Anda di halaman 1dari 19

Resume

KESEHATAN LINGKUNGAN

(PENGELOLAHAN LIMBAH PADAT DAN CAIR)

OLEH:

TRI WAHYU NURUL ATFA

(J1A119206)

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2020
PEMBAHASAN

A. Pengolahan Limbah Padat

Pengelolaan lingkungan hidup merupakan kewajiban bersama berbagai pihak baik


pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat luas. Hal ini menjadi lebih penting lagi mengingat
Indonesia sebagai negara yang perkembangan industrinya cukup tinggi dan saat ini dapat
dikategorikan sebagai negara semi industri (semi industrialized country).

Sebagaimana lazimnya negara yang masih berstatus semi industri, target yang lebih
diutamakan adalah peningkatan pertumbuhan output, sementara perhatian terhadap eksternalitas
negatif dari pertumbuhan industri tersebut sangat kurang. Beberapa kasus pencemaran terhadap
lingkungan telah menjadi topik hangat di berbagai media masa, misalnya pencemaran Teluk
Buyat di Sulawesi Utara yang berdampak terhadap timbulnya bermacam penyakit yang
menyerang penduduk yang tinggal di sekitar teluk tersebut.

Para pelaku industri kadang mengesampingkan pengelolaan lingkungan yang


menghasilkan berbagai jenis-jenis limbah dan sampah. Limbah bagi lingkungan hidup sangatlah
tidak baik untuk kesehatan maupun kelangsungan kehidupan bagi masyarakat umum, limbah
padat yang di hasilkan oleh industri-industri sangat merugikan bagi lingkungan umum jika
limbah padat hasil dari industri tersebut tidak diolah dengan baik untuk menjadikannya
bermanfaat.

Menurut sifatnya pengolahan limbah padat dibagi menjadi 2 cara, yaitu :

1. Limbah padat tanpa pengolahan

Limbah padat yang tidak mengandung unsur kimia yang beracun & biasa langsung
dibuang ke tempat tertentu sebagai TPA berbahaya.

2. Limbah padat dengan pengolahan

Limbah padat yang mengandung unsur kimia beracun & harus berbahaya diolah sebelum
dibuang ke tempat tertentu.
B. Penanganan Air Limbah

Secara umum penanganan air limbah dapat dikelompokkan menjadi :

1. Pengolahan Awal/Pendahuluan (Preliminary Treatment)

Tujuan utama dari tahap ini adalah usaha untuk melindungi alat-alat yang ada pada
instalasi pengolahan air limbah. Pada tahap ini dilakukan penyaringan, penghancuran atau
pemisahan air dari partikel-partikel yang dapat merusak alat-alat pengolahan air limbah , seperti
pasir , kayu , sampah , plastik dan lain-lain.

2. Pengolahan Primer (Primary Treatment)

Tujuan pengolahan yang dilakukan pada tahap ini adalah menghilangkan partikel-artikel
padat organik dan organik melalui proses fisika , yakni sedimentasi dan flotasi. Sehingga partikel
padat akan mengendap (disebut sludge) sedangkan partikel lemak dan minyak akan berada di
atas / permukaan (disebut grease).

3. Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)

Pada tahap ini air limbah diberi mikroorganisme dengan tujuan untuk menghancurkan
atau menghilangkan material organik yang masih ada pada air limbah. Tiga buah pendekatan
yang umum digunakan pada tahap ini adalah fixed film , suspended film dan lagoon system.

4. Pengolahan Akhir (Final Treatment)

Fokus dari pengolahan akhir (Final Treatment) adalah menghilangkan organisme


penyebab penyakit yang ada pada air. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menambahkan khlorin
ataupun dengan menggunakan sinar ultraviolet.

5. Pengolahan Lanjutan (Advanced Treatment)

Pengolahan lanjutan diperlukan untuk membuat komposisi air limbah sesuai dengan yang
dikehendaki. Misalnya untuk menghilangkan kandungan fosfor ataupun amonia dari air limbah.
C. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan sebelum mengolah limbah padat

1. Jumlah limbah

a) Sedikit : mudah ditangani sendiri.


b) Banyak : membutuhkan penanganan khusus.

