Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Balok komposit bambu merupakan penemuan yang sangat
menguntungkan dan sangat inovatif. Disaat kayu sudah sangat mahal dan sulit
untuk didapatkan balok komposit bambu ini bisa menjadi pengganti kayu.
Selain lebih murah dan lebih mudah didapatkan balok komposit bambu ini
memiliki kualitas yang tidak kalah dari kayu pada umumnya bahkan ada yang
bilang balok komposit bambu ini sekuat baja walaupun itu mungkin hanya
kiasan namun berarti kekuatan balok komposit bambu ini tidak bisa
diremehkan. Bambu memang memiliki sifat kaku yang masih kalah
dibandingkan dengan sifat kaku kayu. Namun bambu memiliki sifat tarik yang
kuat sehingga cocok untuk menjadi pengganti dari kayu. Balok komposit
bamboo ini merupakan penemuan yang masih dapat dikembangkan lagi,
apalagi banyak jenis bambu yang masih dapat diteliti dan di uji coba. Banyak
pengembangan balok komposit bamboo ini dengan berbagai metode
pembuatan. Ada yang menambahkannya dengan kayu, yang membuat balok
kompositnya semakin kuat ditambah bahan perekat yang digunakan
merupakan perekat khusus yang membuat balok ini semakin kuat dan dapat
digunakan untuk berbagai keperluan. Dalam makalah ini akan dijelaskan
bamboo komposit kayu secara umum.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan Masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut
1. Jenis bambu apa saya yang digunakan untuk membuat balok komposit
bambu
2. Apa saja teknik pembuatan balok komposit bambu?
3. Bagaimana kekuatan balok komposit bambu?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan atau informasi
tentang balok komposit bambu dan memberikan alternatif terhadap pembaca
yang kesulitan mendapatkan kayu.

1
BAB II
BAGIAN UTAMA

2.1 Jenis – Jenis Bambu

1. Bambu haor kuning atau dengan nama lain yaitu bambu pring ampel
mempunyai nama ilmiah yaitu Bambusa Vulgaris bambu ini memiliki tinggi
yang dapat mencapai 10 meter dan berdiameter 9 cm. Bambu yang
mempunyai batang berwarna hijau ini mempunyai dua jenis yaitu berbatang
lurus dan berbatang melengkung. Bambu jenis ini dapat ditemukan di daerah
Sumatra, Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sumbawa, Kalimantan, Sulawesi,
Maluku dan Irian Jaya.
2. Bambu ater, bambu yang mempunya nama lain yaitu bambu awi ater,,
pring legi, pring jawa, bambu jawa dan masih banyak lagi nama daerahnya
memiliki nama ilmiah Gigantochloa Atter (Hask.) Kurz memiliki kerapatan
rumpun yang rapat. Bambu ini memiliki tinggi hingga 12 meter dengan
diameter lingkaran mencapai 11 cm. Bambu dengan warna hijau muda yang
sedikit tua memulai percabangannya dari buku bagian tengah menuju ujung
dan memilki ruas – ruas agak bengkok pada buku.
3. Bambu awi totol mempunyai nama lain yaitu bambu pring tutul dan
pring loreng mempunyai nama ilmiah yaitu Bambusa Maculata Widjaja .
Bambu ini memiliki garis – garis kuning yang muncul pada batang bagian
pangkal, memiliki tubung yang tegak lurus dengan tinggi mencapai 9 meter
dan diameter bambu 9 cm. Bambu ini berwarna hijau tua dan memiliki
percabangan dari buku tengah. Dapat ditemukan di daerah Sumatra, Jawa,
Madura, Bali, Lombok, Sumbawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Irian
Jaya.
4. Bambu duri, yang memiliki nama lain bambu cuck atau bambu duri liar
memiliki nama ilmiah Bambusa arundinaceae (Retz.) Wild. Memiliki ciri
yaitu percabangannya dari buku paling bawah. Memiliki rumpun rapat yaitu 8
batang per meternya. Memiliki pelepah batang bermiang lebat dan berwarna
gelap serta tidak mudah gugur. Bambu ini memiliki duri pada cabang di ketiak

