah akan di salurkan ke rongga mulut ataupun rongga
hidung disebut velum.

15
Proses ini disebu proses oro-nasal, yang mana melalui proses ini
kita dapat membedakan suara yang berasal dari hembusan udara lewat
rongga hidung (nasal) (/m/, /n/, //) dengan suara lain yang berasal dari
rongga mulut. 

Terakhir yaitu proses artikulasi. Proses ini terjadi dalam rongga


mulut kita yang mana melalui proses ini kita dapat menciptakan dan
membedakan sebagian besar bunyi yang beragam. Dalam rongga mulut.
Organ organ yang berperan disini adalah bibir atas dan bawah, gigi atas
dan bawah, lidah (ujung, bladae, depan, dan belakang), dan langit-langit
mulut. Beragam suara yang kita produksi dapat kita bedakan dari
bagaimana alat-alat tersebut diletakkan dan diperlakukan. Proses ini
kemudian menghasilkan suara-suara bermakna sesuai dengan yang kita
konsepsikan. 

E. Kekeliruan
Terjadi oleh karena begitu cepatnya kita memproses suatu kalimat
untuk diujarkan, terkadang kita melakukan kekeliruan dalam
mengucapkan kalimat yang ingin kita sampaikan. Penelitian dalam
psikolinguistik modern menemukan bahwa kekeliruan dalam berbahasa ini
mencerminkan adanya rincian komponen beragam yang berperan dalam
satu proses produksi ujaran. Kekeliruan berbahasa dapat kita gunakan
sebagai instrumen untuk memahami bagaimana proses produksi ujaran
terjadi, sebab kekeliruan berujar yang muncul hampir tidak pernah terjadi
secara acak. Oleh karena kekeliruan berbahasa ini muncul dalam wujud
yang sistematis, fenomena ini dapat membantu kita untuk melacak tahapan
apa yang kita lewati dalam proses produksi sebuah kalimat untuk
diujarkan.
16
Penelitian menemukan setidaknya ada tiga kekeliruan berbahasa
yang sering terjadi pada saat kita berujar, yaitu substitusi semantic
(semantic substitute), pertukaran bunyi (sound exchange), dan pertukaran
kata (word exchange) (Taxler 2012: 43). 

Sering kali, pada saat kita sedang berujar, kita mengganti satu kata
tertentu dengan kata lain yang memiliki hubungan makna erat dengan kata
yang seharusnya kita ucapkan. Misalnya, kita berencana mengujarkan kata
monyet, namun kata yang terucap dalam ujaran kita bukan kata tersebut
melainkan kata-kata yang dekat dengan konsep monyet, yaitu kera atau
babon, gorilla dan seterusnya. Hal ini sering terjadi terutama ketika
sesorang berada pada tekanan ataupun diminta untuk mengucapkan
sebbuah kata secepat mungkin setelah satu konsep, misalnya gambar,
diberikan kepadanya. model kekeliruan ini disebut substutisi semantik.
Fenomena ini mencerminkan adanya proses persiapan konsepsi yang
kemudian mempengaruhi tahapan pemilihan kata (lexical selection) dalam
mental kita. Substitusi semantic ini menunjukkan bahwa konsep sebuah
kata yang dalam memori kita berhubungan dengan sejumlah konsep kata
lainnya yang memiliki kedekatan makna dengan kata tersebut. Ketika kita
memikirkan sebuah konsep kakta kita akan mengaktifkansatu konsep yang
tersimpan dalam memori jangka panjang kita, konsep-konsep lain yang
berhubungan dan memiliki kedekatan makna dengan konsep tersebut akan
secara tidak langsung juga diaktifkan.
17
Pengaktifan konsep mengharuskan kita untuk mengeliminasi
konsep-knonsep kata lain dan fokus kepada konsep kata target, dalam
contoh di atas misalnya monyet. Penyeleksian konsep kata ini menjadi
kata yang kita inginkan menghasilkan lemma. Lemma inilah yang akan
diproses pada tahap selanjutnya hingga terproduksi sebagai satu ujaran.
Namun karena kecepatan kita dalam memproses konsep tersebut dalam
mental kita, mungkin karena adanya tekanan atau instruksi untuk
mengujarkan kata, seringkali kita keliru untuk memilih kata target ini,
walaupun sebenarnya kita tahu bahwa kita sedang tidak mengucapkan kata
yang benar sesuai dengan konsep yang kita inginkan. 