2. Sifat fisik dan kimia limbah

a) Sifat fisik : mempengaruhi pilihan tempat pembuangan, sarana pengangkutan &


pilihan pengolahan.
b) Sifat kimia : sifat kimia dari limbah padat akan merusak dan mencemari lingkungan
dengan cara membentuk senyawa-senyawa baru.

3. Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Karena lingkungan ada yang peka/tidak peka terhadap pencemaran perlu di perhatikan :

a) Tempat Pembuangan Akhir (TPA)


b) Unsur yang akan terkena
c) Tingkat pencemaran yang akan timbul

Adapun tujuan pengolahan limbah , terdiri atas dua yaitu :

1. Tujuan bersifat ekonomis

Tujuan pengelolaan yang bersifat ekonomis adalah : Meningkatkan efisiensi pabrik


secara menyeluruh dan mengambil kembali bahan yang masih berguna untuk di daur
ulang/dimanfaatkan lain.

2. Tujuan bersifat non-ekonomis

Tujuan pengelolaan yang bersifat non-ekonomis adalah : Untuk mencegah pencemaran


dan kerusakan lingkungan mekanisme pengelolaan limbah.
D. Proses pengelolaan Limbah Padat

1. Pemisahan

Karena limbah padat terdiri dari : ukuran yang berbeda-beda dan kandungan bahan yang
berbeda maka harus dipisahkan dahulu supaya peralatan pengolahan menjadi awet. Pemisahan
ada 3 sistem , yaitu:

a) System Balistik adalah system pemisahan untuk mendapatkan keserangan


ukuran/berat/volume.
b) System Gravitasi adalah system pemisahan berdasarkan gaya berat. Misalnya :
1. Barang yang ringan/terapung
2. Barang yang berat/tenggelam
c) System Magnetis adalah system pemisahan berdasarkan sifat magnet. Yang bersifat
magnet , akan langsung menempel. Misalnya , untuk memisahkan campuran logam dan
non logam.

2. Penyusutan Ukuran

Penyusutan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil , supaya
pengelolahannya menjadi mudah.

3. Pengomposan

pengomposan dilakukan terhadap buangan/limbah yang mudah membusuk , sampah kota


buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik. Limbah padat harus dipisah dan
disamakan ukurannya/volumenya supaya hasil pengomposan baik.

4. Pembuangan Limbah

Proses akhir dari pengolahan limbah padat adalah pembuangan limbah yang terbagi
menjadi dua, yaitu :

a) Pembuangan di laut

Pembuangan limbah padat di laut , tidak boleh dilakukan sembarangan tempat dan perlu
diingat bahwa tidak semua limbah padat dibuang ke laut. Hal ini di sebabkan oleh :
1. Laut sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan
2. Laut sebagai tempat rekreasi & lalu lintas kapal
3. Laut menjadi dangkal
4. Limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya yang
dapat membunuh biota laut.

b) Pembuangan di darat (Canitary Landfill)

Untuk pembuangan limbah di darat , perlu dilakukan pemilihan lokasi yang harus
dipertimbangkan sebagai berikut :

1. Pengaruh iklim , temperature dan angin


2. Struktur tanah
3. Jaraknya jauh dari pemungkiman
4. Pengaruh terhadap sumber air , perkebunan , perikanan , peternakan , flora atau
fauna.

Jadi , pilih lokasi yang benar-benar tidak ekonomis lagi untuk kepentingan apapun.

c) Pembuangan di darat/tanah

Pembuangan limbah di darat/tanah di bagi menjadi 3 , yaitu :

1. Penebaran diatas tanah.


2. Penimbunan/penumpukan.
3. Pengisian tanah yang cekung (Landfill).

Sampah yang dihasilkan manusia begitu banyak sehingga bila tidak ditangani akan
menimbulkan banyak masalah pencemaran. Beberapa metode pengolahan sampah telah
diterapkan manusia untuk menangani permasalahan sampah. Masing-masing metode tersebut
memiliki kekurangan dan kelebihan. Belum ada satupun dari metode yang telah diterapkan
manusia yang dapat menyelesaikan permasalahan sampah dengan sempurna. Oleh karena itu,
masih perlu terus dikembangkan berbagai metode baru atau modifikasi yang dapat
menyempurnakan metode yang telah ada. Berikut akan kamu pelajari beberapa metode
pengolahan limbah padat (sampah) yang telah umum diterapkan.
E. Penanganan Limbah Padat