2
ranting. Bambu ini dapat ditemukan di Sumbawa daerah Nusa Tenggara dan
Gowa.
5. Bambu pring petung, memiliki nama lain atau nama daerah. Bambu
pring petung memiliki nama ilmiah Dendrocalamus Asper. Bambu ini
memilki batang yang tebal dengan diameter mencapai 25 cm dan memiliki
tinggi lebih dari 25 cm. Bambu ini memiliki 3 jenis warna yang berbeda yaitu
petung coklat, petung hijau, dan petung kuning. Memiliki percabangan yang
sangat terlihat pada buku ke 8 sampai 10. Bambu ini memiliki daun yang lebar
dan lingkaran aar yang menonjol.
6. Bambu hitam, memiliki nama lain awi hideung dan pring wulung.
Bambu ini memilki warna hitam dan ada yang hitam keunguan. Bambu ini
memiliki kerapatan rumpun yang jarang yaitu 2 batang per meter dan
berdiameter 11 cm. Bambu yang dapat ditemukan di Jawa dan Sumatra ini
memiki tinggi mencapai 12 meter dan memiliki ruas-ruas sedikit bengkok
pada buku.

2.2 Teknik Pembuatan Balok Kompsit Bambu

Teknik pembuatan balok komposit bambu adalah dengan cara laminasi,


laminasi sendiri artinya adalah pelapisan bahan tipis dengan pelapis di sisi
nya. Proses laminasi dilakukan dengan menyusun balok secara memanjang
dan kemudian direkatkan oleh suatu perekat sintesis yang sangat kuat sebagi
contoh adalah perekat sintesis isosianat. Dapat ditambah dengan kayu yang
mempunyai kualitas sama atau setara untuk menambah kekakuan balok
komposit nantinya.

Sudah ada setidaknya 3 teknologi yang telah ditemukan tentang laminasi


pembuatan balok komposit bambu ini. Yang pertama adalah teknologi yang
ditemukan oleh Litbang UPT BPP biomaterial LIPI. Pengembangan yang
dilakukan LIPI ini bertujuan untuk mencari alternative pengganti kayu.
Laminasi ini dilakukan dengan membuat potongan pipih batang bambu yang
kemudian disatukan dan dibentuk menjadi berbentuk balok. Kemuadia
diberikan bahan perekat lalu dipres. Kemuadian ada teknologi laminasi bambu

3
yang ditemukan oleh Sulastiningsih. Tujuan penelitian ini sama dengan LIPI
yaitu untuk mencari alternatif dari kayu namun disini juga bertujuan untuk
mengetahui pengaruh dari jenis bambu yang digunakan dalam proses laminasi.
Ba,bu yang digunakan Sulastiningsih dalam penilitiannya adalah bambu
andong, bambu tali, dan bambu mayan. Dan yang selanjutnya adalah
teknologi laminasi oleh professor asal UGM yaitu Prof. Dr. Ir. Morisco. Pada
tahun 2004 Morisco mengembangkan lagi teknik laminasi bambu yang dapat
digunakan sebagai kusen, mebel, daun pintu, dinding, dan lantai. Masih
banyak lagi pengembangan laminasi bambu ini bakhkan ada yang
menambahkan kayu sebagai bahannya dan jenis bambu yang digunakan juga
berbeda-beda.

2.3 Kekuatan Balok Komposit Bambu

Balok komposit bambu memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Tergantung


jenis bambu yang digunakan, perekat yang digunakan serta adakah campuran
yang digunakan seperti kayu contohnya. Menurut penelitian yang dilakukan
Sulistiningsih dengan judul “Beberapa Sifat Bambu Lamina Yang Terbuat
Dari Tiga Jenis Bambu” jenis bambu mempengaruhi sifat dari bambu laminasi
kecuali kadar air, keteguhan rekat sejajar serat dan keteguhan kerapatan. Dan
menurut penelitian Sulistiningsih sifat pereketan dengan tiga jenis bambu
yang ia teliti setara dengan kayu kelas kuat II, dan dapat digunakan sebagai
alat subsitusi dari kayu.

Perekat yang digunakan juga mempengaruhi sifat dari balok komposit


bambu sebagai contoh juga memakai perekat jenis resin lycal tidak dapat
merekat dengan kuat karena perekat jenis ini memiliki sifat masuk ke dalam
pori-pori sehingga saat uji tarik lappisan lem menarik serat-serat bambu.
Untuk Perekat jenis lem polyurethane dapat menghasilkan rekatan yang kuat
namun laminasi bambunya menjadi kaku dan tidak lentur sehingga tidak dapat
di tekuk. Untuk jenis lem PVAC (Poly Vinly Acetate) memiliki kekuatan yang
baik dan kelenturan bambu laminasi masih terjaga. Dan memang lebih baik
dari urea formaldehida. Kelebihan utamanaya adalah memiliki ikatan rekat

4
yang lebih cepat pada suhu kamar. Dan biaya yang dibutuhkan apabila
menggunakan perekat ini adalah biaya yang relative murah. Namun ketiga
jenis perekat diatas tidak tahan terhadap suhu panas dan uap air. Masih banyak
lagi jenis perekat yang dapat digunakan namun kita tetap harus melihat apa
jenis bambu yang digunakan dana pa jenis kayu yang digunakan bila ditambah
kayu untuk menentukan jenis perekat. Karena setiap jenis perekat memiliki
sifat yang berbeda-beda juga.