Kekeliruan ujaran lain yang sering terjadi ialah pertukaran bunyi


(sound exchange). Pada kekeliruan ini kita telah berhasil memilah konsep
yang benar dan menyusunnya kedalam susunan lemma. Namun kata yang
terucap tidak terdengar seperti urutan bunyi yang seharusnya, contohnya
seseorang yang ingin mengatakan tiup, namun yang terdengar dari
ujarannya bukan tiup melainkan tuip. Kekeliruan ini memberikan kita
bukti bahwa ada tahapan selanjutnya yang kita lewati setelah kita berhasil
menyusun lemma. Kesalahan ini terjadi pada tahap setelah lemma dan
morphem telah ditentukan namun kita belum merampungkan perencanaan
artikulasi (rancangan pergerakan otot-otot articulator). Yang perlu digaris
bawahi disini adalah, berdasarkan penelitian, dalam hal susunan kata
dalam satu bentuk prase, kekeliruan semacam ini hanya terjadi umumnya
pada kata-kata yang terdapat dalam satu kelompok prase yang sama.
Menurut model produksi ujaran yang diajukan oleh Dell dalam Taxler
(2012), ketika kita telah selesai menyeleksi lemma yang tepat, setiap
phonem tunggal yang terkandung di dalamnya akan diaktifkan dan
diletakkan ke dalam kerangka. Kerangka ini terwakili dalam setiap suku
kata.
18
Kemudian kita akan mengaktifkan fonem yang kita butuhkan
dalam tiap suku kata tersebut, yang mana setiap fonem ini akan di susun
dengan urutan yang sesuai. Urutan ini yang kemudian menjadi pedoman
bagi sistem selanjutnya untuk menentukan bunyi mana yang disebutkan
pertama, kedua, dan seterusnya. Oleh karena kerangka suku kata dan
urutan phoneme yang dibutuhkan ini diaktifkan hampir bersamaan,
mengakibatkan proses selanjutnya kadang menjadi keliru untuk memilih
bunyi mana yang ada pada urutan pertama dan selanjutnya, dan
menghasilkan kekeliruan ujaran yang mana bunyi dari kata-katanya
tertukar. 

Kekeliruan selanjutnya terjadi pada tingkat susunan kalimat


ataupun prase. Seringkali kita mendengarkan seseorang yang menukarkan
posisi kata-kata dalam satu kalimat ujarannya. Kekeliruan ini disebut
pertukaran kata (word exchange). Kekeliruan ini terwujud ketika dalam
satu ujaran, kata yang semestinya berada pada posisi tertentu kemudian
diproduksi dalam posisi yang berbeda, yang tentunya tidak sesuai dengan
apa yang kita konsepsikan. Misalnya anda ingin mengatakan “Anjing
mengejar kucing” namun yang terucap pada ujaran adalah kalimat
“Kucing mengejar anjing.” Dalam kasus ini kata anjing dan kucing terlibat
dalam pertukaran posisi kata dari posisi yang seharusnya. Sebagian besar
kekeliruan ini terjadi dalam kerangka kategori. Kerangka kategori ialah
kelas kata untuk setiap kata dalam satu ujaran (kata benda, kerja, sifat,
depan dsb.). Kekeliruan ini terjadi dalam wujud pertukaran posisi kata
hanya dari satu kelas kata yang sama.
19
Karena sebagian besar ujaran terwujud dalam bentuk susunan
kalimat, maka proses perencanaan ujaran lebih banyak terjadi dalam
bentuk proses penyusunan kalimat dibandingkan hanya satu kata tunggal.
Oleh karena itu, berdasarkan model frame-and-slot, proses produksi
kalimat terjadi dengan membentuk kerangka kalimat yang terdiri dari
beberapa slot yang siap diisi dengan kata-kata yang sesuai baik makna,
posisi, serta bentuknya secara gramatikal dalam satu kalimat atau klausa.
Setiap slot ini diberikan tanda yang menunjukkan kelas kata apa yang
seharusnya diletakkan di dalam slot tersebut (kata benda, kerja, sifat, dsb.).
Pertukaran posisi kata terjadi ketika lebih dari satu “calon” kata yang
mengisi slot dalam kalimat diaktifkan secara hampir bersamaan, yang
mana kata-kata ini memiliki kelas kata yang sama, sehingga kata ini
mungkin dimasukkan kedalam slot yang bertanda sama dalam kalimat.
Oleh karena itu, bisa terjadi kekeliruan dalam memasukkan kata yang
diinginkan kedalam slot yang belum terisi (yang berlabel sama). Namun
demikian, mengingat setiap slot ini diberikan tanda tertentu (kata kerja,
benda, sifat) maka kekeliruan ini tidak pernah nampak pada pertukaran
kata dari kelas kata yang berbeda, misalnya kata kerja mengisi slot yang
seharusnya untuk kata benda dan sebaliknya. 

20
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Melalui penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa terkadang kita pada
saat berkomunikasi mengeluarkan ujaran terasa begitu cepat sehingga seolah-
olah kita tidak melakukan proses mental yang kompleks sebelum berujar.
Nyatanya berujar itu membutuhkan tahapan mental sebelum kita mengeksekusi
setiap ide yang dimiliki melalui alat artikulasi yang ada. Rentetan bunyi yang
terdengar sepertinya sangat sederhana, namun ada banyak tahapan penting yang
harus dilakukan untuk merefresentasikan ide atau konsep yang ada dalam
pikiran kita sebelum terwujud dalam bentuk ujaran atau bunyi yang memiliki
makna yang bisa dipahami oleh pendengar. Kita perlu membentuk konsep ide
yang mau disampaikan terlebih dahulu, kemudian memproses ide tersebut
menjadi bentuk-bentuk linguistik dalam mental kita, kemudian akhirnya
terwujudlah dalam bentuk ujaran. 
21