1. Penimbunan

Terdapat dua cara penimbunan sampah yang umum dikenal, yaitu metode penimbunan
terbuka (open dumping) dan metode sanitary landfill. Pada metode penimbunan terbuka, sampah
dikumpulkan dan ditimbun begitu saja dalam lubang yang dibuat pada suatu lahan, biasanya di
lokasi tempat pembuangan akhir (TPA). Metode ini merupakan metode kuno yang sebenarnya
tidak memberikan banyak keuntungan. Di lahan penimbunan terbuka, berbagai hama dan kurnan
penyebab penyakit dapat berkembang biak. Gas metan yang dihasilkan oleh pembusukan sampah
organik dapat menyebar ke udara sekitar dan menimbulkan bau busuk serta mudah terbakar.
Cairan yang tercampur dengan sampah dapat merembes ke tanah dan mencemari tanah serta air.
Bersama rembesan cairan tersebut, dapat terbawa zat-zat yang berbahaya bagi lingkungan dan
kesehatan.

Berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh metode open dumping menyebabkan


dikembangkan metode penimbunan sampah yang lebih balk, yaitu sanitary landfill. Pada metode
sanitary landfill, sampah ditimbun dalam lubang yang dialasi lapisan lempung dan lembaran
plastik untuk mencegah perembesan limbah ke tanah. Sampah yang ditimbun dipadatkan,
kemudian ditutupi dengan lapisan tanah tipis setiap hari. Hal ini akan mencegah tersebarnya gas
metan yang dapat mencemari udara dan berkembangbiaknya berbagai agen penyebab penyakit.

Pada landfill yang lebih modern lagi, biasanya dibuat sistem lapisan ganda (plastik –
lempung – plastik – lempung) dan pipa-pipa saluran untuk mengumpulkan cairan serta gas metan
yang terbentuk dari proses pembusukan sampah. Gas tersebut kemudian dapat digunakan untuk
menghasilkan listrik.

Di sebagian besar negara maju, penimbunan sampah dengan metode open dumping telah
banyak digantikan oleh metode sanitary landfill. Namun, di Indonesia, tempat penimbunan
sampah yang menggunakan metode sanitary landfill masih jauh lebih sedikit jumlahnya
dibandingkan dengan yang melakukan penimbunan terbuka (open dumping).

Kelemahan utama penanganan sampah dengan cara penimbunan adalah cara ini
menghabiskan lahan. Sampah akan terus terproduksi sementara lahan untuk penimbunan akan
semakin berkurang. Sampah yang ditimbun sebagian besar sulit terdegradasi sehingga akan tetap
berada di area penimbunan untuk waktu yang sangat lama. Selain itu, meskipun telah
menggunakan sanitary landfill, masih ada kemungkinan terjadi kebocoran lapisan sehingga zat-
zat berbahaya dapat erembes dan mencemari tanah serta air. Gas metan yang terbentuk dalam
timbunan mungkin saja mengalami akumulasi dan beresiko meledak.

2. Inseinerasi

Insinerasi adalah pembakaran sampah/Iimbah padat menggunakan suatu alat yang disebut
insinerator. Kelebihan dari proses insinerasi adalah volume sampah berkurang sangat banyak
(bisa mencapai 90 %). Selain itu, proses insinerasi menghasilkan panas yang dapat dimanfaatkan
untuk menghasilkan listrik atau untuk pemanas ruangan. Meski demikian, tidak semua jenis
limbah padat dapat dibakar dalaminsinerator. Jenis limbah padat yang cocok untuk insinerasi di
antaranya adalah kertas, plastik, dan karet, sedangkan contoh jenis limbah padat yang kurang
sesuai untuk insinerasi adalah kaca, sampah makanan, dan baterai.

Kelemahan utama metode insinerasi adalaah biayanya yang mahal, selain itu insinerasi
menghasilkan asap buangan yang dapat menjadi pencemar udara serta abu /ashes pembakaran
yang kemungkinan mengandung senyawa yang berbahaya.

