Anda di halaman 1dari 5

TUGAS MANDIRI ASPK

Syaiful Rizal F34170084


Dosen: Prof Dr. Ir. Marimin, M.Sc
Buku: Green Productivity

BAB 1
KONSEP PRODUKTIVITAS
SOAL TIPE 1
1. “Produktivitas” adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan
sumber daya yang digunakan untuk mencapainya”. Menurut National Productivity Board
of Singapore, “produktivitas adalah sikap mental yang mengandung keinginan atau
kemauan untuk bekerja keras dan melakukan perbaikan atau peningkatan kerja produktif
secara kontinyu”. International Labour Organization (ILO) mendefinisikan bahwa
“produktivitas adalah rasio antara hasil produksi dengan gabungan elemen produksi,
seperti: lahan, modal, tenaga kerja, dan organisasi”. Menurut European Productivity
Agency (EPA), produktivitas adalah tingkat efisiensi dari pemanfaatan setiap sumber
daya yang dimiliki untuk menghasilkan produksi.
“Performansi” merupakan istilah untuk mengukur keprimaan (excellence) dimana di
dalamnya terdapat ukuran profitabilitas dan produktivitas selain ukuran nonfinansial lain
seperti kualitas, kecepatan, pengiriman serta fleksibilitas.
“Efisiensi” merupakan rasio antara output (keluaran) aktual yang diperoleh dengan
keluaran baku yang diharapkan.
“Efektivitas” adalah tingkat atau derajat pencapaian tujuan. Dengan kata lain seberapa
baik suatu hasil dicapai menggambarkan efektivitas, sedangkan seberapa baik
sumberdaya digunakan untuk mencapai hasil menggambarkan efisiensi.
Profitabilitas dilihat sebagai hubungan antara output dan input tetapi merupakan
hubungan moneter dan dipengaruhi oleh faktor harga (price recovery).

2. Taksonomi Pengukuran Produktivitas


Jenis pengukuran produktivitas pada level makro ekonomi (ekonomi, industri, sektor)
berbeda dengan produktivitas pada level mikro ekonomi (perusahaan, korporasi).
Hierarki Pengukuran Produktivitas
Tolok ukur industri diukur sesuai dengan jenis industrinya, misalnya pada industri
tekstil diukur dengan value-added per pekerja karena karakteristik industri tekstil
bersifat pada karya. Pengukuran dalam hospitality industry atau sering sekali
diterjemahkan dengan industri perhotelan dengan angka occupancy atau penuhnya
kamar hotel. Ukuran produktivitas berbeda pula untuk industri berbasis peternakan
dengan ukuran ton-daging per pekerja.

3. Dari segi cakupan pengukuran, maka terdapat 3 jenis ukuran produktivitas yaitu (1)
produktivitas total, (2) produktivitas total-faktor dan (3) produktivitas parsial, yang
masing-masing mempunyai arti yang berbeda (Sumanth 1984).
Produktivitas Total, rasio dari jumlah total ouput terhadap jumlah total input.
Sehingga pengukuran produktivitas total merefleksikan pengaruh dari semua input dalam
menghasilkan output.
Produktivitas Total-Faktor merupakan ukuran produktivitas pada tingkat makro
ekonomi, yang didefinisikan sebagai rasio dari output bersih terhadap jumlah input
tenaga kerja dan modal yang bersangkutan, yang dirumuskan sebagai berikut: Total
Factor Productivity = Net Output / (Labour + Capital)
Produktivitas Parsial adalah rasio dari output terhadap salah satu faktor input, sering
disebut juga sebagai produktivitas faktor tunggal (single-factor productivity).

4. Berdasarkan tujuannya, pengukura produktivitas terdiri dari:


 Mengetahui kondisi produktivitas  untuk mengetahui disebut measurement
for awareness. Ukuran yang disusun untuk memunculkan awareness biasanya
cakupannya luas dengan indikator yang bersifat sistem dan luas. Selain itu
untuk mengukur input, output, dan value added statement
 Pengendalian  Tujuannya adalah untuk mengindikasikan kapan, dan
seberapa banyak kinerja sebuah proses menyimpang untuk selanjutnya
dilakukan pengendalian. Ukuran-ukuran untuk keperluan pengendalian sering
sekali bersifat spesifik, dan aspek-aspek dalam proses produksi didefinisikan
secara detail.
 Peningkatan  biasanya menggunakan pendekatan positif. Kategori ini
bersifat luas dan menggunakan ukuran untuk mendiagnosa dan mengevaluasi
beserta ukuran-ukuran yang digunakan untuk goal setting dan feedback.
Ukuran diagnostik dan evaluasi didesain untuk mengidentifikasi permasalahan
beserta gejalanya, letak permasalahan dan besar permasalahan.
Kecenderungan pada jenis ukuran untuk peningkatan menggunakan
pendekatan ukuran holistik dan multifaktor atau sekumpulan ukuran serumpun
untuk mendapatkan sudut pandang menyeluruh organisasi.

5. Dalam pengukuran kinerja, diperlukan tindakan pembandingan atau benchmark.


Tindakan ini diperlukan untuk memberikan pemaknaan akan nilai kuantitif yang didapat
dari perhitungan. 3 pendekatan dalam benchmarking
a. Benchmark temporal-longitudinal Kinerja dengan pendekatan temporal-
longitudinal adalah membandingkan angka kinerja antar dua periode waktu.
b. Benchmark spatial-cross sectional Perbandingan cross-sectional mengambil
beberapa teknik pengukuran yang memungkinkan suatu entitas, baik itu
perusahaan atau divisi, membandingkan kinerjanya dengan entitas lain yang
serupa atau sekelas.
c. Benchmark normatif Pendekatan Benchmark normatif adalah jika dilakukan
perbandingan antara kinerja dengan sebuah norma atau standar.
SOAL TIPE 2
1. Kriteria yang diperlukan untuk mengukur kinerja perusahaan berdasarkan extended
system :
 Sistem hulu/sistem penyedia sumber daya material
 Penjaminan kualitas masuk
 Manajemen kualitas bahan dalm proses
 Penjaminan kulaitas produk keluar
 Penjaminan proaktif dan reaktif bahwasistem organisasi bisa
memenuhi konsumen saat ini maupun saat yang akan datang.
 Sistem organisasi
 Efektivitas
 Inovasi
 Utilitasi
 Kualitas kehidupan kerja
 Efisiensi
 Produktivitas
 Profitabilitas
2. Produktivitas Parsial, karena produktivitas parsial diperlukan untuk mendeteksi
penyebab terjadinya penurunan atau peningkatan produktivitas, sehingga dapat
dilakukan proses yang lebih terfokus untuk perbaikan produktivitas. Oleh karena itu,
produktivitas/kinerja dapat diukur dengan jenis pengukuran produktivitas parsial.

Adapun kelima checkpoint tersebut adalah:


 Checkpoint - 1 merupakan pemilihan dan manajemen sistem hulu/ sistem
penyedia sumber daya material
 Checkpoint - 2 merupakan penjaminan kualitas masuk
 Checkpoint - 3 merupakan manajemen kualitas bahan dalam proses
 Checkpoint - 4 merupakan penjaminan kualitas produk keluar
 Checkpoint - 5 merupakan penjaminan proaktif dan reaktif bahwa sistem
organisasi bisa memenuhi kebutuhan konsumen saat ini maupun saat yang
akan datang.