Penambahan kayu dalam balok komposit juga mempengaruhi sifat balok


komposit bambu. Beberapa penelitian telah meneliti tentang ini seperti
campuran antara bambu petung dan kayu meranti. Dalam penelitian dijelaskan
bahwa presentase keduanya dalam balok laminasi mempengaruhi kekuatan
balok. Dan balok ini memiliki kelas kuat III. Ini cukup baik dan dalam industri
kapal dapat digunakan dalam pembuatan gading, galar, balok geladak, kulit,
papan geladak dan papan. Lalu ada penelitian yang meneliti laminasi antara
bambu andong dan kayu jabon. Dan hasilnya telah memenuhi standar Jepang
berdasarkan nilai MOE dan MOR dan setara dengan kayu kelas kuat III-IV.

Penelitian dengan judul “Perbandingan Kekuatan Geser dan Lentur Balok


Bambu Laminasi dengan Kayu” menyimpulkan bahwa leluatan kuat lentur
laminasi bambu masih kalah dari kuat lentur balok kayu jati dan mahoni.
Kekuatan geser kayu balok kayu jati dan mahoni lebih unggul dibandingkan
dengan balok bambu laminasi. Namun balok bambu sudah dapat menjadi
alternatif pengganti kayu namun tidka sekuat kayu jati maupun mahoni.

Pada intinya balok komposit bambu sudah dapat menjadi pengganti dari
kayu dan dapat digunakan sebagai bahan dari pembuatan dinding, lantai,
mebel, kusen, daun pintu bahkan di pembuatan kapal juga dapat digunakan.

5
4.4 Gambar

Gambar 1. Balok Komposit Kayu

Gambar 2. Penampang Balok Laminasi dari Campuran Pelupuh dan Kayu

6
BAB III

KESIMPULAN

Kesimpulan dari makalah ini adalah :

1. Bambu yang dapat digunakan untuk membuat balok komposit bambu


sangat banyak dan dapat ditemukan di banyak wilayah Indonesia sehingga
dapat digunakan menggantikan kayu yang mulai sulit untuk ditemukan
2. Teknik pembuatan balok komposit kayu adalah dengan laminasi, yaitu
pelapisan bahan tipis dengan pelapis di sisi nya. Ada tiga teknologi
laminasi yang telah ditemukan penelitian yaitu dari LIPI, Sulastiningsih,
dan professor asal UGM yaitu Prof. Dr. Ir. Morisco.
3. Kekuatan balok komposit bambu tidak perlu diragukan lagi, dari beberapa
penelitian menunjukan bahwa balok komposit bambu dapat digunakan
sebagai pengganti dari kayu dan memiliki kekuatan yang tidak kalah dari
kayu dan dapat digunakan sebagi bahan berabagai keperluan.

7
DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman, Nurwati, H., Jasni, Jamal, B. (2015). SIFAT BALOK KOMPOSIT


KOMBINASI BAMBU DAN KAYU. Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 33, 115-
124.

Rosyid, S. N. P. (2015). PERBANDINGAN KEKUATAN GESER DAN


LENTUR BALOK BAMBU LAMINASI DENGAN KAYU. (Naskah Publikasi).
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Prasetyo, N., Parlindungan, M., Berlian, A. (2017. Analisa Kekuatan Tekan dan
Kekuatan Tarik Pada Balok Laminasi Kayu Meranti Merah dan Bambu Petung
Untuk Komponen Kapal Kayu. Jurnal Teknik Perkapalan, 5, 291-299

Hari, N. (2014). PENGOL AHAN MATERIAL BAMBU DENGAN


MENGGUNAK AN TEKNIK L AMINASI DAN BENDING UNTUK PRODUK
FURNITURE. Jurnal Universitas Pembangunan Jaya, 1

http://lipi.go.id/risetunggulan/single/balok-bambu-komposit/21

http://www.trubus-online.co.id/bambu-sekuat-jati/

https://sites.google.com/site/hargadanrumah/bambu-komposit-sebagai-bahan-
bangunan

8
9