Kelemahan utama metode insinerasi adalah biaya operasi . yang mahal. Selain itu,
insinerasi menghasiIkan asap buangan yang dapat menjadi pencemar udara serta abu
ashpembakaranyangkemungkinan mengandung senyawa berbahaya.

3. Pembuatan Kompos

Kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah organik, seperti sayuran, daun dan
ranting, serta kotoran hewan, melalui proses degradasi/penguraian oleh mikroorganisme tertentu.
Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah dan menyediakan zat makanan yang
diperlukan tumbuhan, sementara mikroba yang ada dalam kompos dapat membantu penyerapan
zat makanan yang dibutuhkan tanaman.

Pembuatan kompos merupakan saIah sate cara terbaik untuk mengurangi timbunan
sampah organik. Cara ini sangat cocok diterapkan di Indonesia, karena cara pembuatannya relatif
mudah dan tidak membutuhkan biaya yang besar. Selain itu, kompos dapat dijual sehingga dapat
memberikan pemasukan tambahan atau bahkan menjadi alternatif mata pencaharian.

Berdasarkan bentuknya, kompos ada yang berbentuk padat dan cair. Pembuatan kompos
dapat dilakukan dengan menggunakan kompos yang telah jadi, kultur mikroorganisme, atau
cacing tanah. Contoh kultur mikroorganisme yang telah banyak dijual di pasaran dan dapat
digunakan untuk membuat kompos adalah EM4 (Effective Microorganism 4). EM4 merupakan
kultur campuran mikroorganisme yang dapat meningkatkan degradasi limbah/sampah organik,
menguntungkan dan bermanfaat bagi kesuburan tanah maupun pertumbuhan dan produksi
tanaman, serta ramah lingkungan. EM4 mengandung mikroorganisme yang terdiri dari beberapa
jenis bakteri, di antaranya Lactobacillus sp., Rhodopseudomonas sp., Actinomyces sp., dan
Streptomyces sp., dan khamir (ragi), yaitu Saccaharomyces cerevisiae. Kompos yang dibuat
menggunakan EM4 yang dikenal juga dengan bokashi.

Kompos dapat juga dibuat dengan bantuan cacing tanah karena cacing tanah mampu
menguraikan bahan organik. Kompos yang dibuat dengan bantuan cacing tanah dikenal juga
dengan sebutan kascing. Cacing tanah yang dapat digunakan adalah cacing dari spesies
Lumbricus terrestis, Lumbricus rebellus, Pheretima defingens, dan Eisenia foetida. Cacing tanah
akan menguraikan bahan-bahan kompos yang sebelumnya sudah diuraikan oleh mikroorganisme.
Keterlibatan cacing tanah dan mikroorganisme dalam pembuatan kompos menyebabkan
pembentukan kompos menjadi lebih efektif dan cepat.

4. Membuat Biogas

Biogas dari kotoran sapi diperoleh dari dekomposisi anaerobik dengan bantuan
mikroorganisme. Pembuatan biogas dari kotoran sapi harus dalam keadaan anaerobik (tertutup
dari udara bebas) untuk menghasilkan gas yang sebagian besar adalah berupa gas metan (yang
memiliki sifat mudah terbakar) dan karbon dioksida, gas inilah yang disebut biogas.

Proses fermentasi untuk pembentukan biogas maksimal pada suhu 30-55 C, dimana pada
suhu tersebut mikroorganisme mampu merombak bahan bahan organik secara optimal. Hasil
perombakan bahan bahan organik oleh bakteri adalah gas metan seperti yang terlihat pada tabel
dibawah ini:
Berikut adalah komposisi biogas (%) kotoran sapi dan campuran kotoran ternak dengan
Peralatan Pembuatan Biogas Kotoran Sapi :

a. Bak Penampungan sementara

Terbuat dari kotak dengan ukuran 0,5 m x 0,5 m x 0,5 m berguna sebagai tempat
mengencerkan kotoran sapi.

b. Digester

Bangunan utama dari instalasi biogas adalah digester. Digester berfungsi untuk
menampung gas metan hasil perombakan bahan bahan organik oleh bakteri. Jenis
digester yang paling banyak digunakan adalah model continuous feeding dimana
pengisian bahan organiknya dilakukan secara kontinu setiap hari. Besar kecilnya
digester tergantung pada kotoran ternak yamg dihasilkan dan banyaknya biogas
yang diinginkan. Lahan yang diperlukan sekitar 16 m2. Untuk membuat digester
diperlukan bahan bangunan seperti pasir, semen, batu kali, batu koral, bata merah,
besi konstruksi, cat dan pipa prolon.

c. Plastik Penampungan Gas

Terbuat dari bahan plastik tebal berbentuk tabung yang berguna untuk
menampung gas methane yang dihasilkan dari digester. Gas metan kemudian
disalurkan ke kompor gas.

d. Kompor Gas

Berfungsi sebagai alat untuk membakar gas metan untuk menghasilkan api. Api
inilah yang digunakan untuk memasak.

e. Bak penampungan Kompos

Bak ini dapat dibuat dengan cara mengali lobang ukuran 2 m x 3 m dengan
kedalaman 1 m sebagai tempat penampungan kompos yang dihasilkan dari
digester.
5. Daur Ulang

Berbagai jenis limbah padat dapat mengalami proses daur ulang menjadi produk baru.
Proses daur ulang sangat berguna untuk mengurangi timbunan sampah karena bahan buangan
diolah menjadi bahan yang dapat digunakan kembali. Contoh beberapa jenis limbah padat yang
dapat didaur ulang adalah kertas, kaca, logam (seperti besi, baja, dan alumunium), plastik, dan
karet.

Bahan-bahan yang didaur ulang dapat dijadikan produk baru yang jenisnya sama atau
produk jenis lain. Contohnya, limbah kertas bisa didaur ulang menjadi kertas kembali. Limbah
kaca dalam bentuk botol atau wadah bisa didaur ulang menjadi botol atau wadah kaca kembali
atau dicampur dengan aspal untuk menjadi bahan pembuat jalan. Kaleng alumunium bekas bisa
didaur ulang menjadi kaleng alumunium lagi. Botol plastik bekas yang terbuat dari plastik jenis
polyetilen terftalat (PET) bisa didaur ulang menjadi berbagai produk lain, seperti baju poliyester,
karpet, dan suku cadang mobil. Gelas dan peralatan plastic.
PEMBAHASAN
A. Pengelolahan Limbah Cair
Metode dan tahapan proses pengolahan limbah cair yang telah dikembangkan sangat
beragam. Limbah cair dengan kandungan polutan yang berbeda kemungkinan akan
membutuhkan proses pengolahan yang berbeda pula. Proses- proses pengolahan tersebut dapat
diaplikasikan secara keseluruhan, berupa kombinasi beberapa proses atau hanya salah satu.
Proses pengolahan tersebut juga dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan atau faktor
finansial.

B. Tahap Pengelolahan Limbah Cair


1. Pengolahan Primer (Primary Treatment)
Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses pengolahan
secara fisika.
a. Penyaringan (Screening)
Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring
menggunakan jeruji saring. Metode ini disebut penyaringan.  Metode penyaringan
merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat
berukuran besar dari air limbah.

b. Pengolahan Awal  (Pretreatment)


Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak
yang berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang
berukuran relatif besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara
kerjanya adalah dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel – partikel pasir
jatuh ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya.

c. Pengendapan
Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki atau
bak pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan utama dan yang
paling banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Di    tangki
pengendapan, limbah cair didiamkan agar partikel – partikel padat yang tersuspensi
dalam air limbah dapat mengendap ke dasar tangki. Enadapn partikel tersebut akan
membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain
untuk diolah lebih lanjut. Selain metode pengendapan, dikenal juga metode
pengapungan (Floation).

d. Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau
lemak. Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat
menghasilkan gelembung- gelembung udara berukuran kecil (± 30 – 120 mikron).
Gelembung udara tersebut akan membawa partikel –partikel minyak dan lemak ke
permukaan air limbah sehingga kemudian dapat disingkirkan.

Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat disingkirkan melalui proses
pengolahan primer, maka limbah cair yang telah mengalami proses pengolahan primer tersebut
dapat langsung dibuang kelingkungan (perairan). Namun, bila limbah tersebut juga mengandung
polutan yang lain yang sulit dihilangkan melalui proses tersebut, misalnya agen penyebab
penyakit atau senyawa organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu disalurkan ke
proses pengolahan selanjutnya.
2. Pengolahan Sekunder (Secondary  Treatment)
Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara biologis, yaitu dengan
melibatkan mikroorganisme yang dapat mengurai/ mendegradasi bahan organik.
Mikroorganisme yang digunakan umumnya adalah bakteri aerob.
Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan yaitu metode
penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated sludge), dan metode
kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons) .
a. Metode Trickling Filter
Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi bahan
organik melekat dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa serpihan
batu atau plastik, dengan dengan ketebalan  ± 1 – 3 m. limbah cair kemudian
disemprotkan ke permukaan media dan dibiarkan merembes melewati media tersebut.
Selama proses perembesan, bahan organik yang terkandung dalam limbah akan
didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar lapisan media,
limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan kemudian disalurkan ke tangki
pengendapan.
Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses pengendapan
untuk memisahkan partikel padat tersuspensi dan mikroorganisme dari air limbah.
Endapan yang terbentuk akan mengalami proses pengolahan limbah lebih lanjut,
sedangkan air limbah akan dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke proses
pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan.

b. Metode Activated Sludge


Pada metode activated sludge atau lumpur aktif, limbah cair disalurkan ke sebuah
tangki dan didalamnya limbah dicampur dengan lumpur yang kaya akan bakteri aerob.
Proses degradasi berlangsung didalam tangki tersebut selama beberapa jam, dibantu
dengan pemberian gelembung udara aerasi (pemberian oksigen). Aerasi dapat
mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi limbah.
Selanjutnya, limbah disalurkan ke tangki pengendapan untuk mengalami proses
pengendapan, sementara lumpur yang mengandung bakteri disalurkan kembali ke
tangki aerasi. Seperti pada metode trickling filter, limbah yang telah melalui proses ini
dapat dibuang ke lingkungan atau diproses lebih lanjut jika masih dperlukan.

c. Metode Treatment ponds/ Lagoons


Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan metode yang
murah namun prosesnya berlangsung relatif lambat. Pada metode ini, limbah cair
ditempatkan dalam kolam-kolam terbuka. Algae yang tumbuh dipermukaan kolam
akan berfotosintesis menghasilkan oksigen. Oksigen tersebut kemudian digunakan
oleh bakteri aero untuk proses penguraian/degradasi bahan organik dalam limbah.
Pada metode ini, terkadang kolam juga diaerasi. Selama proses degradasi di kolam,
limbah juga akan mengalami proses pengendapan. Setelah limbah terdegradasi dan
terbentuk endapan didasar kolam, air limbah dapat disalurka untuk dibuang ke
lingkungan atau diolah lebih lanjut.

3. Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)


Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan sekunder masih terdapat
zat tertentu dalam limbah cair yang dapat berbahaya bagi lingkungan atau masyarakat.
Pengolahan tersier bersifat khusus, artinya pengolahan ini disesuaikan dengan kandungan zat
yang tersisa dalam limbah cair / air limbah. Umunya zat yang tidak dapat dihilangkan
sepenuhnya melalui proses pengolahan primer maupun sekunder adalah zat-zat anorganik
terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan garam- garaman.
Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced treatment).
Pengolahan ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika. Contoh metode pengolahan
tersier yang dapat digunakan adalah metode saringan pasir, saringan multimedia, precoal filter,
microstaining, vacum filter, penyerapan dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan, dan
osmosis bolak-balik.
Metode pengolahan tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas pengolahan limbah. Hal ini
disebabkan biaya yang diperlukan untuk melakukan proses pengolahan tersier cenderung tinggi
sehingga tidak ekonomis.
4. Desinfeksi (Desinfection)
Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi
mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair. Meknisme desinfeksi dapat secara kimia,
yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu, atau dengan perlakuan fisik. Dalam
menentukan senyawa untuk membunuh mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yaitu :
a. Daya racun zat
b. Waktu kontak yang diperlukan
c. Efektivitas zat
d. Kadar dosis yang digunakan
e. Tidak boleh bersifat toksik terhadap manusia dan hewan
f. Tahan terhadap air
g. Biayanya murah

Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan klorin (klorinasi),
penyinaran dengan ultraviolet(UV), atau dengan ozon (Oз). Proses desinfeksi pada limbah cair
biasanya dilakukan setelah proses pengolahan limbah selesai, yaitu setelah pengolahan primer,
sekunder atau tersier, sebelum limbah dibuang ke lingkungan.

5. Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)


Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik primer, sekunder, maupun tersier, akan
menghasilkan endapan polutan berupa lumpur. Lumpur tersebut tidak dapat dibuang secara
langsung, melainkan pelu diolah lebih lanjut. Endapan lumpur hasil pengolahan limbah biasanya
akan diolah dengan cara diurai/dicerna secara aerob (anaerob digestion), kemudian disalurkan ke
beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan (landfill), dijadikan pupuk
kompos, atau dibakar (incinerated).
SOAL

1. Apa yang dimaksud dengan limbah padat?


Jawab :
Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur atau bubur
yang berasal dari proses pengolahan.
2.. Sifat limbah padat terbagi menjadi dua yaitu limbah padat tanpa pengelolahan dan limbah
padat dengan pengelolahan, jelaskan?
Jawab :
Limbah padat tanpa pengolahan adalah limbah padat yang tidak mengandung unsur kimia
yang beracun dan biasa langsung dibuang ke tempat tertentu sebagai TPA berbahaya, sedangkan
limbah padat dengan pengolahan adalah limbah padat yang mengandung unsur kimia beracun
dan harus berbahaya diolah sebelum dibuang ke tempat tertentu.

3. Sebutkan proses limbah padat?

Jawab :

a. Pemisahan

b. Penyusutan Ukuran

c. Pengomposan

d. Pembuangan Limbah

4. Apa yang menyebabkan sehingga tidak semua limbah dapat dibuang dilaut?

Jawab :

Tidak semua limbah dapat dibuang dilaut karena laut sebagai tempat mencari ikan bagi
nelayan, laut sebagai tempat rekreasi dan lalu lintas kapal, laut menjadi dangkal, dan karena
limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya dapat membunuh biota
laut.
5. Sebutkan penanganan apa saja yang dapat dilakukan pada limbah padat?

Jawab :

a. Penimbunan

b. Inseinarasi

c. Pembuatan Kompas

d. Membuat Biogas

e. Daur Ulang

6. Apa yang dimaksud dengan limbah cair?

Jawab :

Limbah cair adalah bahan-bahan pencemar berbentuk cair.

7. Sebutkan tahap pengolahan limbah cair?

Jawab :

a. Pengolahan Primer (Primary Treatment)


b. Pengolahan Sekunder (Secondary  Treatment)
c. Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)
d. Desinfeksi (Desinfection)
e. Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)
6. Jelaskan tahap pengolahan Primer (Primary Treatment) ?
Jawab :
a. Penyaringan (Screening)
Pertama, limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring
menggunakan jeruji saring. Metode ini disebut penyaringan.  Metode penyaringan
merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat
berukuran besar dari air limbah.
b. Pengolahan Awal  (Pretreatment)
Kedua, limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak
yang berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang
berukuran relatif besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara
kerjanya adalah dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel – partikel pasir
jatuh ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya.
8. Sebutkan hal yang harus diperhatikan dalam menentukan senyawa untuk membunuh
mikroorganisme?
Jawab :
Yang harus diperhatikan adalah :
a. Daya racun zat
b. Waktu kontak yang diperlukan
c. Efektivitas zat
d. Kadar dosis yang digunakan
e. Tidak boleh bersifat toksik terhadap manusia dan hewan
f. Tahan terhadap air
g. Biayanya murah.
9. Jelaskan tujuan Desinfeksi (Desinfection) ?
Jawab :
Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau mengurangi
mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair.
10. Sebutkan tiga metode pengolahan secara biologi yang umum digunakan dalam Pengolahan
Sekunder (Secondary  Treatment) ?
Jawab :
Tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan yaitu metode
penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif (activated sludge), dan metode
kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons) .